Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDA


Curcuma xanthorrhiza INFUSUM

Disusun oleh:

Rika Nuraeni
P17335113038

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN D-III FARMASI
2014

Curcuma xanthorrhiza INFUSUM

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1.

Menentukan formulasi yang tepat dalam pembuatan sediaan Curcuma


xanthorrhiza Rhizoma infusum.

2.

Mengetahui permasalahan pada sediaan dan menentukan penyelesaian yang


diambil untuk sediaan.

3.

Mengetahui efek farmakologi dan kegunaan dari bahan aktif dan bahan tambahan
lain.

4.

II.

Menentukan hasil evaluasi sediaan Curcuma xanthorrhiza rhizoma infusum.

PENDAHULUAN
Sediaan galenika adalah sediaan yang dibuat dari bahan baku dari hewan atau
tumbuh tumbuhan yang disari. Zat zat yang tersari terdapat dalam sel sel bagian
tumbuh tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering. Ada beberapa metode
yang digunakan untuk mengambil bahan aktif dari simplisia bahan alam, yaitu
maserasi, perkolasi, reperkolasi, digerasi, dikoktum, dan infusum. (Ilmu Meracik Obat
hal 167 )
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit (FI IV hal 9). Simplisia adalah bahan
baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum
mengalami pengolahan apa pun kecuali proses pengeringan. Ditinjau dari asalnya,
simplisia digolongkan menjadi simplisian nabati dan simplisia hewani. Simplisia
hewani berasal dari hewan, baik yang masih utuh, organ-organnya, maupun zat-zat
yang dikandungnya yang berguna sebagai obat dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia nabati berasal dari tanaman, baik yang masih utuh, bagian-bagiannya,
maupun zat-zat nabati yang dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia
murni. Sumber simplisia nabati sampai saat ini berupa tumbuhan liar dan tanaman
budi daya. Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme
pathogen, dan harus bebas dari cemaran mikroorganisme, serangga dan binatang lain
maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh menyimpan bau dan warna, tidak boleh
mengandung lendir, atau menunjukan adanya kerusakan. Jumlah benda anorganik

asing dalam simplisia nabati atau hewani yang dinyatakan sebagai kadar abu yang
tidak larut dalam asam, tidak boleh lebih dari 2%, kecuali dinyatakan lain. (FI IV hal
li)
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infusa adalah:
1. Jumlah simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bahan tidak berkhasiat keras dibuat
dengan menggunakan 10% simplisia. Kecuali untuk simplisia yang tertera pada tabel,
untuk membuat 100 bagian infusa, digunakan sejumlah simplisia seperti tabel.
Bahan bahan

Jumlah

Kulit Kina

6 Bagian

Daun Digitalis

0,5 Bagian

Akar Ipeka

0,5 Bagian

Daun Kumis Kucing

0,5 Bagian

Sekale Komutum

3 Bagian

Daun sena

4 Bagian

Temulawak

4 Bagian

2. Derajat halus simplisia


Yang digunakan untuk infus harus mempunyai derajat halus sebagai berikut:
Serbuk (5/8)

Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, daun


sena

Serbuk (8/10)

Dringo, kelembak

Serbuk (10/22)

Laos, akar valerian, temulawak, jahe

Serbuk (22/60)

Kulit kuni, akar ipeka, sekale kornutum

Serbuk (85/120)

Daun digitalis

3. Banyaknya ekstra air


Umumnya untuk membuat sediaan infusa diperlukan penambahan air sebanayak 2
kali berat simplisia. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada
umumnya dalam keadaan kering.

