Anda di halaman 1dari 3

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Abstraksi Makalah Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Amerika Serikat
Nama : Erika
NPM : 0706291243

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat Berupa


Kenaikan Tarif Impor Terhadap Produk Ban Cina

Liberalisasi dan demokrasi merupakan dua hal yang melatarbelakangi hampir seluruh pembuatan
kebijakan di Amerika Serikat, baik kebijakan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri. Prinsip pertama,
liberalisme, merupakan prinsip yang terus berusaha diwujudkan oleh AS dalam setiap kebijakan luar
negerinya, terutama dalam berbagai kebijakan perdagangannya. Liberalisasi perdagangan dilakukan dengan
memberi kebebasan seluas-luasnya pada swasta, dengan meminimalkan peran negara dalam perdagangan
internasional. Prinsip liberalisme dalam perdagangan internasional antara lain diwujudkan dengan
pengurangan tarif bagi masuknya barang-barang impor dalam perdagangan internasional. Prinsip
pengurangan tarif impor ini sudah diadopsi oleh negara-negara anggota General Agreements of Tariff and
Trade (GATT), termasuk AS sebagai salah satu pemrakarsanya. Akan tetapi, tren diterapkannya tarif impor
yang rendah dalam kebijakan perdagangan AS tersebut kini tampaknya perlu dikaji ulang, seiring dengan
dikeluarkannya berbagai kebijakan perdagangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan
bebas oleh AS belakangan ini.
Salah satu kebijakan perdagangan AS yang bertentangan dengan prinsip liberalisasi perdagangan
terlihat pada 11 September 2009 lalu, ketika Presiden Obama mengumumkan kenaikan tarif impor pada
produk ban Cina sebesar 35%, di luar pajak sebesar 4% yang sudah diterapkan sebelumnya. Tarif impor ini
akan berlaku selama tiga tahun ke depan, dengan rincian 35% pada tahun pertama, 30% pada tahun kedua,
dan 25% pada tahun ketiga. Kebijakan perdagangan yang dikeluarkan Presiden Obama tersebut mendapat
reaksi negatif dari berbagai kalangan dunia, yang mengatakan langkah tersebut bertentangan dengan prinsip
dasar perdagangan bebas. Sehubungan dengan kebijakan kenaikan tarif impor ban Cina ini, pemerintah Cina
mengatakan kebijakan perdagangan AS ini sangatlah proteksionis1. Seorang ekonom dari Chinese Academy
of Social Sciences di Beijing bernama Yu Yongding mengatakan bahwa langkah pemerintah AS ini akan

1
Bendjamin Stokson, World Markets Shaken by the US-China Trade Dispute.
http://bendjaminstokson.vox.com/library/post/world-markets-shaken-by-us-china-trade-dispute.html, diakses pada 4
November 2009, pukul 05.42.
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

merusak hubungan Sino-Amerika, terutama di mana kerjasama untuk menghadapi krisis global sedang
sangat dibutuhkan.2
Adapun dalam pembuatan kebijakan perdagangan kenaikan tarif ban Cina tersebut, pemerintah
AS—dalam hal ini Obama dan menteri-menterinya—pastilah memiliki pertimbangan tersendiri.
Menanggapi berbagai kritik sehubungan dengan kebijakan perdagangan yang baru dikeluarkannya tersebut,
Presiden Obama mengatakan bahwa kebijakan perdagangan tersebut haruslah diambil untuk memastikan
sistem perdagangan global tetap berfungsi dengan baik. 3 Kebijakan kenaikan tarif ban ini sendiri
dikeluarkan Obama dengan mempertimbangkan beberapa faktor, salah satunya adalah karena adanya
tuntutan dari United Steelworkers, yang mengatakan telah kehilangan 5.000 pekerjaan sejak tahun 2004
karena ban-ban Cina berharga rendah memenuhi pasar.4
Pembuatan kebijakan perdagangan berupa kenaikan tarif impor terhadap ban Cina menunjukkan
bahwa unsur domestik berperan penting dalam pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara. AS tentunya
paham bahwa tindakannya menaikkan tarif impor merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip
liberalisasi perdagangan yang selama ini diusungnya, akan tetapi berbagai desakan dari elemen domestik
memaksa Presiden Obama dan menteri-menterinya mengeluarkan kebijakan tersebut. Hal ini senada dengan
pendekatan agency-based dan pendekatan interpretative actor dalam pembuatan kebijakan luar negeri.
Pendekatan agency-based terbagi menjadi pendekatan kognitif dan psikologis, yang mengatakan bahwa
karakteristik seorang pemimpin—yang tersusun dari kepercayaan, motivasi, dan interpersonal style—akan
berpengaruh pada pembuatan kebijakan; serta pendekatan politik birokratis yang mengatakan bahwa
pembuatan kebijakan luar negeri bergantung pada permainan tawar-menawar dan preferensi kepentingan
para birokrat.5 Pembuatan kebijakan perdagangan AS itu juga senada dengan pendekatan interpretative
actor yang mengatakan bahwa kebijakan luar negeri suatu negara bergantung pada bagaimana individu
pemilik kekuasaan mengamati dan menganalisa situasi domestiknya.6 Dari kedua pendekatan tersebut,
diperoleh kesimpulan bahwa dalam pembuatan kebijakan luar negeri suatu negara, unsur domestik—baik itu

2
Michael Schuman, Why the China-US Trade is Heating Up. http://www.time.com/time/business/article/0,8599,1922155,00.html,
diakses pada 4 November 2009, pukul 05.20.
3
Ibid.
4
Jason Simpkins, US Trade Spat with China Escalates, But Is Unlikely to Cause a Significant Rift.
http://www.moneymorning.com/2009/09/14/u.s.-china-trade/, diakses pada 4 November 2009, pukul 05.45.
5
Walter Carlsnaes, “Foreign Policy” dalam Walter Carlsnaes, et.all (ed.), Handbook of International Relations. (London: Sage
Publications, 2002), hal. 338.
6
Ibid, hal. 341.
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

berupa nilai-nilai yang dianut pemimpin, kepentingan para birokrat, sampai pada cara pemimpin
menganalisa situasi domestik—sangat berpengaruh. Makalah ini kemudian akan membahas faktor-faktor
yang mempengaruhi pembuatan kebijakan perdagangan AS berupa kenaikan tarif impor ban Cina, dengan
mengaitkan faktor-faktor tersebut dengan pendekatan agency-based dan pendekatan interpretative actor
dalam pembuatan kebijakan luar negeri.

Page | 3