Anda di halaman 1dari 10

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional .

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu


Politik. Universitas Indonesia.

Summary Pengantar Ilmu Politik

Oleh : Erika
0706291243
Dasar-dasar Ilmu Politik, oleh Prof. Miriam Budiardjo

Perkembangan Ilmu Politik

Ada 2 pandangan mengenai usia ilmu politik. Apabila ilmu politik dianggap sebagai
bagian dari ilmu sosial yang mempunyai dasar, fokus, rangka, dan ruang lingkup yang
sudah jelas, maka dapat dikatakan ilmu politik masih sangat muda usianya, jika
dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ilmu politik sendiri
baru lahir pada akhir abad ke-19, sementara ilmu-ilmu sosial lainnya lahir lebih dulu
sebelum itu. Namun, apabila ilmu politik ditinjau sebagai pembahasan secara rasionil dari
berbagai aspek negara, ilmu politik merupakan ilmu yang sudah ada sebelum ilmu-ilmu
sosial lainnya. Bahkan, ilmu politik pernah disebut sebagai “ilmu sosial yang tertua” di
dunia. Pada waktu itu, ilmu politik banyak bersandar pada sejarah dan filsafat.
Banyak anggapan bahwa ilmu politik merupakan ilmu tentang negara. Konsep
tentang negara sendiri sudah ada sejak tahun 450 SM, di Yunani kuno. Bukti dari fakta
tersebut adalah dengan ditemukannya karya-karya filsuf-filsuf terkenal dunia, seperti
Herodotus, Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Tidak hanya di Yunani, berbagai tulisan-
tulisan politik yang bermutu juga dapat ditemui di India dan Cina. Di India, berbagai tulisan
mengenai politik dapat ditemui pada kitab Dharmasastra dan Arthasastra pada tahun 500
SM. Sementara di Cina, tulisan-tulisan tentang politik tersebut termuat dalam karya
Confusius dan K’ung Fu Tzu (± 500 SM), Mencius (± 350 SM) dan Mazhab Legalists
(Shang Yang, ± 350 SM). Bahkan, di Indonesia sendiri sebenarnya telah banyak ditemukan
berbagai tulisan bermutu tentang politik, antara lain dalam kitab Negarakertagama yang
ditulis oleh Majapahit pada abad 13-15 SM, dan pada Babad Tanah Jawi. Namun, mulai
akhir abad 19, kesusastraan tentang politik mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan
banyak pemikiran-pemikiran dari Barat yang menghambat perkembangan ilmu politik di
Asia.
Pada abad 18-19, di berbagai negara-negara di Benua Eropa, seperti Jerman, Austria,
dan Perancis, politik banyak dipengaruhi oleh hukum. Pada waktu itu, fokus perhatian dari
ilmu politik adalah mengenai negara. Ilmu politik sewaktu itu belum merupakan ilmu yang
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

