Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ETIKA BISNIS

SEJARAH KASUS BLBI


(BANTUAN LIKUIDITAS BANK INDONESIA)

OLEH :
M. RIDHANY RIZKI

C1C112125

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN

SEJARAH BLBI
Kronologi Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
Berawal dari krisis ekonomi yang menerpa negara-negara di Asia tahun 1997. Satu per
satu mata uang negara-negara di Asia merosot nilainya. Kemajuan perekonomian
negara-negara di Asia yang banyak dipuji oleh banyak pihak sebelumnya menjadi angin
kosong belaka. Persis sebelum krisis ekonomi, World Bank tahun 1997 menerbitkan
laporan berjudul The Asian Miracle yang menunjukkan kisah sukses pembangunan di
Asia. Ternyata kesuksesan pembangunan ekonomi di negara-negara Asia tersebut tidak
berarti banyak karena pada kenyataannya negara-negara tersebut tidak berdaya
menghadapi spekulan mata uang yang tinggi dan berujung pada krisis ekonomi.
Menyusul jatuhnya mata uang Baht, Thailand, nilai rupiah ikut merosot. Untuk
mengatasi pelemahan rupiah, Bank Indonesia kemudian memperluas rentang intervensi
kurs jual dan kurs beli rupiah, dari Rp. 192 (8%), menjadi Rp. 304 (12%). Guna
mengurangi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia mulai melakukan pengetatan
likuiditas dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6% menjadi
14%.
Akibat kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai lender of the
last resort. Ini merujuk pada kewajiban BI untuk memberikan bantuan kepada bank
dalam situasi darurat. Dana talangan yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan
BLBI. Sesehat apa pun sebuah bank, apabila uang dari masyarakat ditarik serentak tentu
tidak akan sanggup memenuhinya.
Penyimpangan BLBI dimulai ketika BI memberikan dispensasi kepada bank-bank umum
untuk mengikuti kliring meskipun rekening gironya di BI bersaldo debet. Dispensasi
diberikan kepada semua bank tanpa melakukan pre-audit untuk mengetahui apakah
bank tersebut benar-benar membutuhkan bantuan likuiditas dan kondisinya sehat.
Akibatnya, banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI.

Rincian Kronologi Kasus BLBI

!! Juli 1997
Pemerintah Indonesia memperluas rentang intervensi kurs dari 192 (8 persen)
menjadi 304 (12 persen), melakukan pengetatan likuiditas dan pembelian surat
berharga pasar uang, serta menerapkan kebijakan uang ketat.

14 Agustus 1997
Pemerintah melepas sistem kurs mengambang terkendali (free floating).
Masyarakat panik, lalu berbelanja dolar dalam jumlah sangat besar. Setelah dana
pemerintah ditarik ke Bank Indonesia, tingkat suku bunga di pasar uang dan
deposito melonjak drastis karena bank-bank berebut dana masyarakat.

1 September 1997
Bank Indonesia menurunkan suku bunga SBI sebanyak tiga kali. Berkembang isu
di masyarakat mengenai beberapa bank besar yang mengalami kalah kliring dan
rugi dalam transaksi valas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank nasional
mulai goyah. Terjadi rush kecil-kecilan.

3 September 1997
Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan serta
Produksi dan Distribusi berlangsung di Bina Graha dipimpin langsung oleh
Presiden Soeharto. Hasil pertemuan: pemerintah akan membantu bank sehat
yang mengalami kesulitan likuiditas, sedangkan bank yang sakit akan dimerger
atau dilikuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia
(BLBI).

1 November 1997
16 bank dilikuidasi

26 Desember 1997
Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono melayangkan surat ke
Presiden Soeharto, memberitahukan kondisi perbankan nasional yang terus
mengalami saldo debit akibat tekanan dari penarikan dana nasabah. Soedradjad
mengusulkan agar mengganti saldo debit dengan surat berharga pasar uang
(SBPU) khusus.

