Anda di halaman 1dari 5

TUGAS EBM

RESUME KASUS
Pada tanggal 11 Juni 2013, Nn. E, 20 tahun, lajang, bekerja sebagai sales
promotion girl, datang dengan keluhan nyeri perut kiri atas sejak dua hari yang
lalu. Nyeri dirasakan seperti perih ditusuk-tusuk dan berkurang setelah makan.
Keluhan lain disertai dengan rasa mual, muntah, nafsu makan berkurang, kepala
pusing, dan badan terasa lemas. Buang air besar dan kecil tidak ada keluhan.
Kebiasaan buruk sehari-hari adalah kebiasaan sering tidak sarapan, tidak makan
secara teratur, dan sering memakan makanan asam dan pedas seperti rujak.
Selain itu, terdapat keluhan sering memikirkan keadaan ibunya yang berada
dikampung. Sampai sekarang hubungan dengan ibunya masih baik-baik saja dan
komunikasi lancar.
Selain itu, terdapat keluhan sering merasa nyeri pasa kedua betis dan tumitnya.
Nyeri sering dirasakan sejak 5 bulan terakhir ini. Sehari-hari bekerja sebagai
sales promotion girl sehingga menuntut untuk berdiri lama dengan menggunakan
sepatu berhak tinggi selama 8 jam dalam sehari.
Pada pemeriksaan fisik tampak penampilan sedang (normoweught), kesadaran
compos mentis dan tampak sakit sedang. Tensi 90/60 mmHg, nadi 80x/menit,
frekwensi napas 20x/menit, suhu 36,50C, IMT 19,1. Mata tampak konjungtiva
ananemis dan sklera anikterik. Telinga dan hidung dalam batas normal. Pada
mulut tampak gigi lengkap, higine baik. Tenggorokan, leher, paru, jantung serta
abdomen dalam batas normal. Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan sebagai
berikut :
Ekstremitas inferior dextra dan sinistra
Inspeksi : tampak simetris, tidak tampak kelainan pada kulit, pergerakan kaki
tampak normal, tidak tampak massa atau pembesaran sendi

Palpasi Teraba hangat, nyeri tekan (+) pada plantar fascia dengan skala nyeri 5,
tidak teraba adanya massa dan pembesaran sendi, tidak ada dislokasi dan
krepitasi, pitting edema (-) CRT < 2 detik
Motorik : Bentuk otot normal, atrofi (-), tonus otot baik, kekuatan otot
------5555 5555
Sensorik : Dapat membedakan rangsangan nyeri, sentuhan, suhu, dan tekanan
Reflek : Reflek patella dan reflek achilles (+) normal
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan 2 diagnosa yaitu
Diagnosa kerja : Syndrom dispepsia, dan Diagnosa okupasi : Plantar Fasciitis et
causal waktu berdiri yang lama dengan memakai sepatu hak tinggi.
Penatalaksanaan yang telah diberi berupa Terapi non medikamemntosa berupa
Konseling dengan metode CBT dan edukasi pentingnya memiliki pola makan
yang teratur, edukasi pentingnya memilih makanan yang sesuai dengan kondisi
kesehatan, edukasi pentingnya makanan bergizi dan seimbang, edukasi mengenai
plantar fasciitis, edukasi cara untuk mengatasi rasa nyeri pada betis dan tumit,
edukasi tips-tips yang sebaiknya dilakukan agar terhindar dari komplikasi plantar
fasciitis. Sedangkan Terapi medikamentosa berupa

Antasida 3 x 1,

Domperidon 3 x 1, Neurodex 1x 1, Vitamin B komplek 1 x 1.


Evaluasi setelah diberikan penatalaksanaan, pasien telah merubah pola makan
menjadi lebih teratur, dan sudah menghindari makana makanan yang bersifat
iritatif terhadap saluran pencernaan. Pasien juga telah mempraktikan cara
mengatasi nyeri tumit dan betis dengan cara melakukan terapi fisik (physical
therapy) sehingga rasa nyeri lebih cepat hilang.
PERTANYAAN KLINIS
Pada pasien dengan plantar fasciitis, apakah terapi fisik/ fisioterapi dapat
menurunkan derajat nyeri ?