4. Cara menyerkai
Pada umumya infusa diserkai selagi panas, kecuali infusa simplisia yang mengandung
minyak aktsiri, diserkai setelah dingin.
5. Penambahan bahan-bahan lain
Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan
berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida
antrakinon, ditambahkan natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. (Ilmu Resep hal
271)
Rimpang ini amat terkenal sebagai obat tradisional untuk gangguan
pencernaan yang berkaitan dengan kekurangan empedu. Merupakan contoh khas dari
teori signature kuno mengenai bentuk dan warnanya obat tanaman. Bentuk
rimpangnya menyerupai kandung empedu dan ditambah warna kuningnya. Maka
digunakan pada penyakit kuning (hepatitis). Berkhasiat cholekinetis, menstimulir
pembentukan sekresi empedu oleh hati ke duodenum, berdasarkan zat warna kuning
curcumin, dan minyak-minyak atsiri yang ternyata juga berkhasiat bakteriostatis
terhadap bakteri gram positif. Banyak digunakan pada gangguan kantung empedu
yang bersifat ringan serta akibat sekresi empedu terlampau sedikit. Juga untuk
prevensi sekunder terjadinya batu empedu. Selain itu curcumin menghambat
penggumpalan pelat darah (antiagregasi) dan menurunkan kolesterol plasma dengan
menstimulasi pengubahannya menjadi asam empedu, disamping meningkatkan
kelarutan empedu dan dengan demikian melawan pembentukan batu empedu. Pada
tahun-tahun terakhir telah dibuktikan khasiat antioksidannya yang sangat kuat
terhadap radikal hidroksil, superoksida dan proses-proses peroksidasi. Berdasarkan
efek antioksidannya, curcumin dapat menghambat proliferasi sel-sel tumor dari
kanker usus besar dan panyudara, maka kini sering digunakan pada terapi alternative
dari jenis kanker ini. Lagipula sifat ini melindungi saraf otak terhadap lipidaperoksidasi dan produknya aminoloid-. Juga berkhasiat antiradang yang menyerupai
efek NSAID dan juga diperkirakan berfungsi menurunkan dengan kuat pertumbuhan
plak di pembuluh dan otak. (Daftar Obat-obat Penting hal 276)
Untuk infusum Curcuma xanthorrhiza dosis diambil dari Daftar Obat-obat
Penting yaitu godokan 5 gram dengan 500 mL air 3 dd 2 cangkir. Dan aturan
mengenai pembuatan infusum yang tertera pada FI IV adalah 4 bagian, sehingga dosis
penggunaan infusum menjadi 3 x 1 gelas sendok takar @ 20 mL. Maka dalam 20 mL
infusa mengandung 400 mg Curcuma xanthorrhiza.

Karena bahan aktif berupa simplisia nabati yang kering, pahit dan berasa tajam
seperti yang tertera dalam FI IV, maka untuk membuat sediaan menjadi larutan, bahan
aktif simplisia nabati kami buat menjadi infusa dengan bahan lain yang terkandung
untuk mendukung cita rasa dan stabilitas larutan agar lebih mudah diterima oleh
pengguna.

III.

FORMULASI
1. Bahan aktif
Zat Aktif

Curcuma xanthorrhiza / Temulawak

Makroskopik

Keping tipis bentuk bulat atau jorong, ringan, keras, rapuh,


diameter sampai 6 cm, tebal 2 mm sampai 5 mm; permukaan luar
berkerut; warna coklat kuning sampai coklat; bidang irisan
berwarna coklat kuning buram, melengkung tidak beraturan, tidak
rata, sering dengan tonjolan melingkar pada batas antara silinder
pusat dengan korteks; korteks sempit, tebal 3mm sampai 4 mm.
bekas patahan berdebu, kuning jingga samapi coklat jingga terang.
(FI IV hal 263)

Mikroskopik

Epidermis bergabus, terdapat sedikit rambut, berbentuk kerucut,


bersel satu. Hypodermis agak menggabus, bagian bawah terlihat
periderm yang kurang berkembang. Korteks dan silinder pusat
parenkimatik; sel parenkim berdinding tipis, berisi pati; dalam
parenkim tersebar banyal sel minyak, berisi minyak warna kuning
dan zat warna jingga; idioblas hablur kalsium oksalat berbentuk
jarum kecil. Butir pati pipih, panjang 20 m sampai 70 m, lebar
5m sampai 30m, tebal 3m sampai 10m, lamela jelas, hilus
ditepi. Berkas pembuluh kolateral, tersebar tidak beraturan pada
parenkim korteks dan pada silinder pusat, bergabung satu sama
lain; pembuluh didampingi oleh sel kelenjar, panjang sampai
200m, berisi zatberbutir warna coklat yang dengan besi(III)
klorida LP menjadi lebuh tua. Serbuk: fragmen pengenal adalah
butir pati, fragmen parenkim adalah sel minyak, fragmen berkas
pembuluh, kuning intensif. (FI IV hal 263)

Pemerian

Temulawak adalah kepingan akar Curcuma xanthorrhiza Kadar


minyak atsiri tidak kurang dari 8.0 % v/b
Kadar abu tidak lebih dari 7 %
Bau khas aromatic : rasa tajam dan pahit. (FI IV hal 263)

