Anda di halaman 1dari 6

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Review IV Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan AS


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : Kumar Ramakrishna, ―The US Foreign Policy of Praetorian Unilateralism and The Implications for
Southeast Asia‖, dalam Uwe Johannen, et.all., (ed.), September 11 and Political Freedom. (Singapore:
Select Publishing Pte. Ltd., 2003), hal. 116-139.

Serangan Praetorian Unilateralisme dan Respon Negara-Negara Asia Tenggara


Sebelas September 2001 merupakan hari yang bersejarah bagi Amerika Serikat (AS). Serangan
pada gedung World Trade Center di AS yang dicurigai dilakukan oleh kelompok teroris Al Qaeda berhasil
memicu ketakutan sekaligus kemarahan AS. Dampak dari akumulasi ketakutan dan kemarahan itu adalah
mulai diadopsinya suatu pendekatan baru dalam memerangi terorisme pada kebijakan luar negeri AS oleh
pemerintahan Bush. Kumar Ramakrishna dalam artikelnya yang berjudul ―The US Foreign Policy of
Praetorian Unilateralism and the Implications for Southeast Asia‖ menyebut pendekatan ini dengan istilah
praetorian unilateralisme. Praetorian unilateralisme dimengerti sebagai kebijakan AS yang menggunakan
pendekatan militer dalam usahanya memerangi terorisme dengan tanpa bergantung pada negara lain
sehingga dalam melakukan perang melawan terorisme, AS bersedia ―berperang‖ secara unilateral dengan
kekuatan militer yang ia miliki.
Diadopsinya pendekatan praetorian unilateralisme oleh AS ini sendiri bukanlah tanpa alasan.
Ramakrishna menyebutkan ada dua alasan yang melatarbelakangi kebijakan AS tersebut. Pertama, nature
dari teroris yang kini semakin mengglobal. Pesatnya perkembangan arus globalisasi menjadikan teroris
semakin leluasa dalam beraktifitas; mulai dari kemudahan perekrutan anggota baru, hingga kemudahan
transfer uang dan pembelian senjata secara online. Hal ini membuat pergerakan teroris menjadi tidak
terkontrol. Terorisme yang sekarang juga merupakan bentuk terorisme baru, yang disebut sebagai ―fourth
wave” of terrorism, yaitu terorisme dengan menggunakan alasan agama sebagai dasar perjuangannya.
Berbeda dengan bentuk-bentuk sebelumnya, terorisme berbasis agama ini seakan tega menyerang
noncombatants dan lebih sulit untuk diajak bernegosiasi karena tidak adanya tujuan politik yang mereka cari.
Alasan kedua yang melatarbelakangi diadopsinya pendekatan praetorian unilateralisme adalah mindset
ideologi kaum neokonservatif yang berkuasa dalam pemerintahan AS kala itu, digabungkan dengan
kekuatan militer AS. Pemerintahan Bush dikenal sebagai kaum Republikan Kanan, yang beranggapan bahwa
hegemoni politik, ekonomi, dan militer AS penting dalam menentukan pengaturan sistem internasional, dan

