Anda di halaman 1dari 7

MANFAAT GIZI BAGI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Definisi Zat Gizi


Gizi berasal dari bahasa arab Al Gizzai yang artinya makanan dan manfaatnya untuk
kesehatan
Gizzai juga dapat diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Dalam bidang
kesehatan, istilah gizi (sering disebut pula nutrisi) diartikan sebagai proses dalam tubuh makhluk
hidup untuk memanfaatkan makanan guna pembentukan energi, tumbuh kembang, dan
pemeliharaan tubuh. Ilmu yang mempelajari perihal tersebut adalah ilmu gizi.
Nutrien atau zat-zat gizi merupakan substansi biokimia yang digunakan tubuh dan harus
diperoleh dengan jumlah yang adekuat (memenuhi syarat) dari makanan yang kita makan.
Nutrien terdiri atas kelompok makronutrien dan mikronutrien. Yang tergolong ke dalam
makronutrien adalah diantaranya hidrat arang, lemak dan protein yang dalam hal ini dikonsumsi
dalam jumlah relatif besar (ukuran gram), sedangkan yang termasuk ke dalam miukronutrien
adalah vitamin dan mineral karena diperlukan tubuh dengan jumlah relatif kecil (Atikah, 2010).

Peran Zat Gizi Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut


Zat gizi atau nutrisi juga memainkan peran penting dalam perkembangan dan
pemeliharaan mulut yang sehat, khususnya gigi dan gusi.

Makanan yang kita makan

mempengaruhi gigi kita. Pada saat yang sama, kesehatan atau kurangnya kesehatan gigi dan gusi
mempengaruhi apa yang kita bisa makan. Kesehatan gigi yang baik dimulai dari awal dalam
kehidupan dan harus dipraktekkan sepanjang hidup (Atikah, 2010).
Peran zat gizi dalam pencapaian kesehatan gigi yang optimal adalah sebagai berikut :
Mineral
Peran atau fungsi dari mineral umumnya menyusun struktur dasar tulang dan gigi. Berikut
fungsi beberapa mineral yang penting bagi kesehatan gigi dan mulut :

Kalsium
Membantu dalam pembentukan serta memperkuat gigi dan tulang. Kalsium banyak
terdapat pada susu, keju, telur, dan sayuran berwarna hijau tua.

Fosfor

Diperlukan untuk perkembangan tulang yang sehat terutama pada pembentukan dan
pertumbuhan rahang, dan pola erupsi gigi. Fosfor banyak terdapat pada Susu, keju, daging, bijibijian, telur, dan kacang-kacangan.

Magnesium
Mencegah terjadinya hipoplasia enamel dan membantu dalam proses mineralisasi tulang
dan gigi. Magnesium banyak terdapat pada kacang kedelai, kerang dan gandum.

Besi
Berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan gusi dan lidah serat jaringan mukosa
mulut. Mineral ini banyak terdapat pada daging, bayam, dan sayuran berwarna hijau.

Flour
Mempertahankan tulang dan gigi yang kuat sehingga mencegah terjadinya karies gigi,
selain itu flour juga berfungsi mengatur pH asam-basa dalam rongga mulut. Flour banyak
terdapat pada teh, brokoli, dagaing ayam dan air floridasi.

Seng
Berperan besar dalam penyembuhan luka pada mukosa mulut. Seng banyak terdapat pada
seafood, hati, daging, dan sereal gandum.

Karbohidrat
Meskipun banyak penelitian menyebutkan bahwa karbohidrat sebagai penyebab timbulnya
berbagai penyakit gigi dan mulut, namun dari fungsinya sebagai katalis dalam proses
metabolisme terhadap zat gizi lain ( mineral, vitamin, dan lemak ) dan meningkatkan konsumsi
zat gizi lain serta peran sebagai imunopolisakarida dalam menangkal infeksi,berperan penting
pada masa pra erupsi dan pasca erupsi, maka karbohidrat juga memegang peranan penting dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut (Atikah, 2010).
Lemak
Lemak berperan sebagai pengangkut vitamin yang memiliki peran dalam menjaga
kesehatan gigi yang mulut. Salah satu jenis lemak adalah lemak jenuh. Lemak ini memainkan
peranan penting terhadap kesehatan tulang dan gigi. Agar kalsium dapat bersatu dengan struktur
tulang kerangka dan gigi secara efektif, sedikitnya 50 persen lemak makanan seharusnya
mengandung lemak jenuh (Atikah, 2010).
Protein

Protein

sangat

berperan terutama pada masa pertumbuhan jaringan termasuk

perkembangan gigi sejak awal pertumbuhannya. Selain itu protein berperan dalam pembentukan
antibodi yang melindungi seluruh jaringan termasuk mukosa mulut dan darerah sekitarnya
terutama dari infeksi yang mungkin menyerang jaringan periodontal serta mencegah terjadinya
angular cheilitis (Atikah, 2010).
Vitamin

Vitamin A
Diperlukan untuk kesehatan gingiva. Penting untuk menjaga selaput lendir mulut dan jaringan
mukosa mulut. Memelihara jaringan epitel, membantu perkembangan gigi serta pertahanan
terhadap infeksi. Vitamin A banyak terdapat pada sayuran yang berwarna hijau atau kuning,
buah dengan warna yang mencolok, susu, telur dan minyak ikan.