P (Patient or Problem) : pasien dengan plantar fasciitis dengan skala nyeri 5


I (Intervention)

:Konseling dengan metode CBT, edukasi cara untuk


mengatasi rasa nyeri pada betis dan tumit dengan terapi
fisik agar terhindar dari komplikasi plantar fasciitis

C (Comparison)

: plasebo

O (Outcome)

: keluhan nyeri berkurang, dan terhindar dari komplikasi

METODE
Strategi Pencarian
Pencarian bukti ilmiah dilakukan dengan menggunakan situs PubMed
Clinical Queries- Systemic reviews pada 24 Juli 2013 menggunakan kata kunci
"Physical therapy plantar fasciitis

dan didapatkan 7 jurnal yang berkaitan

dengan pertanyaan.
Seleksi
Setelah mendapat hasil, seleksi pertama dilakukan dengan menggunakan
kriteria eksklusi.
Kriteria eksklusi adalah artikel yang diterbitkan sebelum tahun 2008. Dua artikel
tersedia sebagai full-text, namun satu artikel dieksklusi karena me-review
penelitian-penelitian yang hampir sama dengan artikel lainnya. Sehingga
didapatkan 1 jurnal sebagai pedoman untuk menjawab pertanyaan penulis.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23844489
Telaah Kritis
Artikel ditelaah secara kritis meliputih kesahihan (validity), kepentingan
(importance), dan aplikabilitas (applicability) pada pasien (Tabel) berdasarkan
pedoman dari Centre for Evidence-Based Medicine, University of Oxford.

Tabel . Telaah Kritis


Article

Applicability

Importance

Validity

Criteria

Towheed et al

Clearly defined research question

Comphrehensive search for all relevant studies

+
Clearly defined inclusion or exclusion criteria of studies priori
Assessment the quality of each study using predetermined quality
+
criteria
Appropriate synthesis of the result
+
Similiarity from study to study

Consistency of result from study to study

Standard Mean
Difference
of
pain scale

Outcome
Standard Mean Difference
Similarity patient
Treatment feasibility

Similarity outcome
Patient's values and preferences

Patient's satisfaction regarding regimen and consequences

+
+

+ : adequate; - : inadequate; : not completely adequate

HASIL
Dari hasil pencarian, didapatkan sebuah artikel systematic review yang
dilakukan oleh Wu CW et al dengan tanggal terbit 26 April 2013. Wu CW et al
melakukan penelitian case control study Dari bulan Juni 2009 sampai dengan
Maret 2012,30 pasien dengan plantar fasciitis secara acak dibagi menjadi 3
kelompok termasuk phonophoresis (PH) yang dikombinasikan dengan latihan
peregangan, Ultrasound (US) dikombinasikan dengan latihan peregangan, latihan
peregangan, 10 penderita dalam setiap kelompok. Dalam kelompok latihan
peregangan, ada 2 pria dan 8 wanita dengan usia rata-rata (46,7 + / -6.5) tahun,
durasi rata-rata adalah indeks konstitusional (26,7 + / -2.8) kg/m2. Di kelompok
US dikombinasikan dengan latihan peregangan, ada 4 laki-laki dan 6 perempuan
dengan usia rata-rata (45,8 + / -6,1) tahun, durasi rata-rata adalah indeks

konstitusional (26,4 + / -3.4) kg/m2. Dalam kelompok PH dikombinasikan dengan


latihan peregangan, ada 3 laki-laki dan 7 perempuan dengan usia rata-rata (48,4 +
/ -8.0) tahun, durasi rata-rata adalah indeks konstitusional (25,4 + / -3.0) kg/m2.
Pasien dengan PH dan US dirawat selama 10 menit setiap hari dengan ultrasound,
5 kali per minggu, berlangsung selama 4 minggu, dan pasien dengan terapi
ultrasound di PH diobati dengan diklofenak dietilamina pada waktu yang sama.
Semua 30 pasien menerima instruksi untuk latihan peregangan di rumah. Nyeri
dan kemampuan untuk berfungsi dievaluasi sebelum pengobatan, segera setelah
itu, dan tiga bulan kemudian.
Pada penelitian ini didapatkan hasil sebagai berikut : status umum pasien dan
keadaan nyeri asli plantar fasciitis sebelum pengobatan, tidak ada perbedaan yang
signifikan antara tiga kelompok. Ada perbedaan statistik nyeri pagi antara
kelompok PH dan peregangan kelompok latihan pada 1 bulan (P <0,05), dan tidak
ada perbedaan statistik antara tiga kelompok di 3 bulan (P> 0,05). Dibandingkan
dengan sebelum terapi, rasa sakit dan cacat skor tiga kelompok meningkat secara
signifikan dalam tiga titik waktu (P <0,05).
Sehinggan dapat disimpulkan latihan peregangan dan menggabungkan dengan PH
atau US efektif untuk rasa sakit dan kecacatan pada pasien dengan plantar fasciitis
dan penambahan PH untuk latihan terapi lebih efektivitas.

EVALUASI / SIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian diatas telah cukup bukti bahwa dengan
melakukan terapi fisik berupa latihan peregangan dapat menurunkan rasa
sakit/nyeri pada penderita plantar fasciitis dan memiliki hasil yang lebih efektif
bila dikombinasikan dengan phonophoresis (PH) atau Ultrasound (US).