1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

bahwa ―what is right for America is right for the world‖. Arogansi AS tersebut didukung oleh kemampuan
militernya yang sangat besar. Dua hal tersebut mendukung formulasi kebijakan dengan mengutamakan
penggunaan kekuatan militer untuk segala solusi.
Walaupun disebutkan sebelumnya bahwa AS cenderung tidak membutuhkan dukungan dari negara
lain dalam memerangi terorisme karena AS sendiri sudah memiliki kekuatan militer yang besar, tidak dapat
disangkal AS masih membutuhkan bantuan negara lain dalam hal data intelijen dan kebijakan finansial di
luar wilayahnya. Hal ini mendorong AS untuk melakukan pendekatan-pendekatan pada negara dunia demi
membangun koalisi. Dalam membangun koalisi, AS banyak melakukan pendekatan pada negara-negara
Eropa. Walaupun mendapat respon positif dari negara-negara Eropa, perlawanan AS terhadap Al Qaeda juga
mendapat reaksi negatif dari negara-negara Islam. Serangan AS pada Afghanistan dan Irak yang
menewaskan ribuan nyawa umat Islam, melahirkan kebencian pada diri umat Islam di seluruh dunia.
Pendekatan praetorian unilateralisme AS mendapat banyak kritik karena dengan tujuan membasmi terorisme,
AS tidak segan menggunakan kekuatan militernya, yang lantas berdampak pada hilangnya nyawa ribuan
umat Muslim yang tidak bersalah. Ramakrishna sendiri menceritakan lahirnya kebencian umat Muslim ini
dengan istilah threat of civilizational enmity, yaitu bahwa keterikatan etnik, dalam hal ini keterikatan sebagai
umat Muslim, akan muncul sebagai respon dari lahirnya ancaman kaum dominan lain (dalam hal ini, AS dan
koalisi anti-terornya). Adanya threat of civilizational enmity ini akan menyatukan umat Muslim di seluruh
dunia untuk bersatu melawan AS dan koalisinya yang dianggap menyerang ―peradaban‖ mereka.
Respon negatif terhadap serangan praetorian unilateralisme AS untuk membasmi Al Qaeda antara
lain datang dari negara-negara Asia Tenggara (selanjutnya disebut sebagai As-Teng) yang mayoritas
beragama Islam. Ramakrishna menyebutkan, pendekatan praetorian unilateralisme AS telah menumbuhkan
perasaan anti-Amerika di kalangan umat Muslim As-Teng. Seperti misalnya paska serangan AS ke
Afghanistan pada Oktober 2001, di mana partai politik Malaysia PAS kemudian menyerukan warga
Muslimnya untuk menjalankan jihad melawan AS. Reaksi negatif juga datang dari Indonesia di mana
demonstrasi anti-Amerika merebak di mana-mana. Kaum Muslim urban Singapura juga menyatakan
keprihatinannya yang mendalam pada apa yang terjadi pada warga Muslim di Timur Tengah akibat serangan
AS. Sebagai kesimpulan, Ramakrishna mengatakan bahwa pendekatan praetorian unilateralisme AS dalam
memerangi terorisme ternyata malah berdampak negatif pada hubungan AS dengan negara-negara As- Teng
berupa lahirnya civilizational enmity di kalangan warga Muslim As-Teng. Persepsi anti-AS ini, jika tidak
2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

ditangani dengan baik, akan menjerumuskan warga Muslim moderat Asia Tenggara ke dalam
pemikiran-pemikiran radikal yang mengarah pada terorisme.
Dari tulisannya, Ramakrishna mengatakan bahwa pendekatan AS dalam memerangi terorisme
dianggap sebagai ancaman pada ―peradaban‖ umat Muslim di Asia Tenggara, sehingga masuknya AS ke
Asia Tenggara cenderung mendapat reaksi negatif dari negara-negara Asia Tenggara. Menanggapi hal ini,
penulis memiliki anggapan yang sedikit berbeda dengan konsep threat of civilizational enmity AS tersebut.
Menurut penulis, masuknya AS di Asia Tenggara melalui pendekatan praetorian unilateralisme dapat
disikapi dengan melihatnya dari dua cara pandang, yaitu cara pandang sistem dan cara pandang unit.
Penggunaan kedua cara pandang ini akan menghasilkan respon yang berbeda-beda dari negara Asia
Tenggara dalam menanggapi pendekatan praetorian unilateralisme AS.
Dari cara pandang sistem, penulis melihat negara-negara di Asia Tenggara cenderung positif
menerima kehadiran AS sebagai hegemon di Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya berbagai
bantuan teknis dan finansial oleh lima negara besar di Asia Tenggara sehubungan dengan usaha AS
memerangi terorisme. Indonesia, misalnya, pada 22 Oktober 2003 lalu, sepakat untuk membangun kerja
sama di bidang militer dengan AS untuk memerangi terorisme. 1 Tidak hanya itu, pada Agustus 2002 lalu,
Indonesia juga menerima bantuan sebesar 60 juta Dollar AS; 47 juta Dollar untuk memperkuat kapasitas
kepolisian nasional, dan 13 juta Dollar untuk mencegah pendanaan dan praktik pencucian uang teroris.2
Respon yang sama juga datang dari Filipina. Pada November 2001, Presiden Arroyo mengeluarkan
pernyataan untuk bergabung bersama AS dalam usaha memerangi terorisme. Dampak dari pernyataan
Arroyo ini adalah pemberian berbagai bantuan teknis dan finansial pada militer Filipina, sebesar lebih dari
100 juta Dollar AS.3 Filipina juga menerima status sebagai “Major non-NATO ally‖, status yang untuk
pertama kalinya diberikan pada negara di Asia;4 status ini kemudian menstipulasi pemberian bantuan dan
peralatan pada militer Filipina.
Penerimaan yang positif juga datang dari Thailand, yang membangun kerja sama erat dengan AS

