Anda di halaman 1dari 98

ANALISIS KINERJA KELEMBAGAAN AGRIBISNIS

DAN EFISIENSI TEKNIK USAHATANI PADI


(Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian Sehat, Kab. Bogor, Jawa Barat)

Oleh :
Amir Mutaqin
A08400033

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

ii

ANALISIS KINERJA KELEMBAGAAN AGRIBISNIS


DAN EFISIENSI TEKNIK USAHATANI PADI
(Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian Sehat, Kab. Bogor, Jawa Barat)

Oleh :
Amir Mutaqin
A08400033

SKRIPSI
Sebagai Salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

ii

RINGKASAN
AMIR MUTAQIN. Analisis Kinerja Kelembagaan Agribisnis dan Efisiensi
Teknik Usahatani Padi (Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian Sehat,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Dibawah Bimbingan EKA INTAN KUMALA P.
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji upaya mewujudkan metode
alternatif dalam budidaya pertanian. Sehingga biaya yang dikeluarkan oleh petani
bisa ditekan dengan hasil yang tetap optimal. Salah satu alternatif yang mulai
dicoba saat ini adalah memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di alam, yang bisa
diolah sendiri oleh petani, menjadi pupuk atau pestisida alami atau yang pepuler
dengan istilah pertanian organik. Selain biayanya murah, kualitas produk yang
dihasilkan tetap terjaga bahkan memiliki keunggulan terbebas dari bahan kimia.
Lembaga Pertanian Sehat (LPS) adalah salah satu lembaga pemberdayaan
petani yang berupaya mengembangkan teknologi ramah lingkungan dan
membangun kelembagaan agribisnis yang mendukung petani binaannya.
Permasalahan yang muncul dari upaya tersebut adalah sejauh mana kelembagaan
tersebut telah mendukung aktivitas usahatani petani kecil, apakah petani sudah
mampu

menyerap

masukan-masukan

teknologi

yang

diupayakan

untuk

menggantikan teknik budidaya konvensional, dan apakah teknik usahatani petani


sudah efisien ?
Untuk menjawab permasalahan tersebut maka penelitian ini ditujukan
untuk (1) Mengkaji keragaan dan kinerja kelembagaan agribisnis padi sehat pada
petani binaan LPS. (2) Mengkaji aplikasi teknologi yang dilakukan di tingkat
petani binaan LPS. (3) Menganalisis efisiensi teknik dari proses produksi
usahatani padi sehat petani binaan LPS.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif untuk
tujuan pertama dan kedua dan metode kuantitatif untuk menganalisis tingkat
efisiensi teknik dengan program Front.41. Data yang dipakai berupa data sekunder
dari laporan LPS dan literatur lain serta data primer yang didapat dari hasil
wawancara. Unit analisis dari penelitian ini adalah LPS, kelompok tani dan petani
binaan LPS di Kabupaten Bogor yang dipilih secara purposive dan proporsional.
Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah keragaan dari kelembagaan
agribisnis yang dibangun oleh LPS telah memenuhi kelengkapan sistem agribisnis

iii

yang terdiri dari, (1) subsistem agribisnis hulu, yakni seluruh proses yang
menghasilkan dan memperdagangkan sarana produksi pertanian primer ; (2)
subsistem agribisnis budidaya/usahatani

yakni kegiatan produksi untuk

menghasilkan komoditas pertanian primer; (3) subsistem agribisnis hilir, yakni


mengolah

produk

primer

menjadi

produk

olahan

beserta

kegiatan

perdagangannya; dan (4) subsistem jasa penunjang, yakni kegiatan yang


menyediakan jasa bagi ketiga subsistem di atas seperti infrastruktur, transportasi,
perkreditan, penelitian dan pengembangan, pendidikan pelatihan, dan lain-lain.
Akan tetapi, apabila dilihat dari kepentingan petani, subsistem hulu dan
hilir masih kurang mendukung. Hal itu dikarenakan pertama, dari sisi hulu, petani
masih menjadikan pupuk kimia menjadi input utama. Sementara itu produksi dan
distribusi pupuk kimia secara umum dilakukan dan dikendalikan oleh pihak luar.
Keberadaan koperasi Gapoktan ataupun peran ketua kelompok tani baru sekedar
pengecer yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan supply barang
dan harganya. Kedua, dari sisi hilir, pengolahan produk primer menjadi produk
olahan berupa beras SAE masih terbatas bagi beberapa kelompok di kecamatan
Cigombong saja. Sementara hasil panen sebagian besar kelompok di luar
Kecamatan Cigombong, sebanyak delapan kelompok, dijual ke penggilingan
dalam bentuk GKP, selain untuk kebutuhan sendiri.
Ada kesamaan pemahaman antar kelompok tani tentang usaha penerapan
teknologi baru yang tepat seperti yang diajarkan oleh LPS seperti dalam
pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaannya. Namun dalam praktiknya
terjadi perbedaan antar kelompok tani binaan terutama dalam penanaman, baik
dalam jarak tanam, jenis varietas ataupun jumlah bibit per lubangnya; dan dalam
pemupukan, berbeda dalam jumlah dosis dan jenis pupuk yang dipakai.
Efisiensi teknik petani binaan LPS tergolong tinggi, dengan rata-rata 80
persen, dan sebarannya berbeda-beda antar kelompok tani. Kelompok tani dengan
kinerja bagus menunjukkan selang tingkat efisiensi anggotanya relatif kecil. Hal
ini menunjukkan adanya pengaruh kelompok tani yang menentukan tingkat
efisiensi teknik petani anggotanya. Pada beberapa kelompok tani, dinamika
kelompok mulai menurun dan hal itu berpengaruh nyata pada tingkat produksi dan
efisiensi teknik rata-rata kelompok.

iv

Judul

Nama
NRP

: Analisis Kinerja Kelembagaan Agribisnis dan Efisiensi Teknik


Usahatani Padi (Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian Sehat,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat).
: Amir Mutaqin
: A08400033

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala P., MS


NIP 131 918 659

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr.


NIP 131 124 019

Tanggal Kelulusan :
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
: ANALISIS KINERJA KELEMBAGAAN AGRIBISNIS DAN EFISIENSI
TEKNIK USAHATANI PADI (KASUS PETANI BINAAN LEMBAGA
PERTANIAN SEHAT, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT) ADALAH
KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN DALAM BENTUK
APAPUN KEPADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SUMBER
INFORMASI YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG
DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN
TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM
DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI.

Bogor, 1 April 2008

Amir Mutaqin
A08400033

vi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Temanggung pada tanggal 16 April 1982 yang
merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Asrori dan siti
Munawaroh. Pendidikan formal ditempuh dari SDN Soborejo 2 (1988-1994),
kemudian melanjutkan ke MTsN SMPN 2 Pringsurat (1994-1997) dan SMUN 2
Temanggung (1997-2000).
Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Program Studi Ekonomi Pertanian
dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui Undangan
Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2000. Selama kuliah penulis aktif di
beberapa organisasi kemahasiswaan seperti, Lembaga Studi Islam Fakultas
Pertanian, Badan Kerohanian Islam Mahasiswa dan organisasi ekstra kampus
Gerakan Mahasiswa Pembebasan.
Perkuliahan diselesaikan penulis pada semester delapan dan dinyatakan lulus
dalam ujian skripsi yang diselenggarakan pada bulan Maret 2008 oleh Program
Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor, dengan judul skripsi

Analisis Kinerja Kelembagaan Agribisnis dan

Efisiensi Teknik Usahatani Padi (Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian Sehat,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat).

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah milik Allah SWT semata. Dialah yang telah
mengutus Rasulullah SAW dengan membawa Islam sebagai satu-satunya Dien
yang diridhoi-Nya. Semoga rahmat dan salam tetap Dia limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, keluarganya, sahabatnya, orangorang yang memperjuangkan risalah-Nya.
Skripsi ini berjudul Analisis Kinerja Kelembagaan Agribisnis dan
Efisiensi Teknik Usahatani Padi (Kasus Petani Binaan Lembaga Pertanian
Sehat, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Penelitian ini ditujukan untuk (1)
Mengkaji keragaan dan kinerja kelembagaan agribisnis padi pada petani binaan
LPS. (2) Mengkaji aplikasi teknologi yang dilakukan di tingkat petani binaan
LPS. (3) Menganalisis efisiensi teknik dari proses produksi usahatani padi petani
binaan LPS.
Penulis menyadari selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari
dukungan banyak pihak, baik institusi maupun pihak lain yang terkait secara
langsung ataupun tidak langsung. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan
kerendahan hati serta rasa hormat yang teramat dalam, penulis mengucapkan
terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.
Akhirnya dengan sangat terbuka penulis mengharapkan kritik dan saran
untuk menambah perbendaharaan dan perbaikan terhadap tulisan ini, karena
tulisan ini hanyalah karya manusia yang tidak luput dari kesalahan dan
kekurangan. Penulis berharap semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Bogor, April 2008

Penulis

viii

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas petunjuk,
pertolongan dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Ir. Eka Intan Kumala P., MS sebagai dosen pembimbing yang telah
banyak memberikan pengarahan dan bantuan kepada penulis sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Dr. Ir. Isang Gonarsyah sebagai Dosen Pembimbing Skripsi pertama atas
pelajaran yang dapat penulis ambil dari proses skripsi selama ini.
3. Ir. Sutara H, M.Sc. sebagai Dosen Pembimbing Akademik
4. A. Faroby Faletehan, SP, ME dan Etriya, SP, MM selaku dosen penguji
utama dan penguji dari komdik dalam sidang skripsi.
5. Staf sekretariat EPS, terutama Mba Pini Wijayanti, SP dan Pak Basir S,
terima kasih atas bantuan dan kebaikannya.
6. Bapak Ir. Syamsudin. M.Si, Bapak Casdimin, SP dan semua staff Lembaga
Pertanian Sehat yang telah memberikan kesempatan, bantuan dan fasilitas
kepada penulis untuk melakukan penelitian.
7. Para ketua dan anggota Kelompok Tani Sehat yang telah bersedia memberi
informasi kepada penulis sebagai bahan penelitian ini.
8. Keluarga tercinta, Bapak, Ibu, Nenek, Adik, Mertua dan semuanya yang
tidak pernah membuat penulis merasa pesimis menghadapi semua
permasalahan yang ada
9. Istriku Rika Rizkawati dan Si kecil Wadon Ayu Sholehah Imtiyazah
Labiqoh yang telah menjadi motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini.
10. Teman-teman sehidup, Harun, Dimin, Aji, Mas AWW, Mas Aris, Asep, Mas
Elvin, Mas Chusnul, Mas Hasan, Jamil, El Jundi, Ihsan, Samsul, Dwi C.
Rikza, Renato&Kafi, anak NC, MJ, BS, eks Annur, Arroya dll. Terima kasih
atas semua bantuan, semangat dan kebersamaan selama ini.
11. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu per satu.

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

Halaman

1.1. Latar Belakang .................................................................................

1.2. Perumusan Masalah ..........................................................................

1.3. Tujuan Penelitian ..............................................................................

1.4. Manfaat dan Kegunaan Penelitian ....................................................

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kelembagaan ....................................................................................

2.1.1. Definisi Kelembagaan ............................................................

2.1.2. Manfaat Kelembagaan ............................................................

10

2.1.3. Kapasitas dan Kinerja Kelembagaan ....................................

13

2.2. Usahatani ..........................................................................................

14

2.3. Prinsip-Prinsip Dasar dalam Teori Produksi .....................................

16

2.4. Tinjauan Mengenai Pertanian Organik .............................................

17

2.5. Tinjauan Penelitian Sebelumnya ......................................................

20

III. KERANGKA ANALISIS


3.1. Kerangka Teoritis .............................................................................

24

3.1.1. Konsep Kelembagaan .............................................................

24

3.1.2. Konsep Agribisnis ..................................................................

26

3.1.3. Efisiensi Teknik ......................................................................

27

3.2. Kerangka Operasional ......................................................................

29

IV. METODOLOGI PENELITIAN


4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................

32

4.2. Pemilihan Sampel .............................................................................

32

4.3. Pengumpulan Data ...........................................................................

32

4.4. Pengolahan Data ...............................................................................

33

4.5. Metode Analisis Data ........................................................................

33

V. GAMBARAN UMUM
5.1. Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika .....................

37

5.1.1. Sejarah Lembaga ....................................................................

37

ii

5.1.2. Aktivitas Lembaga ..................................................................

38

5.1.3. Produk Lembaga Pertanian Sehat ...........................................

41

5.2. Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S) .....................................

43

5.2.1. Tujuan Program.......................................................................

43

5.2.2. Komponen Program ................................................................

43

5.2.3. Wilayah Kerja P3S..................................................................

44

5.3. Pemberdayaan Agribisnis Padi Kabupaten Bogor.............................

45

5.3.1. Deskripsi Lokasi .....................................................................

45

5.3.2. Program-Program Pemberdayaan di Kab. Bogor....................

47

VI. KERAGAAN DAN KINERJA KELEMBAGAAN


AGRIBISNIS USAHATANI PADI
6.1. Kelembagaan Permodalan dan ..........................................................

52

6.2. Kelembagaan Penyediaan Input ........................................................

55

6.3. Penerapan Teknologi Petani dan Kelembagaan di tingkat


Petani.................................................................................................

57

6.4. Pemanenan dan Kelembagaan Borongan Panen................................

65

6.5. Kegiatan Penanganan Pasca Panen dan Kelembagaan


Pengolahan ........................................................................................

67

6.6. Kelembagaan Pemasaran dan Distribusi............................................

69

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIK


7.1. Analisis Fungsi Produksi ...................................................................

70

7.2. Analisis Efisiensi Teknik ...................................................................

74

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1. Kesimpulan ........................................................................................

79

8.2. Saran...................................................................................................

79

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

81

LAMPIRAN.................................................................................................

84

iii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel.1. Kandungan Zat Gizi Beras Organik Per 100 Gram ......................

Tabel 2. Pemakaian Input Pupuk dan Pestisida Sampel Anggota Kelompok


Tani Binaan Lembaga Pertanian Sehat. ........................................

Tabel 3. Kegiatan Penanganan Pasca Panen di Kelompok Tani Binaan


Lembaga Pertanian Sehat..............................................................

Tabel 4. Enam Bidang Kegiatan Pokok Lembaga Pertanian Sehat ............

39

Tabel 5. Produk Unggulan Lembaga Pertanian Sehat ................................

42

Tabel 6. Data Kelompok Tani Peserta Program Pemberdayaan Petani Sehat


Cluster Kabupaten Bogor..............................................................

46

Tabel 7. Data Sebaran Luasan Lahan Garapan Kelompok Tani


Program Pemberdayaan Petani Sehat, Cluster Kabupaten Bogor.

47

Tabel 8. Subsidi Dan Upah Tenaga Kerja Langsung..................................

48

Tabel 9. Silabus Umum Materi Pembinaan Petani Sehat 2006 ..................

49

Tabel 10. Pengelolaan Modal Petani Melalui Sistem Tabungan Tani ..........

55

Tabel 11. Teknologi Pembenihan yang Diterapkan di Setiap


Kelompok Tani..............................................................................

60

Tabel 12. Teknologi Pengolahan Lahan yang Diterapkan di Setiap


Kelompok Tani..............................................................................

64

Tabel 13. Dosis Rata-Rata Pemakaian Pupuk dan Pestisida Nabati


Kelompok Tani..............................................................................

65

Tabel 14. Perlakuan dan Sistem Pemanenan yang Dilaksanakan Petani ......

66

Tabel 15. Hasil Estimasi Untuk Parameter Fungsi Produksi .......................

70

Tabel 16. Deskripsi Statistik Efisiensi Teknik Petani anggota


Kelompok Tani Binaan LPS .........................................................

76

iv

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Keterkaitan Sistem Agribisnis.....................................................

27

Gambar 2. Kerangka Operasional PenelitIan................................................

31

Gambar 3. StruKtur Organisasi Lembaga Pertanian Sehat...........................

41

Gambar 4. Peta Lokasi Program Pemberdayaan Petani Sehat Cluster


Kabupaten Bogor, Jawa Barat.....................................................

46

Gambar 5. Rantai Kelembagaan Penyediaan Pupuk Kimia Bagi Petani


Binaan Lembaga Pertanian Sehat................................................

56

Gambar 6. Tingkat Efisiensi Teknik Masing-Masing Petani Binaan LPS...

75

Gambar 7. Distribusi Tingkat Efisiensi Teknik Pada Usahatani Padi Sehat


Petani Binaan LPS ......................................................................

76

Gambar 8. Perbandingan Rata-Rata Tingkat Efisiensi Teknik Dan Rata-Rata


Produksi Antar Kelompok Tani Binaan LPS ..............................

77

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertanian bagi Indonesia adalah sektor yang sangat penting dan
berpengaruh, baik secara ekonomi, sosial, bahkan politik. Hal itu terkait pada
penyediaan kebutuhan pangan pokok, terutama pada komoditas padi sebagai
komoditas pangan utama. Hampir seluruh penduduk negeri ini tergantung pada
padi sebagai makanan pokoknya. Padi menjadi komoditas yang sangat strategis
dari beberapa aspek. Oleh karena itu, kapasitas produksi padi nasional menjadi
salah satu permasalahan yang menonjol.
Upaya untuk meningkatkan produksi padi dapat ditempuh dengan dua
pendekatan, yaitu : ekstensifikasi dengan membuka lahan sawah baru di daerahdaerah tertentu, terutama luar Jawa; dan intensifikasi, berupa kebijakan dan caracara tertentu untuk meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada. Dalam
upaya intensifikasi pertanian, revolusi hijau adalah terobosan yang sangat
fenomenal dan berpengaruh sangat besar.
Revolusi hijau telah mengubah pertanian tradisional menjadi pertanian
modern yang serba instan dan mekanik. Mulai dari rekayasa genetis pada benih,
penggunaan bahan-bahan kimia sintetis, sampai mekanisasi pertanian dan industri
pasca panen, yang berpacu mengejar produksi maksimum sebagai tuntutan
terhadap kebutuhan pangan dunia yang terus meningkat.
Konsep revolusi hijau di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimbingan
Massal adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya

swasembada beras. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu


penggunaan teknologi yang sering disebut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan
harga sarana dan hasil produksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur.
Gerakan ini berhasil mengantarkan Indonesia pada swasembada beras.
Intensifikasi pertanian dengan input besar-besaran berupa bahan kimiawi,
secara langsung atau tidak langsung, akan mempengaruhi lingkungan. Menurut
Wijonarko (1998), pengaruh itu bisa berupa : Pertama, perubahan sumber daya
alami berupa : kehilangan bahan organik tanah; ketergantungan pada pupuk
tambahan khususnya pupuk N, P, dan K; dan pemberian pupuk N yang berlebihan
juga berkorelasi positif dengan munculnya hama. Kedua, konsekuensi biologis
yaitu dampak terhadap keseimbangan populasi makhluk hidup lain yang ada di
dalam sistem tersebut, terutama berkaitan dengan ketersediaan inang atau
hubungan antara predator dan mangsanya. Ketiga, interaksi dengan sekitar, karena
tanpa pengelolaan yang baik, potensi polusi yang ditimbulkan dari sektor
pertanian juga tidak kecil walau tidak sebesar sektor industri.
Secara ekonomi, menurut Setiawan (2005), revolusi hijau telah
menciptakan ketergantungan petani yang "permanen" terhadap bibit, pupuk,
pestisida, teknologi, kredit, sarana dan input produksi yang serba dari luar. Hal ini
tidak memandirikan dan bahkan semakin melemahkan posisi tawar petani di
hadapan pihak lain. Pembangunan pertanian Orde Baru malah menyuburkan
"proletarisasi" yang mendorong arus urbanisasi serta buruh migran. Akibatnya,
petani kian sulit berusaha, susah memenuhi kebutuhan hidup, tidak mampu
menyekolahkan anak, tidak menjangkau biaya kesehatan, sulit mendapat rumah

yang layak, dan seterusnya. Oleh karena itu, menjadi petani dianggap tidak lagi
menarik hati, bahkan bagi keturunan petani sekalipun.
Untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan metode alternatif dalam
budidaya pertanian agar biaya yang dikeluarkan oleh petani bisa ditekan dengan
hasil yang tetap optimal. Salah satu alternatif yang mulai dicoba saat ini adalah
memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di alam, yang bisa diolah sendiri oleh
petani, menjadi pupuk atau pestisida alami atau yang pepuler dengan istilah
pertanian organik. Selain biayanya murah, kualitas produk yang dihasilkan tetap
terjaga bahkan memiliki keunggulan terbebas dari bahan kimia.
Menurut Laporan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur (2004) dalam
Maryana (2006), beras organik mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan
oleh tubuh diantaranya kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat, kadar air
dan kadar abu. Prosentase karbohidrat lebih tinggi daripada kadar protein dan
kadar lemak.
Tabel 1. Kandungan Zat Gizi Beras Organik Per 100 Gram
No.
Parameter Pengujian
Hasil Pemeriksaan
1.
Kadar Air
11,7 %
2.
Kadar Abu
0,36%
3.
Kadar Lemak
0,24%
4.
Kadar Karbohidrat
75,99%
5.
Kadar Protein
6,27%
Sumber : Dinas Pertanian Kab. Cianjur, 2004 dalam Maryana, 2006