berdiri sendiri, melainkan masih termasuk dalam kurikulum pada Fakultas Hukum dan
termasuk mata kuliah Ilmu Negara (Staatslehre). Di negara Inggris, politik termasuk dalam
cabang ilmu filsafat, terutama dalam moral philosophy. Pembahasan dari ilmu politik pun
tidak pernah lepas dari sejarah.
Dua buah tempat yang menjadi tanda bahwa politik untuk pertama kalinya
mendapat tempat dalam kurikulum di perguruan tinggi adalah Ecole Libre des Sciences
Politiques (Paris, 1870), dan London School of Economics and Political Science (Inggris,
1895). Dibangunnya kedua tempat tersebut menjadi awal baru bagi ilmu politik, yang mulai
mendapat perhatian lebih dari para pelajar.
Di Amerika Serikat, ilmu politik banyak dipengaruhi oleh sosiologi dan psikologi.
Barulah pada tahun 1858, ilmu politik mulai diakui sebagai ilmu tersendiri. Hal ini
ditunjukkan dengan diangkatnya sarjana asal Jerman, Francis Lieber, menjadi guru besar
dalam sejarah dan ilmu politik di Columbia College. Sejak pengakuan tersebut, keberadaan
ilmu politik di Amerika Serikat semakin berkembang. Pada tahun 1904, di Amerika Serikat
didirikan APSA (American Political Science Association).
Sesudah Perang Dunia II, perkembangan ilmu politik di berbagai belahan dunia
semakin pesat. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya Faculteit der Sociale en Politieke
Wetenschappen (sekarang bernama Faculteit der Sociale Wetenschappen) pada tahun 1947
di Amsterdam. Tidak hanya di Belanda, perkembangan ilmu politik juga tejadi di Indonesia,
dengan didirikannya Fakultas Sosial dan Politik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
dan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Indonesia, Jakarta. Di mana, di Universitas
Indonesia itu, ilmu politik menjadi 1 departemen tersendiri dan tidak digabung dengan
departemen-departemen lainnya.
Perkembangan ilmu politik itu tidak serta-merta menjadikannya sebagai suatu ilmu
yang memiliki kedudukan dan definisi yang jelas. Ketidakseragaman dalam terminologi
dan metodologi dalam ilmu politik itulah yang menyebabkan UNESCO menyelenggarakan
survey tentang kedudukan ilmu politik dalam ± 30 negara. Proyek ini dilaksanakan pada
tahun 1948, dan dipimpin oleh W. Ebenstein dari Princeton University, Amerika Serikat.
Hasil proyek ini kemudian dimasukkan dalam sebuah buku berjudul Contemporary
Political Science (1948). Ternyata, buku tersebut pun dianggap belum cukup untuk
memberikan penjelasan mengenai ilmu politik. Sehingga, UNESCO bersama IPSA
(International Political Science Association) kembali menyelenggarakan penelitian pada ±
10 negara (beberapa negara Barat, India, Mexico, dan Polandia). Kemudian, laporan-
laporan ini dibahas dalam konferensi di Cambridge, Inggris, pada tahun 1952. Hasilnya
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

kemudian disusun oleh W.A.Robson dari London School of Economics and Political
Science dalam The University of Teaching of Social Sciences : Political Science. Buku
inilah yang kemudian menjadi pedoman dalam mengajarkan beberapa ilmu sosial
(termasuk ekonomi, antropologi budaya, dan kriminologi) di tingkat perguruan tinggi.
Kedua buku ini merupakan usaha dari dunia internasional untuk membantu perkembangan
ilmu politik di dunia, dan untuk menyatukan berbagai pandangan berbeda tentang ilmu
politik di berbagai belahan dunia.

Ilmu Politik sebagai Ilmu Pengetahuan

Apakah ilmu politik dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini
tentunya tidak dapat kita jawab tanpa mengetahui definisi mengenai ilmu pengetahuan itu
sendiri. Pertemuan sarjana-sarjana ilmu politik di Paris, 1948, menghasilkan suatu definisi
tentang ilmu pengetahuan : Ilmu pengetahuan adalah “the sum of coordinated knowledge
relative to determined subject 1 ” artinya keseluruhan dari pengetahuan yang terkumpul
menjadi suatu subjek tertentu. Sementara seorang ahli Belanda mengatakan : “Ilmu adalah
pengetahuan yang tersusun, sedangkan pengetahuan adalah pengamatan yang disusun
secara sistematis” (Wetenschap is geordende kennis, kennis is gesystematiseerde
observatie). Berdasarkan kedua perumusan tersebut, ilmu politik termasuk ilmu
pengetahuan.
Namun, ternyata definisi ini banyak menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai
sarjana ilmu politik. Karena bila dirunut dari definisi ini, ilmu politik seakan termasuk ilmu
pengetahuan yang tidak perlu perkembangan. Padahal, yang mereka inginkan adalah agar
ilmu politik dapat terus mengembangkan diri untuk dapat terus berusaha memahami dan
meneliti berbagai gejala-gejala politik secara lebih sistematis, dengan berdasarkan kerangka
teoritis yang terperinci. Pendekatan baru ini dikenal dengan nama “pendekatan tingkah
laku” (behavioral approach).
“Pendekatan tingkah laku” ini timbul pada masa sesudah Perang Dunia II, dengan
didasari pada keinginan para ahli politik untuk meningkatkan mutu ilmu politik.
Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh karya-karya sarjana sosiologi, seperti Max Weber
dan Talcott Parsons. Sarjana ilmu politik yang terkenal karena pendekatan ini adalah
Gabriel A. Almond (structural-functional analysis), David Easton (general system analysis),

