Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hipertensi Komplikasi Penyakit Jantung


Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) merupakan suatu keadaan di
mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang
ditunjukkan oleh angka sistolik (bagian atas) dan angka diastolik (bawah) pada
pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa
tensimeter air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya (Anonim,
2008).
Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan,
tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHg. Dalam
aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran
stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan
meningkat saat beraktifitas atau berolahraga (Anonim, 2008).
Definisi hipertensi yang hingga sekarang masih berlaku ialah arus tekanan
sistolik 140 mmHg atau lebih, atau arus tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih.
Akan tetapi, karena tekanan darah berubah-ubah, sebelum seorang pasien dinyatakan
menderita hipertensi dan menentukan untuk memulai perawatan, perlu dipastikan
arus tekanan darah yang meninggi itu dengan pengukuran yang berulang-ulang dalam
jangka waktu beberapa minggu. Tekanan darah sangat bergantung pada curah
jantung, tahanan perifer pada pembuluh darah, serta volume darah yang bersirkulasi
(WHO, 2001).

Universitas Sumatera Utara

Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent killer atau sering disebut
sebagai pembunuh diam-diam. Umumnya penderita tidak mengetahui dirinya
mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Penyakit ini dikenal
juga sebagai heterogeneous group of disease yang berarti penyakit yang menyerang
siapa saja dari berbagai kelompok umur dan kelompok sosial ekonomi (Anonim,
2008).
Penyebab utama timbulnya hipertensi adalah pola makan yang salah, baik pada
penderita hipertensi yang rawat jalan maupun yang rawat inap. Pada penderita
hipertensi rawat inap, makanan yang harus dikonsumsi adalah makanan yang sesuai
dengan diet yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Namun, fenomena yang terjadi
pasien penderita hipertensi yang rawat inap tidak menjalankan diet yang diberikan.
Hal ini dikarenakan oleh diet yang disediakan tidak sesuai dengan makanan yang
diinginkan mereka, sehingga mereka lebih suka untuk mengkonsumsi makanan di
luar diet yang diberikan. Hal inilah yang dapat menimbulkan komplikasi hipertensi
yang dapat memengaruhi lama cepatnya proses pemulihan.
Pada umumnya, pasien hipertensi rawat inap merupakan pasien hipertensi yang
telah mengalami komplikasi. Komplikasi adalah penyakit-penyakit yang dapat
ditimbulkan akibat hipertensi. Salah satu penyakit komplikasi yang terjadi pada
pasien hipertensi rawat inap adalah penyakit jantung dan kardiovaskuler.
Penyakit jantung terjadi akibat proses berkelanjutan, di mana jantung secara
berangsur kehilangan kemampuannya untuk melakukan fungsi secara normal. Pada
awal penyakit, jantung mampu mengkompensasi ketidakefisian fungsinya dan

Universitas Sumatera Utara

mempertahankan sirkulasi darah normal melalui pembesaran dan peningkatan denyut


nadi (Almatsier, 2004).
2.2. Pencegahan Hipertensi Komplikasi Penyakit Jantung
Faktor penyebab utama terjadinya hipertensi adalah aterosklerosis yang didasari
dengan konsumsi lemak berlebih dan pada akhirnya mengalami komplikasi peyakit
jantung. Oleh karena untuk mencegah timbulnya hipertensi adalah mengurangi
konsumsi lemak yang berlebih dan pemberian obat-obatan apabila diperlukan.
Pembatasan konsumsi lemak sebaiknya dimulai sejak dini sebelum hipertensi
muncul, terutama pada orang-orang yang mempunyai riwayat keturunan hipertensi
dan pada orang menjelang usia lanjut. Sebaiknya mulai umur 40 tahun pada wanita
agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi lemak pada usia mendekati menopause.
Pencegahan utama adalah dengan melakukan pola makan sehat dengan gizi
seimbang, dimana mengkonsumsi beragam makanan yang seimbang dari segi
kuantitas dan kualitas. Di samping itu, tindakan memeriksakan tekanan darah secara
teratur sangat dianjurkan. Selain dapat mencegah, tindakan tersebut juga dapat
menghindari kenaikan tekanan darah yang terlalu drastis (Astawan, 2004).
2.3. Asuhan Gizi di Rumah Sakit
Asuhan gizi rumah sakit pada penderita hipertensi yang komplikasi hipertensi
rawat inap dapat dilakukan dengan menjalankan diet yang teratur. Sebelum
mengetahui pedoman diet, terlebih dahulu harus dipahami definisi diet yang sering
disalahartikan oleh orang awam sebagai pembatasan makanan pada penderita suatu
penyakit. Diet sesungguhnya memiliki dua makna, yaitu sebagai makanan dan kedua