Teknik pertanian organik inipun tidak bisa langsung diadopsi oleh petani.
Sehingga untuk mencapai pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,
yaitu mengubah pola tanam dan perilaku petani dari konvensional ke sistem
bertani sehat, perlu dilakukan pembinaan secara bertahap dan berkesinambungan
ke arah pertanian yang minimal berbasis bertani bebas pestisida. Perubahan-

perubahan

secara

bertahap

dapat

dilakukan

dengan

membimbing

dan

mengenalkan kepada petani untuk penggunaan sarana produksi yang aman, bijak,
berbahan lokal dan harga terjangkau dengan proses bio-teknologi maupun rendah
bahan kimia melalui pola pertanian terpadu yang berwawasan ramah lingkungan.
Apabila ditinjau dari sudut pandang yang lebih luas, maka transformasi
teknologi

tersebut

mengharuskan

adanya

perubahan

pula

pada

sistem

agribisnisnya. Atau dengan kata lain, diperlukan adanya kelembagaan agribisnis


yang mampu mendukung perubahan teknologi tersebut efisien secara teknis
maupun sosial dan ekonomi.
Apa yang dilakukan oleh Lembaga Pertanian Sehat, Dompet Dhuafa
Republika (LPS-DDR) menarik untuk dijadikan kajian terkait dengan upayanya
untuk menjadi kelembagaan pendukung pengembangan pertanian alternatif. Misi
LPS untuk mengembangkan teknologi-teknologi sarana produksi pertanian yang
menggunakan bahan baku lokal, murah, sehat dan ramah lingkungan; merakit
teknologi sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan yang berbasis pada potensi
sumberdaya alam lokal dan kompetensi; pemberdayaan petani kecil atau dhuafa;
serta penanganan dan pemasaran hasil panen, akan menghasilkan programprogram dan dinamika penerapan di lapangan yang dapat dijadikan pembelajaran
baru.
1.2 Perumusan Masalah
Aspek teknis budidaya pertanian bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri
dalam pertanian. Apalagi kalau dihubungkan dengan kondisi sebagian besar
petani di negara ini yang merupakan petani kecil yang memiliki masalah
multikomplek di lapangan, antara lain : lahan yang terbatas, kesuburan lahan

menurun, harga saprotan yang tinggi, permodalan terbatas, SDM dan keahlian
yang rendah, serta harga panen yang fluktuatif, disamping itu indeks nilai tukar
petani (terms of trade) terhadap barang industri dan jasa semakin menurun yang
mengindikasikan kehidupan petani semakin tidak sejahtera.
Penyediaan input produksi yang murah dan terjamin jumlahnya menjadi
bagian dari kebutuhan petani yang sering terabaikan. Input produksi yang
dibutuhkan petani kebanyakan masih ditangani oleh pihak luar yang tidak bisa
mentoleransi keterbatasan modal petani karena prinsip yang dikedepankan adalah
prinsip ekonomi. Proses usahatani di tingkat petani juga tidak lepas dari
permasalahan keterbatasan pemahaman dalam teknik usahatani yang efisien.
Selain itu, di sektor penanganan dan pemasaran hasil usahatani, petani belum
mampu memberi nilai tambah yang lebih terhadap produknya. Beberapa
permasalahan tadi menjadi mata rantai permasalahan yang selama ini dihadapi
oleh sebagian besar petani padi. Hal itu memerlukan penanganan yang
menyeluruh melalui program-program dalam kerangka yang lebih luas dan
sistematis.
Tabel 2. Pemakaian Input Pupuk dan Pestisida Sampel Anggota Kelompok Tani
Binaan Lembaga Pertanian Sehat
Kelompok Tani
Pemakaian Pupuk
Silih
ManungLisung
Harapan
Maju
Tunas
dan Pestisida (%)
Asih

Urea
100
SP 36
100
KCl
0
Phonska
0
P Organik
100
Pestisida Kimia
0
Pestisida
Nabati
17
(PASTI)
Sumber : diolah dari data primer

gal jaya

Kiwari

Maju

Jaya

Mekar

100
100
40
0
100
0

100
100
0
0
100
0

100
100
75
0
100
0

100
100
0
100
100
0

100
67
100
83
100
0

40

75

100

100

Mengubah sistem, bukan berarti melakukan perubahan secara total teknik


dan pola perilaku yang sudah berjalan, namun diharapkan ajakan, bimbingan dan
penggunaan teknologi serta saprotan yang aman dan murah mampu diserap dan
diaplikasikan oleh pelaku/petani secara bertahap di lapangan. Penanganan
masalah masalah yang dihadapi oleh petani saat ini dan ke depan harus melalui
program-program yang menyentuh langsung, berbasis sumber daya lokal bersifat
membangun kemandirian, berteknologi mudah dan murah sehingga mudah
diadopsi oleh mereka, dan dilaksanakan secara holistik, yaitu mengoptimalkan
agrosistem secara produktif dan alami (LPS, 2005).
Mengharapkan perubahan dan perbaikan sistem pertanian secara top down
dengan program-program nasional dari pemerintah bisa menjadi sangat lama dan
belum tentu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan petani yang lebih spesifik. Oleh
karena itu, sangat menguntungkan apabila ada inisiatif nyata dari masyarakat
untuk mempercepat perubahan tersebut dengan menghadirkan kelembagaan
agribisnis yang dibutuhkan dan lebih spesifik.
Tabel 3. Kegiatan Penanganan Pasca Panen di Kelompok Tani Binaan Lembaga
Pertanian Sehat
Gabah Yang
Status
Produk Akhir
Kelompok Tani
Dijual ke
Penggilingan
Penggilingan
Silih Asih
GKP
Mitra LPS
Beras SAE
Manunggal Jaya
GKP
Mitra LPS
Beras SAE
Lisung Kiwari
GKP
Mitra LPS
Beras SAE
Harapan Maju
GKP
Mitra LPS
Beras SAE
Maju Jaya
GKP
Bukan Mitra
GKP
Tunas Mekar
GKP
Mitra Kelompok
Beras Curah
Sumber : diolah dari data primer
Dompet Dhuafa Republika, sebagai salah satu lembaga pemberdayaan
masyarakat, melalui Lembaga Pertanian Sehat (LPS-DDR)-nya, sejak 1999

hingga saat ini, telah memulai mengembangkan pertanian organik (sehat) melalui
program pengembangan dan penelitian produk sarana pertanian, pengembangan
produk beras sehat, yaitu beras bebas pestisida kimia, dan pembinaan petani
melalui Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S) kepada Kelompok Tani Sehat
(KTS).
Hasil pengamatan sementara menunjukkan petani binaan LPS masih
memakai pupuk kimia sebagai input produksinya. Permasalahan yang kemudian
muncul adalah dari mana dan berapa harga yang dibayar petani untuk
memperolehnya. Sementara fakta lainnya adalah sebagian kelompok binaan LPS
juga masih menjual hasil panennya dalam bentuk produk primer berupa gabah
kering panen. Kelembagaan pengolahan dan pemasaran produk padi sehat LPS
belum mampu menangani semua produksi petani.
Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji hal sebagai berikut :
1. Bagaimana keragaan dan kinerja kelembagaan agribisnis padi sehat pada
petani binaan LPS ?
2. Bagaimana aplikasi teknologi yang dilakukan di tingkat petani binaan LPS
?
3. Bagaimanakah efisiensi teknik dari proses produksi usahatani padi sehat
petani binaan LPS ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis beberapa hal yang terkait
dengan kelembagaan agribisnis padi sehat oleh LPS-DDR, yaitu :
1. Mengkaji keragaan dan kinerja kelembagaan agribisnis padi sehat pada
petani binaan LPS

2. Mengkaji aplikasi teknologi yang dilakukan di tingkat petani binaan LPS


3. Menganalisis efisiensi teknik dari proses produksi usahatani padi sehat
petani binaan LPS
1.4 Manfaat dan Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dalam
upaya mewujudkan sistem alternatif agribisnis padi yang tepat dan arif serta
semoga dapat dijadikan masukan bagi perbaikan yang terus lilakukan oleh LPSDDR untuk mencapai tujuannya. Secara khusus, penelitian ini menjadi
pembelajaran dan tambahan informasi bagi penulis tentang dunia pertanian,
utamanya intensifikasi pertanian, kelembagaan pertanian dan pertanian organik.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini hanya mencakup ruang lingkup kasus kelembagaan
pertanian organik LPS-DDR. Lebih spesifik lagi penelitian ini lebih
menitikberatkan kajian kelembagaan agribisnis dan aspek teknik produksi.
Penelitian ini tidak mengkaji permasalahan kelembagaan pertanian secara umum
ataupun sistem agribisnis secara lebih luas.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelembagaan
2.1.1. Definisi Kelembagaan
Menurut Mubyarto (1989), yang dimaksud lembaga (institution) adalah
organisasi atau kaidah-kaidah, baik formal maupun informal, yang mengatur
perilaku dan tindakan anggota masyarakat tertentu baik dalam kegiatan-kegiatan
rutin sehari-hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu.
Lembaga-lembaga dalam masyarakat ada yang berasal dari adat kebiasaan mereka
turun-temurun tetapi ada pula yang baru diciptakan baik dari dalam maupun
mengadopsi dari luar.
Kelembagaan ditinjau dari sudut organisasi merupakan sistem organisasi
dan kontrol terhadap sumberdaya. Dipandang dari sudut individu, kelembagaan
merupakan gugus kesempatan bagi individu dalam membuat keputusan dan
melaksanakan aktivitasnya. Dari dua sudut pandang tersebut, menurut Saptana
et.al. (2003), model kelembagaan agribisnis beras yang akan dikembangkan harus
ada muatan kolektif melalui organisasi kelompok yang akan mengatur bagaimana
kelembagaan tersebut dapat memiliki kontrol dan akses terhadap sumberdaya
dalam rangka pengembangan agribisnis beras. Di sisi lain pengembangan
agribisnis beras akan berhasil kalau ada insentif individu dalam memasuki bisnis
perbesaran. Dari sudut pandang individu, adanya semangat kewirausahaan akan

10

menghasilkan daya inovasi dan kreasi tinggi yang diperlukan sebagai energi
dalam menghasilkan beras berkualitas sesuai permintaan pasar dan preferensi
konsumen.
Kelembagaan dapat berupa adat istiadat, tradisi, aturan-aturan, atau hukum
formal yang mengatur hubungan antar individu dalam suatu masyarakat terhadap
sumberdaya. Kelembagaan inilah yang mengatur siapa yang boleh berpartisipasi
dalam mengambil keputusan, mengatur siapa memperoleh apa dan berapa banyak.
Kelembagaan menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan. Implikasinya adalah kelembagaan inilah yang menentukan distribusi
pendapatan dalam suatu masyarakat. Dalam hal peningkatan produksi padi,
kelembagaan pasar dan bukan pasar seperti Bimas memegang peranan penting
dalam alokasi dan distribusi sumberdaya manfaat.
2.1.2. Manfaat Kelembagaan
Mengingat pentingnya kelembagaan dalam mengatur sumberdaya dan
distribusi manfaat, maka unsur kelembagaan ini perlu memperoleh perhatian
khusus dalam analisis atau upaya peningkatan potensi desa untuk menunjang
pembangunan desa. Dalim (1990) menambahkan bahwa kelembagaan pedesaan
ini dapat berupa kelembagaan penguasaan tanah, kelembagaan hubungan kerja
dan kelembagaan perkreditan.
Petani dan juga ekonomi desa sangat terbantu oleh kelembagan yang ada
karena kelembagaan mengatur saling hubungan antar para pemilik input dalam
menghasilkan output ekonomi desa dan kelembagaan pula yang mengatur
distribusi dari output tersebut. Interdependensi tersebut misalnya usaha petani
dalam memperoleh pendapatan dengan menghasilkan dan meningkatkan produksi

11

pertanian. Dia harus berhubungan dan tergantung dengan pemilik lahan


garapannya, penyedia input usahataninya, penyalur kredit untuk modalnya,
penyuluh yang membina dia bahkan para pedagang yang akan membeli hasil
budidayanya.
Beberapa fakta yang diuraikan oleh Dalim (1990) tentang dampak
kelembagaan pemilikan tanah menunjukkan adanya perbedaan produktivitas
antara status pemilikan tanah sendiri, bagi hasil dan sewa. Faktor kepemilikan
tersebut mempengaruhi perilaku petani dalam berbudidaya, yaitu dalam
pengalokasian sumberdaya input yang dihubungkan dengan risiko usaha yang
akan ditanggung sesuai status kepemilikan tanah. Petani yang menggarap tanah
sendiri akan lebih nyaman dan tidak ragu mengalokasikan sumberdaya input
untuk tanah mereka sendiri karena risiko kegagalan yang akan mereka tanggung
hanyalah kegagalan panen itu sendiri. Begitu pula dalam sistem bagi hasil jangka
panjang. Sementara bagi penyewa lahan, mereka harus berpikir lebih panjang
untuk mengalokasikan sumberdaya input, karena selain risiko gagal panen mereka
juga harus menanggung biaya sewa sebagai tanggungan. Sehigga minimalisasi
biaya bisa menjadi pilihan bagi mereka.
Kelompok tani juga menjadi instrumen kelembagaan yang memiliki peran
cukup strategis sebagai wadah kerjasama yang berdaya guna. Kelompok tani
diharapkan mampu menampilkan dirinya sebagai suatu sistem sosial
mengintegrasikan berbagai unsur

yang

atau komponen fungsional struktural yang

diperlukan bagi penyelesaian tugasnya sebagai piranti pengolahan input dari


lingkungan menjadi output yang memang harus dihasilkan. Dari pendekatan
kesisteman, menurut Dalim (1990), kelompok tani dapat dipandang sebagai suatu

12

kesatuan sosial mandiri yang berintegrasi dengan lingkungannya, baik untuk


mempertahankan hidupnya maupun untuk menyatakan identitasnya dalam karyakarya (perilaku) yang dilakukannya.
Transaksi tenaga kerja dikatakan sebagai suatu bentuk hubungan kerja
apabila ada suatu ketentuan yang mengikat buruh tani untuk bekerja pada seorang
pemilik tanah atau pemberi pinjaman dalam waktu yang lama, biasana beberapa
musim. Dalam hubungan kerja ini tingkat upah lebih rendah dari upah yang
berlaku. Hubungan kerja ini akan semakin berkembang dan tingkat upah yang
dibayar akan semain rendah, sejalan dengan makin meningkatnya angka
pengangguran dan angka setengah pengangguran, atau sangat terbatasnya
kesempatan kerja d luar sektor pertanian, disertai dengan distribusi penguasaan
tanah yang timpang serta mobilitas tenaga kerja yang sangat terbatas (Kasryno,
1984).
Dalim (1990) menambahkan dengan adanya hubungan kerja, buruh tani
semakin terjamin dengan adanya pekerjaan yang tersedia, dan bagi petani pemberi
pekerjaan, merasa terjamin dengan adanya buruh ang dapat dipercayai. Dalam
keadaan lapangan kerja yang saangat terbatas, buruh tani didorong untuk bekerja
dengan berpestasi, kalau tidak, hubungan kerja ini dapat diputuskan oleh pihak
pemberi pekerjaan.
Kelembagaan perkreditan yang membantu petani dalam masalah
prmodalan memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembangunan pertanian di
Indonesia. Seperti hasil penelitian Hasan dkk. (1979) tentang program
intensifikasi padi sawah di Kabupaten Aceh Besar melalui paket kredit Bimas
ternyata telah meningkatkan perekonomian petani khususnya dan masyarakat

13

pada umumnya baik ditinjau dari segi peningkatan produksi maupun dari segi
perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Peningkatan ini masih
dapat ditingkatkan lebih jauh lagi apabila semua paket kredit Bimas tersebut
digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan produksi semata-mata (bukan untuk
konsumtif).
Tujuan pertama, yang dicetuskan pertama kali pada saat dimulainya
program Bimas 1964, ternyata dapat tercapai, hal ini terbukti dari semakin
meningkatnya penggunaan teknologi baru dalam usaha tani dan peningkatan
produksi pangan secara nasional. Dalam perjalanannya, program Bimas dan
kelembagaan kredit petani mengalami banyak perubahan dan modifikasi yang
disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebijakan. Pada tahun 1985,
kredit Bimas dihentikan dan diganti dengan Kredit Usaha Tani (KUT) yang
kemudian juga mengalami perubahan dan modifikasi lebih lanjut.
Pada

hakekatnya

program

pengembangan delivery systems

Bimas

menggunakan

pendekatan

dan receiving systems. Guna memperkuat

delivery sistems dibentuklah Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai lembaga


penyaluran kredit kepada petani. Adapun pengembangan program Intensifikasi
Khusus (Insus) dan Supra Insus, yang merupakan program intensifikasi dengan
pendekatan kelompok satu hamparan, dilaksanakan dalam rangka pengembangan
receiving systems (Suryana, 2001).
2.1.3. Kapasitas dan Kinerja Kelembagaan
Menurut Mackay et al. (1998) dalam Syahyuti (2004), kapasitas
kelembagaan diindikasikan dengan kemampuan kelembagaan untuk mencapai
tujuan-tujuannya sendiri. Kemampuan tesebut diukur dari lima aspek, yaitu :

14

strategi kepemimpinan yang dipakai (strategic leadership), perencanaan program


(program planning), manajemen dan pelaksanaannya (management and
execution), alokasi sumberdaya yang dimiliki (resource allocation), dan hubungan
dengan pihak luar yaitu terhadap cliens, partners, government policy makers, dan
external donors.
Kinerja

kelembagaan

didefinisikan

sebagai

kemampuan

suatu

kelembagaan untuk menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara efisien


dan menghasilkan output yang sesuai dengan tujuannya dan relevan dengan
kebutuhan pengguna (Peterson, 2003 dalam Syahyuti, 2004). Ada dua hal untuk
menilai kinerja kelembagaan yaitu produknya sendiri berupa jasa atau material,
dan faktor manajemen yang membuat produk tersebut bisa dihasilkan.
Lebih jauh Syahyuti (2004) merinci dari Mackay et al. (1998), terdapat
tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam memahami kinerja kelembagaan
yaitu keefektifan kelembagaan dalam mencapai tujuan-tujuannya, efisiensi
penggunaan sumberdaya, dan keberlanjutan kelembagaan berinteraksi dengan
para kelompok kepentingan di luarnya. Terkesan disini bahwa kalkulasi ekonomi
merupakan prinsip yang menjadi latar belakangnya. untuk keefektifan dan
efisiensi misalnya dapat digunakan analisis kuantitatif sederhana misalnya dengan
membuat rasio antara perolehan yang seharusnya dengan yang aktual tercapai,
serta rasio biaya dengan produktivitas.
2.2 Usahatani
Mosher (1968) dalam Mubyarto (1989) mendefinisikan usahatani adalah
himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang diperlukan
untuk produksi pertanian seperti tubuh, tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang

