Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PENELITIAN MPHI

“ANALISIS PERAN WWF DALAM SERTIFIKASI KAYU HUTAN KALIMANTAN TAHUN 2003-2009”

DALAM SERTIFIKASI KAYU HUTAN KALIMANTAN TAHUN 2003- 2009” KELOMPOK I Haryo Tetuko (0606097026) Aisyah Ilyas

KELOMPOK I

Haryo Tetuko (0606097026) Aisyah Ilyas (070629110) Erika (0706291243) Natasha Agnes (0706291344) Rifki Ahmad Z. S. (0706291376) Teguh Prayogo S. (0706291432) Winda (0706291464)

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA

2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

1.1.1.

Permasalahan Hutan di Tingkat Global

Penurunan kualitas lingkungan bumi akibat eksploitasi secara besar- besaran yang terjadi di berbagai tempat tengah menjadi isu yang ramai dibicarakan oleh para ahli lingkungan, terutama terkait ketersedian dan keberlanjutan sumber daya tersebut bagi generasi di masa mendatang. Kebutuhan dan penggunaan sumber daya yang tinggi dianggap sebagai alasan utama yang menimbulkan pemanasan global. 1 Permasalahan lingkungan mulai mendapat perhatian sejak beberapa abad lalu yaitu ketika terjadi Revolusi Industri Inggris. Ketika itu, perhatian terhadap permasalahan lingkungan dilatarbelakangi oleh polusi yang ditimbulkan oleh industri-industri yang tengah berkembang di Inggris. 2

Kerusakan hutan merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang mendapat perhatian dari banyak pakar. Hal ini disebabkan karena hutan memiliki manfaat yang banyak bagi manusia. Hutan dapat memberikan manfaat langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Sumber daya hutan dapat dimanfaatkan untuk berbagai sumber penghasilan dan kebutuhan pangan. Dari sini dapat dilihat bahwa sumber daya hutan berkontribusi penting bagi kesejahteraan manusia. Empat puluh tiga persen sumber daya hutan dunia terletak di kawasan tropis. 3 Hutan tropis bermanfaat antara lain sebagai sumber energi, produk industri perkayuan, pelindung tanah dan sumber air, sumber genetis, belum lagi hasil-hasil hutan selain kayu. 4 Hasil Penilaian Sumber Hutan Tropis menunjukkan kerusakan hutan terbuka di daerah tropis sekitar 3,8 juta hektar per tahun,

1 Geologi dan Permasalahan Lingkungan

http://www.docstoc.com/docs/2949246/Chapter-1-Geologi-dan-Masalah-Lingkungan pada Kamis, 8 Oktober 2009, pukul 16.17 2 David N. Ballam dan Michael Vesseth, Introduction to International Political Economy (NJ:

Prentice Hall International Inc, 1996), hal. 409. 3 Lihat Nota Informasi FAO: Situasi Sumber Daya Hutan Dunia Dewasa ini, (Jakarta: Departemen Kehutanan, 1990), hal. 2. 4 Ibid.

diakses dari

sedangkan kerusakan di hutan tertutup adalah 7,5 juta hektar pertahun. Wilayah kerusakan di hutan Kalimantan itu sebanding dengan wilayah Swiss dan Austria. Kerusakan itu terutama disebabkan oleh deforestasi. Deforestasi berarti perubahan fungsi hutan yang disebabkan oleh konversi secara permanen, dari hutan menjadi lahan pertanian atau hutan produksi, dengan cara penebangan kayu. Memang hutan dapat beregenerasi, tetapi sering kali jumlah kayu yang ditebangbaik secara legal maupun ilegaltidak seimbang dengan waktu regenerasi kayu. Selain itu, membuka lahan baru sering kali dilakukan dengan cara membakar hutan, yang dapat mematikan bibit-bibit pohon baru. 5

1.1.2. Kemunculan Aktor International Civil Society Organization (ICSO)

dalam Permasalahan Lingkungan Global Hingga pertengahan tahun 1970-an, permasalahan lingkungan merupakan masalah yang belum banyak menyita perhatian para pemimpin dunia. Negara pada saat itu masih berfokus pada masalah-masalah militer dan ekonomi, sehingga isu- isu lingkungan global masih merupakan isu marjinal dalam kerangka politik internasional suatu negara. Isu lingkungan global mulai mendapat tempat dalam dunia internasional pada tahun 1972, ketika diselenggarakannya United Nations Conference on the Human Environment di Stockholm, Swedia. Konferensi ini kemudian menjadi titik awal diakuinya peran ICSO lingkungan sebagai aktor yang mampu mengusahakan jalur komunikasi untuk berdiplomasi dengan pemerintah, mampu membangun opini publikbaik di tingkat nasional maupun di tigkat internasionaluntuk menekan pemerintah suatu negara agar mengambil tindakan nyata dalam memerangi masalah lingkungan, serta mampu memberikan

kontribusi pada perdebatan ilmiah untuk membantu pencapaian konsensus pada aspek-aspek masalah lingkungan. 6 Selepas konferensi tersebut, peran ICSO sebagai aktor yang memperjuangkan isu-isu dan kaum marjinal semakin terkukuhkan. Pusat perhatian dan perjuangan ICSO lingkungan pada umumnya adalah negara, karena negara merupakan aktor legal yang dapat mengeluarkan berbagai regulasi dan

5 N. Myers, ―Tropical Forests and Climate‖,dalam jurnal Climate Change, Vol. 19, No. 1/2, September 1991. 6 John Baylis, dan E.J. Rengger, ed., Dilemmas of World Politics: International Issues in a Changing World, (Oxford: Clarendon Press, 1992), hlm. 295-296.

kebijakan sehubungan dengan pemanfaatan lingkungan. Negara merupakan aktor yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan regulasi mengikat tentang pembatasan eksploitasi sumber daya alam di tingkat masyarakat. Di lain pihak, pihak korporasi juga menjadi tujuan perjuangan ICSO lingkungan. Hal ini disebabkan karena eksploitasi berlebihan dari sumber daya alam seringkali disponsoriatau bahkan dilakukanoleh pihak korporasi yang menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dari setiap proyeknya. Kepemilikan modal yang besar juga membuat pihak korporasi seperti berada di atas angin; terkadang dengan modalnya yang besar, pihak korporasi turut bermain dalam pembuatan kebijakan pemerintah tentang lingkungan. Itulah sebabnya, pihak korporasi juga menjadi tujuan perjuangan ICSO lingkungan. Di antara berbagai ICSO lingkungan yang ada di seluruh dunia, World Wide Fund merupakan salah satu dari ICSO lingkungan yang sejak awal pendiriannya sudah aktif menyuarakan dan memperjuangkan isu lingkungan. Berbagai proyek yang bertujuan untuk pelestarian dan perlindungan lingkungan telah dilakukan WWF. Salah satunya adalah proyek untuk merealisasikan sertifikasi hutan Kalimantan.

1.1.3. Keadaan Hutan di Indonesia

Luasnya area hutan di Indonesia menjadikan negara tersebut sebagai salah satu produsen kayu terbesar di dunia. Namun, hal ini tidak berarti hutan di Indonesia terlepas dari masalah dalam pengelolaannya. Undang-Undang Pokok Kehutanan tidak membawa dampak yang signifikan pada pengurangan eksploitasi hutan secara besar-besaran. Pada pertengahan tahun 1960-an, pemerintah

mengeluarkan UU Pokok Kehutanan No. 5 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan. Di dalamnya disebutkan bahwa pengelolaan hutan diselenggarakan atas asas kelestarian lingkungan dan asas manfaat. 7 Hutan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tanpa upaya merusak lingkungan. Pemanfaatan sebesar-besarnya yang dimaksud di sini merujuk pada betapa bermanfaatnya hutan karena menyediakan penghidupan, secara langsung maupun tidak, terutama untuk masyarakat di sekitar hutan itu.

7 Pemanfaatan Hutan Tropis yang Berwawasan Lingkunga di Indonesia, dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan (Jakarta: Departemen Kehutanan, 1991), hal. 1.

Indonesia kehilangan hutan lebih cepat dari negara-negara pemilik lain di dunia. Berdasarkan data FAO (2006), hutan di Indonesia berkurang 1,8 juta hektar per tahun. Dalam buku rekor dunia Guinness edisi 2008, tertulis dari 44 negara yang secara kolektif memiliki 90% hutan dunia, negara yang meraih tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia adalah Indonesia. Hingga sekarang ini, Inonesia telah kehilangan tigaperempat luas kawasan hutan alamnya (sekitar 72%) dan dari jumlah tersebut 40% telah hilang sama sekali. Faktor utama pendorong tingginya deforestasi di Inonesia adalah pembalakan skala besar untuk industri kayu, kertas, pembukaan lahan gambut untuk perluasan kelapa sawit dan kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun untuk pembukaan hutan. 8 Kerusakan ini terutama disebabkan oleh permintaan Asia akan kayu bagi kebutuhan industri kayu dan industri kertas. Sementara itu dua pertiga dari penebangan di hutan Indonesia adalah ilegal. Penebangan hutan secara ilegal ditengarai sebagai salah satu penyebab utama laju deforestasi di kawasan Indonesia. Hancurnya hutan di Indonesia juga akan mempengaruhi ketahanan pangan. 9

1.1.4. Kerusakan Hutan di Kalimantan

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hijau, terutama hutan tropis dalam skala yang cukup besar. Pada tahun 1950, tidak lama setelah negara tersebut merdeka, peta vegetasi menyebutkan luas hutan per pulau secara berturut-turut, Kalimantan memiliki areal hutan seluas 51.400.000 hektar, Irian Jaya seluas 40.700.000 hektar, Sumatera seluas 37.370.000 hektar, Sulawesi seluas 17.050.000 hektar, Maluku seluas 7.300.000 hektar, Jawa seluas 5.070.000 hektar dan terakhir Bali dan Nusa Tenggara Barat/Timur seluas 3.400.000 hektar atau dalam kalkulasi secara keseluruhan, ditambah dengan luas wilayah hutan di luar kawasan yang disebutkan, jumlah hutan di negara Indonesia tersebut adalah sekitar 162.290.000 hektar. 10 Satu jumlah yang mungkin sulit dibayangkan betapa luasnya wilayah hutan di Indonesia.

8 Pembalakan liar In Indonesia‖ dalam Country Profile: Indonesia. Diakses dari

9 Geologi dan Permasalahan Lingkungan

http://www.docstoc.com/docs/2949246/Chapter-1-Geologi-dan-Masalah-Lingkungan pada Kamis, 8 Oktober 2009, pukul 16.17 10 Potret Buram Indonesia‖, diakses dari http://www.isai.or.id/?q=node/10, diakses pada hari Jumat, 9 Oktober 2009 pukul 16.34.

diakses dari

Dalam perkembangannya, luas wilayah hutan di Indonesia ini mengalami penurunan disaat negara tersebut memasuki era orde baru yaitu pada tahun 1970- an. 11 Pada masa ini, kebijakan Soeharto, Presiden Indonesia kala itu, mempunyai kebijakan yang terfokus pada pembangunan, sebuah kebijakan yang sangat mengarah pada bidang ekonomi. Keberadaan kayu yang begitu banyak di negara tersebut menjadikannya satu hal yang sangat ―menggiurkan‖. Hal inilah yang menjadikan awal dimana pembalakan hutan begitu intens terjadi. Selain itu, merebaknya perusahaan kayu pada masa tersebut menjadi faktor pendukung lainnya. 12

Menurut survei pada tahun 1999, laju deforestrasi rata-rata dari tahun 19851997 mencapai 1,7 juta hektar. Selama periode tersebut, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan mengalami deforestrasi terbesar. Secara keseluruhan daerah-daerah ini kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya. Para ahli pun sepakat, bila kondisinya masih begitu terus, hutan dataran rendah non rawa akan lenyap dari Sumatera pada 2005 dan di Kalimantan setelah 2010. 13

Bila kita lihat data-data tersebut, kerusakan hutan di Kalimantan merupakan yang terparah dibandingkan dengan kerusakan di pulau-pulau yang lainnya. Hutan Kalimantan atau sering kali dikenal dengan kawasan Borneo ini dalam data penelitian, pada tahun 1985 luas wilayah Kalimantan, lebih 70 persennya adalah hutan dan kini luas hutan tinggal 50,4 persen. 14 Satu penurunan yang sangat memprihatinkan tentunya. Pemetaan proses perkembangan pengrusakan hutan di Kalimantan dapat dilihat dalam gambar 1 tentang realisasi dan pengrusakan hutan di Kalimantan 1900-2020. Latar belakang dari menurunnya luas hutan terutama di Kalimantan tersebut sangatlah beragam. Hal pertama tentunya adalah banyaknya tindakan pembalakan liar. Nilai jual kayu yang cukup tinggi di tingkat dunia dan pengawasan yang tidak begitu optimal menjadikan tindakan pembalakan liar ini

11 Ibid.

12 Ibid.

13 Ibid.

14 Lebih lengkapnya dapat dilihat dalam artikel yang berjudul ―Hutan di Kalimantan Cuma Tersisa

dari

pada hari Jumat, 9 oktober 2009 pukul 16.31.

Separo‖

yang

diakses

diakses

semakin marak terjadi. Korupsi diantara kalangan oknum aparat terkait pengawasan dan perlindungan kawasan hutan ini dapat menjadi faktor lainnya.

perlindungan kawasan hutan ini dapat menjadi faktor lainnya. Gambar 1 Realisasi dan Prediksi Kerusakan Hutan Kalimantan

Gambar 1 Realisasi dan Prediksi Kerusakan Hutan Kalimantan 1900-2020 Dalam sebuah data penelitian disebutkan bahwa terdapat pembukaan lahan hutan tropis di Kalimantan untuk kepentingan penanaman kelapa sawit, pertambangan, dan kawasan transmigrasi. 15 Save Our Borneo (SOB) memaparkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektar, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16 persen. 16

Dalam sudut pandang yang sedikit berbeda, terdapat faktor lainnya yang menjadi penyebab kerusakan kawasan hutan di Kalimantan tersebut. Faktor

15 Lihat Save Our Borneo (SOB), ―Kerusakan Hutan di Kalimantan karena Pembukaan Lahan

Kelapa

diakses pada hari Jumat, 9 Oktober 2009 pkl. 16.25. 16 Ibid.

dari

Sawit‖,

diakses

tersebut terkait dengan keberadaan satu peraturan yang datang dari pihak pemerintah. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) 2/2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dikatakan bahwa hutan nasional dapat disewa untuk kepentingan industri dengan biaya Rp 3 juta per hektare (ha) per tahun, dalam kalkulasi yang lebih spesifik dapat dikatakan bahwa hal tersebut adalah sama dengan kisaran Rp 200,00 Rp 300,00 per m 2 . 17 Dalam peraturan yang berbeda, UU 5/1990 dikatakan bahwa kegiatan industri pertambangan di kawasan hutan lindung, apalagi dalam skala yang sangat besar, tidak diperkenankan. 18

1.1.5.

Deskripsi World Wild Fund (WWF)

1.1.5.1.

Profil World Wild Fund (WWF) Global

World Wide Fund (WWF) merupakan salah satu organisasi nirlaba berfokus lingkungan terbesar di dunia yang didirikan sejak tanggal 11 September 1961. Kantor pusat WWF terletak di Gland, Swiss sementara kantor cabangnya

tersebar di berbagai belahan dunia. Dulunya, WWF merupakan singkatan dari World Wildlife Fund, namun pada 1986 nama tersebut mengalami perubahan menjadi World Wide Fund for Nature. Namun ada beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Kanada, yang masih menggunakan nama World Wildlife Fund. Untuk mempermudah, nama akronim WWF-lah yang hingga kini digunakan secara global. Misi utama WWF adalah untuk menghentikan degradasi lingkungan hidup dan untuk membangun masa depan di mana manusia dapat

hidup harmonis dengan alam 19 . Misi tersebut dilaksanakan dengan tiga langkah utama, yaitu: 20

1. Melindungi keanekaragaman biologis dunia,

2. Memastikan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui secara stabil,

17 Lihat Suara Pembaharuan mengenai ―Cabut PP 2/2008‖ yang diakses melalui http://www.suarapembaruan.com/News/2008/02/21/Utama/ut01.htm pada hari Jumat, 9 Oktober 2009 pkl. 16.32.

18 Ibid. 19 WWF, Who We are, How We Came About, and What We’re About, http://www.panda.org/who_we_are/, diakses pada 8 Oktober 2009, pukul 21.56.

20 Ibid.

3.

Mempromosikan pengurangan polusi dan konsumsi yang berlebihan.

