Anda di halaman 1dari 25

DAYAK YANG TINGGAL KENANGAN

Sebuah Tulisan Mengenai Punahnya Nilai-Nilai Budaya dalam Sistem

Budaya Dayak Akibat Pengaruh Globalisasi

Disusun oleh: Erika

NPM : 0706291243

Jurusan : Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Makalah Akhir

untuk Mata Kuliah Sistem Budaya Indonesia

Semester Genap 2007/2008

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

2008
Page | 1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat-Nya
lah, makalah ini dapat saya selesaikan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Priyanti S. Pakan yang telah menugaskan saya membuat makalah ini, karena dengan
membuat makalah ini, saya menjadi semakin paham dan mengerti mengenai pengaruh
globalisasi terhadap sistem budaya Dayak.
Makalah ini berjudul “Dayak yang Tinggal Kenangan, Sebuah Tulisan Mengenai
Punahnya Nilai-Nilai Budaya dalam Sistem Budaya Dayak Akibat Pengaruh Globalisasi”.
Sesuai dengan judulnya, makalah ini akan membahas mengenai perubahan-perubahan yang
terjadi pada nilai-nilai budaya Dayak setelah masuknya globalisasi dalam kehidupan
masyarakat Dayak. Adapun makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir semester
genap mata kuliah Sistem Budaya Indonesia.
Tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah ini, yang tentunya masih
jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat
dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi segenap pembaca serta bagi
kemajuan ilmu Sistem Budaya Indonesia.
Sekian kata pengantar ini, akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, 25 Mei 2008


Hormat saya,

Penulis

Page | 2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan teknologi yang semakin canggih dewasa ini menjadikan hampir tidak ada
bagian planet kita yang sepenuhnya terkucil, dan tidak terjangkau oleh komunikasi.
Perkembangan ini membuat dunia terasa semakin kecil, peradaban dan kebudayaan umat
manusia pun makin menjadi satu, makin saling susup-menyusup, dan makin saling
mempengaruhi. Inilah yang dinamakan globalisasi, di mana dunia seakan menjadi borderless,
tanpa batas. Tidak hanya mendatangkan berbagai pengaruh positif, globalisasi juga
mendatangkan banyak pengaruh negatif seperti timbulnya pendangkalan-pendangkalan yang
membuat banyak orang menjadi kehilangan pegangan. Nilai-nilai Barat kemudian seolah
menjadi pegangan baru bagi kehidupan setiap orang, dari belahan bumi manapun. Ini jugalah
yang dialami sistem budaya di Indonesia, dalam makalah ini sistem budaya di Dayak,
khususnya. Pendangkalan nilai-nilai ini kemudian berakibat pada mundurnya atau stagnannya
perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Padahal kebudayaan di
Indonesia adalah kebudayaan yang sangat beragam, merupakan aset yang sangat mahal bila
dikelola dengan baik dan benar 1 , sebab seyogyanya kebudayaan tradisional senantiasa
mengalami tekanan dan erosi, terutama di era globalisasi seperti sekarang. Kemampuan dan
daya tahan kebudayaan tradisional tidak sama dari waktu ke waktu, lebih-lebih daya serapnya.
Kebudayaan tradisional jika ingin terus berlangsung perlu “mengawinkan diri” dengan
zamannya2. Makalah ini mengambil kasus Sistem Budaya Dayak, untuk meneliti pengaruh
globalisasi dalam pudarnya nilai-nilai budaya masyarakat Dayak. Suku Dayak adalah salah
satu suku yang kehidupan budayanya masih sangat kental terasa, terutama bagi Suku Dayak

1
James F. Sundah, dan Lia Santoso, Kebudayaan, Aset yang Perlu Dilindungi, http://www.suarapembaruan.com/News
/2006/05/22/Editor/edit01.htm, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 19.19.
2
Dr. JJ. Kusni, Masalah Etnis dan Pembangunan Dayak Membangun Kasus Dayak Kalimantan Tengah, (penerbit tidak
diketahui, 1994), hal. 48.
Page | 3
yang masih tinggal di pedalaman. Namun masuknya nilai-nilai modernisme dan globalisme
pada Kalimantan belakangan ini mau tak mau telah mempengaruhi kehidupan budaya
masyarakat Dayak. Pengaruh globalisasi terhadap nilai-nilai budaya pada masyarakat Dayak
inilah yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

1.2. Perumusan Masalah


Makalah ini akan membahas mengenai berbagai nilai-nilai budaya Suku Dayak yang di masa
kini telah pudar dikarenakan proses globalisasi yang terjadi di Dayak. Dalam membahas hal
tersebut, penulis akan membandingkan keadaan budaya di masyarakat Dayak pada jaman
dahulu dan pada masa kini setelah globalisasi masuk ke dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai
tersebut adalah kebiasaan memanjangkan daun telinga, membuat tato, nilai berburu, gotong
royong, nilai kerukunan, serta tutur budaya Intootn.

1.3. Tujuan Penulisan


Makalah ini bertujuan untuk menemukan berbagai perubahan dalam nilai budaya Dayak
setelah masuknya globalisasi dalam kehidupan masyarakat Dayak.

1.4. Kerangka Teori


Sistem budaya adalah seperangkat pengetahuan yang meliputi pandangan hidup, keyakinan,
nilai, norma, aturan, hukum, yang menjadi milik suatu masyarakat melalui suatu proses
belajar, yang kemudian diacu untuk menata, menilai, dan menginterpretasi sejumlah benda
dan peristiwa dalam beragam aspek kehidupan dalam lingkungan masyarakat yang
bersangkutan 3 . Batasan sistem budaya dari pengertian di atas memuat sejumlah konsep
penting, misalnya pengetahuan, keyakinan, nilai, norma, aturan, dan hukum. Dalam sistem
budaya, unsur nilai budaya tampak demikian penting.