Senyawa aktif

Rimpang ini mengandung 48-59,64 %

zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri


(www.warintek.ristek.go.id/pertanian/temulawak.pdf)
Keterangan
lain

Keguanaannya untuk hepatoprotektor (Mencegah penyakit hati),


menurunkan kadar kolesterol, antiinflamasi (antiradang), laxative
(Melancarkan buang air besar), Diuretik (Melancarkan buang air
kecil) dan menghilangkan nyeri sendi. (Mahendra, B 13jenis
tanaman obat ampuh hal 95. Swadaya 2005)

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup baik. (FI III hal 184)

Kadar
penggunaan

4 bagian dalam 100 bagian infusa


(FI IV hal 9)

2. Eksipien
Sakarosa
Zat

Sakarosa

Sinonim

Beet sugar; cane sugar; a-D-glucopyranosyl-b-D


fructofuranoside; refined sugar; saccharose; saccharum;
gula

(HOPE 6th hal 703)

Struktur

(HOPE 6th hal 703)


Rumus molekul

C12H22O11 BM 342.30
(HOPE 6th hal 703)

Titik lebur

Dengan dekomposisi 160-186oC

Pemerian

Bentuk Kristal tak berwarna, massa Kristal atau blok, bubuk


Kristal putih, tidak berbau, dan memiliki rasa manis.
(HOPE 6th hal 704)

Kelarutan

Kelarutan dalam air 1:0.2 pada suhu 100oC, 1:400 dalam


ethanol pada suhu 20oC, 1:170 dalam ethanol 95% pada
suhu 20oC, 1:400 dalam propanol, tidak larut dalam
klorofom (HOPE 6th hal 704)

Stabilitas

Stabilitas baik pada suhu kamar dan pada kelembaban yang


rendah. Sukrosa akan menyerap 1% kelembaban yang akan
melepaskan panas pada 90oC. Sukrosa akan menjadi
caramel pada suhu diatas 160oC. Sukrosa yang encer dapat
terdekomposisi dengan keberadaan mikroba.
(HOPE 6th hal 703)

Inkompabilitas

Bubuk sukrosa mungkin terkontaminasi dengan adanya


logam berat, yang dapat menyebabkan ketidaksesuaian
dengan bahan aktif , misalnya asam askorbat . Sukrosa juga
dapat terkontaminasi dengan sulfit dari proses pemurnian .
Dengan konten sulfit tinggi , perubahan warna dapat terjadi
pada tablet salut gula , karena warna-warna tertentu yang
digunakan dalam sugarcoating batas maksimum untuk
konten sulfit , dihitung sebagai sulfur , adalah 1 ppm . Di
hadapan encer atau asam pekat , sukrosa adalah dihidrolisis
atau terbalik untuk dekstrosa dan fruktosa ( gula invert )
.Sukrosa dapat bereaksi dengan tutup aluminium.
(HOPE 6 th hal 706)

Keterangan lain

Kegunaan nya untuk pemanis, coating agent, suspending


agent, tablet binder, tablet dan kapsul diluents, pengental,
tablet filler, therapeutic agent. (HOPE 6 th hal 703)

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat. (HOPE 6th hal 704)

Kadar
penggunaan

Formulasi sirup oral 67%


Sweetening agent 67%
Tablet binder (dry granulation) 220 %
Tablet binder (wet granulation) 5067%
Tablet coating (syrup) 5067% (HOPE 6 th hal 704)

Natrium Benzoat
Zat

Natrium Benzoat

Sinonim

Benzoic acid sodium salt, benzoate of soda, E211, natrii


benzoate, natrium benzoicum, sobenate, sodii benzoas,
sodium benzoic acid (HOPE 6 th hal 627)

Struktur

(HOPE 6 th hal 627)


Rumus molekul

C7H5NaO2
(HOPE 6

th

BM 144.11
hal 627)
(HOPE 6 th hal 627)

Titik lebur

410 - 430 C

Pemerian

Natrium benzoate berbentuk granul putih atau Kristal, tidak


berbau atau praktis tidak berbau, stabil di udara.
(HOPE 6 th hal 627)

Kelarutan

Kelarutan 1:7,5 dalam ethanol 95%, 1:50 dalam ethanol


90%, 1:1,8 dalam air suhu 20oC, 1:1,4 dalam air pada suhu
100oC (HOPE 6 th hal 628)

Stabilitas

Natrium benzoate stabil dalam udara dan kelarutan dalam


air mudah larut. Natrium benzoate dapat disimpan di dalam
wadah yang berbahan logam dan kaca, tidak boleh disimpan
dalam wadah plastik. (HOPE 6 th hal 627-628)