1
Bruce Vaughn, et.all, Terrorism in Southeast Asia. (New York: Nova Science Publishers, 2008), hal. 23.
2
David Capie, ―Between a Hegemon and a Hard Place: The ‗War on Terror‘ and Southeast Asian-US Relations‖, dalam The Pacific Review, Vol.
17 No.2 Juni 2004, hal. 229.
3
Renato Cruz De Castro, ―The Revitalized Philippines–US Security Relations: The Triumph of Bilateralism Over Multilateralism in Philippine
Foreign Policy?‖, dipersentasikan pada the Institute for Defence and Strategic Studies and Sasakawa Peace Foundation’s Conference on
Evolving Approaches to Security in the Asia Pacific, Hotel Marina Mandarin, Singapura, 9–10 December 2002, hal. 13.
4
Sheldon Simon, ―Southeast Asia Solidifies Antiterrorism Support, Lobbies for Postwar Iraq Reconstruction‘, dalam Comparative Connections,
Jilid 2, 2003. Dapat diakses secara online melalui http://www.csis.org/pacfor/cc/0302Qus_asean.html.
3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

melalui Counter Terrorism Intelligence Center (CTIC), sebuah unit intelijen Thailand yang bertujuan untuk
memerangi terorisme. Melalui CTIC, AS dilaporkan telah memberikan sekitar 15 juta Dollar AS 5 untuk
keperluan penangkapan teroris di Filipina khususnya, dan di As-Teng pada umumnya. Kerja sama dalam
memerangi terorisme juga dilakukan Malaysia dengan AS. Pada tahun 2002, PM Malaysia Mahathir
Mohammed bertemu dengan Presiden Bush untuk menandatangani Memorandum of Understanding
mengenai usaha-usaha counter-terrorism.6 Sejak itu, berbagai bantuan militer diberikan AS pada Malaysia.
Sejak peristiwa 9/11, kehadiran militer AS—baik dalam bentuk pesawat udara maupun kapal laut
militer—di wilayah Malaysia meningkat drastis.7 Hal yang sama juga terjadi di Singapura. Pada Juli 2005,
Presiden Bush dan PM Lee menandatangani ―Strategic Framework Agreement‖, perjanjian yang berisi
peningkatan hubungan bilateral untuk memerangi terorisme, pengadaan joint military exercises, serta
penggunaan teknologi pertahanan bersama antar kedua negara.8 Berbagai respon positif dari lima negara
besar di Asia Tenggara ini membuktikan bahwa negara-negara Asia Tenggara menerima kehadiran AS di
wilayah tersebut secara positif.
Sementara dari cara pandang unit, penulis melihat bahwa unsur domestik dari setiap negara
As-Teng juga berperan penting dalam menentukan sikap suatu negara pada AS. Seperti misalnya yang
terjadi di Indonesia, ketika sekelompok umat Muslim memprotes keras serangan AS ke Afghanistan, yang
berbuntut pada gerakan demonstrasi anti-AS seperti yang telah disebutkan Ramakrishna sebelumnya.
Sebuah poling pada Januari 2002 menyebutkan bahwa 89% penduduk Indonesia menilai serangan AS ke
Afghanistan sebagai serangan yang ―morally unjustified‖. 9 Munculnya sentimen anti-AS di kalangan
masyarakat kemudian menimbulkan perubahan pada pandangan Indonesia terhadap AS. Presiden Megawati
yang pada awalnya menunjukkan dukungan pada AS kemudian mulai menyampaikan kritik keras
sehubungan dengan penggunaan kekuatan militer untuk memerangi terorisme; kritik Megawati itu oleh
beberapa pengamat politik dinilai sebagai upaya penarikan diri dari perang melawan terorisme yang
digalang AS.10 Masih berhubungan dengan kondisi domestik, respon yang sama juga terjadi di Malaysia.