15

telah dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan
di atas tanah dan sebagainya. Usahatani dapat berupa bercocok tanam atau
memelihara ternak.
Berkaitan dengan pendefinisian Mosher di atas dan fakta pertanian di
Indonesia, maka menurut penjelasan Mubyarto (1989), ada perbedaan yang amat
besar antara keadaan pertanian rakyat (usahatani) dan perkebunan. Tidah hanya
dalam

luasnya

usaha,

tetapi

juga

dalam

tujuan

produksi

dan

cara

mengusahakannya. Itulah sebabnya dikenal ilmu pengelolaan perkebunan (estate


management), di samping ilmu usahatani (farm management). Jadi usahatani tidak
dapat diartikan sebagai perusahaan tetapi suatu cara hidup (way of life) dan
perkebunan adalah perusahaan.
Petani

akan

bertindak

sesuai

dengan

prinsip

ekonomi

yaitu

memperhitungkan antara hasil yang diharapkan diterima pada waktu panen


(penerimaan) dengan pengorbanan (biaya) yang harus dikeluarkannya. Hasil yang
diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, dan biaya yang dikeluarkannya
disebut biaya produksi. Penghitungan yang cermat akan menghasilkan aktivitas
usahatani yang bagus atau kita sebut sebagai usahatani yang produktif dan efisien.
Usahatani yang produktif berarti usahatani itu produktivitasnya tinggi.
Pengertian produktivitas ini sebenarnya merupakan penggabungan antara konsepsi
efesiensi usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik mengukur
banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input
(Mubyarto, 1989)
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah gambaran bahwa dalam proses
usahatani, petani bertindak sebagai pengelola yang melakukan aktivitas

16

manajemen terhadap sumberdaya yang dia kelola. Manajemen yang dilakukan


petani tidak harus kompleks dan tertulis tetapi dia akan melakukan perhitunganperhitungan ekonomi dan keuangan terkait dengan keputusan-keputusan yang
akan dia ambil. Keputusan tersebut berkenaan dengan pengalokasian sumberdaya
yang dia kelola sebagai faktor produksi untuk mencapai usahatani yang produktif
dan efisien. Faktor produksi dalam pertanian yaitu tanah, modal dan tenaga kerja,
di samping petani sebagai pengelola atau manajer usahatani.
2.3. Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Teori Produksi Pertanian
Teori produksi secara umum dimulai dengan pemikiran, kita memiliki
sejumlah lahan (ruang), manajemen, tenaga kerja dan modal. Pada keadaan atau
waktu tertentu, kita dapat menghasilkan sejumlah produk maksimum dari
sumberdaya-sumberdaya di atas. Hubungan input dengan output secara teknis ini
oleh ahli ekonomi disebut fungsi produksi.
Menurut Mubyarto (1989), fungsi produksi adalah suatu fungsi yang
menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor
produksi (input). Dalam bentuk matematika sederhana fungsi produksi dituliskan
sebagai :
Y = f (x1, x2 ............. xn )
di mana

Y = adalah hasil produksi fisik


x1 .............. xn = faktor-faktor produksi

Secara konvensional, faktor produksi terdiri dari tanah, tenaga kerja dan
modal. Di samping itu, ada yang memasukkan manajemen dan kelembagaan
sebagai input yang diperhitungkan dalam fungsi produksi. Pada keadaan tertentu,
pengetahuan dan teknologi diasumsikan sebagai faktor spesifik atau dapat
diidentifikasikan.

17

Ada dua pendekatan teori produksi dalam melakukan usahatani.


Pendekatan pertama seperti yang dijelaskan Sukartawi (1987), bahwa dalam
melakukan usaha pertanian, pengusaha harus berfikir bagaimana ia harus
mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh produksi
(output) yang maksimal. Dalam ilmu ekonomi, pendekatan ini disebut dengan
pendekatan mamaksimumkan keuntungan (profit maximization). Akan tetapi,
yang sering terjadi adalah petani menghadapi kendala keterbatasan biaya dalam
usahataninya. Sehingga mereka berusaha memaksimalkan hasil produksi dengan
memperhatikan kendala biaya produksi yang terbatas. Usaha ini mereka lakukan
dengan prisip pendekatan kedua yaitu minimalisasi biaya (cost minimalization).
2.4. Tinjauan Mengenai Pertanian Organik dan Padi Sehat
Definisi Pertanian Organik
Pertanian organik (organic farming) merupakan sistem pertanian yang
menjaga keselarasan kegiatan pertanian dengan lingkungan dengan pemanfaatan
prose salami secara maksimal. Tidak menggunakan pupuk
tetapi

sedapatnya memanfaatkan

limbah

organik

buatan dan pestisida,


yang dihasilkan

oleh

kegiatan pertanian itu sendiri, sehingga sering juga disebut sebagai pertanian daur
ulang.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan
bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan sintetis (Karama, 2002).
Sementara itu Orgnic Farming Reaserch Fundation (OFRF, 2000 dalam Dimyati
2002), merumuskan pertanian organik adalah sebagai berikut : Organic farming
system do not use toxic chemical pesticides or fertilzers. Instead, they are based
on the development of biological deversity and the replanishment of soil fertility.

18

Pertanian organik didasarkan pada penggunaan input off-farm secara minimal dan
praktek

pengelolaan

yang

mengembalikan,

menjaga

dan

memperkaya

keharmonisan ekologis. Pedoman utama untuk produksi organik adalah


menggunakan bahan-bahan dan praktik-praktik yang memperkaya keseimbangan
ekologis sistem-sistem alamiah dan yang mengintegrasikan bagian-bagian sistem
pertanian menjadi sebuah kesatuan ekologis.
Oleh karena itu, menurut Partohardjono (2002), sistem pertanian organik
merupakan suatu pendekatan sistem produksi secara menyeluruh yang mendorong
keberlanjutan agroekosistem yang meliputi keanekaragaman hayati secara fungsifungsi biologis dalam sistem. Dalam sistem pertanian organik dihindari
penggunaan bahan-bahan agrokimia sintetis eksternal serta produk rekayasa
genetik tanaman secara transgenik. Berangkat dari konsep tersebut sistem ini
dikembangkan secara alamiah dengan memahami fungsi-fungsi dan proses
biologis yang berlangsung di alam secara biologis.
Prinsip Ekologi Pertanian Organik
Beberapa prinsip ekologi dalam penerapan pertanian organik dapat
dipilahkan sebagai berikut :
1. Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan
tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan
kehidupan biologi tanah
2. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi
nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha
tani

19

3. Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air
dengan cara mengelola iklim makro, pengelolaan air dan pencegahan
erosi.
4. Membatasi kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan
melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan aman
5. Pemanfaatan sumber genetik (plasma nutfah) yang saling mendukung dan
bersifat sinergisme dangan cara mengkombinasikan fungsi keragaman
sistem pertanaman terpadu
Prinsip di atas dapat diterapkan pada berbagai macam teknologi dan
strategi pengembangan. Masing-masing prinsip tersebut memiliki pengaruh yang
berbeda terhadap produktivitas, keamanan, kemalaran (continuity) dan identitas
masing-masing usahatani, tergantung pada kesempatan dan pembatasan faktor
lokal (kendala sumberdaya) dan dalam banyak hal sangat tergantung pada
permintaan pasar.
Gambaran Umum Komoditas Beras Organik
Beras organik adalah beras yang dihasilkan dari budidaya padi secara
organik atau tanpa masukan bahan kimia baik pupuk maupun pestisida. Sehingga
beras organik terbebas dari residu pupuk kimia dan pestisida kimia yang
membahayakan manusia.
Keunggulan utama beras organik dibanding beras biasa adalah relatif aman
untuk dikonsumsi (Andoko, 2002). Selain itu rasa nasi lebih empuk dan pulen.
Begitu juga dengan warnanya yang lebih putih serta daya tahan nasi lebih lama
dua kali lipat beras biasa yang hanya mampu bertahan 12 jam sebelum kemudian
basi.

20

Beras Sehat
Persyaratan dan kendala-kendala yang ada di lapangan untuk mencapai
kondisi yang ideal dalam pertanian organik bagi sebagian besar petani dirasakan
sangat berat. Petani di Indonesia telah mengadopsi pertanian konvensional selama
lebih kurang 25 tahun dan sebagian besar lahan pertanian beserta ekosistemnya khususnya di Pulau Jawa telah terkena pencemaran bahan kimia yang berasal dari
pupuk kimia dan pestisida, sebagai akibat dari penggunaan pupuk dan pestisida
yang tidak bijaksana dan terus menerus (LPS, 2005).
Beras sehat adalah produk organik antara yang dihasilkan dari usahatani
padi dengan mengeliminasi penggunaan pestisida, karena dampak yang
ditimbulkan jauh lebih luas dan lebih berbahaya dibandingkan pupuk kimia yang
dampaknya tidak secara langsung kepada pemakai. Sehingga diharapkan bahan
pangan yang dihasilkan oleh petani secara pelan-pelan akan mulai bebas dari
residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi serta memiliki nilai tambah.
2.5 Tinjauan Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang akan dilakukan kali ini adalah dalam ruang lingkup
pertanian padi sehat, yang dapat disetarakan dengan pertanian organik, dan
tentang masukan teknologi baru pada kegiatan usahatani. Untuk itu perlu ditinjau
penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait dengan ruang lingkup penelitian
yang dilakukan saat ini.
Telah banyak penelitian yang dilakukan dalam rangka mengkaji seputar
usahatani padi organik. Rahmani (2000), Nainggolan (2001) maupun Maryana
(2006) telah melakukan penelitian pada tiga daerah yang berbeda, yaitu Desa
Segaran, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah;

21

Kecamatan Tempuran, Kabupaten Kerawang, Propinsi Jawa Tengah; dan


Kecamatan Cikalong, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Ketiga penelitian
tersebut menggunakan metode analisis usahatani. Dan dapat disimpulkan bahwa
berusahatani padi secara organik

memberikan pendapatan yang lebih besar

daripada usahatani padi secara an-organik. Meskipun, dari sisi produktivitas,


usahatani padi an-organik lebih besar daripada usahatani padi organik.
Penelitian

Kusumah

(2004),

dengan

melakukan

analisis

perbandingan usahatani dan pemasaran antara padi organik dan padi an-organik di
Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Propinsi Jawa
Barat, juga memberikan informasi yang sama. Hal itu disebabkan karena biaya
produksi dalam usahatani padi organik lebih rendah daripada usahatani padi
anorganik. Selain itu, harga output berupa gabah atau beras organik lebih mahal
daripada gabah atau beras an-organik.
Apabila dilihat dari status kepemilikan lahan, penelitian Maryana (2006),
memberikan hasil bahwa petani pemilik memiliki pendapatan lebih besar daripada
petani penggarap baik yang berusahatani secara organik ataupun an-organik.
Namun apabila dibandingkan masing-masing, pendapatan petani pemilik
usahatani padi organik lebih besar daripada petani pemilik usahatani an-organik.
Begitupun pendapatan petani penggarap usahatani padi organik lebih besar
daripada petani penggarap dengan usahatani an-organik (tabel 4). Adapun
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan usahatani padi
secara umum, adalah saluran pemasaran, status petani (organik atau an-organik),
dan status kepemilikan lahan.

22

Herdiansyah (2005) dalam penelitian yang dilakukan di Desa Situgede,


Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, untuk menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi sistem usahatani padi organik dalam
kesimpulannya menjelaskan bahwa berdasarkan analisis Logistic Regression
Model atau fungsi logit variabel-variabel yang berpengaruh nyata tehadap
kemauan petani dalam mengadopsi sistem usahatani padi organik terdiri atas (1)
variabel tingkat pendidikan, (2) variabel sumber informasi, (3) variabel biaya
pupuk, (4) variabel biaya tenaga kerja. Semua variabel tersebut berpengaruh nyata
pada taraf 10 persen.
Penelitian lain yang berkaitan dengan penerapan teknologi baru adalah
Pribadi (2006), dan Yuliarmi (2002) yang menganalisis faktor penentu adopsi
teknologi Sawit Dupa dan teknologi pemupukan berimbang pada usahatani padi.
Keduanya memakai medel logit untuk menilai persepsi petani tentang faktorfaktor yang berpengaruh terhadap adopsi teknologi. Penelitian pertama yang
dilaksanakan pada usahatani padi pasang surut di propinsi Kalimantan Selatan
menyimpulkan bahwa ketersediaan modal dan risiko produksi padi varietas
unggul berpengaruh nyata. Pendapatan dari usahatani padi tersebut juga
berpengaruh nyata pada petani transmigran. Sedang pada petani lokal faktor lain
yang berpengaruh adalah besarnya jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan,
umur dan luas lahan. Adapun dalam penelitian kedua, harga gabah, biaya pupuk
dan luas lahan berpengaruh nyata pada taraf 1 persen, 5 persen dan 10 persen.
Buana (1997), menganalisis tingkat adopsi budidaya sawah di Kabupaten
Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan pendekatan koefisien peringkat Spearman.
Hasilnya, bahwa tingkat adopsi petani berada pada peringkat sedang. Petani telah

23

melaksanakan budidaya sawah tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan anjuran


penyuluh. Karakteristik internal berupa pendidikan formal, jumlah tanggungan
keluarga, luas lahan garapan dan tingkat pendapatan menunjukkan hubungan yang
nyata.
Sementara itu, Lian (1987), melakukan penelitian yang hampir mirip
dengan penelitian ini. Penelitian tersebut menganalisis tentang pengaruh teknologi
terhadap efisiensi ekonomi dan distribusi pendapatan di Kabupaten Subang.
Perubahan teknologi tersebut berupa : (1) penggunaan air irigasi dan perbaikan
saluran drainasi, (2) penggunaan traktor menggantikan tenaga manusia dan ternak,
(3) penggunaan varietas padi unggul Cisadane, dan (4) peningkatan dosis pupuk.
Model yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb Douglas dan analisis
efisiensinya didapat dengan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya
Korbanan Marjinal (BKM). Kesimpulannya, proses adopsi yang diwakili dengan
perbandingan data tahun 1981 dan tahun 1986, adalah belum efisien.
Beberapa penelitian yang diuraikan di atas telah mengakaji perbandingan
produksi padi organik dan non organik dari sisi pendapatan petani dan
produktivitas hasil; pengaruh kelembagaan kepemilikan lahan terhadap tingkat
pendapatan

petani padi organik dan non organik; faktor-faktor yang

mempengaruhi adopsi sistem usahatani baru;

serta pengaruh teknologi baru

terhadap efisiensi ekonomi dan distribusi. Penelitian ini brmaksud menambah


hasil kajian baru tentang pengaruh intervensi kelembagaan terhadap terciptanya
kelembagaan agribisnis alternatif, perubahan aplikasi teknologi di tingkat petani
dan pengaruhnya terhadap tingkat efisiensi teknik.

24

III. KERANGKA ANALISIS

3.1. Kerangka Teoritis


3.1.1. Konsep Kelembagaan
Menurut Mubyarto (1989), yang dimaksud lembaga (institution) adalah
organisasi atau kaidah-kaidah, baik formal maupun informal, yang mengatur
perilaku dan tindakan anggota masyarakat tertentu baik dalam kegiatan-kegiatan
rutin sehari-hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu.
Lembaga-lembaga dalam masyarakat ada yang berasal dari adat kebiasaan mereka
turun-temurun tetapi ada pula yang baru diciptakan baik dari dalam maupun
mengadopsi dari luar.
Kelembagaan ditinjau dari sudut organisasi merupakan sistem organisasi
dan kontrol terhadap sumberdaya. Dipandang dari sudut individu, kelembagaan
merupakan gugus kesempatan bagi individu dalam membuat keputusan dan
melaksanakan aktivitasnya. Dari dua sudut pandang tersebut, menurut Saptana
et.al. (2003), model kelembagaan agribisnis beras yang akan dikembangkan harus
ada muatan kolektif melalui organisasi kelompok yang akan mengatur bagaimana
kelembagaan tersebut dapat memiliki kontrol dan akses terhadap sumberdaya
dalam rangka pengembangan agribisnis beras. Di sisi lain pengembangan
agribisnis beras akan berhasil kalau ada insentif individu dalam memasuki bisnis
perbesaran. Dari sudut pandang individu, adanya semangat kewirausahaan akan
menghasilkan daya inovasi dan kreasi tinggi yang diperlukan sebagai energi
dalam menghasilkan beras berkualitas sesuai permintaan pasar dan preferensi
konsumen.

25

Pakpahan (1989) mengemukakan kelembagaan dicirikan oleh tiga hal


utama: (1) Batas yurisdiksi; (2) Hak kepemilikan; dan (3) Aturan representasi.
Batas yurisdiksi berarti hak hukum atas (batas wilayah kekuasaan) atau (batas
otoritas) yang dimiliki oleh suatu lembaga, atau mengandung makna keduaduanya. Penentuan siapa dan apa yang tercakup dalam suatu organisasi atau
masyarakat

ditentukan

oleh

batas

yurisdiksi.

Oleh

karena

itu

dalam

mengembangkan kelembagaan dalam rangka pengembangan agribisnis perberasan


harus jelas batas yurisdiksinya, sebagai ilustrasi apakah kelompok tani yang akan
dilibatkan didasarkan atas kelompok hamparan, domisili ataukah satu-kesatuan
layanan daerah irigasi.
Konsep property atau pemilikan sendiri muncul dari konsep hak (right)
dan kewajiban (obligations) yang diatur oleh hukum, adat dan tradisi, atau
konsensus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal
kepentingan terhadap sumberdaya (Pakpahan, 1990 dalam Saptana et.al., 2003).
Tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari
masyarakat dimana dia berada.
Sementara itu, aturan representasi (rule of representations) mengatur
permasalahan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam proses
pengambilan keputusan. Aturan representasi menentukan alokasi dan distribusi
sumberdaya. Dipandang dari segi ekonomi, aturan representasi mempengaruhi
ongkos membuat keputusan. Ongkos transaksi yang tinggi dapat menyebabkan
output tidak bernilai untuk diproduksi. Oleh karena itu, perlu dicari mekanisme
representasi yang efisien sehingga dapat menurunkan ongkos transaksi (Saptana
et.al., 2003).

