Anda di halaman 1dari 88

MATERI KULIAH

EVALUASI PAK
Kode MK : KPAK 2015
Versi A
05072009

Bobot : 2 sks
Dosen ; Mulyono. S.Pd. S.Th.

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI MARTURIA


TANJUNGBALAI SUMATERA UTARA
2013

Kata Pengantar :
Dalam kehidupan profesionalnya sehari-hari seorang guru /profesi pendidik/ calon-calon
pendidik bahkan para mahasiswa keguruan tidak mungkin melepaskan dirinya dari kegiatan
memberikan ulangan atau tes yang akhirnya memberi keputusan dalam bentuk nilai/penilaian.
Biasanya kegiatan itu dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Kadangkala dilakukan secara teratur
setiap satu bulan atau sesuai dengan program atau dilakukan pada setiap akhir unit atau satuan
pelajaran maupun dalam KD tertentu tetapi ada pula yang diulakukan pada setiap akhir kegiatan
kelas.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut kemudian seorang guru membuat keputusan
keputusan tentu berdasarkan prosedur yang ada, keputusan yang dibuat itu bisa berkaitan dengan
keputusan tentang siswa, keputusan tentang proses belajar mengajar, keputusan tentang rencana
pelajaran, keputusan tentang materi pelajaran, metode pengajaran dan sebaginya.
Setiap orang termasuk anda para mahasiswa ingin mengetahui sampai sejauhmana ia telah
menguasai dan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan, guru ingin mengetahui apakah siswanya
telah menguasai apa yang telah diajarkan. Demikian pula orang tua ingin pula mengetahui sampai
sejauhmana anaknya mengalami kemajuan dalam belajar. Masyarakat juga ingin tahu sampai
sejauhmana tingkat prestasi belajar siswa secara umum sehingga dapat menentkan kualitas
pendidikan yang ada. Kemudian, apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan Evaluasi ?
Evaluasi sebagai suatu istilah teknis dalam dunia pendidikan masih merupakan fenomena
baru. Karena usaha evaluasi yang sistematis seperti yang dikembangkan pada saat ini belum
berlangsung lama, bahkan belum samapai satu abad ketika usaha tersebut pertama kali dilakukan
oleh Rice pada abad ke 19, pada saat itu ia melakukan penelitian mengenai hasil belajar siswa
menurut model yang kita kenel seperti sekarang ini, perkembangan berikunya Tyler menguatkan
istilah Evaluasi yang kemudian kata itu digunakan dan mengusasi buku-buku teks pendidikan,
yang sebelumnya istilah evaluasi mengunakan kata measurrementa atau pengukuran.
Melalui modul Evaluasi ini para mahasiswa diharapkan dapat menyimak dan mengkaji
kembali secara analisis dan kritis tentang materi perkuliahan ini karena pada Bab. I akan dibahas
tentang pengertian Evaluasi yang menyangkut tentang : Ciri-ciri,rumusan, sifat-sifat,manfaat,
fungsi, prinsisp serta syarat-syarat evaluasi, sedangkan pada Bab.II akan membahas tentang jenisjenis dan prosedur alat evaluasi yang menyangkut tentang : dasar fungsi evaluasi, dasar cara
penilaian, dasar isi dan tujuan serta pembuatan tes baku maupun tes guru.
Kemudian pada Bab.III. akan membahas analisis butir-butir soal, yang meliputi manfaat
soal yang telah di telaah, analisis butir soal secara Kualitatif dan Kuantitatip, serta analisis butir
soal menggunakan Kalkulator dan Komputer. Kemudian pada Bab. IV. Akan membehas laporan
evaluasi, yang meliputi Pengolahan Hasil Evaluasi, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan
Laporan Hasil Belajar.(LHB).

Daftar Isi :
Pengantar.
Daftar Isi.

i
ii - iv

BAB I. Pengertian Evaluasi PAK.


A.Pengertian Evaluasi.
B.Ciri-Ciri Evaluasi.
C.Rumusan Evaluasi.
D.Sifat-sifat Evaluasi.
a.bersifat tidak langsung.
b.bersifat tak langsung.
c.bersifat relative
E.Manfaat Evaluasi.
a.bagi siswa.
b.bagi guru.
c.bagi sekolah.
d.bagi penilaian pengajaran.
F.Fungsi Evaluasi
a.fungsi selektif.
b.Fungsi diagnotik
c.Funsi penempatan.
d.Fungsi keberhasilan.
e.Fungsi penilaian.
G.Prinsip-prinsip Evaluasi
a.prinsip keterpaduan
b.prinsip CBSA
c.prinsip kontinuitas
d.prinsip koherensi.
e.prinsip diskriminasi
f.prinsip keseluruhan
g.prinsip pedagogis.
h.prinsip akuntabilitas
H.Syarat-syarat Evaluasi.
a.sahih(Valid).
b.terandalkan(realible).
c.obyektif
d.seimbang (balance).
e.membedakan
f.norma.
g.fair
h.praktis.
I.Pengertian Evaluasi Dalam Konteks PAK.
a.Pengertian.
b.Desaian Instruksional Pengajaran.
c.Model dan Evaluasi pengajaran dalam PAK
ii

1
2
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
5
5
5
5
5
5
6
6
6
6
6
6
6
7
7
8
8
8
8
8
8
8
8
8
9
9
10
13

BAB II.Jenis-jenis dan Prosedur Penyusunan Alat Evaluasi.


A.Berdasarkan Fungsi Evaluasi
a.penilaian formatif.
b.penilaian sumatif
c.penilaian penenpatan
d.penilaian diagnostic.
B.Berdasarkan cara penilaian.
C.Berdasarkan isi dan tujuan.
a.tes hasil belajar
b.tes diagnotis
c.tes psikologi
D.Berdasarkan pembuatannya.
a.tes buatan guru.
b.tes buku.
E.Cara dan Alat Evaluasi.
a.konstruksi tes essay, tes lesan dan tes obyektif.
b.alat penilaian
BAB III. Analisis Butir-butir Soal.
A.Pengertian Analisis.
24
B.Manfaat Soal yang telah di telaah.
a.Data kemampuan peserta didik.
b.Penilaian diri.
C. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif.
a.Pengertian.
b.Tehnik Analisis secara Kualitatip.
c.Prosedur Analisis secara Kualitatif.
1.format penilaian butir soal berbentuk uraian.
2.format penelaah soal bentuk Pilihan Ganda.
3.format penelaah untuk instrumen perbuatan.
4.format penelaah untuk instrumen norma tes.
D. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif.
a.Pengertian.
b.analisis butir soal.
1.Klasik.
a..tingkat kesukaran.
b..daya pembeda.
c..penyebaran jawaban.
d..reliabilitas skoor tes.
e..reliabilitas instrument tes (soal pilihan Ganda).
2.Modern.
a.menyusun jawaban peserta didik dalam tabel.
b.mengedit data.
c.menghitung distribusi skoor soal.
d.menghitung distribusi skoor peserta didik.
e.menghitung faktor ekspansi kemampuan peserta didik (X)
dan kesukaran butir soal (Y)
iii

17
17
17
17
17
18
18
18
18
18
18
18
18
20
20
23

24
24
25
26
26
27
27
28
29
31
33
34
34
35
35
38
39
39
41
41
42
42
42
43
43

f.menghitung tingkat kesukaran dan kesalahan standar butir soal. 43


g.menghitung tingkat kemampuan dan kesalahan standar siswa 43
h.menghitung Probalitas atau Peluang menjawab benar setiap
44
butir soal {P(O)}.
E. Analisis Butir Soal Dengan Kalkulator.
a.Pengertian.
45
b.Pembersihan Data.
45
c.Fungsi SD.(Standard Deviasi).
46
d.Fungsi LR.(Linier Regression)
46
e.Contoh Merandom Data.
47
f.Contoh Uji Validitas butir Soal Bentuk Pilihan Ganda.
48
F.Analisis Butir Soal Dengan Komputer.
a.Pengertian.
48
b.Iteman.
49
c.Excel.
49
d.SPSS.(Statistical Program for Social Science)
49
BAB IV. Laporan Evaluasi.
A.pengolahan hasil evaluasi.
a.Perbedaan Skor dengan Nilai dan Cara Menskor dan Menilai.
1.Perbedaan Skor dengan Nilai.
2.Cara Menskor dan Menilai.
b.Mengolah Nilai dan Menetapkan Nilai Akhir.
1.Mengolah Nilai.
2.Menetapkan Nilai Akhir.
B.Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
a.Pengertian KKM.
b.Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal.
c.Mekanisme Penetapan KKM.
1.prinsip penetapan.
2.langkah-langkah penetapan.
3.penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal.
C.Laporan Hasil belajar.
a.Pengertian Rapor.
b.Komponen Rapor.
c.Tabel nilai mata Pelajaran.
d.Penjelasan tabel nilai mata pelajaran.
e.Tabel nilai pengembangan diri.
f.Tabel ketidak hadiran.
g.Mekanisme kenaikan kelas.
h.Diversifikasi Raport KTSP.
Daftar Pustaka.
Lampiran-lampiran:
A. Kontrak Perkuliahan.
B. Soal-soal Latihan.
C. Format Rapor SD, SMP, SMA / SMK.
D. Rumusan Skala.
iv

50
50
51
52
55
55
59
60
61
62
62
64
64
72
72
72
73
74
74
75
75
76
i
ii - iv

BAB I. Pengertian Evaluasi PAK.