Inkompabilitas

Dengan senyawa kwartener, gelatin, garam besi, garam


kalsium, dan garam logam berat, termasuk perak, timah,
dan merkuri. (HOPE 6 th hal 628)

Keterangan lain

Kegunaan natrium benzoate adalah sebagai pengawet dalam


film polimer dan kemasan makanan. (HOPE 6 th hal 629)

Penyimpanan

Disimpan dalam wadah tertutup baik, dalam suhu dingin


dan kering. (HOPE 6 th hal 628)

Kadar
penggunaan

Untuk oral 0.02-0.5 %


produk parenteral 0.5%
(HOPE 6 th hal 628)

Cosmetik 0.1-0.5%

Sorbitol
Zat

Sorbitol

Sinonim

NC; Liponic 76-NC; Meritol; Neosorb; Sorbitab; sorbite;


Dsorbitol; Sorbitol Instant; sorbitolum; Sorbogem
(HOPE 6 th hal 679)

Struktur

(HOPE 6 th hal 679)


Rumus
molekul

C6H14O6
BM 182.17
th
(HOPE 6 hal 679)

Titik lebur

Anhydrous form: 1101128C;


Gamma polymorph: 97.78C;
Metastable form: 938C.

Pemerian

(HOPE 6 th hal 679)

Sorbitol tidak berbau, putih atau hamper tidak berwarna,


Kristal, bubuk higroskopis. (HOPE 6 th hal 679)

Kelarutan

Kelarutan sorbitol pada suhu 20oC, 1 : 25 dalam ethanol 95%,


dalam eter praktis tidak larut, 1 : 0,5 dalam air.
(HOPE 6 th hal 679)

Stabilita

Bersifat inert dan kompatibel dengan hampir semua exipien.


Stabil di udara karena tidak ada katalis, pada kondisi dingin,
asam encer dan basa. Tidak mengalami penggelapan atau

dekomposisi pada saat suhu dinaikkan atau saat ada amina.


Tidak mudah terbakar, non korosif, dan tidak mudah menguap.
Tahan terhadap fermentasi oleh banyak mikroorganisme,
sebaiknya pengawet ditambahkan pada larutan sorbitol.
Larutan dimpan pada wadah gelas, plastik, aluminium dan anti
karat. Larutan injeksi disterilisasi oleh autoklaf.
(HOPE 6 th hal 679)
Inkompabilitas

Sorbitol akan membentuk kelat yang larut air dengan banyak


ion logam divalen dan trivalen pada kondisi basa dan asam
kuat. Penambahan cairan polietilen glikol pada larutan sorbitol
dengan agitasi yang kuat mengahasilkan sebuah lilin, gel larut
air dengan titik didih 35400C. Larutan sorbitol akan bereaksi
dengan besi oksida sehingga menjadi tidak berwarna. Sorbitol
mempercepat degradasi penisilin pada larutan yang netral.
(HOPE 6 th hal 679)

Keterangan
lain

Kegunaannya untuk pembasah, plasticizer, stabilizing agent,


sweetening agent, tablet dan kapsul pengencer, anticaplocking
agent dalam sirup dan elixir.

Penyimpanan

(HOPE 6 th hal 679)

Dalam botol tertutup baik, simpan dalam temapt dingin dan


kering. (HOPE 6 th hal 679)

Kadar
penggunaan

Humectant 315%
IM injections 1025%
Moisture control agent in tablets 310%
Oral solutions 2035%
Oral suspensions 70%
Plasticizer for gelatin and cellulose 520%
Prevention of cap locking in syrups and elixirs 1530%
Substitute for glycerin and propylene glycol 2590%
Tablet binder and filler 2590%
Toothpastes 2060%
Topical emulsions 218%

(HOPE 6 th hal 679)

Aquadest
Zat

Aqua destilata

Sinonim

Aqua, aqua purificata, hydrogen oxide. (HOPE 6 th hal 766)

Rumus molekul

H2O

Titik lebur

Boiling point 100oC

Pemerian

Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak

BM 18.02

(HOPE 6 th hal 766)

(HOPE 6 th hal 766)

memiliki rasa. (JP15 hal 1236)


Kelarutan

Dapat bercampur dengan pelarut polar lainnya.