26

3.1.2. Konsep Agribisnis


Agribisnis (adapula yang menyebutnya agrobisnis) merupakan suatu cara
lain untuk melihat pertanian sebagai suatu sistem bisnis yang terdiri dari beberapa
subsistem yang terkait satu sama lain. Dalam agribisnis dikenal konsep agribisnis
sebagai suatu sistem dan agribisnis sabagai suatu usaha (perusahaan). Disamping
itu dikenal azas-azas dalam pengembangan agribisnis suatu komoditas, seperti
yang dikemukakan oleh (Sudaryanto dan Hadi, 1993; Hadi et al.,1994 dalam
Saptana et.al., 2003). Beberapa azas yang perlu diterapkan dalam pengembangan
agribisnis, antara lain adalah : terpusat, efisien, menyeluruh dan terpadu dan
kelestarian lingkungan.
Definisi yang lengkap dari pengertian agribisnis oleh Davis and Golberg
(1957) dalam Saptana et.al. (2003), yaitu : "Agribisnis included all operations
involved in the manufacture and distribution of farm suplies; production
operations on the farm; the storage, processing and distribution of farm
commodities made from them, trading (whosaler, retailers), consumers to it, all
non farm firm and institution serving them.." Dengan demikian, suatu sistem
agribisnis yang lengkap merupakan suatu gugusan industri (industrial cluster)
yang terdiri dari empat subsistem, yaitu (1) subsistem agribisnis hulu (upstream
agribusiness) yakni seluruh industri yang menghasilkan dan memperdagangkan
sarana produksi pertanian primer, seperti industri pembibitan/pembenihan,
industri agro-kimia, industri agro-otomotif, agri-mekanik dan lain lain; (2)
subsistem agribisnis budidaya/usahatani (on-farm agribusiness) yakni kegiatan
yang menggunakan sarana produksi untuk menghasilkan komoditas pertanian
primer (farm product); (3) subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness)

27

yakni industri yang mengolah industri primer menjadi produk olahan beserta
kegiatan perdagangannya; dan (4) subsistem jasa penunjang (supporting system
agribusiness) yakni kegiatan yang menyediakan jasa bagi ketiga subsistem di atas
seperti infrastruktur, transportasi (fisik, normatif), perkreditan, penelitian dan
pengembangan, pendidikan pelatihan, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Secara
sederhana sistem agribisnis dapat dilihat pada Gambar 1.
Subsistem Hulu
(upstream agribusiness)

Subsistem Usahatani
(on-farm agribusiness)

Subsistem penunjang
(supporting agribusiness)

Subsistem Hilir
(downstream agribusiness)
Gambar 1. Keterkaitan dalam Sistem Agribisnis

3.1.3. Efisiensi Teknik


Efisiensi

teknik

mengacu

kepada

pencapaian

maksimum

dari

kemungkinan tingkat produksi untuk tiap kombinasi penggunaan input yang


digunakan. didefinisikan sebagai rasio dari produksi aktual dari suatu perusahaan
(atau petani) pada tingkat teknik kemungkinan produksi maksimum. Maksimum
produksi disini dihitung dari frontier. Efisiensi teknis disini menyatakan
kemungkinan peningkatan produksi tanpa meningkatkan ongkos atau tanpa
pengaturan kembali kombinasi input yang digunakan. Suatu usaha dikatakan tidak
efisien jika gagal untuk mencapai produksi maksimum apabila menggunakan
sejumlah input yang ada (Farrell, 1957 dalam Utama, 2003)

28

Fungsi produksi stochastik frontier secara spesifik meliputi fungsi


produksi untuk data cross-sectional yang mempunyai dua

random efek dan

komponen yang lain untuk in-efisensi teknik. Model ini dapat digambarkan
sebagai berikut :

Yi = xi + (Vi - Ui)

,i=1,...,N,

dimana ;
Yi

= produksi (atau logaritma dari produksi) dari usaha ke i.

Xi

= transformasi dari jumlah faktor produksi ke i

= p arameter penduga yang belum diketahui

Vi

= kesalahan acak dari model

Ui

= variabel acak yang merepresentasikan inefisiensi teknik dari sampel


usahatani ke i

Karakteristik yang cukup penting dari model produksi frontier untuk


mengestimasi efisiensi teknik adalah adanya pemisahan dampak dari shok
variabel eksogenus terhadap output dengan kontribusi variasi dalam bentuk
efisiensi teknik (Giannakes et.al., 2003 dalam Sukiyono,2004).
Yang

berarti

metode

ini

dapat

digunakan

untuk

mengestimasi

ketidakefisienan suatu proses produksi tanpa mengabaikan kesalahan baku dari


modelnya. Hal ini dimungkinkan karena kesalahan baku dalam model, E, terdiri
dari dua kesalahan baku yang keduanya terdistribusi secara bebas (normal) dan
sama untuk setiap observasi dimana yang pertama adalah tipikal kesalahan baku
yang ada dalam suatu model (V) dan yang lain untuk merepresentasikan

29

ketidakefisienan (U) dan E = V - U (Giannakes et.al., 2003 dalam Sukiyono,


2004).
Secara ekonometrik, efisiensi teknik suatu usahatani tertentu, TEi,
didefinisikan sebagai rasio dari rata-rata produksi usahatani ke i yang memiliki ui
positif, serta pada tingkat korbanan input tertentu ( xi ) dengan rata-rata produksi
jika ui = 0. Maka efisiensi teknik usahatani ke i dapat dirumuskan sebahai berikut:

TEi = exp( -ui )

Prediksi efisiensi teknik dari usahatani ke i memerlukan variabel acak


yang tak terobservasi ui yang akan diperkirakan dari sampel yang diambil. Nilai
ekspektasi i dimana variabel acak adalah Ei = vi - ui dan dengan asumsi ui
mempunyai distribusi setengah normal atau eksponensial.
3.2. Kerangka Operasional
Aktivitas usahatani yang dilakukan di tempat penelitian diasumsikan
melibatkan tiga komponen yang saling berinteraksi. Komponen yang pertama
adalah petani sebagai manajer usahatani. Petani memiliki kemampuan berupa
akses terhadap sumberdaya atau input, penguasaan teknologi dan faktor
kelembagaan di level petani. Kemampuan tersebut digunakan petani untuk
menjalankan aktivitas usahataninya.
Komponen yang kedua adalah sumberdaya atau input itu sendiri.
Komponen input ini menjadi awal terjadinya berbagai proses usahatani padi.
Proses-proses yang masuk dalam kajian ini adalah budidaya, panen serta
pemasaran dan distribusi sampai pada tahap tertentu. Adapun komponen yang

30

terakhir adalah komponen kelembagaan. Sesuai dengan tinjauan tentang ruang


lingkup kelembagaan di atas, komponen ini memberikan peran penting dalam
kelancaran proses usahatani. Kelembagaan tersebut meliputi kelembagaan
permodalan, pengadaan input, kelembagaan pendampingan dan penyuluhan serta
kelembagaan pemasaran dan distribusi.
Salah satu dampak dari kinerja kelembagaan terhadap aktivitas usahatani
adalah dalam perbaikan praktik budidaya. Dalam upaya meningkatkan pendapatan
usahatani, baik dengan meningkatkan produktivitas ataupun mengurangi biaya
produksi, kelembagaan akan mengintroduksikan teknologi baru kepada petani.
Teknologi baru tersebut dapat berupa pengetahuan manajemen, perbaikan ataupun
masukan input baru atau juga perbaikan teknik budidaya. Untuk mendekati
pengaruh dari masukan teknologi baru tersebut akan dilakukan analisis terhadap
aplikasi penerapan teknologi di tingkat petani dan analisis efisiensi teknik dalam
proses produksi.
Masuknya peran kelembagaan dalam proses agribisnis usahatani padi yang
dilakukan petani akan dikaji dan dianalisis dalam hal keragaan dan kinerja
kelembagaan agribisnis yang terbentuk. Apakah kelembagaan agribisnis padi yang
dibangun LPS dan petani binaannya sudah maksimal dari sisi kelengkapan
subsistem dan perannannya dalam mendukung usahatani petani.
Analisis

terhadap

aplikasi

teknologi

diharapkan

mengkasilkan

rekomendasi yang tepat bagi petani dalam perbaikan teknik dan LPS dalam
mengevaluasi antivitas pendampingan usahataninya. Sedangkan Hasil Analisis
terhadap keragaan dan kinerja kelembagaan diharapkan menjadi rekomendasi bagi
LPS dalam membangun kelembagaan agribisnis padi yang lebih baik.

31

Keterbatasan
Akses Hulu

Kinerja Klp.
Tani

Aplikasi teknologi
belum tepat

Keterbatasan
akses Hilir

Lahan
Panen

Budidaya

Pemasaran
&Distribusi

Input
Lain

Pendampingan & Penyuluhan

Pemasaran & Distribusi

Pengadaan Input

Permodalan
K E L E M B A G A A N (L P S)

Kelengkapan
Kelembagaan Agribisnis

Analisis Keragaan dan


Kinerja Kelembagaan

Rekomendasi Perbaikan
Kinerja Kelembagaan
Agribisnis

Perbaikan Aplikasi Teknologi

Analisis Aplikasi
Teknologi Petani

Analisis Efisiensi
Teknik

Rekomendasi Perbaikan
Aplikasi Teknologi

Gambar 3. Kerangka Operasional Penelitain

32

IV. METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi pengambilan data dari penelitian ini adalah lokasi binaan Lembaga
Pertanian Sehat di Kecamatan Cigombong, Cijeruk dan Ciburuy, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja
(purposive). Pertimbangan penentuan lokasi penelitian adalah karena pada lokasi
tersebut terdapat kelompok tani binaan Lembaga Pertanian Sehat dengan taraf
keterbinaan yang berbeda, ada yang sudah lama dan mendekati adopsi yang
sempurna dari setiap masukan yang diberikan oleh LPS dan ada yang masih baru.
Penelitain ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan bulan
Maret 2008.
4.2. Pemilihan Sampel
Unit analisis dalam penelitian ini adalah Lembaga Pertanian Sehat (LPS),
kelompok tani dan para petani anggota kelompok tani binaan LPS. Pemilihan LPS
sebagai unit analisis dilakukan secara sengaja. Kelompok tani yang dibina oleh
LPS berjumlah 16 kelompok, berdasarkan pertimbangan keaktifan, tingkat adopsi
masukan LPS dan lama pembinaannya maka dipilih enam kelompok tani secara
sengaja bedasarkan masukan dari narasumber dari LPS. Sampel untuk petani
diambil sebanyak 32 petani dari total petani anggota kelompok tani binaan LPS
yang mencapai 148 orang. Sampel petani diambil dari enam kelompok tani yang
dipilih secara proporsional.
4.3. Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Data yang

33

digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer
diambil langsung dari petani melalui teknik wawancara langsung. Pengambilan
data primer dilakukan dengan teknik survei yaitu suatu cara pengambilan data
melalui sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuisioner sebagai alat
pengumpul data pokok (Singarimbun dan Effendi, 1989). Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui wawancara dengan narasumber yang memiliki
keterkaitan dengan permasalahan penelitian dan dari laporan-laporan Lembaga
Pertanian Sehat ataupun dari literatur yang relevan.
4.4 Pengolahan Data
Pengolahan data untuk analisis kuantitatif yang berhubungan dengan
permasalahan pertama dan kedua dioleh secara manual dan disajikan dalam
bentuk tabulasi dan keterangan penjelas. Adapun data yang berhubungan dengan
analisis fungsi produksi deolah dengan program statistik regresi dan efisiensi
teknik diolah dengan menggunakan program Frontier versi 4.1, yaitu program
komputer untuk menghitung tingkat efisiensi teknik setiap petani. Sedangkan data
kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden dan narasumber
terkait akan disajikan secara deskriptif untuk menambah kejelasan analisis yang
ada.
4.5. Metode Analisis Data
Metode analisis data disesuaikan dengan data yang diperoleh. Langkahlangkah dalam analisis data ini dilakukan sebagai berikut :
Analisis deskripsi umum
Menggambarkan tentang profil organisasi Lembaga Pertanian Sehat dan
gambaran umum petani binaan LPS di Kabupaten Bogor yang menjadi objek

34

penelitian. Pada bagian ini juga disertai gambaran umum wilayah dimana para
petani tinggal.
Analisis Deskripsi Kinerja Kelembagaan dan Aplikasi Teknologi di Tingkat
Petani
Menggambarkan kondisi kelembagaan yang ada pada setiap subsistem
usahatani dan aplikasi teknologi yang dilakukan oleh petani dalam melaksanakan
setiap tahap usahataninya. Analisis ini akan diperjelas dengan tabel-tabel yang
mendukung.
Analisis Fungsi
Fungsi produksi untuk usahatani padi sehat pada anggota kelompok tani
binaan LPS di Kabupaten Bogor diasumsikan mempunyai bentuk Cobb-douglass
dengan memasukkan variable dummy yang diprediksikan mempengaruhi efisiensi
masing-masing perusahaan atau petani. Variabel dummy yang dimasukkan dalam
model penelitian ini adalah terhadap jenis varietas (Var = 1 apabila petani
menggunakan varietas Situbagendit, dan Var = 0 apabila memakai yang lainnya)
karena dari data yang ada 56 persen petani memakai varietas yang sama yaitu
Situbagendit dan rata-rata produktivitas dari benih tersebut tertinggi dibanding
varietas lainnya. Variabel dummy yang kedua adalah terhadap penggunaan sistem
tanam legowo (ST = 1) dan caplak atau bukan legowo (ST=0). Seperti dikaji
dalam bab sebelumnya, anjuran LPS adalah pemakaian sistem legowo, tetapi 53
persen petani tidak melaksanakannya dan ada yang karena alasan efisiensi teknis.
Rumus persamaan fungsi produksinya menjadi sebagai berikut :

35

ln (Yi) = 0 + 1 ln (BENIHi) + 2 ln (TKi) + 3 ln (UREAi) + 4 ln (SP 36i) + 5


ln(KCli) + 6 ln (Phonska) + 7 (P. ORGANIKi) + 8 ln(PASTIi) + 9
ln(Lahani) + 10 (Var) + 11 (ST) + (Vi - Ui)
dimana :
i

= petani ke i

= nilai produksi per ha (kg)

BENIH

= jumlah benih padi yang digunakan (gram)

TK

= jumlah tenaga kerja yang dicurahkan (HOK)

UREA

= jumlah pupuk Urea yang dipakai (kg)

TSP

= jumlah pupuk TSP yang dipakai (kg)

KCl

= jumlah pupuk KCl yang dipakai (kg)

Phonska

= jumlah pupuk NPK Phonska yang dipakai (kg)

P.ORGANIK = jumlah pupuk organik yang dipakai (kg)


PASTI

= jumlah pestisida nabati yang dipakai (liter)

Lahan

= luas lahan yang ditanami petani (ha)

D1

= Variabel dummy untuk jenis varietas (Var = 1 apabila


petani menggunakan varietas Situbagendit, dan Var = 0
apabila memakai yang lainnya)

D2

= Variabel dummy untuk sistem tanam ( ST = 1 apabila


legowo dan ST = 0 apabila selainnya)

Vi

= kesalahan acak model dan

Ui

= variable acak yang merepresentsikan inefisiensi teknik


dari sempel usahatani ke i

Efisiensi dan inefisiensi teknik usahatani padi ke i diprediksi dengan


menggunakan persamaan yang diturunkan dari fungsi produksi stokastik frontier
sebagai berikut :
TEi = exp( -ui )
Dimana efisiensi ini dapat diperkirakan dengan rumus sebagai berikut :

36

- / )
[1 -1 (
- (- / ) ]exp {-
*

TEi = E(exp(-ui)|Ei) =

+ 0,5 *2

v2 - u2
dimana : Ei = vi ui , i =
v2 - u2

v2 x u2
dan =
v2 + u2
*2

Hasil penghitungan yang didapat adalah tingkat efisiensi teknik setiap


individu petani yang diobservasi. Hasil itu kemudian dianalisis secara individu
sebagai petani binaan LPS dan secara kelompok sebagai dampak kinerja
kelompok tani terhadap tingkat efisiensi teknik anggotanya. Penyajian data dalam
bentuk diagram ataupun tabel yang dapat memperjelas informasi yang akan
disampaikan.

37

V. GAMBARAN UMUM

5.1. Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika


5.1.1. Sejarah Lembaga
Pada awalnya LPS-DDR berbentuk Laboratorium Pengendalian Biologi
DD-Republika yang beroperasi mulai bulan Juni 1999 di Desa Cibanteng,
Darmaga Kab. Bogor, laboratorium ini bertugas untuk mengembangkan dan
memproduksi biopestisida NPV (nuclear polyhedrosis virus) yang ramah
lingkungan.

Produk biopestisida yang berbahan aktif virus patogen serangga

hama tersebut, merupakan yang pertama kali diproduksi di Indonesia dengan


nama :VIR-L, VIR-X dan VIR-H. Selain itu dari perluasan program tahun 2000,
juga telah dikembangkan dan dibuat pupuk organik OFER dan pestisida nabati
PASTI berbahan aktif akar tuba.
Pada tahun 2002 Laboratorium Pengendalian Biologi berubah nama
menjadi Usaha Pertanian Sehat, hal ini berkaitan erat dengan upaya
pengembangan

pemasaran

produk-produk

yang

dihasilkan

Laboratorium

sebelumnya. Pusat kegiatan UPS berada di Ds Pasir Buncir, Caringin Bogor, satu
komplek dengan Ternak Domba Sehat (TDS) Dompet Dhuafa Republika.
Pemisahan laboratorium dan usaha dilakukan pada awal tahun 2003 menjadi LPS
yang berada di JAS dan UPS yang berada di jejaring aset reform. Kemudian
menginjak awal tahun 2004 Laboratorium Pertanian Sehat dan Usaha Pertanian
Sehat disatukan kembali menjadi Lembaga Pertanian Sehat di bawah koordinasi
Jejaring Aset Reform (JAR) Dompet Dhuafa.

38

5.1.2. Aktivitas Lembaga


Latar belakang aktivitas LPS adalah (LPS, 2005), pertama, untuk
mencapai pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan yaitu merubah pola
tanam dan perilaku petani dari konvensional ke sistem bertani sehat dengan
melakukan pembinaan secara bertahap dan berkesinambungan ke arah pertanian
yang minimal berbasis bertani bebas pestisida.

Perubahan-perubahan secara

bertahap dapat dilakukan dengan membimbing dan mengenalkan kepada petani


untuk menggunakan sarana produksi yang aman, bijak, berbahan lokal dan harga
terjangkau dengan proses bio-teknologi maupun rendah bahan kimia melalui pola
pertanian terpadu yang berwawasan ramah lingkungan.
Kedua, petani kecil sebagai kaum dhuafa/mustahik mayoritas di Indonesia
memiliki masalah yang multikomplek di lapangan antara lain : lahan yang
terbatas, kesuburan lahan menurun, harga saprotan yang tinggi, permodalan
terbatas, SDM dan skill yang rendah, serta harga panen yang fluktuatif, disamping
itu indeks nilai tukar petani (term of trade) terhadapa barang industri dan jasa
semakin menurun yang mengindikasikan kehidupan petani semakin tidak
sejahtera.

Hal itu memerlukan penanganan yang holistik melalui program-

program yang bersifat pemberdayaan dan berkelanjutan.


LPS DDR menetapkan beberapa misinya untuk mewujudkan program dan
fungsi-fungsinya, yaitu (LPS, 2005), pertama, meneliti, mengembangkan dan
merakit teknologi-teknologi sarana produksi pertanian yang menggunakan bahan
baku lokal, murah, sehat dan ramah lingkungan. Kedua, merakit teknologi sistem
pertanian terpadu dan berkelanjutan yang berbasis pada potensi sumberdaya alam
lokal dan kompetensi petani mustahik/penerima manfaat secara langsung. Ketiga,

39

menjadi pusat pelatihan, pengkaderan dan percontohan sistem pertanian sehat


terpadu, yang digunakan sebagai sarana pelatihan, pengkaderan dan studi wisata
pertanian alami bagi petani dan masyarakat secara luas.
Tabel 4. Enam Bidang Kegiatan Pokok Lembaga Pertanian Sehat
No.
1.

Bidang Pokok
Penelitian Dan
Pengembangan
Sarana Produksi
Pertanian Sehat

2.

Pelayanan
Informasi
Teknologi Sistem
Pertanian Sehat
Terpadu

3.

Pembangunan
Pusat Pelatihan
Pertanian Sehat
Terpadu

4.

5.

6.

