Anda di halaman 1dari 4

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Universitas Indonesia.

ESSAY SISTEM POLITIK INDONESIA


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Jurusan : Ilmu Hubungan Internasional

Superioritas Lembaga Legislatif,


Masalah Baru yang Menghadang Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945

Negara Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945. Keberadaan keduanya


bagaikan dua sisi mata uang, tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Kehidupan bernegara
Republik Indonesia tidak pernah lepas dari pengaruh UUD 1945, yang merupakan sumber
dari segala sumber hukum di Indonesia. Dalam perkembangannya sejak dinyatakan sebagai
Undang-Undang Dasar pada tanggal 18 Agustus 1945, UUD 1945 telah mengalami banyak
amandemen. Kesemua amandemen itu dilakukan demi menyesuaikan UUD 1945 dengan
perkembangan jaman, serta demi memenuhi tuntutan demokrasi yang kian berkembang
dewasa ini. Untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut, UUD 1945 pun
mengalami empat kali amandemen, yaitu dari tahun 1998 sampai 2002. Tujuan dari
amandemen tersebut memanglah baik, namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah
amandemen-amandemen yang dilakukan itu pada akhirnya berhasil mewujudkan kondiri
ketatanegaraan Republik Indonesia yang adil? Sudahkah amandemen itu menciptakan
pembagian tugas yang merata antara lembaga-lembaga negara?
Sampai amandemen terakhir tahun 2002 kemarin, tak dapat dipungkiri UUD
1945 telah berhasil membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap sistem
ketatanegaraan Indonesia. Namun bila dilihat secara lebih seksama, ternyata amandemen
tersebut malah kemudian melahirkan suatu masalah baru. UUD 1945 hasil amandemen,
menyimpan sejumlah “bom waktu” dan perangkap yang bisa memunculkan masalah-masalah
baru dalam ketatanegaraan di Indonesia di masa datang1. Salah satu masalah baru yang
muncul dalam sistem ketatanegaraan Indonesia itu adalah munculnya ketidakadilan antara

1
Amandemen Konstitusi, http://www.inilah.com/berita.php?id=24362, diakses pada 11 Mei 2008, pukul 19.06

Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Universitas Indonesia.

lembaga eksekutif dan lembaga legislatif yang disebabkan karena adanya superioritas
lembaga legislatif.
Dalam sistem UUD 1945 hubungan dan kedudukan antara eksekutif (Presiden)
dan legislatif (DPR) sebenarnya telah diatur. Kedudukan Presiden dan DPR adalah
neben-geordnet, karena kedua lembaga ini adalah sama-sama merupakan lembaga tinggi
negara (Tap MPR No.III/MPR/1978)2. Begitu juga dalam sistem presidensiil yang dianut
oleh Indonesia, kedudukan eksekutif (Presiden dan menteri-menterinya) dan legislatif (MPR,
DPR, DPD) adalah sejajar. Kedua lembaga ini seharusnya tidak dapat saling menjatuhkan.
Namun dalam sistem dalam UUD 1945, meskipun DPR tidak dapat menjatuhkan Presiden,
tetapi secara tidak langsung DPR dapat menyebabkan Presiden jatuh. Hal ini terkait dengan
kemampuan DPR untuk meminta diadakannya Sidang Istimewa, dan salah satu kemungkinan
yang dapat terjadi dalam Sidang Istimewa itu adalah MPR (yang mayoritas anggotanya
adalah anggota DPR) dapat memberhentikan Presiden3.

Seperti yang disebutkan dalam Pasal 7A dan 7B hasil amandemen ketiga 9


November 2001, DPR dan MPR memiliki wewenang untuk menjatuhkan Presiden melalui
impeachment. Proses „pemecatan‟ Presiden itu sendiri memang tidak hanya melibatkan DPR
dan MPR, melainkan juga melibatkan Mahkamah Konstitusi selaku pihak yang memeriksa
laporan DPR mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden. Namun yang menjadi
keanehan di sini adalah, peran Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yudikatif yang hanya
sampai pada tahap pemeriksaan saja. Keputusan apakah Presiden akan diberhentikan atau
tidak, itu semua terletak di tangan DPR dan MPR. Dengan kata lain, DPR dan MPRlah yang
menentukan keputusan impeachment terhadap Presiden, sedang Mahkamah Konstitusi hanya
bertugas memberikan rekomendasi pada MPR dan DPR. Hal ini sungguh tidak adil,
mengingat wewenang yang dimiliki DPR dan MPR tersebut tidak sebaliknya berlaku bagi
Presiden. Presiden seperti tertuang dalam pasal 7 C amandemen ketiga UUD 45, tidak