1
Diambil dari Contemporary Political Science : A Survey of Methods, Research, and Teaching (Paris :
UNESCO, 1950), h. 4.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

Karl W. Deutsch (communications theory), David Truman, Robert Dahl, dan lain-lain.
Salah satu pemikiran pokok dari “pendekatan tingkah laku” ini adalah bahwa fokus dari
ilmu politik adalah tingkah laku politik, bukan lagi pada lembaga-lembaga kenegaraan.
Konsep-konsep pokok dari kaum behavioralis adalah :
1. Tingkah laku politik memperlihatkan keteraturan (regularities) yang dapat
dirumuskan dalam generalisasi-generalisasi.
2. Generalisasi-generalisasi ini pada azasnya harus dapat dibuktikan (verification)
kebenarannya sesuai dengan tingkah laku yang berkaitan.
3. Dalam mengumpulkan dan menafsirkan data, diperlukan teknik-teknik penelitian
yang cermat.
4. Untuk dapat mencapai kecermatan dalam penelitian, diperlukan adanya
pengukuran dan kuantifikasi.
5. Dalam membuat analisa politik, nilai-nilai pribadi dari si penulis/peneliti sedapat
mungkin tidak dimasukkan dalam penelitian (value-free).
6. Terbuka terhadap konsep-konsep dan teori-teori dari ilmu sosial lainnya.
Penemuan tentang “pendekatan tingkah laku” ini kemudian melahirkan berbagai
analisa baru dalam dunia politik. Analisa-analisa baru itu antara lain analisa strukturil-
fungsional (structural-functional analysis), dan pendekatan analisa-sistim (systems
analysis). Kedua analisis tersebut menganalisa masyarakat dari segi keseluruhan (macro
analysis). Setiap peranan masyarakat, baik yang langsung (manifest), maupun yang tidak
langsung / terpendam (latent) senantiasa berpengaruh langsung terhadap masyarakat.
Dengan mempelajari “pendekatan tingkah laku”, kita menjadi mampu memahami
kegiatan dan susunan politik di beberapa negara yang berbeda latar belakangnya. Hal ini
dapat kita lakukan dengan mempelajari bermacam-macam mekanisme untuk menjalankan
fungsi tertentu, yang ternyata merupakan tujuan dari setiap kegiatan politik. Hal tersebut
menyebabkan Ilmu Politik Perbandingan menjadi sangat maju.
Kemajuan “pendekatan tingkah laku” ini ternyata mendapat protes dari berbagai
tokoh “pendekatan tradisional”, sebut saja Eric Voegelin, Leo Strauss, dan John Hallowell.
Mereka beralasan bahwa “pendekatan tingkah laku” dinilai terlalu lepas dari nilai-nilai
yang ada. Pendekatan ini juga dinilai tidak relevan dengan politik praktis, serta bersikap
menutup mata atas berbagai masalah-masalah sosial yang ada.
Perbedaan antara kaum tradisionalis dan kaum behavioralis dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Para tradisionalis menekankan : Para behavioralis menekankan :
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