Nilai budaya adalah suatu konsepsi abstrak yang dianggap baik dan yang amat bernilai dalam
hidup, yang menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam kehidupan satu masyarakat 4.

3
M. Junus Melalatoa. Sistem Budaya Indonesia, (Jakarta, 1997), hal. 5.
4
Ibid, hal. 6.
Page | 4
Berbagai nilai budaya ini kemudian tersebar dalam berbagai unsur seperti pengetahuan, religi,
sosial, seni, dan ekonomi.

Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar mengatakan ada empat macam sistem budaya, yaitu :
1. Sistem budaya etnik, yang kebudayaannya diwariskan kepada mereka secara
turun-temurun sejak nenek moyang yang hidup di jaman dongeng. Masing-masing
budaya kelompok etnik ini memiliki tanah asal, wilayah tempat para nenek moyang
pertama kali menetap. Sistem budaya ini bisa disebut sebagai sistem adat atau adat.
2. Sistem budaya agama besar, yang kesemuanya berasal dari luar kepulauan Indonesia.
Semua sistem budaya ini memiliki banyak pengikut di luar Indonesia.
3. Sistem budaya Indonesia, merupakan sistem budaya termuda di antara semua sistem
budaya yang ada di Indonesia, namun merupakan yang terpenting jika ditinjau dari
fungsinya dalam pengintegrasian masyarakat Indonesia secara total. Semua penduduk
pribumi dan non pribumi dapat dianggap sebagai anggota sistem budaya ini.
4. Sistem budaya majemuk, yang terdiri dari sistem-sistem budaya asing yang sedikit
banyak mempengaruhi pikiran, sikap, dan tindakan sebagian dari penduduk yang tersebar
di kepulauan Indonesia.

Menurut analisis Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar di atas, sistem budaya Dayak termasuk ke
dalam sistem budaya etnik, karena kebudayaan Dayak merupakan kebudayaan yang
diwariskan secara turun-menurun dari generasi ke generasi.
Dalam sistem budaya etnik dikenal adanya sistem nilai, yaitu apa yang perlu diperhatikan
oleh anggota masyarakat etnik yang kemudian dinyatakan dalam bentuk seperangkat
sistem-sistem normatif. Masing-masing sistem normatif itu memerinci perilaku-perilaku yang
diharapkan pada orang-orang yang menjadi anggota masyarakat tertentu di mana sistem
normatif itu diberlakukan5.

5
Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar, Konsensus dan Konflik dalam Sistem Budaya di Indonesia, (Jakarta: Hamindita, 1987), hal.
6.
Page | 5
Globalisasi, dalam kaitannya dengan kebudayaan, mengandung pengertian sebagai sebuah
gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya
dunia atau world culture)6.

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga
posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:
a. Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki
konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan.
Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa
kebudayaan dan ekonomi global yang homogen.
b. Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka
berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang
ada, terlalu dibesar-besarkan.
c. Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka
setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis.
Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal
keberadaan konsep ini.

6
Globalisasi, http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi, diakses pada 23 Mei 2008, pukul 21.39.
Page | 6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Mulai Punahnya Kebiasaan Memanjangkan Daun Telinga

Tanda identitas Dayak yang paling mencolok bagi orang-orang luar adalah praktik menindik
dan memanjangkan daun telinga, meskipun tidak semua suku melakukan tradisi ini. Di
Kalimantan Timur, tradisi ini masih terus dilakukan oleh orang-orang Dayak Kenyah, Bahau,
dan Kayan7. Di kalangan orang Dayak Kenyah, baik laki-laki maupun perempuan memiliki
daun telinga yang sengaja dipanjangkan, akan tetapi panjangnya berbeda-beda antara
laki-laki dan perempuan. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai
melebihi bahunya, sedang kaum perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.

Proses penindikan daun telinga ini sendiri dimulai sejak masa kanak-kanak, yaitu sejak
berusia satu tahun. Kemudian setiap tahunnya mereka menambahkan satu buah anting atau
subang perak. Anting atau subang perak yang dipakai pun berbeda-beda, gaya anting yang
berbeda-beda ini menunjukkan perbedaan status dan jenis kelamin. Seperti misalnya kaum
bangsawan memiliki gaya anting sendiri yang tidak boleh dipakai oleh orang-orang biasa.

Sedangkan menurut penduduk Dayak Kenyah, pemanjangan daun telinga di kalangan


masyarakat Dayak secara tradisional berfungsi sebagai penanda identitas kemanusiaan
mereka. Senada dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bagi
masyarakat Kenyah dan Bahau, orang-orang yang tidak bertelinga panjang dianggap serupa
dengan kera (1995/1996:125).

7
Dr. Yekti Maunati, Identitas Dayak Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2004), hal.149.
Page | 7
Gambar perempuan Dayak yang masih mempertahankan kebiasaan memanjangkan daun telinga.

Perhatikan daun telinga mereka yang panjang dan anting/subang perak yang terkait di telinga mereka.

Menurut penelitian Dr. Yekti Maunati yang berkunjung ke Desa Long Mekar, sebuah desa
Dayak di mana Dayak yang „otentik‟ yang serupa dengan orang Dayak yang hidup di
pedalaman tinggal, ternyata penduduk Desa Long Mekar sendiri tidak semua memiliki tato
dan daun telinga yang panjang. Belakangan, terbukti bahwa hal ini hanya sebagian benar,
karena banyak orang yang telah memotong daun telinga mereka yang [dulu sudah terlanjur]
panjang8. Pemotongan daun telinga ini sendiri dilakukan di rumah sakit melalui sebuah
operasi kecil. Hanya sedikit penduduk yang masih memiliki daun telinga yang panjang,
itupun kebanyakan para manula yang berusia di atas 60 tahun. Dr. Yekti Maunati kemudian
menceritakan mengenai perbincangannya dengan seorang perempuan tua bernama Mamak
Ngah, yang sejak kedatanganya di Long Mekar dulu sudah memotong daun telinganya yang
semula panjang. Berikut isi perbincangannya,
“Saya malu bertelinga panjang. Jadi saya pun memotongnya seperti yang dilakukan banyak orang lainya.