(HOPE 6 th hal 766)

Stabilita

Secara kimiawi air stabil dalam semua keadaan fisik ( es ,


cair, dan uap). Air meninggalkan sistem pemurnian farmasi
dan memasuki tangki penyimpanan harus memenuhi
persyaratan tertentu. Tujuannya ketika merancang dan
mengoperasikan penyimpanan dan distribusi sistem untuk
menjaga air dari melebihi batas yang diijinkan selama
penyimpanan. penyimpanan dan distribusi sistem harus
memastikan bahwa air dilindungi terhadap ion dan organik
kontaminasi , yang akan mengakibatkan peningkatan
konduktivitas dan karbon organik total. Sistem ini juga
harus dilindungi secara fisik masuknya partikel asing dan
mikroorganisme sehingga pertumbuhan mikroba dapat
dicegah atau diminimalkan. (HOPE 6 th hal 766)

Inkompabilitas

Air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan eksipien lain


yang rentan terhadap hidrolisis (dekomposisi dalam adanya
air atau uap pada suhu tinggi. Air dapat bereaksi dengan
logam alkalidan bereaksi dengan oksida logam alkali.
Airnya juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk
membentuk hidrat dari berbagai komposisi. Dan dengan

bahan organic tertentu dan kalsium karbida.


(HOPE 6 th hal 766)
Keterangan lain

Keguanaannya sebagai pelarut. (HOPE 6 th hal 766)

Penyimpanan
Air untuk tujuan tertentu harus disimpan dalam wadah yang
sesuai (HOPE 6 th hal 766). Penyimpanan dalam wadah
tertutup baik (FI III hal 96)
Kadar
penggunaan

Nilai khusus air yang digunakan untuk aplikasi tertentu


dalam konsentrasi hingga 100% (HOPE 6 th hal 766).

IV.

PERMASALAHAN FARMASETIK DAN PENYELESAIAN


No.
1.

Permasalahan

Penyelesaian

Simplisia memiliki rasa tajam dan

Penambahan sweetening agent.

pahit

(Sirupus simpleks dan sorbitol).


(HOPE 6 th hal 703, 679).

2.

Sakarosa dapat menyebabkan

Penambahan anticaplocking

caplocking.

agent. (Sorbitol)
(HOPE 6 th hal 679-682).

3.

Infusum merupakan sedian

Penambahan Pengawet.

galenika yang mudah ditumbuhi

(Natrium benzoate)

mikroorganisme karena media

(HOPE 6 th hal 627)

pembawa adalah air.

V.

PENDEKATAN FORMULA
No. Nama Bahan
1.
2.

3.

Jumlah

Kegunaan

Curcuma xanthorrhiza

50 %

Simplisia nabati (FI III hal 184)

Sirupus simpleks

25 %

Pemanis dan pengental


(HOPE 6 th hal 703-706).

Natrium Benzoat

0.1 %

Pengawet
(HOPE 6 th hal 627-629).

Sorbitol

15 %

4.

Anticaplocking agent, pemanis,


pengental.
(HOPE 6 th hal 679-682).

5.

Aquadest

Ad 100 %

Pelarut. (HOPE 6 th hal 766).

VI.

PENIMBANGAN
Penimbangan
Dibuat sediaan 8 botol (@ 60 ml) = 480 ml
No.

Nama Bahan

Jumlah yang Ditimbang

1.

Curcuma xanthorrhiza

12 gram

2.

Sirupus simpleks

125 ml

3.

Natrium Benzoat

0.5 gram

4.

Sorbitol

75 ml

5.

Aquadest

ad 500 ml

Untuk membuat sirupus simpleks, dibuat menjadi 200 bagian :


No.

Bahan

Jumlah

1.

Saccharum Album

130 gram

2.

Aquadest

70 gram

VII.

PROSEDUR PERCOBAAN

Kalibrasi botol 60 mL
1.

Masukkan air kran sebanyak 62 ml pada gelas ukur.

2.

Tuangkan air tersebut pada wadah botol 100 mL.

3.

Tandai batas kalibrasi, air kran yang ada dalam botol dibuang, bilas dengan
aqudest dan dikeringkan. Botol siap dipakai

Pembuatan ekstrak Curcumae xanthorrhiza


1.

Kalibrasi beaker glass sebanyak 300mL menggunakan gelas ukur.

2.

Timbang sebanyak 12 gram simplisia Curcumae xanthorrhiza rhizome.

3.

12 gram simplisia Curcumae xanthorrhiza yang telah ditimbang dimasukkan


ke dalam beaker glass yang telah dikalibrasi.

4.

Tambahkan aquadest ad 300 mL kedalam beaker glass tersebut.

5.

Campuran ini kemudian dipanaskan pada suhu 90C selama 15 menit. Waktu
terhitung setelah suhu mencapai 85oC sambil sesekali diaduk. Air rebusan
yang diperoleh kemudian didinginkan sambil ditutup.

