Anda di halaman 1dari 18

CIDERA KEPALA (TRAUMA KAPITIS)

PENGERTIAN
Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai
perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.(kapita
selekta kedokteran)
PATOFISIOLOGI
Cidera kepala

TIK - oedem
- hematom
Respon biologi

Hypoxemia
Kelainan metabolisme

Cidera otak primer

Cidera otak sekunder

Kontusio
Laserasi

Kerusakan Sel otak

Gangguan autoregulasi

rangsangan simpatis

Stress

Aliran darah keotak

tahanan vaskuler

katekolamin

Sistemik & TD
O2 ggan metabolisme

tek. Pemb.darah

sekresi asam lambung


Mual, muntah

Pulmonal
Asam laktat

tek. Hidrostatik

Oedem otak

kebocoran cairan kapiler

Ggan perfusi jaringan

oedema paru cardiac out put

Asupan nutrisi kurang

Cerebral
Difusi O2 terhambat

Gg perfusi jaringan

Gangguan pola napas hipoksemia, hiperkapnea

Cidera otak primer:


Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Pada cidera
primer dapat terjadi: memar otak, laserasi.
Cidera otak sekunder:
Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia, metabolisme, fisiologi yang
timbul setelah trauma.
Proses-proses fisiologi yang abnormal:
-

Kejang-kejang

Gangguan saluran nafas

Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan oleh karena:

edema fokal atau difusi

hematoma epidural

hematoma subdural

hematoma intraserebral

over hidrasi

Sepsis/septik syok

Anemia

Shock

Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat
mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.
Perdarahan yang sering ditemukan:

Epidural hematom:
Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya
pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh
darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa
jam sampai 1 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis.
Tanda dan gejala:

Penurunan tingkat kesadaran

Nyeri kepala,

Muntah

Hemiparesa.

Dilatasi pupil ipsilateral

Pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal, irreguler, penurunan nadi, peningkatan

suhu.

Subdural hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi
akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara
duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam 2 hari atau 2
minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
Tanda dan gejala:

Nyeri kepala

Bingung

Mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan

Edema pupil.

Perdarahan intraserebral
Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler, vena.
Tanda dan gejala:

Nyeri kepala

Penurunan kesadaran

Komplikasi pernapasan

Hemiplegi kontralateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital.

Perdarahan subarachnoid:
Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak,
hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.
Tanda dan gejala:

Nyeri kepala

Penurunan kesadaran

Hemiparese

Dilatasi pupil ipsilateral dan

Kaku kuduk.

Penatalaksanaan:
Konservatif

Bedrest total

Pemberian obat-obatan

Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.

Pengkajian
BREATHING
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi
perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes
atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi),
cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
BLOOD:
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat
vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan
mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).
BRAIN
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera
kepala. Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus,
kehilangan pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang
otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :

Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan


masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).

Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang


pandang, foto fobia.

Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.

Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.

Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan
kompresi spasmodik diafragma.

Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia,
disatria, sehingga kesulitan menelan.

BLADER
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia uri, ketidakmampuan
menahan miksi
BOWEL
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah (mungkin proyektil),
kembung dan mengalami perubahan selera. Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses
eliminasi alvi.

BONE
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi. Pada kondisi yang lama dapat
terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan
antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di
otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus otot.
Pemeriksaan Diagnostik:

CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan ukuran


ventrikuler, pergeseran jaringan otak.

Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak
akibat edema, perdarahan, trauma.

X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis (perdarahan /
edema), fragmen tulang.

Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.

Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan


intrakranial.

ASUHAN KEPERAWATAN TN. S


TREPANASI DENGAN CEDERA OTAK BERAT
1. PENGKAJIAN:
1.1 Identitas
Nama

: TN. H

Umur

: 46 tahun

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia.