Nilai-nilai dan norma-norma fakta


Filsafat penelitian empiris
Ilmu terapan ilmu murni
Historis-yuridis sosiologis-psikologis
2
Tidak kuantitatif kuantitatif
Terjadinya konflik antara kaum tradisionalis dan kaun behavioralis ini lalu
mendorong mereka untuk meneliti kembali rangka, metode, dan tujuan dari ilmu politik itu
sendiri, baik di bidang pembinaan teori (theory building), maupun di bidang penelitian
komparatif. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa kedua pendekatan sama pentingnya.
Pendekatan tradisional dikatakan tetap memainkan peranan pokok dalam politik, tetapi ia
tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan. Sementara pendekatan tingkah
laku dikatakan mempunyai pengaruh yang besar dalam ilmu politik.
Selain kedua pendekatan ini, ada suatu pendekatan yang diawali dengan reaksi dari
berbagai pihak yang kurang puas dengan semua pendekatan yang ada. Reaksi ini disebut
dengan “revolusi post-behavioralisme”. Gerakan ini timbul di Amerika dan mencapai
puncak saat berlangsungnya perang Vietnam, serta saat kemajuan teknologi di bidang
persenjataan dan persamaan ras semakin luas. Gerakan ini banyak dipengaruhi oleh tulisan-
tulisan berbagai cendekiawan, seperti Herbert Marcuse, C. Wright Mills, dan Jean Paul
Sartre.
Reaksi post-behavioralisme ini terutama disebabkan ketidakpuasan karena usaha
mengubah ilmu politik menjadi suatu ilmu pengetahuan yang murni, seperti ilmu-ilmu
eksakta lainnya. Pokok-pokok dari reaksi post-behavioralisme adalah sebagai berikut :
1. Karena terlalu berfokus untuk menjadikan ilmu politik sebagai penelitian yang
empiris dan kuantitatif, keberadaan ilmu politik menjadi abstrak dan tidak
relevan dengan situasi sekitar. Padahal, relevansi sifatnya lebih penting
daripada kecermatan dalam penelitian.
2. Ilmu politik tidak boleh kehilangan kontak dengan realitas-realitas sosial,
melainkan ilmu politik harus melibatkan diri dalam usaha mengatasi masalah-
masalah sosial yang timbul.
3. Penelitian mengenai nilai-nilai juga harus dimasukkan dalam kerangka tugas
ilmu politik.

2
Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiardjo (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2006)
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

4. Harus adanya komitmen dari para cendekiawan untuk selalu melibatkan diri,
bertanggung jawab, serta mencari jalan keluar dari setiap krisis sosial yang
dihadapi.

Definisi-definisi Ilmu Politik

Sebelum membicarakan apa itu ilmu politik, kiranya sebaiknya kita menelaah dahulu
pengertian politik. Secara umum, dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah
bermacam-macam kegiatan dalam sistem negara yang menyangkut proses menentukan atau
melaksanakan tujuan dari sistem-sistem itu. Politik selalu berkenaan dengan tujuan-tujuan
masyarakat, bukan tujuan dari individu-individu tertentu. Konsep-konsep pokok dalam
ilmu politik, adalah :

1. Negara
Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan
tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya3. Sarjana yang menjadikan negara sebagai
fokus kegiatannya memusatkan perhatian pada lembaga-lembaga kenegaraan dan
fungsi-fungsinya. Karena definisi ini bersifat sempit dan terbatas pengertiannya, maka
definisi ini dinamakan pendekatan institusional (institutional approach). Seperti yang
dikatakan oleh Roger F. Soltau dalam Introduction to Politics : “Ilmu politik
mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan
melaksanakan tujuan-tujuan itu; hubungan antara negara dengan warga negaranya serta
dengan negara-negara lain”.

2. Kekuasaan
Professor Miriam Budiardjo mengatakan “kekuasaan adalah kemampuan seseorang
atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain
sesuai dengan keinginan si pelaku”. Sarjana yang melihat kekuasaan sebagai fokus dari
ilmu politik beranggapan politik adalah kegiatan yang berpusat pada masalah
memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan, di mana yang menjadi tujuan dari
kekuasaan ini menyangkut kepentingan seluruh masyarakat. Pendekatan ini banyak
terpengaruh oleh sosiologi, dan lebih dinamis daripada pendekatan institusionil. W.A.