Universitas Sumatera Utara

pengaturan jumlah dan jenis makanan yang dimakan setiap hari agar kita tetap sehat
(Hartono, 2000).
Bila diet dilakukan di rumah sakit dengan tujuan untuk meningkatkan status gizi
dan atau membantu kesembuhan pasien, maka istilah yang lazim digunakan adalah
diet rumah sakit (hospital diet). Gizi harus dipertimbangkan sebagai dasar
kesembuhan, tentunya pertimbangan gizi dan kesehatan akan ditempatkan sebagai
pertimbangan pertama (Hartono, 2000).
Di rumah sakit terdapat pula pedoman diet tersendiri yang akan memberikan
rekomendasi yang lebih spesifik mengenai cara makan yang bertujuan bukan hanya
untuk meningkatkan atau memperhatikan status gizi pasien, tetapi juga untuk
mecegah permasalahan lainnya yang timbul. Dengan memperhatikan tujuan diet
tersebut, rumah sakit umumnya menyediakan makanan dengan kriteria seperti :
makanan dengan komposisi gizi yang baik dan seimbang menurut keadaan penyakit
dan status gizi masing-masing pasien, makanan dengan tekstur dan konsistensi yang
sesuai menurut kondisi gastrointestinal dan penyakit masing-masing pasien, makanan
yang mudah dicerna dan tidak merangsang, seperti tidak mengandung bahan yang
dapat menimbulkan gas, intoleransi (laktosa, gluten), tidak lengket (ketan, dodol),
tidak terlalu pedas, manis, asin, atau berminyak atau tidak terlalu panas atau dingin,
makanan yang bebas unsur adiktif berbahaya, seperti pengawet, pewarna, pemanis,
dan sebagainya, serta makanan dengan penampilan dan citarasa yang menarik untuk
menggugah selera makan pasien yang umumnya terganggu oleh penyakit dan kondisi
indera pengecap atau pembaunya (Hartono, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Di rumah sakit dapat dilakukan skrining gizi. Skrining gizi dilakukan sebagai
bentuk kegiatan pada perkumpulan penyandang penyakit metabolik atau degeneratif
ataupun vaskuler, seperti perkumpulan hipertensi, diabetes, stroke, dan sebagainya
yang dibina oleh klinik gizi. Tujuan skrining adalah untuk menilai status gizi yang
ada pada orang yang berisiko, baik secara individual maupun kelompok sehingga
dapat dilakukan upaya preventif (Hartono, 2000).
Pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit umumnya membutuhkan konsultasi,
rujukan, ataupun intervensi gizi guna mengoptimalkan asuhan medis dan status klinis.
Akan tetapi, upaya ini harus memerlukan kesadaran dan pemahaman dari para
profesional medis serta keperawatan terhadap peranan gizi bagi pencegahan dan
kesembuhan penyakit (Hartono, 2000).
Penilaian status gizi (nutritional assesing) merupakan landasan untuk
memberikan asuhan nutrisi yang optimal kepada pasien. Penilaian ini mencakup
empat komponen yaitu : anamnesis riwayat diet, pengukuran antropometrik,
pemeriksaan laboratorium (biokimia), dan pemeriksaan jasmani nutrisi. Keempat
komponen ini bersama-sama pemeriksaan medik akan memberikan arah untuk
mengembangkan rencana asuhan gizi (Hartono, 2000).
2.4. Diet Penyakit Jantung
Penyakit jantung terjadi akibat berkelanjutan, di mana jantung secara berangsur
kehilangan kemampuannya untuk melakukan fungsi secara normal. Pada awal
penyakit,