Vitamin D
Meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat yang sangat berperan pada pembentukan dan
pertahanan gigi. Absorpsi ini berlangsung di usus halus. Selain itu berperan penting pada
pembentukan rahang. Vitamin ini paling banyak terdapat pada susu, minyak ikan dan sereal.

Vitamin E
Mencegah pertumbuhan bercak putih tebal di mulut (leukoplakia). Mencegah kanker oral selain
itu vitamin E juga berperan sebagai anti oksidan. Vitamin E banyak terdapat pada telur, susu,
daging, dan kacang-kacangan.

Vitamin K
Berperan dalam proses pembekuan darah dan mencegah terjadinya pendarahan spontan dalam
rongga mulut. Vitamin K banyak terdapat pada sayuran berwarna hijau.

Vitamin C
Diperlukan untuk kesehatan periodontal dan gingiva, faktor dalam penyembuhan luka.
Diperlukan untuk produksi kolagen. Dan mencegah perdarahan gingival. Vitamin C banyak
terdapat pada buah-buahan, sayuran hijau dan tomat.

Vitamin B kompleks
Membantu struktur wajah berkembang dengan benar sehingga wanita hamil perlu mengkonsumsi
vitamin ini untuk perkembangan janinnya. Selain itu fungsi vitamin B kompleks adalah
mencegah timbulnya rasa sakit,warna kemerahan dan pendarahan givival, keretakan dan luka di

sudut mulut dan lidah. Vitamin ini banyak terdapat pada kacang-kacngan, ragi, sayuran hijau,
hati, susu, beras, jagung dan lain-lain.
4. Akibat Defisiensi Zat Gizi Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut
Kurangnya konsumsi makanan bergizi dapat menyebabkan terjadinya defisiensi zat gizi.
Defisiensi zat gizi ini akan menimbulkan gejala pada tubuh bila berlangsung lama dan bersifat
kronis. Gejala pada tubuh antara lain dapat terjadi di dalam rongga mulut. Biasanya yang
bermanifestasi pada rongga mulut adalah defisiensi mineral, protein, dan vitamin (Atikah, 2010).
Defisiensi mineral
Defisiensi mineral yang bermanifestasi dalam rongga mulut adalah defisiensi kalsium,
fosfor, magnesium, besi dan flour.

Defisiensi kalsium
Manifestasi defisiensi kalsium dalam rongga mulut adalah terjadi absorpsi tulang rahang
yang merata dan destruksi ligamentum periodontal dan berkurangnya kekuatan gigi.

Defisiensi fosfor
Manifestasi defisiensi fosfor dalam rongga mulut adalah terjadinya gangguan
pertumbuhan rahang dan erupsi gigi. Juga adanya pertumbuhan kondili yang lambat disertai
maloklusi.

Defisiensi magnesium
Defisiensi magnesium dalam jangka waktu yang lama dapat terjadi hipoplasia enamel.

Defisiensi besi
Manifestasi defisiensi besi dalam rongga mulut adalah terjadinya glossitis yang
merupakan penyakit pada lidah, di mana lidah tampak merah dan sakit.

Defisiensi flour
Manifestasi Defisiensi flour dalam rongga mulut yang paling utama adalah kerentakan
gigi terhadap terjadinya karies gigi.

Defisiensi protein
Protein banyak terdapat pada daging, telur, susu, ikan dan jagung. Manifestasi defisiensi
protein dalam rongga mulut adalah lidah tampak berwarna merah karena hilangnya papila,
terjadi angular cheilitis dan fissura bibir atau bibir pecah-pecah. Selain itu rongga mulut terasa

kering dan nampak kotor. Resistensi terhadap infeksi mengalami penurunan sehingga mudah
terjadi infeksi pada jaringan periodontal (Atikah, 2010).
Defisiensi vitamin

Defisiensi vitamin A
Defisiensi vitamin A menyebabkan terjadinya gingivitis, hiperplasia gingiva serta
penyakit periodontal dan hipoplasia enamel.