Saya punya pengalaman buruk ketika orang-orang menertawakan saya karena daun telinga saya yang

8
Ibid, hal. 151.
Page | 8
panjang itu. Ketika saya pergi ke Samarinda untuk pertama kalinya dulu, orang-orang datang dan

mengerumuni saya dan memandangi saya seolah-olah saya ini orang aneh. Mereka berkata, „Dia itu

orang Dayak...dia makan manusia.‟ Mereka menyentuh daun telinga saya yang panjang itu. saya merasa

sangat tersinggung. Saya diperlakukan seolah saya ini sebuah benda. Saya putuskan untuk memotong

daun telinga saya yang panjang agar orang tidak lagi selalu menonton saya dan mengira saya makan

manusia. Dengan begitu orang tidak akan mengira kalau saya ini seorang Dayak. Tentu saja, orang masih

bisa melihat tato-tato saya, tetapi saya toh bisa menyembunyikannya dengan mengenakan rok panjang

dan baju berlengan panjang.”9

Perkataan Mamak Ngah ini jelas menunjukkan sudah berkurangnya rasa kebanggaan yang
dimiliki penduduk Dayak. Mereka menjadi kurang menghargai nilai-nilai budaya yang
mereka miliki, mereka malu pada kebiasaan memanjangkan daun telinga yang sudah
diterapkan suku Dayak sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka tidak menyadari bahwa
orang-orang non-Dayak akan mengagumi dan menghargai orang-orang Dayak yang
bertelinga panjang. Alih-alih menghargai, mereka malah malu akan identitas ke-Dayak-annya.
Sebuah penanda fisik seperti telinga yang panjang dianggap sesuatu yang memalukan.

Isu mengenai apakah penanda fisik ke-Dayak-an ini , seperti daun telinga yang panjang,
harus dilestarikan, kerap kali diperdebatkan oleh penduduk desa itu sendiri. Hanya sedikit
orang yang berpendapat bahwa para orang tua yang mempunyai anak harus didorong untuk
melestarikan tradisi, dengan cara memanjangkan daun telinga anak-anak mereka. Sebenarnya
penduduk Dayak sendiri sadar bahwa mereka harus melestarikan tradisi mereka, karena jika
tidak maka orang Dayak akan kehilangan tradisi yang berharga tersebut. Tetapi mereka juga
berpendapat, bila suatu saat anak mereka pergi bersekolah ke kota-kota besar, maka anak
mereka akan merasa malu karena terlihat berbeda dari anak-anak lain. Seperti pendapat Mely,
tiga puluh tahun, yang memotong daun telinganya dan mengatakan bahwa ia tidak menyesali
keputusannya untuk memotong daun telinganya. Ia menyatakan bahwa orang-orang tua boleh
saja menyesalinya karena daun telinga yang panjang sekarang ini dapat menjadi sumber
penghasilan, tetapi baginya seorang Dayak haruslah terpelajar dan punya pekerjaan yang
9
Ibid.
Page | 9
layak10.

Gambar anak-anak perempuan Dayak sekarang. Perhatikan daun telinga mereka yang sudah tidak

dipanjangkan. Gambar ini membuktikan mulai punahnya nilai budaya yang mengatakan daun telinga

yang panjang menandakan bangsa yang beradab. Anak-anak ini, seperti yang dapat dita lihat, tidak

memanjangkan daun telinganya seperti yang dilakukan orang-orang di Dayak jaman dahulu.

Bila kita analisis lebih lanjut, timbulnya rasa malu tersebut turut disebabkan oleh modernisasi
dan globalisasi yang mulai merasuki kehidupan masyarakat Dayak. Globalisasi ini kemudian
membuat rakyat Dayak menjadi kurang menghargai nilai-nilai budaya yang mereka miliki,
karena mereka menjadi lebih menghargai nilai-nilai yang berlaku di dunia internasional.
Kebiasaan memanjangkan telinga yang tidak biasa di dunia internasional membuat warga
Dayak menjadi berada dalam kebingungan mengenai haruskah mereka melestarikan
nilai-nilai budaya mereka, yang kini diangap sudah tidak sesuai dengan perkembangan
jaman?

Dulu, sebelum globalisasi dan modernisasi masuk ke kehidupan masyarakat Dayak, mereka
sangat menghargai nilai-nilai budayanya, dalam hal ini memanjangkan daun telinga yang
dianggap sebagai pertanda bahwa mereka adalah bangsa yang beradab. Namun sejak
globalisasi masuk, muncul anggapan bahwa bangsa yang beradab bukan seperti apa yang
mereka pikirkan selama ini. Mereka mulai merasa mereka berbeda dari bangsa atau suku lain,
10
Ibid, hal 154.
Page | 10
yang mendapat cap “beradab” lebih dari mereka. Keberbedaan itu lantas menimbulkan
keraguan dalam diri mereka, sehingga pada akhirnya mereka menjadi nilai budaya yang
mengatakan bahwa memanjangkan daun telinga adalah tanda suatu bangsa yang beradab.
Penolakan terhadap nilai budaya inilah yang kemudian menyebabkan hanya sedikit warga
Dayak, terutama kalangan muda, yang masih menjalankan kebiasaan memanjangkan daun
telinga.