Hingga kini, terdapat lebih dari 1300 proyek WWF yang sedang berjalan di

seluruh dunia. Proyek-proyek ini pada dasarnya lebih berfokus pada isu-isu lokal, mulai dari restorasi habitat orangutan, hingga proyek perlindungan giant panda. Dalam mencapai misi-misinya, WWF memiliki pedoman sendiri dalam bertindak, antara lain 21 :

1. Menjadi organisasi yang bersifat global, multikultural, dan non-politis,

2. Menggunakan informasi dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan suatu isu, dan dengan kritis mengevaluasi setiap langkah yang telah dilakukan,

3. Membangun solusi perlindungan yang konkrit melalui kombinasi inisiatif kebijakan, kapasitas membangun, dan pendidikan,

4. Mengikutsertakan komunitas/penduduk lokal pada setiap proses perencanaan dan eksekusi program-programnya, dengan tetap menghargai budaya dan kebutuhan ekonomi mereka,

5. Membangun jaringan kerjasama dengan organisasi-organisasi lain, pemerintah, serta dengan komunitas lokal dan bisnis untuk meningkatkan efektivitas WWF,

6. Menjalankan setiap operasinya dengan efektif secara pendanaan, dan

menggunakan donasi sesuai dengan standar-standar akuntabilitas yang ada. WWF bekerja sama dengan berbagai partner, seperti misalnya organisasi- organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), agensi-agensi pembangunan seperti USAID dan Bank Dunia, serta dengan berbagai partner dari kalangan bisnis dan industri yang menghendaki perubahan. WWF juga mendapat bantuan dari banyak donatur individu, yang memberikan kontribusi sebesar 60% dari total pendapatan WWF, sementara sekitar 45% pendapatan WWF lainnya datang dari Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. 22

1.1.5.2. WWF Indonesia

21 Ibid. 22 WWF, WWF in Brief, http://www.panda.org/wwf_quick_facts.cfm, diakses pada 8 Oktober 2009, pukul 22.00.

WWF Indonesia merupakan jaringan independen dari WWF Global, yang terdaftar pada hukum Indonesia, serta dikelola oleh Dewan Penyantun yang terdiri dari Dewan Penasihat, Dewan Pengawas dan Dewan Pelaksana yang berfungsi sebagai lembaga penentu arahan strategis dan kredibilitas WWF- Indonesia. 23 Kantor Sekertariat Nasional WWF berada di Jakarta, bertugas memimpin dan berkoordinasi dengan sejumlah Kantor Lapangan WWF Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Kantor Sekertariat Nasional ini juga bertugas memastikan agar upaya dan proyek WWF Indonesia sejalan dengan Global WWF Network. Sementara Kantor Lapangan bertugas melakukan upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan di tingkat lokal, dengan bekerja sama dengan pemerintah lokal melalui kegiatan proyek praktis di lapangan, penelitian ilmiah, memberi masukan untuk kebijakan lingkungan, mempromosikan pendidikan lingkungan, memperkuat komunitas, dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan. 24

1.2. Permasalahan Bagaimana WWF melakukan perannya dalam sertifikasi kayu dari hutan

Kalimantan untuk mengatasi pembalakan liar pada tahun 2003-2009?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah; (1) untuk menjelaskan dan memahami adanya permasalahan hutan di Indonesia, khususnya hutan di Kalimantan; (2) untuk mengeksplorasi peran dari ICSO dalam membantu mengatasi permasalahan hutan di Kalimantan; dan (3) untuk mengesplorasi dan menganalisis cara kerja WWF dalam merealisasikan sertifikasi kayu hasil Hutan Kalimantan. Selain itu, ada beberapa manfaat dari penelitian ini, yaitu secara teoritis dan praktis. Manfaat penelitian secara teoritis adalah dapat memberikan sumbangan bagi kajian studi ilmu hubungan internasional, terutama kajian masyarakat transnasional mengenai masalah lingkungan hidup. Manfaat penelitian secara teoritis lainnya adalah dapat memberikan pemahaman yang lebih baik

23 WWF Indonesia, Tentang WWF, diakses dari www.wwf.or.id/tentang_wwf/, diakses pada 8 Oktober 2009, pukul 21.45. 24 Ibid.

mengenai konsep dalam kajian masyarakat transnasional, seperi ICSO. Sedangkan, manfaat penelitian secara praktis adalah dapat memberikan gambaran yang lebih jelas bagi pembaca yang lebih jelas bagi tim peneliti dan pembaca mengenai upaya konkret dari WWF dalam merealisasikan sertifikasi kayu hasil Hutan Kalimantan.

1.4. Tinjauan Pustaka

1. Permasalahan hutan adalah permasalahan lintas batas negara. Ini dikarenakan posisi hutan berada di wilayah yang tidak mengenal pembatasan wilayah yang diciptakan secara politik dalam hubungan antarnegara. Sebagai contoh, hutan yang berada di sekitar sungai Amazon di Amerika Selatan tidak dipangkas dan digunduli sesuai dengan batas-batas wilayah, apakah itu termasuk wilayah Brasil, Kolombia, Peru, ataukah Bolivia. Begitupula hutan yang berada di pulau Kalimantan. Apakah hutan yang berada di Kalimantan harus dipagari dan dibendung berdasarkan batas-batas imajiner tiga negara yang berada di kawasan itu; Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia? Tentunya, permasalahan ini akan semakin kompleks jika ternyata keberadaan hutan juga memiliki efek yang global. Ini berarti, keberadaan hutan di suatu negara juga memiliki efek bagi seluruh wilayah, seluruh negara yang ada di seluruh dunia. Reduction Emission on Deforestation and Degradation (REDD) misalnya, bertujuan untuk membuat hutan tetap lestari dengan menyewakan lahan hutan alami bagi negara yang mempunyai kelebihan kapital di negara yang kekurangan kapital untuk mengelola hutan di negara kekurangan kapital dengan lebih efektif, walaupun pada akhirnya program REDD mendapatkan banyak kritikan karena kurang tepat dan efektif dalam menangani permasalahan hutan lestari. Ternyata diperlukan suatu strategi baru di luar konsep yang selama ini diajarkan mengenai pembatasan wilayah kerja pada isu wilayah imajiner karena ternyata terdapat banyak isu di luar konteks tersebut. Isu ini tentunya membutuhkan cara pandang yang berbeda. Untuk itulah dibutuhkan unit analisis yang memiliki cara pandang berbeda tersebut dan concern

terhadap permasalahan ini secara utuh. Penulis mengambil aktor transnasional yang dalam hal ini adalah organisasi masyarakat sipil internasional (OMSI dalam bahasa Indonesia atau International Civil Society Organization disingkat ICSO dalam bahasa Inggris) yang memiliki fokus terhadap isu lingkungan khususnya isu pemberdayaan hutan lestari yaitu WWF.

2. WWF menginginkan agar isu-isu lingkungan juga diperhatikan di dalam hubungan internasional. Buktinya, proyek-proyek organisasi yang semula berasal dari Eropa Barat ini ternyata juga tidak hanya dilakukan di Eropa Barat, namun juga di luar Eropa Barat, bahkan hingga ke Kalimantan pada tahun 2003. Salah satu isu yang sedang mereka perjuangkan sekarang terkait dengan pelestarian lingkungan adalah program sertifikasi kayu yang mereka coba terapkan di seluruh dunia terutama di kawasan- kawasan hutan dunia yang memang rentan terhadap pengrusakan. Salah satu alasan utama pengrusakan hutan adalah pembiaran terhadap penebangan liar atau ilegal. Sertifikasi kayu terkait dengan usaha untuk mempertemukan tiga titik utama penyebab kerusakan hutan; (a) kegagalan manajemen hutan oleh pemerintah, (b) kegagalan manajemen hutan oleh masyarakat melalui perusahaan dan masyarakat sendiri dengan menebang hutan secara ilegal, dan (c) kegagalan organisasi pemberdayaan masyarakat untuk memberdayakan masyarakat akan pentingnya perjuangan isu pelestarian hutan. Dengan sertifikasi kayu, diharapkan masing-masing elemen dapat dengan lebih gencar memperjuangkan isunya masing-masing. Namun, benarkah demikian? Bagaimana WWF menghadapi pertanyaan ini terkait dengan sertifikasi kayu dan ide-nya untuk mempertemukan tiga kepentingan yang ada?

3. Selain di Kalimantan, program serupa yang dilakukan oleh WWF juga terjadi di banyak negara karena mengingat masalah hutan adalah masalah transnasional. Sebagai contoh, dalam buku yang dirilis oleh WWF sendiriyaitu oleh divisi khusus WWF yang menangani proyek ini, Global Forest and Trade Network (GFTN)mereka menyebutkan secara implisit wilayah-wilayah hutan di negara mana yang akan mereka

jalinkan hubungan antara negara, perusahaan, dan konsumen untuk diberikan informasi pentingnya melaksanakan sertifikasi hutan karena memang menguntungkan. Dalam gambaran tabel yang berisikan daftar negara-negara yang merupakan sumber dari kayu ilegal 25 , dijelaskan mengenai negara-negara mana saja yang menjadi sumber dari produksi kayu ilegal dengan memaparkan prosentasi terhadap produksi kayu yang berasal dari negara masing-masing. Dimulai dari kawasan Eropa Timur:

Estonia, Latvia, dan Rusia; Afrika: Kamerun, Guinea Ekuatorial, Gabon, Ghana, Liberia; Asia Pasifik: Cina, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini; Amerika Latin: Brasil, Ekuador, Peru; walaupun tentu saja data-data ini belum mencakup semua negara-negara termasuk dari wilayah asal WWF. Namun, informasi terbaru yang penulis peroleh dari WWF GFTN menyebutkan bahwa GFTN telah berkembang di lebih dari 30 negara di dunia; 26 (1) Afrika: negara-negara di Afrika Tengah (Kamerun dan Republik KoICSO), dan Ghana; (2) Asia Pasifik: Australia, Cina, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Vietnam; (3) Eropa: Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Inggris, Jerman, Perancis, Portugal, Rumania, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Swiss; (4) Amerika Latin dan Karibia: Bolivia, Brasil, Peru, dan negara-negara Amerika Tengah dan Karibia (Belize, El Salvador, Guatemala, Honduras, Kosta Rika, Nikaragua, Panama, Puerto Riko, dan Republik Dominika); (5) Amerika Utara: (disebutkan berbagai perusahaan). Ternyata, program serupa juga terjadi di Brasil, negara dengan daerah hutan hujan tropis terbesar di dunia. Permasalahannya pun sama dengan Indonesia, hutan hujan di Brasil juga mengalir dan banyak mengalami kerusakan di wilayah sekitar sungai Amazon yang berada di lintas batas negara dengan laju pengrusakan yang tidak kalah cepat. Di sekitar daerah aliran sungai Amazon, terdapat sekitar 22 juta warga Brasil yang menggantungkan hidup dari hutan yang menunjukkan bahwa permasalahan hutan di Brasil adalah permasalahan sosial dengan

25 Frank Miller, Rodney Tailor, dan George White, Keep It Legal, (WWF, Juli 2006), hlm. 6. 26 Diakses dari http://gftn.panda.org/gftn_worldwide/, diakses pada Minggu, 11 Oktober 2009, pukul 18.40.

kepelikkan yang besar. 27 Oleh karenanya, hutan di sekitar kawasan Amazon haruslah dikelola secara lestari. Di Brasil, GFTN WWF juga menerapkan hutan lestari dengan menggunakan sertifikasi kayu. Tujuannya sama, untuk mencegah terjadinya penebangan ilegal. GFTN WWF memberikan penyuluhan dan bekerjasama dengan institusi pemerintah yang juga sudah memiliki program sertifikasi kayu sendiri dan elemen-elemen penting dalam produksi dan konsumsi kayu agar menggunakan kayu yang berasal dari penebangan yang legal dan berkelanjutan. GFTN WWF Brasil tentunya menjadi semacam pengawas internasional yang bertujuan untuk menekankan kembali pentingnya penerapan sertifikasi hutan di hutan Brasil. Beberapa data mutakhir menunjukkan sudah ada tujuh perusahaan dan 30 perusahaan keluarga yang berhasil menyelamatkan hutan seluas 16.122 hektar dengan kayu yang diperdagangkan mencapai 3% dari keseluruhan kayu nasional dengan nilai mencapai US$ 46 juta. 28 WWF ternyata memang memiliki fokus yang besar bagi perjuangan isu pelestarian hutan di seluruh dunia.

5. Di wilayah ini, ternyata tidak hanya WWF yang berkeja, namun banyak sekali OMSI yang juga melakukan kerjanya di sini. Hutan Kalimantan sangat penting sehingga menarik beberapa OMSI besar seperti Greenpeace. Greenpeace memiliki program pengawasan pengelolaan hutan. Program mereka lebih bersifat kampanye yang dilakukan dan ditujukan kepada masyarakat. Salah satu program kampanye mereka adalah ―Melindungi Hutan Alam Terakhir di Dunia (MHATD)‖. Sebagai contoh kasus, pembukaan hutan untuk menggantinya dengan pohon kelapa sawit dengan menggunakan cara-cara dan ketentuan yang telah distandarkan (melalui sertifikasi) telah lama ditentang oleh Greenpeace. Greenpeace bukan menentang keberadaan sertifikasi kayu tersebut, namun Greenpeace menentang keberadaan sertifikasi kayu yang hanya

27

Diakses

dari

diakses pada Minggu, 10 Oktober 2009, pukul 19.00.

28

Diakses

dari

d=30, diakses pada Minggu, 10 Oktober 2009, pukul 18.34.

digunakan sebagai tameng untuk memperoleh pasar. Sebagai contoh, pasar Eropa yang merupakan salah satu tujuan utama ekspor kelapa sawit Indonesia, yang sudah menerapkan penerimaan impor hanya jika sudah memiliki sertifikat kayu yang baik dan benar. Pada kasus pencegatan kapal yang akan bergerak dari Dumai menuju Rotterdam yang akan membawa kelapa sawit dari perusahaan Sinar Mas, Greenpeace mencurigai bahwa kelapa sawit yang dibawa adalah sebenarnya bukan melalui sertifikasi kayu yang seharusnya. 29 Perusahaan yang memproduksi 10% dari produksi kelapa sawit nasional Indonesia itu dituduh telah melakukan deforestasi besar-besaran di Kalimantan dan Sumatera dengan tujuan untuk membuka lahan bagi perkebunan sawit. Mereka menyerang dan memperingatkan kepada perusahaan dan pemerintah untuk mengelola hutan secara lestari, bukannya melalui cara- cara yang mereka anggap tidak memenuhi kelayakkan sertifikasi kayu.

6. Dari sisi sertifikasi kayu itu sendiri, seberapa pentingkah sertifikasi kayu dalam proses penyelematan hutan dan membangun hutan lestari? Salah satu penggagas dan perintis utama dari sertifikasi kayu adalah OMSI yang bernama Foreign Stewardship Council (FSC) yang didirikan semenjak pertemuan Konferensi Dunia yang membahas Pembangunan Berkelanjutan di Rio De Janeiro, Brasil pada tahun 1992. 30 FSC sendiri didirikan pada Oktober 1993 di Toronto, Kanada, dengan dihadiri lebih dari 130 partisipan dari 26 negara. Hingga kini (Juli 2009), semenjak perumusan prinsip-prinsip sertifikasi kayu, sudah lebih dari 100 juta hektar hutan di seluruh dunia yang menganut prinsip-prinsipnya. Ini berarti, dengan luas yang sama ternyata hutan-hutan dapat dikelola secara lestari di sekitar 82 negara. Sayangnya, hutan Kalimantan belum masuk dalam wilayah kerja FSC. Dengan belum masuknya hutan Kalimantan, sebenarnya studi terhadap bagaimana hutan lestari dikelola di

29 Diakses dari http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/press-releases/greenpeace-menantang- rspo-untu, diakses pada Minggu, 10 Oktober 2009, pukul 19.20. 30 Diakses dari http://www.fsc.org/history.html?&L=tР―Р‡Р’С—Р’Р…arget%3D_self, diakses pada Minggu, 10 Oktober 2009, pukul 20.10.

Kalimantan terutama dengan menggunakan sertifikasi kayu dari WWF masih perlu diperdalam.

1.5. Kerangka Konsep

Karena tulisan ini akan membahas tentang peran ICSO yaitu WWF dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka penulis harus menerangkan terlebih dahulu ICSO sebagai International Civil Society Organization (mungkin lebih sering dikenal sebagai INGO atau International Non-Governmental Organization) atau transnational actor. Istilah ini dipakai untuk menghindari pandangan bahwa hanya negara aktor legal di dunia ini, sedangkan yang lain adalah aktor ilegal. Arti dari transnational actor sendiri adalah aktor yang berada di luar lingkup negara dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi peluang dan kemungkinan kebijakan yang diambil oleh negara tersebut. Ada beberapa kategori sehingga aktor pantas disebut sebagai transnational actor. Pertama, aktor tersebut harus dapat menjalankan fungsi penting dan berkelanjutan, terutama memiliki pengaruh dalam hubungan antar negara. Kedua, aktor tersebut harus dipandang berpengaruh, baik besar maupun kecil, oleh pengambil keputusan luar negeri dan turut mempengaruhi kebijakan luar negeri negara yang bersangkutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, aktor tersebut memiliki derajat kemandirian atau otonomi dalam merumuskan dan menentukan kebijakan dan keputusannya. 31 Transnational actors kemudian dibagi lagi ke dalam dua kategori yaitu International Governmental Organization (IGO) dan International Non-Governmental

Organization (IICSO). IGO kemudian mewakili kepentingan dan kebijakan negara-negara yang menjadi anggota secara formal, sedangkan IICSO (atau ICSO) merupakan perwakilan kelompok-kelompok non-pemerintah. IICSO atau ICSO kemudian dapat dibagi lagi kedalam beberapa bagian, diantaranya Non-Profit Organizations (NPO), Private Voluntary Organizations (PVO), Voluntary

31 Curul Ann Cusgrove dan Kenneth J. Twitchett, The New International Actors: The UN and the EEC, (London: Macmillan, 1970).

Organizations (VA), Peoples Organizations (PO), Grassroots Support Organizations (GSO), dan Membership Support Organizations (MSO). 32 Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi keikutsertaan IICSO dalam politik lingkungan global. Pertama, keahlian anggota IICSO dalam pengetahuan dan pemikiran inovatif tentang isu-isu lingkungan global yang diperoleh dari spesialisasi isu berdasarkan negosiasi. Kedua, dedikasi mereka terhadap tujuan yang melebihi keterbatasan negara atau kepentingan sektoral. Ketiga, perwakilan dalam undang-undang yang substansial dalam negara mereka yang menarik perhatian dan terkadang mempengaruhi sistem pemilihan umum di negara tersebut. 33 Pada negara-negara industri, mayoritas ICSO yang berperan secara aktif dalam politik lingkungan dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu organisasi yang berafiliansi dengan ICSO Internasional yang memiliki cabang ke beberapa negara; organisasi nasional besar yang secara khusus memfokuskan pada isu lingkungan domestik; institusi penelitian yang memiliki pengaruh dari studi-studi yang dipublikasikan dan proposal-proposal isu yang ingin ditindaklanjuti. 34 Ketika sudah dijelaskan dan diakui bahwa ICSO adalah salah satu aktor legal di dunia ini, maka konsep yang harus dibahas selanjutnya adalah hubungan di antara negara (public sector), pasar (bussines) dan ICSO (civil society). Ros Tennyson dan Luke Wilde menjelaskan bahwa partnership (kerjasama) menjadi jalan yang baik bagi ketiganya untuk saling berhubungan, dimana setiap aktor kemudian mempunyai peran berbeda-beda yang saling melengkapi satu sama lain. Dengan bekerja sama, keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing pihak justru bisa lebih besar dibandingkan dengan yang tidak bekerjasama, selain itu setiap pihak pasti mendapatkan keuntungan (dua arah/win-win solution). 35 Partnership yang dimaksud oleh Tennyson dan Wilde disini adalah aliansi dua atau lebih aktor yang saling berkomitmen untuk bekerjasama untuk melaksanakan sebuah proyek pembangunan berkesinambungan (sustainable

32 Daniel S. Papp. Contemporary International Relations, 5 th Edition. New York: McMillan Publishing Company, 1984, hlm. 86-87.