Agama

: Islam

Alamat

: Jl Madura 14 Blitar

Pekerjaan

: PNS

Pendidikan

: SLTA

Tgl.MRS

: 14 Desember 2006

Tgl. Pengkajian

: 14 Desember 2006

Diagnosa Medik

: CKB

1.2 Alasan MRS

: Kecelakaan lalu lintas, naik sepeda motor ditabrak truck, klien tidaks
adarkan diri dari kejadian sampai dibawa ke RS, muntah-muntah (+) ,
kejang (-) dan klien dibawa ke RSUD Mardi Waluyo Blitar

1.3 Observasi dan pemeriksaan fisik:


1) Pernapasan
Klien menggunakan Masker, Bentuk dada simetris, tidak ada jejas pada daerah dada,
wheezing -/-, Ronchi +/+, RR 35 x/menit.
2) Kardiovaskuler/sirkulasi:
S1, S2 tunggal, tidak ada suara tambahan, hasil monitor EKG: irama sinus 75 x/menit,
tekanan darah: 130/100, suhu: 36,5 C
3) Persarafan/neurosensori
Klien tampak sopor, GCS: 2 2 5 , pupil isokor, reaksi cahaya +/+
4) Perkemihan Eliminasi uri
Terpasang Dower kateter produksi urine 500 ml/3 jam warna kuning jernih
5) Pencernaan Eliminasi alvi
infus Dext 1500cc/24 jam, manitol 4 x 100 cc/24 jam. Tidak ada jejas pada daerah abdomen,
bising usus (+), b.a.b (-).
6) Tulang otot integumen:
Kemampuan pergerakan pada ektrimitas atas dan bawah tidak dapat dikaji karena pasien dalam

tingkat kesadaran koma. Pada kepala ada hematom sebesar telur ayam

1.8 Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium
Hb: 9,3 gr/dl.

Leko: 5,6.

Trombo: 101.

PCV: 0,28.
Blood Gas:
PH: 7,265

PCO2: 46,0

HCO3: 20,4

BE: -6,6

PO2: 259,4

CT Scan:
1.9 Terapi:
Rantin 2x 1 IV

Novalgin 3 x 1 amp IV

Afriaxon 1 x 2 gr IV

Dilantin 3x 100 IV

Manitol 4 x 100 cc
Fisioterapi napas + Suction tia

2. ANALISA DATA PRE OPERASI


Data

Kemungkinan penyebab
Trauma kepala

DS: DO:

Masalah
Gangguan
perfusi
jaringan cerebral

Kesadaran me , GCS: 2 2
5
CT Scan :

DS: -

TIK Meningkat

Gangguan pola napas

DO:
RR 35 x/menit, ireguler
wheezing -/-, Ronchi +/+,
RR 35 x/menit
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d hemoragi/ hematoma; edema cerebral
2. Pola napas tidak efektif b.d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak).
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
DP 1: Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan hemoragi/ hematoma; edema
cerebral.
Tujuan:

Mempertahankan tingkat kesadaran, kognisi, dan fungsi motorik/sensorik.

Kriteria hasil:

Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK

Tingkat kesadaran membaik

Pantau

Intervensi
/catat

Rasional
status Mengkaji tingkat kesadaran dan potensial peningkatan

neurologis secara teratur TIK

dan

bermanfaat

dalam

menentukan

lokasi,

dan bandingkan dengan perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.


nilai standar GCS.
Evaluasi keadaan pupil, Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III)
ukuran, kesamaan antara berguna untuk menentukan apakah batang otak masih
kiri

dan

kanan,

terhadap cahaya.

reaksi baik. Ukuran/ kesamaan ditentukan oleh keseimbangan


antara persarafan simpatis dan parasimpatis. Respon
terhadap

cahaya

mencerminkan

fungsi

yang

terkombinasi dari saraf kranial optikus (II) dan


okulomotor (III).
Pantau tanda-tanda vital: Peningkatan TD sistemik yang diikuti oleh penurunan
TD, nadi, frekuensi nafas, TD diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda
suhu.

terjadinya peningkatan TIK, jika diikuti oleh penurunan


kesadaran. Hipovolemia/hipertensi dapat mengakibatkan
kerusakan/iskhemia
mencerminkan

cerebral.

kerusakan

Demam
pada

dapat

hipotalamus.

Peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi


oksigen terjadi (terutama saat demam dan menggigil)
yang selanjutnya menyebabkan peningkatan TIK.
Pantau intake dan out put, Bermanfaat sebagai ndikator dari cairan total tubuh yang
turgor kulit dan membran terintegrasi dengan perfusi jaringan. Iskemia/trauma
mukosa.

serebral

dapat

mengakibatkan

diabetes

insipidus.