27 Desember 1997
Surat Gubernur BI dijawab surat nomor R-183/M.Sesneg/12/1997 yang
ditandatangani Mensesneg Moerdiono. Isinya, Presiden menyetujui saran direksi
Bank Indonesia untuk mengganti saldo debit bank dengan SBPU khusus agar
tidak banyak bank yang tutup dan dinyatakan bangkrut.

10 April 1998
Menteri keuangan diminta untuk mengalihkan tagihan BLBI kepada BPPN dengan
batas waktu pelaksanaan 22 April 1998.

Mei 1998
BLBI yang dikucurkan pada 23 bank mencapai Rp 164 triliun, dana penjaminan
antarbank Rp 54 triliun, dan biaya rekapitalisasi Rp 103 triliun. Adapun penerima
terbesar (hampir dua pertiga dari jumlah keseluruhan) hanya empat bank, yakni
BDNI Rp 37,039 triliun, BCA Rp 26,596 triliun, Danamon Rp 23,046 triliun, dan
BUN Rp 12,067 triliun.

4 Juni 1998
Pemerintah diminta membayar seluruh tagihan kredit perdagangan (L/C) bankbank dalam negeri oleh Kesepakatan Frankfurt. Ini merupakan prasyarat agar L/C
yang diterbitkan oleh bank dalam negeri bisa diterima di dunia internasional.
Pemerintah terpaksa memakai dana BLBI senilai US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 18
triliun pada kurs Rp 14 ribu waktu itu).

21 Agustus 1998
Pemerintah memberikan tenggat pelunasan BLBI dalam tempo sebulan. Bila itu
dilanggar, ancaman pidana menunggu.

21 September 1998
Tenggat berlalu begitu saja. Boro-boro ancaman pidana, sanksi administratif pun
tak terdengar.

26 September 1998
Menteri Keuangan menyatakan pemerintah mengubah pengembalian BLBI dari
sebulan menjadi lima tahun.

27 September 1998
Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita
meralat angka lima tahun. Menurut Ginandjar, pemerintah minta pola
pembayaran BLBI tunai dalam tempo setahun.

18 Oktober 1998
Hubert Neiss melayangkan surat keberatan. Dia minta pelunasan lima tahun.
10 November 1998:
Pengembalian BLBI ditetapkan 4 tahun. Tahun pertama 27 persen, sisanya
dikembalikan dalam tiga tahun dalam jumlah yang sama. Jumlah kewajiban BLBI
dari BTO (bank take-over) dan BBO (bank beku operasi) saat itu adalah Rp 111,29
triliun.

8 Januari 1999
Pemerintah menerbitkan surat utang sebesar Rp 64,5 triliun sebagai tambahan
penggantian dana yang telah dikeluarkan BI atas tagihan kepada bank yang
dialihkan ke BPPN.

6 Februari 1999
BI dan Menkeu membuat perjanjian pengalihan hak tagih (on cessie) BLBI dari BI
kepada pemerintah senilai Rp 144,53 triliun.

8 Februari 1999
Penerbitan Surat Utang Pemerintah No SU-001/MK/1998 dan No SU003/MK/1998.

13 Maret 1999
Pemerintah membekukan kegiatan usaha 38 bank, mengambil alih 7 bank, dan
merekapitalisasi 7 bank.

Februari 1999
DPR RI membentuk Panja BLBI.

19 Februari 1999
Ketua BPKP Soedarjono mengungkapkan adanya penyelewengan dana BLBI oleh
para bank penerima. Potensi kerugian negara sebesar Rp 138,44 triliun (95,78%)
dari total dana BLBI yang sudah disalurkan.

13 Maret 1999
Pemerintah mengumumkan pembekuan usaha (BBKU) 38 bank.

14 Maret 1999
Pemerintah dan BI mengeluarkan SKB Penjaminan Pemerintah.

17 Mei 1999
UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia ditandatangani Presiden Habibie. Dalam
UU itu disebutkan bahwa BI hanya dapat diaudit oleh BPK, dan direksi BI tak
dapat diganti oleh siapa pun.