Pelatihan Dan
Bina Kader
Pertanian Sehat

Produksi Dan
Pemasaran
Sarana Dan
Hasil Pertanian
Sehat

Program
Pemberdayaan
Petani Sehat
(P3S)

Sumber : Profil LPS, 2005

Garis Besar Kegiatan


Penelitian dan perakitan sarana produksi pertanian sehat
yang tepat guna
Pelaksanaan uji coba efektivitas produk melalui
demonstrasi plot (demplot)
Uji laboratorium dan standarisasi saprotan sehat/organik
Membantu proses standarisasi dan sertifikasi produk
pertanian sehat bagi petani binaan dan umum
Pelayanan studi pustaka tentang pertanian organik secara
terpadu dan berkelanjutan
Kerjasama kegiatan pertanian sehat dengan dengan dinasdinas/pihak swasta terkait baik tingkat daerah maupun
nasional (pelatihan, seminar, workshop)
Penyusunan buku panduan, modul pelatihan dan brosurbrosur tentang pertanian organik dan pertanian terpadu
Membangun sarana fisik dan wisata pertanian terpadu
(kantor, laboratorium, ruang dan mess pelatihan, ruang
produksi ,workshop)
Budidaya tanaman secara organik: padi, sayuran, buahbuahan, tanaman obat dan tanaman pengendali hama
Peternakan terpadu skala usaha, meliputi: sapi pedaging,
domba garut, ayam kampung dengan pengolahan kompos
dan biogas serta perikanan darat
Budidaya jamur shimeji/tiram organik skala usaha
Kegiatan magang bagi petani dhuafa dan masyarakat
secara umum
Bimbingan penelitian & konsultasi teknologi pertanian
sehat bagi mahasiswa (S1, S2 dan S3) dan pelaku
agribisnis
Pembentukan dan pembinaan kelompok tani sehat (KTS)
Pelatihan manajemen dan budidaya pertanian sehat
Pengkaderan petani inovator untuk pertanian sehat
Kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah atau
swasta dalam upaya sosialisasi saprotan dan teknologi.
Produksi sarana pertanian & sayuran organik /padi bebas
pestisida bekerjasama dengan KT/ petani.
Melakukan kegiatan bisnis saprotan sehat dan membentuk
jaringan pemasaran hasil pertanian sehat yang kuat dan
tangguh.
Penyediaan lahan garapan beserta subsidi sarana produksi
dalam jangka waktu tertentu.
Pendampingan kegiatan usaha pertanian sehat
Transfer teknologi produk-produk pertanian sehat kepada
KT untuk diproduksi secara mandiri

40

Keempat, melatih dan membina kader pertanian sehat melalui: program


pelatihan petani/ kelompok tani (KT) terpadu, penelitian mahasiswa, magang dan
konsultasi pelaku agribisnis. Kelima, membina kemandirian dan menjalin
kemitraan usaha dengan para petani dalam bidang kegiatan produksi dan
pemasaran sarana produksi pertanian sehat berskala home industri dan produkproduk pangan/sayuran organik yang menguntungkan dan memberikan dampak
ekonomi dan kesehatan secara langsung bagi petani maupun masyarakat secara
umum. Keenam, mensosialisasikan dan melakukan kegiatan agribisnis bidang
saprotan dan produk-produk pertanian sehat dan turunannya yang memiliki nilai
tambah, kompetitif, halal dan thoyib.

Berdasarkan misi yang telah ditetapkan, maka Lembaga Pertanian Sehat


(LPS) memiliki 6 bidang pokok kegiatan yang secara garis besar dibagi menjadi
beberapa sub-kegiatan sebagai mana Tabel 4. Untuk menjalankan enam kegiatan
tersebut LPS memiliki struktur organisasi sebagai mana Gambar 3.

41

Direktur LPS

Manajer Operasional
Administrasi &
Keuangan

Sekretaris &
Humas

DIVISI
Produksi & Perakitan

DIVISI
Litbang
Pelatihan
Pembinaan Petani

DIVISI
Pemberdayaan
Petani

DIVISI
Distribusi &
Pemasaran

DIVISI
Technical
Supporting

Kelompok Tani
Binaan
Gambar 3. Struktur Organisasi Lembaga Pertanian Sehat

5.1.3. Produk Lembaga Pertanian Sehat


Lembaga Pertanian Sehat dalam melaksanakan fungsinya sebagai lembaga
penelitian dan pengembangan teknologi saprotan sehat yang tepat guna telah
menghasilkan beberapa produk unggulan yang menggunakan bahan baku lokal,
mudah diperoleh dan berdaya saing serta dapat diproduksi secara mandiri oleh
petani. Jenis-jenis produk dan program yang telah dihasilkan oleh LPS sampai
dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut:

42

Tabel 5. Produk Unggulan Lembaga Pertanian Sehat


No.
Jenis Produk/Program
Biopestisida generasi ke-2 yaitu VIREXI (generasi VIR-X) dan
1.
VITURA (generasi VIR-L)
Pupuk Organik Cair BIO MENTARI berbahan baku slury dari
2.
fermentasi biogas (BIO-MENTARI = produk biologi hasil fermentasi
dan mampu lestari
Pestisida Nabati PASTI yang berbahan aktif ekstrak biji mimba
3.
(Azadirachta indica)
Pupuk kompos OFER (Organic Fertilizer) yang terbuat dari limbah
kotoran sapi, jerami/hijauan dan arang sekam dan diolah dengan proses
4.
fermentasi dan Media TUMBUH dan TOP SOIL sebagai media semai
dan tanam organik
Program P3S, yaitu Program Pemberdayaan Petani Sehat bagi petani
5.
mustahik melalui penyediaan lahan garapan, subsidi saprotan sehat dan
pembinaan serta pelatihan
BERAS SEHAT yaitu beras bebas pestisida yang diproduksi dengan
6.
teknologi ramah lingkungan oleh kader petani sehat yang ikut serta
dalam program P3S
Program Pelatihan Budidaya Pertanian Sehat dengan materi teknis
7.
produksi tanaman padi, sayuran dan pengendalian hama/penyakitnya
secara alami serta pembuatan kompos.
BENIH CAP PETANI, yaitu benih padi berlabel biru hasil penangkaran
8.
Kel.Tani Silih Asih bekerjasama dengan LPS dalam pengadaan benih
induk (breder seed)
Teknologi Pengendalian Penyakit Tungro Pada Padi yaitu berupa
9.
petunjuk teknis cara mengendalikan penyakit tungro yang mudah.
Bio-Insektisida yaitu nematoda untuk mengendalikan ulat penggerek
10. pada padi dan Miko-Insektisida, jamur patogen Bauveria Bassiana
untuk hama wereng dan serangga secara umum.
Sumber : Profil LPS, 2005
Dari beberapa produk barang yang dihasilkan oleh LPS, pestisida nabati
PASTI, pupuk kompos OFER dan beras sehat SAE sudah dipasarkan oleh devisi
pemasaran melalui agen-agen yang menjadi mitra atau sesuai permintaan.
Sementara benih unggul yang diproduksi lebih banyak dipakai oleh petani
binaannya melalui jalur pemasaran koperasi gabungan kelompok tani Lisung
Kiwari di Desa Ciburuy.

43

5.2. Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S)


5.2.1. Tujuan Program
Tiga tujuan umum dari program pemberdayaan LPS adalah, pertama,
tercapainya kemandirian material komunitas petani sasaran. Melalui paket
program P3S, diharapakan para petani sasaran dapat meningkatkan kualitas dan
kuantitas hasil usaha taninya sehingga akan mendorong peningkatan pendapatan
dan kesejahteraan ekonominya.
Kedua, Tercapainya kemandirian intelektual komunitas petani sasaran.
Paket P3S juga mendorong para petani untuk meningkatkan sikap, sifat dan
perilaku intelektualitasnya sehingga akan muncul pribadi-pribadi petani yang
kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Ketiga, Tercapainya kemandirian manajemen komunitas petani sasaran.
Selain mandiri dalam hal ekonomi/material dan intelektual, paket P3S juga
mendorong para petani sasaran untuk dapat mandiri secara manajerial sehingga
dapat melakukan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengontrolan usaha taninya secara profesional
5.2.2. Komponen Program
Sebagai program pertanian yang mencoba melakukan proses perbaikan
yang integralistik dan bersifat kontinu, maka paket program P3S dilengkapi
dengan komponen program pendukung, yaitu :
1. Pembiayaan Usaha Tani Berbasis Syariah dengan paket yang disesuaikan
dengan situasi dan kondisi di lapangan, paket yang sedang dilaksanakan
untuk beberapa cluster P3S antara lain: paket Murabahah, Qordul Hasan

44

dan bahkan ada juga paket bantuan Cuma-Cuma (hibah) tapi dengan syarat
konstruktif.
2. Peningkatan Kapasitas SDM Petani melalui paket pelatihan teknologi
pertanian sehat dan juga pembinaan untuk manajemen usaha tani dan
penguatan aspek spiritual para petani sasaran
3. Pembentukkan dan Pengembangan Kelembagaan Petani, antara lain
dengan penginisiasian lumbung tani sehat (LTS). Bahkan untuk LTS di
Cluster Kab. Bogor telah mulai merintis untuk pengembangan usaha
komunitas melalui pengadaan saprotan dan pengolahan beras petani
binaan.
4. Pembangunan Jaringan dan Sinergi dengan Stakeholders lainnya, hal ini
didasarkan bahwa pembangunan pertanian merupakan tanggung jawab
bersama untuk itu petani didorong untuk dapat akses terhadap saluran
informasi baik yang datang dari instansi pemerintah, swasta ataupun yang
lainnya sehingga dapat mempercepat proses kemandirian para petani
sasaran.
5.2.3. Wilayah Kerja Program Pemberdayaan Petani Sehat (P3S)
Pembinaan petani oleh LPS yang berada di bawah program P3S telah
mencakup 3 daerah kerja (cluster), yaitu cluster Kabupaten Bogor, Jawa Barat
yang meliputi 3 Kecamatan, Cijeruk, Cigombong dan Caringin; cluster Kabupaten
Banyuasin, Sumatera Selatan yang berada di Kecamatan Muara Telang; dan
cluster Kabupaten Bantul, DIY tepatnya di Kecamatan Jetis.

45

5.3. Pemberdayaan Agribisnis Padi Sehat Kabupaten Bogor


5.3.2. Deskripsi Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan pada kelompok tani binaan Program
Pemberdayaan Petani Sehat (P3S) LPS DD di Cluster Rintisan Kabupaten Bogor
yang berada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Cigombong, Caringin dan
Cijeruk. Tiga kecamatan tersebut masuk dalam wilayah kerja Dinas Pertanian
Kabupaten Bogor untuk UPTD Caringin, namun demikian tidak semua desa yang
ada dalam tiga kecamatan tersebut masuk sebagai anggota program. Hanya desadesa terpilih saja yang dimasukkan dalam program P3S ini, tentunya melalui
pertimbangan yang matang dan proses seleksi yang ketat.

Gambar 4. Peta Lokasi Program Pemberdayaan Petani Sehat Cluster Kabupaten


Bogor, Jawa Barat
Secara geografis, lokasi tiga kecamatan program P3S Kabupaten Bogor
berbatasan langsung dengan, sebelah utara dengan Kota Bogor, sebelah selatan
dengan Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, sebelah timur dengan Taman
Nasional Gunung Pangrango dan sebelah Barat dengan Kecamatan Taman Sari
Kabupaten Bogor. Jumlah total desa yang terlibat dalam proses pemberdayaan
P3S Kabupaten Bogor mencapai sembilan (9) desa dengan luasan lahan program

46

yang cukup variatif. Sedangkan jumlah petani yang terlibat langsung dalam
kegiatan P3S ini mencapai jumlah 149 petani yang tergabung dalam 16 KT
(Kelompok Tani).
Karakteristik umum petani peserta program P3S Kabupaten Bogor dapat
dilihat dari aspek pendidikan, umur, pendapatan dan penguasaan lahan garapan.
Berdasarkan data hasil survei kelayakan mitra tani tahun 2005 diketahui bahwa
sebagian besar petani berpendidikan hanya sampai sekolah dasar (SD) yakni
mencapai 83.3 persen. Adapun kisaran umur petani P3S adalah antara 30 sampai
60 tahun dengan jumlah sebanyak 87.5 persen dengan tingkat pendapatan cukup
rendah yakni rata-rata Rp. 300.000/bulan. Dari segi kepemilikan lahan, umumnya
para petani peserta adalah tuna kisma (tidak memiliki lahan garapan sendiri)
kalaupun memiliki hanya berkisar 0.1-0.2 Ha (LPS, 2006).
Tabel 6. Data Kelompok Tani Peserta Program Pemberdayaan Petani Sehat
Cluster Kabupaten Bogor
No. Kelompok
Jml. KT
Desa
Kecamatan Kabupaten
Tani*
1 Silih Asih
14 Petani Ciburuy
Cigombong Bogor
2 Tunas Inti
10 Petani Ciburuy
Cigombong Bogor
3 Lisung Kiwari
11 Petani Ciburuy
Cigombong Bogor
4 Manunggal Jaya 11 Petani Ciburuy
Cigombong Bogor
5 Saung Kuring
10 Petani Ciburuy
Cigombong Bogor
6 Lembur Kuring 08 Petani Cisalada
Cigombong Bogor
7 Harapan Maju
09 Petani Pasir Jaya Cigombong Bogor
8 Nurul Mazroah 08 Petani Pasir Jaya Cigombong Bogor
9 Waluya
10 Petani Tugu Jaya Cigombong Bogor
10 Tumeka
08 Petani Ciderum
Caringin
Bogor
11 Maju Jaya
10 Petani Muara Jaya Caringin
Bogor
12 Bersaudara
07 Petani Pasir Buncir Caringin
Bogor
13 Wanti Asih
10 Petani Cibalung
Cijeruk
Bogor
14 Mekar Sejahtera 08 Petani Cipelang
Cijeruk
Bogor
15 Sugih Mukti
10 Petani Cibalung
Cijeruk
Bogor
16 Barokah
05 Petani Cibalung
Cijeruk
Bogor
Sumber : Laporan akhir Tahun Program Pemberdayaan Petani Sehat, 2006 (LPS)

47

5.3.2. Program-Program Pemberdayaan di Kabupaten Bogor


1. Pemberian Subsidi Pengadaan Lahan Pertanian
Masalah utama petani di wilayah program adalah masalah kepemilikan
lahan, untuk itu salah satu paket bantuan program P3S adalah dengan pengadaan
lahan (sewa) untuk petani sasaran program. Setelah kelompok tani yang
memenuhi syarat terbentuk, selanjutnya adalah kegiatan penyewaan lahan garapan
untuk masing-masing peserta. Luasan lahan yang disewakan rata-rata seluas 2500
m2 untuk setiap petani atau 2.5 Ha untuk setiap kelompok. Petani disewakan
sawah selama satu tahun dengan harga sewa Rp. 4,000,000,-/Ha.

Untuk 16

kelompok tani dengan 149 anggota, tim telah berhasil menyewakan sawah kurang
lebih 40 Ha. Namun pada praktiknya, tidak semua anggota memperoleh
pembagian luas lahan 2500 m2. Hal ini karena tidak semua lahan yang disewakan
terletak pada satu hamparan yang luas.
Tabel 7. Data Sebaran Luasan Lahan Garapan Kelompok Tani Program
Pemberdayaan Petani Sehat, Cluster Kabupaten Bogor
Kelompok Tani
Luas
Desa
Kecamatan
Kabupaten
Lahan (m2)
Silih Asih
36.570
Ciburuy
Cigombong Bogor
Tunas Inti
27.400
Ciburuy
Cigombong Bogor
Lisung Kiwari
27.850
Ciburuy
Cigombong Bogor
Manunggal Jaya
27.000
Ciburuy
Cigombong Bogor
Saung Kuring
25.000
Ciburuy
Cigombong Bogor
Lembur Kuring
21.000
Cisalada
Cigombong Bogor
Harapan Maju
25.900
Pasir Jaya
Cigombong Bogor
Nurul Mazroah
19.500
Pasir Jaya
Cigombong Bogor
Waluya
28.600
Tugu Jaya
Cigombong Bogor
Tumeka
24.319
Ciderum
Caringin
Bogor
Maju Jaya
32.499
Muara Jaya
Caringin
Bogor
Bersaudara
15.301
Pasir Buncir
Caringin
Bogor
Wanti Asih
26.600
Cibalung
Cijeruk
Bogor
Mekar Sejahtera
19.500
Cipelang
Cijeruk
Bogor
Sugih Mukti
27.200
Cibalung
Cijeruk
Bogor
Barokah
13.500
Cibalung
Cijeruk
Bogor
Total Lahan
39.980
Sumber : Laporan akhir Tahun Program Pemberdayaan Petani Sehat, 2006 (LPS)

48

2. Pemberian Subsidi Biaya Olah Lahan Pertanian dan Sarana Produksi


Pertanian
Selain paket pengadaan lahan, petani program juga mendapatkan paket
bantuan berupa biaya garap langsung untuk proses pengolahan lahan berupa uang
tunai yang jumlahnya ditentukan berdasarkan standar yang berlaku dan luasan
sawah yang digarap oleh petani. Subsidi sarana produksi dan upah tenaga kerja
langsung hanya diberikan pada satu musim tanam, selanjutnya dari hasil panen
dan tabungan mereka dapat mengadakan sendiri sarana produksi dan modal kerja
bercocok tanam.

Upah tenaga kerja langsung diberikan untuk kegiatan

pengolahan lahan sampai dengan pemanenan.


Tabel 8. Subsidi Dan Upah Tenaga Kerja Langsung
No.
1
2
a
b
c
d*

e
3
a
b
c
d
e
f
g
h

Realisasi Subsidi
Luasan Lahan
Sarana Produksi
Benih Padi
Pestisida Nabati (PASTI)
Pupuk Organik Padat/Kompos
NPK Majemuk Plus
NPK Super
NPK Phonska/Kujang
Urea
Tenaga Kerja Langsung
Sewa Traktor/Bajak Tanah
Meluruskan Galengan/Mopok
Semai
Tandur/Tanam
Memupuk Dasar
Memupuk Susulan
Pengendalian Hama & Penyakit
Tenaga Panen
Biaya lain-lain/Pengangkutan
Total Biaya Kerja

Subsidi per Ha
Satuan
10,000 m2
25
5
1250
150
100
200
50
600,000
300,000
150,000
450,000
200,000
200,000
150,000
550,000
200,000
2,800,000

Kg
Liter
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
1 Paket
24 HOKP
12 HOKP
45 HOKW
16 HOKP
16 HOKP
12 HOKP
44 HOK
16 HOKP

Ket. : * Masing-masing petani hanya mendapatkan 1 jenis pupuk NPK sebagai sarana uji coba

Sumber : Laporan akhir Tahun Program Pemberdayaan Petani Sehat, 2006 (LPS)

49

Subsidi sarana produksi yang diberikan adalah : pupuk NPK, pupuk


kompos, pestisida nabati, benih dan lahan seluas rata-rata 2500 m2 yang
disewakan selama satu tahun (dua musim tanam).

Pemberian subsidi sarana

produksi pertanian diberikan dalam bentuk barang yang pengadaannya dilakukan


oleh tim LPS. Untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam pendistribusian
paket program, pendamping diberi tanggung jawab untuk melakukan kontrol
terhadap seluruh proses distribusi.
3. Pelatihan Pengenalan dan Implementasi Teknologi Pertanian
Kegiatan pelatihan dilakukan sebelum musim tanam tiba.