Padahal daun telinga yang panjang tersebut merupakan hal yang unik, yang dikagumi oleh
masyarakat non-Dayak. Tidak seharusnya masyarakat Dayak malu akan penanda fisik
tersebut, karena rasa malu itu pada akhirnya dapat menyebabkan punahnya salah satu nilai
budaya di masyarakat Dayak.

2.2. Punahnya Nilai Membuat Tato pada Masyarakat Dayak


Selain daun telinga yang panjang, penanda fisik ke-Dayak-an lainnya adalah tato. Perempuan
dari kalangan usia paro baya dan manula di Dayak rata-rata memiliki tato di sekujur lengan
dan kakinya. Bagi kaum perempuan, keberadaan tato di tubuh mereka menunjukkan mereka
adalah anggota keluarga bangsawan. Orang-orang Kenyah, Bahau, Iban, dan Kayan memiliki
11
tato, sedangkan kelompok-kelompok Dayak lainnya tidak mengikuti praktik ini .
Motif-motif untuk kaum perempuan Kenyah meliputi rantai-rantai anjing, motif-motif perang,
tanduk-tanduk binatang di bagian lengan dan paha, dam motif-motif lingkaran di betis atau
pergelangan kaki. Tato-tato pada suku Kenyah adalah tanda kedewasaan, sementara bagi
kaum laki-laki tato merupakan tanda bahwa mereka sudah menjelajahi „negeri orang‟ 12 dan
telah melakukan sesuatu yang luar biasa, seperti membunuh musuh dalam peperangan13.

11
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan
Timur, Wujud Arti dan Fungsi Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli di Kalimantan Timur, (Samarinda: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur,
1995/1996).
12
Konsep „negeri orang‟ yang dimaksud di sini tidak selalu harus berarti negara lain, tapi juga dapat berarti wilayah yang
menjadi milik kelompok lain.
13
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan
Timur, op.cit, hal. 120-122.
Page | 11
Senada dengan penjelasan di atas, M. Sjaifullah dan Try Harijono dalam artikelnya di
Kompas, 22 Oktober 2004 yang berjudul “Makna Tato bagi Masyarakat Dayak” mengatakan
bahwa tato bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status
sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap
kemampuan seseorang. Karena itulah, tato bagi masyarakat Dayak tidak dapat dibuat
sembarangan. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat
Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah
kematian14. Karena itu, jumlah tato yang semakin banyak menunjukkan semakin banyaknya
“obor” yang akan menerangi perjalanan seseorang ke alam keabadian namun yang perlu
diperhatikan di sini adalah pembuatan tato juga tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara
sembarangan, karena harus memenuhi aturan adat.

Berbagai gambar warga Dayak yang tubuhnya diberi tato asli Dayak. Gambar paling kiri adalah contoh

tato untuk wanita Dayak, sementara gambar tengah dan kanan memperlihatkan tato untuk pria Dayak.

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah
jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum

14
M. Sjaifullah dan Try Harijono, Makna Tato bagi Masyarakat Dayak, http://www2.kompas.com/kompas-cetak
/0410/22/tanahair/1339279.htm, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.32.
Page | 12
sekaligus15. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan
jelaga dari periuk yang berwarna hitam. Inilah yang membuat tato Dayak berbeda dengan
tato-tato lainnya yang kerap menggunakan berbagai warna untuk alasan keindahan.

Proses pembuatan Tato Dayak

Namun sayangnya nilai tato Dayak yang tadinya begitu luhur, yaitu menggambarkan “obor”
yang akan menerangi jalan si empunya menuju alam keabadian, kini telah bergeser nilainya.
Kini, tato Dayak tak lebih hanya dianggap sebagai lambang untuh gagah-gagahan, terutama
bagi kalangan generasi mudanya. Anggapan tato sebagai simbol kegagahan ini serupa dengan
anggapan masyarakat luar Dayak, tato biasa diidentikkan dengan preman-preman yang dapat
dikatakan gagah. Anggapan inilah yang kemudian merasuk ke dalam pemuda-pemudi Dayak,
melalui suatu proses globalisasi. Globalisasi telah membuat nilai Tato Dayak bergeser
menjadi tato untuk gagah-gagahan dan kekerasan semata. Hanya beberapa orang tua di desa
itu saja yang masih menaruh perhatian, seraya berpendapat bahwa modernisasi telah
melemahkan aspek kebudayaan tradisional yang satu ini16. Menanggapi hal ini, Laurensius
Ding Lie, yang menyebut dirinya pembuat Art Tatoo Dayak di Kampung Long Bagun Ilir,
menyatakan keprihatinannya. Ia prihatin dengan citra tato yang identik dengan kekerasan.
Apalagi belakangan ini semakin banyak warga non-Dayak yang meminta untuk ditato Dayak,

15
Ibid.
16
Dr. Yekti Maunati, op.cit, hal. 155.
Page | 13
tanpa mengetahui esensi sebenarnya dari tato Dayak tersebut. Inilah yang sangat disayangkan,
ketika nilai budaya dari suatu kebudayaan hilang dan tergantikan oleh nilai lain yang dapat
dikatakan melenceng dari nilai aslinya karena proses modernisasi dan globalisasi.

2.3. Perubahan dalam Nilai-Nilai Tradisional Dayak

2.3.1. Nilai Berburu


Suku Dayak termasuk dalam suku yang menggantungkan hidupnya pada hutan, dalam hal ini
pada hasil-hasil buruan mereka. Suku Dayak biasa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka
dengan berburu. Cara mereka berburu pun masih tradisional, semisal orang Dayak Long
Mekar biasa menggunakan anjing dalam berburu dahulu kala. Hasil buruan itu kemudian
tidak hanya dinikmati sendiri oleh sang pemburu dan keluarganya, melainkan biasa
hasil-hasil buruan dibagi-bagikan di antara sesama warga desa. Seperti yang terjadi di Apo
Kayan, suatu daerah di Desa Long Mekar. Pak Martin, salah seorang penduduk Apo Kayan
berkata orang selalu berbagi hewan hasil buruan dengan tetangga-tetangganya17, yang tidak
mau berbagi akan dicap tamak oleh warga desa.

