Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persoalan pendidikan zaman sekarang ini di berbagai negara dipandang


sebagai problem yang sangat luar biasa sulit, namun semua negara mengakui
pendidikan sebagai tugas negara yang paling penting. Orang-orang yang ingin
membangun dan berusaha memperbaiki keadaan dunia tentu menyatakan bahwa
pendidikan merupakan kunci, dan tanpa kunci itu usaha mereka akan gagal.
Dalam konteks tersebut, maka setiap negara di dunia terus melakukan
peningkatan mutu pendidikan. Tidak tekecuali Indonesia, melakuakan perubahan
sistem kependidikan guna tercapainya mutu pendidikan yang baik. Dikarenakan
maju mundurnya atau baik-buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa
akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa
tersebut.
Cara dan sistem pendidikan yang sudah berakar dalam dan bertahan lama
sebenarnya membutuhkan penyesuaian sedikit agar dapat berjalan terus dengan
lancar. Hal inilah yang mendorong timbulnya gagasan untuk menyamaratakan
mutu pendidikan di Indonesi. Namun, sekarang cara dan sistem ini sering menjadi
sasaran kritik dan kecaman karena melihat wilayah lain yang belum merata taraf
kehidupannya. Sehingga muncul anggapan bahwa belumlah pantas terjadi
pemerataan standar pendidikan yang mengacu pada standar nasional.

B. Tujuan

Tujuan utama kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengantar pendidikan.
Selain itu dengan dibuatnya makalah ini, kami berharap bisa menambah
wawasan tentang pendidikan dalam ruang lingkup pendidikan nasional.
Dikarenakan kita mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP),
maka sudah seharusnya kita mengerti seluk beluk dunia pendidikan berlandaskan
undang-undang yang berlaku.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 1,


yang dimaksud dengan standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal
tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Dengan kata lain, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk memenuhi
kriteria minimum yang telah ditentukan. Guna tercapainya tujuan pemerataan
pendidikan di wilayah hukum Negara Kesatuan republik Indonesia.
Dalam pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan, haruslah ada yang
menjamin dan mengendalikan mutu pendidikan sehingga sesuai dengan Standar
Nasional Pendidikan. Dalam hal ini pemerintah melakukan evaluasi, akreditasi,
dan sertifikasi. Ketiga proses ini dilaksanakan untuk menentukan layak tidaknya
lembaga pendidikan yang berstandar nasional.
Standar Nasional Pendidikan bertujuan bukan hanya untuk memeratakan
standar mutu pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesi, tetapi juga untuk
memenuhi tuntutan perubahan lokal, nasional dan, global. Dikarenakan mutu
pendidikan di Indonesia telah jauh tertinggal dari negara ASEAN yang lain, maka
peningkatan-peningkatan di segi pendidikan akan terus terjadi. Sehingga mutu
pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

B. Lingkup Standar Nasional Pendidikan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, ada delapan


standar yang menjadi sorotan dalam melaksanaan Standar Nasional Pendidikan.

1. Standar Isi

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang
dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian,
kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh
peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

2
Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai
kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Setiap jenjang
memiliki kompetensi yang berbeda, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah
menengah. Dan dalam standar isi termuat kerangka dasar dan struktur kurikulum,
beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender
pendidikan/akademik, yang berguna untuk pedoman pelaksanan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2. Standar Proses

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan


pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar
kompetensi lulusan.
Proses pembelajaran seharusnya dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Hal tersebut sangatlah membantu dalam pekembangan akal dan mental peserta
didik.

3. Standar Kompetensi Lulusan

Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang


mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik
dari satuan pendidikan.
Setiap jenjang pendidikan memiliki kompetisi dasar yang berberda. Mulai dari
pendidikan dasar yang hanya bertujuan meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Sampai ke jenjang petguruan tinggi yang
bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap
untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni,
yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

3
4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Standar pendidik dan kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan


kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik harus
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi para pendidik diantarnya :
a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1)
b) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang
sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c) sertifikat profesi guru untuk jenjang yang dia geluti.

5. Standar Sarana dan Prasarana

Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang


berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga,
tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain,
tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
Setiap lembaga pendidikan wajib memiliki sarana dan prasarana yang telah
ditentukan. Ada pun sarana tersebut antara lain meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis
pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses
pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Sedangkan prasarananya antara lain lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan
pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi
daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat
berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses
pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

4
6. Standar Pengelolaan

Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan


dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada
tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai
efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian,
kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Sadangkan pengelolaan
satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan
tinggi yang dalam batas-batas yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan
yang berlaku memberikan kebebasan dan mendorong kemandirian dalam
pengelolaan akademik, operasional, personalia, keuangan, dan area fungsional
kepengelolaan lainnya yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

7. Standar Pembiayaan

Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya


biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Ada tiga macam
biata dalam standar ini :
a) Biaya investasi satuan pendidikan yaitu biaya penyediaan sarana
dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja
tetap.
b) Biaya personal sebagaimana adalah biaya pendidikan yang harus
dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses
pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
c) Biaya operasi satuan pendidikan meliputi
1. gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga kependidikan
2. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
3. biaya operasi pendidikan tak langsung seperti air,
pemeliharaan sarana dan prasarana, pajak, asuransi, lain
sebagainya.

