Anda di halaman 1dari 5

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

REVIEW POLITIK INTERNASIONAL


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber : Thomas L. Friedman, The World Is Flat, Globalized World in the Twenty-First Century, (United States of America:
Penguin Books, 2006), hal. 425-453.

How Companies Cope In This Flattening World,


Sebuah Tinjauan terhadap Tulisan Thomas L. Friedman dengan Menitikberatkan pada Permasalahan
Outsourcing sebagai Cara Bertahan di Dunia yang Semakin Rata
Dunia yang semakin rata karena pengaruh globalisasi dan perkembangan jaman menuntut berbagai
pengusaha untuk berkompetisi dan berusaha ekstra keras untuk dapat terus mempertahankan, apalagi
memperkuat eksistensinya. Itulah kira-kira sepenggal kalimat yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan isi
Bab 11 dari buku karangan Thomas L. Friedman yang berjudul The World Is Flat. Bab 11 buku The World Is
Flat yang berjudul “How Companies Cope” berisi mengenai cara-cara dan aturan-aturan bagi para pengusaha
untuk dapat bertahan di dunia yang, meminjam istilah Thomas L. Friedman, semakin rata. Perkembangan dunia
menuntut para pengusaha untuk berubah, dan para pengusaha yang mau berubah mengikuti perkembangan
jaman itulah yang, menurut Friedman, dapat tumbuh menjadi pengusaha besar dunia.
Friedman memulai tulisannya dengan menyebutkan tujuh cara utama yang harus dipatuhi para pengusaha
untuk dapat bertahan di dunia yang semakin rata ini. Cara utama yang diberikan Friedman yaitu agar pengusaha
tidak berhenti berusaha dan karenanya ikut „menjadi rata‟, melainkan agar pengusaha berusaha untuk berubah
dengan menggali potensi diri. Friedman menyebutkan bahwa berbagai kemajuan dunia dalam bidang teknologi
membuat segala sesuatu menjadi bersifat digital, virtual, dan lebih bersifat personal. Kemajuan ini kemudian
membuat berbagai fungsi mengalami standardisasi dan mudah dikerjakan oleh semua orang, kemudahan inilah
yang kemudian membuat semua barang lantas terlihat tidak ada bedanya—proses yang kemudian disebut
Friedman dengan istilah komoditisasi (commoditization). Terjadinya komoditisasi ini kemudian menuntut
adanya kreatifitas dari pengusaha untuk membuat produknya menjadi unik—beda dari komoditas lainnya, agar
dapat terus berkompetisi dan bersaing dengan produk serupa, untuk bertahan di dunia yang semakin rata ini.
Cara kedua yang diberikan Friedman dalam bukunya ditujukan pada pengusaha yang memulai usahanya
dari usaha kecil, yaitu agar perusahaan kecil miliknya bertindak „besar‟, dan cara bagi pengusaha kecil untuk
bertindak besar adalah dengan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan mengkolaborasikan alat-alat
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

baru untuk mencapai hasil yang lebih jauh dan lebih cepat. Melalui aturan ini, Friedman mengajarkan para
pengusaha kecil agar tidak takut bersaing dengan para pengusaha besar, karena teknologi akan membantu
pengusaha kecil menemukan cara yang sesuai dan menolong mereka untuk berkompetisi melawan pengusaha
besar. Kunci dari semuanya adalah dengan tidak takut mencoba hal baru, bahkan dengan mencoba hal yang
tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Bertentangan dengan aturan kedua, Friedman menyebutkan aturan ketiga bagi para pengusaha untuk dapat
bertahan, yaitu agar para pengusaha besar senantiasa bertindak „kecil‟, dengan memperhatikan para
pelanggannya, dan membuat para pelanggan berpikir bahwa mereka mampu bertindak „besar‟. Lebih lanjut lagi,
Friedman mengatakan bertindak „kecil‟ yang dimaksud di sini dilakukan dengan membuat para pelanggan
melayani dirinya sendiri dengan cara dan kemauannya. Dengan cara ini, pengusaha besar dapat membuat
pelanggan merasa produk atau jasa dari perusahaan tersebut didesain khusus sesuai dengan kebutuhan mereka,
padahal yang dilakukan perusahaan sebenarnya adalah membuat semacam “buffet digital” bagi para pelanggan
agar mereka dapat melayani dirinya sendiri.
Aturan keempat yang lantas disebutkan Friedman adalah agar para pengusaha berkolaborasi dengan
pengusaha lain yang memiliki spesialisasi di bidang berbeda, sehingga dapat dihasilkan suatu kolaborasi yang
menguntungkan bagi kedua belah pihak. Alasan kolaborasi inilah yang lantas membuat banyak perusahaan
besar mulai melebarkan usahanya secara global, karena mereka ingin berkolaborasi dengan sebanyak mungkin
ahli di seluruh dunia demi meningkatkan mutu produknya, dan membuat produknya mampu bersaing di tingkat
global, lagi-lagi, di dunia yang semakin rata ini.
Melanjutkan mengenai aturan untuk bertahan di dunia yang semakin rata ini, Friedman lantas
menyebutkan aturan kelima yaitu agar perusahaan-perusahaan secara rutin melakukan „chest X-rays‟—istilah
untuk menggambarkan analisa secara menyeluruh pada setiap fungsi perusahaan, agar didapatkan analisa
mengenai mana bagian yang merupakan inti dari kompetensi perusahaan, serta mana bagian yang sebenarnya
tidak krusial dan bisa dihilangkan. Analisa ini penting untuk membuat perusahaan menjadi semakin efisien dan
tidak menghabiskan dana untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, dan dengan demikian dapat lebih
memfokuskan pada kelebihan inti perusahaan.
Aturan keenam yang disebutkan Friedman kemudian adalah mengenai outsourcing. Mengenai aturan
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