Namun yang terjadi di jaman sekarang sungguh berbeda dengan jaman dahulu. Perbedaan
paling besar terletak pada nilai membagi hasil buruan. Kini para pemburu, yang biasanya
adalah anak-anak muda, lebih suka menjual hasil buruannya di pasar untuk mendapatkan
uang tunai. Hal ini sangat berlawanan dengan apa yang dilakukan generasi tua Dayak pada
jaman dahulu. Anak-anak muda Dayak seperti tidak mau berbagi. Mengenai hal ini, Ramel,
salah seorang yang termasuk kalangan muda Dayak berpendapat bahwa berburu adalah
sebuah kegiatan ekonomi yang ia gunakan sebagai cara untuk mendapatkan uang ketika tidak
sedang bekerja di pabrik pengolahan kayu tempatnya bekerja. Baginya, berburu lebih kepada
memenuhi tujuan ekonomi, bukan sosial. Ia lantas berkata ia harus mengikuti arus kehidupan
modern. Baginya, menjadi orang Dayak tak harus selalu melihat kembali ke masa lalu,
melainkan berusaha sejajar dengan kelompok-kelompok lain dalam lingkungan masyarakat

17
Ibid.
Page | 14
setempat18. Jika tidak, lanjutnya, Dayak akan selamanya tertinggal dan menjadi pecundang di
Kalimantan.

Dari anggapan Ramel di atas, sangat jelas terlihat telah terjadi suatu perubahan nilai dalam
masyarakat Dayak dewasa ini. Nilai berburu untuk tujuan sosial telah berganti menjadi
berburu untuk tujuan ekonomi. Modernisasi dan globalisasi-lah yang menyebabkan
berubahnya nilai ini. Sebenarnya perubahan ini juga bukan perubahan yang buruk, akan tetapi
esensi dari berburu yang khas Dayak (yaitu untuk dibagi-bagikan pada warga sekitarnya) kini
telah hilang dan diganti dengan nilai yang sedikit berbau materialistis, yaitu untuk tujuan
ekonomi.

2.3.2. Nilai Gotong Royong


Dari waktu ke waktu, penduduk Dayak telah melakukan gotong royong. Laki-laki dewasa
dari setiap rumah tangga diwajibkan untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Ada dua jenis
gotong royong: satu untuk kepentingan umum, dan satu lagi untuk kepentingan perorangan.
Kerja-kerja gotong royong yang dilakukan masyarakat Dayak dapat bermacam-macam
bentuknya, seperti kerja untuk membangun sumur-sumur pada musim kemarau,
membersihkan ladang yang sedang dipersengketakan, dan membersihkan jalan desa.

Bagi warga desa yang lebih tua, kerja gotong royong sudah menjadi bagian dari identitas
masyarakat Dayak, terutama sejak mereka masih tinggal di rumah panjang, yang akan
dibahas di poin setelah nilai gotong royong ini. Kerja gotong royong dulu berbeda karena
setiap orang senank bekerja keras, tak seorang pun mengeluh. Sebab di masa muda mereka,
diperkenalkan kebiasaan gotong royong sehingga mereka melakukannya dengan senang hati.
Mereka menghormati gotong royong karena hal itu diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Gotong royong seperti telah menjadi bagian dari semangat atau roh Dayak.

Sementara (menurut orang-orang tua), anak-anak muda mau bekerja hanya jika ada uang.
Misalnya, saat bekerja, anak-anak muda sering menghilang setelah makan siang. Anak muda
18
Ibid, hal. 156.
Page | 15
Dayak kini lebih memilih untuk melakukan pekerjaan yang menurut mereka lebih berarti dan
bisa memberikan penghasilan, ketimbang melakukan tindakan-tindakan simbolik yang tak
berarti seperti gotong royong, menurut mereka. Golongan tua berpendapat bahwa sejak
datangnya „orang-orang pintar‟19, arti penting gotong royong terus mengalami penurunan.
Sekarang orang Dayak menunggu uang, tanpa uang mereka tidak mau bekerja.

Penanda ke-Dayak-an berupa sifat gotong royong ini sekarang sedang diperdebatkan di
kalangan penduduk Long Mekar. Bagi sebagian kalangan tua, gotong royong yang diturunkan
dari generasi ke generasi telah menjadi keunikan masyarakat Dayak. Sementara bagi
kalangan muda Dayak, masyarakat Dayak harus lebih „maju‟ dan lebih „modern‟ ketimbang
hanya mengikuti tradisi-tradisi tertentu. Hal ini merupakan akibat dari globalisasi yang masuk
ke Dayak, sehingga mengakibatkan luntur dan pudarnya nilai-nilai yang terdapat di dalam
masyarakat, dalam poin ini nilai gotong royong.

2.4. Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan


Selain berupa penanda fisik berupa daun telinga yang panjang dan banyaknya tato yang
tergambar pada tubuh mereka, ada satu hal yang menjadi kekhasan warga Dayak : rumah
Betang/rumah Panjang-nya. Rumah panjang ini setara dengan nilai kerukunan yang diusung
warga Dayak. Para orang tua Dayak senantiasa menekankan pentingnya kebudayaan Dayak
yang berupa dikap mau berbagi dan hidup rukun dengan para anggota rumah panjang. Hidup
rukun seperti sudah mendarah-daging dalam kehidupan warga Dayak dahulu. Kerukunan
warga Dayak ini seringkali menimbulkan kekaguman dari warga non-Dayak. Rumah panjang
pun kemudian dipandang sebagai sebuah komponen penting dalam menjaga kerukunan dan
hubungan-hubungan yang lebih akrab.

Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru
Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku

19
„Orang-orang pintar‟ yang dimaksud di sini adalah para pensiunan pegawai negeri dan para mantan kepala adat dari
daerah pedalaman yang belum lama pindak ke Long Mekar. Selain itu, istilah ini tidak berarti orang-orang yang
berpendidikan tinggi, melainkan lebih mengacu pada kemampuan untuk berbicara di muka umum.
Page | 16
Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan
berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku
Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan
(jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan sistem barter yaitu
dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak)20.

Bentuk dan besar rumah Betang berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang panjangnya
mencapai 150 meter dan lebarnya mencapai 30 meter. Rumah Betang umumnya dibangun
dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter di atas tanah. Ketinggian
Rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari dan mengantisipasi ancaman banjir yang
sering menimpa daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan. Banyaknya Rumah Betang di
suatu pemukiman bisa lebih dari satu, tergantung banyaknya anggota komunitas di hunian
tersebut. Setiap keluarga menempati bilik yang disekat-sekat dari Rumah Betang yang besar
tersebut.

Rumah Betang yang merupakan rumah adat Suku Dayak

Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat
diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Nilai utama yang

20
Rumah Betang, Rumah Adat, dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan, http://fazz.wordpress.com/2007/05/18/
rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-yang-hampir-tersingkirkan/, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.58.

Page | 17
menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di
antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka
miliki21. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu
perbedaan, mereka menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.
Budaya Rumah Betang adalah budaya yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak,
saling menghormati, dan tenggang rasa.

Rasa kebersamaan dan persaudaraan tampak setiap ada permasalahan yang menimpa salah
satu penghuni. Jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa
berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak
menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan
peralatan elektronik22.

Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di
Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai
rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas.
Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa
tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan.

Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang.
Kini Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa
mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah
Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan
ketertinggalan dari gaya hidup modern. Kini warga desa lebih banyak tinggal di
rumah-rumah individual. Sebagian kalangan tua berpendapat bahwa tinggal di rumah-rumah
individual telah membuat warga menjadi terlalu individualistik, sesuatu yang sebenarnya
bukan ciri masyarakat Dayak.

21
Ibid.
22
Rumah Betang Suku Dayak di Ambang Kepunahan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/15/sh12.html, diakses pada
18 Mei 2008, pukul 18.58.

Page | 18
Mengenai alasan mengapa warga banyak yang lebih memilih tinggal di rumah-rumah
individual, warga mengatakan rumah individual jelas lebih baik karena lebih pribadi dan
lebih bersih. Pak Din, salah satu warga yang lebih memilih untuk tinggal di rumah individual
berpendapat, baginya ke-Dayak-an tidak hanya ditentukan oleh sebuah kehidupan yang rukun
tetapi juga oleh hal-hal yang „modern‟, termasuk pendidikan dan gaya hidup sehat.

Memang, pendapat Pak Din tersebut ada benarnya. Akan tetapi, bukankah lebih baik
kebiasaan tinggal di suatu rumah bersama-sama tetap dipelihara? Nilai tinggal bersama
sesama warga Dayak adalah nilai yang baik karena tinggal bersama juga menunjukkan
keinginan warga untuk hidup rukun dan tidak menunjukkan ketamakan.

Rumah Adat Dayak yang Disebut Rumah Betang/Rumah Panjang yang Kini Sudah Tidak Digunakan

sebagai Rumah Tinggal Lagi

Berlawanan dengan pendapat Pak Din, Pak Pebit, salah seorang kepala adat di sebuah desa
Dayak di pedalaman, menegaskan bahwa konsep-konsep kerukunan dan kesetaraan harus
dipertahankan dan dipelihara karena konsep-konsep tersebut esensial bagi identitas Dayak.
Sekarang, nilai individualistik telah mulai merasuk dalam jiwa masyarakat Dayak. Hal itulah
yang membuat mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah individual dibanding di Rumah
Betang. Hal ini disebabkan karena proses globalisasi dan modernisasi yang masuk dalam
kehidupan masyarakat Dayak, globalisasi membuat nilai kerukunan yang tadinya menjadi ciri
masyarakat Dayak menjadi pudar dan tergantikan oleh nilai individualistik. Padahal konsep
Page | 19
kerukunan dan tinggal bersama di rumah Betang dan menghindarkan ketamakan adalah nilai
budaya yang esensial bagi masyarakat Dayak, dan oleh karenanya nilai tersebut seharusnya
dipelihara dan dilestarikan.

2.5. Punahnya Budaya Tutur Intootn Suku Dayak


Dahulu, masyarakat Dayak mempunyai kebiasaan untuk menyampaikan cerita rakyat sebagai
pengantar tidur bagi anak-anaknya setiap malam. Kebiasaan tersebut kemudian dikenal
dengan nama Budaya Tutur Intootn. Dalam budaya tutur intootn, berbagai cerita Dayak
disampaikan dari generasi ke generasi. Dulu memang kebiasaan menyampaikan cerita rakyat
dari generasi ke generasi merupakan hal yang lazim terjadi pada masyarakat Dayak. Namun
kini keberadaan cerita rakyat di Dayak hanya diketahui oleh beberapa orang, itu pun biasanya
oleh kalangan yang bisa terbilang sudah berumur. Budaya tutur intootn sudah mulai pudar
dan lenyap dari kehidupan masyarakat Dayak. Modernisasi mulai mengikis kebudayaan
intootn.

