Anda di halaman 1dari 5

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional .

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu


Politik. Universitas Indonesia.

Summary Pra-TKHI
Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber : Simon S.C. Top, et. al., ed., “Reinventing ASEAN”, (Singapore : Institute
of Southeast Asian Studies, 2001), hal. 103 – 120.

ASEAN : Problematika, dan Solusinya

Tantangan untuk ASEAN

Perkembangan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations), yang mencakup


10 negara Asia Tenggara pada 1999, menarik banyak perhatian dari para pengamat
ASEAN. Hal ini disebabkan karena mereka mengkhawatirkan akibat dari perluasan itu
terhadap solidaritas, kekerabatan, dan keefektifan organisasi ASEAN.
Pada mulanya, ASEAN adalah organisasi yang berhaluan non komunis. Namun,
seiring dengan datangnya pengaruh akibat Perang Dingin pada tahun 1980, orientasi non
komunis ini pun mulai hilang. ASEAN sendiri terdiri dari 10 negara Asia Tenggara, yang
terbagi dalam 2 kelompok besar : kelompok kaya dan kelompok miskin. Selain itu,
ASEAN juga dibagi menjadi 2 golongan utama, yaitu golongan lama (Indonesia,
Singapore, Malaysia, Brunei. Filipina, dan Thailand), serta golongan baru (Kamboja, Laos,
Myanmar, Vietnam). Golongan lama sering disebut dengan ASEAN-6, sementara
golongan baru disebut CLMV, yang merupakan singkatan dari 4 negara penyusunnya.
Pengalaman sejarah, letak geografis, serta hal-hal lain yang berbeda antar negara-
negara ASEAN menyebabkan adanya perbedaan dalam kerjasama regional, terutama
dalam bidang keamanan, sosial, dan politik. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan
perpecahan dalam ASEAN. Selain karena hal-hal luar, perpecahan dalam ASEAN juga
disebabkan oleh berbagai sebab internal. Sebab internal itu antara lain perbedaan kondisi
politik, perbedaan ideologi, serta perbedaan dalam stabilitas sosial dan politik. Walaupun
bukan merupakan urusan ASEAN, namun ASEAN tetap harus menghadapi itu, karena hal
internal tersebut juga berdampak pada kesatuan ASEAN secara keseluruhan. Lebih jauh
lagi dikatakan, tantangan domestik dalam bidang politik dan sosial para anggotanya, dapat
berakibat kepada ASEAN secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting bagi ASEAN

-1-
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

untuk memikirkan masalah ini secara serius agar di kemudian hari, masalah-masalah
internal ini tidak mempengaruhi kinerja ASEAN.

Tantangan Sosial dan Politik Domestik, serta Akibatnya pada ASEAN

Kemajuan anggota ASEAN dalam HDI (Human Development Index) sangat


bervariasi, ada yang mempunyai angka HDI tinggi (Singapore), namun ada juga yang
memiliki angka HDI rendah (Laos). Indonesia sendiri merupakan negara dengan angka
HDI sedang. Perubahan-perubahan yang terjadi belakangan ini; seperti perkembangan
teknologi, medis, perkembangan jumlah penduduk, dan lain sebagainya; mendatangkan
berbagai dampak sosial, ekonomi, dan politik pada negara-negara ASEAN. Dari sisi
ekonomi, perkembangan ekonomi yang terjadi menyebabkan munculnya kelas ekonomi
tertentu. Salah satunya adalah kelas menengah, yang hartanya digunakan untuk
kepentingan edukasi dan perjalanan. Kaum kelas menengah ini biasa berasal dari
golongan muda, yang tidak begitu memiliki kepatuhan terhadap pemerintah. Ini pun
menjadi masalah dalam bidang politik.
Ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi perkembangan ekonomi yang tidak
merata ini dapat menyebabkan terjadinya transisi politik yang brutal, seperti yang pernah
terjadi di Indonesia. Perbedaan kondisi ekonomi antar warga pun dapat menyebabkan
terjadinya kesenjangan sosial dalam masyarakat, yang pada akhirnya juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kemunduran politik suatu negara. Dari
penjelasan tersebut, dapat kita lihat bahwa ketiga aspek itu (ekonomi, sosial, dan politik)
merupakan aspek yang saling berkaitan.
Masalah-masalah dalam negeri tersebut ternyata juga dapat berdampak pada
negara-negara di sekitarnya. Seperti pada kasus saat terjadi konflik di Kamboja, dan
kondisi politik Myanmar memburuk. Hal tersebut menyebabkan pengungsian besar-
besaran ke Thailand, yang pada akhirnya menyebabkan penutupan sementara pada
perbatasan Thailand-Myanmar. Ada pula kasus di mana TKI asal Indonesia banyak yang
dipulangkan secara tidak hormat oleh Pemerintah Malaysia. Hal ini tentunya dapat
berakibat buruk pada kerja sama bilateral kedua negara. Rusaknya kerja sama bilateral
tersebut, lebih lanjut, akan mengakibatkan perpecahan dalam tubuh ASEAN sendiri.
Contoh-contoh tersebut menjadi bukti bahwa masalah domestik suatu negara juga dapat
berdampak buruk bagi ASEAN secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu adanya kerja
sama antara daerah sumber masalah dengan daerah-daerah yang mungkin menerima