6.

Setelah dingin, serkai dengan menggunakan kain flannel kedalam beaker


glass 500 mL.

7.

Kemudian timbang ekstrak sebanyak 250 ml.

Pembuatan Sirupus Simpleks


1.

Timbang sakarosa sebanyak 130 gram

2.

Ukur aquadest sebanyak 70 mL dengan menggunakan gelas ukur, masukan


kedalam beaker glass 250 mL.

3.

Masukan sakarosa kedalam beaker glass yang sudah berisi aquadest.

4.

Campuran ini kemudian dipanaskan hingga seluruh sakarosa melarut dengan


sempurna

5.

Larutan tersebut kemudian diserkai selagi panas menggunakan kain flannel


kedalam beaker glass.

6.

Filtrat yang diperoleh kemudian ditimbang sebanyak 125 gram dengan


menggunakan beaker glass pada timbangan analitik.

Pembuatan infusum Curcumae xanthorrhiza


1.

Kalibrasi beaker glass 500mL menggunakan gelas ukur.

2.

Ekstrak Curcumae xanthorrhiza sebanyak 250 mL yang telah didinginkan


masukkan kedalam beaker glass 500 mL, beaker glass sebelumnya dicuci
bersih dengan aquadet dan telah dikeringkan.

3.

Timbang Natrium Benzoat sebanyak 0,5 gram, kemudian larutkan dengan


aquadest 3ml, setelah natrium benzoat larut dengan sempurna, masukkan
kedalam beaker glass, bilas dengan aquadest 2 mL sebanyak 3 kali, hasil
bilasannya masukkan kedalam beaker glass.

4.

Timbang Sorbitol sebanyak 100 mL menggunakan gelas ukur, kemudian


masukan kedalam beaker glass, bilas dengan aquadest 2 mL sebanyak 3 kali,
hasil bilasannya masukkan kedalam beaker glass.

5.

Timbang sirup simpleks 125 gram, encerkan dengan aquadest, masukkan


dalam beaker glass, bilas dengan aquadest 2 mL sebanyak 3 kali, hasil
bilasannya masukkan kedalam beaker glass.

6.

Tambahkan aquadest hingga 500 mL, lalu aduk hingga semua larutan
tercampur semua.

7.

Sediaan yang telah homogen tersebut dimasukkan ke dalam botol yang telah
dikalibrasi samapi batas 62 mL. lalu botol ditutup dan diberi etiket.

8.

Sisa dari larutan tersebut dibiarkan di beaker glass untuk pengamatan selama
satu minggu.

VIII.
No

DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN


Jenis

Prinsip evaluasi

evaluasi

Jumlah

Hasil

sampel

pengamatan

Syarat

Tuang isi perlahan-lahan


dari tiap wadah ke dalam
gelas ukur kering terpisah
dengan kapasitas gelas
ukur tidak lebih dari dua
setengah kali volume yang
diukur dan telah

Volume rata-rata tidak

dikalibrasi, secara hati1.

Volume

hati untuk menghindarkan

terpindahkan

pembentukan gelembung

Rata-rata volume kurang dari 100% dari


7 botol

udara pada waktu

sebanyak 61.5

volume yang tertera

mL

pada etiket,
(FI IV hal 1089)

penuangan dan diamkan


selam tidak lebih dari 30
menit. Jika telah bebas
dari gelembung udara,
ukur volume dari tiap
campuran.
(FI IV hal 1089)

2.

Kejernihan

Uji kejernihan dilakukan


di beaker glass 100 mL

7 botol

Larutan keruh

Suatu larutan

dan terdapat

dinyatakan jernih jika

serat serat

kejernihannya sama

berupa

dengan air atau pelarut

pertumbuhan

yang digunakan.

jamur.

(FI IV hal 998)

berbau khas

3.

Organoleptik

Dilakukan pengujian rasa,


bau, dan warna

7 botol

aromatic, rasa

Kondisi organoleptik

khas temulawak,

sebelum dan sesudah

larutan berwarna

penyimpanan harus

kuning bening.

sama.

Pada setiap botol

didapatkan hasil
yang sama.

Dilakukan menggunakan

Dari 7 botol

indicator universal dengan

menghasilkan

mencelupkan indicator ke
4.

Uji pH

dalam larutan dan hasil


yang didapatkan
dicocokan dengan trayek
pH.

7 botol

pH 5, hanya 1
botol yang
menghasilkan
pH 4

Perbedaan rentang pH
dari setiap botol tidak
boleh lebih dari 1.

