Anda di halaman 1dari 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Pandangan UUD 1945 pada Kasus Kekerasan STPDN

Oleh Erika, 0706291243

Judul

:

“Lingkaran Kekerasan STPDN”

Pengarang

:

Tb Ronny Nitibaskara

Data Publikasi

:

Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, tadinya institut pendidikan ini merupakan salah satu institut favorit, yang diidam-idamkan oleh banyak generasi muda. Betapa tidak, institut ini telah berhasil mencetak calon-calon pamong praja Indonesia. Itulah sebabnya, ribuan orang berlomba-lomba untuk dapat memasuki STPDN. Namun, nama besar STPDN itu ternyata tidak menjamin bagusnya sistem pendidikan di STPDN. Pada tahun 2000 lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan fakta meninggalnya seorang praja STPDN bernama Erie Rakhman. Belum habis rasa kaget masyarakat, berita mengejutkan kembali datang. Kali ini mengenai tewasnya Wahyu Hidayat, yang diketahui tewas setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari seniornya, pada tahun 2003 lalu. Kedua peristiwa ini tentunya membuat masyarakat sadar, nama besar STPDN bukanlah jaminan bagusnya sistem pendidikan di sana. Kabar terakhir yaitu terungkapnya kasus kematian Cliff Muntu, seorang siswa IPDN dari Sulawesi Utara, akibat dipukul beramai-ramai oleh kakak kelasnya.

Ketiga kasus ini sudah cukup untuk menunjukkan kebobrokan yang terjadi pada sistem pendidikan di STPDN. Lantas Hal ini tentu menarik minat kita pada suatu pertanyaan : bagaimanakah pandangan UUD 1945 tentang penyimpangan- penyimpangan yang terjadi di STPDN? Melalui artikelnya, Tb Ronny Nitibaskara akan menjelaskan mengenai berbagai kekerasan yang terjadi di STPDN, yang pada akhirnya akan membantu kita menjawab pertanyaan tersebut.

Sebenarnya, seberapa parahkah kasus kekerasan yang terjadi di STPDN? Penulis menemukan fakta bahwa :

pada hasil otopsi Cliff Muntu, praja STPDN yang baru saja meninggal, ditemukan jantung Cliff menghitam, dada retak, dan terdapat bekas pukulan tinju di dada dan

- 1

-

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

jantung. Kematian mahasiswa asal Manado itu dinilai tidak wajar dan mencurigakan. Juga dikatakan bahwa sejak tahun 1990 hingga 2004, setidaknya terjadi 35 penganiayaan berat yang berakibat pada kematian di STPDN. Sebagian kasus kekerasan terjadi antara praja senior terhadap yuniornya 1 .

Tidak hanya mendatangkan kematian, kekerasan dalam STPDN juga mendatangkan trauma psikis bagi para anggotanya. Seperti yang dialami Ichsan Suheri, calon praja asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang mengalami trauma psikis setelah disuruh mengangkat barbel dengan dua tangan. Barbel itu ujung-ujungnya terbuat dari semen cor yang dihubungkan dengan pipa besi. Ketika diperintahkan untuk mengangkat barbel itu dengan satu tangan, barbel itu jatuh karena licin, lalu menimpa kepalanya 2 .

Lebih lanjut lagi, Tb Ronny Nitibaskara menambahkan, di STPDN juga terjadi fenomena mempertukarkan kekerasan dengan materi. Seorang mantan praja STPDN mengatakan, agar bebas dari sejumlah hukuman pemukulan, yunior dapat memberi sejumlah uang tertentu pada senior yang bersangkutan. Sehingga senior tersebut tidak akan memukuli yunior yang membayarkan sejumlah uang padanya. Hal ini tentu saja menunjukkan telah berkembangnya premanisme di dalam sebuah institut pendidikan negara, STPDN. Berkembangnya premanisme ini lebih lanjut, seperti dikatakan Tb Ronny Nitibaskara, akan mengarah pada ciri-ciri terorisme. Ini merupakan hal yang sangat buruk, yang harus segera diberantas.

Yang menarik dari kasus kekerasan dalam STPDN ini adalah, di antara banyak pelaku yang melakukan kekerasan ini adalah pelaku yang telah lulus mata kuliah Etika Pemerintahan atau Filsafat Pancasila. Jika sang pelaku benar-benar telah dapat dikatakan “lulus” dalam mata kuliah tersebut, bukankah seharusnya mereka dapat bertindak sesuai aturan yang berlaku, bukannya malah menyiksa para yunior mereka

1

STPDN,

IPDN,

dan

Paradigma

Kekerasan

dalam

Pendidikan,

dalam-Pendidikan.html, diakses pada 15 September 2007, pukul 20.27.

2

TEMPO

Interaktif,

Kekerasan

di

STPDN

Terjadi

Lagi,

diakses pada 15 September 2007, pukul 21.03

- 2 -

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

dengan tanpa ampun? Hal inilah yang harus segera dirombak, agar jangan sampai sebuah institusi pendidikan negara dapat memberikan sebuah nilai kelulusan dengan gampangnya, pada orang-orang yang seharusnya tidak pantas mendapatkannya.

Tb Ronny Nitibaskara juga mengatakan “Ketika penganiayaan terhadap orang tak berdaya telah menjadi hiburan, sebenarnya pelakunya adalah sakit; menderita gangguan kejiwaan akut. Mereka melakukan kekerasan untuk menikmati derita korban, dan memompa ego sebagai pihak yang berkuasa. Inilah kekerasan paling primitif”. Apa yang dikatakan Tb Ronny Nitibaskara ini sangatlah benar, dan kekerasan semacam inilah yang harus segera dihilangkan, agar jangan sampai mendarah daging dalam suatu tempat, apalagi tempat itu merupakan sebuah institusi pendidikan.

Melihat berbagai uraian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa kekerasan dan segala penyimpangan yang terjadi di STPDN (sekarang bernama IPDN) telah melanggar HAM dan UUD 1945. Salah satunya adalah pasal 28 ayat 2, yang berbunyi, “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Bukti dari pelanggaran terhadap pasal tersebut adalah pada berbagai kasus kematian yang terjadi di STPDN, yang hingga kini belum dapat kita ketahui secara pasti jumlahnya.

- 3 -