33 Peter Willets, ―Transnational Actors and International Organizations in World Politics‖, dalam John Bayts dan Steve Smith, The Globalization of World Politics: An Introduction Relations, (Oxford: Oxford University Press, 1997).

34 Ibid.

35 Ros Tennyson dan Luke Wilde, The Guiding Hand Brokering Partnership for Sustainable Development, The United Nations Staff College & The Prince of Wales Business Leaders Forum, 2000, hlm. 7-14.

development) dimana masing-masing anggotanya saling berbagi resiko dan keuntungan, meninjau hubungannya secara berkala dan merevisi hubungan partnership jika memang diperlukan. Kerjasama ini dapat terjadi baik dalam level lokal maupun global (ICSO). Lantas bagaimana partnership yang sukses dapat tercipta? Terdapat 4 karakteristik kunci dalam dalam menciptakan partnership yang sukses dan efektif, yaitu memegang prinsip keterbukaan dan kesetaraan; saling berbagi resiko dan keuntungan; beradaptasi dengan baik terhadap perubahan; dan bekerja menuju empowerment. Konsep berikutnya yang juga perlu diterangkan adalah penebangan atau pembalakan liar. Penebangan liar dijelaskan ke dalam beberapa definisi:

1. Menebang tanpa otoritas dari taman nasional atau konservasi perlindungan.

2. Menebang tanpa otoritas.

3. Menebang karena kelebihan otoritas.

4. Kegagalan dalam melaporkan aktivitas penebangan untuk menghindari pembayaran royalti atau pajak.

5. Kesalahan klasifikasi dari spesies atau menaksir di bawah harga dengan sengaja (deliberate undervaluation).

6. Penyimpangan terhadap perjanjian perdagangan internasional seperti

Convention on International Trade and Endangered Species (CITES). 36 Food and Agricultural Organization (FAO) Persatuan Bangsa-Bangsa mendefinisikan penebangan liar sebagai ―Aktivitas penebangan kayu yang gagal bertanggung jawab terhadap hukum-hukum dan norma-norma nasional dan

subnasional yang mengatur masalah penebangan tersebut.‖ 37 Laporan dari FAO ini kemudian disimpulkan menjadi definisi dari penebangan liar yaitu penebangan baik tanpa maupun kelebihan otoritas atau dengan tujuan menghindari pembayaran penuh dari royalti, pajak, atau biaya. Penebangan liar mempunyai dampak lingkungan, sosial dan ekonomi,

seperti:

36 Overview of Pembalakan liar, Jaakko Pöyry Consulting, hlm. 1. 37 Guertin, Pembalakan liar: Overview and Possible Issues in the UNECE Region, diakses dari

1. Penebangan liar yang tidak terkontrol menyebabkan kerusakan hutan, biodiversitas dan ekosistem serta merusak kestabilan pendapatan masyarakat lokal.

2. Produk-produk illegal dalam pasar menyebabkan kompetisi tidak jujur bagi mereka yang menaati dan tunduk pada hukum.

3. Penebangan liar yang tidak terkontrol menyebabkan praktek-praktek

korupsi yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. 38 Konsep terakhir yang akan dijelaskan adalah mengenai sertifikasi kayu. Sertifikasi kayu merupakan salah satu solusi yang dipikirkan oleh ICSO lingkungan untuk mempertemukan penggunaan hutan bagi kesejahteraan umat manusia dengan keberadaan hutan sebagai penyangga lingkungan. Pembalakan liar dipandang sebagai salah satu penyebab terbesar terjadinya deforestasi hutan yang membahayakan keberadaan hutan itu sendiri. Walaupun memang benar hutan yang dideforestasi menandakan adanya penggunaan hutan bagi perjuangan kesejahteraan manusia, namun deforestasi yang tidak wajar lambat laun juga akan memberikan ketidakberlanjutan hutan itu sendiri sebagai tempat manusia untuk memperoleh kesejahteraannya. Ditambah nilai yang tidak dapat tidak dipedulikan begitu saja yaitu rusaknya lingkungan yang tentunya akan semakin memperburuk kualitas hidup manusia dan makhluk hidup lain di muka bumi. Pada awalnya para ICSO lingkungan ini menunjukan perlawanannya terhadap perdagangan kayu internasional karena dinilai bertanggung jawab atas terjadinya pengurangan jumlah hutan alami di dunia. Kampanye dilakukan dengan cara melarang atau memboikot kayu-kayu tersebut. Lama kelamaan mereka

menyadari bahwa perdagangan kayu tidak akan menjadi berbahaya atau justru membahayakn bagi peningkatan kesejahteraan manusia jika dilarang tanpa alasan yang jelas asalkan kayu yang diperoleh dengan jaminan berasal dari hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan (sustainably managed forests). Fokus pun berubah menjadi pembentukan sistem sertifikasi kayu yang akan membantu pasar mengerti akan tambahan indikator mengenai perlunya mengelola hutan secara berkelanjutan (sustainably managed forests) terutama yang berhubungan dengan

38 Loc. Cit, Overview of Pembalakan liar, hlm. 1.

penggunaan kayu. Tujuannya adalah untuk menggunakan insentif dari pasar (market-based incentives) dan kerelaan untuk patuh (voluntary compliance). 39 Sertifikasi kayu kemudian diartikan sebagai sebuah proses yang hasilnya terkandung dalam sebuah pernyataan tertulis untuk menjadi bukti asal dari bahan baku kayu tersebut serta status/kualifikasinya, terkadang diikuti dengan validasi oleh sebuah pihak ketiga yang bersifat independen (independent third party). Sertifikasi didesain untuk memperkenankan pesertanya untuk mengukur praktek pengelolaan hutan mereka terhadap standar yang ada serta untuk menunjukkan kepatuhan terhadap standar tersebut. Sertifikasi hutan juga dapat digunakan untuk memvalidasi tipe apapun dari klaim lingkungan yang dibuat oleh seorang produsen, atau untuk memberikan pernyataan fakta yang objektif tentang produk kayu dan hutan asalnya yang secara normal tidak diperlihatkan oleh produsen atau perusahaan manufaktur. 40 Natural Resources Defense Council mengartikan sertifikasi kayu sebagai usaha untuk melindungi hutan dari praktek-praktek penebangan yang sifatnya merusak. Sertifikasi kayu ditujukan sebagai segel/cap atas penerimaan, maksudnya adalah untuk memberitahukan konsumen bahwa produk kayu tersebut berasal dari hutan yang dikelola sesuai dengan standar lingkungan dan sosial. 41 Penyadaran atau pemberian informasi dilakukan terlebih dahulu dari sisi permintaan karena terdapat beberapa asumsi yang mengatakan bahwa produsen amat sangat tergantung dengan tren penggunaan yang sedang berkembang dari sisi konsumen. Sertifikasi kayu pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama:

sertifikasi kemampuan manajemen hutan (certification of sustainability of forest management) dan sertifikasi produk. Sertifikasi manajemen hutan meliputi inventarisasi hutan (forest inventory), manajemen penanaman (management planning), silviculture, penebangan (harvesting), konstruksi jalan, dan aktivitas terkait lainnya, termasuk dampak-dampak lingkungan, ekonomi dan sosial dari aktivitas hutan. Dalam sertifikasi produk kayu-kayu gelondongan dan produk-

39 Ghazali Baharuddin, Timber Certification: An Overview, diakses dari

pada hari Senin, 19 Oktober 2009 pukul 15.09 WIB. 40 Ibid. 41 Natural Resources Defense Council, Good Wood: How Forest Certification Helps the Environment, diakses dari http://www.nrdc.org/land/forests/qcert.asp#7 pada hari Rabu, 21 Oktober 2009 pukul 13.57 WIB.

produk kayu olahan dilacak lewat fase yang berurutan dari rantai produksi (supply chain). Sertifikasi manajemen kemudian mengambil tempat di dalam negara asal, sedangkan sertifikasi produk mengambil tempat meliputi rantai produksi domestik dan pasar ekspor. 42 Biaya untuk sertifikasi secara teoritis dapat dibagi ke dalam dua kategori umum. Pertama, biaya tambahan untuk meningkatkan manajemen hutan melalui pelatihan dalam level unit manajemen untuk mencapai standar sertifikasi. Kedua, biaya dari sertifikasi itu sendiri termasuk latihan manajemen untuk penaksiran atau pemeriksaan keuangan, serta biaya untuk mengidentifikasi dan mengawasi rantai pengamanan (chain of custody). 43 Biaya dimungkinkan akan menjadi salah satu penghambat bagi pelaksanaan sertifikasi kayu ini terutama oleh perusahaan yang hanya mengutamakan kepentingan profit daripada kepentingan keberlanjutan usahanya karena kayu yang diperoleh dari penebangan liar akan memudahkan hutan cepat habis dan membuat usaha bisnis mereka menjadi cepat selesai. Untuk membantu meringankan biaya, biasanya ICSO yang bergerak memperjuangkan sertifikasi kayu akan menggunakan strategi mengelola keuangan dunia dimana dia akan menghimpun dana dari bagian lain dunia yang lebih kaya untuk dijadikan dana bantuan bagi proses sosialisasi dalam bentuk pemberian manajemen sertifikasi kayu kepada perusahaan secara gratis melalui pelatihan dan workshop. Mereka juga dapat menekan pemerintah untuk kembali menggunakan pajak untuk kayu-kayu yang terdaftar bagi peningkatan kualitas manajemen perusahaan kayu yang pada akhirnya akan semakin memperkecil pengeluaran perusahaan pada proses sertifikasi kayu.

1.6. Asumsi

Asumsi merupakan seperangkat kondisi yang melingkupi batasan-

batasan dari cakupan permasalahan dan hipotesis, dan merupakan titik awal untuk melakukan analisa yang keberlakuannya tidak akan diuji dalam tulisan ini.

42 Loc. Cit, Timber Certification: An Overview dan Timber Certification Defined, diakses dari http://www.rainforestinfo.org.au/good_wood/tcrt_def.htm pada hari Senin, 19 Oktober 2009 pukul 15.12 WIB. 43 Loc. Cit.

1.

Degradasi lingkungan berupa pembalakan liar merupakan salah satu ancaman yang melewati batas-batas negara dan mengancam integritas ekonomi dan sosial.

2.

Hutan Kalimantan merupakan salah satu entitas lingkungan yang terkena degradasi terburuk yang diakibatkan oleh kepentingan ekonomi dan politik, aktor negara dan korporasi.

3.

Karena aktor negara dan korporasi cenderung mengutamakan kepentingan ekonomi dan politik dengan mengeksploitasi sumber daya alam, maka diperlukan solusi global yang dapat mempertemukan kepentingan lingkungan hidup dengan kepentingan ekonomi dan politik, yaitu sertifikiasi.

4.

Aktor negara berperan dalam membuat kebijakan yang dapat mengikat. Korporasi berperan dalam memanfaatkan lingkungan sebagai roda penggerak perekonomian. Tetapi sampai pada level tertentu dibutuhkan aktor IICSO untuk mendukung negara dan mengawasi korporasi dalam penanganan persoalan lingkungan global.

5.

Semua komponen yang ada, baik negara, korporasi, ICSO internasional, maupun ICSO lokal, harus dapat merasakan permasalahan yang sama agar dapat terbentuk kerjasama untuk dapat mencapai tujuan, yaitu pemanfaatan lingkungan yang bersifat jangka panjang dengan memperhatikan pemberdayaannya.

1.7.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan kunjungan dan wawancara secara langsung dengan anggota atau pengurus WWF dan Departemen Kehutanan sebagai sumber primer. Studi pustaka (buku dan internet) sebagi sumber sekunder, contohnya dokumen-dokumen mengenai penebangan kayu di hutan Kalimantan. Makalah ini dikerjakan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif eksploratif. Adapun penggunaan metode kualitatif ini didasarkan pada penggunaan teknik wawancara langsung sebagai sumber utama dan memadukannya dengan triangulasi dengan studi pustaka untuk menambah keabsahan dari data primer. Sedangkan untk

menjawab permasalahan menggunakan teknik eksploratif, yang didasarkan dengan penggunaan kata tanya bagaimana.

1.8. Sistematika Penulisan

Bab I pada makalah ini akan membahas mengenai latar belakang masalah, yang lalu dibagi menjadi pembahasan mengenai permasalahan hutan di tingkat global, keadaan hutan di Indonesia, kemunculan aktor Non-Governmental Organization (ICSO) atau Civil Society Organization (CSO) Internasional dalam permasalahan lingkungan global, serta pembahasan mengenai kerusakan hutan di Kalimantan. Bab II, yaitu bab Pembahasan, akan membahas mengenai peran IICSO WWF dalam merealisasikan sertifikasi hutan di Kalimantan. Pada bab ini, penulis akan memaparkan usaha-usaha dan langkah-langkah yang telah ditempuh WWF sehubungan dengan realisasi sertifikasi hutan Kalimantan, dalam berhadapan dengan pihak pemerintah dan korporasi. Pada Bab III, yaitu bab Penyajian Data, penulis akan mencoba menjelaskan signifikansi langkah WWF dengan memaparkan data-data kondisi hutan Kalimantan sebelum dan sesudah realisasi sertifikasi hutan. Bab IV, merupakan bab Kesimpulan, di mana penulis akan mencoba merangkum dan menegaskan kembali peran WWF sebagai IICSO lingkungan dalam memperjuangkan pentingnya isu social developmentdalam hal ini isu lingkungandalam perkembangan hubungan internasional.

BAB II PEMBAHASAN STRATEGI WWF

2.1. Gambaran Umum Strategi WWF dalam GFTN

Melalui mekanisme Global Forest and Trade Network (GFTN) yang dilakukannya, WWF bekerja dengan melakukan lobbying terhadap para pemegang kekuasaan (key stakeholders) mengenai perubahan-perubahan yang harus dilakukan untuk mengurangi penebangan ilegal dan deforestasi. 44 Selain bekerja

dengan melobi pemerintah, WWF juga melakukan lobbying dengan kalangan bisnis sebagai usahanya mempromosikan produk kayu bersertifikasi demi mengutangi praktik penebangan kayu ilegal. Adapun, WWF lebih sering melakukan lobbying dengan kalangan bisnis dibanding dengan pemerintah. Hal tersebut dikarenakan mekanisme GFTN (yang menitikberatkan pada pembangunan jaringan perdagangan bagi produk kayu bersertifikasi) lebih

44 WWF, UK-FTN, Abouth the UK-FTN. http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_world/
44
WWF,
UK-FTN,
Abouth
the
UK-FTN.
http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_world/
forests/forest_trade_network/about_the_uk_ftn.cfm, diakses pada 21 November 2009, pukul
06.03.
24

mengacu ke arah perdagangan, ranah yang lebih diminati bagi kalangan bisnis. Selain melakukan lobbying, WWF juga mengembangkan strategi networking yang bertujuan untuk memperkuat jaringan sertifikasi kayu global. Adapun cara kerja lobbying dan networking dalam meningkatkan sertifikasi hutan dapat dijelaskan dalam bagan di atas. 45 Cara kerja ini dibagi ke dalam empat langkah penting. Pertama, dengan pemberian bantuan teknis dan peningkatan kesadaran yang dilakukan oleh ICSO, baik lokal maupun internasional; pemerintah, baik melalui Departemen Kehutanan, departemen lainnya, maupun oleh pemerintah daerah, dan oleh pihak pemberi sertifikat seperti Smartwood dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) terhadap masyarakat, industri, dan pemerintah. Kedua, melalui perluasan pasar, investasi, dan berbagai insentif lainnya dimana pasar, investasi, dan insentif yang ada mendukung terlaksananya sertifikasi kayu sehingga memaksa produsen kayu di Indonesia dan pembeli kayu dari luar Indonesia untuk menerima konsep sertifikasi kayu. Langkah kedua ini diperoleh setelah langkah pertama dilaksanakan dimana langkah pertama akan menumbuhkan perilaku untuk menerima sertifikasi kayu di pasar. Adapun langkah ketiga yaitu pembeli kayu dari negara-negara yang menjalin dagang dengan Indonesia mengubah kebiasaannya untuk menerapkan sertifikasi kayu dalam perilaku dagang mereka. Para pembeli ini pada akhirnya diharapkan hanya mau menerima kayu yang bersertifikat. Diharapkan, negara-negara inilah yang kemudian akan terjalin masuk ke dalam jaringan negara-negara bersertifikat kayu internasional yang di WWF disebut sebagai GFTN. Ketiga langkah ini pada akhirnya akan memaksa produsen kayu di Indonesia untuk mengubah langkahnya untuk memproduksi kayu dengan menggunakan sertifikat kayu. Langkah keempat adalah dengan selalu mengembangkan cara yang inovatif untuk mengelola bagaimana sertifikasi kayu ini dilaksanakan misalnya dengan menambahkan indikator transparansi baik pada saat melakukan tracking jejak perdagangan kayu, pengelolaan dana, dsb., yang diimplementasikan pada langkah pertama dan penekanan langsung pada produsen kayu negara asal, Indonesia misalnya.