jantung

mampu

mengkompensasi

ketidakefisien

fungsinya

dan

mempertahankan sirkulasi darah normal melalui pembesaran dan peningkatan denyut


nadi (Almatsier, 2004).

Universitas Sumatera Utara

Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk


menghindari dan membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar kolesterol
darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke
atau infark jantung (Purwati, 2002).
Diet tidak secara langsung menyembuhkan penyakit, tetapi dipakai untuk
memperbaiki kelainan metabolisme dan mencegah atau paling tidak mengurangi
gejala penyakit. Adanya gangguan pertumbuhan yang dipengaruhi faktor genetik,
hipoksia menahun, kelainan hemodinamik, faktor metabolik serta kelainan lain yang
menyertai memerlukan masukan energi tambahan. Aktivitas jantung dan pernafasan
memerlukan pula kalori yang cukup banyak,
Pada umumnya, pasien penderita hipertensi yang rawat inap disertai dengan
penyakit komplikasi, seperti penyakit jantung dan kardiovaskuler. Maka dari itu,
pemberian diet pada penderita hipertensi komplikasi jantung yang rawat inap harus
menjalani diet penyakit jantung.
Penderita hipertensi komplikasi jantung, sebaiknya meningkatkan konsumsi buah
dan sayur, terutama buah dan sayur yang mengandung kalium. Kalium atau
potassium 2 sampai 4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan darah. Kadar
kalium atau potassium umumnya banyak didapati pada beberapa buah-buahan dan
sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk dikonsumsi
antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu,
mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih (Kurniawan, 2011).
Komposisi kalium pada beberapa bahan makanan (dalam mg per 100 gram bahan
makanan) antara lain sebagai berikut.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Komposisi Kalium Dalam Beberapa Bahan Makanan


No.
Bahan Makanan
Komposisi per 100 gram (mg)
1.
Pisang
435
2.
Alpukat
278
3.
Pepaya
221
4.
Apel Merah
203
5.
Daun Peterseli
900
6.
Daun Pepaya
652
7.
Bayam
416
8.
Kapri
370
9.
Mangga
189
10.
Kembang Kol
349
11.
Belimbing Wuluh
130
Sumber : Jordan, 2010

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pisang dan daun peterseli merupakan buah
dan sayur yang paling tinggi komposisi kalium nya. Bahan makanan yang
mengandung kalium atau potasium baik dikonsumsi karena berfungsi sebagai diuretik
sehingga pengeluaran natrium cairan dapat meningkat sehingga dapat membantu
menurunkan tekanan darah.
Pada penderita hipertensi khususnya dengan komplikasi jantung, disarankan
untuk mengatur menu makanannya setiap hari. Ada berbagai bahan makanan yang
dianjurkan dan tidak dianjurkan pada penderita dengan komplikasi jantung. Bahan
makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Bahan Makanan Yang Dianjurkan Dan Tidak Dianjurkan Dalam
Diet Jantung
Golongan Bahan Makanan
Dianjurkan
Tidak Dianjurkan
Sumber Karbohidrat
Beras ditim atau
Makanan yang
disaring;roti, mie, kentang, mengandung gas atau
makaroni, biskuit, tepung
alkohol, seperti ubi,
beras/terigu/sagu aren/sagu singkong, tape singkong,
ambon, kentang, gula pasir, dan tape ketan
gula merah, madu dan sirup
Sumber Protein Hewani

Daging sapi, ayam rendah


lemak, ikan, telur, susu
rendah lemak; dalam
jumlah yang telah
ditentukan

Daging sapi dan ayam yang


berlemak, gajih, sosis, ham,
hati, limpa, babat, otak,
kepiting dan kerangkerangan; keju, dan susu
penuh

Sumber Protein Nabati

Kacang-kacangan kering,
seperti kacang kedelai dan
hasil olahannya seperti tahu
dan tempe.

