Anda di halaman 1dari 43

Kelompok A5

Annete Juwita Y. 021211131041


Ledy Ana Z. 021211131042
Firsta Maulidya Y. 021211131043
Nisrina Hasna N. 021211131044
Amelia Kristanti R. 021211131045
Dita Rana W. 021211131046
Wilda Safira 021211131047
Masha Andina 021211131048
Aghnia Alma L. 021211131049
Isna Nur I. R. 021211131050

KARIES adalah suatu


proses patologis berupa
proses kerusakan yang
terbatas pada jaringan
keras gigi yang dimulai
dari email terus ke dentin.

Prevalensi nasional masalah gigi dan mulut


adalah 23,5%
diatas prevalensi nasional (19 propinsi) : Nanggroe Aceh
Darusalam, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Papua
Barat.

Karies Insipiens
Karies Superfisialis
Karies Media
Karies Profunda

Menurut (behrman dkk,2000) faktor yang


memungkinkan terjadinya karies yaitu :
a. Umur
Terdapat tiga fase umur yang dilihat dari sudut gigi
geligi yaitu :
Periode gigi campuran,
Periode pubertas (remaja) umur antara 14 tahun
sampai 20 tahun.
Umur antara 40- 50 tahun,

Kerentanan permukaan gigi


Morfologi gigi
Lingkungan gigi

Air ludah
Bakteri
Menurut (behrman dkk,2000) tiga jenis bakteri
yang sering menyebabkan karies yaitu :
Steptococcus
Actynomyces
Lactobacilus

Plak
Frekuensi makan makanan yang menyebabkan
karies (makanan kariogenik)

Prevalensi nasional karies aktif adalah 43,4%


Diatas prevalensi nasional (14 propinsi) : Riau,
Jambi, Sumatera Selatan,Bangka Belitung, DI
Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur,Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Prevalensi dipengaruhi oleh dua elemen


1. Jumlah individu yang terkena penyakit di
masa lalu.
2. Lama atau durasi dari suatu penyakit.

Prevalensi karies dihitung dengan menggunakan


rumus prevalensi :
Prevalensi karies = Total orang yang memiliki karies x 100%
Total orang yang diperiksa

10 tahun 24 tahun
45 tahun ke atas
65 tahun ke atas

66,8% - 69,5%
53,3%
43,8%

Keadaan ini menunjukkan karies gigi aktif


banyak terjadi pada golongan usia produktif

adalah ukuran keadaan suatu golongan/


kelompok terhadap suatu penyakit gigi
tertentu
untuk mengukur derajat keparahan
agar penilaian yang diberikan pemeriksa
sama atau seragam

a. Indeks DMF (oleh Klein H, Palmer CE,


Knutson JW)
b. Indeks Tooth Caries-WHO
c. Indeks Significant Caries (SiC Index)

untuk mengukur pengalaman seseorang terhadap karies


gigi.
tidak menggunakan skor; pada kolom yang tersedia
langsung diisi kode :
a.
b.
c.

D (gigi yang karies),


M (gigi yang hilang) dan
F (gigi yang ditumpat) dan kemudian dijumlahkan sesuai kode.

Pemeriksaan meliputi :
a.
b.

DMFT (decayed missing filled tooth) atau DMFS (decayed


missing filled surface) = gigi permanen
deft (decayed extracted filled tooth) = gigi sulung

Hal yang perlu diperhatikan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Semua gigi yang karies = kategori D


Karies sekunder + tumpatan permanen = kategori D.
Gigi dengan tumpatan sementara = kategori D.
Semua gigi yang hilang atau dicabut karena karies = kategori
M.
Gigi yang hilang akibat penyakit periodontal, dicabut untuk
kebutuhan perawatan ortodonti kategori M.
Semua gigi dengan tumpatan permanen = kategori F.
Gigi dalam perawatan saluran akar = kategori F.
Pencabutan normal selama masa pergantian gigi geligi
kategori M

DMF-T = D + M + F
DMF-T rata-rata =
[Jumlah D + M + F] : [Jumlah sampel]

Hal yang perlu diperhatikan

1. Permukaan gigi yang diperiksa adalah gigi


anterior dengan empat permukaan, fasial, lingual,
distal dan mesial sedangkan gigi posterior dengan
lima permukaan yaitu fasial, lingual, distal, mesial
dan oklusal
2. Kriteria untuk D dan F sama dengan DMFT.
3. Bila gigi sudah dicabut karena karies, maka pada
waktu menghitung permukaan yang hilang
dikurangi satu permukaan

Jumlah gigi sulung seluruhnya yang telah terkena


karies
berupa angka yang diperoleh dengan rumus :
Indeks def-t = d + f + t
Indeks def-t rata-rata =
[Jml indeks def-t semua responden] : [Jml
responden]

Keterangan rumus
d (decayed): Apabila jaringan email gigi sulung
mengalami dekalsifikasi, terlihat keputih-putihan atau
kecoklatan dengan ujung ekskavator/ sonde yang terasa
menyangkut pada kavitas (kavitas tersebut nantinya
masih dapat direstorasi).
e (extracted): Apabila gigi sulung tersebut telah
dilakukan pencabutan atau tanggal

f ( filled teeth): Apabila pada gigi sulung tersebut telah


ditumpat atau direstorasi secara tetap maupun
sementara.