45 E. Meijaard, et.all, Panduan bagi Praktisi; Mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia, Studi Kasus di Kalimantan Timur. (Samarinda, Indonesia: The Nature Conservancy, 2006), hal. 20.

WWF juga menerapkan strategi yang sama dengan yang dipaparkan melalui GFTN. Strategi WWF dalam makalah ini akan dibahas dalam dua strategi besar yaitu lobbying (melobi) dan networking (membuat jejaring). Dalam langkah pertama disebutkan bahwa diberikan penyuluhan dan peningkatan pemahaman kepada produsen kayu di Indonesia dan kepada pasar internasional mengenai perlunya penerapan sertifikasi kayu dalam aktivitas penggunaan kayu dari hutan. Proses ini akan disebut sebagai proses lobbying dimana WWF akan terus menggunakan strategi ini untuk menyadarkan dan meningkatkan pemahaman mereka pada sertifikasi kayu kepada para stakeholder seperti pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dan networking dimana WWF akan terus berusaha membangun jaringan yang akan semakin memperkuat keberadaan isu sertifikasi kayu yang mereka perjuangkan juga kepada para stakeholder yaitu pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Jika dianalogikan secara sederhana dan hitam putih, lobbying akan seperti bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemahaman akan sertifikasi kayu, dan networking bertujuan untuk meningkatkan kuantitas pengguna sertifikasi kayu. Baik lobbying dan networking dalam sertifikasi kayu adalah suara-suara yang sebenarnya menyuarakan sebuah isu yang sengaja diadakan oleh WWF agar para stakeholder mau memperhatikan pengelolaan hutan secara lestari. Walaupun isu ini sengaja diadakan (karena WWF sendiri memiliki status sebagai organisasi pemberdayaan lingkungan), isu ini memang benar-benar ada dan perhatian terhadap isu ini harus lebih diadakan. Hutan lestari adalah suatu konsep yang sangat mendesak untuk direalisasikan karena keberadaannya yang amat memiliki dampak positif bagi kelestarian dan keseimbangan alam.

2.2.

WWF Melobi

2.2.1.

Strategi WWF dalam Lobbying dengan Pemerintah

Hutan Kalimantan berada di wilayah yang secara politis diisi oleh tiga negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. Tingkat pengawasan termasuk pelaksanaan sertifikasi yang lemah oleh ketiga negara yang seharusnya bertanggung jawab menyebabkan hutan Kalimantan mengalami tingkat

deforestasi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Untuk melaksanakan program

penyelamatan hutannya, WWF mengembangkan strategi untuk melobi pemerintah ketiga negara secara nasional dan pemerintah lokal atau daerah agar lebih memperhatikan hal-hal yang dianggap kecil dan sepele seperti pengawasan dan pelaksanaan sertifikasi yang sudah seharusnya dilaksanakan dengan lebih ketat.

a. Strategi WWF Melobi Pemerintah Nasional Dari ketiga negara yang memiliki wilayah hutan di Kalimantan, hanya Brunei Darussalam yang memiliki porsi wilayah hutan yang kecil. Brunei Darussalam juga dalam beberapa data yang penulis temukan tidak memiliki cabang WWF yang mengurusi mengenai GFTN yang mengindikasikan bahwa WWF belum memiliki fokus yang besar terhadap pengelolaan hutan di Brunei Darussalam dan lebih memilih untuk menempatkan cabangnya yang sama-sama mengurusi kepengurusan hutan di Kalimantan di dua negara yang memiliki jumlah kawasan hutan terbesar, Indonesia dan Malaysia. Walaupun demikian, ada beberapa rekam jejak perjalanan WWF dalam melobi pemerintah ketiga negara untuk benar-benar melakukan tanggung jawab mereka secara optimal kepada hutan Kalimantan. Menurut dara dari Global Forest Watch (GFW), Kalimantan mengalami tingkat deforestasi hutan hujan tropis terburuk nomor tiga di Indonesia setelah Sulawesi dan Sumatera pada periode tahun 1985-1997 dengan tingkat deforestasi sebanyak 25% bila dibandingkan dengan Sulawesi sebanyak 29% dan Sumatera 28%. 46 Namun bila dihitung dari segi luas wilayah hutan yang hilang, Kalimantan menduduki posisi pertama dengan jumlah lahan yang mengalami deforestasi sekitar sepuluh juta hektar dimana kini hutan kalimantan (Indonesia) hanya tersisa 55% dari keseluruhan total wilayah. 47 Bila menggunakan prediksi dari GFW bahwa hutan Indonesia mengalami deforestasi sebanyak dua juta hektar per tahun, tidak dipungkiri memang sesuai dengan pendapat dari Bank Dunia bahwa pada tahun 2010 hutan di Kalimantan akan lenyap. 48 Sebelum itu terjadi, tiga negara di kawasan ini dengan difasilitasi oleh WWF pada tahun 2007 mencanangkan program besar bernama Heart of Borneo (HoB) untuk’menyisakan’ hutan di

46 Forest Watch Indonesia dan Global Forest Watch, Keadaan Hutan Indonesia, (Bogor: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.: Global Forest Watch, 2001), hlm. 12.

47 Ibid.

48 Ibid., hlm. 10.

Kalimantan sebanyak 22 juta hektar dengan 12,6 juta hektar (57%) berada di wilayah Indonesia. 49 Tampaknya akan lebih menarik jika membahas mengenai HoB ini karena walaupun ketiga pemerintahan masing-masing negara sama-sama memiliki komitmen setelah ditandatanganinya proyek itu untuk melindungi hutan Kalimantan, namun terdapat suatu pertanyaan besar bagi penulis mengenai perbedaan kelakuan masing-masing pemerintahan. Satu hal yang perlu dikritisi adalah sikap Pemerintah Indonesia yang justru hanya menjadi satu-satunya pemerintahan dari ketiga negara yang membiarkan hutan Kalimantan tergerus secara besar-besaran hingga tercapainya kawasan HoB di tahun 2020. Bayangkan saja, dari total hutan Indonesia di Kalimantan pada tahun 2005 sebanyak 20 juta hektar (data WWF), akan direncanakan ada sekitar 7,4 juta hektar hutan Kalimantan yang akan hilang kembali hingga tahun 2020. Keadaan ini akan terlihat kontras dengan keadaan komitmen Pemerintah Brunei Darussalam dan Malaysia yang justru mengurangi sangat sedikit wilayah hutannya yang akan hilang hingga tahun 2020 (kembali lihat gambar 1 mengenai realisasi dan prediksi pengrusakan hutan di Kalimantan 1900-2020). WWF sebenarnya sudah menyadari adanya kejanggalan ini. Walaupun demikian, WWF tidak hanya tetap melobi Pemerintah Indonesia saja, namun juga kedua pemerintahan lain yaitu Pemerintah Brunei Darussalam dan Pemerintah Malaysia karena melihat kenyataan bahwa alur perdagangan kayu ilegal di Kalimantan masih terjadi di dalam lingkup tiga negara terutama antara Indonesia dan Malaysia. Salah satu pertemuan yang penting yang diadakan oleh WWF untuk memfasilitasi ketiga negara membicarakan masalah HoB dan pengembangan solusi pencapaian HoB ini adalah Pertemuan Ilmiah mengenai Heart of Borneo yang diadakan di Brunei Darussalam dengan tajuk Three Countries One Conservation Vision pada 5-6 April 2005. 50 Pertemuan ini dihadiri oleh 150 perwakilan baik dari pemerintah maupun institusi nonpemerintah dan perwakilan diplomatik dari Association of South East Asian Nations (ASEAN), United

49 Ambrosius Harto, ―70 Persen Heart of Borneo Kaltim Hutan Produksi‖, dalam Kompas, Kamis, 04 Oktober 2007, diakses dari http://www2.kompas.com/ver1/Nusantara/0710/04/170054.htm, pada Sabtu, 30 Mei 2009. 50 WWF, Heart of Borneo: Three Countries One Conservation Vision. (WWF: Brunei Darussalam, dapat diakses di www.wwf.org).

Nations Educational, Scientifical, and Cultural Organization (UNESCO), Wildlife Conservation Society (WSC), the Nature Conservancy (NC), International Tropical Timber Organization (ITTO), the International Union for the Conservation of the Nature and Natural Resources (IUCN), the Wildlife Trade Monitoring Network (TRAFFIC), dan sebagainya. Dalam pertemuan itu masing- masing perwakilan ketiga negara menyampaikan pernyataannya mengenai perlindungan bersama hutan di Kalimantan. Pemerintah Brunei Darussalam misalnya, melalui pernyataan Menteri Industri dan Sumber Daya Alam Primer Brunei Darussalam memprioritaskan untuk mewujudkan one vision yang dimaksudkan harus adanya perhatian pada peran tiga aktor yaitu masyarakat, perusahaan, dan pemerintah itu sendiri pada HoB. 51 Fokus ini dapat dituangkan dalam berbagai strategi riil yang mampu mengarahkan fokus untuk lebih memperhatikan kelestarian hutan yang bertujuan untuk benar-benar merealisasikan HoB dimana Brunei Darussalam condong untuk lebih menerapakan ekoturisme bagi pemanfaatan HoB dengan mendukung pelestarian terhadap keberadaan HoB, 52 yang mana mengenai ekoturisme ini tidak akan dibahas lebih lanjut pada makalah ini. Pemerintah Indonesia sendiri masih dikhawatirkan keberlanjutannya untuk dapat merealisasikan proyek konservasi ini karena keberadaan tanda tanya besar pada otorisasi pengelolan hutan di kawasan Kalimantan. Menurut akademisi dari Universitas Mulawarman dalam pertemuan itu, lahan-lahan yang telah habis dibabat setelah adanya otonomi daerah mulai banyak dilirik untuk dijadikan kawasan hutan kelapa sawit. 53 Betapa ironis di tengah semakin canggihnya peradaban manusia yang dapat mengembangkan teknologi biologis untuk memulihkan ekosistem yang telah rusak dengan lebih cepat dan aliran dana dari institusi internasional yang demikian melimpah untuk mengembangkannya. Perwakilan Pemerintah Malaysia yang diwakili oleh Departemen Kehutanan Negara Bagian Sabah mengatakan bahwa untuk mengurangi laju deforestasi akibat pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan diperlukan suatu bentuk pencegahan penyebaran agar hutan yang tidak terkelola secara berkelanjutan secara minimal tidak menyentuh kawasan konservasi yang

51 Ibid., hlm. 9.

52 Ibid., hlm. 10.

53 Ibid., hlm. 17.

telah direncanakan bersama, HoB. 54 Perwakilan Malaysia tersebut mencontohkan dengan mengelola hutan memakai sertifikat kayu seperti pada 55.000 hektar kawasan hutan di Deramakot. Dalam pertemuan tersebut, WWF sendiri menawarkan solusi sertifikasi kayu dan mengajak para stakeholder terutama pemerintah ketiga negara untuk lebih menunjukkan komitmennya dalam mengkoordinasikan para stakeholder di negara masing-masing misalnya dalam ikut serta program sertifikasi kayu GFTN WWF. Lebih lanjut mengenai lobi yang dilakukan WWF ini ternyata memberikan beberapa keberhasilan seperti dengan dikeluarkannya sebuah sistem sertifikasi independen bagi semua produk kayu ekspor oleh Departemen Kehutanan Indonesia. Sejak September 2009, semua produk kayu yang diekspor ke luar negeri haruslah disertifikasi oleh badan usaha independen dan representatif ICSO. 55 Adapun keberadaan sertifikasi produk kayu Indonesia ini dimaksudkan agar produk kayu Indonesia dapat bersaing secara kompetitif dengan produk kayu negara lain, sekaligus untuk mengurangi praktik penebangan kayu ilegal di Indonesia yang ternyata sangat disadari merugikan keuangan pemerintah. Dari peran pemerintah negara lain di luar kawasan hutan Kalimantan sendiri ternyata sangat efektif dalam membantu WWF untuk lebih leluasa melobi pemerintah yang memiliki kawasan hutan Kalimantan untuk melakukan sertifikasi hutan. Lobi terhadap pemerintah negara-negara di luar kawasan hutan Kalimantan seperti dari negara-negara yang sudah mulai menyadari pentingnya penggunaan sertifikasi kayu bagi kelestarian lingkungan adalah dari Uni Eropa, Jepang, dan mulai berkembangnya isu ini di Amerika Serikat dan Cina dimana negara-negara tersebut memiliki aktivitas perdagangan kayu terbesar dengan Indonesia; ternyata juga tidak terlepas dari adanya aktivitas lobi organisasi serupa misalnya dari WWF terhadap pemerintah di negara-negara tersebut. Buktinya, di wilayah- wilayah negara tersebut sudah terdapat cabang WWF yang mengurusi GFTN terutama di hampir seluruh negara-negara Uni Eropa selain tentunya di Jepang, Amerika Serikat, dan Cina. Ditambah lagi dengan baru saja munculnya regulasi

54 Ibid., hlm. 28. 55 Malam Sambat Kaban yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan Indonesia menyampaikan hal tersebut, lihat ―Indonesia to Clean Up Timber Exports, http://www.illegal- logging.info/ item_single.php?it_id=3522&it=news, 21-11-2009, 07.57

dari Pemerintah Amerika Serikat pada bulan Mei 2009 yang memberlakukan Undang-Undang Lacey Act dan parlemen Uni Eropa yang telah membahas pemberlakuan regulasi serupa; keampuhan strategi lobbying WWF di negara- negara tersebut terutama dari Amerika Serikat telah membantu untuk lebih mengampuhkan strategi lobbying WWF terhadap pemerintah negara-negara yang memiliki hutan di pulau Kalimantan. Regulasi dari Amerika Serikat dan Uni Eropa itu sendiri mensyaratkan produk-produk perkayuan yang memasuki negara- negara tersebut harus dapat membuktikan legalitas asal-usulnya melalui

sertifikasi, 56 yang tentunya akan menjadi ancaman bagi industri kayu di negara- negara yang tidak melaksanakan sertifikasi kayu namun mengekspornya ke Amerika Serikat dan Uni Eropa misalnya. Selain itu, akibat beberapa lobi ini, Pemerintah Indonesia sebagai contoh melakukan perundingan bilateral mengenai masalah kehutanan dengan negara- negara yang menjadi mitra dagang kayunya yang terbesar, diantaranya, 57

1. Perundingan Bilateral Indonesia Inggris Pada tahun 2002 Pemerintah Indonesia dan Inggris menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang didasarkan pada komitmen sebelumnya di perundingan negara-negara G8 mengenai perdagangan kayu ilegal dan pembalakkan liar dunia untuk kemudian melalui MoU tersebut kedua negara berkomitmen untuk mengimplementasikan kesepakatan:

a. kedua pemerintah harus mengidentifikasikan secara jelas permasalahan pembalakkan liar dan perdagangan yang melibatkan kayu-kayu hasil pembalakkan liar tersebut dalam setiap langkah untuk mereformasi pengelolaan hutan termasuk dalam menerapkan manajemen pengelolaan hutan yang lebih baik. b. kedua pemerintah harus mengembangkan sistem pengecekkan verifikasi dan jalur perdagangan kayu ilegal tersebut dalam rangka membasmi pembalakkan liar dengan fokus utama di Indonesia.

dari

http://www.indonesia.go.id/id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=8861, pada tanggal 19 November 2009, pukul 21.41 WIB. 57 Arnoldo Contreras-Hermosilla, Current State of Discussion and Implementation Related to Pembalakan liar and Trade in Forest Products, (Roma: FAO), hlm. 27-31.

56

―RI

Diminta

Antisipasi

Lacey

Act‖,

diakses

c. Pemerintah Inggris akan membantu menyediakan dukungan teknis dan dana dalam melaksanakan proses identifikasi dan pengecekkan verifikasi dan jalur perdagangan kayu ilegal.

d. kedua pemerintah akan bekerjasama untuk mendukung keberadaan dan keterlibatan masyarakat sipil dalam pengelolaan manajemen hutan lestari yang dimaksudkan.

e. adanya data yang dikembangkan bersama-sama dimana masing- masing negara bersedia untuk saling tukar-menukar data aktivitas perdagangan kayu diantaranya untuk membuka informasi dalam memantau aktivitas perdagangan kayu.

f. mengimplementasikan kesepakatan ini ke dalam tubuh hukum nasional masing-masing negara dengan menyediakan wadah koordinasi mengenai pengembangan lebih lanjut kesepakatan agar dapat lebih memperhatikan ruang prasyarat hukum nasional yang diajukan.

g. kedua negara harus memberikan penyuluhan kepada industri kayu

untuk menggunakan dan meICSOlah kayu secara legal.

2. Perundingan Bilateral Indonesia Norwegia Pada bulan Agustus 2002, Indonesia dan Norwegia juga sepakat untuk mewujudkan pengelolaan hutan Indonesia dengan lebih lestari dimana Norwegia secara tentatif bersedia untuk memberikan bantuan pengembangan dan penerapan reformasi kebijakan, hukum, dan regulasi Indonesia dalam rangka memberangus pembalakkan liar.

3. Perundingan Bilateral Indonesia Jepang Pada bulan Juni 2003 Indonesia dan Jepang menandatangani kesepakatan untuk memberangus keberadaan pembalakkan liar dengan termasuk tidak melakukan perdagangan yang di dalamnya terdapat kayu hasil pembalakkan liar. Kedua belah pihak sama-sama membangun beberapa rencana aksi yang memiliki poin,

a. untuk memberantas pembalakkan liar terutama dalam menghasilkan kayu baik yang dilegalisasi maupun tidak perlu dikembangkan di baik Indonesia maupun Jepang suatu sistem verifikasi yang lebih baik.

b. merangsang keterlibatan masyarakat sipil dalam proses penciptaan hutan lestari terutama dalam mencegah terjadinya pembalakkan liar dan untuk ikut serta dalam memonitor implementasi dari sistem verifikasi yang telah dikembangkan oleh kedua negara.

c. adanya pembukaan data perdagangan oleh kedua belah pihak untuk dapat lebih memantau dan mengendalikan aktivitas dagang yang melibatkan kayu hasil pembalakkan liar.

d. adanya tindakan kolaboratif dari dua negara untuk dapat terus memperbaiki kerjasama dan kesepakatan agar dapat terus mengaplikasikan kesepakatan ini dengan dinamika yang ada dan tentunya dapat diterapkan dalam hukum nasional.

e. diperlukan adanya pembangunan sumber daya manusia di kedua

negara agar terjadi proses implementasi sistem yang lebih baik.