Kacang-kacang kering
yang mengandung lemak
cukup tinggi seperti kacang
tanah, kacang mete, dan
kacang bogor

Sayuran

Sayuran yang tidak


mengandung gas, seperti :
bayam, kangkung, kacang
buncis, kacang panjang,
wortel, tomat, labu siam,
tauge.

Semua sayuran yang


mengandung gas seperti
kol, lobak, sawi, dan
nangka muda.

Lemak dan Minyak

Minyak jagung, minyak


kedelai, margarin, mentega

Minuman

teh encer, coklat, sirup

Minyak kelapa sawit,


minyak kelapa, santan
kental
Teh/kopi kental, minuman
yang mengandung soda dan
alkohol

Bumbu

semua bumbu selain


bumbu tajam dalam jumlah
terbatas

Lombok, cabe rawit, dan


bumbu-bumbu lain yang
tajam

Sumber: Almatsier, 2004

Universitas Sumatera Utara

2.4.1. Tujuan Diet Jantung


Tujuan diet penyakit jantung adalah memberikan makanan secukupnya tanpa
memberatkan kerja jantung, menurunkan berat badan bila terlalu gemuk, dan
mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air (Almatsier, 2004).
2.4.2. Syarat Diet Jantung
Syarat-syarat diet penyakit jantung yaitu makanan yang diberikan harus
mengandung kalori yang cukup. Protein cukup yaitu sebesar 0,8 gr per kg berat
badan. Makanan yang disediakan harus mengandung lemak sedang sebesar 25-30%
dari kebutuhan energi total. Kolesterol yang terkandung harus kurang dari 300 mg.
Makanan mengandung garam rendah, yaitu 2 sampai 3 gr per hari. Makanan yang
dimakan haruslah mudah cerna dan tidak menimbulkan gas. Cukup serat untuk
mencegah komplikasi. Bentuk makanan harus disesuaikan dengan keadaan penyakit
(Almatsier, 2004).
2.4.3. Jenis Diet Jantung
Menurut Arief (2002), jenis diet jantung berdasarkan indikasi pemberiannya
terdiri dari empat jenis diet jantung yaitu :
1. Diet jantung I, diberikan kepada pasien dengan infark miokard akut (IMA)
atau gagal jantung kongestif berat dengan gejala dan tanda: nyeri dada, mual
dan muntah, adanya perangsangan sistem saraf pusat, dan diikuti oleh
pembengkakan hati, edema periphenal, penurunan cardiac output, dan output
urine menurun. Diberikan makanan berupa 1-1,5 liter cairan sehari selama 1-2
hari pertama bila pasien dapat menerimanya.