IX.

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dibuat formula sediaan infusum adalah sebagai berikut:
simplisia rimpang curcuma xanthorrhiza, Natrium Benzoat, Sirupus Simpleks,
Sorbitol, dan penambahan aquades sampai volume yang ditentukan. Dalam
pembuatan infusum temulawak ini dilakukan dengan merendam dan memanaskan 12
gram simplisia rimpang temulawak kedalam 300 mL air bersuhu 90 C selama 15
menit.
Karena menggunakan air sebagai pembawa di dalamnya, maka Infusum
mudah sekali ditumbuhi oleh bakteri dan jamur dan juga pada pembuatan sediaan ini
dipakai sirupus simpleks sebagai pemanis yang umumnya menjadi medium yang baik
untuk ditumbuhi oleh mikroba. Oleh karena itu kedalam pembuatan sediaan
ditambahkan pengawet Natrium Benzoat sebanyak 0,5 %. Pada pembuatan infusum
sebaiknya digunakan kombinasi pengawet yang kerjanya sinergis. Alasan penggunaan
bahan pengawet secara kombinasi adalah dalam rangka untuk meningkatkan
kemampuan spektrum antimikroba, efek yang sinergis memungkinkan penggunaan
pengawet dalam jumlah kecil, sehingga kadar toksisitasnya menurun pula, dan
mengurangi kemungkinan terjadinya resistensi. Umumnya metil paraben dan propil
paraben digunakan sebagai kombinasi pengawet yang efektif namun metil paraben
inkompatibel dengan penggunaan sorbitol yang digunakan dalam sediaan ini sehingga
kombinasi pengawet ini tidak digunakan.
rimpang temulawak pada pemeriannya memiliki bau khas aromatic : rasa
tajam dan pahit. (FI IV hal 263). Namun setelah dibuat cairan infusa, rasa simplisia
hilang, menjadi hambar atau tidak berasa. Untuk menambah cita rasa dalam sediaan
infusum ini maka kedalam pembuatan sediaan ini ditambahkan sirupus simpleks
sebanyak 25 %. Pembuatan sirupus simpleks dibuat dari 130 gram saccharum album
dalam 70 gram aquades. Namun penggunaan sirupus simpleks dengan kadar 20 35
% dapat menimbulkan kristalisasi pada leher botol pada penggunaan sediaan tersebut.
kristalisasi dapat terjadi karena gula yang terdapat dalam larutan mengalaimi salting
out. Biasanya kristal terbentuk pada leher botol setelah penuangan berulang kali.
Ketika botol ditutup kembali setelah penuangan, gula yang tetinggal pada leher botol
bergesekan dengan tutup botol dan akhirnya inti kristal terbentuk. Proses
mengkristalnya gula pada leher botol sediaan ini dikenal sebagai caploking dimana
caploking ini dapat mengganggu penggunaan botol sediaan seperti tidak bisanya botol

dibuka setelah gula mengkristal. Maka dari itu digunakan anticaploking agent yaitu
sorbitol 15 % kedalam sediaannya. Konsentrasi sorbitol 15 30 % dapat mencegah
pertumbuhan kristal gula di leher botol. Selain itu, penambahan Sirupus simplex dan
Sorbitol ini mampu memperbaiki viskositas (kekentalan) sediaan menjadi lebih baik
agar larutan senantiasa homogen.
Setelah sediaan jadi dilakukan evaluasi sediaan secara organoleptik. Sirop
bahan alam pada umumnya memiliki rasa dan bau yang khas jamu disertai warna
larutan yang coklat kehijauan. Dengan formula yang dibuat, diperoleh sediaan sirop
Curcuma xanthorrhiza infusa yang memiliki bau khas aromatik, rasanya manis,
berwarna kuning. Dalam pengisian larutan kedalam botol ditambahkan 3 % dari 60 ml
larutan sehingga volume total yang diisikan kedalam botol adalah sebesar 61,8 ml
sediaan infusum. Hal tersebut dilakukan agar volume sediaan yang terpindahkan saat
dituang dari botol seluruhnya adalah tidak boleh kurang dari 100 % volume yang
tertera pada etiket.
Dalam uji organoleptik setelah 1 minggu sediaan disimpan dalam suhu kamar,
infusa rimpang temulawak ini tetap memiliki bau khas aromatic dengan rasa manis
yang sangat pas, dan memiliki warna kuning bening. Namun dalam uji kejernihan
dalam sediaan infusa ini terdapat tanda-tanda pertumbuhan jamur, ini diperkirakan
karena air suling yang ada di laboratorium kurang steril dan terlihat ada sedikit
kotoran didalamnya sehingga memicu pertumbuhan mikroba pada sediaan kami.
Untuk sediaan larutan harus memiliki stabilitas pH yang sama atau perubahan
pH nya tidak lebih dari 1 untuk kestabilan efek farmakologinya. Pada sediaan infusa
rimpang temulawak ini, setelah dilakukan uji pH ternyata setiap botol memilik pH 5
dan hanya satu botol saja yang memiliki pH 4. Pada sediaan infusa rimpang
temulawak ini, tidak memerlukan pemakaian dapar dikarenakan dari setiap bahan
memiliki range pH yang lebar.