4. Perundingan Bilateral Indonesia Cina Pada akhir tahun 2002, Indonesia membangun kesepakatan dengan Cina melalui MoU dimana Cina merupakan importir terbesar kayu dari Indonesia. Mereka sepakat untuk memerangi pembalakkan liar dengan meningkatkan kesepakatan dan kesepahaman dalam pengembangan hukum perdagangan yang lebih sesuai dengan keinginan untuk memerangi pembalakkan liar. Beberapa poin dalam pembahasan MoU adalah,

a. memerangi perdagangan ilegal yang membawa kayu hasil pembalakkan liar termasuk di dalamnya yang membawa spesies flora dan fauna langka dengan berdasarkan kepada kesalingpenghormatan, kesetaraan dan keuntungan mutual, dan terutama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya hutan.

b. meningkatkan penggunaan hukum dalam memberantas pembalakkan liar.

c. meningkatkan kesadaran di antara kedua belah pihak mengenai pentingnya untuk menjaga hutan secara lestari terutama jika dikaitkan dengan masa depan lingkungan dan kebajikan dari kehidupan sosial dan ekonomi.

d. membuat dan mendukung praktik kehutanan yang adaptif terhadap pengelolaan hutan secara lestari.

5.

Perundingan Bilateral Indonesia Amerika Serikat Pada 28 Juli 2003, Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan the President’s Initiative agaisnt Pembalakan liar yang memfokuskan pembalakkan liar di tiga wilayah; (a) Basin KoICSO, (b) Basin Amazon dan Amerika Tengah, dan (c) Asia Selatan dan Asia Tenggara. Inisiatif ini diadakan dengan didasarkan pada empat pilar; (a) good governance, membangun kapasitas negara untuk lebih memperhatikan manajemen hutan lestari termasuk dalam perangkat hukum, (b) community-based action dimana dalam manajemen hutan harus melibatkan peran masyarakat sipil, (c) tehnology transfer, adanya aliran teknologi untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam peICSOntrolan dan pemantauan, dan (d) harnessing market forces dimana diperlukan bangunan pasar yang transparan, adanya praktik bisnis yang baik, perdagangan yang legal, dan kapasitas negara dalam mengimplementasikan untuk ikut mengawasi proses yang ada termasuk dalam mengimplementasikan kesepakatan antarnegara yang telah dicapai sebelumnya ke dalam aktivitas perdagangan riil di lapangan. Inisiatif ini juga bekerja di Indonesia dalam bentuk kerjasama bilateral antara Amerika Serikat dengan Indonesia. Misalnya, Indonesia mendapatkan bantuan keungan dalam kegiatan internal Indonesia untuk mendukung empat pilar yang disuarakan oleh Amerika Serikat ini.

b.

Strategi WWF Melobi Pemerintah Lokal atau Daerah di Kalimantan

Selain pemerintah pusat, WWF juga melobi pemerintah daerah yang di Indonesia memiliki kekuasaan yang cukup penting dalam melakukan otorisasi kebijakan akibat adanya otonomi daerah. WWF melobi semua pemerintah provinsi yang ada di keempat provinsi di Kalimantan. WWF juga mengadakan berbagai workshop bagi pemerintah daerah di kawasan ini mengenai manajemen hutan yang berkesinambungan, keuntungan dari sertifikasi, dan berbagai aspek sosial dari sertifikasi. Strategi lobi yang dilakukan oleh WWF terhadap

pemerintah daerah Indonesia di wilayah Kalimantan ada yang menunjukkan

respon positif seperti yang terjadi pada Pemerintah Daerah Kalimantan Timur. Keberhasilan lobi WWF ini ditunjukkan dengan ditandatanganinya Memorandums of Understanding (MoU) untuk meningkatkan kesadaran lingkungan melalui perencanaan eko-regional. 58 Penandatangan MoU ini menunjukkan intensi pemerintah daerah untuk mendukung usaha WWF dalam memerangi praktik penebangan ilegal melalui penggunaan sertifikasi kayu dalam mekanisme GFTN. WWF juga membantu pemerintah daerah Kalimantan Timur dalam sebuah usaha capacity-building dengan menyediakan Geographic Information System, sebuah sistem pelatihan bagi para perencana kehutanan pada tingkat distrik dan provinsi. 59 Selain itu workshop yang Sosialisasi Program Sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari juga dilaksanakan di Propinsi Kalimantan Barat. Workshop ini menarik untuk dicermati karena diselenggarakan tidak hanya oleh WWF tetapi juga bekerjasama dengan Dinas Kehutanan RI dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komda Kalimantan Barat. Workshop ini merupakan salah satu strategi lobbying WWF yang bertujuan untuk menekankan kembali komitmen propinsi Kalimantan Barat dalam sertifikasi kayu. Di dalam workshop ini dipaparkan data mengenai krisis ekonomi yang saat ini melanda negara-negara tujuan ekspor. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan permintaan terhadap produk kayu. Di Indonesia, volume kayu pada bulan Januari 2008 tercatat sebesar 127.477 m 3 , sedangkan pada Januari 2009 ekspor kayu Indonesia hanya 54.571 m 3 . 60

2.2.2. Strategi WWF dalam Lobbying dengan Kalangan Bisnis

Dalam usahanya melobi kalangan bisnis, WWF bekerja sama dengan The Nature Conservancy (TNC) untuk membentuk Alliance to Promote Certification and Combat Pembalakan liar (yang untuk selanjutnya akan disebut sebagai

58 Lusa Tacconi, et.all, Learning Lessons to Promote Forest Certification and Control Pembalakan liar in Indonesia. (Indonesia: Center for International Forestry Research, 2004), hal.30.

59 Ibid, hal.29. 60 Departemen Kehutanan, ―Ekspor dan Impor Komoditi Kehutanan‖, diakses dari http://www.dephut.go.id/files/Exim_2008.pdf, pada tanggal 19 November 2009, pukul 20.29 WIB.

Aliansi). Aliansi adalah sebuah inisiatif berjangka waktu tiga tahun yang bertujuan untuk 61 :

1. Memperluas pasar penjualan produk kayu bersertifikat 2. Meningkatkan persediaan produk kayu Indonesia yang bersertifikasi 3. Mewujudkan hutan bernilai konservasi tinggi (high conservation value forest) 4. Mengurangi investasi pada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penebangan kayu ilegal di Indonesia 5. Meningkatkan kemampuan industri kayu Indonesia untuk mengimplementasikan solusi praktis dalam melawan praktik penebangan ilegal dan dalam pencapaian manajemen keberlangsungan hutan (sustainable forest management). Adapun usaha lobbying WWF dengan kalangan bisnis tidak lepas dari

usaha WWF mewujudkan tujuan-tujuan Aliansi. Tulisan ini akan membahas lobbying WWF dengan kalangan bisnis pada tiga tujuan utama Aliansi. Pertama, usaha lobbying WWF melalui perluasan pasar penjualan produk kayu bersertifikat. Kedua, lobbying WWF dengan kalangan bisnis untuk meningkatkan persediaan produk kayu Indonesia bersertifikasi. Ketiga, lobbying WWF dengan kalangan bisnis untuk mewujudkan hutan bernilai konservasi tinggi.

1. Perluasan Pasar bagi Produk Kayu Bersertifikasi melalui GFTN Usaha lobbying juga dilakukan WWF dengan para pengusaha, terutama yang berkaitan dengan usaha hasil-hasil hutan seperti misalnya pengusaha furnitur. WWF memberika pengetahuan dasar mengenai sertifikasi kayu dan manfaatnya kepada perusahaan-perusahaan ini. Usaha lobbying terhadap perusahaan tidak terlepas juga dari usaha pembangunan jaringan yang akan dibahas dalam subbab berikutnya karena jaringan yang ada misalnya yang tergabung dalam GFTN WWF akan memberikan semacam insentif kepada perusahaan untuk lebih menunjukkan komitmennya mensertifikasikan kayu mereka. Beberapa poin dasar mengenai kesepakatan dan prasyarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang mau mensertifikasi kayunya sudah dibahas dalam Bab I Pendahuluan mengenai sertifikasi kayu seperti

61 Ibid, hal.19.

dengan memiliki dua komponen utama: sertifikasi kemampuan manajemen hutan dan sertifikasi produk. Dengan memberikan pengetahuan dasar misalnya mengenai dua komponen utama sertifikasi kayu melalui beberapa pelatihan dan edukasi kepada perusahaan, akan banyak perusahaan yang diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang telah diberikan. Pelatihan ini tentunya dikenakan biaya dan tentunya biaya untuk melakukan sertifikasi kayu. Inilah mengapa, untuk mengajak perusahaan bergabung menggunakan sertifikasi kayu harus diadakan adanya paksaan seperti mengajak unsur yang dapat memaksa seperti pemerintah dan masyarakat yang pada akhirnya mampu membuat perusahaan ikut tunduk pada aktivitas sertifikasi kayu. Perluasan pasar juga dilakukan WWF dengan memfasilitasi hubungan perdagangan antara perusahaan-perusahaan yang berkomitmen untuk mendukung terciptanya hutan yang lebih baik. Melalui GFTN, WWF menciptakan kondisi pasar yang membantu melindungi hutan-hutan dunia, sambil menyediakan keuntungan ekonomi dan sosial bagi para pengusaha yang terlibat di dalamnya. 62 Melalui GFTN, WWF mengadakan semacam pasar untuk jual-beli produk kayu bersertifikat. Adapun pasar ini kini telah mencakup berbagai belahan dunia, mulai dari Uni Eropa, Amerika Serikat, Cina, sampai Jepangempat negara tujuan utama ekspor produk kayu Indonesia. Adanya pasar kayu bersertifikasi ini menjadi insentif bagi para eksportir kayu untuk terlibat dalam proses sertifikasi kayu. Pasar ini sebenarnya semacam jaringan internasional yang akan dibahas lebih lanjut dalam subbab berikutnya. Penjelasan di dalam subbab ini dimaksudkan untuk menjadikan jaringan ini sebagai insentif kepada perusahaan dalam strategi lobbying yang dilakukan oleh WWF. Pada akhirnya, pengetahuan dan insentif yang diberikan akan membuat mereka (perusahaan) menolak untuk membeli produk kayu yang tidak bersertifikasi. Pada sepuluh tahun terakhir, permintaan konsumen akan produk kayu asal hutan yang dikelola secara berkelanjutan dengan dampak terbatas terhadap keanekaragaman hayati dan masyarakat asli yang hidup di

62 WWF, About GFTN. http://gftn.panda.org/, diakses pada 21 November 2009, pukul 06.34.

dalam dan di sekitar hutan telah meningkat. 63 Permintaan pada produk kayu bersertifikasi ini lantas menjadi insentif bagi industri kayu untuk melakukan penebangan secara legal agar produk kayu mereka dapat disertifikasi. Ini juga terjadi pada para pedagang produk kayu di Indonesia, seperti yang disampaikan Ambar Tjahyono sebagai Ketua Indonesian Furniture and Handicraft Association (Asmindo) yang berpendapat sertifikasi merupakan

hal yang penting untuk membuat produk kayu Indonesia menjadi kompetitif

di

pasar global 64 , karena produk kayu bersertifikasilah yang banyak diminta

di

pasar global. Adanya peningkatan permintaan pada produk kayu

bersertifikasi inilah yang, lanjut Ambar, menyebabkan peningkatan jumlah eksportir produk kayu yang kini menggunakan sertifikasi, yaitu sejumlah 2000 eksportir. 65 Peningkatan jumlah eksportir produk kayu bersertifikasi ini

merupakan bukti hasil kerja WWF melalui mekanisme GFTN yang dijalankannya. Dalam Kalimantan sendiri, Aliansi telah memfasilitasi

hubungan perdagangan antara salah satu eksportir produk kayu bersertifikasi

di Kalimantan, PT Sumalindo Lestari Jaya dan PT Suka Jaya Makmur dengan

sebuah industri furniture terkemuka di Amerika Serikat 66 , Home Depot. 2. Peningkatan Persediaan Produk Kayu Bersertifikasi dengan Melibatkan Kalangan Bisnis Dalam meningkatkan persediaan produk kayu bersertifikasi, WWF melibatkan kalangan bisnis, terutama dari industri-industri kayu. Adapun peningkatan persediaan kayu bersertifikasi ini dilakukan WWF dengan memberikan bantuan-bantuan teknis pada industri kayu yang tertarik untuk terlibat dalam proses sertifikasi kayu ini. WWF telah berhasil melobi berbagai industri kayu untuk memproduksi kayu bersertifikasi dengan cara melakukan penebangan secara legal dengan tetap memperhatikan unsur keseimbangan alam. Salah satu industri yang menjadi tujuan usaha lobbying WWF dan kini telah menjadi salah satu industri kayu bersertifikasi adalah PT. Suka Jaya Makmur yang merupakan bagian dari Grup Alas Kusuma,

63 E. Meijaard, et.all, op.cit., hal. 17.

64 Jakarta Post, Furniture Companies Seek Wood Certification. http://www.illegal-logging.info/ item_single.php?it_id=2530&it=news, diakses pada 21 November 2009, pukul 08.13.

65 Ibid.

66 Luca Tacconi, op.cit., hal.29.

perusahaan ini memiliki plymill dan konsesi di Ketapang, sebuah daerah di Kalimantan Barat. WWF Indonesia telah berhasil melobi PT Suka Jaya Makmur untuk memproduksi produk kayu bersertifikasi sebagai usaha untuk mengatasi masalah kehutanan di Indonesia. Kini, produk kayu dari PT Suka Jaya Makmur telah diekspor ke berbagai belahan dunia, salah satunya adalah ekspor kayu meranti dari perusahaan ini ke Amerika Serikat. 67 Dalam usahanya melobi PT Suka Jaya Makmur, WWF bekerja sama dengan Tropical Forest Foundation (TFF) dalam menyediakan bantuan perencanaan penebangan pohon bagi PT Suka Jaya Makmur. Selain memberikan bantuan perencanaan bagi PT Suka Jaya Makmur, Aliansi juga bekerja sama dengan LATIN dan Smartwood untuk memberikan training bagi industri yang terlibat dalam usaha sertifikasi produk kayu, misalnya ketika Aliansi membantu PT Gunung Gajah Abadi dan PT Sumalindo Lestari Jaya 68 dua industri produk kayu di Kalimantandalam pencapaian sertifikasi produk kayu mereka.

3. Perwujudan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi dengan Melibatkan Kalangan Bisnis Dalam usahanya mendorong produser-produser kayu untuk melakukan sertifikasi terhadap produk kayunya, WWF Indonesia mendirikan kumpulan produsen Forest Trade and Network yang dinamakan Nusa Hijau (Green Archipelago). 69 Adapun tujuan dari kelompok ini adalah untuk memperluas keanggotaannya untuk meningkatkan persediaan kayu bersertifikasi di Indonesia. Aktivitas Nusa Hijau ini antara lain berperan dalam perwujudan hutan bernilai konservasi tinggi dengan membangun jaringan unit eko- regional pada wilayah yang ditargetkan menjadi wilayah konservasi. Di Kalimantan sendiri, tepatnya di Kalimantan Timur, hingga kini hanya terdapat satu hutan bernilai konservasi tinggi yang resmi yaitu konsesi hutan pada daerah atas Mahakam seluas 50.000 hektar yang dilakukan oleh PT Sumalindo Lestari Jaya 70 , sementara daerah lainnya masih sedang berkutat

67

Down

to

Earth,

Stepwise

Approach

to

Certification

Raises

Questions.

http://dte.gn.apc.org/59crt.htm, diakses pada 21 November 2009, pukul 06.19

68 Luca Tacconi, loc.cit., hal. 29.

69 Ibid, hal.23.

70 Ibid, hal.42.

dengan legalisasi hutan bernilai konservasi tinggi. Adapun, industri-industri yang sedang mengajukan permohonan konsesi hutan bernilai konservasi tinggi di Kalimantan Timur adalah PT Intracawood dan PT Gunung Gajah Abadi. Adanya permohonan konsesi hutan bernilai konservasi tinggi ini tidak lepas dari peran WWF melalui Nusa Hijau-nya dalam melobi para industri kayu untuk ikut berperan dalam penyediaan produk kayu bersertifikasi di Indonesia. Permohonan konsesi hutan bernilai konservasi tinggi ini juga membuktikan keberhasilan WWF dalam mengubah persepsi kegunaan hutan bagi kalangan bisnis, di mana awalnya hutan hanya mempunyai manfaat konversi menjadi juga memiliki manfaat konservasi. Pada saat krisis ekonomi ini, penggunaan sertifikasi ekolabel menguntungkan bagi produsen produk kayu dalam memberikan nilai tambah pada produknya sehingga mampu menghadapi persaingan memperebutkan pasar yang semakin terbatas. Contoh konkretnya adalah PT Sari Bumi Kusuma yang menyatakan bahwa konsesi yang berlokasi di Kalimantan Barat dan telah memperoleh sertifikat kayu terbukti memberikan keuntungan bagi perusahaan yang berkomitmen tinggi dalam mewujudkan hutan lestari dimana perusahaan tersebut tidak mengalami penurunan permintaan di masa krisis seperti ini. 71 Dengan bukti ini dan sosialisasi yang dilakukan oleh WWF Indonesia, ICSO ini berusaha untuk melobi dan meyakinkan perusahaan-perusahaan produk kayu hasil Hutan Kalimantan agar ikut menjalankan sertifikasi kayu yang mampu membantu menyelamatkan hutan Kalimantan. Bisnis kehutanan yang berkelanjutan berawal dari adanya pengelolaan hutan yang lestari. Sertifikasi kayu merupakan salah satu alat dalam menjaga kelestarian hutan. Oleh karena itu, perolehan sertifikasi kayu menjadi indikasi penting sehatnya pengelolaan hutan dan bisnis kehutanan. Pengelolaan hutan haruslah melibatkan banyak pihak baik dari pemerintah, sektor swasta, lembaga ilmiah, perguruan tinggi dan masyarakat. Mekanisme kerjasama perlu dibangun secara sinergis agar hubungan antar pihak dapat tercipta secara positif demi mencapai tujuan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.