Terkikisnya kebudayaan intootn disebabkan antara lain karena mulai masuknya listrik ke
dalam kehidupan masyarakat Dayak, dalam kasus ini misalnya ke dalam Kampung Linggang
Mapan di Kalimantan Timur. Dahulu, menurut Yuvenalis Kedoy, seorang penduduk
kampung tersebut, pada tempat ia tinggal belum teraliri listrik, tidak ada radio, apalagi
televisi. Oleh karena itu, hiburan satu-satunya bagi anak-anak di Dayak adalah dongeng
pengantar tidur yang senantiasa dibacakan orang tua mereka sebelum mereka tidur.

Modernisasi di Kampung Linggang Mapan ini dimulai sejak 1985, bersamaan dengan
masuknya PT Kelian Equatorial Mining (KEM) di wilayah tersebut. Sejak memasuki 1990,
kehidupan warga desa Kampung Linggang Mapan mulai berubah. Produk televisi lengkap
dengan antena yang langsung terhubung ke satelit sudah bukan barang aneh lagi23. Alternatif
hiburan malam hari pun bertambah. Selain tradisi tutur intootn, ada pula pukauan hiburan
dari televisi satelit yang dapat diakses 24 jam.

23
Mengenang Tradisi Rimba Sungai Kelian. http://rafflesia.wwf.or.id/library/admin/attachment
/clips/2006-08-20-007-0006-001-07-0894.pdf, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.34.
Page | 20
Tidak hanya disebabkan oleh makin menjamurnya hiburan-hiburan internasional, kepunahan
budaya tutur intootn juga disebabkan oleh menurunnya minat generasi muda Dayak untuk
mempelajari cerita daerah Dayak. Mereka lebih tertarik untuk menonton TV ataupun
menikmati hiburan lain ketimbang mendengarkan cerita rakyat Dayak.

Berbagai macam hiburan modern yang kini menjamur ini sebenarnya merupakan hal yang
baik. Akan tetapi hal tersebut menjadi buruk tatkala hiburan modern tersebut mulai mengikis
nilai budaya tradisional yang sudah mendarah daging selama ini. Seperti yang terjadi di
Kampung Linggang Mapan, di mana daya tarik budaya intootn sudah berkurang dan
tergantikan oleh hiburan-hiburan modern seperti radio dan televisi.

