Anda di halaman 1dari 5

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penurunan Fungsi Kognitif pada Pasien

Diabetes Melitus
DM berhubungan dengan kerusakan organ yang berlangsung lambat di
otak. DM berhubungan terhadap resiko terjadinya penurunan kognitif ringan
(Luchsinger et al., 2007). Nooyen et al. (2010) menyatakan bahwa penderita DM
mengalami penurunan fungsi kognitif global 2,6 kali lebih besar dari non diabetes.
Sedangkan pada individu lebih dari 60 tahun yang terkena diabetes menunjukkan
2,5-3,6 kali lebih besar penurunan kognitif daripada individu yang tidak diabetes.
Penurunan

kognitif

pada

pasien

DM

dipengaruhi

oleh

kondisi

hiperglikemia kronis, regulasi insulin inadekuat dan fluktuatif gula darah


sepanjang waktu (Rizzo et al, 2010). Kawamura et al. (2012) menambahkan
bahwa penurunan kognitif pada pasien DM disebabkan karena hipertensi dan
dislipidemia. Selain itu terdapat faktor umum yang mempengaruhi yakni
merokok, diet, olahraga, stres, depresi, usia lanjut, dan faktor genetik.
Menurut Asimakopoulou dan Hampson (2002) faktor-faktor yang
mempengaruhi fungsi kognitif pada pasien DM tipe 2 adalah usia, durasi DM,
kadar gula darah, dan tekanan darah. Cukierman-Yaffe et al (2009) juga
menyatakan hal yang sama yakni peningkatan usia mempengaruhi penurunan
kognitif pasien DM tipe 2. menurut Dey et al. (1997) pasien DM tipe 2 yang usia
muda dengan rata-rata usia 46 tahun telah terjadi penurunan konsentrasi dan daya
ingat. Pada hasil MRI (magnetic resonance imaging) pasien DM tipe 2 ditemukan
lesi white matter yang besar dan atropi subkortikal, faktor usia turut mempercepat
proses ini (Yeung et al, 2009).
Menurut penelitian Saczynski et al (2008), pasien DM yang lebih dari 15
tahun

mengalami

perburukan

yang

signifikan

dalam

kecepatan

menyelesaikantugas dan fungsi eksekutif. Pernyataan yang sama dari penelitian


Gatlin (2012) yang menyatakan bahwa semakin lama durasi seseorang menderita
DM maka kemampuan working memory semakin menurun. Fungsi eksekutif
adalah bagian dari working memory Tekanan darah berhubungan dengan
terjadinya aterosklerosis sehingga asupan oksigen dan nutrisi ke otak inadekuat.
Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan kognitif (Kumari, Brunner, & Fuhrer,

2000). Menurut Grodstein et al. (2001) tekanan darah mempengaruhi kemampuan


memori verbal dan kelancaran verbal.
Faktor berat badan turut mempengaruhi penurunan kognitif. Menurut
penelitian Nooyens et al. (2010), IMT (indeks massa tubuh) pada pasien DM tipe
2 ( 30,04,9) lebih tinggi daripada IMT pada kelompok tidak DM (26,13,6).
Penelitian Ruis et al (2009) menyatakan hal sama bahwa pada pada pasien DM
tipe 2 yang memiliki IMT lebih dari normal (30,45,3) mengalami penurunan
kognitif dibandingkan dengan kelompok tidak DM yang juga memiliki IMT lebih
dari normal (27,44,2).
Wanita tampaknya lebih beresiko mengalami penurunan kognitif. Hal ini
disebabkan adanya peranan level hormon seks endogen dalam perubahan fungsi
kognitif. Reseptor estrogen telah ditemukan dalam area otak yang berperan dalam
fungsi belajar dan memori, seperti hipokampus. Rendahnya level estradiol dalam
tubuh telah dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif umum dan memori
verbal. Estradiol diperkirakan bersifat neuroprotektif dan dapat membatasi
kerusakan akibat stress oksidatif serta terlihat sebagai protektor sel saraf dari
toksisitas amiloid pada pasien Alzheimer.41
Tingkat pendidikan seseorang berhubungan signifikan dengan fungsi
kognitif pada subjek lanjut usia.Semakin tinggi tingkat pendidikan lansia maka
akan semakin baik fungsi kognitifnya. Tingkat pendidikan yang rendah
berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif yang dapat terjadi lebih cepat
dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Pendidikan memodulasi
cerebral white matter intensities (WMH) pada kognisi. Partisipan dengan tingkat
edukasi yang tinggi terlindung dari deteriorasi kognitif terkait pada kelainan
pembuluh darah otak.44

1. Scanlan, J.M., Binkin, N., Michieletto, F., Lessig, M., Zuhr, E., and
Borson, S.,

2007. Cognitive Impairmen, Chronic Disease Burden, and Functional


Disability: A Population Study of Older Italians. The American Journal of
Geriatric Psychiatry, 2007; 15, 8; 716.
2. Myers, J.S. Factors Associated with Changing Cognitive Function in Older
Adults : Implications for Nursing Rehabilitation. Rehabilitation Nursing;
2008; 33( 3): 117.
3. L i G, Shofer JB, Kukull WA. Serum cholesterol and risk ofheimer
disease: a community-based cohort study. Neurology 2005;65:1045-50.