71 ―Komitmen Kalimantan Barat Meningkatkan Daya Saing dengan Sertifikasi‖, diakses dari

Meningkatkan-Daya-Saing-dengan-Sertifikasi, pada tanggal 18 Oktober 2009, pukul 11.45 WIB.

GFTN juga menawarkan asistensi teknis mengenai proses sertifikasi serta memberikan peluang pemasaran yang memberikan keuntungan bagi perusahaan dan masyarakat yang bergantung pada penjualan hasil hutan. Maka, secara umum GFTN merupakan salah satu inisiatif WWF yang ditujukan untuk menghilangkan pembalakan liar dan mengelola hutan berkelanjutan melalui proses sertifikasi. 72 WWF pun mengembangkan aliansi dengan The Nature Conservancy (TNC) untuk melobi dan mempromosikan sertifikasi dan memerangi penebangan liar. WWF pun melakukan inisiatif untuk melobi pasar sehingga dapat memperluas sertifikasi dan mengurangi penebangan liar dan berusaha untuk meningkatkan pasokan kayu Indonesia yang telah bersertifikat. Untuk mewujudkan peningkatan permintaan dan pangsa pasar bagi kayu-kayu yang bersertifikat, maka WWF melakukan strategi dan pendekatan lobbying terhadap pasar internasional. Cara melobi pasar adalah dengan meningkatkan kesadaran akan adanya keuntungan lingkungan dari sertifikasi dan dengan menawarkan produsen dan pembeli untuk bergabung dalam Jaringan Hutan dan Perdagangan Global (GFTN: Global Forest and Trade Network). 73

2.2.3. Strategi WWF dalam Lobbying dengan Masyarakat

Masyarakat adalah salah satu kelompok dalam organisasi kehidupan manusia yang memiliki fokus pada isu-isu pembangunan masyarakat. Isu-isu pembangunan masyarakat ini dianggap lebih memuaskan masyarakat itu sendiri sebagai kalangan mayoritas dalam organisasi kehidupan manusia daripada perjuangan isu kapital dan isu kekuasaan yang lebih memuaskan kalangan minoritas di dalam masyarakat. Oleh karenya, masyarakat yang berdaya akan sangat memiliki kemampuan untuk dapat menekan praktik-praktik dari kalangan pengusaha dan pemerintah yang tidak bersahabat dengan alam. Salah satu isu pemberdayaan masyarakat itu sendiri adalah isu untuk melestarikan lingkungan alam yang menjadi tempat tinggal dari masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan

dari

http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/kehutanan_spesies/whatwedo/gftnindonesia/inde x.cfm, pada tanggal 19 November 2009, pukul 21.52 WIB. 73 Luca Tacconi, et.al., ―Proses Pembelajaran (Learning Lessons) Promosi Sertifikasi Hutan dan

Pengendalian Penebangan Liar di

Indonesia‖, diakses dari

72

―GFTN-Indonesia‖,

diakses

2009, pukul 19.02 WIB.

masyarakat yang diartikan sebagai proses untuk mencerdaskan masyarakat untuk lebih mengetahui bagaimana seharusnya lingkungan dikelola terutama dalam mengelola hutan dengan cara lebih lestari sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak ikut kepada suatu tatanan yang dibentuk secara semena-mena oleh pemerintah dan kalangan pengusaha untuk memuaskan kepentingan minoritas mereka dan menjadi kalangan elit atau kalangan menengah ke atas. Namun sayangnya, kebanyakkan masyarakat di kawasan hutan Kalimantan belumlah berdaya atau sudah berdaya namun belum memiliki suara yang kuat untuk membentuk organisasi kehidupan manusia yang lebih terhubung antara masyarakat dan pemerintahnya. Untuk itulah, WWF hadir di sini untuk melobi masyarakat lokal dan masyarakat di luar kawasan hutan Kalimantan untuk lebih tanggap terhadap permasalahan hutan Kalimantan dan ikut menerapkan solusi sertifikasi kayu sebagai salah satu cara utama dalam mengelola hutan secara lestari di Kalimantan. Bahkan, lobi-lobi yang dilakukan oleh WWF juga banyak mendapatkan informasi pengetahuan dari aktivitas pengelolaan hutan lestari yang sudah lebih dahulu diterapkan oleh masyarakat lokal seperti masyarakat Dayak Kanyah di Kalimantan Timur. Ada banyak program yang dilakukan WWF baik di rumah pembalakkan liar itu sendiri maupun di negara lain yang menggunakan hasil pembalakkan liar untuk melobi masyarakat agar menjadi masyarakat yang tahu, masyarakat yang berdaya. Salah satu program itu di Indonesia adalah lomba penulisan dan analisis proyek GFTN WWF yang dilakukan di pulau Kalimantan yang mana lomba ini dilaksanakan pada tahun 2008. Hadiah lomba ini adalah berkunjung ke kawasan HoB yang diharapkan dapat menjadi edukasi langsung mengenai pelestarian lingkungan dengan mendekatkan langsung masyarakat yang sebelumnya awam tentang pelestarian lingkungan untuk menjadi tahu dan berdaya mengenai pelestarian lingkungan terutama mengenai usaha-usaha pelestarian hutan Kalimantan. Selain itu, GFTN juga mengadakan seminar mengenai desain hijau di Bandung pada 26-29 Juni 2008 lalu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pentingnya mendesain aktivitas kehidupan manusia yang hijau dan ramah lingkungan khususnya dalam mendesai rumah dengan

menggunakan kayu yang bersertifikasi. 74 Diadakannya seminar ini tidak dipungkiri dari kenyataan bahwa Indonesia masih membutuhkan pendirian sekitar 1,2 juta rumah baru per tahunnya dan diprediksikan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. WWF juga mengadakan semacam diskusi dengan masyarakat internasional di diskusi meja bundar mengenai produk kayu yang sudah menjadi bubur kertas di New York yang banyak mendapatkan masukan dan kritikan yang sangat membangun persepsi dan pemahaman semua stakeholder (masyarakat juga terdapat di dalamnya) mengenai hutan lestari dan sertifikasi kayu sebagai salah satu solusi untuk mewujudkannya. 75 WWF menekankan kepada masyarakat di AS melalui beberapa pelatihan dan workshop edukasi mengenai pentingnya untuk lterlibat lebih aktif dalam program GFTN terutama mengingat peran AS sebagai salah satu penyumbang terbesar konsumsi kayu ilegal dunia yang terutama berasal dari Indonesia, Cina, dan Brasil. 76 Jadi, konsumsi kayu AS yang dapat berbentuk kayu dan kertas sangat kritis dan berpotensi besar untuk mengurangi terjadinya pembalakan liar di Indonesia, khususnya Kalimantan. Salah satu bentuk komitmen keberhasilan yang dicapai adalah mulai bergabungnya Perusahaan Wal Mart sebagaimana yang dijelaskan oleh wakil presiden senior bidang kesinambungan perusahaan itu, ―One of our goals at Wal-Mart is to sell products that sustain and protect our resources. By joining the GFTN we can further this goal by providing our customers with a reliable supply of wood products that come from responsibly managed forests‖. 77 Lebih lanjut dia mengatakan komitmennya, ―This is just one way Wal-Mart is helping our customers save money and live better‖. WWF untuk lebih merealisasikan keinginan ini bekerjasama dengan organisasi publik seperti USAID untuk lebih mempromosikan penggunaan kayu bersertifikat kepada masyarakat AS dimana mereka sama-sama menginginkan agar masyarakat AS lebih menggunakan barang dan jasa dengan memikirkan nilai-nilai sosial,

74 WWF,

GFTN

Newsletter

October

2008,

(diakses

dari

http://assets.panda.org/downloads/0975_gftn_newsletter_oct_08_final_1

pdf,

diakses

pada

Minggu 22 November 2009 pukul 15.34), hlm. 2.

75 Ibid., hlm. 4. 76 WWF, ―Wal-Mart Joins WWF's Global Forest & Trade Network‖, diakses dari http://www.illegal-logging.info/item_single.php?it_id=2795&it=news, diakses pada Kamis, 3 Desember 2009.

77 Ibid.

konservasi lingkungan, dan keuntungan ekonomi jangka panjang. Dengan bergabungnya Wal-Mart dalam misi ini dapat dipastikan akan lebih memperlihatkan komitmen AS dalam pencegahan penggunaan lebih lanjut pembalakan liar. Organisasi publik seperti USAID sendiri mengatakan bahwa hal ini (kerjasama antara organisasi lingkungan, perusahaan, dan kesadaran publik), ―Today's development assistance is about mobilizing the ideas, efforts and resources of governments, businesses and civil society by forging public-private alliances that stimulate economic growth, develop businesses opportunities and address environmental issues.‖ 78

2.3. WWF Menjaring

Salah satu strategi lain yang dikembangkan oleh WWF untuk menyelamatkan hutan Kalimantan adalah dengan membangun jejaring global untuk mendukung program Global Forest Trade Network (GFTN) atau sertifikasi kayu-nya dari hutan Kalimantan. Pada pertengahan tahun 2007, luas lahan yang digunakan untuk sertifikasi kayu mencapai 292 juta hektar. 79 Dari beberapa mitra dagang Indonesia dalam aktivitas perdagangan kayu, terdapat empat negara dan kelompok negara yang menjadi mitra dagang terbesar yaitu: Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Cina. Cina sendiri menjadi mitra dagang kayu Indonesia terbesar. Jika melihat beberapa data yang disuguhkan dari masing-masing negara yang memiliki jumlah aktivitas perdagangan kayu besar seperti Cina, akan banyak ditemui beberapa fakta yang semakin mengukuhkan data yang dipaparkan di atas. Impor kayu Cina sendiri pada tahun 2006 misalnya, sebanyak seperempat yang

dilakukan berasal dari negara-negara pemilik hutan hujan tropis. 80 Salah satu negara pemilik hutan hujan tropis terbesar di dunia adalah Indonesia yang kini menurun peringkatnya menjadi peringkat ketiga terbesar setelah Brasil, dan KoICSO akibat laju deforestasi yang demikian besar. Program Heart of Borneo yang ditawarkan dan diinisiasi oleh WWF sendiri merupakan kerja keras untuk mempertahankan luas minimal hutan di Kalimantan yang harus dapat

78 Ibid. 79 Perserikatan Bangsa-Bangsa, Forest Product Annual Market Review: 2006-2007, (New York:

Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2007), hlm. 1. 80 Ibid., hlm. 15.

dipertahankan di tahun 2020 (dapat melihat peta ketersediaan hutan di pulau Kalimantan pada gambar 1 mengenai realisasi dan prediksi pengrusakan hutan di Kalimantan 1900-2020), yang tentunya strategi utama untuk mewujudkan impian ini adalah mempertemukan tiga kepentingan besar tiga aktor: pemerintah, perusahaan, dan organisasi masyarakat sipil dengan melakukan sertifikasi kayu dari hutan-hutan yang tersisa di Kalimantan. WWF memiliki GFTN yang merupakan perwujudan dari sertifikasi kayu dengan campuran berbagai strategi untuk mewujudkan sertifikasi kayu. WWF

telah berusaha membangun jejaring global untuk merangsang penggunaan dan penghadiran sertifikasi kayu ke dalam aktivitas peICSOlahan hutan untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia dari kayu. Kekuatan jaringan diasumsikan menjadi kekuatan penopang dari terlaksananya ide sertifikasi kayu terhadap hutan Kalimantan. Beberapa tujuan dari GFTN yang dipromosikan untuk dilakukan terhadap hutan Kalimantan adalah,

1. mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan

2. usaha memenuhi permintaan kayu lestari dari Indonesia

3. memediasi kesempatan kerjasama produsen dan pembeli yang berkomitmen tinggi dalam mencapai dan mendukung kegiatan kehutanan yang bertanggung jawab dalam jaringan pasar global

4. memfasilitasi tercapainya lebih banyak produsen dan manufaktur hasil

hutan tersertifikasi di Indonesia GFTN mampu menjembatani usaha pelestarian hutan sekaligus menyediakan keuntungan ekonomi dan sosial bagi kalangan bisnis serta masyarakat yang bergantung pada hutan tersebut. GFTN juga mempromosikan kerjasama antara organisasi non-pemerintah (ICSO) dengan para perusahaan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan hutan. GFTN mampu memfasilitasi perusahaan-perusahaan dalam mengevaluasi pembelian dan pengimplementasian

action plan untuk menjamin bahan baku yang lestari. Ada beberapa keuntungan dari keikutsertaan suatu perusahaan di dalam GFTN: 81

1. Mendapatkan keuntungan substansial, yaitu dari ketersediaan akses sumber kayu yang terpercaya dan bertanggung jawab

81 ―The benefits of GFTN Participation‖, http://gftn.panda.org/about_gftn/benefits/, pada tanggal 18 Oktober 2009, pukul 11.48 WIB.

2.

Meningkatkan penerimaan dari para pembeli kayu sehingga perusahaan tersebut dapat menjual lebih banyak

3. Mendapatkan informasi dan bantuan teknis dalam proses mendapatkan sertifikasi yang kredibel dan bertanggung jawab

4. Mendapatkan kontak dan jaringan yang membantu perusahaan,

masyarakat, LSM, dan pengusaha memasuki pasar yang baru. Hal ini dapat dilakukan tidak terlepas dari kuatnya jaringan yang berhasil dibangun WWF melalui GFTN. Jaringan GFTN ini tersebar di berbagai wilayah di muka bumi terutama di wilayah yang memiliki kontak langsung dengan pengrusakan hutan akibat pembalakkan liar dan kontak tidak langsung dengan menerima hasil pembalakkan liar melalui perdagangan. Sebagaimana sudah disebutkan di Bab I Pendahuluan dalam informasi terbaru yang penulis peroleh dari WWF, jaringan GFTN WWF telah berkembang di lebih dari 30 negara di dunia; 82 (1) Afrika: negara-negara di Afrika Tengah (Kamerun dan Republik KoICSO), dan Ghana; (2) Asia Pasifik: Australia, Cina, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Vietnam; (3) Eropa: Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Inggris, Jerman, Perancis, Portugal, Rumania, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Swiss; (4) Amerika Latin dan Karibia: Bolivia, Brasil, Peru, dan negara-negara Amerika Tengah dan Karibia (Belize, El Salvador, Guatemala, Honduras, Kosta Rika, Nikaragua, Panama, Puerto Riko, dan Republik Dominika); (5) Amerika Utara:

(disebutkan berbagai perusahaan di Kanada dan Amerika Serikat). Untuk membahas lebih lanjut mengenai jaringan ini, penulis akan memaparkan proses singkat GFTN yang dilakukan WWF di salah satu negara

yang mulai aktif mempromosikan penggunaan kayu bersertifikat, Inggris. WWF Inggris sebenarnya juga berperan sebagai pemimpin utama dalam struktur pemerintahan di GFTN, bersama dengan negara-negara lain yang bertujuan untuk mewujudkan penggunaan produk hutan yang lebih bertanggung jawab, mengurangi penebangan ilegal, dan meningkatkan manajemen hutan di dunia. 83 Dalam GFTN, anggota yang tergabung di dalamnya selain berkomitmen untuk melindungi hutan melalui manajemen hutan dan produk-produk hutan secara bertanggung jawab, mereka juga berkomitmen untuk melakukan pembelian

83 Ibid.

produk kayu secara bertanggung jawab, yaitu dengan memperhatikan asal kayu (apakah kayu yang dibeli didapatkan secara legal dan didapatkan dengan memperhatikan unsur sustainability dari hutan, atau tidak). Di Inggris sendiri, GFTN telah memiliki lebih dari 40 anggota, mulai dari high street retailers seperti B&Q, Homebase, dan Sainsburys; perusahaan konstruksi seperti Bovis Lend Lease dan Redrow Group plc; sampai pada para eksportir kayu seperti Jewson’s Travis Perkins dan Timbmet. 84 Dapat dibayangkan saja ketika GFTN yang mulai menguat di Inggris ini juga terjadi di seluruh negara yang dibuatkan jaringan oleh WWF melalui GFTN ini. Program sertifikasi kayu tentunya diharapkan akan dapat terus berkembang dan terealisasikan ke depannya. Jaringan GFTN yang diinisiasi dan dikembangkan oleh WWF memiliki beberapa keunggulan karena menguasai sekitar 53% dari permintaan kayu bersertifikat di dunia, sementara itu sisanya diperdagangkan oleh perusahaan nonGFTN (32%), lembaga publik (14%), and pihak lain (1%). 85 Keunggulan ini akan semakin meningkatkan ketertarikan negara-negara terutama perusahaan dan industri kayu untuk terus meningkatkan program sertifikasi kayunya yang ternyata mulai menjadi trend di tingkat global dengan WWF menguasai pangsa pelaksanaannya yang mungkin akan dijadikan semacam cambukan paksaan bagi stakeholder untuk melakukan sertifikasi kayu. Dengan semakin meluasnya penggunaan sertifikasi kayu akibat menguatnya jaringan GFTN WWF, sertifikasi kayu akan menjadi trend global yang tidak dapat dihindari oleh stakeholder yang menginginkan keuntungan dari penggunaan dan peICSOlahan kayu dunia baik dari aktivitas kontak langsung dengan hutan maupun aktivitas kontak tidak langsung. Hingga kini, telah ada 18 jaringan pembeli kayu hasil Hutan Indonesia, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, terdapat juga jaringan pembeli di Jepang dan Hong Kong. Sejauh ini, GFTN Indonesia tercatat mempunyai 38 anggota (27 perusahaan manufaktur hasil hutan dan 11 Unit

84

WWF,

Invisible

Consequences.

http://www.wwf.org.uk/what_we_do/campaigning/one_planet_homes/ invisible_consequences/, diakses pada 21 November 2009, pukul 06.01. 85 Luca Tacconi, et.al, Loc.Cit.