1 September 7 Desember 1999


BPK mengaudit neraca BI per 17 Mei 1999 dan menemukan bahwa jumlah BLBI
yang dapat dialihkan ke pemerintah hanya Rp 75 triliun, sedangkan Rp 89 triliun
tidak dapat dipertangggungjawabkan. BPK menyatakan disclaimer laporan
keuangan BI. Tapi, pejabat BI menolak hasil audit. Alasannya, dana BLBI itu
dikeluarkan atas keputusan kabinet.

28 Desember 1999
Pemerintah melalui Kepala BPPN Glen Yusuf memperpanjang masa berlaku
program penjaminan terhadap kewajiban bank.

Desember 1999
BPK telah menyelesaikan audit BI dan terdapat selisih dari dana BLBI sebesar Rp
51 triliun yang tidak akan dibayarkan pemerintah kepada BI, terutama karena
penggunaannya tidak dapat dipertanggung jawabkan.

5 Januari 2000
Ada perbedaan jumlah BLBI antara pemerintah dan BI. Pemerintah menyebut
BLBI sebesar Rp 144,5 triliun plus Rp 20 triliun untuk menutup kerugian Bank
Exim (Mandiri). Tapi, menurut BI, masih ada Rp 51 triliun dana BLBI yang harus
ditalangi pemerintah. Dana sebanyak itu diberikan BI kepada bank-bank yang
mengalami kesulitan likuiditas selama November 1997-Januari 1998.

10 Januari 2000
Bocoran hasil audit KPMG yang ditunjuk BPK untuk mengaudit neraca awal BI
beredar di kalangan wartawan. Audit itu menemukan bahwa penyelewengan
BLBI berjumlah Rp 80,25 triliun.

29 Januari 2000
Audit BPK menemukan fakta bahwa 95,78 persen dari BLBI sebesar Rp 144,54
triliun berpotensi merugikan negara karena sulit dipertanggung jawabkan.
Ttersangka dalam kasus cessie Bank Bali.

21 Juni 2000
Gubernur Bank Indonesia, Syahril Sabirin, ditahan Kejaksaan Agung dengan
status sebagai tersangka.

9 Oktober 2000
Ketua BPK Billy Judono mengatakan bahwa BLBI sudah diberikan oleh BI sejak
1991 hingga 1996. Jadi, tidak benar bahwa BI hanya bertanggung jawab saat
krisis saja.

18 Oktober 2000
Komisi IX DPR yang membidangi perbankan menolak jumlah BLBI yang
ditanggung BI hanya sebesar Rp 24,5 triliun. Jumlah ini merendahkan hasil audit
BPK, kata anggota dewan.

26 Oktober 2000
Jaksa agung menunda proses hukum terhadap 21 obligor agar mereka punya
kesempatan melunasi dana BLBI.

1 November 2000
DPR, Pemerintah dan BI menetapkan keputusan politik menyangkut pembagian
beban antara Pemerintah dan BI terhadap dana BLBI yang sudah dikucurkan.

Awal November 2000


Sumber di BI menyatakan, tanggung jawab BI terhadap BLBI hanya Rp 48 triliun,
terhitung sejak 3 September 1997-29 Januari 1999, bukan sebelum dan
sesudahnya.

2 November 2000
BPK mengancam BI akan memberikan opini wajar dengan pengecualian terhadap
laporan neraca BI jika dana BLBI tidak dapat dituntaskan.

17 November 2000
Pukul 16.30, pejabat teras BI menyatakan mundur serentak. Mereka yang
mundur adalah Deputi Senior Gubernur Anwar Nasution, Deputi Gubernur
Miranda Goeltom, Dono Iskandar, Achwan, dan Baharuddin Abdullah, dengan
alasan tak mendapat dukungan politik pemerintah dan DPR. Sedangkan Syahril
Sabirin, Achjar Iljas, dan Aulia Pohan tidak mundur. Pokok-pokok Kesepakatan
Bersama antara Pemerintah dan BI ditetapkan. Berdasarkan kesepakatan ini, BI
menanggung beban Rp 24,5 triliun dan sisanya menjadi beban Pemerintah.

3 Januari 2001
Dua Deputi BI Aulia Pohan dan Iwan G Prawiranata ditingkatkan berkasnya ke
penyidikan berkaitan dengan keterlibatan mereka dalam penyalahgunaan dana
BLBI.