Pelatihan

bertujuan untuk memberikan informasi dan transfer teknologi pertanian sehat


sehingga dapat diterapkan di lapangan. Materi pelatihan terdiri dari : kegiatan
bercocok tanam PTT (Pola Tanam Terpadu) dengan teknik legowo dan
penggunaan bibit muda, pelatihan teknik dan praktik pembuatan kompos dengan
memanfaatkan limbah ternak dan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan
untuk pupuk serta teknik dan praktik pembuatan pestisida nabati sebagai
pengendali hama tanaman.
Tabel 9. Silabus Umum Materi Pembinaan Petani Sehat 2006
No. Materi Umum
Frekuensi Waktu
1 Teknologi Pupuk Alami
Insidental
2 Teknologi Pestisida Nabati
Insidental
3 Manajemen Penguatan KT
Insidental
4 Motivasi diri
Per-minggu/Per-bulan
Sumber : Laporan akhir Tahun Program Pemberdayaan Petani Sehat, 2006 (LPS)

4. Proses Kegiatan Pendampingan Budidaya Petani


Varietas padi yang ditanam petani sangat beragam dan semuanya
merupakan varietas unggul yang memiliki sifat beras yang baik. Untuk beras
dengan sifat pulen ditanam padi dengan varietas IR-64, Situbagendit, Bondoyudo

50

dan Ciherang sedangkan untuk memperoleh beras yang wangi diperoleh dari
varietas padi Sintanur, Pandan Wangi, Pandan Putri dan Situ Patenggang.
Selama dalam proses budidaya padi, proses pendampingan selalu
dilakukan, baik yang bersifat rutin pertemuan kelompok ataupun yang tidak rutin
berupa kunjungan ke lokasi pertanaman maupun kunjungan ke rumah-rumah
petani. Pendampingan rutin dilakukan melalui pertemuan kelompok setiap satu
minggu sekali secara bergiliran. Untuk 16 kelompok tani binaan didampingi oleh
tiga orang pendamping program dan dua orang PPS dan PPL. Proses transfer
teknologi tepat guna dalam budidaya padi ramah lingkungan disampaikan melalui
pertemuan kelompok.
Selain pemberian materi mengenai teknologi tepat guna, juga dilakukan
penggalian hambatan-hambatan yang dihadapi oleh petani baik itu mengenai
kegiatan program maupun mengenai kondisi pertanaman untuk dicarikan
solusinya. Dalam setiap pertemuan juga diarahkan untuk meningkatkan dinamika
dalam kelompok untuk proses pembelajaran mengeluarkan pendapat bagi petani.
Selain materi tersebut juga disampaikan mengenai aturan-aturan yang telah
disepakati selama kegiatan program berlangsung, misalnya mengenai kewajiban
menabung 40 persen dari hasil panen.
5. Penginisiasian dan Pengembangan Kelembagaan Petani Program (LTS)
Untuk menjaga agar program ini dapat senantiasa berjalan secara
berkelanjutan maka dibutuhkan strategi untuk tetap menjaga keberlangsungannya.
Maka dibuat kesepakatan bahwa setiap petani wajib menabung sebanyak 40
persen dari hasil panennya. Pada awalnya tabungan tersebut akan digunakan
untuk menyediakan sewa lahan pada tahun berikutnya. Kegiatan menabung para

51

petani dikoordinasi oleh lembaga Lumbung Tani Sehat (LTS) yang akan
melakukan kolekting tabungan dan pencatatan secara teratur. Tabungan petani
yang disimpan dalam LTS sudah dalam bentuk uang, dalam hal ini LTS
bekerjasama dengan mitra penggilingan Gapoktan Silih Asih.

Gabah kering

panen (GKP) tabungan petani akan dijual ke mitra sebagai bahan baku beras SAE.
Hal ini dilakukan karena LTS belum mempunyai fasilitas untuk pengolahan gabah
petani.

52

VI. KERAGAAN DAN KINERJA KELEMBAGAAN AGRIBISNIS


USAHATANI PADI SEHAT

6.1. Kelembagaan Permodalan


Akibat meredupnya KUD, organisasi ekonomi yang kemudian muncul
dan berkembang di pedesaan umumnya adalah penjual saprodi, pedagang pembeli
gabah petani dan pengolah hasil pertanian seperti usaha Rice Milling Unit (RMU).
Organiasi tadi pada umumnya dikendalikan secara perorangan dan hanya sedikit
yang dikelola secara kolektif atau mengikuti pola koperasi. Cara kerja mereka
umumnya didasarkan pada dua ciri, yang pertama, mengikuti pola hubungan jual
beli. Kedua, mengikuti pola hubungan patronase yang didasarkan pada ikatan
kepercayaan personal antara "Sang Patron" dan "Klien"-nya. Sang patron
umumnya adalah para penguasa tanah atau pemilik kapital di pedesaan, sedangkan
klien adalah petani kecil (berlahan sempit) dan petani tak bertanah (Pranadji,
2003).
Hilangnya KUD di pedesaan menyebabkan terjadinya kekosongan
kelembagaan, terutama kelembagaan ekonomi. Hal serupa terjadi di lokasi
penelitian. Tidak ada kelembagaan pertanian yang berpihak pada kepentingan
kolektif dalam membantu masalah permodalan, penyediaan dan penyaluran
saprodi sampai pada pengolahan hasil produksi mereka. Oleh karena itulah,
keberadaan LPS dengan program P3S-nya menjadi tumpuan bagi mereka untuk
terbangunnya kelembagaan yang lebih bagus dan mengakar. Namun itu semua
membutuhkan waktu dalam berproses, seperti apa yang terjadi di lapangan, belum
semua sisi kebutuhan petani tertangani oleh kelembagaan yang dibangun LPS.

53

Begitupun kelembagaan yang dibangun LPS bersama kelompok taninya, belum


semuanya diikuti sepenuhnya oleh petani anggotanya. Dan dari jangkauan
program, apa yang diprakarsai oleh LPS baru terbatas pada kelompok tani binaan
saja, belum menjadi kelembagaan pedesaan yang menjadi bagian dari kehidupan
ekonomi masyarakat desa secara keseluruhan.
Peran kelembagaan LPS dalam pengadaan permodalan dan pengadaan
saprodi yang pertama adalah memberikan bantuan modal sewa lahan selama satu
tahun dan biaya produksi selama satu musim (lihat tabel 5. dan tabel 6.). LPS
dengan mitranya, kelompok tani yang mereka bentuk, mampu menyalurkan dana
sehingga sampai pada orang dan pemakaian yang tepat. Tidak adanya kebocoran
dan penyimpangan dana tersebut karena adanya kontrol yang ketat dari
pendamping yang sengaja ditunjuk oleh LPS. Hal itu yang kurang terjadi pada
program bantuan atau pinjaman modal yang selama ini ada, tidak ada kerjasama
antara lembaga permodalan dengan pendamping lapang. Karena pada faktanya
KUD dengan dinas terkait pendamping lapang adalah organ yang berbeda.
Untuk

mengelola

permodalan

petani,

LPS

membentuk

sebuah

kelembagaan yang bernama Lumbung Tani Sehat (LTS). Ada dua kegiatan pokok
dalam kelembagaan LTS, yaitu

kegiatan simpanan atau tabungan tani dan

pengolahan produk gabah menjadi beras kepala bebas pestisida atau beras SAE
(dibahas dalam sub bab kelembagaab panen). Tabungan tani diambil dari 40
persen hasil panen dalam bentuk Gabah Kering Panen yang di setor ke LTS dan
dikonversi dalam rupiah sesuai harga yang berlaku. Kegunaan tabungan adalah
untuk simpanan sewa lahan tahun berikutnya dan biaya produksi usahatani berupa
pembelian saprodi dan biaya lainnya.

54

Kelembagaan tabungan tani di kelompok tani di desa Ciburuy dan Pasir


Jaya melibatkan penggilingan padi mitra LPS di desa Ciburuy, yang menerima
dan mengelola gabah petani, dan pendamping dari LPS yang mendata dan
memegang keuangannya. Sementara ketua kelompok tani hanya membantu kedua
pihak tadi agar petani mau menyetorkan gabah ke LTS di penggilingan. Berbeda
halnya dengan penarikan tabungan tani di kelompok Maju Jaya dan Tunas Mekar,
ketua kelompok menjadi mitra langsung bagi pendamping LPS dalam menarik
dan menampung tabungan dari petani.
Di kedua kelompok terakhir, panen dari petani langsung dikoordinir oleh
ketua kelompok ke penggilingan mitra mereka masing-masing tapi bukan mitra
LPS untuk mengelola LTS. Empat puluh persen gabah tabungan petani langsung
di jual ke penggilingan tersebut, dan uangnya langsung dipegang ketua untuk
dilaporkan ke pendamping sebagai tabungan petani. Dari hasil panen itu petani
tinggal terima bersih enam puluh persen dalam bentuk uang dan atau beras.
Untuk menarik tabungan guna keperluan modal usahatani di kelompok
tani desa Pasir Jaya dan Ciburuy juga dilayani oleh penggilingan langsung, yang
bekerja sama dengan koperasi Gapoktan Lisung Kiwari, atau pendamping. Karena
lokasi yang agak jauh dari penggilingan di desa Ciburuy, anggota kelompok tani
Harapan Maju, desa Pasir Jaya ada yang menarik tabungan hanya dalam bentuk
uang dan belanja saprodinya di lakukan di toko saprodi yang lebih dekat dengan
lahan mereka. Sedangkan di kelompok tani Maju Jaya dan Tunas Mekar dilayani
langsung oleh ketua kelompok masing-masing, termasuk dalam pengadaan
saprodinya.

55

Tabel 10. Pengelolaan Modal Petani Melalui Sistem Tabungan Tani


Kelompok
Tabungan Pendapatan Asal Biaya
Asal Biaya
Tani
Tani (TT)
Petani (PP) Sewa Lahan
Produksi
Silih Asih
40% TP
60% TP
TT
TT & PP
Manunggal Jaya
40% TP
60% TP
TT
TT & PP
Lisung Kiwari
40% TP
60% TP
TT
TT & PP
Harapan Maju
40% TP
60% TP
TT
TT & PP
Maju Jaya
65% TP
35% TP
TT (30% TP)
TT (35 TP)
Tunas Mekar
40% PB
60% PB
TT
TP - PB
Ketarangan : TP = Total Panen dalam bentuk GKP, PB = Panen Bersih (TP Biaya Produksi)

Sumber : diolah dari data primer

Dalam perkembangan terakhir, sistem penghitungan tabungan tani


berbeda-beda antar kelompok. Di empat kelompok dari kecamatan Cigombong
menerapkan sistem 40 persen dari total panen ditabung untuk sewa lahan dan
biaya usahatani dan sisanya dibawa petani sebagai hasil panen. Sementara di
kelompok tani Maju Jaya sudah menerapkan sistem baru yaitu 30 persen dari total
panen ditabung untuk sewa lahan, 35 persen ditabung untuk pembiayaan usahatani
dan 35persen dibawa pulang oleh petani sebagai hasil. Adapun di kelompok tani
Tunas Mekar, pembiayaan usahatani musim panen terkhir dibayar dari hasil panen
tersebut, baru setelah total panen dipotong dengan pemakaian biaya usahataninya,
diambil tabungan 40 persen cadangan sewa lahan. Dari semua kelompok tani
tersebut berlaku bahwa sisa tabungan tani dapat diambil atau dipakai untuk
keperluan lain dan kekurangan pembiaayaan karena kurangnya tabungan tani
musim panen terakhir akan diambil dari tabungan musim panen berikutnya.
6.2. Kelembagaan Penyediaan Input
Penyediaan dan penyaluran pupuk kimia bagi anggota kelompok tani di
desa Ciburuy melibatkan kelembagaan koperasi Gapoktan Lisung Kiwari. Petani
mengambil langsung barang ke koperasi. Di Kelompok Tani Harapan Maju
melibatkan kelembagaan penjual pengecer dan ada juga yang ke koperasi

56

Gapoktan. Koperasi Gapoktan belum bisa menjangkau semua kelompok tani


diluar desa Ciburuy, apalagi yang berada di luar kecamatan Cigombong, seperti di
kelompok tani Maju Jaya dan Tunas Mekar, penyediaan dan penyaluran pupuk
dikoordinir langsung oleh ketua kelompok yang barangnya diperoleh dari toko
penyedia saprotan terdekat. Harga yang diperoleh petani relatif sama untuk semua
jenis pupuk dari jalur tersebut.
Kelembagaan yang terlibat dalam penyediaan pupuk kimia di atas
kelembagaan koperasi Gapoktan, pedagang pengecer ataupun ketua kelompok tani
adalah kelembagaan toko penyalur, kelembagaan distributor atau pedagang besar
baru kemudian kelembagaan pabrik pupuk. Dapat dilihat bahwa kelembagaan
penyalur langsung pupuk kimia kepada petani minimal berada pada tingkat ke
empat dari rantai kelembagaan yang ada. Hal itu berarti bahwa pada subsistem
penyediaan input berupa pupuk kimia masih tergantung, dari sisi supply dan
harganya, kepada empat tingkat dari rantai penyediaan yang ada.
PABRIK PUPUK

DISTRIBUTOR

PENYALUR

PENGECER

KETUA KT

KOP. GAPOKTAN

P E T A N I
Gambar 5. Rantai Kelembagaan Penyediaan Pupuk Kimia Bagi Petani Binaan
Lembaga Pertanian Sehat

57

Adapun dalam penyediaan benih padi, petani relatif lebih mandiri karena
didukung oleh keberadaan koperasi Gapoktan sebagai penyalur dan produsen
benih bersertifikat pengembangan dari LPS. Sehingga harga dan ketersediaannya
pun terjangkau dan terjamin. Bahkan kelompok tani Tunas Mekar mampu
menyediakan sendiri benih unggul dengan melakukan peranakan sendiri dari
benih unggul varietas Situbagendit yang semula berasal dari bantuan LPS.
Produksi input lain berupa pupuk kompos, pestisida nabati dan produk
input organik lainnya di tangani oleh devisi tersendiri. Beberapa dari hasilnya
sudah dipasarkan ke masyarakat umum melalui devisi pemasarannya. Adapun
yang terkait dengan kebutuhan petani binaannya terhadap produk tersebut, LPS
melalui devisi pendampingannya telah berhasil mengajarkan proses pembuatan
beberapa input yang dianggap penting bagi petani. Sehingga untuk kebutuhan
pupuk organik dan pestisida nabati sudah dapat dibuat sendiri atau kolektif dalam
kelompok tani masing-masing.
6.3. Penerapan Teknologi Petani Dan Kelembagaan Di Tingkat Petani
Kelembagaan di tingkat petani yang eksis di pedesaan Jawa Barat terbatas
pada kelembagaan yang menangani pengaturan air irigasi, yaitu kelembagaan P3A
Mitra Cai. Sedangkan kelembagaan kelompok tani ada yang aktif dan ada yang
sudah tidak aktif lagi. Dinamika kelompok terbatas pada media transfer teknologi,
membantu dalam pengaturan air irigasi, melakukan pengolahan tanah dengan
traktor dengan cara terkoordinir, dan membantu serta turut menagnani programprogram pembangunan pertanian di desanya (Saptana, et.al., 2003).
Program P3S yang dilaksanakan oleh LPS telah berhasil memperluas
peran kelompok tani yang semula statis atau bahkan tidak ada, seperti hasil kajian

58

Saptana, et.al. (2003). Selain apa yang telah dijelaskan di atas, hasil kajian di
tempat penelitian menunjukkan peran kelompok tani yang cukup besar dalam
mendukung para petani anggotanya dalam memperoleh akses terhadap
permodalan dan lahan, serta mempermudah distribusi saprotan yang dilakukan
secara terkoordinir. Kelompok tani juga menjadi wadah yang efektif bagi para
petani dalam memecahkan masalah bersama serta dalam berkomunikasi dengan
pihak luar terutama dengan LPS. Seperti yang dilakukan oleh kelompok tani
Tunas Mekar yang memotong sebagian penghasilan anggota kelompoknya untuk
membantu pengembalian modal anggota kelompok lain yang gagal panen akibat
gangguan alam.
Bahkan kelompok tani peserta program P3S, LPS di Desa Muara Jaya dan
Ciderum, Kecamatan Caringin, telah mampu mengelola permodalan bersama
secara baik. Hal itu ditunjukkan dengan kemampuan mereka memanajemen
tabungan tani dari anggotanya dalam satu tahun, sehingga jatah tabungan untuk
sewa lahan mereka mengalami surplus dan dapakai untuk menambah lahan
sewaan yang kemudian diberikan kepada petani lain yang belum memiliki lahan
garapan. Hal itu menunjukkan prestasi kelembagaan kelompok tani tersebut dalam
mewujudkan masyarakat komonitas dengan mengutamakan hubungan personal
pada pola ekonomi partikularistik. Yaitu lebih melihat manusia dengan hubungan
sosialnnya daripada barang, jasa atau uangnya (gemeinschaft).
Sementara itu, kelembagaan tenaga kerja yang berlangsung di lokasi
penelitian adalah kelembagaan upahan harian dan borongan. Upahan untuk tenaga
kerja tambahan pengolahan lahan, penanaman dan penyiangan. Sedangkan sistem
borongan berlaku untuk pemanenan dan khusus di kelompok tani Tunas Mekar

59

pembajakan menggunakan traktor juga memakai sistem borongan. Tidak ada


kelembagaan bawon di sini.
Adapun aplikasi teknologi yang dilaksanakan oleh petani dapat dijadikan
parameter dalam mengkaji pengaruh faktor kelembagaan, baik kelembagaan
kelompok tani maupun kelembagaan lain yang ada terutama kelembagaan
pendampingan dan penyuluhan. Untuk menggambarkan kinerja kelembagaan
kelompok tani maka dapat dilakukan perbandingan antar kelompok dalam aplikasi
teknologi yang dilaksanakan oleh petani anggotanya. Dalam penelitian ini tidak
diuraikan secara detail semua proses budidaya yang dilaksanakan oleh petani,
namun hanya pada penerapan teknologi yang menggambarkan adanya peran
faktor kelembagaan.
Persemaian
Persemaian dilakukan sekitar 25 hari sebelum masa tanam, persemaian
dilakukan pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah yang
akan ditanami, hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap dipindah, waktu
dicabut dan akan ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka
bibit yang diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati.
Benih yang dibutuhkan untuk ditanam pada lahan seluas satu hektar
menurut anjuran LPS sebanyak 8-15 Kg, namun petani mamakai rata-rata hampir
tiga kali lipatnya, antara 33-41 kg/ha. Sedangkan bila dirata-rata per kelompok
berkisar antara 34,9-41 kg/ha. Kelompok dengan rata-rata pemakaian benih
tertinggi adalah kelompok Harapan Maju. Sedangkan benih yang digunakan ada
tujuh varietas yaitu Pandan Wangi, Cibogo, IR64, Banjar, Gilirang, Situbagendit
Dan Bandayadha.