Universitas Sumatera Utara

2. Diet jantung II diberikan secara berangsur dalam bentuk makanan lunak


setelah fase akut IMA teratasi. Menurut beratnya hipertensi atau edema yang
menyertai penyakit, makanan diberikan sebagai diet jantung II rendah garam.
3. Diet jantung III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet jantung II
atau kepada pasien penyakit jantung yang tidak terlalu berat seperti rasa sakit
pada bagian dada, adanya masalah pencernaan, adanya gejala flu, serta nafas
pendek. Makanan diberikan dalam bentuk makanan mudah cerna bentuk
lunak. Menurut beratnya hipertensi atau edema yang menyertai penyakit,
diberikan sebagai diet jantung III rendah garam.
4. Diet jantung IV diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet jantung III
atau kepada pasien penyakit jantung ringan dengan gejala nyeri di bagian
dada, sesak nafas, jantung berderbar kencang, pingsan atau terasa mau
pingsan. Diberikan dalam bentuk makanan biasa. Menurut beratnya hipertensi
atau edema yang menyertai penyakit, makanan diberikan sebagai diet jantung
IV rendah garam.
Pada setiap jenis diet jantung memiliki komposisi zat gizi utama yang sama.
Komposisi zat gizi utama yang harus terkandung pada setiap jenis diet jantung adalah
zat gizi kalori, protein, lemak, karbohidrat, dan natrium. Komposisi zat gizi tersebut
dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3. Komposisi Zat Gizi Kalori, Protein, Lemak, Karbohidrat, Dan
Natrium Dalam Diet Jantung
Komposisi Zat Gizi Utama
Jenis Diet
Kalori
Protein
Lemak Karbohidrat
Natrium
(kkal)
(gr)
(gr)
(gr)
(mg)
Jantung I
835
21
24
140
304
Jantung II
1325
44
35
215
248
Jantung III
1756
64
41
290
172
Jantung IV
2023
67
51
329
172
Sumber : Arief, 2002

RSU Bandung merupakan salah satu rumah sakit swasta yang menyediakan
makanan bagi pasien yang dirawat inap. Dalam hal ini, RSU Bandung memberikan
diet jantung IV untuk penderita hipertensi komplikasi jantung. Hal ini dikarenakan
oleh keterbatasan jumlah tenaga medis dan sarana yang tersedia untuk memberikan
pelayanan kepada penderita jantung dengan keluhan komplikasi jantung berat (RSU
Bandung Medan, 2011).
2.5. Penatalaksanaan Diet Jantung Bagi Penderita Hipertensi Komplikasi
Jantung Yang Rawat Inap
Penanganan hipertensi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu medis dan
nonmedis.

Melalui

cara

nonmedis

adalah

dengan

penatalaksanaan

diet.

Penatalaksanaan diet bagi penderita hipertensi disesuaikan dengan penyakit


komplikasi hipertensi yang diderita, seperti diet jantung jika penderita tersebut
menderita komplikasi jantung, diet stroke dan lain sebagainya. Diet pada penderita
hipertensi bertujuan untuk mengurangi asupan garam, mengurangi kadar lemak dalam
tubuh sehingga didapat berat badan yang ideal sesuai dengan tinggi badan, serta
mempertahankan agar tubuh tetap berada pada berat badan yang ideal sesuai dengan
tinggi badan (Marliani dan Tantan, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi >160 mmHg, selain
pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup.
Penatalaksanaan diet bagi penderita hipertensi komplikasi jantung yang rawat inap
harus diberikan diet yang sesuai dengan komplikasi nya serta harus diperhatikan
kepatuhan pasien dalam menjalani diet yang diberikan rumah sakit selama pasien
dirawat inap. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan
tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Di samping itu,
penatalaksanaan diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat
badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah.
Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti
jantung, ginjal dan diabetes mellitus. Diet yang diberikan harus sesuai dengan standar
diet, baik dari jenis dan indikasi pemberian maupun komposisi zat gizi nya (Anonim,
2004). Dalam hal ini, penderita hipertensi yang mengalami komplikasi jantung
diberikan diet jantung.
2.6. Kepatuhan Pasien Dalam Menjalani Diet Yang Diberikan Rumah Sakit
Keberhasilan penatalaksanaan diet bagi pasien penderita hipertensi yang rawat
inap juga dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam melaksanakan diet tersebut.
Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan penatalaksanaan
diet pada terapi non medis penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, asma,
kanker, dan juga penyakit gangguan mental, penyakit infeksi HIV / AIDS serta
tuberkulosis Adanya ketidakpatuhan pasien pada terapi penyakit ini dapat
memberikan efek negatif yang sangat besar karena prosentase kasus penyakit
penyakit tersebut di seluruh dunia mencapai 54% dari seluruh penyakit pada tahun