7 Maret 2001
DPR mengusulkan pembentukan Pansus BLBI DPR. Pembentukan Pansus ini
dipicu oleh pernyataan Menkeu Prijadi Praptosuhardjo yang menyebutkan
pemerintah belum menyepakati jumlah tanggungan BI sebesar Rp 24,5 miliar.

10 Maret 2001
Pemilik BUN Kaharuddin Ongko ditahan Kejaksaan Agung atas tuduhan
penyelewengan dana BLBI.

22 Maret 2001
Pemilik Bank Modern, Samandikun Hartono ditahan Kejaksaan Agung atas
tuduhan penyelewengan dana BLBI.

29 Maret 2001
Kejagung mencekal mantan ketua Tim Likuidasi Bank Industri (Jusup
Kartadibrata), Presider Bank Aspac (Setiawan Harjono).

2 April 2001
Pelaksanaan Program Penjaminan dana nasabah yang semula diatur melalui SKB
antara BI dan BPPN diubah dengan SK BPPN No 1036/BPPN/0401 tahun 2001.

9 April 2001
Dirut BDNI Sjamsul Nursalim yang bersatus tersangka penyelewengan dana BLBI
dicekal Kejaksaan Agung. Selain Sjamsul, David Nusawijaya (Sertivia) dan
Samandikun Hartono (Bank Modern) juga dicekal.

30 April 2001
Kejagung membebaskan David Nusawijaya, tersangka penyelewengan BLBI.
Selain itu, Kejagung juga mencekal 8 pejabat bank Dewa Rutji selama 1 tahun.

2 Mei 2001
Kejagung membebaskan 2 tersangka penyelewengan BLBI (Samandikun Hartono
dan Kaharuddin Ongko) dan mengubah statusnya menjadi tahanan rumah.

19 Juni 2001
Wapresider Bank Aspac, Hendrawan Haryono dijatuhi hukuman 1 tahun penjara
dan dikenai denda Rp 500 juta. Ia didakwa telah merugikan negara sebesar Rp
583,4 miliar.

21 Juni 2001
Mantan Direksi BI Paul Sutopo ditahan di gedung Bundar oleh aparat Kejagung.

31 Mei 2001
Tim Bantuan Hukum Komite Kebijakan Sektor Keuangan menyampaikan Laporan
Pemeriksaan Kepatuhan Anthony Salim, Andre Salim dan Sudono Salim untuk
memenuhi Kewajiban-kewajibannya dalam MSAA tanggal 21 September 1998.
Dalam bagian kesimpulannya, TBH antara lain menyatakan meski telah
memenuhi sebagian besar kewajiban-kewajibannya, namun secara yuridis formal
telah terjadi pelanggaran, atau kelalaian atau cidera janji atau ketidakpatuhan,
atas kewajiban-kewajibannya dalam MSAA yang berpotensi merugikan BPPN.

2004
Sampai 2004, pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri
mengeluarkan surat keterangan lunas (SKL) kepada lima obligor MSAA dan 17
obligor PKPS APU padahal mereka belum lunas membayar utang mereka.

11 Januari 2007
Dua petinggi Salim Grup (Anthony Salim dan Beny Setiawan) menjalani
pemeriksaan di Mabes Polri atas tuduhan telah menggelapkan aset yang telah
diserahkan kepada BPPN sebagai bagian pembayaran utangnya. Aset yang
digelapkan itu meliputi tanah, bangunan pabrik dan mesin-mesin di perusahaan
gula Sugar Grup.

19 Februari 2007
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR
RI di Gedung MPR/DPR RI menegaskan terhadap 8 obligor yang bermasalah,
pemerintah akan menggunakan kesepakatan awal APU plus denda. Kami tetap
akan menjalankan sesuai keyakinan pemerintah bahwa mereka (delapan obligor
BLBI, red) default. Tagihan kepada mereka adalah Rp 9,3 triliun, tegasnya.
Kedelapan obligor itu adalah James Sujono Januardhi dan Adisaputra Januardhy
(Bank Namura), Ulung Bursa (Bank Lautan Berlian), Lidia Muchtar (Bank Tamara),
Marimutu Sinivasan (Bank Putra Multikarsa), Omar Putihrai (Bank Tamara),
Atang Latief (Bank Bira), dan Agus Anwar (Bank Pelita dan Istimarat).

