Anda di halaman 1dari 2

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional .

Fakultas Ilmu Sosial dan


Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

Tugas Pengantar Ilmu Politik

KELEMAHAN SISTEM DISTRIK DAN SISTEM PERWAKILAN


BERIMBANG, BERIKUT PENJELASANNYA

Disusun oleh : Erika


0706291243

KELEMAHAN SISTEM DISTRIK

Prof. Miriam Budiardjo dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Ilmu


Politik” mengatakan :
Sistem distrik merupakan sistem pemilihan yang paling tua yang didasarkan
atas kesatuan geografis. Dalam sistem distrik, calon yang dalam satu distrik
memperoleh suara terbanyaklah yang menang, sedangkan suara-suara yang
ditujukan kepada calon-calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan
tidak diperhitungkan lagi, bagaimana kecil pun selisih kekalahannya.
Menurut penulis, hal inilah yang merupakan kelemahan terbesar dari sistem
distrik atau single-member constituency. Sepintas sistem ini memang terlihat adil,
karena untuk dapat mewakili masyarakat di suatu distrik tertentu, memang harus
dipilih seorang wakil yang dikenal dan difavoritkan oleh sebagian besar masyarakat.
Namun seringkali dalam suatu pemilihan umum dengan sistem distrik, tidak berhasil
dilahirkan seorang wakil yang perolehan suaranya benar-benar mayoritas (lebih dari
50%).
Katakanlah dalam Distrik A, terdapat 3 calon wakil rakyat, yaitu X, Y, dan Z.
Dalam pemilihan umum yang diselenggarakan, ternyata X berhasil menang dengan
perolehan 40% suara, sementara Y mendapat 28% suara, dan Z mendapat 32% suara.
Dengan sistem distrik, wakil yang akan terpilih adalah X, padahal jika kita lihat, suara
yang diperoleh oleh Y dan Z, jika digabungkan, akan melebihi perolehan suara dari X
sendiri. Di sinilah letak ketidakadilan dalam pelaksanaan sistem distrik dalam suatu
pemilihan umum : adanya sejumlah suara yang terbuang dan tidak diperitungkan
sama sekali; dan seandainya jumlah suara yang hilang ini digabungkan, maka jumlah
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik. Universitas Indonesia.

yang dicapai akan besar. Hal ini dianggap tidak adil oleh golongan-golongan yang
merasa dirugikan.

KELEMAHAN SISTEM PERWAKILAN BERIMBANG

Sistem perwakilan berimbang (multi-member constituency / sistem


proporsional) adalah sistem pemilihan umum di mana negara yang mengadakan
pemilihan umum dibagi menjadi beberapa daerah pemilihan. Jumlah kursi untuk tiap-
tiap daerah pemilihan ini beragam sesuai jumlah pemilih di daerah tersebut. Tiap-tiap
kursi mempunyai harga (batas minimum suara yang harus diraih untuk mendapatkan
satu kursi). Dalam sistem ini, pemenang dari suatu daerah pemilihan dapat lebih dari
satu orang, tergantung perolehan suara orang tersebut.
Penulis berpendapat, titik lemah dari sistem ini adalah sukarnya mencapai
pemerintahan yang mayoritas, yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya
ketidakstabilan dalam pemerintahan yang terbentuk. Hal ini terjadi karena partai-
partai politik seringkali membentuk suatu koalisi dengan partai politik lain, untuk
mempermudah partai tersebut mencapai dukungan mayoritas dalam masyarakat,
sehingga terjadilah pemerintahan koalisi lebih dari satu partai. Partai-partai yang
berkoalisi ini tentunya mempunyai program (kepentingan) yang berbeda-beda, bahkan
seringkali bertentangan. Belum lagi masalah setiap tokoh partai ingin mendapatkan
kedudukan dalam pemerintahan. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi konflik yang
tajam dalam pemilihan umum dengan sistem perwakilan berimbang. Sering terjadinya
konflik inilah yang menyebabkan pemerintahan cenderung tidak stabil. Sehingga
kelemahan dari sistem perwakilan berimbang ini terletak pada seringnya terjadi
benturan-benturan kepentingan antar partai-partai yang berkoalisi, yang akan
menyebabkan terjadinya berbagai macam konflik, dan kemudian mengarahkan pada
terciptanya pemerintahan yang tidak stabil.