5
8. Standar Penilaian Pendidikan

Standar penilaian pendidik adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan


dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta
didik.Penilaian dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses,
kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah
semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

C. Pro dan Kontra Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Seiring dengan disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005


tentang Standar Nasional Pendidikan, maka terjadilah perubahan sistem
pendidikan nasional guna mencapai standar minimum yang telah ditentukan
pemerintah. Di samping itu terjadi penolakan Standar Nasional Pendidikan.
Adapun beberapa alasan yang menyebabkan belum layaknya Standar Nasional
Pendidikan antara lain:

1. Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Merata di Setiap Daerah

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pertumbuhan ekonomi berandil besar dalam
perkembangan aspek kehidupan lain, tidak terkecuali pendidikan. Namun
sayangnya terkadang daerah yang memiki hasil alam tinggi perkembangan
pendidikannya tidak seperti yang diharapkan. Walaupun sudah dikeluarkan UU
nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (OTDA), tapi tetap saja
pembangunan di bidang pendidikan masih tidak menentu. Dikarenakan sifat
pemerintah pusat yang masih setengan-setengah memberikan wewenang untuk
mengurusi pendidikan di daerah.
Drs. Murip Yahya M.Pd. dalam bukunya, Pengantar Pendidikan (2009) bab
Otonomi Daearah Dan Pendidikan, poin D halaman 80 mengatakan bahwa pada
dasarnya otonomi daerah memberikan peluang kepada pengelola pendidikan
untuk mengembangkan lembaga pendidikan. Seperti :
1. Merumuskan tujuan institusi yang mengacu pada tujuan nasional

6
2. Merumuskan dan mengembangkan kurikulum sesuai dengan tujuan
dan kebutuhan masyarakat suatu daerah
3. Menciptakan situasi belajar dan mengajar yang mendukung
pelaksanaan dan pengembangan kurikulum yang telah ditetapkan.
4. Mengembangkan sistem evaluasi yang tepat dan akurat, baik dari
prestasi siswa maupun penyelenggaraan.

2. Sarana Fisik Yang Kurang Memadai

Banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi yang keadaan gedungnya sudah
tidak layak, kepemilikan dan penggunaan media belajarrendah, kurang
lengkapnya koleksi buku perpustakaan. Pemakain teknologi informasi yang
kurang memadai dan sebagainya.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat
146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258
ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12%
berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak
201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Keadaan ini juga terjadi di
SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan presentase yang tidak sama.
Apa yang terjadi di Pulau Jawa masih sangat beruntung dibanding dengan apa
yang terjadi di pulau lainnya, seperti Papua. Pengadaan sarana dan prasarana yang
tidak sesuai kebutuhan mengakibatkan lambatnya peningkatan mutu pendidikan.
Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan daerah tertinggal (desa) daripada
mengurusi pendidikan di daerah maju (kota) yang jelas-jelas lebih bisa dipantau.
Hal ini akan lebih memudahkan pemerintah dalam mensukseskan program
pemerataan pendidikan yang berpaku pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

3. Lemahnya Mental Bangsa Indonesia

Direktur Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa (RBCAB) Firza Imam Putra,
dalam artikel di Kompas edisi kamis 17 desember 2009 menyatakan bahwa lebih
dari 1,1 juta anak memilih berhenti belajar di sekolah selama tahun 2007. Artinya,
setiap menit ada 4 anak putus sekolah di Indonesia. Salah satu faktor yang
memengaruhi tingginya angka putus sekolah itu adalah dorongan orangtua dari

7
keluarga tidak mampu. Anak kemudian dikondisikan untuk mencari uang dan
menambah penghasilan keluarga.
Masalah besar lainnya adalah kontrofersi diadakannya Ujian Nasional (UN).
Adalah Erin Driani, seorang pengamat pendidikan yang banyak menyoroti
berbagai persoalan hak anak atas pendidikan, dalam artikel yang berjudul
”Presuden Perlu Ikut Tuntaskan Persoalan UN” di surat kabar Sriwijaya Post
edisi kamis, 10 desember 2009 mengatakan bahwa Presiden RI SBY sudah
selayaknya mengambil tindakan terhadap persoalan UN.
M. Yunana Yusuf (Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan), Buletin
BSNP Vol II/ No. 1/ Januari 2007 halaman 3, Untuk tahun pelajaran 2006/2007
ini, peserta UN diperkirakan berjumlah 4.701.000 orang, dengan perincian peserta
SMP/MTs dan SMPLB 2.501.300 orang dan peserta SMA/MA/SMALB dan
SMK 2.200.700 orang. Sementara luas kawasan penyelenggaraannya meliputi
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu sebabnya
penyelenggaraan UN sungguh-sungguh merupakan satu pekerjaan raksasa dengan
menghabiskan dana Rp 244 miliar yang didekonsentrasikan ke dinas provinsi,
kabupaten/kota serta sekolah/madrasah penyelenggara UN.

8
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa


Standar Nasional Pendidikan perlu waktu yang cukup lama untuk bisa diterapkan
di Indonesia. Hal ini dikarenakan harus adanya penyesuain di beberapa bidang
serta penyelesaian masalah yang ada, seperti:
1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang
berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan
sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem
pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem
ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain
meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik,
termasuk pendanaan pendidikan. Serta penataan kembali Undang-Undang
yang telah ada, sehingga sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa
Indonesia.
2. Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya
praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Seperti sarana
fisik yang kurang memadai, misalnya, diberi solusi dengan pengadaan
sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna menunjang kegiatan belajar
dan mengajar.

9
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional


Pendidikan, Fokus Media, Bandung, 2006.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Fokus Media, Bandung, 2006.
Murip Yahya, Pengantar Pendidikan, Prospect, Bandung, 2009.
Departemen Pendidikan Nasional, Data Balitbang Depdiknas tahun 2003.
Surat Kabar, Kompas. Jakarta.
Surat Kabar, Sriwijaya Post. Jakarta.
Buletin, BSNP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

10