-2-
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

dampak dari masalah tersebut, agar masalah domestik tidak meluas. ASEAN juga
memiliki cara tersendiri untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan melarang negara
anggotanya untuk ikut campur urusan dalam negeri negara lain.

Menjawab Tantangan

Untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada, ASEAN telah menyiapkan


berbagai langkah penting. Langkah pertama adalah dengan lebih mempersiapkan keempat
negara “pendatang” baru dalam ASEAN, yaitu Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam,
sehingga keempat negara tersebut dapat mengejar ketinggalan dari negara-negara ASEAN
lain. Langkah berikutnya adalah dengan menerima Persetujuan Perdamaian dan Kerja
Sama (TAC). ASEAN juga melonggarkan tanggal permintaan anggota baru ASEAN Free
Trade Area (AFTA), di mana mereka harus mencapai kesepakatan terlebih dahulu
sebelum menentukan tanggalnya. Namun, beberapa pihak masih merasa langkah yang
diambil ASEAN tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah-masalah yang ada.
Banyak pihak berpendapat, yang seharusnya diubah adalah “gaya ASEAN” itu sendiri;
sehingga nantinya Visi 2020, yang merupakan tujuan yang akan dicapai ASEAN, dapat
terpenuhi.
Visi 2020 yang ingin dicapai ASEAN meliputi :
1. Asia Tenggara sebagai Zona Kedamaian, Kebebasan, dan Netralitas (ZOPFAN)
2. Asia Tenggara yang damai dan stabil
3. Region di mana pertentangan apapun diselesaikan dengan jalan damai
4. TAC bekerja sebagaimana mestinya sebagai ikatan pemerintah dan rakyat Asia
Tenggara
5. Region yang bebas dari senjata nuklir , atau senjata pemusnah masal lainnya
6. Daerah di mana sumber daya alam dan manusia dapat turut serta membangun
daerah dan kemakmurannya sendiri
7. Forum Regional ASEAN (ARF) sebagai langkah untuk diplomasi dan
penyelesaian masalah
8. Asia Tenggara yang tidak lagi dipisahkan oleh batas geografis, namun disatukan
dalam perdamaian, kerja sama, dan perdagangan
9. ASEAN sebagai cara efektif untuk kedamaian, keadilan, dan moderasi bagi Asia
Pasifik dan dunia.

-3-
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

Pencapaian Visi 2020 ini sebenarnya juga tidak dapat lepas dari peran negara-
negara non ASEAN. Oleh karena itu, hubungan baik antara negara-negara ASEAN
dengan negara-negara non ASEAN mutlak diperlukan. Akhirnya, usaha yang paling
penting untuk mengatasi segala masalah yang ada dan untuk memajukan ASEAN adalah
dengan memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, keamanan, dan politik dari masing-masing
negara anggota ASEAN. Dengan melakukan semua hal itu, niscaya ASEAN akan mampu
menjawab semua tantangan global yang ada.