X.

KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No. Nama Bahan
1.
2.

3.

Jumlah

Kegunaan

Curcuma xanthorrhiza

50 %

Simplisia nabati (FI III hal 184)

Sirupus simpleks

25 %

Pemanis dan pengental


(HOPE 6 th hal 703-706).

Natrium Benzoat

0.1 %

Pengawet
(HOPE 6 th hal 627-629).

Sorbitol

15 %

4.

Anticaplocking agent, pemanis,


pengental.
(HOPE 6 th hal 679-682).

5.

Aquadest

Ad 100 %

Pelarut. (HOPE 6 th hal 766).

Menurut hasil uji evaluasi, sediaan infusa rimpang rhizome ini akan baik jika
disimpan dalam wadah tertutup rapat dan terhindar dari cahaya matahari langsung.
Dan apabila menggunakan air suling yang sudah tersterilisasi maka akan terhindar
dari pertumbuhan mikroba atau jamur didalamnya.

XI.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, edisi
IV,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesiaedisi III,
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Rowe, Raymond C.2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed.,
London : Pharmaceutical Press.
Tim Penyusun Ilmu Resep. 2003. Ilmu Resep Teori, jilid II, Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Sumber
Daya Manusia Kesehatan, Pusdiknakes
Anief,Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja.2008.Obat-Obat Penting. Ed. ke 6.
Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
The Minister and Health. 2006. The Japanese Pharmacopoeia fifteenth.
Japan : Ministry of Health

KEMASAN

ETIKET

BROSUR

KOMPOSISI
Tiap 20 mL mengandung :
Curcumae xanthorrhiza 400 mg
FARMAKOLOGI
Xanthofit
mengandung
ekstrak
Curcumae
xanthorrhiza
(Temulawak) yang mempunyai efek menstimulir pembentukan
dan sekresi empedu oleh hati ke duodenum berdasarkan zat
warna kuning Curcumin dan Minyak-minyak Atsiri yang
ternyata juga berdaya bakteriostatis terhadap bakteri gram-positif.
Selain itu curcumin menghambat penggumpalan pelat darah
(antiagregasi) dan menurunkan kolesterol plasma dengan
menstimulasi pengubahannya menjadi asam empedu, disamping
meningkatkan kelarutan empedu dan dengan demikian melawan
pembentukan batu empedu. Digunakan pada gangguan kantung
empedu yang bersifat ringan serta akibat sekresi empedu
terlampau sedikit. Juga untuk prevensi sekunder terjadinya batu
empedu. dibuktikan khasiat antioksidannya yang sangat kuat
terhadap radikal hidroksil, superoksida dan proses-proses
peroksidasi. Berdasarkan efek antioksidannya, curcumin dapat
menghambat proliferasi sel-sel tumor dari kanker usus besar dan
panyudara, maka kini sering digunakan pada terapi alternative
dari jenis kanker ini. Sifat ini melindungi saraf otak terhadap
lipida-peroksidasi dan produknya aminoloid-. Juga berkhasiat
antiradang yang menyerupai efek NSAID dan juga berfungsi
menurunkan dengan kuat pertumbuhan plak di pembuluh dan
otak.
INDIKASI
- Menambah nafsu makan
- Meluruhkan batu empedu
- Mengobati penyakit hati (Hepatitis)
CARA PAKAI
Untuk Anak usia 6-12 tahun
Sehari 3 x 1 gelas takar @20 mL
HINDARKAN DARI CAHAYA MATAHARI LANGSUNG.
TUTUP BOTOL RAPAT-RAPAT DAN
JAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK.
No. Batch B17335001
No. Reg. DJL13B0111137A1
PT. BOMPOUKI FARMA Tbk.
BANDUNG - INDONESIA