A .Pengertian Evaluasi.
Penggunan istilah Evaluasi secara Etimologi berasal dari bahasa inggris yaitu
evaluation , adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan Nilai dari pada
sesuatu. Kata sesuatu disini tergantung dari pada konteks penggunaan dari evaluasi itu
sendiri, artinya hasil akhir dari evaluasi pasti berbentuk sebuah penilaian atau
menentukan nilai. Sebagi contoh misal : evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagi
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia
pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan evaluasi sebagi penilaian : hasil.
Menurut Drs.Wayan Nurkancana dalam bukunya yang berjudul Evaluasi
Pendidikan, dijelaskan bahwa evaluasi tidak sama artinya dengan pengukuran
(measurement) karena pengukuran adalah suatu tindakan atau proses untuk
menentukan luas atau kuantitas dari pada sesuatu. Sedangkan penilaian akan
memberikan suatu jawaban terhadap pertanyaan.
Artinya dari definisi evaluasi (penilaian) dan definisi pengukuran (measurement)
diatas maka dapat diketahui dengan jelas perbedaannya antara pengukuran dan
penilaian, sekali lagi karena pengukuran akan memberikan jawaban terhadap
pertanyaanhow much, sedangkan penilaian akan memberi jawaban terhadap
pertanyaan What value, memang dalam prosesnya mempunyai kesamaan tetapi
sebenarnya berbeda.
Walaupun ada perbedan antara penilaian dengan pengukuran, namun kedua hal
tersebut tdak dapat terpisahkan karena keduanya terdapat hubungan yang sangat erat,
mengapa demikian? Sebab untuk dapat mengadakan penilaian yang tepat terhadap
sesuatu terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran-pengukuran. Misal untuk
menilai apakah seorang anak dapat membaca dengan lancar atau tidak maka kita perlu
mengukur berapa jumlah kata-kata yang dapat dibacanya dalam tempo satu menit,
dapat diketahui berapa jumlah kesalahan-kesalahan yang dibuatnya dan sebaginya.
Sebaliknya pengukuran-pengukuran yang dilakukan tidak akan memberi arti apaapa kalau tidak kita hubungkan dengan penilaian. Misal: apabila berdasarkan suatu
pengukuran kita ketahui bahwa seseorang anak dapat membaca dengan kecepatan 50
kata dalam sutu menit. Apakah dapat kita katakan bahwa anak itu cukup lancar
membaca atau tidak! Tentu saja kita belum bisa menentukan apakah anak itu anak
yang pandai membaca dengan lancar atau tidak tanpa kita mengetahui kreteria
penilaiannya. Kalau kecepatan rata-rata membaca anak pada umumnya 40 kata tiap
menit, maka anak tadi dapat dikatakan anak yang pandai atau lancar membaca, tetapi
kalau kecepatan membaca anak-anak dikelasnya pada umumnya 60 kata permenit,
maka penilaian kita adalah anak tadi termasuk anak yang lambat membaca, sekali lagi
disinilah sinergisnya antara pengukuran dan penilaian, baik pengukuran maupun
penilaian merupakan suatu hasil dan proses dari evaluasi itu sendiri.
Dengan demikian samakah antara evaluasi dengan penilaian ( nilai) ? untuk
memberi jawaban atas pertanyaan ini maka perhatikanlah definisi nilai dengan definisi
evaluasi. Kita ketahui bahwa evalusi itu merupakan suatu proses, sedangkan nilai itu
merupakan hasil dari sebuah proses itu sendiri, dengan demikian maka antara evaluasi
dengan nilai itu tidak sama, walaupun keduanya saling keterkaitan, evaluasi
sebenarnya banyak maknanya tetapi kita batasi pembahasanya pada makna
pendidikan.
1

Evaluasi bermakna untuk melihat suatu program yang direncanakan telah tercapai
atau belum, berharga atau tidak berharga, tingkat efisiensi pelaksanaannya. Contoh :
eval;uasi terhadap kurikulum baru, kebijakkan baru, etos kerja pengajar dll.
Penilaian atau assesment bermakna untuk penerapan berbagai prosedur dan cara
penggunaan berbagai alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauhmana
ketercapaian hasil belajar atau kompetensi (rangkaian kemampuan ) peserta didik.
Penilaian menjawab tentang sebaik apa hasil atau prestasi peserta didik.
B.Ciri-Ciri Evaluasi.
Evaluasi merupakan bagian dari kegiatan kehidupan manusia sehari-hari,disadari
atau tidak,orang sering melakukan evaluasi. Baik terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap lingkungannya, misalnya: mulai dari ia berpakaian untuk mengetahui apakah
ia sudah rapi atau belum ia bercermin depan kaca, setelah berkaca ia mulai memproses
dan berpendapat apakah dirinya sudah rapi atau belum lalu muncul penilaian terhadap
penampilanya tersebut.
Demikian pula dalam dunia pendidikan terutama dalam hal pengajaran adalah
sebagai usaha yang disengaja untuk dimungkinkan seseorang untuk mengalami
perubahan dan perkembangannya. Program pengajaran dirancang dan dilaksanakan
untuk tujuan yang baik benar dan positif. Dalam konteks ini penilaian berarti usaha
untuk mengetahui sejauhmana perkembangan perubahan itu telah terjadi melalui
kegiatan belajar mengajar, proses perkembangan dan perubahan inilah yang termasuk
ciri-ciri dari evaluasi itu. Menurut B.S. Bloom yang dikutip oleh W.Gulo, disebutkan
bahwa : evaluasi adalah kolektif fakta secara sistematis untuk menetapkan perubahan
nyata yang pada akhirnya untuk menetapkan jumlah atau tingkat perubahan dalam
diri siswa.
Berdasarkan pemahaman tersebut diatas, maka dapat dikatakan ciri-ciri evaluasi
sbb:
1.adanya pengukuran perubahan. Jika hal ini dihubungkan dengan tujuan pengajaran
maka perubahan yang di inginkan dari program-program pengajaran ialah peningkatan
kemampuan baik kemampuan kognetif, afektif dan psikomotorik.
2.adanya bukti-bukti yang dikumpuklan sebagai dasar evaluasi, adapun bukti-bukti
tersebut perlu dideskripsikan secara jelas dan sisitematis, jelas dalam arti fakta yang
dikumpulkan harus dirinci sampai sekecil-kecilnya. Sistematis dalam arti fakta yang
dirinci itu harus disusun berdasarkan urutan kronologisnya atau waktunya.
3.adanya pengukuran terhadap bukti-bukti yang telah dideskripsikan secara jelas dan
sisitematis, pengukuran ini bersifat kuantitatif yang dimaksud dengan kuantitatif
adalah suatu yang menampakkan dirinya dalam skala rasio. Pengukuran yang
dilakukan pada skala ordial biasanya menghasilkan skor berupa grade seperti skala
sikap.
4.adanya pengambilan keputusan atau judgemen. Berdasarkan hasil pengukuran,
seorang guru akan mengambil keputusan apakah siswanya lulus atau tidak, berhasil
atau tidak, baik atau gagal, naik kelas atau tidak naik kelas dan lain-lain.