18 September 2007
Sejumlah anggota DPR mengajukan hak Interpelasi mengenai BLBI kepada
Pimpinan DPR.

4 Desember 2007
Rapat Paripurna DPR menyetujui Hak Interpelasi Atas Penyelesaian KLBI dan BLBI
yang diajukan 62 pengusul.

21 Januari 2008
Ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Jihad Melawan Koruptor BLBI
memberikan penghargaan terhadap sejumlah anggota DPR yang dinilai benarbenar serius hendak mengungkap kasus BLBI.

28 Januari 2008
DPR RI secara resmi mengirimkan surat kepada Presiden RI agar memberikan
keterangan di depan Rapat Paripurna DPR sekaitan Hak Interpelasi atas
penyelesaian KLBI dan BLBI.

29 Januari 2008
Ratusan orang yang tergabung dalam GEMPUR berunjuk rasa di depan gedung
DPR. Mereka curiga ada anggota DPR yang menjadi beking para obligor BLBI.

12 Februari 2008
Pemerintah yang diwakili Menko Perekonomian Boediono menyampaikan
jawaban pemerintah terhadap 10 pertanyaan terkait penyelesaian BLBI di depan
Rapat Paripurna DPR. Ketika membacakan keterangan, lebih separuh anggota
dewan meninggalkan ruang sidang. Pada awalnya, Rapat Paripurna diwarnai
hujan interupsi yang mempersoalkan ketidakhadiran SBY dan lembaran jawaban
yang hanya ditandatangani Boediono saja.

29 Februari 2008
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Kemas Yahya Rahman, menyatakan Tim 35
yang melakukan penyelidikan kasus ini BLBI I dan BLBI II tidak menemukan
adanya pelanggaran pidana yang dilakukan Anthony Salim dan Sjamsul Nursalim.
Menurut Kemas Yahya, sesuai dengan surat penyelesaian utang Master
Settlement for Acquisition Agreement atau MSAA, kewajiban debitor kepada
pemerintah dianggap selesai jika aset yang dinilai sesuai dengan kewajiban dan
diserahkan kepada pemerintah. Kami sudah berbuat semaksimal mungkin dan
kami kaitkan dengan fakta perbuatannya. Hasilnya tidak ditemukan perbuatan
melanggar hukum yang mengarah pada tindakan korupsi, kata Kemas Yahya
Rachman.

2 Maret 2008
Jaksa Urip Tri Gunawan yang menjadi ketua Tim Jaksa BLBI II dicokok aparat KPK
seusai bertandang ke rumah milik pengusaha Syamsul Nursalim di Jalan Hang
Lekir, Jakarta Selatan, Dari tangan Urip, penyidik KPK menyita uang sebesar US$
660 ribu atau sekitar Rp 6 miliar. Uang ini diduga sebagai uang suap terkait kasus
BLBI. Selain Urip, KPK juga menahan Artalyta Suryani, seorang pengusaha yang
diketahui dekat dengan Sjamsul Nursalim dan juga Anthony Salim.

2 Maret 2008
Wacana perguliran tentang hak angket mulai mengemuka di kalangan anggota
DPR menyusul tertangkapnya jaksa Urip Tri Gunawan.

8 Maret 2008
Guru Besar Hukum Pidana Internasional Unpad Bandung, Romli Atmasasmita.
mengusulkan agar KPK mengambil alih pengusutan BLBI. Menurut dia, kasus BLBI
telah masuk ranah pidana, karena obligor yang tidak membayar menyebabkan
negara rugi. Selain itu, ada unsur penipuan di dalamnya, karena tidak ada niat
dari obligor nakal untuk melunasi utangnya. Saran ini mengacu pada pasal 8 ayat
2 UU KPK yang memberi wewenang KPK mengambil alih penyidikan atau
penuntutan pelaku tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan polisi atau
jaksa.

