Anda di halaman 1dari 3

MODIFIKASI CALCINER COAL FIRING SYSTEM

1. Sebelum ke pokok bahasan intinya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu latar belakang
mengapa di kiln plant 8 dilakukan modifikasi calciner coal firing system. Tujuan dilakukan
modifikasi ini ialah untuk meningkatkan produksi klinker dari 4200 ton/day menjadi 5500
ton/day. Kiln di plant 8 itu di desain oleh Polysius dan mulai beroperasi pada tahun 1984, dan
selama operasi kapasitas dari kiln 8 ini klinkernya rendah karena kerusakan berulang pada
kiln shell, kerusakan di bagian koneksi antara kiln outlet dengan cooler inlet elbow, &
deformasi atau perubahan struktur bentuk dari cooler tubes yang mengakibatkan running
factor dari kiln rendah (240 day/year). Dengan latar belakang tersebut maka kiln system plant
8 di modifikasi oleh FLS Smidth dengan sistem SLC-D dilengkapi dengan TAD dan
pendingin klinker yaitu grate cooler 2 stage. System kiln yang baru yang diaplikasikan di
kiln 8 ternyata membawa permasalahan baru karena ketidakstabilan proses kiln 8 seperti :
Waktu start up kiln sampai kiln mencapai kapasitas produksi optimum sangat lama, lebih
dari 16 jam. Hal ini diakibatkan karena: ignition down draught calciner sangat
tergantung pada secondary air dan tertiary air temperature dan pengoperasian kiln cukup
rumit, karena hot gas harus terbagi dengan proporsi yang tepat antara secondary air dan
tertiary air supaya material yang diumpankan ke tertiary air duct dapat terangkat ke
Combustion Chamber DDC. Pembagian flow hot gas ini dilakukan dengan mengatur
bukaan restrictor gate dan hoisting damper.
Adanya blocking material di TAD Elbow sehingga kapasitas dan running kiln 8 tetap
rendah karena sering terjadi akibat tidak tepatnya pengaturan proporsi hot gas yang
masuk ke tertiary air duct sebagai tertiary air untuk mengangkat material dari cyclone 2
ke Combustion Chamber DDC.
Restriksi di riser duct dengan restrictor gate membawa akibat: Naiknya pressure drop di
preheater system dan Pumping fenomena di area restrictor gate, yaitu jatuhnya material
dari cyclone 2 yang masuk dari bawah restrictor gate ke kiln inlet, dimana seharusnya
material ini terangkat ke calciner melalui riser duct. Pumping fenomena ini
mengakibatkan material yang masuk ke kiln inlet memiliki derajad calsinasi yang tidak
seragam, sehingga kiln flushing sering terjadi.
Karena permasalahan tersebut maka dilakukan modifikasi baru dengan Modifikasi Calciner
Coal Firing System.
2. Setelah mengetahui latar belakang mengapa pada kiln 8 ini dilakukan modifikasi, kita juga
perlu mengetahui dasar teori nya.. pertama kita harus tahu dulu apa itu calciner ? Calciner
adalah alat proses yang memiliki fungsi yang sangat vital dalam proses produksi klinker,
yaitu sebagai tempat terjadinya reaksi decarbonisasi raw meal yang masuk ke dalam
suspension preheater karena calciner terintegrasi sebagai bagian dari SP tower dalam sebuah
kiln system, dimana SP ini tempat dari proses kesempurnaan reaksi yang sangat menentukan
reaksi pembentukan mineral klinker melalui reaksi clinkerisasi di dalam kiln. Reaksi
decarbonisasi itu sendiri merupakan reaksi pelepasan CO2 dari senyawa CaCO3 yang
terkandung di dalam limestone menjadi CaO sebagai senyawa utama pembentuk mineral
klinker, dimana reaksi ini berlangsung pada temperatur 900oC. Reaksi Pembakaran ialah
reaksi kimia antara bahan bakar dan oksigen menghasilkan panas, CO2 dan H2O. Pembakaran
bahan bakar ada 3 tahap:
Tahap Pemanasan Awal / Preheating
Bahan bakar mengalami pengeringan dari kandungan air yang terdapat didalamnya,
dimana kandungan bahan yang mudah menguap ini mulai menjadi uap.