C.Rumusan Evaluasi.
Menurut Roetiyah N.K. dkk. Dalam bukunya yang berjudul Masalah-masalah
Ilmu Keguruan memberikan beberapa rumusan tentang evaluasi sbb:
1.Evaluasi adalah proses memahami atau memberi arti, mendapatkan dan
mengkomunkasikan suatu informasi bagi pihak-pihak pengambil keputusan.
2.Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar
siswa yang dapat mendorong dan meningkatkan kemampua belajar.
3.Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah
berjalan seperti yang telah direncanakan.
4.Evaluasi adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan proses
pengembangan ilmu telah berada dijalan yang diharapkan.
Menurut Slameto dalam kesimpulannya mengenai rumusan Evaluasi ia
berpendapat sbb:
1.Evaluasi merupakan bagian yang integral dari pendidikan sehingga arah dan tujuan
evaluasi harus sejalan dengan pendidikan.
2.Evaluasi merupakan kegiatan yang memiliki dan berdasarkan kreteria keberhasilan,
yaitu keberhasilan dari belajar murid, mengajar guru, dan program-program
pengajaran.
3.Evaluasi adalah suatu kegiatan yang bernilai positif yakni mendorong dan
mengembangkan kemampuan belajar siswa dan kemampuan mengajar guru, dan
menyempurnakan program pengajaran.
4.Evaluasi adalah bagian yang sangat penting dalam suatu sistem pengajaran yaitu
untuk mengetahui apakah sistem itu baik atau tidak.
D.Sifat-sifat Evaluasi.
R Subagijo mengungkapkan bahwa ada tiga sifat evaluasi yaitu sebagai
berikut :
a.bersifat tidak langsung.
Evaluasi secara langsung terhadap kemampuan siswa tidak dapat dilakukan secara
langsung dalam praktek. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui penafsiran terhadap
hasil pekerjaan siswa, penyatan siswa melalui ekspresinya, dan penyataan siswa
melalui persepsinya.
b.bersifat tak langsung.
Evaluasi hanya dilakukan terhadap beberapa bahan yang dipilih sebagai diskriptor
penilaian. Bahan tersebut merupakan sample dari seluruh aspek yang dinilai. Evaluasi
tidak harus mencakup keseluruhan pengalaman belajar siswa./
c.bersifat relative
Evaluasi bersifat relative artinya tidak mutlak menggambarkan kemampuan
sebenarnya dari siswa. Hal ini terjadi karena hasil evaluasi, tempat pelaksanaan
evaluasi, pengolahan hasil evaluasi, suasana pengawasan, dan lain-laian.
3

E.Manfaat Evaluasi.
Mengapa seorang guru harus mengadakan evaluasi terhadap para muridnya.
Jawaban atas pertanyaan tersebut terletak pada Hakekat Pendidikan. Karena pendidikan
merupakan usaha yang disengaja untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan untuk
mengetahui tujuan tercaoai, evaluasi mutlak diperlukan.
Seseorang yang melakukan pekerjaan dan ingin mengetahui sejauhmana
keberhasilan pekerjaannya, kalau kurang berhasil mengapa, kalau berhasil faktor-faktor
apa yang mendukungnya, nah untuk mengetahui semua ini, kegiatan yang disebut
evaluasi sangat diperlukan. Dengan demikian evaluasi berhubungna dengan semua unsur
yang terlibat didalam kegiatan pendiikan, mengapa ? karena evaluasi mempunyai makna
dan fungsi bagi semua unsur pendidikan. Dr.Suharini Arikunto mengemukakan sbb:
a.bagi siswa.
Dengan diadakanya penilaian, maka sisiwa dapat mengetahui sejauh mana telah
berhasil mengikuti kegiatan PBM yang diberikan oleh guru, hasil yang diperoleh siswa
dari pekerjaannya ada 2 kemungkinan :
1.memuaskan.
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan danhal itu menyenangkan,tentu
kepuasan itu ingin di perolehnya lagi pada kesempatan lain.
2.tidak memuaskan.
Jika siswa tidak puas dengan hasil yang di peroleh,ia akan berusaha lain kali
keadaan itu tidak terulang lagi.Maka ia lalu belajar giat.Namun demikian,keadaan
sebaliknya dapat terjadi.Ada beberapa siswa yang lemah kemauannya,akan terjadi
putus asa dengan hasil kurang memuaskan yang telah di terimanya.
b.bagi guru.
1.Dengan hasil penilaian yang di peroleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa
mana yang sudah berhak melanjutkan pelajaran karena sudah berhasil menguasai
bahan,maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan.Dengan
petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada siswa-siswa yang
belum berhasil.Apalagi jika guru tahu akan sebab-akibatnya,ia akan memberikan
perhatian yang memusat,sehingga keberhasilan yang selanjutnya dapat di peroleh.
2.Guru akan mengetahui apakah materi yang di ajarkan sudah tepat bagi siswa
sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang perlu di adakan
penanganan khusus.
3.Guru akan mengetahui apakah metode yang di gunakan sudah tepat atau belum.Jika
sebagian besar dari siswa di peroleh angka penilaian yang kurang maksimal,mungkin
hal ini di sebabkan olh metode yang di gunakan kurang tepat,jika demikian guru harus
mencari solusi yang baik/tepat.
c.bagi sekolah.
1.Apabila guru mengadakan penilaian dan di ketahui bagaimana hasil belajar
siswanya,dapat di ketahui pula apakah kondisi belajar yang di ciptakan oleh sekolah
sudah sesuai dengan harapan atau belum,karena hasil belajar merupakan cermin dari
sebuah kualitas sekolah.
4

2.Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat
merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan
datang.
3.Informasi hasil penelitian yang di peroleh dari tahun ke tahun dapat di gunakan
sebagai pedoman bgai sekolah,yang di lakukan oleh sekolah,untuk di ketahui sudah
memenuhi standar atau belum.Pemenuhan standar akan terlihat dari bagusnya angkaangka yang di peroleh siswa.
d. Manfaat penilaian pengajaran.
1. Sebagai umpan balik peserta didik.
2. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar mahasiswa.
3. Umpan balik bagi pengajar untuk memperbaikai proses belajar mengajar.
4. Sebagai informasi kepada pihak lain (misal: orang tua).
F.Fungsi Evaluasi
Dengan mengetahui makna penilaian di tinjau dari berbagai segi dalam sistem
pendidikan,maka dengan cara lain dapat di katakan bahwa tujuan atau fungsi evaluasi/
penilaian dapat di lihat dari beberapa hal:
a.fungsi selektif.
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi
atau penilaian terhadap siswanya.Penilaian ini sendiri mempunyai berbagai tujuan
antara lain:
1.Untuk memilih siswa yang di terima di sekolah tertentu
2.Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tigkat berikutnya.
3.Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
4.Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
b.Fungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam peniliaian cukup memenuhi persyaratan maka
dengan melihat hasilnya,guru akan mengetahui kelemahan siswa.Disamping itu di
ketahui pula penyebab kelemahannya.Jadi dengan mengadakan penilaian,sebenarnya
guru mengadakan diagnosa kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya.Dengan
di ketahui penyebabnya,maka akan lebih mudah di cari cara mengatasinya.
c.Funsi penempatan.
Sistim baru yang kini banyak di populerkan di negara barat,adalah sistim belajar
mandiri,belajar mandiri dapat di lakukan dengan cara mempelajari sebuah paket
belajar,baiik itu berbentuk modul maupun paket belajar.Sebagai alasan dari timbulnya
sistim ini adalah:adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individu.Setiap
siswa sejak lahirnya sudah membawa bakat sendiri-sendiri,sehingga pelajaran makin
efektif apabila di sesuaikan demgam pembawaan yang ada.Akan tetapi karena
keterbatasan sarana dan tenaga pendidik,maka pendidikan yang bersifat individual
kadang-kadang sukar sekali.Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan
kemampuan adalah pelajaran secara kelompok untuk dapat menentukan dengan pasti
dimana kelompok siswa harus ditempatkan,digunakan suatu pilihan,sekelompok siswa
yang mempunyai hasil penilaian yang sama akan berada dalam kelompok yang sama
dalam belajar.
5

d.Fungsi keberhasilan
Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan,penilaian ini di maksudkan untuk
mengetahui sejauhmana suatu program berhasil di laksanakan,keberhasilan program
ditentukan oleh beberapa faktor: guru,metode mengajar,kurikulum,saranaprasarana,sistim administrasi,dll.
e. Fungsi penilaian.
SebagaiAlat untuk menentukan penguasaan siswa terhadap kompetensi
atau kemampuan.
Sebagai bimbingan.
Sebagai alat diagnosis.
Cara melalui:
1. portofolio/portfolio,
4.hasil kerja / product.
2. unjuk kerja/performance,
5.tes tertulis / paper and pen.
3. penugasan/project,
G.Prinsip-prinsip Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merencanakan dan
melaksanakan evaluasi.Seorang guru tidak boleh asal jadi.Sebab jika
demikian,kemungkinan tidak tercapainya tujuan pelaksanaan evaluasi.Seorang guru
dalam merencanakan evaluasi harus taat pada prinsip dan syarat evaluasi,Drs.Slameto
mengemukakan sbb:
a.prinsip keterpaduan
Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dan di dalam program
pengajaran.Evaluasi adalah satu komponen dalam program berinteraksi dengan
komponen-komponen lainnya (tujuan,materi,strategi,kegiatan
siswa,guru,sarana).Perencanaan evaluasi harus dilakukan bersamaan dengan
perencanaan satuan program,satuan pengajaran.Banyak terjadi evaluasi direncanakan
dan dilaksanakan beberapa lama setelah program pengajaran selesai
dilaksanakan,sehingga evaluasi dilaksanakan terhadap apa yang direncanakan,tetapi
terhadap apa yang dilakukan.Hal ini tidak sesuai dengan prinsip pendidikan berdasar
kompetisi.Bahkan dirasa supaya pelajaran sebelum dimulai dilaksanakan dilakukan
penilaian awal atau prites yang akan dibandingkan dengan penilaian akhir atau
postest.Penilaian yang direncanakan sebelumnya ini sekaligus merupakan paduan pula
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
b.prinsip CBSA
Hakikat dari CBSA adalah:keterlibatan siswa secara mental sekaligus aktif dalam
kegiatan belajar mengajar.Demikian pula halnya dengan evaluasi menuntut
keterlibatan dari semua siswa.Siswa seharusnya tidak merasakan evaluasi sebagai suatu
yang menekan dan cenderung untuk dihindari,karena jika demikian hal ini menunjukan
bahwa prinsip ini tidak terdapat dalam evaluasi.Prinsip ini dapat diibaratkan dengan
olahraga,seorang yang telah melatih dirinya dalam cabang olahraga tertentu akan
sangat merasa tertekan jika tiak diikutsertakan dalam pertandingan,kalah atau menang
bukan masalah utmama baginya.
6