3
Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiardjo (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2006)
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

Robson dalam The University Teaching of Social Sciences mengatakan “Ilmu politik
mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan”.

3. Pengambilan keputusan
Professor Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Politik mengatakan
“keputusan adalah membuat pilihan di antara beberapa pilihan alternatif”. Sedangkan
istilah pengambilan keputusan menunjuk pada proses yang terjadi sampai suatu
keputusan itu tercapai, dengan proses pengambilan yang dilakukan secara kolektif dan
mengikat seluruh masyarakat. Aspek pengambilan keputusan ini juga banyak
menyangkut soal pembagian (distribution), yang oleh Harold Laswell dirumuskan
sebagai : “who gets what, when, how”. Joyce Mitchell dalam Political Analysis and
Public Policy : An Introduction to Political Science mengatakan, “Politik adalah
pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum untuk
masyarakat seluruhnya”. Keputusan yang dimaksud di sini adalah keputusan yang
menyangkut sektor publik (public sector), mengenai tindakan-tindakan umum atau
nilai-nilai (public goods) yang akan diambil. Deutsch dan kawan-kawan menganggap
negara adalah kapal, dan pemerintah adalah nahkodanya. Pendekatan ini didasarkan
pada prinsip cybernetica, yaitu ilmu komunikasi dan pengendalian.

4. Kebijaksanaan umum (public policy, beleid)


“Kebijaksanaan adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku
atau oleh kelompok politik dalah usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk
mencapai tujuan itu,” seperti dikutip dalam Dasar-dasar Ilmu Politik, karangan
Professor Miriam Budiardjo. Sarjana-sarjana yang bepusat pada kebijaksanaan umum
menganggap bahwa setiap masyarakat mempunyai suatu tujuan bersama, yang harus
dicapai melalui usaha bersama. Untuk itulah, keberadaan kebijaksanaan diperlukan
dalam masyarakat. Yang dimaksud dengan kebijaksanaan umum (policy) menurut
Hoogerwerf dalam bukunya yang berjudul Politicologie : Begrippen en Problemen
adalah “membangun masyarakat secara terarah melalui pemakaian kekuasaan”.

5. Pembagian (distribution)
“Pembagian (distribution) dan alokasi (allocation) adalah pembagian dan penjatahan
dari nilai-nilai dalam masyarakat,” hal ini dikatakan oleh Professor Miriam Budiardjo,
dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Politik. Sarjana yang menekankan pada pembagian
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

alokasi beranggapan bahwa politik adalah mengenai pembagian dan pengalokasian dana,
yang terkadang tidak merata pembagiannya. Dalam ilmu sosial, nilai (value) diartikan
sebagai sesuatu yang dianggap baik dan benar, serta sesuatu yang ingin dimiliki oleh
manusia. Nilai dapat dikatakan bersifat abstrak, namun juga dapat bersifat konkrit.
Harold Laswell dalam bukunya yang berjudul Who Gets What, When, and How
mengatakan “Politik adalah masalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana”.
Sedangkan David Easton dalam A System Analysis of Political Life mengatakan :
“Sistem politik adalah keseluruhan dari interaksi-interaksi yang mengatur pembagian
nilai-nilai secara autoritatif (berdasarkan wewenang) untuk dan atas nama masyarakat”.

Bidang-bidang Ilmu Politik

Dalam Contemporary Political Science, terbitan UNESCO pada 1950, ilmu politik
terbagi dalam 4 bidang :
I. Teori politik :
1. Teori politik
2. Sejarah perkembangan ide-ide politik
II. Lembaga-lembaga politik :
1. Undang-undang Dasar
2. Pemerintahan Nasional
3. Pemerintah Daerah dan Lokal
4. Fungsi ekonomi dan sosial dari pemerintah
5. Perbandingan lembaga-lembaga politik
III. Partai-partai, golongan-golongan (groups) dan pendapat umum :
1. Partai-partai politik
2. Golongan-golongan dan asosiasi-asosiasi
3. Partisipasi warga negara dalam pemerintah dan administrasi
4. Pendapat umum
IV. Hubungan internasional :
1. Politik internasional
2. Organisasi-organisasi dan administrasi internasional
3. Hukum internasional.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

