Anda di halaman 1dari 3

Ada beberapa metode ekstraksi yang sudah banyak diterapkan, antara lain :

A. Cara Dingin
1. Maserasi
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Bahan jamu yang dihaluskan
sesuai dengan syarat farmakope (umumnya terpotong-potong atau diserbuk kasarkan)
disatukan dengan bahan ekstraksi. Rendaman tersebut disimpan terlindungi dari cahaya
langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau perubahan warna) dan dikocok
kembali.

Waktu

maserasi

adalah

berbeda-beda,

masing-masing

farmakope

mancantumkan 4-10 hari. Ekstraksi dilakukan pada suhu kamar (Voight, 1994).
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian
sempurna yang umumnya dilakukan pada temperature kamar. Proses perkolasi terdiri dari
tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya
(penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus sampai diperoleh ekstrak/perkolat
(Depkes RI, 2000).
B. Cara Panas
1. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperature titik didihnya selama waktu
tertentu dan dalam jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya
pendingin balik (Depkes RI, 2000)
2. Digesti
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperature yang lebih tinggi
dari temperature kamar, yaitu pada 40-50C (Depkes RI, 2000)
3. Infus
Infus adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperature penangas air (bejana
infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperature terukur 90C selama 15 menit
(Depkes RI, 2000)
4. Dekok
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperature 90C selama 30 menit.
Campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci (wadah) dengan air
secukupnya, panaskan diatas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu 90 C
sambil sekali-sekali diaduk (BPOM RI, 2010). Dekok merupakan proses ekstraksi serbuk
simplisia atau tanaman segar dengan menggunakan pelarut air dan dipanaskan dalam

tempat tertutup pada suhu antara 96-98C. Waktu proses ektraksi selama 30 menit yang
dihitung semenjak suhu cairan mencapai 96C (Mursito, 2002 dalam Febrianti, 2007).
Menurut Voigt (1994), dijelaskan bahwa rebusan (decocta) merupakan simplisia halus
yang dicampur dengan air bersuhu kamar atau dengan air bersuhu > 90C sambil diaduk
berulang-ulang dalam pemanas air selama 30 menit.
5. Sokletasi
Sokletasi adalah metode ekstraksi untuk bahan yang tahan pemansan dengan cara
melettakkan bahan yang akan di ekstraksi dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas saring)
di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu (Voigt, 1994)

Ekstraksi dilakukan dengan cara panas yaitu metode dekok.


1. Kayu secang dipilih, dicuci, dibersikan dan ditiriskan. Lalu bahan direduksi ukurannya
dengan menggunakan blender.
2. Masukkan ke dalam wadah dan dicampur dengan pelarut sesuai dengan perbandingan,
yaitu 1: 2
3. Dipanaskan hingga suhu 90C selama 30 menit, sambil diaduk menggunakan stirer.
4. Hasil ekstraksi disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan dengan ampas dan
endapan. Hasil ekstraksi disimpan pada tempat kering dan tidak terkena cahaya matahari.

UNIK FEBRIANTI, PENGARUH PEMBERIAN DEKOK DAUN SIRIH (Piper

betle
Linn.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Colletotrichum
gloeosporioides Penz. DAN Brotryodiplodia theobromae Pat. SKRIPSI, JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
MALANG
2007

Acuan Sediaan Herbal, Jakarta: Direktorat OA I, Deputi II, Badan POM RI, 2010
Volume : kelima
Badan pengawas obat dan makanan republik indonesia.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan produk Komplemen
Direktorat Obat Asli Indonesia
Jakarta, 2010

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI. Hal. 82-84
Voight, 1994