Manajemen Hutan). 86 Pada prinsipnya, setiap anggota GFTN ini diharuskan membuat rencana aksi untuk menghilangkan kayu dari sumber ilegal dari rantai perdagangannya dan untuk meningkatkan prosentase kayu yang bersertifikat. Sejumlah kelompok produsen berada dalam berbagai tahap pengembangan di Amerika Selatan, Afrika Barat dan Tengah, Eropa Timur dan Asia Tenggara. Pada saat ini, terdapat sekitar 500 perusahaan yang berpartisipasi dalam jaringan ini. Perhatian juga diberikan pada pembentukan Forest Trade Network (FTN) produsen untuk menjamin bahwa pasokan kayu bersertifikat dan kayu legal bersesuaian dengan permintaan. Jaringan GFTN di Indonesia mengkhususkan diri pada hutan Kalimantan yang terancam kelestariannya. Mulai meningkatnya penggunaan sertifikat kayu yang dipromosikan oleh WWF Indonesia melalui keanggotaan dalam GFTN Indonesia tidak dapat dilepaskan dari adanya potensi keuntungan dari akses yang lebih mudah ke pasar internasional. Beberapa contoh aktivitas yang dilakukan WWF wilayah kerja Indonesia terhadap negara lain untuk semakin mendukung penggunaan kayu bersertifikat dari hutan Indonesia terutama hutan Kalimantan adalah bekerjasama dengan WWF wilayah kerja Belanda misalnya untuk mempromosikan penggunaan kayu bersertifikat di negara tersebut. WWF Indonesia dan Belanda melobi dan mengajak beberapa asosiasi perumahan dari Belanda untuk berkomitmen menggunakan kayu dari Borneo (Kalimantan) yang bersertifikasi Forest Stewardship Council (FSC), organisasi internasional yang memberikan label sertifikat pada kayu, untuk membangun 100.000 rumah di Belanda dalam lima tahun kedepan. 87 Komitmen tersebut dijadikan sebagai bentuk kepedulian yang besar dari pelaku usaha perumahan di Belanda terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Seratus ribu rumah yang akan dibangun dengan kayu bersertifikasi FSC tersebut mencakup 25 persen dari total jumlah rumah yang akan dibangun di negeri kincir tersebut. Komitmen ini dituangkan dalam sebuah deklarasi yang ditandatangi dan diumumkan dalam

86 ―GFTN Participants-Indonesia‖,

87 ―Asosiasi Perumahan Belanda hanya Gunakan Kayu Indonesia Bersertifikat‖, diakses dari http://www.kompas/202.146.5.33/ver1/Iptek/0703/27/000009.htm, pada tanggal 20 November 2009, pukul 19.04 WIB.

dari

diakses

acara Konferensi Jakarta yang diselenggarakan WWF-Indonesia bekerjasama dengan FSC Belanda. Hingga kini, sedikitnya 38 perusahaan perumahan Belanda telah menyatakan komitmennya dalam deklarasi tersebut. 88 Pembelian kayu dari hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan merupakan sebuah cara membantu mengatasi masalah deforestasi dan degradasi hutan. Deklarasi yang ditandatangani oleh para pengusaha perumahan dari Belanda menunjukkan bahwa pasar bagi kayu-kayu bersertifikasi ada dan akan terus mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini membuktikan keberhasilan dari promosi dan lobbying yang dilakukan oleh WWF yang pada akhirnya justru membuat jaringan penggunaan sertifikasi kayu semakin kuat dan menjadi alat pemaksa bagi industri kayu pada khususnya menggunakan sertifikasi kayu karena beberapa alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya seperti menjembatani dan memberikan kesempatan bagi perusahaan peICSOlah dan produsen kayu dari Indonesia untuk bertemu secara langsung dengan para pelaku usaha perumahan, industri konstruksi dan peICSOlah kayu, serta ritel pedagang dari Belanda. Hal ini penting dan berguna untuk menjalin hubungan bisnis (ekspor-impor kayu) dan mendorong pembelian kayu dari sumber hutan Indonesia, khususnya Kalimantan yang legal dan lestari. Selain itu, Konferensi Jakarta ini juga merupakan bagian dari progam kampanye "Building and Borneo", yang diusung oleh WWF Belanda, FSC Belanda, dan sejumlah pelaku usaha yang bergerak dalam sektor perumahan di Belanda dengan mottonya adalah renewal here must not lead to destruction elsewhere (pembangunan di Belanda harusnya tidak menyebabkan kerusakan di tempat lain). 89 Kampanye tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa semua pelaku usaha perumahan sejak sekarang dan seterusnya akan memilih untuk menggunakan kayu dan produk-produk kayu yang berasal dari hutan-hutan yang dikelola dengan lestari, seperti yang diusahakan dalam sertifikasi kayu hasil Hutan Kalimantan. Konferensi Jakarta ini juga adalah satu dari beberapa acara yang difasilitasi oleh Program Nusa Hijau WWF-Indonesia atau yang juga dikenal sebagai Indonesian Forest and Trade Network (IFTN) melalui kerjasama dengan beberapa mitra lainnya. IFTN adalah bagian dari Global Forest and Trade

88 ―Asosiasi Perumahan Belanda hanya Gunakan Kayu Indonesia Bersertifikat‖, Loc.Cit.

89 Ibid.

Network (GFTN), sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengeliminasi pembalakan liar dan meningkatkan pengelolaan hutan-hutan yang bernilai tinggi tetapi sedang terancam kondisinya, seperti Hutan Kalimantan. WWF-Indonesia bekerja dengan mitra-mitranya untuk meningkatkan pengelolaan hutan yang lestari di Borneo dan daerah lainnya di Indonesia, yaitu dengan membantu dunia industri agar mendapatkan sertifikasi hutan yang kredibel. Komitmen dari pelaku usaha perumahan dari Belanda untuk membeli kayu bersertifikasi FSC dari Indonesia sejalan dengan upaya IFTN dalam meningkatkan pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia.

2.4. Data Kondisi Hutan Kalimantan Wilayah Indonesia Sebelum dan

Sesudah Realisasi Sertifikasi Kayu Tahun 2003. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan dalam Statistik Kehutanan 2007 disebutkan bahwa luas daratan kawasan hutan di Kalimantan Barat pada tahun 2007 adalah sebesar 9.101.760 hektar, Kalimantan Tengah 15.300.000 hektar, Kalimantan Timur 14.651.053 hektar, dan Kalimantan

Selatan 1.839.494 hektar. 90 Sedangkan Kementrian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan presentase tutupan lahan hutan dan non-hutan pada tahun 2008, yang ditunjukkan oleh data di bawah. 91

pada tahun 2008, yang ditunjukkan oleh data di bawah. 9 1 Tabel 1.1 Persentase Tutupan Lahan

Tabel 1.1 Persentase Tutupan Lahan Hutan dan Non-Hutan 2008

90 Data diperoleh dari Statistik Kehutanan 2007, diakses dari

http://www.dephut.go.id/files/Stat_2007.pdf pada hari Sabtu, 21 November 2009 pukul 14.39 WIB, hal. 20. Lihat gambar 1 mengenai realisasi dan prediksi pengrusakan hutan di Kalimantan 1900-

2020.

91 Data diperoleh dari Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2008, diakses dari http://www.menlh.go.id/slhi/slhi2008/4_lahandanhutan.pdf pada hari Sabtu, 21 November 2009 pukul 15.01 WIB, hal. 48.

Dari data ini dapat dilihat bahwa presentase tutupan lahan non-hutan di Kalimantan sekarang sekarang sudah melebihi tutupan lahan hutan disana. Hal ini membuktikan bahwa di hutan-hutan di Kalimantan semakin berkurang (deforestasi hutan), tentu saja hal ini bisa dikarenakan beberapa hal. Pertama, pembukaan hutan sebagai lahan pertanian. Kedua, pembukaan hutan untuk dibangun rumah sebagai tempat tinggal manusia maupun berbagai prasarana umum lainnya seperti jalan dan sekolah. Ketiga, kebakaran hutan yang melanda hutan-hutan di Kalimantan. Terakhir, yang adalah hal paling buruk yang selama

ini diduga menjadi penyebab utama berkurangnya tutupan hutan di Kalimantan

adalah penebangan kayu liar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. 92

Di bawah dilampirkan juga data mengenai klasifikasi dan luas kawasan hutan di

Indonesia dan persentase luas kawasan hutan per pulau di Indonesia tahun 2007

yang diambil dari Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup tahun 2008.

92 Ibid., hal. 56-57.

Grafik 1.1 Klarifikasi dan Luas Kawasan Hutan di Indonesia 9 3 9 3 Ibid. ,

Grafik 1.1 Klarifikasi dan Luas Kawasan Hutan di Indonesia 93

93 Ibid., hal. 49.

Tabel 1.2 Persentase Luas Kawasan Hutan Per Pulau di Indonesia 2007 9 4 Lantas, bagaimana

Tabel 1.2 Persentase Luas Kawasan Hutan Per Pulau di Indonesia 2007 94 Lantas, bagaimana dengan laju deforestasi di Kalimantan? Terdapat dua sumber data yang diperoleh disini. Pertama, data dari Departemen Kehutanan dari periode 2000-2001 hingga periode 2004-2005. Kedua, data dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup selama periode 2003-2006. Kedua data ini kemudian akan bersifat melengkapi satu sama lain.

data ini kemudian akan bersifat melengkapi satu sama lain. Tabel 1.3 Deforestasi 7 Pulau Besar (termasuk

Tabel 1.3 Deforestasi 7 Pulau Besar (termasuk Kalimantan) 2000-2005 95

94 Ibid., hal 50. 95 Op. Cit., Statistik Kehutanan 2007, hal. 26.

53

Grafik 1.2 Deforestasi 7 Pulau Besar (termasuk Kalimantan) 2000-2005 9 6 Tabel 1.4 Deforestasi di

Grafik 1.2 Deforestasi 7 Pulau Besar (termasuk Kalimantan) 2000-2005 96

7 Pulau Besar (termasuk Kalimantan) 2000-2005 9 6 Tabel 1.4 Deforestasi di Kalimantan Periode 2003-2006 9
7 Pulau Besar (termasuk Kalimantan) 2000-2005 9 6 Tabel 1.4 Deforestasi di Kalimantan Periode 2003-2006 9

Tabel 1.4 Deforestasi di Kalimantan Periode 2003-2006 97

Keterangan

KSA-KPA

: Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam

HL

: Hutan Lindung

96 Data diperoleh dari Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) 2007, diakses dari http://www.menlh.go.id/slhi/slh2007/slhi2007/SLHI_2007_05_lahan&hutan.pdf pada hari Sabtu, 21 November 2009 pukul 15.03 WIB, hal. 111. 97 Op. Cit., Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008, hal. 53.

54

HPT

: Hutan Produksi Terbatas

HP

: Hutan Produksi

HPK

: Hutan Produksi Konversi

APL

: Area Penggunaan Lain

Berdasarkan data tersebut, kita dapat membandingkan laju deforestasi sebelum dan sesudah sertifikasi kayu. Pada periode 2000-2003, yaitu sebelum program sertifikasi kayu dilakukan, deforestasi di Kalimantan berjumlah 822.100 hektar dengan rata-rata 274.033,33 hektar/tahun. Sedangkan pada periode 2003-2006, yaitu sesudah sertifikasi kayu dilakukan, deforestasi di Kalimantan (kawasan hutan saja) rata-rata 239.045,4 ribu hektar/tahun, dengan total kerusakan sebesar 717.136,2 hektar. Hal ini berarti sesudah diterapkan program sertifikasi kayu, deforestasi di Kalimantan ternyata berkurang. Namun, apakah benar laju deforestasi berkurang karena adanya sertifikasi kayu yang bertujuan mengurangi penebangan kayu liar? Karena bisa saja deforestasi berkurang dikarenakan berkurangnya populasi yang berakibat pada penurunan permintaan lahan pertanian dan tempat tinggal. Selain itu deforestasi juga bisa berkurang akibat menurunnya tingkat kebakaran hutan. Oleh karena itu, kita perlu melihat lebih detail apakah sertifikasi kayu berdampak pada berkurangnya penebangan liar di Kalimantan.

berdampak pada berkurangnya penebangan liar di Kalimantan. Tabel 1.5 Penebangan Liar di Kalimantan 2002-2003 9 8
berdampak pada berkurangnya penebangan liar di Kalimantan. Tabel 1.5 Penebangan Liar di Kalimantan 2002-2003 9 8

Tabel 1.5 Penebangan Liar di Kalimantan 2002-2003 98

98

Statistik

Kehutanan

2003,

diakses

http://www.dephut.go.id/informasi/statistik/Stat2003/PKA/III4103.pdf pada

November 2009 pukul 08.57 WIB.

hari

Minggu,

dari

22

Tabel 1.7 Penebangan Liar Tahun 2006-2007 9 9 Berdasarkan data diatas, kita dapat membandingkan penebangan
Tabel 1.7 Penebangan Liar Tahun 2006-2007 9 9 Berdasarkan data diatas, kita dapat membandingkan penebangan

Tabel 1.7

Penebangan Liar Tahun 2006-2007 99 Berdasarkan data diatas, kita dapat membandingkan penebangan liar yang terjadi

di Kalimantan pada periode 2002-2003 yaitu sebelum sertifikasi kayu

diberlakukan dan pada tahun 2006-2007 yaitu data terakhir dimana sertifikasi kayu sudah mulai dilakukan. Secara keseluruhan dapat terlihat bahwa penebangan

liar yang terjadi di Kalimantan berkurang. Hal ini membuktikan bahwa program

sertifikasi kayu di Kalimantan berhasil mengurangi penebangan liar yang terjadi

di Kalimantan.

99 Statistik Kehutanan 2007 hal. 65 dan Status Lingkungan Hidup 2008 hal. 57.

BAB III KESIMPULAN

Kalimantan memiliki masalah kehutanan yang cukup parah dengan menjadi kawasan yang memiliki luas wilayah hutan yang terdegradasi terbesar di Indonesia untuk kawasan hutan Kalimantan di Indonesia. Tingkat deforestasi di Kalimantan wilayah bagian Indonesia mulai mengikuti tingkat deforestasi di pulau Sumatera dan Sulawesi. Banyak alasan yang menyebabkan terjadinya pengrusakan di wilayah Kalimantan ini terutama karena adanya pembalakkan liar. Wilayah Asia Tenggara sendiri merupakan salah satu wilayah yang memiliki kawasan hutan hujan tropis terbesar di dunia, namun belum memiliki kemauan untuk menekan laju deforestasi terutama dari pembalakan liar. Kawasan ini juga ternyata belum memiliki inisiatif untuk melaksanakan program sertifikasi hutan yang disadari memiliki banyak manfaat dan kegunaan terutama untuk mencegah terjadinya pembalakkan liar. Oleh karenanya, program GFTN WWF diterapkan pertama kali ke wilayah ini sebagai proyek rintisan untuk melakukan sertifikasi kayu.