Universitas Sumatera Utara

2001. Angka ini bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 65% pada
tahun 2020 (BPOM RI, 2006).
2.7. Status Gizi Pasien Hipertensi Komplikasi Jantung
Status gizi merupakan hasil dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan
zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa dkk,
2001).
Umumnya pasien hipertensi tergolong pada obesitas atau berat badan berlebih.
Diet jantung yang diberikan oleh pihak rumah sakit pada pasien hipertensi komplikasi
jantung yang rawat inap tidak menjamin berubah nya keadaan status gizi pasien
menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan oleh tindakan kepatuhan yang terkait dengan
pelaksanaan diet jantung itu sendiri dari pasien hipertensi komplikasi jantung yang
rawat inap. Dalam hal ini, pasien hipertensi komplikasi penyakit jantung yang rawat
inap belum bisa meningkatkan status gizinya dikarenakan ketidakpatuhan dalam
menjalani diet jantung.
2.8. Penilaian Status Gizi Pada Pasien Hipertensi Komplikasi Jantung Yang
Rawat Inap di Rumah Sakit
Keadaan gizi seseorang memengaruhi penampilan, kesehatan, pertumbuhan dan
perkembangannya, serta ketahanan tubuh terhadap penyakit. Penilaian gizi adalah
proses yang digunakan untuk mengevaluasi status gizi, mengidentifikasi malnutrisi,
dan menentukan individu mana yang sangat membutuhkan bantuan gizi.
Untuk membantu diri sendiri pada pasien hipertensi dapat dilakukan dengan
pengendalian berat badan. Pengendalian berat badan ini mengacu kepada
pengendalian indeks massa tubuh (IMT) yang merupakan salah satu cara penilaian

Universitas Sumatera Utara

status gizi. Jika status gizi pasien tergolong baik atau normal, maka pasien hipertensi
rawat inap memiliki kesempatan yang baik untuk menormalkan tekanan darahnya
(Hart dan Tom, 2010).
Mayoritas pasien hipertensi yang berada di RSU Bandung Medan adalah
golongan usia 20 tahun sampai 60 tahun. Penilaian status gizi yang tepat untuk
kategori usia ini adalah dengan pengukuran indeks massa tubuh (IMT), karena
pengukuran indeks massa tubuh paling sederhana dan banyak digunakan.
Rumus Perhitungan IMT adalah sebagai berikut :
IMT =

Kategori ambang batas IMT untuk masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4. Kategori Ambang Batas IMT Untuk Indonesia


Kategori
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat
Kekurangan berat badan tingkat ringan
Normal
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan
Kelebihan berat badan tingkat berat

IMT
< 17,0
17,0-18,4
18,5-25,0
25,1-27,0
>27,0

Sumber : Depkes RI, 2002

IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.
Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang yang tergolong gemuk baik
dengan kriteria kelebihan berat badan tingkat ringan maupun kelebihan berat badan
tingkat berat memiliki risiko 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang
berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki
berat badan lebih (Anonim, 2010b).

Universitas Sumatera Utara

Tujuan utama dari pengendalian indeks massa tubuh (IMT) adalah untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila indeks massa tubuh
normal adalah penampilan baik, lincah, dan risiko sakit rendah. Indeks massa tubuh
yang kurang dan berlebihan akan menimbulkan risiko terhadap berbagai macam
penyakit.
2.9. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang dicapai dalam penelitian ini, maka
kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Penatalaksanaan diet jantung

Status Gizi
Pemberian Diet
Kepatuhan Pasien

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian


Penatalaksanaan diet pada pasien penderita hipertensi yang rawat inap
didukung oleh pemberian diet serta tindakan kepatuhan pasien. Selain itu, peneliti
ingin mengetahui status gizi pasien penderita hipertensi komplikasi penyakit jantung
yang rawat inap.

Universitas Sumatera Utara