60

Tabel 11. Teknologi Pembenihan yang Diterapkan di Setiap Kelompok Tani


Aktivitas
Kelompok Tani
Silih
Manung- Lisung Harapan
Maju
Tunas
pembenihan
Asih

Jumlah rata-rata benih


33.51
per ha (kg)
Varetas benih (%)
Banjar
17
Bandayudha
Cibogo
33
Gilirang
IR64
17
Pandan Wangi
33
Situbagendit
Asal benih (%)
Petani
17
Kelompok tani
Koperasi Gapoktan
83
Sumber : diolah dari data primer

gal jaya

Kiwari

Maju

Jaya

Mekar

35.44

34.90

40.38

41.19

37.34

20
80

20
80

50
50

67
33

100

100

20
80

25
75

100

100
-

Hampir semua petani dari lima kelompok tani memakai benih yang
disediakan oleh koperasi gapoktan Lisung Kiwari yang berada di Desa Ciburuy,
Kecamatan Cigombong, hanya 10 persen yang memakai dari petani sendiri atau
petani lain. Adapun khusus kelompok tani Tunas Mekar di Desa Ciderum,
Kecamatan Caringin, melakukan penangkaran bibit unggul dari varietas
Situbagendit sendiri untuk kebutuhan anggota kelompoknya.
Pangolahan lahan
Dalam pengolahan lahan tidak ada perbedaan nyata antar petani binaan,
mereka semua menerapkan teknologi olah lahan yang relatif sama. Pengolahan
lahan dimulai dari tahap pemopokan, yaitu memperbaiki galengan dan parit,
sebelum lahan dibajak. Pembajakan sendiri mencakup pembajakan --pembalikan
tanah-- dan penggaruan dengan bantuan alat traktor atau bajak tenaga ternak.
Secara umum petani sebenarnya memilih memakai traktor dalam proses
bembajakan karena efisiensi biaya. Biaya pembajakan menggunakan traktor rata-

61

rata perhari kerja sebesar seratus duapuluh lima ribu rupiah yang kurang lebih
setara dengan tiga hari kerja bajak ternak. Sementara ongkos bajak ternak sendiri
adalah limapuluh ribu rupiah per hari. Di tambah lagi petani juga harus
mengeluarkan minimal rokok dan kopi setiap hari kerjanya. Namun, kendala yang
dihadapi petani dalam memanfaatkan traktor adalah keterbatasan jumlah traktor
yang tidak mampu memenuhi semua permintaan petani dan kendala kondisi lahan.
Ada lahan-lahan tertentu yang dari lokasi atau kondisi tanahnya tidak bisa di bajak
dengan traktor. Khusus untuk petani di Kelompok Maju Jaya, baru mulai musim
tanam 2008 mereka atau di lokasi mereka memiliki traktor, sebelumnya mereka
memakai ternak.
Pada saat pembajakan lahan, harus disertai dengan pencangkulan
dilanjutkan dengan penyorongan guna meratakan tanah dan memastikan jerami
kering, atau yang sudah dibusukkan, masuk ke dalam tanah. Lama proses
pencangkulan biasanya mengikuti lamanya pembajakan. Proses selanjutnya
adalah penggarukan atau pembuatan alur tanam. Teknologi penggarukan ini
adalah teknologi baru yang didapatkan oleh petani dari pembinaan LPS.
Sebelum dibina oleh LPS mereka tidak melakukan penggarukan, hasilnya,
tanaman mereka tidak teratur. Peggarukan ini bertujuan mengatur jarak tanam dan
merapikan tanaman. Manfaat dari teknologi baru ini selain memudahkan dalam
proses penanaman dan penyiangan, jumlah anakan vegetatif dari bibit yang
ditanam juga semakin banyak.
Penanaman dan Pemeliharaan
Satu paket dengan penggarukan, teknologi baru yang di dapat petani dari
proses pembinaan LPS adalah dalam pengaturan jarak tanam memakai sistem

62

legowo dan jumlah bibit perlubang yang ditanam. Sistem legowo adalah
pemberian jarak antar beberapa baris tanaman, tujuannya untuk mengatur
pengairan, memaksimalkan pertumbuhan anakan vegetatif bibit padi dan
mempermudah penanggulangan gulma dan hama lainnya.
Teknologi ini tidak semuanya dapat deterapkan oleh petani karena kendala
petakan lahan yang kecil atau kondisi pengairan yang tidak mendukung. Menurut
ketua kelompok tani Tunas Mekar, kelompokknya tidak menerapkan sistem
legowo ini karena kondisi pengairan mereka yang tidak besar, sehingga tanpa
sistem legowo pun, pengairan mereka sudah terjaga, atau istilah mereka macakmacak, tidak tergenang. Selain itu, penerapan sistem ini menambah tenaga kerja.
Untuk mengganti itu, mereka memakai sistem jarak tanam caplak dengan jarak
baris tanam yang diperlebar. Dilihat dari hasilnya, menurut dia, penggantian
teknonogi itu cukup efisien.
Kendala lain adalah dalam pengaturan jumlah bibit per lubangnya.
Anjuran dari LPS adalah satu sampai dua bibit per lubang. Namun dalam
praktiknya jumlah bibit yang mereka tanam menurut penuturan petani berkisar
antara dua sampai tiga per lubang. Hal itu dilakukan dengan karena mereka
menghadapi serangan hama keong mas yang memakan bibit anakan mereka.
Sehingga lebih aman kalau mereka melebihkan bibit yang mereka tanam. Namun
apabila dilihat dari pemakaian binih per satuan luas yang mereka pakai, jumlah itu
masih belum setara dengan banyaknya benih. Ada satu alasan yang dalam
penelitian ini belum bisa ditelusuri secara langsung yaitu, jumlah bibit sebenarnya
yang ditanam oleh buruh tanam.

63

Sistem penanaman yang di pakai oleh petani binaan LPS adalah sistem
tapin atau tanam pindah, tidak ada petani yang memakai sistem tanam benih
langsung atau tabela. Kelembagaan kerja penanaman pada lokasi penelitain adalah
memakai buruh tanam wanita secara upahan. Kemungkinan terjadi kesalahan
informasi antara buruh tanam dengan penyuluh dari LPS dan petani sangat besar.
Hal itu dikarenakan para buruh tanam tidak mendapatkan penyuluhan dari LPS
dan dari fakta di lapangan, petani binaan LPS juga kurang memperhatikan
pemahaman buruh tanam mereka tentang jumlah ideal bibit per lubang. Hal ini
mungkin bisa menjadi perhatian khusus bagi LPS ataupun pateni agar teknologi
baru yang diperkenalkan LPS kepeda petani efektif terlaksana.
Penyiangan dilakukan petani sebanyak dua kali salama satu musim tanam,
hanya tiga persen petani yang melakukannya sekali. Penyiangan pertama
dilaksanakan pada kisaran umur 20 sampai 30 hari sementara penyiangan kedua
pada umur 35 sampai 60 hari. Seperti dalam penanaman, tenaga penyiangan pada
umumnya adalah wanita dengan sistem upahan. Waktu penyiangan sangat
bervariasi antar petani, bukan antar kelompok. Begitu pula dalam pelaksanaan
pemupukan,

terutama

pupuk

kimia.

Ada

kesamaan

dalam

frekuensi

pemupukannya, yaitu dua kali setelah penanaman, namun waktu pelaksanaannya


bervariasi antar petani. Sementara dalam hal pemakaian jenis pupuk, perbedaan
nyata terjadi antar kelompok.
Semua responden dari tiga kelompok tani di Desa Ciburuy, kecamatan
Cigombong hanya memakai pupuk kemia berupa Urea dan SP 36 saja, hanya dua
orang petani dari kelompok tani Manunggal Jaya yang memakai tambahan KCl.
Berbeda dengan kelompok tani Harapan Maju, Desa Pasir Jaya, Kecamatan

64

Cigombong, mereka memakai ketiga jenis pupuk tersebut, hanya satu orang petani
yang tidak memakai KCl.
Dinamika antar kelompok tani semakin terlihat jelas apabila kita
membandingkan pula pemakaian pupuk kimia di dua kelompok lainnya di
Kecamatan Caringin. Kelompok tani Maju Jaya, Desa Muara Jaya, semua anggota
kolompuknya yang tersurvei serempak memakai pupuk Urea, SP 36 dan Phonska
yang mengandung unsur NPK. Sedangkan kelompok tani Tunas Mekar, Desa
Ciderum, sebagian besar anggotanya memakai semua jenis pupuk kimia berupa
Urea, SP 36, KCl dan Phonska. Namun apabila dilihat dari pengaturan dosis
pemupukan, takarannya sangat bervariasi antar petani.
Tabel 12. Teknologi Pengolahan Lahan yang Diterapkan di Setiap Kelompok Tani
Kelompok Tani
Aplikasi Teknologi
Silih
Asih

Manung- Lisung Harapan


gal jaya Kiwari
Maju

Maju
Jaya

Tunas
Mekar

Alat Pembajakan (%)


Traktor
50
100
60
83
Ternak
50
40
100
100
17
Sistem Jarak Tanam (%)
Legowo
33
80
60
75
33
Caplak
67
20
40
25
67
100
Jarak tanam (%)
20 x 20 cm
33
20
20
75
60
25 x 12,5 cm
50
60
20
25 x 20 cm
20
20
25
20
100
30 x 15 cm
17
40
20
Pemakaian Input (%)
Urea
100
100
100
100
100
100
SP 36
100
100
100
100
100
67
KCl
0
40
0
75
0
100
Phonska
0
0
0
0
100
83
P Organik *
100
100
100
100
100
100
Pestisida Nabati
17
0
40
75
100
100
*) Yang termasuk sebagai pupuk organik adalah pupuk kandang ataupun jerami yang dimasukkan
kembali ke lahan saat pengolahan lahan, baik yang dikompos atau tanpa pengolahan.

Sumber : diolah dari data primer

65

Dalam penentuan dosis pemupukan di setiap kelompok sangat beragam.


Selain dalam masalah pengukuran jumlah benih, dalam hal pemupukan juga
terlihat belum adanya keseragaman antar anggota dan antar kelompok. Begitu
pula dalam pemberian pestisida nabati.
Secara umum sebenarnya tanaman petani tidak ada serangan hama. Oleh
karena itu sebagian petani dari kelompok tani di desa Ciburuy tidak memberikan
pestisida pada tanaman padi mereka. Namun, di kelompok lain, seperti masih
menjadi kebiasaan tanpa melihat kebutuhan akan pemakaian pestisida tersebut,
apakah perlu atau tidak. Hal itu mungkin dikarenakan petani dapat membuat
sendiri pestisida nabati tanpa pengeluaran biaya yang berarti. Akan tetapi, apabila
dilihat dari sisi efisiensi, hal itu merugikan.
Tabel 13. Dosis Rata-Rata Pemakaian Pupuk dan Pestisida Nabati Kelompok Tani
Kelompok
Urea
SP 36
KCl
Phonska
P.ORG PASTI
Tani
(kg)
(kg)
(kg)
(kg)
(kg)
(L)
Silih Asih
Manunggal Jaya
Lisung Kiwari
Harapan Maju
Maju Jaya
Tunas Mekar

142.03
164.71
144.62
204.62
155.95
155.87

119.42
72.82
96.68
70.77
57.65
32.67

0.00
12.09
0.00
41.02
0.00
34.84

0.0
0.0
0.0
0.0
43.47
55.40

2910.38
2724.67
2551.62
3123.08
3324.15
3081.75

0.67
0.00
1.22
2.42
3.84
3.88

Ketetangan : P.ORG = pupuk organik, PASTI = pestisida nabati

Sumber : diolah dari data primer


6.4. Pemanenan Dan Kelembagaan Borongan Panen
Dalam menentukan masa panen, petani di semua kelompok sudah
mengerti bahwa hasil padi yang bagus saat dipanen adalah ketika padi sudah
menguning dan merunduk sementara daunnya masih hijau. Waktu pemanenan di
kelompok-kelompok tani binaan LPS tidak serempak dikarenakan waktu tanam
yang berbeda pula, hal itu sengaja dilakukan untuk mengurangi risiko fluktuasi
harga gabah dan menjaga pasokan gabah untuk bahan baku beras SAE kontinu.

66

Sistem pemanenan di lokasi penelitian ini tidak memakai sistem bawon


seperti yang dilaksanakan di daerah lain, tetapi memakai sistem borongan. Panen
tidak dilakukan sendiri melainkan oleh pemborong yang memang berprofesi kerja
seperti itu. Jumlah pemborong tergantung luas lahan dan berasal dari petani padi
lain atau memang sekedar buruh borong panen. Penghitungan nilai borongan yang
berlaku sekarang adalah 150 rupiah per kilogram gabah kering panen dan
ditambah biaya angkut ke jalan atau tempat penggilingan sebasar 50 rupiah per
kilogram untuk lahan yang jaraknya jauh dari jalan atau penggilingan.
Tabel 14. Perlakuan dan Sistem Pemanenan yang Dilaksanakan Petani
Perlakuan Panen
Penerapan
Penentuan panen
Gabah kuning, daun masih hijau
Cara panen
Poto ng bawah
Alat panen yang digunakan
Sabit biasa
Sistem panen
Borongan
Besar borongan
Rp. 150,-/kg GKP
Cara perontokan
Digebot tanpa tirai
Jumlah bantingan
5 7 kali
Besar genggaman
Satu genggaman lebih besar
Penampian
Tidak dilakukan
Sumber : diolah dari data primer
Kelemahan dari sistem borongan ini adalah kejar cepat selesai, sehingga
petani juga tidak bisa menjamin penggebotan dilakukan dengan sempurna agar
semua gabah rontok dari tangkainya. Risiko dari sistem ini tentunya nilai
rendemen gabah yang berkurang apabila perontokan tidak sempurna. Karena
sistem borongan ini pula sehingga tidak dapat didapat informasi yang valid dari
petani tentang jumlah bantingan dan besar genggaman dalam setiap penggebotan.
Padahal besar kecilnya genggaman dan jumlah bantingan menentukan besar
kecilnya rendemen. Ketidak-valid-an informasi ini menggambarkan bahwa petani
belum memperhatikan faktor ini, dan disarankan kedepannya petani mengontrol
aktivitas pemanenan ini agar diperoleh rendemen yang lebih besar.

67

Ditambah lagi teknik pemanenan yang dilakukan menggunakan alat


potong sabit biasa tidak sabit khusus yang bergerigidan dipotong bawah. Bagi
pemanen, potong bawah lebih mudah dan cepat dalam pemotongan dan lebih enak
dalam penggebotannya kerena tidak terlalu membunggkuk. Akan tetapi kualitas
bantingannya akan lebih efektif yang dipotong tengah apalagi bila dipotong atas
memakai ani-ani. Dalam penggebotan, pemanen memakai alat penggebotan dari
kayu tanpa tirai, sehingga kemungkinan gabah tercecer dan bercampur dengan
rontokan daun lebih besar dibanding memakai tirai.
6.5. Kegiatan Penanganan Pasca Panen Dan Kelembagaan Pengolahan
Hampir semua petani di enam kelompok yang diteliti menjual langsung
hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen. Sehingga tidak ada nilai tambah
dari hasil panen mereka. Hanya sebagian petani dikelompok tani Harapan Maju
dan kelompok tani yang berada di desa Ciburuy tidak menjual gabahnya dan
menyimpannya dalam bentuk gabah kering giling untuk cadangan konsumsi
mereka. Gabah tersebut mereka jumur di penggilingan juga atau di lokasi sekitar
rumah mereka. Alas pengeringan di pengilingan adalah lantai semen, sementara di
rumah memakai alas terpal. Di kolompok tani Maju Jaya, semua petani menjual
hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen, sehingga tidak ada yang
melakukan penjemuran ataupun penyimpanan. Hal itu disebabkan karena
penghitungan hasil panen, agar diketahui nilai tabungan petani, dilakukan di
penggilingan yang terletak jauh dari desa mereka. Mesipun hal itu menjadi cara
yang sistematis bagi kelompok untuk dapat menarik tabungan tani dari setiap
anggotanya.

68

Pengolahan lebih lanjut menjadi beras, terhadap beras petani, dilakukan di


penggilingan di desa Ciburuy yang dijadikan mitra oleh LPS untuk memproduksi
beras sehat kepala berlabel beras SAE yang kemudian dipasarkan oleh LPS.
Bahan baku gabah bebas pestisida di ambil diri kelompok tani dari desa Ciburuy
dan Pasir Jaya, dalam bentuk tabungan tani dan gabah bagian petani yang dijual
petani. Apabila masih kurang biasanya penggilingan membeli gabah dari
kelompok tani Tunas Mekar. Di kelompok tani Tunas Mekar, gabah dari petani
diolah menjadi beras curah biasa oleh penggilingan mitra kelompok (Lihat Tabel
3).
Nilai tambah dari pengolahan ini, baik di kelompok tani di desa Ciburuy
dan Pasir Jaya ataupun di kelompok tani Tunas Mekar, akan dibagi ke petani
dengan penghitungan yang sudah disepakati. Sementara itu, di Kelompok Maju
Jaya hasil panen petani langsung dijual ke penggilingan dalam bentuk gabah
kering panen, tanpa tahap pengolahan lebih lanjut oleh petani dan karena
penggilingan tempat menjual hasil panennya bukanlah mitra kelompok. Sehingga
bagi kelompok ini tidak ada nilai tambahan dari pengolahan hasil panen mereka.
6.6. Kelembagaan Pemasaran dan Distribusi
Pemasaran hasil produksi padi yang ditangani oleh Devisi Pemasaran dan
Distribusi LPS hanya hasil panen yang telah diolah menjadi beras SAE.
Sementara hasil panen sebagian besar kelompok di luar Kecamatan Cigombong,
sebanyak delapan kelompok, dijual ke penggilingan dalam bentuk GKP, selain
untuk kebutuhan sendiri. Sehingga potensi pendapatan dari nilai tambah
pengolahan beras sehat masih belum terkelola secara optimal. Karena belum

69

maksimalnya sektor pengolahan, penjualan beras SAE pada tahun 2007 mencapai
88,318 ton atau mencapai 74 persen dari target 120 ton
Selain menyalurkan produk Beras SAE, devisi tersebut menangani
penjualan produk saprotan organik yang diproduksi oleh LPS berupa pupuk
organik (OFER), pestisida nabati (PASTI) ataupun Virus pembasmi hama..
Sementara penjualan saprodi buatan LPS juga masih pada skala terbatas, OFER
sebesar 58,596 ton, PASTI 644 Botol dan VIR 4.074 Dus selama satu tahun.

70

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI TEKNIK

7.1. Analisis Fungsi Produksi


Perhitungan dari fungsi produksi padi dapat dilihat pada Tabel 15. Dari
pandangan statistik semata-mata, garis regresi yang ditaksir mencocokkan data
sebesar 79 persen. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0,79, yang
berarti bahwa 79 persen dari total variasi produksi padi ditentukan oleh model.
Hasil perhitungan fungsi produksi didapat bahwa diantara faktor-faktor produksi
yang diduga hanya variabel tenaga kerja yang memiliki hubungan yang positif dan
berpengaruh nyata pada taraf satu persen terhadap produksi. Sedangkan variabel
dummy yang diduga kuat mempengaruhi tingkat efisiensi produksi, yaitu variabel
jenis varietas dan sistem jarak tanam, keduanya berpengaruh nyata dan positif
terhadap produksi, masing-masing pada taraf satu dan lima persen. Sementara
itu, faktor-faktor yang lain tidak berpengaruh nyata terhadap produksi.
Tabel 15. Hasil Estimasi Untuk Parameter Fungsi Produksi
Variabel
Koeffisien
standard-error
1.999
Konstanta
0.926
0.142
Ln Benih (Kg)
0.069
0.279
Ln TK (HOK)
1.208***
0.088
Ln Urea (Kg)
-0.111
0.051
Ln SP 36 (Kg)
0.007
0.031
Ln KCl (Kg)
-0.0034
0.043
Ln Phonska (Kg)
0.033
0.247
Ln P. Organik (Ton)
0.216
0.025
Ln PASTI (Ltr)
-0.007
0.171
Ln Luas Lhn (Ha)
-0.0005
0.094
Varietas Dummy
0.350***
0.081
Sistem tanam dummy
0.204**
2
R
0.79
*, ** dan *** : beda nyata pada taraf 10 persen, 5 persen dan 1 persen

Sumber : diolah dari data primer

71

Analisis Pengukuran Variabel benih


Hasil uji statistik untuk variabel benih menunjukkan nilai positif tetapi
tidak berpengaruh nyata secara statistik sampai pada taraf 10 persen. Hasil
analisis sebelumnya memang telah menunjukkan bahwa pemakaian pupuk oleh
petani tidak tepat sesuai anjuran LPS. Bahkan mereka melebihi anjuran mencapai
dua kali lipatnya.
Analisis Pengukuran Tenaga Kerja
Variabel tenaga kerja adalah gabungan dari penggunaan tenaga kerja pria,
tenaga kerja wanita dan tenaga kerja mesin atau ternak untuk pembajakan yang
semuanya dikonversi dalam satuan tenaga kerja pria. Input tenaga kerja
berpengaruh nyata pada taraf satu persen dan bernilai positif. Dari data
kelompok yang ada menunjukkan rata-rata pemakaian tenaga kerja berkorelasi
positif dengan rata-rata produksi per kelompok. Alokasi tenaga kerja yang paling
besar ada pada pengolahan lahan. Kemungkian yang bisa ditaksir dari sini adalah,
penyiapan kondisi lahan dengan lebih baik mampu memberikan hasil yang positif.
Selain itu, perbedaan pemakaian tenaga kerja yang mencolok terdapat pada
aktivitas penanaman. Penanaman bisa membutuhkan alokasi tenaga kerja lebih
besar, selain karena kondisi lahan, salah satunya adalah dalam menghitung jumlah
bibit yang pas untuk setiap lubang. Karena jumlah bibit per lubang berpengaruh
pada hasil produksi.
Analisis Pengukuran Variabel Pupuk
Secara alamiah, tanaman padi membutuhkan unsur hara dari tanah dan
pada kondisi tertentu membutuhkan tambahan dari luar. Pupuk menjadi suplemen
tanah yang lazim dipakai. Namun dalam kasus usahatani padi sehat petani binaan

