Anda di halaman 1dari 1

Diagnosis

Pendekatan diagnosis dicapai dengan melakukan pemeriksaan yang kronologis, mulai


dari anamnesis, pemeriksaan fisik diagnosis dan pemeriksaan penunjang diagnosis rutin dan
khusus.
A. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Anamnesis

dilakukan

dengan

mengumpulkan

semua

keluhan

yang

berhubungan dengan retensi atau akumulasi toksin azotemia , etiologi GGK, dan perjalanan
penyakit. Gambaran klinik(keluhan subjektif dan objektif termasuk kelainan laboraturium)
mempunyai urutan klinik yang melibatkan banyak organ dan tergantung dari derajat
penurunan faal ginjal.
B. Pemeriksaan Laboraturium
Tujuan pemeriksaan laboraturium untuk menentukan derajat penurunan faal
ginjal dan menentukan perjalanan penyakit termasuk semua faktor pemburuk faal ginjal.
1) pemeriksaan faal ginjal atau laju filtrasi glomerulus (LFG)
Pemeriksaan kreatininserum, ureum, dan asam urat serum cukup
memadai untuk uji saring untuk faal ginjal. Diagnosis gagal ginjal kronik ditegakkan jika
nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 26 hingga 75 ml/menit yang bisa dilihat dari hasil tes
kreatinin klirent (CCT).
2)pemeriksaan laboraturium untuk menentuan perjalanan penyakit
Kemampuan

penurunan

faal

ginjal,

elektrolit,endrokrin,

dan

pemeriksaan lain berdasarkan indikasi terutama faktor pemburuk faal ginjal


C. Pemeriksaan penunjang diagnosis
Pemeriksaan penunjang diagnosis yaitu :
1) Diagnosis etiologi GGK
Pemeriksaan foto polos perut, Ultrasonografi (USG), nefrotomogram ,
pielografi retrograde , pielografi antegrade dan Micturating Cysto Urography (MCU).
2)Diagnosis pemburuk faal ginjal
Pemeriksaan radiologi dan radionuklida(renogram) dan pemeriksaan
Ultrasonografi (USG).
Dapus : JOHN W. GRAVES, MD. 2008. Diagnosis and Management of Chronic Kidney
Disease. Mayo Foundation for Medical Education and Research. 83(9):1064-1069