Melonggarkan “Gaya ASEAN”

“Gaya ASEAN” sudah lama mendapat banyak kritik dari berbagai negara, kritik
tersebut terutama berpusat pada prinsip non intervensi, persetujuan pengambilan pendapat,
serta berbagai proses mekanisme ASEAN yang tidak teratur. Pada kasus non intervensi,
tidak dijelaskan mengenai sejauh mana campur tangan suatu negara diijinkan, karena
kenyataannya tidak semua negara dapat mengatasi masalah dalam negerinya sendiri. Di
sinilah peran keterbukaan sangat penting, jika memang negara tersebut merasa kurang
mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri, ada baiknya ia meminta bantuan dari
ASEAN untuk membantu menyelesaikannya. Seperti yang sudah dilakukan Indonesia
ketika mengatasi masalah dengan Maluku, di mana Indonesia meminta ASEAN untuk
membantu penyelesaian masalahnya. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh berbagai negara
ASEAN lainnya.
Pada kasus persetujuan pengambilan pendapat, pelonggaran “gaya ASEAN” dapat
dilakukan dengan tidak selalu menggunakan cara konsensus dalam pengambilan
keputusan. Cara yang juga dapat diterapkan adalah dengan prinsip ASEAN dikurangi X,
atau yang dapat disebut coalition of the willing (koalisi pihak berminat). Maksud dari
koalisi pihak berminat adalah, tidak semua negara harus menyetujui atau turut serta dalam
pengambilan keputusan, namun pengambilan keputusan dapat diawali dari koalisi pihak
berminat dahulu, sampai anggota ASEAN yang lain memutuskan untuk turut serta dalam
proses pengambilan keputusan tersebut.
Kasus ketiga adalah mengenai proses dan mekanisme ASEAN yang tidak teratur.
Ketidakteraturan ini seringkali membuat negara anggota ASEAN lebih memilih untuk
mengadakan perjanjian terpisah dengan negara lain. Padahal, hal inilah yang dapat, sedikit
demi sedikit, menghancurkan stabilitas ASEAN sebagai suatu kesatuan. Seharusnya jika
negara ASEAN membutuhkan bantuan, mereka harus saling membantu, bukannya malah

-4-
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia.

menggantungkan diri pada negara non ASEAN. Dalam hal ini, keharmonisan antara
hubungan luar negeri dan tingkat keamanan harus selalu dijaga dalam jangka waktu yang
lama. Sehingga pada akhirnya, keharmonisan antar negara-negara anggota ASEAN pun
dapat tercipta.

Prospek Masa Depan

Melihat diskusi yang telah berjalan, usaha ASEAN untuk memperbaiki dirinya
tampak seperti jalan yang logis untuk diambil. ASEAN tidak akan dapat mencapai Visi
2020 bila caranya menghadapi masalah tidak diubah. Hal ini sudah ditunjukkan oleh
negara-negara anggota utama ASEAN, yang melupakan perselisihan mereka untuk
membentuk ASEAN pada tahun 1967. Mereka pun menjalankan Senior Officials Meeting
(SOM) tahun 1992 untuk menetapkan isu politik dan keamanan settelah Perang Dingin.
Mereka setuju untuk menetapkan ARF sebagai satu-satunya media regional untuk diskusi
isu politik dan keamanan di daerah Asia-Pasifik. Mereka juga menyiapkan AFTA dan
APEC sebagai media ekonomi. Langkah-langkah yang mereka ambil ini menunjukkan
kemampuan ASEAN untuk membangun ulang dirinya, walaupun hal tersebut tidak
dilaksanakan secara cepat.
Di masa depan, ASEAN juga harus memikirkan bagaimana cara menjadi institusi
yang lebih terorganisir dengan memberlakukan struktur dan mekanisme yang sudah ada,
terutama Sekjen dan Sekretariatnya. Sehingga pada akhirnya, kelonggaran “gaya ASEAN”
tidaklah merusak kesatuan ASEAN, melainkan dapat memajukan posisinya dalam dunia
internasional dan menjadikannya lebih mampu untuk menghadapi tantangan yang
menghadang negara-negara anggota ASEAN dan rakyatnya.

-5-