Gangguan ini dapat mengarahkan pada masalah


hipotermia atau pelebaran pembuluh darah yang
akhirnya akan berpengaruh negatif terhadap tekanan
serebral.
Turunkan

stimulasi Memberikan efek ketenangan, menurunkan reaksi

eksternal

dan

kenyamanan,

berikan fisiologis tubuh dan meningkatkan istirahat untuk


seperti mempertahankan atau menurunkan TIK.

lingkungan yang tenang.


Bantu

pasien

menghindari

untuk Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intrathorak dan

/membatasi intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK.

batuk, muntah, mengejan.


Tinggikan kepala pasien 5- Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga
15 derajad.

akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko


terjadinya peningkatan TIK.

Batasi pemberian cairan Pembatasan cairan diperlukan untuk menurunkan edema


sesuai indikasi.

serebral, meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler TD


dan TIK.

Berikan oksigen tambahan Menurunkan


sesuai indikasi.

hipoksemia,

yang

mana

dapat

meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral


yang meningkatkan TIK.

Berikan obat:

Manitol digunakan untuk menurunkan air dari sel otak,

Manitol 4 x 100 cc menurunkan edema otak dan TIK. Sedatif digunakan

iv

untuk mengendalikan kegelisahan, agitasi.

Dilantin 3 x 100
mg IV

DP 2: Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat
pernapasan otak).
Tujuan:

Mempertahankan pola pernapasan efektif melalui ventilator.

Kriteria evaluasi:

Tidak ada sianosis, Blood Gas dalam batas normal

Intervensi
Pantau frekuensi, irama, Perubahan
kedalaman
setiap

dapat

Rasional
menandakan

awitan

komplikasi

pernapasan pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan


jam.

Catat otak.

ketidakteraturan
pernapasan.
Auskultasi

suara napas, Walaupun

perhatikan

merupakan

kontraindikasi

pada

pasien

daerah dengan peningkatan TIK fase akut tetapi tindakan ini

hipoventilasi dan adanya seringkali berguna pada fase akut rehabilitasi untuk
suara tambahan yang tidak memobilisasi dan membersihkan jalan napas dan
normal

misal:

ronkhi, menurunkan resiko atelektasis/komplikasi paru lainnya.

wheezing, krekel.

Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti


atelektasis, kongesti, atau obstruksi jalan napas yang
membahayakan

oksigenasi

cerebral

dan/atau

menandakan terjadinya infeksi paru.


TINDAKAN KEPERAWATAN
Tanggal Diagnosa
Tindakan Keperawatan
14
1
- Mengobservasi dan mencatat status neurologis dan tandaDesemb

tanda vital setiap 1 jam, GCS: 2-2-5, pupil: isokor reaksi

er 2006

cahaya +/+, TD 130/90, nadi 76 , RR: 35x/menit, suhu:


39C.
-

Memantau intake dan out put, turgor kulit cukup dan


membran mukosa agak kering.

Memberikan obat:

Rantin 2 x 1 iv

Novalgin 3 x 1 amp IV

14

Afriaxon 1 x 2 gr iv

Manitol 4 x 100 cc/drip

Desemb

er 2006

Melakukan fisioterapi napas dan melakukan penghisapan


sekret mencatat karakter warna lendir putih kental.

EVALUASI
TGL
14

.Mendengarkan suara napas: ronkhi +/+, wheezing -/-.

DIAGNOSA
1. Perubahan perfusi S: -

EVALUASI

Desember

jaringan

2006

berhubungan dengan

Klien masih tampak gelisah, GCS: 2-2-5

hemoragi/

pupil isokor reaksi cahaya +/+

hematoma;

serebral O:

edema

cerebral.

TTV stabil TD berkisar antara 140/100 120/90, nadi: 72

- 76 x/menit, RR: 35

x/menit, suhu : 39 C.
A: masalah belum teratasi
14

P: rencana tindakan dilanjutkan


2. Pola napas tidak S: -

Desember

efektif berhubungan O:

2006

dengan

kerusakan TTV stabil TD berkisar antara 130/100 - 90/70,


nadi: 72 - 76 x/menit, RR: 35 x/menit.
neurovaskuler
Wheezing -/-, Ronchi +/+,
(cedera pada pusat
A: Masalah belum teratasi
pernapasan otak).
P: Rencana keperawatan dilanjutkan,

PERSIAPAN OPERATIF
1. Operator

: Dr Kamim Sp Saraf

2. Asisten

: Sdr Yudi sarwono dan Sdr Yudi Iswanto

3. Anestesi

: Sdr Abul Rahman dan Sdr Wibowo

4. Operasi mulai : 01:00


5. Operasi selesai : 03:30
6.
Persiapan Operasi
Persiapan Pasien
1.

Klien sudah memakai baju operasi

2.