keenam ini, Friedman menyebutkan bahwa melalui outsourcing, perusahaan dapat berinovasi lebih cepat
dengan biaya yang lebih murah untuk semakin bertumbuh besar, memperoleh keuntungan pasar, dan
mempekerjakan banyak ahli dengan spesialisasi berbeda-beda. Lebih lanjut lagi, Friedman mengatakan para
pengusaha besar melakukan outsourcing untuk mendapat talent-talent baru demi mengembangkan usahanya,
jasa dari perusahaan outsourcer digunakan untuk meningkatkan inovasi dan mempercepat pertumbuhan
perusahaan, bukan untuk mengurangi pengeluaran. Kunci untuk melakukan outsourcing yang baik, menurut
Friedman, adalah dengan bermain ofensif, bukan defensif.
Secara umum, penulis beranggapan cara-cara yang diungkapkan Thomas L. Friedman bagi para
pengusaha untuk terus dapat bertahan di dunia yang semakin rata ini—atau meminjam istilah Friedman, this
flattening world—merupakan aturan yang sangat baik. Keenam aturan tersebut mengajarkan pada pengusaha
untuk terus mencari cara baru yang kreatif demi mengembangkan usaha mereka, karena dunia sekarang yang
dipenuhi arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, bila tidak ditangani dengan hati-hati,
dapat membuat para pengusaha terpaksa “gulung tikar” karena tidak mampu berkompetisi dengan
pengusaha-pengusaha besar lainnya. Penulis pribadi berpendapat aturan pertama sampai kelima dari Bab 11
buku The World Is Flat merupakan aturan yang memang harus dipenuhi oleh para pengusaha untuk dapat terus
bertahan. Namun bila memang tulisan Friedman ditujukan untuk memberikan cara bagi para pengusaha untuk
bertahan di dunia sekarang, penulis rasa aturan keenam kurang mampu mengakomodasi tujuan tersebut. Hal
tersebut dikarenakan Friedman kurang membahas lebih lanjut mengenai bidang outsourcing, bidang yang
penulis rasa sebenarnya dapat dijadikan bidang paling berpengaruh untuk menentukan keberhasilan pengusaha.
Pertama-tama, Friedman memang menyebutkan pengusaha yang besar perlu melakukan outsourcing demi
kepentingan peningkatan inovasi dan pertumbuhan perusahaan, akan tetapi Friedman tidak menjelaskan apa
bentuk outsourcing yang dimaksud dalam tulisannya. Sejauh yang penulis tahu, ada dua macam bentuk tenaga
kerja yang ditawarkan oleh perusahaan penyedia jasa outsourcing yaitu bentuk tenaga kerja di bidang kerja
proses dan tenaga kerja di bidang kerja proyek. Tenaga kerja di bidang kerja proses mempunyai ciri-ciri
melakukan pekerjaan yang sifatnya berulang, terstandardisasi, terstruktur, dan karenanya tidak membutuhkan
spesialisasi atau keahlian apa-apa. Contoh dari tenaga kerja di bidang proses adalah tenaga kerja yang
disediakan outsourcers untuk pabrik, restoran, konstruksi, rumah sakit, bank, penerbangan, dan lain-lain.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Diperkirakan, 70-80% dari semua pekerjaan termasuk dalam kategori kerja proses ini1.
Berlawanan dengan kerja proses, yang dimaksud dengan kerja proyek adalah pekerjaan yang unik, tidak
terstandardisasi, tidak terstruktur, dan membutuhkan kualifikasi, spesialisasi, dan keahlian tertentu dari para
pelakunya. Contoh dari tenaga kerja proyek ini adalah tenaga kerja di bidang pemasaran, teknologi informasi,
riset, dan berbagai pekerjaan spesialis lainnya. Tenaga kerja berkualitas yang tersedia untuk ranah kerja proyek
ini hanya tersedia dalam jumlah sedikit, karena itu tidak heran tenaga kerja proyek banyak diperebutkan oleh
para pengusaha besar. Bentuk tenaga kerja yang kedua inilah yang dimaksud oleh Thomas L. Friedman dalam
tulisannya mengenai “How Companies Cope”, saat Friedman menyebutkan pengusaha besar perlu melakukan
outsourcing untuk meningkatkan inovasi dan pertumbuhan perusahaan. Hal inilah yang kurang dijelaskan
Friedman dalam tulisannya, sehingga dapat menimbulkan kebingungan, terutama dari kalangan awam yang
tidak begitu mengerti mengenai seluk-beluk dunia outsourcing.
Senada dengan penjelasan Friedman mengenai urgensi dilakukannya outsourcing oleh perusahaan agar
dapat terus bertahan di dunia yang semakin rata ini, Bruce Jodson, pengusaha sekaligus pemilik Health Plans
Today dan Speed Anywhere, mengatakan perlunya dilakukan outsourcing ekstrim. Outsourcing ekstrim ini
dipahami sebagai penggunaan jasa outsourcers untuk menangani setiap fungsi dalam bisnis seorang pengusaha,
selain kemampuan khusus dan unik yang membedakan usaha tersebut dari usaha lain2. Dengan menggunakan
outsourcing pada fungsi-fungsi umum tersebut, perusahaan lantas dapat memfokuskan diri untuk lebih
meningkatkan nilai inti (core value) yang merupakan kelebihan perusahaan, yang pada akhirnya dapat berbuah
pada kesuksesan perusahaan secara dobel, dan bahkan mungkin tripel.
Dunia semakin rata karena pengaruh globalisasi dan perkembanga teknologi serta imu pengetahuan yang
pesat, itulah yang terjadi sekarang. Dan, senada dengan pernyataan Friedman yang mengatakan para pengusaha
harus berbenah diri agar sesuai dengan perkembangan dunia, penulis pun menekankan perlunya keberanian
untuk mencoba hal-hal yang tadinya belum pernah dilirik. Tujuh aturan yang disebutkan Friedman merupakan
cara yang baik untuk memulai perubahan, yaitu dengan menggali potensi diri, bertindak „besar‟, bertindak