Program sertifikasi kayu terhadap hutan Kalimantan dirasakan sangat penting dan mendesak untuk segera dilakukan dengan lebih masif karena tanpa adanya pengelolaan hutan secara lestari, seluruh stakeholders yang sama-sama terlibat dalam pengelolaan hutan akan mengalami kerugian di masa depan. Tanpa pengelolaan hutan secara berkelanjutan, pohon yang ada di hutan akan semakin cepat berkurang dan habis. Hal ini tentunya akan memberikan dampak, pertama, semakin langkanya kayu yang dapat diperoleh masyarakat. Kedua, masyarakat belum dapat menemukan substitusi pengganti dari penggunaan kayu dalam kehidupan sehar-harinya seperti menjadi beberapa elemen penting pembangunan rumah dan berbagai infrastruktur lain hingga dalam hal menggunakan kertas. Ketiga, semakin langkanya kayu akan semakin menyebabkan harga kayu semakin mahal. Mahalnya harga kayu akan menyebabkan selain kayu yang sulit dicari bagi penopang aktivitas masyarakat yang disebutkan dalam poin kedua, beberapa aktivitas ekonomi lanjutan dari pengelolaan kayu seperti industri percetakan hinggan industri distribusi kayu akan mengalami kerugian yang besar karena

anjloknya permintaan mereka akan produk mereka. Keempat, bagi industri hulu pembuatan kayu yang bersinggungan langsung dengan hutan tentunya dalam tahap awal pelaksanaan pembalakan liar akan merasa sangat diuntungkan. Namun, industri mereka akan tidak berjalan dengan lama. Hutan habis, kayu habis, aktivitas mereka tentunya akan berhenti seketika. Kelima, bagi pemerintah dimana pemerintah akan kehilangan sumber pajak yang dapat digunakan untuk terus membangun kegiatan bernegara seperti membiayai beberapa proyek pemerintahan dalam rangka memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya. Jika sumber ini hilang, pemerintah akan semakin sulit untuk mencari pembiayaan dari sumber lain yang akan semakin memberikan kesulitan bagi pelaksanaan pembangunan. Dampaknya, pemerintah akan secara politik mendapatkan legitimasi yang kurang dari warga negara khususnya bagi para politisi seperti presiden hingga legislator. Mungkin, dampak-dampak yang disinggung dari pembalakan liar dan pengelolaan hutan secara tidak lestari terkesan hanya menghasilkan dampak secara domestik. Namun, isu pembangunan berkelanjutan seperti dengan mengelola hutan secara lestari adalah isu yang bersifat internasional yang berarti merupakan isu bersama yang dialami oleh semua negara. Memang mungkin tidak akan terlihat jika manusia masih memakai perspektif berpikir mereka untuk melihat permasalahan secara domestik dan lebih mementingkan aspek kedaulatan negara. Di luar batas-batas imajiner negara, manusia tinggal di suatu benda secara bersama-sama yang bernama bumi. Bumi jika dilihat secara holistik memiliki segala penyokong yang salah satunya adalah keseimbangan elemen-elemen yang ada untuk terus dapat menopang kehidupan. Hutan adalah bagian dari penyokong itu yang melalui pohon-pohonnya dapat memberikan kehidupan kepada manusia berupa udara yang tidak mematikan, panas yang juga tidak mematikan, dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghidupi aktivitasnya mencari makanan. Kalimantan adalah salah surga yang menyokong aktivitas itu dimana hutan hujan tropis ternyata lebih besar dalam membantu menyeimbangkan alam daripada hutan berjenis lainnya di muka bumi. Aktivitas perdagangan kayu internasional juga tentunya akan terganggu jika dari sisi penawaran tidak lagi memberikan penawaran yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan karena pengelolaan kayu tidak dilakukan dengan berkesinambungan. Ini belum

dipandang dari sisi yang lebih luas yaitu perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati dunia mengingat hutan hujan tropis menopang sebagian besar aktivitas ini. Oleh karenanya, hutan terutama hutan Kalimantan memang pantas untuk disebut penting dan mendesak agar dikelola secara lestari. Sertifikasi kayu sendiri dilakukan dengan menggunakan dua langkah; (a) sertifikasi manajemen hutan yang dilakukan di daerah asal terutama berkaitan dengan bagaimana hutan ditebang dan diolah untuk menjadi kayu, dan (b) sertifikasi kayu dimana dilakukan di daerah setelah daerah asal terutama berkaitan dengan aliran perdagangan kayu untuk memonitor dan mengawasi kayu apakah benar-benar memiliki legalitas. Selain itu, dalam program GFTN diberikan semacam solusi lanjutan terhadap kritikan akan adanya aliran hanya melalui proses prosedurisasi legalisasi. Solusi lanjutan ini berupa bentuk pengawasan yang komprehensif dari awal ketika pohon ditebang untuk menjadi kayu dengan memenuhi syarat dan prosedur yang telah diterapkan sesuai dengan standar yang ada hingga ke hilir dimana kayu ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia seperti untuk membangun rumah. Strategi yang dilakukan oleh WWF untuk merangkul semua aktor yang terlibat dalam penggunaan kayu agar menggunakan sertifikasi kayu adalah melalui dua cara; (a) lobbying dan (b) networking. Terdapat empat langkah yang dapat digunakan untuk menganalisis perkembangan strategi untuk menggunakan sertifikasi kayu yang dilakukan dalam tingkat global menurut Meijiaraad. Pertama, dengan pemberian bantuan teknis dan peningkatan kesadaran yang dilakukan oleh ICSO, baik lokal maupun internasional; pemerintah, baik melalui Departemen Kehutanan, departemen lainnya, maupun oleh pemerintah daerah, dan oleh pihak pemberi sertifikat seperti Smartwood dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) terhadap masyarakat, industri, dan pemerintah. Kedua, melalui perluasan pasar, investasi, dan berbagai insentif lainnya dimana pasar, investasi, dan insentif yang ada mendukung terlaksananya sertifikasi kayu sehingga memaksa produsen kayu di Indonesia dan pembeli kayu dari luar Indonesia untuk menerima konsep sertifikasi kayu. Langkah kedua ini diperoleh setelah langkah pertama dilaksanakan dimana langkah pertama akan menumbuhkan perilaku untuk menerima sertifikasi kayu di pasar. Adapun langkah ketiga yaitu pembeli kayu

dari negara-negara yang menjalin dagang dengan Indonesia mengubah kebiasaannya untuk menerapkan sertifikasi kayu dalam perilaku dagang mereka. Para pembeli ini pada akhirnya diharapkan hanya mau menerima kayu yang bersertifikat. Diharapkan, negara-negara inilah yang kemudian akan terjalin masuk ke dalam jaringan negara-negara bersertifikat kayu internasional yang di WWF disebut sebagai GFTN. Ketiga langkah ini pada akhirnya akan memaksa produsen kayu di Indonesia untuk mengubah langkahnya untuk memproduksi kayu dengan menggunakan sertifikat kayu. Langkah keempat adalah dengan selalu mengembangkan cara yang inovatif untuk mengelola bagaimana sertifikasi kayu ini dilaksanakan misalnya dengan menambahkan indikator transparansi baik pada saat melakukan tracking jejak perdagangan kayu, pengelolaan dana, dsb., yang diimplementasikan pada langkah pertama dan penekanan langsung pada produsen kayu negara asal, Indonesia misalnya. Strategi WWF yang dikelompokkan dalam lobbying dan networking mencakup analisis yang dijelaskan secara umum oleh Meijaraad. Analisis strategi ini terhadap WWF adalah dalam langkah pertama disebutkan bahwa diberikan penyuluhan dan peningkatan pemahaman kepada produsen kayu di Indonesia dan kepada pasar internasional mengenai perlunya penerapan sertifikasi kayu dalam aktivitas penggunaan kayu dari hutan. Proses ini akan disebut sebagai proses lobbying dimana WWF akan terus menggunakan strategi ini untuk menyadarkan dan meningkatkan pemahaman mereka pada sertifikasi kayu kepada para stakeholder seperti pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dan networking dimana WWF akan terus berusaha membangun jaringan yang akan semakin memperkuat keberadaan isu sertifikasi kayu yang mereka perjuangkan juga kepada para stakeholder yaitu pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Jika dianalogikan secara sederhana dan hitam putih, lobbying akan seperti bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemahaman akan sertifikasi kayu, dan networking bertujuan untuk meningkatkan kuantitas pengguna sertifikasi kayu. Baik lobbying dan networking dalam sertifikasi kayu adalah suara-suara yang sebenarnya menyuarakan sebuah isu yang sengaja diadakan oleh WWF agar para stakeholder mau memperhatikan pengelolaan hutan secara lestari. Kedua strategi ini dilakukan pada tiga elemen sekaligus, yaitu pada pemerintah

(baik lokal maupun nasional), pada kalangan bisnis (eksportir kayu, industri kayu, dan pemilik usaha yang berhubungan dengan praktik penebangan kayu), serta pada masyarakat (baik masyarakat lokal tempat penebangan kayu terjadi maupun masyarakat lain secara keseluruhan). Baik lobbying maupun networking dilakukan secara dua arah pelaksanaannya dimana penguatan jaringan yang sebenarnya ditopang oleh lobbying akan membuat proses lobbying menjadi lebih bekerja. Penggunaan strategi dengan tidak hanya melibatkan pemerintah sebagai pengambil keputusan, tapi juga dengan melibatkan kalangan bisnis yang turut berperan dalam meningkatkan praktik penebangan liar di hutan Kalimantan, serta dengan melibatkan masyarakat yang mengalami kerugian akibat praktik penebangan liar tersebut, menurut penulis, merupakan langkah yang efektif dalam memerangi praktik penebangan liar di hutan Kalimantan. Strategi pertama, melobi, dilakukan WWF pada pemerintah, kalangan bisnis, dan masyarakat. Pada pemerintah lokal, WWF memberikan berbagai workshop mengenai manajemen hutan yang berkesinambungan dan keuntungan dari sertifikasi. WWF juga memberikan sistem pelatihan berupa Geographic Information System (GIS) bagi para perencana kehutanan pada tingkat distrik dan propinsi. Tidak hanya itu, untuk semakin mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam mendukung usaha WWF untuk memerangi praktik penebangan liar melalui penggunaan sertifikasi kayu dalam mekanisme Global Forest Trade Network (GFTN), WWF juga melakukan penandatangan Memorandums of Understanding (MoU) dengan pemerintah-pemerintah daerah Kalimantan. Pada kalangan bisnis, usaha lobbying WWF dilakukan dengan memberikan insentif pada para pengusaha kayu Kalimantan berupa perluasan akses pada pasar produk kayu bersertifikasi melalui GFTN. Adapun pasar ini kini telah mencakup berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Jepang dan Cina yang kesemuanya tergabung dalam GFTN. Tidak hanya memberikan insentif berupa akses pada pasar produk kayu bersertifikat, WWF juga memberikan pengetahuan pada industri-industri kayu di Kalimantan yang tertarik untuk menerapkan sertifikasi kayu. Adapun pengetahuan yang diberikan adalah bantuan perencanaan penebangan pohon, pemberian asistensi teknis, dan berbagai bantuan lainnya sehubungan pelaksanaan penebangan kayu legal di hutan

Kalimantan. WWF juga melakukan usaha lobbying pada masyarakat. Usaha lobbying ini dilakukan dengan melakukan lobi terhadap masyarakat dalam Kalimantan dan masyarakat di luar Kalimantan. Salah satu contoh menarik dilakukan lobi terhadap masyarakat lokal di dalam Kalimantan adalah mempelajari mengenai kebudayaan asli Dayak dan memberikan laporannya kepada publik bahwa ternyata masyarakat ini telah memiliki norma-norma dan peraturan adat yang sesungguhnya dapat dimasukkan dalam kegiatan pengelolaan hutan secara berkesinambungan. Selain itu, masyarakat di luar Kalimantan dilakukan dengan cara memberikan beberapa pelatihan dan edukasi workshop misalnya di Bandung mengenai cara mendesai rumah hijau dan di New York mengenai pemanfaatan berkesinambungan kayu yang mereka impor kebanyakan dari daerah yang mengalami pembalakan liar seperti Indonesia terutama dari Kalimantan. WWF juga menjalin kerjasama dengan berbagai institusi publik seperti USAID untuk di AS sendiri untuk membantu memberikan edukasi kepada masyarakat di sana mengenai pentingnya menggunakan kayu yang bersertifikat dalam rangka mencapai tujuan bersama akan masa depan lingkungan yang lebih baik. Strategi kedua, networking, dilakukan WWF melalui usahanya membangun jejaring global untuk mendukung program GFTN, yang kini sudah tersebar di berbagai wilayah dunia terutama di wilayah yang memiliki kontak langsung dengan pengrusakkan hutan akibat pembalakan liar dan kontak tidak langsung dengan menerima hasil pembalakan liar melalui perdagangan kayu ilegal. Jaringan GFTN ini sendiri kini sudah tersebar sedikitnya di 30 negara dunia, mulai dari Benua Afrika, Asia, Eropa, sampai Amerika Latin dan Amerika Utara (termasuk di dalamnya Amerika Serikat sebagai importir utama kayu-kayu Indonesia). Dalam GFTN, anggota yang tergabung di dalamnya berkomitmen untuk melakukan pembelian produk kayu secara bertanggung jawab, yaitu dengan memperhatikan asal kayu yang dibelinya (apakah kayu tersebut didapatkan secara legal dengan memperhatikan unsur sustainability hutan atau tidak). Jaringan GFTN yang diinisiasi oleh WWF ini telah berhasil menguasai pemenuhan mayoritas permintaan produk kayu bersertifikat di dunia, keberhasilan yang signifikan dalam usahanya memerangi praktik penebangan kayu ilegal di dunia

pada umumnya, dan di hutan Kalimantan pada khususnya. Strategi lobbying dan networking yang kemudian gencar dilakukan WWF pada akhirnya mampu mengurangi praktik penebangan liar di hutan Kalimantan, keberhasilan yang positif menuju terciptanya hutan Kalimantan yang lestari.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Watch Indonesia dan Global Forest Watch, Keadaan Hutan

Indonesia. 2001. Bogor: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.:

Global Forest Watch. Ballam, David N. dan Michael Vesseth. 1996. Introduction to International Political Economy. New York: Prentice Hall International Inc. Baylis, John dan E.J. Rengger, ed. 1992. Dilemmas of World Politics:

International Issues in a Changing World. Oxford: Clarendon Press. Contreras-Hermosilla, Arnoldo. Current State of Discussion and Implementation Related to Pembalakan liar and Trade in Forest Products. Roma: FAO. Cusgrove, Curul Ann dan Kenneth J. Twitchett. 1970. The New International Actors: The UN and the EEC. Meijaard, E. et.all. 2006. Panduan bagi Praktisi; Mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia, Studi Kasus di Kalimantan Timur. Samarinda, Indonesia: The Nature Conservancy.

Miller, Frank, Rodney Tailor, dan George White.2006. Keep It Legal. WWF, Juli. Papp, Daniel S. 1984. Contemporary International Relations, 5th Edition. New York: McMillan Publishing Company. Perserikatan Bangsa-Bangsa. 2007. Forest Product Annual Market Review: 2006-

Forest

2007. New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tacconi, Lusa, et.all. 2004. Learning Lessons to Promote Forest Certification and

Control Pembalakan liar in Indonesia. Indonesia: Center for International Forestry Research. Tennyson, Ros dan Luke Wilde. 2000. The Guiding Hand Brokering Partnership for Sustainable Development. The United Nations Staff College & The Prince of Wales Business Leaders Forum.

ARTIKEL

Pemanfaatan Hutan Tropis yang Berwawasan Lingkungan di Indonesia. 1991. dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan. Jakarta: Departemen Kehutanan. Myers, N. 1991. ―Tropical Forests and Climate‖, dalam jurnal Climate Change, Vol. 19, No. 1/2, September. Nota Informasi FAO: Situasi Sumber Daya Hutan Dunia Dewasa ini. 1990. Jakarta: Departemen Kehutanan. Statistik Kehutanan 2007 hal. 65 dan Status Lingkungan Hidup 2008 hal. 57. Willets, Peter. 1997. ―Transnational Actors and International Organizations in World Politics‖. dalam John Bayts dan Steve Smith. The Globalization of World Politics: An Introduction Relations. Oxford: Oxford University Press.

INTERNET WWF. ―Wal-Mart Joins WWF's Global Forest & Trade Network‖. Diakses dari

http://www.illegal-logging.info/item_single.php?it_id=2795&it=news.

Diakses pada Kamis, 3 Desember 2009.

http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/Books/BTacconi0402.pdf.

http://assets.panda.org/downloads/0975_gftn_newsletter_oct_08_final_1

http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:w5VXJkts7a8J:assets.panda.org/do

wnloads/gftn_brazil_factsheet_aug2009.pdf+gftn+brazil&hl=id&sig=AFQj

CNGGLloJ-A2gjTkVcQrhdGNzy-hJIw.

http://dte.gn.apc.org/59crt.htm.

http://gftn.panda.org/. http://gftn.panda.org/about_gftn/benefits/. http://gftn.panda.org/about_gftn/current_participants/gftn_members.cfm?country=

Brazil&countryid=30.

http://gftn.panda.org/about_gftn/current_participants/gftn_members.cfm?country=

Indonesia&countryid=9.

http://gftn.panda.org/gftn_worldwide/. http://gftn.panda.org/gftn_worldwide/.

http://saveourborneo.org/index.php?option=com_content&task=view&id=109&It

emid=29

http://www.dephut.go.id/files/Exim_2008.pdf.

http://www.dephut.go.id/files/Stat_2007.pdf.

http://www.dephut.go.id/informasi/statistik/Stat2003/PKA/III4103.pdf.

http://www.docstoc.com/docs/2949246/Chapter-1-Geologi-dan-Masalah

Lingkungan.

http://www.fao.org/docrep/v7850e/V7850e04.htm#Timber%20certification:%20a

n%20overview.

http://www.fsc.org/history.html?&L=tР―Р‡Р’С—Р’Р…arget%3D_self.

http://www.gftn.panda.org/gftn_worldwide/asia/indonesia_ftn/indonesia_profile.

http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/press-releases/greenpeace-menantang-

rspo-untu.

http://www.hulusungaitengahkab.go.id/versi3/index.php?option=com_content&vi

ew=article&id=432:awas-luas-hutan-di-kalimantan-cuma-tersisa-

separo&catid=18:pariwisata&Itemid=64.

http://www.illegal-logging.info/ item_single.php?it_id=2530&it=news.

http://www.indonesia.go.id/id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=8

861.

http://www.isai.or.id/?q=node/10.

http://www.kompas/202.146.5.33/ver1/Iptek/0703/27/000009.htm.

http://www.menlh.go.id/slhi/slh2007/slhi2007/SLHI_2007_05_lahan&hutan.pdf.

http://www.menlh.go.id/slhi/slhi2008/4_lahandanhutan.pdf.

http://www.nrdc.org/land/forests/qcert.asp#7.

http://www.panda.org/who_we_are/.

http://www.panda.org/wwf_quick_facts.cfm. http://www.rainforestinfo.org.au/good_wood/tcrt_def.htm.

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/02/21/Utama/ut01.htm.

http://www.unece.org/trade/timber/docs/sem/2004-1/qweb.pdf.

http://www.wwf.or.id/berita_fakta/pressrelease/?8762/Komitmen-Kalimantan-

Barat-Meningkatkan-Daya-Saing-dengan-Sertifikasi.

http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/kehutanan_spesies/whatwedo/gft

nindonesia/index.cfm.

http://www.wwf.org.

http://www.wwf.org.uk/what_we_do/campaigning/one_planet_homes/ invisible_consequences/. http://www.wwf.org.uk/what_we_do/safeguarding_the_natural_world/ forests/forest_trade_network/about_the_uk_ftn.cfm.

http://www2.kompas.com/ver1/Nusantara/0710/04/170054.htm.

www.wwf.or.id/tentang_wwf/.

http://www.docstoc.com/docs/2949246/Chapter-1-Geologi-dan-Masalah-

Lingkungan.