5
Bruce Vaughn, et.all.,op.cit., hal. 32.
6
Ibid, hal. 33.
7
Najib bin Tun Abdul Razak, ―US–Malaysia Defense Cooperation: A Solid Success Story‖, disampaikan pada Lecture to the Heritage
Foundation, Washington D.C., 3 May 2002.
8
Bruce Vaughn, et.all., op.cit., hal. 37.
9
Donald K. Emmerson, ―Whose Eleventh? Indonesia and America Since 11 September‖, dalam Brown Journal of World Affairs, 9(3), Spring
2003, hal. 121.
10
Tatik S. Hafidz, ―The War on Terror and The Future of Indonesian Democracy‖, dalam Working Paper No. 46, (Singapore: Institute of
Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University, 2002), hal. 5.
4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

Telah disebutkan sebelumnya, serangan AS ke Afghanistan dan Irak telah membangkitkan kemarahan pada
diri rakyat Muslim Malaysia, yang ditunjukkan ketika PAS kemudian menyerukan pengikutnya untuk
melakukan jihad melawan AS. Berbagai respon negatif dari masyarakat Malaysia lantas memaksa
pemerintah Malaysia untuk mengambil garis perlawanan terhadap AS; seperti yang ditunjukkan pada kritik
Mahathir yang mengatakan serangan AS ke Irak tidak hanya mengisyaratkan perang terhadap umat Muslim,
tapi juga bahwa AS tidak lagi menghargai kedaulatan Irak. Invasi AS ke Irak ini bukan hanya menunjukkan
perang melawan terorisme, tapi juga sebuah perang untuk mendominasi dunia.11
Masih dari cara pandang unit, penulis menemukan bahwa respon negatif terhadap pendekatan
praetorian unilateralisme AS tidak hanya datang dari negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam
seperti Malaysia dan Indonesia, tapi juga dari tiga lainnya seperti Singapura, Filipina, dan Thailand. Pada
Singapura, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kaum Muslim urban Singapura mengkritik serangan
praetorian unilateralisme AS di Timur Tengah. Munculnya berbagai kritik domestik memaksa pemerintah
Singapura untuk menyerukan adanya pendekatan yang lebih manusiawi dalam memerangi terorisme.
Singapura melalui PM Goh Chok Tong juga menyerukan pada AS agar perang melawan terorisme
difokuskan pada upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina,12 persis seperti yang diinginkan umat Muslim
di As-Teng. Respon negatif juga datang dari Filipina. Walaupun pada awalnya menyambut positif kehadiran
AS di wilayahnya, lama-kelamaan Filipina mulai merasa gerah dengan terlalu banyaknya campur tangan AS
pada militer Filipina. Kritik domestik pun timbul. Kritik ini kemudian memaksa pemerintah Filipina untuk
mulai membuat batasan yang jelas pada kerja sama bilateral kedua negara.13 Hal yang sama juga terjadi di
Thailand. Pada awalnya Thailand termasuk negara yang mendukung AS, akan tetapi seiring berjalannya
waktu, AS semakin tidak manusiawi. Muncul kritik domestik dari rakyat Thailand yang khawatir kedekatan
Thailand-AS akan melahirkan persepsi bahwa Thailand mendukung invasi militer AS di Irak, padahal
kenyataannya tidak begitu. Menanggapi kritik tersebut, pemerintah Thailand pun mengajukan permohonan
pada pemerintahan Bush agar publikasi mengenai dukungan Thailand pada invasi Irak dihilangkan.14
Berbagai penjelasan di atas kiranya cukup menjadi bukti bagi penulis untuk menyangkal anggapan
Ramakrishna yang menggambarkan hubungan AS-Asia Tenggara sebagai hubungan yang bermusuhan