Evaluasi (seperti halnya olahraga tersebut)merupakan puncak dari kegiatan belajar


mengajar,pada dasarnya siswa sendirilah yang ingin mengukur kemampuan melalui
evaluasi,guru hanya berfungsi untuk membantunya.Sebagai puncak kegiatan evaluasi
mempunyai nilai kepuasan tertentu bagi siswa dan evaluasi harus mampu memberi
kepuasan kepada siswa.
c.prinsip kontinuitas
Pada dasarnya evaluasi berlangsung selama proses belajar mengajar berlangsung.
Evalusi tidak hanya terjadi di awal maupun di akhir tetapi selama KBM itu terjadi,
misalnya dalam bentuk pengamatan,tanya jawab, dialog dll, hal ini dilakukan dalam
rangka pemantapan program, jadi evaluasi harus dilakukan secara kontinu.
d.prinsip koherensi.
Sebagai akibat dari prinsip keterpaduan, maka evaluasi harus konsisten dengan
kemampua yang didukung oleh tujuan pengajaran, sering terjadi kemampuan yang
didukung oleh tujuan hanya pada ranah tertentu saja, pada hal evaluasi harus
menjangkau seluruh tujuan yang sudah ditentukan. Evaluasi harus pula mempunyai
koherensi dengan program pengajaran, artinya evaluasi harus benar-benar diperoleh
dari hasil kegiatan belajar mengajar, baik kegiatab tatap muka maupun terstruktur.
Kadang-kadang terjadi evaluasi (suatu tes) dijawab dengan benar oleh sisiwa sekalipun
tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar. Evaluasi seperti ini tidak koheren dengan
program.
e.prinsip diskriminasi
Dilihat dari Ilmu psikologi diketahui bahwa setipa individu mempunyai perbedaan
dengan individu lain adalah suatu person yang unik, bahkan walaupun dua individu
memiliki pendapat yang sama tetapi jalan pemikirannya berbeda, sesuai dengan
hakekat individu ini evaluasi haruslah pula mampu menunjukkan perbedaan dikalangan
siswa secara individual. Apabila suatu kelas menujukkan skor yang sama, maka
evaluasi tersebut perlu di kaji ulang .
f.prinsip keseluruhan
Perubahan tingkah laku yang sudah ditetapkan sebagai tujuan yang hendak dicapai
bersifat utuh. Karena itu evaluasi yang akan dilakukan hendaknya bersifat utuh pula.
Yaitu meliputi seluruh segi tujuan pendidikan. Hal ini mengandung pengertian bahwa
evaluasi ditujukan tidak hanya pada sesudah akhir proses pengajaran saja tetapi juga
selama proses belajar mengajar berlangsung, misal peran serta siswa, kreatifitas, caracara penyampaian ide-ide siswa, baik di dalam maupun diluar proses belajar mengajar.
g.prinsip pedagogis.
Seluruh kegiatan evaluasi hendaknya diketahui dan dirasakan oleh siswa tidak hanya
sebagai rekaman hasil belajar saja tetapi juga sebagai upaya perbaikan dan peningkatan
prilaku dan sikapnya, sehingga hasil evaluasi harus dinyatakan dan dapat dirasakan
sebagai penghargaan bagi yang berhasil dan sebaliknya merupakan
hukuman/peringatan bagi yang belum berhasil hal ini memicu untuk belajar lebih
giat dan lebih baik, dengan demikian evaluasi ikut membentuk prilaku dan sikap yang
positif.
7

h.prinsip akuntabilitas (acconuntability)


Akuntabilitas merupakan salah satu ciri dari pendidikan berdasar kompetisi. Yang pada
akhirnya pendidikan dan pengajaran harus dapat dipertanggung jawabkan kepada
lembaga pendidikan itu sendiri, kepada masyarakat pemakai lulusan dan kepada
kelompok profesional. Pertanggungjawaban terhadap ketiga kelompok ini merupakan
hal yang harus dipertimbangkan dalam evaluasi. Dengan kata lain melalui evaluasi kita
memeprtanggungjawabkan hasil pendidikan yang kita selenggarakan kepada ketiga
pihak tersebut, akreditasi terhadap penyelenggara pendidikan termasuk dalam
pertanggungjawaban tersebut.
H.Syarat-syarat Evaluasi.
Evaluasi bersifat tidak lansung, tak lengkap dan relatif hal ini dapat dipahami
karena memang evaluasi tidak lebih sebagai alat untuk mengukur, oleh karena itulah amat
sulit untuk menemukan syarat-syarat yang edial dan memuaskan kebutuhan dari tujuan
evaluasi itu sendiri, namun demikian mengingat pentingnya fungsi dan peran evaluasi
maka perhatikan ada beberapa syarat yang dapat dikemukakan disini :
a.sahih (Valid).
Evaluasi dikatakan valid apabila mengukur dari apa yang sebenarnya di ukur, apabila
yang diukur adalah sikap, tetapi evaluasinya mengukur pengetahuan, maka evaluasi
tersebut jadi tidak valid. Kesahihan evaluasi biasanya diukur dalam prosentasi atau
dalam derajat tertentu dengan alat ukur tertentu.
b.terandalkan (realible).
Ewaluasi dikatakan terandalkan jika alat evaluasi yang sama dilakukan terhadap
kelomp[ok siswa yang sama beberapa kali dalam waktu yang berbeda-beda, akan
memebrikan hasil yang sama.
c.obyektif
Evaluasi dikatakan obyektif jika dilakukan dengan benar dengan tidak mendapat
pengaruh subyektif dari pihak penilai.
d.seimbang (balance).
Keseimbangan disisni meliputi keseimbangan bahan, keseimbangan kesukaran dan
keseimbangan tujuan. Bahan harus seimbang di antara berbagai pokok bahasan.
Keseimbangan dalam kesukaran, artinya antara yang mudah, sedang dan sukar harus
dalam proporsi tertentu. Keseimbangan tujuan adalah keseimbangan antara berbagai
mantra tujuan keseimbangan dalam berbagai matra dalam kawasan tertentu, antara
pengetahuan pemahaman,aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi dalam ranah tertentu
harus di sesuaikan dengan tujuan evaluasi itu sendiri, baik afektif, kognetif maupun
psikomotorik.
e.membedakan
Evaluasi ini harus dapat memebedakan (discriminable) prestasi individual di antara
kelompok siswa. Evaluasi ini harus dapat memebedakan siswa yang berhasil, cukup
berhasil, kurang berhasil, gagal dan sebagainya.
f.norma.
Evaluasi yang baik hasilnya harus mudah ditafsirkan, hal ini menyangkut tentang
adanya ukuran atau norma tertentu untuk menafsirkan hasil evaluasi dari setiap siswa.
8