WHO memberikan kategori dalam


perhitungan DMF-T dan def-t berupa
derajat interval:
Sangat rendah
: 0,0 1,1
Rendah
: 1,2 2,6
Moderat
: 2,7 4,4
Tinggi
: 4,5 6,5
Sangat tinggi : > 6,6

Semua gigi diperiksa kecuali gigi molar tiga


Indeks ini dibedakan atas indeks DMFT (decayed
missing filled teeth) Dan deft (decayed extracted
filled tooth).
Cara perhitungannya adalah dengan
menjumlahkan semua DMF atau def

KODE
Gigi Sulung

Kondisi/Status

Gigi Permanen

Mahkota Gigi

Mahkota Gigi

Akar Gigi

Permukaan gigi sehat/keras

Gigi karies

Gigi dengan tumpatan, ada karies

Gigi dengan tumpatan baik, tidak ada


karies

Gigi yang hilang karena karies

Gigi yang hilang karena sebab lain

Gigi dengan tumpatan silen

Jembatan, mahkota gigi atau viner/implant

Gigi yang tidak erupsi

Trauma/fraktur

gigi yang memakai pesawat cekat


ortodonti atau hipoplasia enamel

digunakan sebagai standar pengukuran statistik


epidemiologis yang lebih ditekankan pada
individu yang mempunyai angka karies yang
tinggi pada suatu populasi.
skor SiC diperoleh dari rerata DMFT pada
sepertiga populasi yang mempunyai skor karies
paling tinggi

1) Buat distribusi DMFT yang berisi : 1) skor DMFT


individu (individu 1 mempunyai DMFT = 0,
individu 2 mempunyai DMFT = 0, individu 3
mempunyai DMFT = 2 dst dan 2) skor yang
sudah dikelompokkan.misalnya 10 orang
mempunyai DMFT = 0, 11 orang mempunyai
DMFT = 1 dst.

Individu No

DMFT

14

10

11

Jumlah DMFT =
0+0+2+1+0+5+0+14+2+0+3 = 27
Jumlah orang = 11

Rerata DMFT = 27/11 = 2.4545


Penulisan angka di belakang koma,
biasanya hanya satu angka saja
sehingga dalam kasus ini rerata
DMFT =2.4

3)Hitung berapa banyak individu yang


termasuk dalam 1/3 populasi. Bulatkan
bila hasilnya dalam pecahan

DMFT
0
0
0
0
0
1
2
2
3
5
14

Empat skor DMFT tertinggi


adalah 2,3,5,14
Jumlahkan keempatnya
2+3+5+14 = 24
Jumlah tersebut dibagi atas
sub kelompok sehingga 24/4
=6
Hasil: Indeks SiC untuk
populasi ini adalah 6.0

Pencegahan
Karies

Pra Erupsi

Pasca
Erupsi

Pemberian vitamin dan mineral


Vitamin: A, C, dan D
Mineral: Ca, P, F, dan Mg
Diet makanan yang bergizi tinggi:
Daging, ikan, sayur-sayuran
Terutama untuk ibu hamil

Pengaturan diet
Kontrol plak: mekanis, kimiawi, imunologik
Penggunaan fluor: sistemik dan lokal
Antienzim dan antibakteri

Health promotion: penyuluhan


Specific protection: aplikasi fluor topikal
Screening / early diagnosis and prompt
treatment: periksa gigi 6 bulan sekali, pit
fissure sealant
Disability limitation: penumpatan
Rehabilitation: protesa

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


adalah badan hukum publik yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program jaminan
sosial. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan
BJPS Ketenagakerjaan.
Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa
perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan


BPJS Kesehatan terdiri dari:
1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
a. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Non Perawatan dan Puskesmas Perawatan
b. Fasilitas Kesehatan milik Tentara Nasional
Indonesia (TNI).
c. Fasilitas Kesehatan milik Polisi Republik
Indonesia (POLRI)
d. Praktek Dokter Umum / Klinik Umum

2. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan


a. Rumah Sakit
b. Balai Kesehatan

Prothesa gigi / gigi palsu


Diberikan kepada peserta BPJS Kesehatan yang
kehilangan gigi sesuai dengan indikasi medis.
Pelayanan prothesa gigi diberikan pada fasilitas
kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan
tingkat lanjutan yang bekerja sama dengan BPJS
Kesehatan.
Penjaminan pelayanan prothesa gigi/gigi palsu
diberikan atas rekomendasi dari dokter gigi.
Prothesa gigi/gigi palsu dapat diberikan paling cepat 2
(dua) tahun sekali untuk gigi yang sama.

Pelayanan Gigi
Administrasi pelayananPemeriksaan,
pengobatan, dan konsultasi medis
Premedikasi
Kegawatdaruratan oro-dental
Pencabutan gigi sulung (topikal, infiltrasi)
Pencabutan gigi permanen tanpa penyulit
Obat pasca ekstraksi
Tumpatan komposit/GIC
Skeling gigi (1x dalam setahun)