Klien sudah di cukur rambut kepala

3.

Status klien,pemriksaan penunjang, informed consent,

4.

klien tidak memakai gigi palsu

Linen Set, terdiri dari :


1. Doek Besar lubang

: 1 buah

2.

Doek kecil

: 3 buah

3.

Baju Operasi

: 1 buah

4.

Perlak penutup meja instrumen : 1 buah.

Alat Operasi
1. Doek klem 2 buah
2.

Desinfeksi klem

3.

Sarung tangan 2 pasang

4.

Skapel/Hand mess

5.

Pengebor

6.

MataBor Payung

7.

Mata Bor Biasa

8.

Gigli

9.

Handle gigli

10. pengait sonde


11. drain
12. syiringe pump 2 buah
13. Densifeksi klem
14. Arteri klem pean 10
15. Arteri klem kocher 8
16. Pinset anatomis sedang panjang 1
17. Pinset Chirugis sedang panjang 1
18. Cucing untuk betadine
19. Gunting Lurus 1
20. Gunting bengkok 1
21. Gunting benang jahit 1

22. Nald Veder 1


23. Ner beken 1
24. Darm spatel 1
25. Jarum dan Kasa secukupnya
26. Spuit10 cc/Syringe uretra.
27. Infus set (Blood Tranfustion Set)
28. Jelly steril
29. Sponge stan
Penunjang yang lain
1. Tempat sampah
2.

Standart infus.

3.

Diatermie elektrode.

4.

suction

Teknik Pelaksanaan
1. Klien di baringkan di meja operasi dan dipasang alat pengukur TTV
2.

Premedikasi SA 1 ampul Pentathol, 20mg/cc Savulon 20mg/cc di masukkan dengan syiringe


pump

3.

Anestesi General anastesi

4.

Pemasangan kateter

5.

Pasang foto-foto pada light box.

6.

Dilakukan General Anastesi

7.

Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine di daerah oksipitalis

8.

Persempit lapangan operasi dengan memasang dok lubang

9.

Selanjutnya dilakukan penggambaran daerah yang akan di insisi

10. Oksipital di insisi sampai tengkorak terlihat


11. Dengan mata bor tajam oksipital di lubangi pada empat tempat tetap tidak sampai menembus
duramater
12. Di lanjutkan dengan menggunakan mata bor payung Tujuan menggunakan mata bor ini adalah
tidak dapat mnembus dura meter
13. Melalui lubang di masukkan pengait sonde dan keluar melalui lubang yang lain.Setelah itu
geligi di masukkkan dengan pengait sende dan di pegang dengan pemgang geligi kemudian di
gergaji dengan geligi
14. Di ulang sampai memebentuk persegi
15. Oksipital di angkat terlihat dura meter
16. Membersihkan darah pada lapisan ini dengan suction
17. Pada pinggir durameter di jahit
18. untuk mencegah pendarahan di pasang spongstan

19. setelah itu oksipital yang telah di ambil dibor pada empat tempat untuk memasukkan benang
20. drain di pasang antara duramter dan oksipital
21. Oksipital di pasang kembali di tali dengan dura meter
22. kulit di jahit dengan benag side
23. Alat operasi din bereskan
24. Klien dirapihkan, dipindahkan ke ruang pemulihan

ANALISA DATA POST OPERATIF


Nama Klien : Tn. H
Ruang
: OK Mardi Waluyo
NO.
DATA
1
S. Tak terkaji
O. : Perdarahan 200 CC, ,
Tekanan
darah
130/80
mmHg.Nadi
104X/menit,pakai ventilator

4.

S. Tak terkaji
O.Narkose dihentikan Klien
dilakukan
ekstubasi,
terdapat banyak lendir.

PENYEBAB
Perdarahan selama operasi

Sekresi mukus

MASALAH
Resiko
kekurangan
cairan

Resiko
aspirasi

Prioritas dan Diagnosa Keperawatan


1. Resiko terjadi kekurangan cairan berhubungan dengan pasien, perdarahan selama operasi
kurang lebih 200cc. Produksi urine 1300cc (selama operasi)
2.