72

LPS, input pupuk yang berkoefisien positif sesuai dengan persamaan adalah
pupuk SP-36, Phonska dan dan pupuk organik saja, masing-masing sebesar 0,007,
0,033, dan 0,216, itupun dengan standar eror yang tinggi, sehingga secara statistik
tidak berpengaruh nyata. Sementara pupuk urea dan KCl bernilai negatif dan tidak
signifikan.
Hasil ini menunjukkan kesesuaian dengan visi pertanian sehat yang secara
bertahap mengurangi masukan kimiawi. Sementara itu, tidak berpengaruhnya
pupuk organik dapat dianalisis disini adalah karena dalam penelitian ini tidak
dibedakan antara masukan pupuk kandang, kompos yang diolah dari jerami atau
jerami yang dibusukkan tanpa pengolahan. Ketiga masukan tersebut, dalam
penelitian ini dimasukkan dengan pembobotan sama yaitu perkiraan berat pada
kenyataan barangnya.
Analisis Pengukuran Variabel Pestisida Nabati
Nilai koefisien pestisida nabati negatif dan tidak berbeda nyata dengan nol.
Hal tersebut dapat disebabkan karena peran pestisida adalah dalam rangka
mengendalikan hama pengganggu tanaman padi agar tidak mempangaruhi
produksi. Ketika hama pengganggu tidak ada, maka peran pestisida menjadi tidak
ada. Alasan utama petani yang memakai pestisida adalah prefentif, karena kondisi
tanaman padi pada musim yang disurvei secara umum tidak terkena serangan
hama. Oleh karena itu juga, sebagian besar petani tidak memakai pestisida karena
tidak adanya serangan hama.
Analisis Pengukuran Variabel Lahan
Pengaruh luas lahan yang diukur ternyata tidak nyata terhadap produksi,
dapat dikarenakan pertama, kondisi lahan yang berbeda-beda baik dari faktor

73

kesuburan, lokasi maupun faktor lainnya. Ada pembagian kelas-kelas dalam


menilai kondisi lahan. Kelas satu berarti paling bagus, karena dari kesuburannya
dan biasanya juga terletak dekat sumber pengairan, dan memiliki tekstur bagus.
Semakin besar kelas tanah semakin jelek kondisinya. Dari sisi ini, sangat rasional
apabila dalam pemberian bantuan oleh LPS kepada petani menjadikan kondisi
lahan sebagai pertimbangan keadilan. Petani yang mendapat lahan dengan kelas
satu akan mendapat luasan yang lebih kecil dari petani yang mendapat lahan
dengan kelas lebih besar. Sehingga hasil panen pedi petani tidak terpengaruh
dengan perbedaan luas lahannya.
Penyebab kedua yang bisa menyebabkan luas lahan menjadi tidak
berpengaruh nyata adalah dikarenakan kecilnya luasan lahan yang digarap petani.
Rata-rata luas lahan mereka (yang digarap dengan bantuan dari program P3S LPS)
adalah sebesar 0,237 m2. Hal itu berpengaruh pada masalah pembulatan atau
pengkonversian ke dalam ukuran 1 (satu) hektar dalam perhitungan. Petani yang
mendapatkan luas lahan yang kecil akan mendapatkan lahan dalam petakan yang
semakin sedikit, sementara petani yang luas lahannya lebih besar, kemungkinan
memiliki petakan lebih banyak. Sehingga ketika dikonversi dalam ukuran 1 ha,
rata-rata produksi mereka yang berlahan sempit menjadi lebih besar daripada
petani yang mendapat lahan lebih luas dan lebih banyak petakannya.
Analisis Pengaruh Variabel Dummy
Variabel dummy yang dimasukkan dalam model penelitian ini adalah
terhadap jenis varietas (Var = 1 apabila petani menggunakan varietas
Situbagendit, dan Var = 0 apabila memakai yang lainnya) karena dari data yang
ada 56 persen petani memakai varietas yang sama yaitu Situbagendit, dan rata-rata

74

produktivitas dari benih tersebut tertinggi dibanding varietas lainnya. Variabel


dummy yang kedua adalah terhadap penggunaan sistem tanam legowo (ST = 1)
dan caplak atau bukan legowo (ST=0). Seperti dikaji dalam bab sebelumnya,
anjuran LPS adalah pemakaian sistem legowo, tetapi 53 persen petani tidak
melaksanakannya.
Dampak yang diberikan secara statistik sesuai dugaan semula, karena
variabel jenis varietas bernilai positif dan nyata pada satu persen, begitu pula
variabel sistem tanam bernilai positif dan nyata pada lima persen. Selain itu,
kedua variabel tersebut penting karena berpengaruh nyata pada fungsi produksi
dengan memberi nilai R2 lebih besar, yaitu sebesar 79 persen.
7.2. Analisis Efisiensi Teknik
Efisiensi

teknik

mengacu

kepada

pencapaian

maksimum

dari

kemungkinan tingkat produksi untuk tiap kombinasi penggunaan input yang


digunakan. didefinisikan sebagai rasio dari produksi aktual dari suatu perusahaan
(atau petani) pada tingkat teknik kemungkinan produksi maksimum. Efisiensi
teknik disini menyatakan kemungkinan peningkatan produksi tanpa meningkatkan
ongkos atau tanpa pengaturan kembali kombinasi input yang digunakan. Suatu
usaha dikatakan tidak efisien jika gagal untuk mencapai produksi maksimum
apabila menggunakan sejumlah input yang ada (Farrell, 1957 dalam Utama, 2003)
Hasil perhitungan adalah 0,9999 dan secara statistik berbeda nyata pada
taraf satu persen. Ini menunjukkan bahwa variasi dari kesalahan pengganggu yang
dikarenakan efisiensi teknik adalah sebesar 99,99 persen.

Berarti bahwa

perbedaan antara produksi sesungguhnya dengan kemungkinan produksi


maksimum lebih dikarenakan adanya perbedaan in-efisiensi teknik dari peda

75

stokastik frontier. Adapun perhitungan 2 adalah 0,088 secara statistik berbeda


nyata pada taraf satu persen, nilai ini menunjukkan bahwa variasi produksi padi
yang disumbangkan oleh efisiensi teknis adalah sebesar 8,8 persen.
1.20
1.00

Nilai

0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

Petani

Gambar 6. Tingkat Efisiensi Teknik Masing-Masing Petani Binaan LPS

Hasil perhitungan nilai efisiensi teknik petani anggota kelompok tani


binaan LPS menunjukkan nilai rata-rata efisiensi teknik sebesar 0.80, yang berarti
praktik usahatani petani 80 persen mendekati efisien. Lebih rinci dari perhitungan
tersebut adalah tingkat efisiensi terendah adalah 42,6 persen dan tertinggi adalah
99,8 persen. Dari analisis data, seperti disajikan dalam Gambar 05. dan Gambar
06., detemukan 16 persen dari petani beroperasi dengan efisiensi teknik dibawah
60 persen, 28 persen pada tingkat 60-80 persen, selebihnya, 56 persen dari petani
beroperasi pada tingkat efisiensi diatas 80 persen. Hal itu menunjukkan bahwa
tingkat efisiensi teknik petani binaan LPS relatif cukup tinggi.

76

15
13

Frekuensi

11
9
7

14

5
3
4

1
-1

1
0.4-0.5

0.5-0.6

0.6-0.7

0.7-0.8

0.8-0.9

0.9-1.0

Efisiensi Teknik

Gambar 7. Distribusi Tingkat Efisiensi Teknik Pada Usahatani Padi Sehat Petani
Binaan LPS

Perbedaan tingkat efisiensi teknik yang dicapai oleh petani ini


mengindikasikan tingkat penguasaan dan aplikasi teknologi berusahatani padi
yang berbeda-beda. Tingkat penguasaan yang berbeda di samping disebabkan
oleh atribut yang melekat pada petani, seperti tingkat pendidikan dan umur, juga
disebabkan oleh faktor lainnya seperti kurangnya mengikuti penyuluhan.
Tabel 16. Deskripsi Statistik Efisiensi Teknik Petani anggota Kelompok Tani
Binaan LPS
Kelompok Tani
Rata-rata
Minimum
Maksimum
Range
Silih Asih
Manunggal Jaya
Lisung Kiwari
Harapan Maju
Maju Jaya
Tunas Mekar

0.582
0.895
0.822
0.671
0.859
0.942

0.428
0.767
0.650
0.414
0.674
0.882

0.763
0.999
0.935
0.919
0.964
0.984

0.335
0.233
0.286
0.505
0.290
0.101

Sumber : diolah dari data primer


Analisis fakta lebih lanjut menunjukkan bahwa tingkat perbedaan dalam
aplikasi teknologi disebabkan tidak hanya oleh tingkat penguasaan teknologi

77

budidaya padi dan kemampuan untuk mendapat dan membeli input produksi
setiap petani. Tetapi juga disebabkan oleh perbedaan dalam pemakaian input dan
perbedaan penerapan teknologi yang dipengaruhi oleh kelembagaan kelompok
tani.
Hal itu sangat jelas terlihat dengan melihat perbedaan penerapan teknologi
setiap kelompok tani yang dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya. Seperti
telah dibahas sebelumnya, bahwa keputusan dalam penerapan teknologi dan
pemakaian input produksi sangat dipengaruhi oleh kelompok masing-masing.
Kelompok tani Tunas Mekar dapat dikatakan kelompok yang paling mampu
mempengaruhi tingkat efisiensi teknik anggotanya ditunjukkan dengan rentang
jarak tingkat efisiensi minimum dan maksimum yang relatif kecil. Itu berarti

0.80

0.60
0.94

0.86

6. 976
0.67

0.58

0.40

Efisiensi Teknik

6.902

1.00

4.623

0.82

1.20

5.003

0.89

1.40

5.810

3.851

Produksi (Ton)

kelompok tersebut mampu menstandarisasi aplikasi teknologi anggotanya.

0.20
0.00

0
S. Asih

M. Jaya

L. Kiwari

H. Maju

Maju J.

T. Mekar

Kelompok Tani
: : Produksi

: : Efisiensi Teknik

Gambar 8. Perbandingan Rata-Rata Tingkat Efisiensi Teknik Dan Rata-Rata


Produksi Antar Kelompok Tani Binaan LPS

Gambar 8 menunjukkan perbandingan antara rata-rata hasil panen dan


tingkat teknologi teknik setiap kelompok tani. Kelompok yang memiliki tingkat

78

efisiensi teknik tertinggi adalah kelompok Tunas Mekar yaitu 94 persen, dan ratarata produksinya sebesar 6.902 kg/ha, sementara kelompok tani Maju Jaya yang
memiliki tingkat efisiensi teknik lebih rendah dari pada kelompok tani Manunggal
Jaya ataupun Tunas Mekar yaitu masing-masing sebesar 86 persen, 89 persen dan
94 persen, namun rata-rata produksinya tertinggi dari kelompok tani yang lain.
Hal itu sangat mungkin karena efisiensi teknik hanya mempengaruhi 8,8 persen
dari produksi. Meski begitu, tingkat efisiensi teknik tetap berkorelasi dengan
tingkat produksi, seperti halnya pada kelompok dengan tingkat efisiensi terkecil
yaitu sebesar 64 persen, yaitu kelompok tani Silih Asih, rata-rata produksinya
juga paling kecil dari kelompok lain, sebesar 3.851 kg/ha.

79

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan
1. a. Lembaga Pertania Sehat telah melaksanakan semua fungsi dari empat
subsistem agribisnis padi sehat.
b. Subsistem agribisnis hulu padi sehat dalam penyediaan input pupuk kimia
masih tergantung pada kelembagaan dari luar LPS.
c. Subsistem agribisnis hilir padi sehat dalam pengolahan dan pemasaran hasil
usahatani padi sehat belum bisa dilaksanakan sepenuhnya oleh jejaring
kelembagaan LPS.
2. Penerapan teknologi budidaya padi sehat oleh petani binaan LPS belum
sepenuhnya sesuai dengan anjuran LPS dan tidak seragam antar petaninya.
3. a. Faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi sehat petani
binaan LPS adalah tenaga kerja, begitu pula variabel dummy berupa jenis
varietas dan sistem jarak tanam juga berpengaruh positif dan nyata.
b. Tingkat efisiensi teknik rata-rata petani binaan LPS cukup tinggi dengan
pengaruh terhadap variasi pruduksi cukup besar.
8.2. Saran
1. a. Lembaga Pertanian Sehat perlu merumuskan produk baru berupa pupuk
organik yang mampu mensubtitusi pupuk kimia atau teknologi budidaya
padi yang tidak memerlukan masukan pupuk kimia agar petani tidak
tergantung pada pihak luar dalam penyediaan dan harga pupuk kimia.
b. Kerjasama pengolahan produk besar SAE perlu diperluas dengan mitra lain
agar produk beras bebas pestisida yang dihasilkan petani semuanya

80

mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.


2. Harus ditinjau kembali efektifitas teknologi budidaya yang dianjurkan LPS
kepada petani dan faktor penerimaan dari petani sehingga teknologi yang
dilaksanakan petani benar-benar tepat.
3. Perlu diefektifkan kembali program pendampingan dan dinamika kelompok
tani agar tingkat efisiensi teknik petani tetap tinggi dan merata antar anggota.

81

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, Agus. 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta
Buana, Tjandra. 1997. Adopsi Teknologi budidaya Padi Sawah Bagi Petani
Penduduk Asli di Sekitar Pemukiman Transmigrasi (Kasus Kecamatan
Lambuya, Kendari). Tesis. Program Pascasarjana, institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Coelli, T.J., 1996. A Guide to FRONTIER Version 4.1: A Computer Program for
Stochastic Frontier Production and Cost Function Estimation. CEPA,
Department of Econometrics, University of New England Armidale.
Australia
Dalim, Yeniwarti. 1990. Pengaruh Faktor Kelembagaan Dalam Peningkatan
Produktivitas Padi di Sumatera Barat. Tesis. Program Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Debertin, David L. 1986. Agricultural Peoduction Economics. Macmillan
Publishing Company. New York
Dimyati, Ahmad. 2002. Dukungan Penelitian Dalam Pengembangan Hortikultura
Organik. Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pertanian Organik.
Puslitbang Perkebunan (BALITTRO), Dinas Pertanian dan Kehutanan
DKI Jakarta, Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINI).
Jakarta
Direktorat Jenderal Bina Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2005. Revitalisasi
Pertanian Melalui Agroindustri Perdesaan., Departemen Pertanian. Jakarta

Herdiansyah, Irwan. 2006. Analisis Aspek Ekonomi dan Faktor-Faktor yang


Mempengaruhi Adopsi Sistem Usahatani Padi Organik (Studi Kasus
Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat).
Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hasan, Hamzah. 1979. Pengaruh Kredit Bimas Terhadap Peningkatan Produksi
Padi dan Penyerapan Tenaga Kerja (Kasus Kabupaten Aceh Besar).
Laporan Penelitan. Unv. Syah Kuala, Banda Aceh.
Irawan, Bambang. 2004. Kelembagaan Program Rintisan dan Akselerasi
Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Makalah
Workshop Prima Tani. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian.
Bogor.
Karama, A. Syarifuddin. Perkembangan Pertanian Organik di indonesia.
Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pertanian Organik. Puslitbang
Perkebunan (BALITTRO), Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta,
Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINI). Jakarta.
Kusumah, Suryani Jaya. 2004. Analisis Perbandingan Usahatani dan Pemasaran
Antara Padi organik dan Anorganik (Kasus Kelurahan Mulyaharja,

82

Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat). Skripsi. Ekstensi


Manajemen Agribisnis, Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika. 2005. Profil Organisasi
Lembaga Pertanian Sehat.. Bogor
Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika. 2006. Laporan Akhit
Tahun Program Pemberdayaan Petani Sehat. Bogor
Lian, Muchtar. 1987. Pengaruh Teknologi Terhadap Efisiensi Ekonomi dan
Distribusi Pendapatan Petani Padi di Kabupaten Subang (Studi Kasus
Desa Citra jaya dan Tanjung Sari, Kecamatan Binong). Tesis. Program
Pascasarjana, institut Pertanian Bogor. Bogor.
Maryana, Rina. 2006. Analisis Pendapatan Petani dan Marjin Pemasaran Beras
Organik (Studi Kasus Kecamatan Cikalong, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat). Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Edisi Keempat. LP3ES. Jakarta
Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta
Nianggolan, S. S. 2001. Analisis Sistem Usahatani Beras Organik di Kecamatan
Tempuran, Kabupaten Karawang, Propinsi Jawa Barat. Skripsi.
Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rohmani, Dina. 2000. Analisis Sistem Usahatani Padi Organik. Skripsi. Jurusan
Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Pribadi, Yanuar. 2002. Analisis Produksi dan Faktor Penentu adopsi Teknologi
Sawit Dupa Pada Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Kalimantan
Selatan. Tesis. Program Pascasarjana, institut Pertanian Bogor. Bogor.
Partohardjono, Soetjipto. 2002. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
dalam Kaitannya Dengan Sistem Pertanian Organik. Prosiding Seminar
Nasional dan Pameran Pertanian Organik. Puslitbang Perkebunan
(BALITTRO), Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta, Masyarakat
Pertanian Organik Indonesia (MAPORINI). Jakarta.
Pranadji, Tri. 2003. Reformasi Kelembagaand dan Kemandirian Perekonomian
Pedesaan (Kajian pada Kasus Agribisnis Padi Sawah). Makalah Seminar
Nasional Peluang Indonesia Untuk Mencukupi Sendiri Kebutuhan beras
Nasionalnya. Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.
Saptana, dkk. 2003. Kinerja Kelembagaan Agribisnis Beras di Jawa Barat.
Makalah Seminar Penyusunan Profil Investasi Dan Pengembangan
Agribisnis Beras di Jawa Barat. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat.
Bandung
Syahyuti. 2004. Model kelembagaan Penunjang Pengembangan Pertanian di
Lahan Lebak. Makalah Workshop Nasional Pengembangan Lahan Rawa
Lebak, Balittra, Banjarbaru dan Kandangan, Kalimantan Selatan

83

Setiawan,
Usep.
2005.
Revitalisasi
Pertanian
dan
Pedesaan.
http://www.freelists.org/archives/ppi/01-2005/msg00298.html.
(diakses
tanggal 30 November 2007)
Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi (Ed). 1989. Metode Penelitian Sorvei.
LP3ES. Jakarta.
Singh, Sanjay Kumar dan Anand Venkatesh. 2002. Indian Journal of Transport
Management 27(3): 374-391. Comparing Efficiency across State
Transport Undertakings: A Production Frontier Approach. India
Sukiyono, Ketut. 2004. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 6, No. 2, Hlm.
104-110. Analisis Fungsi Produksi dan Efisiensi Teknik : Aplikasi Fungsi
Produksi Frontier Pada Usahatani Cabai di Kec. Selupu Rejang, Kab.
Rejang Lebong. Jakarta
Suryana, Ahmad dan Sudi Mardianto (Ed). 2001. Bunga Rampai Ekonomi Beras.
LPEM FEUI. Jakarta
Utama, Satria Putra. 2003. Jurnal Akta agrosia Vol. 6 No.2 hlm 67-74 Jul-Des.
Kajian Effisiensi Teknis Usahatani Padi Sawah pad Petani Peserta Sekolah
Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Di Sumatera Barat.
Wijonarko, Arman. 1998. Swasembada Beras Dan Dampak Ekologisnya.
Dimensi. Vol. 1. No. 1 Juni 1998 8
Yuliarmi. 2006. Analisis Produksi dan Faktor Penentu adopsi Teknologi
Pemupukan Berimbang Pada Usahatani Padi. Tesis. Program
Pascasarjana, institut Pertanian Bogor. Bogor.

84

LAMPIRAN