Tahap Devolatilization
Uap yang dihasilkan dari tahap preheating mulai bereaksi dengan oksigen, sehingga
timbullah api dan reaksi pembakaran dimulai.
Tahap Pembakaran Arang/Char
Terjadi reaksi antara karbon yang terkandung di dalam arang dengan oksigen.
3. Selanjutnya dalam industri semen ada dua tipe calciner, yaitu:
1) Inline calciner, merupakan calciner yang letak/posisinya berada pada satu jalur dengan
susunan cyclone pada SP tower. Inline calciner ada beberapa jenis diantaranya:
ILC-E, tipe calciner yang dimiliki oleh kiln yang tidak di lengkapi dengan TAD,
dimana udara pembakaran untuk tipe calciner in berasal dari secondary air yang
berasal dari cooler yang semuanya masuk ke dalam kiln.
ILC dengan TAD, tipe calciner yang dimiliki oleh kiln yang dilengkapi dengan TAD,
dimana udara pembakaran untuk tipe calciner ini berasal dari tertiary air yang berasal
dari cooler yang mengalir melalui TAD dan juga secondary air dari dalam kiln.
2) Separate Line calciner, merupakan calciner yang letak/posisinya berada pada jalur yang
berbeda dengan susunan cyclone pada SP tower. Merupakan tipe calciner yang dimiliki
oleh kiln yang dilengkapi dengan TAD, dimana udara pembakaran untuk tipe calciner ini
semuanya berasal dari tertiary air yang berasal dari cooler yang mengalir melalui TAD.
Perkembangan teknologi di bidang industri semen, melahirkan sistem SLC yang baru
salah satunya ialah SLC-D FLS Design. Burner didalam calciner berfungsi sebagai alat
pembakaran bahan bakar sama halnya dengan kiln main burner. Penempatan burner
didalam calciner sangat penting karena erat hubungannya dengan kesempurnaan reaksi
pembakaran dan bentuk/panjang api di dalam calciner. Penentuan posisi burner ini dapat
dilakukan dengan simulasi dengan program CFD. Berikut contoh simulasi penempatan
burner di dalam calciner (tunjuk gambar posisi burner pada slide). Disini dijelaskan
bahwa gambar A dan B menunjukkan perbedaan posisi calciner burner, dimana masingmasing memberikan hasil yang berbeda, gambar A menunjukkan bahan bakar terbakar
lebih jauh bila dibandingkan dengan gambar B yang memiliki letak calciner burner di
bagian tengah cone calciner. Kemudian berikut ini adalah gambar simulasi pengarh
primary air pada kesempurnaan pembakaran bahan bakar (tunjuk gambar Pengaruh
Primary Air pada Bentuk Api), dimana warna merah adalah lintasan pembakaran bahan
bakar, warna biru adalah campuran material dan tertiary air, dan warna hijau adalah
primary air.
4. Sebelum dilakukan modifikasi, hal yang harus dilakukan terlebih dahulu ialah penyajian data
produksi dan parameter proses kiln. Dari data produksi kiln 8 bulan januari sampai desember
2010 terlihat bahwa: kapasitas produksi klinker rendah karena masih dibawah budget
produksi yaitu 4850 ton/day, spesific heat consumption & spesific power consumption tinggi.
5. Berikut merupakan gambar sketsa yang menunjukkan posisi burner yang baru yang sudah
ditentukan dengan evaluasi dan perhitungan waktu tinggal, serta gas didalam system.
Sistem pengoperasian kiln 8 dengan SLC-D sebagai berikut:
Pengoperasian kiln 8 melalui 2 mode yaitu:
Preheater mode, mode ini dioperasikan mulai dari saat kiln start up sampai dengan saat
material siap diumpankan ke tertiary air duct. Preheater mode adalah mode dimana aliran

material tidak masuk melalui TAD dan combustion chamber, material dari cyclone 2
semuanya masuk ke riser duct; panas yang di supply ke seluruh sistem hanya berasal dari
pembakaran bahan bakar di main burner, SLC-D atau calciner belum beroperasi, feed
maksimum pada mode ini di 180 TPH. Combustion chamber mulai di panaskan dengan
mengalirkan tertiary air (membuka hoisting damper) setalh temperatur secondary air
mencapai 650oC. Setalah temperatur CC mencapai 600oC, calciner burner mulai
dioperasikan, dan CC dipanaskan lebih lanjut dengan sumber panas dari pembakaran fine
coal sampai temperatur CC mencapai 900oC maka calciner mode siap dioperasikan.
Calciner mode, dioperasikan dengan membuka dividing gate, yaitu gate pembagi yang
terletak dibawah cyclone 2, kearah TAD. Material dari cyclone 2 di bagi 2.35% ke arah
riser duct dan 65% ke arah TAD. Hot gas dari cooler/secondary air dan tertiary air di atur
pembagiannya dengan mengatur bukaan damper. Panas di CC di supply dari pembakaran
fine coal dan di calciner burner. Dari mode ini kiln feed mulai dinaikkan dari 180 TPH
sampai 350 TPH.
1

Combustion Chamber
Connecting Duct CC dan
2
RD
3
Riser Duct (RD)
4
RD/Calciner Chamber
5
Goose neck upstream
6
Goose neck downstream
Keterangan kiln 8 flowsheet