Resiko terjadi aspirasi berhubungan dengan peningkatan sekresi mukus

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERATIF


Nama Klien : Tn H
Ruang
: OK Mardi Waluyo
No
Diagnosa
Tujuan-Kriteria
Intervensi
Rasional
1. Resiko
terjadi Kekurangan cairan tidak terjadi. Mandiri
kekurangan cairan
1. Kaji perubahan tanda vital melalui Deteksi dini perubahan tanda vital
Dengan kriteria :
berhubungan
monitor.
dengan
pasien a. Turgor kulit baik
perdarahan selama
2. Kaji turgor kulit, kelembaban Evaluasi/observasi kekurangan cairan
b. Membra mukosa lembab.
operasi 200cc
membran mukosa (bibir dan lidah)
Tanda vital stabil (RR: 1620X/menit, Nadi: 60-100 X 3. Pantau masukan dan haluaran, catat Menjaga keseimbangan cairan
/menit, tekanan darah 120/80
warna dan karakter urine.
mmHg)
Kolaborasi
4. Berikan cairan RL 20 tetes/menit
Menjaga keseimbangan cairan
sesuai dengan program dr. anestesi..
4

Resiko
terjadi
aspirasi
berhubungan
dengan peningkatan
sekresi
terhadap
sekunder intubasi.

Klien tidak mengalami aspirasi.


Dengan kriteria :
Bunyi nafas terdengar bersih.
Ronchi tidak terdengar
Tracheal tube bebas hambatan.

Lakukan penghisapan dengan cara :


a. Perhatikan tehnik aseptik, gunakan Mencegah infeksi nosokomial.
sarung

tangan

steril,

kateter

penghisap steril
b.

Memberi cadangan O2, untuk


menghindari hipoksia.
Berikan oksigenasi dengan O2
Aspirasi lama dapat menimbulkan
100%,
sebelum
dilakukan hipoksia karena tindakan penghisapan
akan mengeluarkan sekret dan O2.
penghisapan
dan
minimal
penghisapan 4 - 5X.

c.

Tekanan negatif yang berlebihan dapat


merusak mukosa jalan nafas,

Masukan kateter kedalam slang


endotracheal tube dalam keadaan Tekanan yang berlebihan
merusak mukosa jalan nafas,
tidak menghisap (ditekuk) lama

dapat

penghisapan tidak lebih dari 10 Menjamin kefektifan jalan nafas.


detik.
d.

Atur tekanan penghisap tidak lebih


dari 100-120 mmHg.

e.

Lakukan

penghisapan

Deteksi dini perubahan tanda vital


berulang-

ulang sampai suara nafas bersih.


Lepaskan endotracheal tube dengan
mengempiskan

balon

dahulu
f.

Observasi vital sign.

terlebih

TINDAKAN DAN EVALUASI POST OPERATIF


Nama Klien : Tn. H
Ruang
: OK Mardi Waluyo
NO.
Diagnosa keperawatan
1.
Diagnosa 1

1.
2.
3.

Implementasi
Memonitor tanda-tanda vital

Evaluasi

S.: Tidak dapat dikaji


O.: Tekanan darah, 110/80 mmHg., Nadi. 104/menit
Mengkaji turgor kulit dan
t, mukosa membaran bibir agak kering, mulut
membran mukosa.
lembab, turgor kulit baik.
RL. 2000 cc, Urine 1300 cc.
Memberi cairan RL. 4 kolf
A.: Resiko keseimbangan cairan tetap dipantau.
sesuai dengan instruksi dr. P.: Intervensi di lanjutkan
Anestesi (20tetes/menit)

4.

Menghitung cairan keluar,urine


(urobag) 1300 cc

4.

Diagnosa 2

Melakukan
penghisapan/suction
pada endotracheal tube
Melepaskan
endorakheal
tube
(ekstubasi)
Memberikan oksigen 6L/menit,
sampai nafas spontan dan pasien
dipindah ke ruang pemulihan
anestesi.

S.: Tidak dapat dikaji


O.: Bunyi nafas bersih ronchi -/-, tracheal tube bebas
hambatan.
A.: Resiko aspirasi tidak terjadi
P.: Perencanaan dilanjutkan/observasi sampai pasien
ke ruang pemulihan anestesi.