g.fair
Evaluasi yang fair mengemukakan persoalan-persoalan dengan wajar, tidak bersifat
jebakan, dan tidak mengandung kata-kata yang bersifat menjebak, disamping itu
terdapat keadilan untuk setiap siswa yang dievaluasi.
h.praktis.
Baik ditinjau dari segi pembiayaan maupun dari segi pelaksanaanya evaluasi yang
dilakukan harus efisien dan mudah dilaksanakan.
I. Pengertian Evaluasi Dalam Konteks PAK
a.Pengertian.
Berbicara masalah evaluasi pada dasarnya adalah sama baik itu diterapkan pada
bidang pengajaran pada umumnya maupun pada pelajaran agama. Unsusr-unsur
yang ada dalam evaluasi pasti akan menjadi patokan dan tolok ukur bagi siapa saja
yang akan menggunakan evaluasi sebagai bagian dari pemberia nilai atau
pengambilan keputusan.
Unsur-unsur yang ada dalam Evaluasi seperti Rumusan Evaluasi, Ciri-ciri
Evaluasi, Sifat-sifat Evaluasi, fungsi, prinsip, manfaat, syarat-syarat Evaluasi,
termasuk jenis-jenis dan prosedur evaluasi serta penyusunan alat evaluasi, analisis
butir soal sampai pada tingkat pelaporan hasil, adalah sama jika diterapkan pada
prosedur penilaian.
Untuk mengunakan alat evaluasi dalam menentukan sebuah penilaian memang
bisa berbeda-beda, baik dalam penskoran maupun memberi bobot nilai itu sendiri,
memang aspek-aspek yang dinilai setiap mata pelajaran itu memilki kekhasannya
tersendiri bahkan ada yang tidak sama jumlah aspek yang akan diberi pembobotan
nilai, misalnya Bahasa ada 4 aspek IPA ada 5 aspek, IPS ada 2 aspek, demikian
agama hanya 2 aspek begitu pula dengan yang lainnya.
Memang tidak menutup kemungkinan prosedur penilaian dalam pelajaran agama
mestinya agak berbeda dengan bidang-bidang pelajaran yang menuntut keberhasilan
secara kognetif saja atau psikomotorik saja, sedangkan agama menuntut 3 aspek
bahkan dimungkinkan penilaian Karakter dan sikap bisa menjadi dominan dalam
penilaian pada pelajaran agama. Oleh sebab itu menurut Pdt.Janse Belandina NonSerrano.M.Si. ditulis dalam bukunya yang berjudul Bingkai Materi PAK
menjelaskan bahwa Evaluasi dalam konteks PAK bertujuan sebagai umpan balik
Bagi Guru untuk mengukur kembali Kompetensi serta profesionalitas dirinya sendiri
selaku Guru PAK, mengapa demikian ? Karena guru adalah figur pelaku serta
teladan dari PAK itu sendiri, sehingga evaluasi PAK ini sangat dekat sekali dengan
dedikasi dan performece guru.
Pakar psikologi pendidikan umumnya sepakat bahwa keberhasilan proses belajar
mengajar banyak tergantung pada Kreatifitas dan inovasi guru. Khususnya
menyangkut pendidikan agama Kristen yang sering dituding sebagai mata pelajaran
yang cenderungmembosankan oleh karena itu selaku guru sebagai pendidik harus
memiliki kemampuan yang memadai standarisasi profesi guru, karena guru adalah
sebagai :
9

1.Designer of instruction.
2.Manager of instruction.
3.Evaluator of student learning.

(perancang pengajaran)
(pengelola pengajaran)
(penilai prestasi belajar peserta didik).

Pada bagian lain Pdt.Dra.Dien Sumiyatiningsih,G.D.Th.,M.A. dalam bukunya


yang berjudul Mengajar dengan Kreatif & Menarik memberikan penjelasan yang
mengacu pula pendapat dari Bruce Joyce dan Marsha Weil menyinggung tentang
permodelan guru sebagi sosok yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik
dalam contoh model-model pengajaran menggolongkan rumpun model pengajaran
menjadi 4 rumpun yang berbeda yaitu:
1.Information Models.(model pemrosesan informasi).
2.Personal Models. (model pribadi).
3.Interative Models. (model interaksi).
4.Behavioral Models. (model perilaku).
Dengan demikian memahai serta menyimak secara seksama evaluasi dalam
konteks PAK bukan semata-mata kita memberi penilaian kepada siswa atas apa yang
dia kerjakan diatas kertas, melainkan peran seorang guru/pendidik sangat-sangat
menentukan akan perubahan dan perkembangan menuju kedewasaan yang berada
dalam Kristus dalam pengenalannya yang penuh kasih karena karakter dan prilaku
sudah diubahkan oleh sosok guru/pendidik, apapun corak dan warna yang akan
kita torehkan pada peserta didik/ murid adalah tanggung jawab kita sepenuhnya atas
iman dan moral anak, guru/pendidik adalah dasar permodelan bagi keberhasilan
siswa.
Disamping alat evaluasi kita pakai sebagi saranan untuk mengambil keputusan
atas sebuah nilai agama pada anak/siwa , ternya akan lebih penting dan berharga jika
anak/siswa juga kita bawa pada kedewasaan secara iman dan moral dan dapat
mengaplikatifkan dalam setiap sisi dan bidang kehidupannya.
Guru agama memegang peranan yang setrategis dan sangat penting karena gurulah
yang memegang jurus-jurus pendidikan dan pengajaran baik sacara formal ilmu
pengetahuan sekuler juga memegang karunia iman yang bisa kita berikan untuk
melawat anak-anak kita yang memerlukan bmbingan kita semua baik di sekolah
maupun dimana mereka harus di bimbing.
Pada dasarnya evaluasi PAK bukan sekedar menuliskan sebuah angka kedalam
putusan akahir untuk memberi penilaian terhadap peserta didik, tetapi lebih dari itu
bagaimana kita selaku pendidik/ guru bisa membawa siswa untuk berjumpa pada
Tuhan Yesus Kristus sebagi Tuhan dan Jurusalamat mereka.
b.Desaian Instruksional Pengajaran.
1.Pengantar.
Desain instruksional pengajaran untuk bisa digunakan di lembaga pendidikan
teologi. Adalah cara yang dipakai oleh pengajar, ahli kurikulum, perancang bahan,
dengan tujuan untuk mengembangkan rencana yang terorganisasi guna
keperluan belajar (Gagne, 1988).
10

2. Peran pengajar dalam pendidikan teologi


Sebagai sahabat: yang mengasihi, memelihara dan tumbuh bersama.
Sebagai penterjemah: antara alkitab dan gereja dengan para siswa.
Tahun perbedaan masing-masing sisi, kerangka berpikir, latar belakang.
Sebagai penulis kurikulum. Buku ajar hanya sebagian kecil, perlu adaptasi.
Sebagai penulis rencana pengajaran.
Sebagai pembelajar terus menerus.
3. Desain instruksional melibatkan:
a.Mengajar (teaching): membantu pembelajar memperoleh informasi, ide,
ketrampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk ekspresi diri, dan cara bagaimana
belajar.
b. Belajar (learning): melibatkan (a) adanya perubahan tingkah laku peserta didik (b)
perubahan relatif permanen (c) perubahan karena interaksi dengan lingkungan
dan bukan karena proses kedewasaan atau perubahan fisik.
c.Pembelajaran (instruction): mencakup semua events yang mempunyai pengaruh
langsung pada proses belajar manusia, baik yang dilakukan guru maupun yang
diturunkan dari bahan cetak, gambar radio, televisi, film, e-learning maupun
kombinasi dari bahan-bahan tersebut (Briggs: 1989).
4. Syarat mendesain instructional pengajaran:
Pengajar memiliki dasar pengetahuan dan konsep yang diajarkan.
Sadar dan tahu apa yang ingin dicapai.
Mampu menjabarkan dalam silabi dan pokok bahasan.
Sudah berkonsultasi dengan ahli (materi dan content specialist).
Dapat menganalisa pengalaman mengajar.
Ada pendekatan sistim instructional.
5. Spesifikasi tujuan pengajaran.
Merupakan spesifikasi atau batasan isi pokok bahasan, juga sering disebut sebagai
tujuan umum.
Tujuan pengajaran yang bersifat umum, atau kompetensi dasar, atau konsep kunci
yang mengarahkan pengajar untuk membuat perencanaan.
Bersifat umum sebagai fokus pengajaran, melibatkan waktu cukup lama sehingga
mungkin sulit untuk membuat perencanaan dalam satu kali pertemuan.
Perlu pemilihan: titik berat, prioritas, penafsiran dan kepentingan yang berbeda.
6. Spesifikasi tujuan belajar.
Merupakan penjabaran tujuan umum, ada yang menyebut sebagai indikator, tujuan
khusus.
Tujuan atau kompetensi spesifik yang akan dicapai, dikuasai oleh siswa bukan
pengajar.
Mungkin termasuk ranah kognitif, afektif, psikomotorik.
Penggunaan kata-kata yang jelas, tidak abstrak, tidak terlalu luas.
Diformulasikan dalam bentuk operasional.
Bisa dievaluasi pengajar baik proses maupun hasilnya.
11

