Anda di halaman 1dari 2

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional .

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas


Indonesia.

Sengketa Meruya, Bukti Ketidakberesan Tata Kota Jakarta

Oleh Erika, 0706291243

Data Publikasi : www.jakarta.go.id/v21/pemerintahan/?lg=1&idk=2&idc=27&act=de


til&tipe=DINAS_DAERAH&iid=52

Dinas Tata Kota merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah di bidang penataan
ruang kota. Dinas ini dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Dinas Tata Kota dalam
melaksanakan tugas dan fungsinnya dikoordinasikan oleh Asisten Pembangunan.
Dinas Tata Kota mempunyai tugas merumuskan kebijakan pengembangan kota ke dalam
rencana rinci tata ruang dalam wilayah kecamatan, menyusun panduan perancangan kota dan
melaksanakan pelayanan kepada masyarakat di bidang penataan ruang kota.
Masalah sengketa tanah di Meruya ini berawal ketika PT Portanigra bulan April lalu
membawa kasus sengketanya ke Mahkamah Agung. Kasus ini meliputi kepemilikan tanah di
Meruya selatan seluas 44 hektar oleh PT tersebut, dan kini telah menjadi lokasi hunian. Putusan
MA akhirnya adalah kemenangan PT Portanigra, dan tanah seharusnya dieksekusi 21 Mei lalu.
Namun tentunya warga melawan, dan eksekusi tersebut tidak terdengar lagi hingga sekarang.
Secara logika persengketaan ini cukup janggal, bagaimana caranya hingga 5635 kepala
keluarga bisa sudah menempati sebuah lahan yang sedemikian luas, banyak di antara mereka
yang sudah tinggal di sana sejak mereka lahir, sedangkan tanah tersebut merupakan lahan
sengketa?
BPN seharusnya bertanggung jawab. Pasalnya, tahun 1985 (12 tahun sejak PT
Portangigra membeli tanah), masalah sengketa ini sudah diusut ke pengadilan. Dengan demikian
tanah itu sudah secara resmi merupakan tanah sengketa, namun kenyataannya lebih dari 20 tahun
kemudian tanah sudah dimiliki orang lain. Apa lagi bila dilihat, kedua belah pihak memiliki
surat-surat kepemilikan yang sah.
Adapun kini PT Portanigra dianggap menjadi pihak yang bersalah, karena baru menuntut
sekarang, dan aksinya dapat menggusur hampir 22000 jiwa dari tempat tinggalnya. Namun
sebenarnya siapa yang bersalah?
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Indonesia.

Kini mata tertuju kepada mereka yang telah menjual tanah tersebut, dan menduakan
kepemilikan tanah, yakni Juhri, Tugono, dan Yahya. Merekalah yang menjual tanah ke PT
Portanigra pertama kali, namun karena tanah tidak diurus setelah sekian lama mereka menjual
lagi tanah tersebut. Namun bila dilihat, hal ini tak akan terjadi bila pemerintah juga mengawasi
dengan cermat, bagaimana mungkin penjualan tanah yang sedemikian luas bisa tidak jelas,
bersengketa selama puluhan tahun, dan dimiliki dua pihak secara legal?
Pada kasus kepemilikan tanah di Meruya, di mana kedua pihak memiliki dokumen yang
sama-sama legal, seharusnya tidak ditunggu bertahun-tahun sebelum akhirnya dibawa ke
pengadilan. Pihak PT Portanigra mengaku telah membeli tanah seluas 44 hektar tersebut tahun
1972-1973, namun baru pertama kali dibahas di pengadilan (menuntut ketiga broker tanah
tersebut) tahun 1985. Sebenarnya, selama tanah tersebut dianggap sengketa, tanah harus
dibekukan. Namun kenyataannya tanah tersebut malah dianggap tanah bebas, dan dijual kembali
secara sah, dan saat ini tanah itu sudah dihuni 5300 kepala keluarga, secara sah. Bila saja
masalah selesai dengan cepat, mungkin sekitar 21000 jiwa tersebut belum menempati tanah
tersebut.
Atau bisa saja masalah ini terelakkan bila ada kejelasan mengenai status kepemilikan
tanah. Dengan diperbolehkannya lahan dan rumah milik masyarakat berpindah tangan,
diperjualbelikan, berarti sertifikat bukti sah kepemilihan tanah tidak ada masalah. Lagipula
Pemkot tidak pernah menyatakan tanah tersebut sengketa, jadi bila demikian seharusnya tanah
itu baik-baik saja. Bisa dibilang, ini adalah kelalaian Pemkot.
Sebenarnya PT Portanigra membeli tanah tersebut tanpa dokumen legal, melainkan hanya
girik. Girik bukan merupakan surat legal untuk mendeklarasikan kepemilikan tanah, melainkan
hanya surat tanah tradisional. Maka akan lebih baik jika penggunaan surat tak resmi tersebut
dapat ditekan jumlahnya, atau setidaknya disaksikan oleh pihak berwenang, misalnya gubernur
atau semacamnya.
Suatu solusi lain yang mungkin adalah reformasi UU Pokok Agraria. Undang-undang
tersebut tampak memiliki cacat, sehingga hal serupa ini bisa terjadi. Bayangkan saja tanah yang
sedemikian luas, dihuni sedemikian banyak penduduk, bisa memiliki status sengketa dan baru
dibahas setelah sekian lama, dan PT Portanigra selaku penggugat masih bisa memenangkan
kasus. Ini jelas menunjukkan kebobrokan sistem yang berlaku sekarang.