4. Dufouil C, Alperovitch A, Tzourio C. Influence of Education on the


Relationship Between White Matter Lessions and Cognition. Neurology
2003; 60: 831-6.
5. Bosma H, van Boxtel M. P. J, Pomds R. W. H, Houx P. J. H, Jolles J.
Education and

Age- Related Cognitive Decline The Contribution of

Mental Workload. Educational Gerontology 2003; 29:165-173


6. Seeman T. E, Huang M. H, Bretsky P , Crimmins E, Launer L, Guralnik J.
M. Education and APOE-e4 in Longitudinal Cognitive Decline:
MacArthur Studies of Successful Aging. Psychological Sciences 2005;
60B:(2):74-83
7. Dash P, Villemarette-Pittman N. Alzheimers Disease. American
Academy of Neurology 2005
8. Bennett D. A, Wilson R. S, Schneider J. A, Evans D.A, de Leon Mendes,
Arnold S.E, Barnes L.L, Bienias J.L. Education Modifies the Relation of
AD Pathology to Level of Cognitive function in Older Persons.
Neurology. 2003; 60:1909-1915

Penurunan kognitif yang terjadi pada pasien DM tipe 2 meliputi kecepatan


psikomotor dan fungsi eksekutif termasuk kemampuan memori (Kawamura,

Umemura, & Hotta, 2012). Menurut Stewart dan Liolitsa (1999) terdapat
hubungan antara DM tipe 2 dengan kerusakan kognitif terutama memori dan
fungsi eksekutif. Greenwood et al. (2003) menyatakan penderita DM tipe 2
mengalami penurunan pada memori deklaratif. Penelitian lainnya dari Arvanitakis
et al. (2005) mengatakan pada pasien diabetes mengalami penurunan memori
semantik dan proses pemahaman. Kemudian Yeung et al. (2009) menyatakan
bahwa kemampuan kognitif pasien diabetes tipe 2 menurun pada kemampuan
fungsi eksekutif dan memori episodik.
Penurunan kemampuan kognitif pada pasien DM diperantarai di lobus
frontal. Area ini adalah tempat fungsi eksekutif, mencakup kemampuan
menyelesaikan masalah, merencanakan, mengatur dan konsentrasi. Akibat dari
hiperglikemia kronis maka pasien DM mengalami penurunan fungsi memori.
Fungsi ini berada di hipokampus, area belajar dan mengingat (Vijayakumar et al.,
2012).
Diduga ada beberapa mekanisme yang mendasari proses ini
yaitu:45,46
a) Hipotesis brain reverse, teori ini mengatakan bahwasannya
tingkat pendidikan dan penurunan fungsi kognitif karena usia
saling berhubungan karena keduanya didasarkan pada potensi
kognitif yang didapat sejak lahir.
b) Teori use it or lose it, teori mengatakan stimulus mental
selama dewasa merupakan proteksi dalam melawan penurunan
fungsi kognitif yang prematur. Pendidikan pada awal kehidupan
mempunyai
seseorang

pengaruh
tersebut

pada

terus

kehidupan

melanjutkan

selanjutnya
pendidikan

jika
untuk

menstimulasi mental yang diduga bermanfaat untuk neurokimia


dan pengaruh struktur otak.
Satu teori menjelaskan tentang synaptic reserve hypothesis, dimana
orang yang berpendidikan tinggi mempunyai lebih banyak synaps di otak
dibanding orang yang berpendidikan rendah. Ketika synap tersebut rusak
karena ada proses penyakit Alzheimer maka synap yang lain akan

menggantikan tempat yang rusak tadi. Teori ini berhubungan dengan


cognitive reserve hypothesis dimana orang yang beredukasi memiliki lebih
banyak sinaps pada otak dan mampu melakukan mengkompensasi dengan
baik terhadap hilangnya suatu kemampuan dengan menggunakan strategi
alternative pada tes yang didapati selama pelatihan selama pendidikan,
dengan demikian dapat diasumsikan orang yang berpendidikan tinggi
menurun fleksibilitas ini dalam test-taking strategy.47
Suatu studi yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
tingkat pada otak dan mampu melakukan mengkompensasi dengan baik
terhadap hilangnya suatu kemampuan dengan menggunakan strategi
alternative pada tes yang didapati selama pelatihan selama pendidikan,
dengan demikian dapat diasumsikan orang yang berpendidikan tinggi
menurun fleksibilitas ini dalam test-taking strategy edukasi formal dan
patologi AD. Ternyata dijumpai adanya bukti yang kuat antara senile
plaque dan level fungsi kognitif yang berbeda berdasarkan tingkat edukasi
formal.47,48