7. Strategi yang dipakai: aktifitas belajar-mengajar.


Ada berbagai pendekatan, yang umum: pendahuluan, isi, Penutup.
Alternatif lain (D. L Griggs; 1988).
1. Pendahuluan: mulai dari kehidupan siswa.
2. Penyampaian materi.
3. Pendalaman materi: pribadi atau kelompok.
4. Respon kreatif pengajar.
5. Kesimpulan atau penutup.
Catatan:
Ada banyak cara kreatif untuk menyampaikan ke lima komponen strategi. Perlu
juga dibuat alokasi waktu yang seimbang dan memadai untuk melaksanakan
strategi.
Alternatif lain: mengikuti model pengajaran tertentu untuk mencapai tujuan
pengajaran (cat:permodelan diatas perlu di simak kembali ).
8. Sumber-sumber pengajaran yang dipakai.
Sebaiknya sumber yang dipakai bukan sekedar coba-coba.
Perlu dipilih dengan hati-hati, disediakan bagi siswa.
Sumber-sumber pengajaran bisa diatur dan dapat dilihat oleh sebanyak mungkin
mahasiswa.
9. Pengaturan ruangan.
Ruang,lingkungan alam bisa diatur sesuai model pengajaran yang direncanakan.
Perlu merubah ruangan, alat-alat, bahan-bahan secara berkala.
Ruang, suasana, efek atau dampak lingkungan didesain sesuai tujuan.
10. Evaluasi.
Evaluasi berkaitan dengan materi: bisa dalam pertanyaan informatif, pertanyaan
analitis, pertanyaan bersifat pribadi kepada siswa.
Evaluasi terhadap proses belajar mengajar, interaksi siswa dengan temannya,
dengan pengajar dan dengan media.
Evaluasi untuk mengukur sejauh mana tujuan pengajaran sesuai target.
Berkaitan juga dengan penilaian: memakai alat dan prosedur (dijelaskan tersendiri
lihat bagian evaluasi)..
Sebagai dasar untuk memberikan umpan balik bagi siswa.
11.Ciri pengajar yang kreatif menuju proses pengajaran yang efektif
a.Hormat dan menerima diri, mampu mengontrol diri (emosi stabil).
b.Menyukai mengajar sebagai profesi dan menyenangi apa yang diajarkan.
c.Mengerti kondisi mahasiswa, pengalaman, kemampuan, dan prestasinya.
d.Berbicara secara komunikatif, jelas, terutama dalam mengkomunikasikan ideidenya.Antusias, bergairah terhadap bahan pengajaran, kelasnya, dan seluruh
pengajarannya.
12

f.Mampu memperhatikan perbedaan individual perserta didik.


G Kreatif, berinisiatif, memiliki banyak pengetahuan, dan banyak akal.
h.Menghindari ejekan maupun sarkasme, kepada siswa.
i.Memiliki kehidupan spiritualitas yang baik.
j.Menjadi teladan hidup Kristen bagi siswa.
12. Pengembangan kreatifitas berdasar kecerdasan majemuk.
Howard Gardner menemukan dan membuka rumpun-rumpun kecerdasan manusia
yang lebih luas melebihi kepercayan manusia sebelumnya tentang kecerdasan.
Penggunaan kecerdasan majemuk dalam proses belajar mengajar akan
mengembangkan kreatifitas baik pengajar maupun asiswa. Berbagai kecerdasan
majemuk Howard Gardner.
a.Kecerdasan bahasa.
b.Kecerdasan logis matematis.
c.Kecerdasan ruang.
d.Kecerdasan body kinestiK.
e.Kecerdasan antar pribadi.
f.Kecerdasan intra pribadi.
g.Kecerdasan musik.
h.Kecerdasan naturalis.
g.Kecerdasan eksistensial.
c.Model dan Evaluasi pengajaran dalam PAK
Model Evaluasi Pengajaran.
1.Model Pengajaran.
(1).Pengantar.
a.Penggunaan model pembelajaran didasari asumsi untuk mencapai tujuan
pendidikan yang sudah ditentukan.
b.Disusun menurut teori pendidikan tertentu.
c.Tiap model mempunyai tujuan dan misi tertentu.
d.Dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar di
kelas.
Memiliki seperangkat elemen
(Joyce dan Weil. 1996):
1. Urutan tahap (Syntax).
2.Prinsip reaksi.
3.Sistim sosial.
4.Ada sistim pendukung
13

(2). Pertimbangan untuk memilih model pembelajaran.


a. Pelajari tujuan umum atau kompetensi dasar dan tujuan khusus dikaitkan
dengan materi pokok.
b. Pelajari bahan-bahan yang dibutuhkan.
Pahami siswa.
c. Pelajari karakteristik model yang digunakan.
(3).Menyesuaikan diri dengan penggunaan model pengajaran.
a.Menyesuaikan diri dengan kurikulum.
b.Pengajar mampu melakukan tahapan yang ditentukan.
c.Bersedia mengubah kebiasaan sesuai dengan tuntutan model.
d.Bersedia menyediakan aspek-aspek penunjang untuk menjamin keberhasilan.
e.Membuat persiapan atau mendesain proses pengajaran dengan acuan
modelyang dipilih.
(4).Bagaimana memilih model yang tepat?
a.Tak ada jawaban pasti, tidak dapat dibandingkan mana model yang
terbaik.
b.Sebagai pemula tidak dapat menguasai semua model.
c.Kita perlu berlatih menggunakan model yang beragam, agar peserta
didik terangsang belajar secara baik dengan aktifitas yang tepat.
d.Memilih model pengajaran bukan seperti menggunakan resep untuk
mengobati semua penyakit.
e.Proses dan hasil maksimal pembelajaran dapat dicapai.
(5).Tekanan pada pengajaran iman: membutuhkan model yang berbeda-beda.
1.Thomas Groome (1990):
(1)iman sebagai kepercayaan: ranah kognitif/believing
(2) iman sebagai suatu keyakinan: ranak afektif/trusting
(3) iman sebagai suatu tindakan: ranak psikomotorik/doing
2.Richard Osmer (1992):
Kita tidak memberi iman, tapi menciptakan kondisi supaya iman bertumbuh. Iman
punya berbagai sisi, harus di ajarkan sesuai dengan model yang berbeda
(1)
percaya dasar iman
(2) merupakan hubungan atau relasi dengan Tuhan dan sesama
(3) melibatkan dan menyerahkan diri pada Tuhan: memakai energi dan waktu (4)
iman sebagai misteri.
3. Bruce Yoice dan Marsha Weill(1996):
membagi dalam 5 rumpun: rumpun memproses informasi, rumpun pengembangan
pribadi, rumpun interaksi sosial, rumpun perilaku dan rumpun ketrampilan
profesional. Setiap rumpun mempunyai berbagai model pengajaran, kesemuaya
terdapat 24 model.
14

4. Sara Little: dia mengikuti pembagian Bruce Joice, namun ditambah model
encounter model of teaching/ perjumpaan tidak langsung dengan Tuhan, dan
shared praksis atau model aksi-refleksi.
5. Tambahan model yang penting untuk konteks di Indonesia: model pelatihan,
mendongeng, penggunaan Information Communication Tehnology (ICT).
Penggunaan beberapa teori model dapat anda pelajari lebih mendalam dalam beberapa buku dan
salah satu diantaranya buku tulisan DienSumiyatiningsih.2006. Mengajar dengan Kreatif dan
Menarik. Yogyakarta AndiOffset.Hal:69-113.

Evaluasi Pengajaran.
(6) Pengertian Evaluasi dan Penilaian.
1.Evaluasi berbeda dengan penilaian.
2.Evaluasi: untuk melihat suatu program yang direncanakan telah tercapai atau
belum, berharga atau tidak, tingkat efisiensi pelaksanaan.
3.Contoh: evaluasi terhadap kurikulum baru, kebijakan baru, sumber belajar, etos
kerja pengajar.
4.Penilaian (assesment): penerapan berbagai prosedur dan cara. Penggunaan
beragam alat penilain untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana
kecercapaian hasil belajar atau kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta
didik.
5. Penilaian menjawab tentang sebaik apa hasil atau prestasi peserta didik.
(7) Manfaat penilaian pengajaran.
1.Sebagai umpan balik peserta didik.
2.Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar mahasiswa.
3.Umpan balik bagi pengajar untuk memperbaikai proses belajar mengajar.
4.Sebagai informasi kepada pihak lain (misal: orang tua).
(8) Fungsi penilaian.
1.Alat untuk menentukan penguasaan siswa terhadap kompetensi atau
kemampuan.
2.Sebagai bimbingan.
3.Sebagai alat diagnosis.
4.Cara melalui:
-unjuk kerja/performance,
-penugasan/project,
-portofolio/portfolio,
-hasil kerja/product
-tes tertulis/paper and pen.
-Penilaian melalui portofolio.
15