11
Mahathir Mohamed, Pidato Pembukaan pada The XIII Summit Meeting of the Non-Aligned Movement di Putra World Trade Centre, Kuala
Lumpur, 24 February 2003. Dapat diakses secara online melalui http://www.nam.gov.za/media/030225na.htm.
12
Muray Hiebert dan Barry Wain, ―Same Planet, Different World‖, dalam Far Eastern Economic Review, 17 Juni 2004.
13
David Capie, op.cit., hal. 236.
14
Raymond Bonner, ―Thailand Tiptoes in Step with American Antiterror Effort,‖ dalam New York Times, 7 Juni 2003.
5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

dikarenakan adanya masalah threat of civilizational enmity. Adapun menurut penulis, ilustrasi yang paling
tepat menggambarkan hubungan AS-Asia Tenggara dalam kaitannya dengan pendekatan praetorian
unilateralisme AS untuk memerangi terorisme adalah bahwa negara-negara Asia Tenggara bertindak
layaknya entitas negara, bukan peradaban.15 Walaupun hubungan antara AS dan negara-negara As-Teng
menjadi lebih rumit paska 2001, para elit pemerintah di lima negara besar As-Teng menyadari bahwa
mereka masih membutuhkan AS demi alasan stabilitas kawasan. Dari sudut pandang sistem, penulis melihat
AS sebagai negara hegemon dengan kekuatan militer, ekonomi, dan politik yang besar, yang memiliki
kapabilitas yang cukup untuk membangun sebuah stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Penulis berpendapat,
kehadiran sebuah hegemon di suatu wilayah dalam suatu situasi penuh ancaman, dalam hal ini ancaman dari
teroris, merupakan hal yang dinanti-nanti oleh negara di wilayah tersebut; karenanya, kehadiran AS di Asia
Tenggara cukup diterima. Akan tetapi, walaupun dalam menyikapi sikap praetorian unilateralisme AS,
negara As-Teng cenderung bersikap layaknya entitas negara, mereka juga bukanlah aktor yang unitari seperti
anggapan kaum Realis pada umumnya. Pada kasus di lima negara besar As-Teng, dapat dilihat bahwa unsur
domestik memegang peranan penting dalam menentukan respon pemerintah negara masing-masing. Hal ini
membuktikan pentingnya memandang masalah hubungan AS-Asia Tenggara dari sudut pandang unit, karena
ternyata unsur politik domestik sangat krusial dalam menentukan sikap negara. Dengan menggabungkan
kedua sudut pandang ini, penulis menyimpulkan bahwa sebenarnya reaksi negara-negara Asia Tenggara
pada pendekatan praetorian unilateralisme AS untuk memerangi terorisme bukanlah merupakan reaksi
permusuhan seperti yang disebutkan Ramakrishna dengan istilah threat of civilizational enmity, melainkan
mencerminkan sebuah sikap pragmatis, yaitu sikap untuk berusaha menjaga kestabilan posisinya pada
sistem internasional, sekaligus tetap memastikan stabilitas domestiknya.

15
Pendapat ini senada dengan pendapat Amitav Acharya, ―In responding to September 11, states acted more as states than civilizations. From
Hindu India to Muslim Indonesia, from Buddhist Thailand to the Catholic Philippines, the response of governments was the same. Asked to
choose between the US and the terrorists, they overwhelmingly sided with Washington‖. Lihat Amitav Acharya, ―State–Society Relations:
Asian and World Order After September 11‖, dalam K. Booth dan T. Dunne (ed.), Worlds in Collision: Terror and the Future of Global Order,
(New York: Palgrave, 2002), hal 195.
6