1
“ ”. Outsourcing : The Great Debate. http://www.thomsettinternational.com/main/articles/ hot/hot_outsource.htm, diakses pada
27 November 2008, pukul 09.24
2
Tom Taulli. Extreme Outsourcing. http://www.forbes.com/enterprisetech/2005/10/05/entrepreneurs-tomtaulli- ecommerce
-cx_tt_1005straightup.html, diakses pada 27 November 2008, pukul 13.53.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

„kecil‟, kolaborasi, melakukan analisa fungsi perusahaan, dan melakukan outsourcing. Penulis kembali
menekankan di sini bahwa outsourcing tenaga kerja proyek merupakan hal mutlak yang harus dilakukan
pengusaha agar dapat terus beradaptasi di dunia sekarang ini. Lebih lanjut lagi, penulis menyebutkan perlunya
dilakukan outsourcing ekstrim dengan menggunakan tenaga outsourcing untuk semua fungsi perusahaan selain
fungsi yang merupakan core value dan kelebihan perusahaan. Dengan melakukan ketujuh aturan yang telah
disebutkan Friedman tersebut, dan lebih menitikberatkan pada unsur outsourcing, niscaya pengusaha-pengusaha
akan mampu terus mempertahankan eksistensinya dan berkompetisi di dunia yang semakin rata ini.

Page | 5