5.Merupakan penilaian berkelanjutan dengan dasar berbagai informasi yang


menunjukkan perkembangan siswa pada periode tertentu.
6.Berguna untuk melakukan perbaikan. Dapat berupa karya peserta didik,
karangan, naskah hotbah/renungan, tulisan doa, puisi, naskah drama, piagam,
paper, gambar/tulisan, laporan, desain, komposisi musik. Kumpulan tersebut
merupakan refleksi perkembangan mahasiswa.
(9) Penilaian melalui unjuk kerja.
1.Dilakukan dengan mengamati kegiatan atau kinerja mahasiswa dalam
melakukan sesuatu.
2.Merupakan cara yang lebih otentik daripada tes tertulis, karena lebih
mencerminkan kemampuan sebenarnya.
3. Semakin banyak pengamatan dilakukan, semakin dapat dipercaya hasilnya.
4.Penilaian melalui penyajian lisan: ketrampilan berbicara,
berpidato,berkhotbah,menyampaikan renungan, berdoa, berdiskusi,
memecahkan masalah dalam kelompok , menari, memainkan alat
musik,mengoperasikan komputer, mengerjakan program tertentu komputer.
(10) Penilaian melalui penugasan/project.
1. Penilaian melalui proyek yang dilakukan karena tugas tertentu.
2.Tugas yang dilakukan untuk melakukan investigasi sejak dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan data dan penyajian data.
(11).Penilaian melalui tes tertulis (paper and pen).
1. Biasa dilakukan untuk waktu terbatas dan kondisi tertentu.
2. Soal dan jawaban diberikan kepada mahasiswa dalam bentuk tulisan.
3. Ada dua bentuk soal tertulis:
- memilih jawaban: pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah), menjodohkan,
- soal dengan mensuplai jawaban, isian atau melengkapi jawaban singkat
atau pendek, meminta jawaban uraian.
12) Rambu-rambu penilaian.
1.Validitas: menggunakan alat ukur yang sesuai, menggunakan kata-kata yang
tidak bermakna ganda, perhatikan kemampuan yang diukur.
2 Reliabilitas: penilaian harus ajeg dan menjamin konsistensi.
3.Terfokus: pada kemampuan atau kompetensi, jadi bukan hanya pada penguasaan
materi.
4.Komprehensif/mencakup keseluruhan: menilai dengan beragam cara dan alat
untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan siswa.
5.Objektifitas: penilaian harus objektif. Harus dipertimbangkan adanya keadilan,
terencana, berkesinambungan, menerapkan kriteria yang jelas.
6.Mendidik: penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pengajaran bagi
pengajar dan kulitas belajar bagi mahasiswa.
7.Berkesinambungan: untuk memantau proses, kemajuan, perbaikan hasil dalam
bentuk tes harian, tes tengan semester (TTS), tes akhir semester (TAS).
16

BAB II. Jenis-jenis dan Prosedur Penyusunan Alat Evaluasi.


Alat evaluasi banyak dipengarui oleh tujuan pengajaran yang akan dicapai,
sebagaimana kita ketahui pendidikan atau pengajaran umumnya diselenggarakan untuk
mencapai tujuan yang berorientasi pada pengetahuan, sikap dan kelakuan. Untuk
mengukur tujuan yang berhubungan dengan pengetahuan tetntu berbeda dengan tujuan
yang berhubungan dengan sukap, selain tujuan penganjaran, alat-alat evaluasi juga
dipengaruhi oleh alat-alat evaluasi itu sendiri.
Perhatikan uraian alat evaluasi dan pengunaannya seperti bagian berikut ini sbb:
A.Berdasarkan Fungsi Evaluasi.
a.penilaian formatif.
Penilaian ini lebih diarahkan kepada pertanyaan , sampai dimana guru telah berhasil
menyampaikan bahan pelajaran kepada siswanya, hal ini akan digunakan oleh guru
untuk memperbaiki proses belajar-mengajar. Dengan perkatan lain,penilaian formatif
ditujukan untuk memperoleh umpan balik dari upaya pengajaran yang telah dilakukan
oleh guru.
Dalam hal ini yang penting adalah bagimana guru harus melakukan tindak lanjut
terhadap umpan balik yang didapatkan sebagai penilaian formatif itu.meskipun dalam
penilaian formatif ini keberhasilan guru yang dinilai. Yang langsung dikenal
penilaiannya tetap siswa. Jadi dengan kata lain melihat hasil yang diperoleh siswa dapat
diketahui keberhasilan atau tidak berhasilan guru mengajar. Penilaian ini biasanya
terjadi pada saat selesainya materi dalam satu pembahasan materi, atau akhir satuan
pelajaran.
b.penilaian sumatif
Penilaian ini langsung diarahkan kepada keberhasilan siswa mempelajari suatu
program pengajaran yang relative besar. Missal: triwulan, semester atau akhir tahun
pelajaran. Atau pada akhir jenjang persekolahan seperti EBTA, UAS, UAN dan
sebaginya, ini merupakan salah satu kegiatan penilaian sumatif.
Apabila penilaian formatif diarahkan kepada proses belajar mengajar, maka penilaian
sumatif diarahkan pada hasil belajar itu sendiri (outcome / output) hasil penilaian
sumatif ini berguna berguna untuk sbb:
1.memberi nilai (grading) kepada siswa, missal nilai rapor dalam setiap
triwulan, catur wulan maupun semester.
2.memberikan penentuan tentang seorang siswa, misalnya : lulus atau tidak
lulus, naik/tidak naik, baik/ tidak baik.
3.menempatkan siswa pada kelompok yang ditentukan, missal: kelompok
kerja, dalma setudi selanjutnya, dan sebaginya.
Penilaian formatif diarahkan kepada tercapai tidaknya tujuan-tujuan intruksional
khusus atau KD sedangkan penilaian sumatif diarahkan kepada tercapai tidaknya
tujuan-tujuan instruksional umu atau SK.
c.penilaian penenpatan
yang dimaksud adalah usaha penilaian untuk memahami kemampuan setiap siswa.
Sehingga dengan pengetahuan itu guru dapat menempatkan setiap siswa dalam situasi
yang tepat baginya. Penempatan yang dimaksud dapat berupa penempatan
penempatan sbb:
17

1.penempatan siswa dalam kelompok kerja.


2.penempatan siswa dalam kelas.
3.penempatan siswa dalam berbagai panitia disekolah.
4.mengarahkan siswa dalam memilih kelanjutan studi.
5.mengarahkan siswa dalam kemungkinan memilih kerja.
6.menempatakan siswa dalam program pengajaran tertentu.dll.
d.penilaian diagnostic.
Penilaian ini bertujuan untuk menelususri kelemahan-kelemahan khusus yang dimiliki
siswa yang tidak berhasil dalam belajar, juga karena factor-faktor yang menguntungkan
pada siswa tersebut, untuk dapat digunakan dalam menolong mengatasi kelemahan
siswa tersebut. Dengan penilaian diagnostic ini guru dapat mengetahui dengan jelas
dimana kesulitan siswa tersebut, contoh : siswa tidak dapat menyebutkan ke dua belas
murid Yesus maka guru harus memulai dengan memebri bimbingan dari yang
sederhana agar diketahui sejauhmana siswa tersebut dapat menyebutkan 2 atau 5 nama
murid Yesus.
B.Berdasarkan cara penilaian.
Berdasarkan cara penilaiannya dibedakan dalam dua cara penilaian yaitu penilaian
Kuantitatif dan penilaian Kualitatif , untuk penilaian kualitatif pada umumnya lebih
subyektif dari pada penilaian kuantitatif. Penilaian kuantitatif biasanya dinyatakan
dengan angka sedangkan penilaian kualitatif dinyatakan dengan ungkapan Baik atau
huruf A, B, C dst.nya. Dalam penilaian kedua cara ini harus dilakukan secara seimbang.
Ada aspek-aspek individu siswa yang perlu diungkapkan secara kualitatif, disamping
secara kuantitatif. Lalu bagaimana mengkombinasikan kedua cara penilaian tersebut
baik waktu penilaiannya,maupun dalam memperpadukan hasil kedua cara penilaian itu,
kemudian bagaimana teknik-tekniknya yang tepat digunakan untuk kedua penilaian
tersebut, hal ini dapat dilakukan sebagai berikut :
Aspek-aspek tingkah laku siswa dalam bidang kognitif pada umumnya dinilai
secara kuantitatif. Aspek sikap atau afektif pada umumnya dinilai secara kualitatif.
Tetapi aspek ketrampilan atau psikomotorik dapat secara seimbang dinilai secara
kualitatif dan kuantitatif.
Apabila guru akan memperpadukan hasil penilaian kuantitatif dan kualitatif,
misalnya untuk menemukan nilai akhir dari suatu bidang pengajaran untuk segala
aspek tingkah laku siswa, maka guru harus mengubah salah satu dari kedua cara itu,
atau mengbah hasil penbilaian kuantitatif ke dalam ungkapan kualitatif, atau sebaliknya
mengubah hasil penilaian kualitatif menjadi nilai dalam bentuk angka. Kemudian
diumlah dan di rata-ratakan, dan apabila perlu mempergunakan bobot tertentu sesuai
dengan keperluannya. Setelah mendapat nilai rata-rata, kemudian rata-rata itu diubah
kembali sesuai dengan kebiasaan penilaian akhir di sekolah yang bersangkutan, dalam
bentuk ungkapan atau dalam bentuk angka.
Bilamana kedua cara penilaian itu dilakukan, penilaian kuantitatif biasanya
dilakukan apabila guru ingin memberikan nilai akhir terhadap hasil belajar siswanya.
Sedangkan penilaian kualitatif dilakukan apabila guru ingin memperbaiki hasil belajar
siswanya. Tetapi perbedaan tersebut jangan dijadikan patokan, karena kedua cara
penilaian itu dapat saja dilakukan pada kedua kesempatan tersebut, disesuaikan dengan
kebutuhan. Kedua cara penilaian tersebut memerlukan teknik pelaksanaannya.
18

C.Berdasarkan isi dan tujuan.