Page | 21
BAB III

KESIMPULAN

Titik pusat sentral dari makalah ini membahas mengenai sistem budaya Dayak, yang
didominasi oleh berbagai nilai budaya normatif yang berlaku pada masyarakatnya. Sebelum
masuknya globalisasi, masyarakat Dayak adalah masyarakat yang kental dengan nilai-nilai
adatnya. Mereka bisa dikatakan suku yang sangat menghargai kebudayaannya serta nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya. Setiap tingkah laku dan perbuatan masyarakatnya
mencerminkan nilai budaya suku Dayak, yang sering mendapat sebutan primitif dan dikenal
kejam oleh orang yang tidak paham akan budaya Dayak. Dalam budaya Dayak, banyak
terkandung nilai-nilai positif yang semuanya mencerminkan telah terciptanya masyarakat
yang rukun dan beradab di Dayak. Akan tetapi, sejak globalisasi dan modernisasi masuk ke
dalam kehidupan masyarakat Dayak, berbagai nilai-nilai budaya normatif tersebut mulai
pudar, bahkan ada yang kini sudah hilang sama sekali.
Nilai pertama yang mulai pudar sejak masuknya globalisasi adalah kebiasaan
memanjangkan daun telinga pada laki-laki dan perempuan suku Dayak, yang dilakukan
dengan memakai anting/subang perak sejak mereka masih kanak-kanak. Hal ini dilakukan
masyarakat Dayak dahulu menganggap memanjangkan daun telinga sebagai tanda
masyarakat yang beradab. Namun seiring masuknya globalisasi, golongan muda masyarakat
Dayak tidak lagi meneruskan kebiasaan memanjangkan telinga, karena anggapan mengenai
bangsa beradab yang dipahami generasi muda sudah berbeda dengan generasi tua Dayak.
Nilai kedua yang kini sudah mulai bergeser maknanya adalah nilai pembuatan tato.
Masyarakat Dayak adalah masyarakat yang dikenal dengan tato adatnya, yang mempunyai
motif unik yang berbeda dengan tato biasa. Dulu, pembuatan tato tidak boleh dilakukan
sembarangan, harus mengikuti hukum adat. Tato tersebut juga mempunyai arti, yaitu tato
dianggap sebagai “obor” yang akan menerangi jalan si empunya tato menuju alam keabadian.
Akan tetapi, masuknya globalisasi menyebabkan terjadinya pergeseran makna pada tato
Dayak. Kini tato Dayak lebih dipahami sebagai simbol kegagahan, sehingga acap kali
digunakan untuk tujuan kekerasan, agar seseorang dianggap lebih gagah dan kuat.
Page | 22
Nilai ketiga yang berubah adalah nilai tradisional dalam masyarakat Dayak, yang
mencakup nilai berburu dan nilai gotong royong. Masyarakat Dayak adalah masyarakat yang
suka berbagi dan sangat peduli akan nasib sesamanya. Itulah yang membuat terciptanya suatu
peraturan tidak tertulis tentang hasil buruan, yaitu setiap warga Dayak yang berhasil
mendapat hasil buruan akan membagi-bagikan hasil buruan itu kepada warga lainnya yang
tinggal dalam satu Rumah Betang dengannya. Kepedulian Dayak terhadap sesamanya juga
ditunjukkan lewat budaya gotong royong yang kental terasa dalam kehidupan warga Dayak.
Setiap ada warga yang mengalami kesulitan, maka warga Dayak yang lain akan membantu
menyelesaikan kesulitan itu bersama-sama. Itulah yang terjadi pada masyarakat Dayak jaman
dahulu. Namun sekarang, seiring dengan masuknya nilai globalisasi, kedua nilai itu telah
pudar. Generasi muda Dayak yang berburu sekarang lebih suka menjual hasil buruannya ke
pasar tanpa membagikannya sedikit pun kepada warga lainnya, tujuannya adalah untuk
mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga dengan nilai gotong
royong, gotong royong kini sudah jarang sekali ditemukan di kalangan masyarakat Dayak.
Sekarang mereka cenderung hidup individualis, jikalau mereka mau bergotong royong, itu
pasti karena ada upahnya. Dari perubahan kedua nilai tersebut, kita bisa melihat besarnya
pengaruh globalisasi dalam merubah pola pikir masyarakat Dayak.
Nilai keempat yang berubah adalah nilai kerukunan. Suku Dayak tadinya terkenal
sebagai suku yang rukun, yang tinggal bersama dalam satu atap, yaitu dalam Rumah
Betang/Rumah Panjang. Namun kerukunan itu kini tinggal kenangan. Seiring masuknya
globalisasi, hidup warga Dayak kini menjadi lebih individualistik. Rumah Betang yang
tadinya menjadi tempat tinggal bersama pun mulai ditinggalkan warga, mereka kini lebih
memilih untuk tinggal di rumah individu demi alasan kebersihan dan kesehatan. Rumah
Betang yang menjadi simbol Suku Dayak itu kini hanyalah merupakan rumah kosong, yang
hanya dijaga oleh beberapa generasi tua Dayak, yang masih menjunjung tinggi nilai
kerukunan yang dahulu mereka anut.
Nilai terakhir yang dibahas dalam makalah ini adalah nilai budaya tutur intootn,
yaitu menyampaikan cerita adat Dayak dari generasi ke generasi sebagai cerita pengantar
tidur. Dulu, sebelum globalisasi masuk ke kehidupan masyarakat Dayak, anak-anak Dayak
selalu meminta kepada orang tua mereka untuk diceritakan cerita rakyat Dayak sebagai
Page | 23
hiburan. Ketika itu, cerita rakyat Dayak dianggap sebagai satu-satunya hiburan yang bisa
didapat anak-anak Dayak. Namun kini, seiring masuknya berbagai hiburan seperti radio dan
televisi ke dalam kehidupan masyarakat Dayak, intensitas untuk meneruskan budaya tutur
intootn pun berkurang. Generasi muda seperti tidak tertarik untuk mengetahui cerita rakyat
dari daerahnya. Generasi muda Dayak lebih memilih untuk menonton televisi ketimbang
meminta orang tua mereka menceritakan cerita rakyat Dayak.
Pudarnya nilai-nilai budaya Dayak akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi
tentu sangat memprihatinkan. Sebab jika dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin suatu
saat nilai-nilai budaya Dayak yang berharga tersebut malah akan punah. Akan tetapi
globalisasi memang tidak dapat dibendung, cepat atau lambat, masyarakat pasti akan
mengalami dampak globalisasi. Di sinilah peran pemerintah sangat signifikan. Sebisa
mungkin, pemerintah seharusnya berupaya menggali berbagai nilai-nilai budaya Dayak yang
masih ada kini, dengan bertanya pada generasi-generasi tua. Nilai-nilai budaya tersebut
kemudian harus diabadikan, serta harus diteruskan pada generasi muda Dayak. Bila generasi
muda Dayak tidak tertarik untuk mengetahui nilai budayanya sendiri, maka menjadi tugas
pemerintah untuk “memaksa” agar nilai-nilai tersebut tetap dapat dipahami generasi muda
Dayak, misalnya dengan memasukkannya dalam pelajaran sekolah di sekolah-sekolah yang
terletak di Kalimantan. Apapun bentuk tindakannya, yang pasti pemerintah harus segera
bertindak. Pemerintah harus menyelamatkan nilai-nilai budaya Dayak yang kini sudah mulai
pudar itu, agar jangan sampai punah; sehingga di masa depan, kita masih mempunyai budaya
Dayak sebagai salah satu khasanah budaya kita yang dapat dibanggakan.

Page | 24
DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Harsya W. Budaya dan Manusia Indonesia, (Jakarta: Hamindita, 1987), hal. 6.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan
Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Wujud Arti dan Fungsi Puncak-Puncak
Kebudayaan Lama dan Asli di Kalimantan Timur, (Samarinda: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya
Kalimantan Timur, 1995/1996).
Kusni, JJ. Masalah Etnis dan Pembangunan Dayak Membangun Kasus Dayak Kalimantan
Tengah, (penerbit tidak diketahui, 1994), hal. 48.
Maunati, Yekti. Identitas Dayak Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, (Yogyakarta: LkiS
Yogyakarta, 2004), hal.149.
Melalatoa, M. Junus. Sistem Budaya Indonesia, (Jakarta, 1997), hal. 5.

Rujukan dari internet:

Sjaifullah, M., dan Try Harijono, Makna Tato bagi Masyarakat Dayak,
http://www2.kompas.com/kompas-cetak /0410/22/tanahair/1339279.htm, diakses pada
22 Mei 2008, pukul 15.32.

Sundah, James F., dan Lia Santoso, Kebudayaan, Aset yang Perlu Dilindungi,
http://www.suarapembaruan.com/News /2006/05/22/Editor/edit01.htm, diakses pada 18
Mei 2008, pukul 19.19.
Globalisasi, http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi, diakses pada 23 Mei 2008, pukul 21.39.
Rumah Betang, Rumah Adat, dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan,
http://fazz.wordpress.com /2007/05/18/ rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-
yang-hampir-tersingkirkan/, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.58.
Rumah Betang Suku Dayak di Ambang Kepunahan. http://www.sinarharapan.co.id/berita
/0506/15/sh12.html, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.58.
Mengenang Tradisi Rimba Sungai Kelian. http://rafflesia.wwf.or.id/library/admin/attachment
/clips/2006-08-20-007-0006-001-07-0894.pdf, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.34.

Page | 25