Teori politik adalah bahasan sistematis dan generalisasi dari berbagai fenomena
politik yang terjadi di sekitar kita. Teori politik bersifat spekulatif (merenung-renung),
deskriptif (menggambarkan), komparatif (membandingkan), atau dapat pula bersifat logika.
Dalam pembahasan teori politik, juga dibahas mengenai sejarah pengembangan ide politik.
Setiap ide politik lahir pada suatu masa tertentu, sehingga ide-ide politik tersebut menjadi
erat kaitannya dengan perkembangan sejarah. Kupasan mengenai sejarah-sejarah di negara
Barat biasanya dimulai sejak zaman Yunani kuno (abad 6 SM), sampai abad ke-20 ini.
Bidang kedua dari ilmu politik adalah mengenai lembaga-lembaga politik. Hubungan
antara teori politik dengan lembaga-lembaga politik ini sangat erat kaitannya, sebab tujuan-
tujuan sosial dan politik biasanya telah ditentukan dalam doktrin politik.
Bidang ketiga adalah mengenai partai-partai, golongan-golongan, dan pendapat umum.
Bidang mengenai partai-partai ini banyak memakai konsep sosiologis dan psikologis.
Bidang ini seringkali disebut dengan istilah political dynamics karena sangat menonjolkan
proses dinamis dari kegiatan-kegiatan politik.
Bidang keempat adalah mengenai hubungan internasional. Kemunculan bidang baru
ini dikarenakan perkembangan ilmu politik yang semakin pesat, didukung pula oleh
kemajuan teknologi, ekonomi dan sosial.
Akhir-akhir ini, sedang berkembang suatu bidang yang penting bagi negara-negara
berkembang. Bidang itu adalah Pembangunan Politik (Political Development). Bidang ini
mempelajari efek dari pembangunan di bidang sosial dan ekonomi, yang akhir-akhir ini
meningkat dengan drastis, pada masyarakat. Masalah pembangunan politik ini erat
kaitannya dengan proses dekolonisasi dan proses mencapai kemerdekaan pada negara-
negara yang baru saja memerdekakan diri.
Masalah yang dipelajari dari bidang ini adalah mengenai akibat yang ditimbulkan
oleh pembangunan sosial dan politik terhadap lembaga pemerintahan dan partisipasi politik;
peranan golongan elit dan pola kepemimpinan; peranan pendidikan sebagai sarana
pembangunan, dan lain sebagainya.
Sebagai penutup, di sini disajikan beberapa contoh dari perkembangan ilmu politik
yang semakin pesat, yang tercermin dalam berbagai acara di berbagai konferensi :
a. Kongres VII International Political Science Association, tahun 1967 di Brussel.
Hasil-hasil pembicaraannya adalah :
 Metode-metode kuantitatif dan matematis dalam ilmu politik
 Biologi dan ilmu politik
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

 Masalah pangan dan ilmu politik


 Masalah pemuda dan politik
 Model-model dan stude perbandingan sekitar Nation Building.
b. American Political Science Association tahun 1970 di Los Angeles :
 Data dan analisa (penggunaan komputer dalam kegiatan penelitian)
 Pembangunan politik (kehidupan-kehidupan politik di negara baru)
 Tingkah laku badan legislatif (analisa sikap dan peranan anggota-anggota
panitia kecil dalam badan perwakilan)
 Perbandingan sistem-sistem komunis dan komunikasi internasional (dua
cabang ilmu hubungan internasional yang bersifat lebih sempit). 4

4
The American Political Science Association, Program of the Sixty-sixth Annual Meeting September 8-12,
1970. Los Angeles : The American Political Science Association, 1970.