2
Y. Hartono. SI: Dari Supremasi Eksekutif ke Supremasi Legislatif? http://www.indomedia.com/bernas/052001
/29/UTAMA/29opi1.htm, diakses pada 11 Mei 2008, pukul 19.26.
3
Ibid.
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Universitas Indonesia.

mempunyai wewenang untuk membekukan atau membubarkan DPR4. Ini merupakan salah
satu bukti bahwa amandemen UUD 1945 telah melahirkan adanya sentralistik kekuasaan
pada tangan lembaga legislatif.

Bukti superioritas legislatif itu juga nampak pada amandemen I Pasal 13 UUD
1945, yang dilakukan pada tanggal 19 Oktober 1999. Berdasarkan pasal tersebut, pemilihan
Duta Besar Indonesia harus melalui pertimbangan dan persetujuan DPR terlebih dahulu.
Padahal hal ini seharusnya adalah merupakan hak prerogratif dari Presiden5. Penulis menilai
persetujuan DPR ini terlalu mencampuri kewenangan eksekutif karena sebagai kepala
pemerintahan, idealnya Presiden mempunyai hak prerogatif menunjuk dan menentukan siapa
yang akan diangkat menjadi duta besar6. Pengangkatan duta besar ini bukanlah hal yang
mudah karena jabatan duta besar merupakan representasi dari pemerintah yang sedang
berkuasa di negaranya, oleh karena itu semestinya hanya pemerintah—dalam hal ini Presiden,
selaku kepala pemerintahan—lah yang berhak melakukan pengangkatan dan melakukan
pertimbangan terhadap pengangkatan Duta Besar, tanpa embel-embel perlu pertimbangan dan
persetujuan DPR.

Keberadaan lembaga legislatif yang superior dalam sistem ketatanegaraan


menimbulkan kerancuan dalam bernegara karena disatu pihak Presiden melaksanakan Sistem
Presidensiil sedangkan DPR/MPR seringkali menginterprestasikan kinerjanya berdasarkan
Sistem Parlementer 7 . Legislatif yang dimaknai sebagai representasi kekuasaan tertinggi
rakyat telah merubahnya menjadi suatu lembaga yang tidak dapat terkontrol. Dominannya
kekuasaan MPR dan DPR dalam penyelenggaraan pemerintahan pada akhirnya
memunculkan superioritas lembaga legislatif (legislative heavy). Berbagai amandemen yang
telah terjadi terhadap UUD 1945 ternyata telah memberi peluang yang begitu besar kepada
legislatif untuk seolah-olah melebihi lembaga negara lainnya.

4
Amandemen UUD 45 Cenderung Berpihak Pada Legislatif. http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=
detail&mod=berita&view=1&id=BRT070508090901, diakses pada 11 Mei 2008,pukul 19.33.
5
Ibid.
6
Amandemen Konstitusi, http://www.inilah.com/berita.php?id=24362, diakses pada 11 Mei 2008, pukul 19.06.
7
Rahmat Bagja, Urgensi Amandemen UUD 1945, http://litigasi.blogspot.com/2008/03/urgensi-
amandemen-uud-1945-jurnal.html, diakses pada 11 Mei 2008, pukul 19.16.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Universitas Indonesia.

Berbagai penjelasan di atas telah memberikan bukti bagaimana berkuasanya


lembaga legislatif Indonesia dewasa ini, setelah UUD 1945 mengalami berbagai amandemen.
Oleh karena itu, wajarlah bila penulis beranggapan amandemen terhadap UUD 1945 telah
terjebak pada paradigma untuk mengkerdilkan wewenang kekuasaan lembaga negara yang
satu dengan yang lainnya. Padahal bila berkaca dari sejarah Orde Baru, di mana pada waktu
itu supremasi terletak di tangan eksekutif, kita seharusnya sadar bahwa seyogyanya
superioritas suatu lembaga negara tidak pernah boleh terjadi. Supremasi di tangan eksekutif
yang tanpa pengawasan telah menghasilkan suatu pemerintahan yang sentralistis dan otoriter,
hal inilah yang seharusnya menjadi pemahaman bagi para petinggi negara bahwa
memberikan kekuasaan atau supremasi kepada legislatif tanpa adanya pengawasan hanya
akan kembali mengulang sejarah yang buruk.

Page | 4