10 Maret 2008
Usulan hak angket kasus BLBI sudah diedarkan kepada para anggota DPR. Usulan
hak angket dimunculkan karena langkah penyelesaian kasus BLBI secara hukum
yang dirintis Kejaksaan Agung ternyata berakhir antiklimaks. Kejagung
menghentikan penyelidikan kasus yang diduga melibatkan sejumlah pengusaha
kelas kakap itu. Apalagi dengan adanya jaksa yang tertangkap tangan menerima
suap. Inilah yang menyebabkan kami akan menggunakan hak angket, ujar
Dradjad Wibowo, anggota DPR dari Fraksi PAN.

13 Maret 2008
Empat orang inisiator hak angket BLBI, Soeripto, Dradjad Wibowo, Abdullah
Azwar Anas dan Ade Daud Nasution secara resmi menyerahkan draft hak angket
kasus BLBI ke pimpinan DPR, Draft tersebut diterima langsung oleh Wakil Ketua
DPR Muhaimin Iskandar di ruang kerjanya. Sebanyak 55 anggota DPR telah
memberikan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.

6 Mei 2008
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan praperadilan
Masyarakat Antikorupsi Indonesia terhadap surat perintah penghentian
penyidikan (SP3) yang dikeluarkan Kejaksaan Agung atas kasus Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Syamsul Nursalim. Kejaksaan Agung langsung
menyatakan banding.

Berikut Adalah Daftar Pelaku di Dalam Kasus BLBI


1. Daftar bankir yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK):
a. Atang Latief (Bank Indonesia Raya hutang 325,46 miliar);
b. James Januardy (Bank Namura Internasional hutang 123,04 miliar);
c. Ulung Bursa (Bank Lautan Berlian hutang 615 miliar);
d. Lidia Mochtar (Bank Tamara hutang 202,80 miliar);
e. Omar Putirai (Bank Tamara hutang 190,17 miliar);
f. Marimutu Sinivasan (Bank Putera Multikarsa hutang 1.130,61 t
Sumber: Koran Tempo, 18 Oktober 2004

riliun).

2. Daftar bankir yang diserahkan ke Kepolisian:


a. Baringin Panggabean (Bank Namura Internusa APU (Akta Pengakuan Utang)
158,93 miliar);
b. Santosa Sumali (B.Metropolitan APU 46,55 miliar);
c. Fadel Muhammad (Bank Intan APU 93,28 miliar);
d. Santosa Sumali (B. Bahari APU 295,05 );
e. Trijono Gondokusumo (Bank PSP APU 3.3031,11 triliun);
f. Hengky Widjaya (Bank Tata APU 461,99 miliar);
g. Taony Tanjung I Gde Dermawan (Bank Aken APU 680,89 miliar);
h. Tarunojoyo Nusa (Bank Umum Servitia-APU-3.336, 44 triliun);
i.

David Nusa Widjaya Kaharuddin Ongko (BUN MRNIA (Master Refinancing


and Notes Insurance Agreement) 8.348 triliun);

j.

Samadikun H. (Bank Modern MRNIA 2.663 triliun).

Peraturan Perundang-undangan Untuk Menjerat Pelaku Kasus BLBI dan Proses


Penyelesaiannya
Ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat menjerat para pelaku di balik
kasus BLBI adalah ketentuan di dalam Undang-undang No.3 Tahun 1971 (pasal 1 ayat
(1) angkat {a} dan {b}) Juncto Undang-undang No.31 Tahun 1999 (pasal 2 ayat (1), pasal
3, dan pasal 4).
Selain dijerat oleh ketiga Undang-undang korupsi di atas, juga bisa oleh Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penyertaan, percobaan, maupun penyitaan
(pasal 39 KUHP).
Untuk proses penyelesaiannya, bisa menggunakan Undang-undang Darurat
Nomor 7 Tahun 1955 Tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana
Ekonomi maupun Undang-undang No.3 Tahun 1971 Juncto Undang-undang No.31
Tahun 1999.