Defisiensi vitamin D
Defisiensi vitamin D menyebabkan terjadinya hipoplasia enamel yang melibatkan gigi
insisivus dan molar permanen yang umumnya terdapat pada penderita rhiketsia.

Defisiensi vitamin E
Defisiensi vitamin E menyebabkan terjadinya pendarahan gingival, keluarnya pus dari
poket dan penyakit periodontal serta leukoplakia.

Defisiensi vitamin K
Defisiensi vitamin K menyebabkan terjadinya pendarahan spontan pada gingival atau
setelah menggosok gigi.

Defisiensi vitamin C
Defisiensi vitamin C menyebabkan rentannya gingival terhadap iritasi lokal sehingga
terjadi hiperplasia gingival, mudah berdarah dan dapat terjadi ulserasi yang biasa disebut Scurvy.

Defisiensi vitamin B kompleks


Tiamin ( B 1 )
Defisiensi Tiamin menyebabkan terjadinya pembesaran papila fungiformis pada perifer lidah,
adanya retakan pada bibir dan sensitifitaspada gigi dan mukosa mulut meningkat.
Ribofavin ( B 2 )
Defisiensi ribofavin menyebabkan terjadinya angular cheilitis dan atrofi papilla fungiformis.
Asam nikotinat ( B 5 )
Defisiensi Asam Nikotinat menyebabkan terjadinya atrofi papilla di mana lidah tampak merah,
gingivitis kronis dan periodontitis.
Peridoksin ( B 6 )

Defisiensi Peridoksin menyebabkan terjadinya angular cheilitis, glossis, serta rasa tidak enak
pada mulut.
Asam Pentotenat
Defisiensi Asam Pentotenat menyebabkan terjadinya angular cheilitis, ulserasi, dan nekrosis
pada gingiva. Terlihat juga mukosa mulut dan bibir warna merah mengkilat.
Asam Folat
Manifestasi defisiensinya adalah pembengkakan pada lidah, gingivitis, angular cheilitis dan
ulkus pada lidah.
Sianokobalamin ( B 12 )
Manifestasi defisiensinya adalah gingival nampak pucat dan mudah terjadi ulserasi. Lidah
tampak merah licin dan mengkilat serta lebih sensitiv ( glositis hurteri ).

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Makanan Bergizi


Tingkat pendidikan
Semakin tinggi pengetahuan seseorang membuat pandangan pentingnya makan makanan
yang bergizi bagi kesehatannya. Selain itu tingkat pendidikan juga sangat mempengaruhi cara
pandang informasi baru yang diterimanya khususnya mengenai pentingnya konsumsi makanan
yang bergizi. Dengan pengetahuan yang ada mereka akan memilah makanan yang baik untuk
kesehatan tubuh pada umumnya dan kesehatan gigi pada khususnya (Atikah, 2010).
Tingkat sosial ekonomi
Semakin tinggi derajat sosial-ekonomi seseorang, semakin mudah baginya untuk
mendapatkan berbagai jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Budaya dan adat-istiadat
Banyak budaya yang berkembang menyangkut konsumsi makanan bergizi, salah satu
yang sering kita lihat adalah kebiasaan yang mengatakan bahwa kolustrum yang terkandung pada
ASI mula-mula adalah susu yang telah basi, padahal di dalam kolustrum tersebut banyak terdapat
zat gizi yang bermanfaat bagi perkembangan bayi selanjutnya.

Agama
Dalam agama ada batasan antara makanan mana yang diperbolehkan untuk dikonsumsi
maupun tidak boleh untuk dikonsumsi.
Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi konsumsi makanan bergizi. Suatu lingkungan yang
baik akan memudahkan seseorang untuk memperoleh makanan yang bergizi, di mana hasil bumi
berlimpah, keamanan terjamin, dan akses distribusi makanan yang mudah. Hal ini tentu bertolak
belakang dengan lingkungan yang tandus, keamanannya tidak terjamin dan akses menuju daerah
tersebut sulit. Banyak kita dengar dan lihat terjadi kelaparan dan gizi buruk, hal ini tentu
berpengaruh juga terhadap kesehatan gigi dan mulutnya.
Keadaan medis seseorang
Keadaan medis seseorang menyebabkan terbatasnya makanan yang mereka konsumsi,
walaupun makanan tersebut memiliki nilai gizi yang tinggi untuk menjaga kesehatan mereka.
Misalnya seseorang yang menderita hipertensi parah tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi
daging dan telur serta beberapa jenis sayuran. Padahal di dalam makanan tersebut terkandung zat
gizi yang diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh umumnya dan kesehatan gigi dan mulut
pada khsusnya (Atikah, 2010).

Maria de Fatima Carvalho

10610025

Sumber :
Atikah, Proverawati. 2010. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta :
Nuha Mendika.