Berdasarkan isi dan tujuan tes, maka tes dapat dibedakan menjadi tiga bagian sbb:
a.tes hasil belajar
yaitu tes yang dilakukan untuk menilai sampai sejauhmana hasil belajar yang dicapai
oleh siswa, setelah mereka menjalani perbuatan belajar dalam waktu tertentu. Jadi tes
ini dilakukan setelah siswa mengalami proses belajar mengajar, dan bahan yang
dijadikan soal tes tidak keluar dari bahan yang telah dipelajari oleh siswa.
b.tes diagnotis
Yaitu tes untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan siswa dalam menerima pelajaran
tertentu yang hasilnya dig8nakan untuk membantu siswa tersebut dalam mengatasi
kesulitannya di dalam belajar / mempelajari materi pelajaran.
c.tes psikologi
Yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui kemampuan psikologis siswa, terutama
ciri-ciri kepribadiannya yang dapat digunakannya yuntuk membantunya apabila ia
mengetahui kesulitannya yang berhubungan dengan ciri-ciri tersebut, tes psikologis
meliputi sbb:
1. tes kecerdasan
: untuk mengetahui kecerdasan umum siswa.
2. tes minat
: untuk mengatahui minat belajar siswa.
3. tes sikap
: untuk mengetahui sikap siswa.
4. tes bakat
: untuk mengetahui bakat-bakat khusus siswa.
5. tes kepribadian
: untuk mengetahui ciri -ciri kepribadian siswa.
D.Berdasarkan pembuatannya.
a.tes buatan guru.
Tes buatan guru, yaitu tes yang dibuat oleh guru untuk keperluan penilaian guru
tersebut terhadap siswanya.Tes ini terutama tes hasil belajar dan biasanya berlaku untuk
satu sekolah,bahkan kadang-kadang hanya untuk satu kelas saja,tetapi tidak menutup
kemungkinan dibuat,disusun,dan dipergunakan untuk kepentingan KKG, MGMP,dll.
b.tes baku.
Tes baku adalah tes yang sudah di standarkan,tes baku ini ,baik tes hasil belajar
maupun tes psikologis hasilnya dapat ditafsirkan secara umum dalam daerah yang luas
ataupun hanya berlaku untuk satu kelompok saja,misalnya sebuah tes untuk mata
pelajaran tertentu SD kelas 5 tes tersebut dapat digunakan untuk semua murid kelas 5
SD di seluruh Indonesia,dengan hasilnya dapat ditafsirkan berdasarkan ukuran yang
seragam.Untuk tes semacam ini murid kelas 5 SD di Irian mendapat nilai mentah 35
akan dianggap mempunyai nilai yang sama dengan murid kelas 5 di Jakarta maupun di
kota-kota besar lainnya (nilai di konversi).
Tes semacam ini (baik itu tes hasil belajar,tes psikologis,atau tes diagnostik,baik dalam
bentuk tes tertulis ataupun lisan,maupun berupa tes verbal ataupun tes perbuatan)di
sebut tes baku atau tes standar (Standardized test).
19
E.Cara dan alat Evaluasi.

Alat evaluasi yang dibahas bagian ini tidak mencakup semuanya,tetapi hanya
disampaikan alat evaluasi yang sering dipakai oleh guru dalam kegiatanya sehari-hari
tepatnya alat evaluasi yang berdasarkan teknik penilaian khususnya yang berbentuk tes.
Oleh karena itu para guru khususnya para mahasiswa yang sedang belajar evaluasi ini
hendaknya dapat memperoleh gambaran sekaligus dapat menentukan dan memilih alat
evaluasi mana yang tepat dan yang diperlukan untuk dapat dipakai.
a.konstruksi tes essay, tes lesan dan tes obyektif.
Memang tidak ada alat evaluasi yang bersifat mutlak setiap guru diberi kebebasan
untuk memilih dan menentapkan alat evaluasi sendiri secara tepat untuk digunakan
dalam proses belajar mengajar. Adapun alat yang dimaksud pada bagian ini hanya
disajikan alat evaluasi yang sering digunakan guru dalam kegiatannya sehari-hari jadi
tidak mencakup keseluruhan alat evaluasi, diantaranya :
1.tes esei.
Tes ini berbentuk soal-soal yang masing-masing mengandung permasalahan dan
menuntut jawabannya. Berdasarkan jawabannya, tes esai biasanya dibedakan atas dua
macam yaitu tes esai dengan jawaban singkat (berstruktur/tertutup) dan tes esai dengan
jawaban panjang (bebas, luas /terbuka).
Tes esai dengan jawaban singkat menuntut siswa memberi jawaban satu atau dua
kalimat baik dengan kata-katanya sendiri maupun jawaban pasti yang terstruktur.
Sedangkan tes esai dengan jawaban panjang/luas terbuka , biasanya siswa memnjawab
dengan uraiannya sendiri yang tentu mengacu pada pertanyaan yang duharapkan dari
soal esai tersebut.
Kelebihan/kebaikan :
-dapat mengukur proses mental yang tinggi, yaitu pengertian dan penerapan (termasuk:
analisis, sintesa dan evaluasi) mengorganesasikan bahan dan dan pikiran serta
membanding-bandingkan.
-dapat mengukur siswa dengan kesanggupannya untuk menjawab dengan pertanyaan
dengan kata-katanya sendiri.
-mengurangi unsur spekulasi jawaban dari siswa dan membatasi kemungkinan nyontek.
Dll.
Kelemahan-keburukkanya :
-pengaruh sobyektif guru cenderung berperan pada saat menetapkan/memutuskan skor
penilaian.
-kurang representatif, artinya tidak dapat mencakup semua materi yang telah diajarkan.
-waktu yang digunakan untuk memeriksa relatif lama, kemungkinan untuk menafsirkan
soal secara berbeda terbuka dengan lebar.
Saran-saran atau anjuran :
Berdasarkan kebaikan dan kelemahan yang dimiliki dalam tes esai disarankan untuk
digunakan apabila :
-jumlah siswa yang diuji tidak terlalu banyak.
-guru ingi mengetahui perkembangan ketrampilan siswanya
-guru ingin mengetahuii kerangka berpikir siswa atau proses berpikir, jadi bukan
pola hasil berpikir.
20
2.Tes objektif.

Tes Objektif adalah tes yang memperhadapkan beberapa pilihan kepada siswa dan
siswa hanya memilih satu dari antara beberapa kemungkinan jawaban yang disediakan.
Selain itu juga tes objektif juga biasanya menuntut siswa untuk memberi jawaban
singkat atau mengisi titik-titik di tempat yang disediakan. Tes objektif biasanya dibagi
menjadi : tes benar salah, tes pilihan ganda, tes menjodohkan, dan tes isian atau
melengkapi.
Kelebihan atau kebaikan :
-mempunyai validitas yang tinggi,
-memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.
-dapat mencakup seluruh materi yang telah diajarkan dan meliputi beberapa jenis
kecakapan, misal : petunjuk dan pengerjaannya lebih mudah, skoring lebih mudah dan
lebih cepat dibandingkan dengan tes esai. Item-item tes objektif dapat dianalisis untuk
peningkatan mutu tes yang akan datang.
Kelemahan dan keburukkanya.
-cara membuatnya memerlukan waktu, tenaga dan ketekunan yang cukup ekstra.
-tidak dapat mengukur seluruh aspek kepribadian siswa karena hanya tepat
mengukur aspek ingatan atau pengetahuan(kognetif).
-jawaban anak belum merupakan jaminan keadaan anak yang sesungguhnya, aspek
spekulasi dalam menjawab sangat tinggi.
Saran-saran atau anjuran :
-jumlah sisw yang diuji terlalu banyak.
-guru menekankan hasil pemahaman siswa secara menyeluruh.
-guru ingin mengujikan semua bahn yang telah diajarkan.
3. Tes Lisan.
Tes ini membawa guru dan siswa kedalam tatap muka secara pribadi. Guru mengajukan
pertanyaan secara lesan dan siswa langsung menjawab secara lesan pula.
Kelebihan atau kebaikan :
-dapat mengukur tujuan pengajaran yang tidak dapat diukur melalui tes tertulis. Misal ;
ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan membedakan sesuatu.
-tes lesan berguna dalam tes individual, tes ini memungkinkan pertanyaanpertanyaannya dapat ditambah dalam bidangtertentu apabila guru merasa perlu
memberkannya.
Kelemahan dan keburukkanya :
-menggunakan/memakan banyak waktu.
-memerlukan pertanyaan dalam jumlah yang banyak.
-tekanan psykologis yang dialami siswa lebih tinggi.
-menyulitkan siswa yang sering bicara gagap.dll.
Uraian diatas memperlihatkan, bahwa setiap alat evaluasi mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Jadi tidak ada alat evaluasi yang sempurna. Itu berarti tidak ada alat
evaluasi yang mutlak, jika demikian alat evaluasi mana yang akan dipakai, maka
diserahkan kepada pemakai evaluasi tersebut dengan memperhatikan kesesuaian dalam
penggunaannya.
21
b.Menentukan jenis penilaian.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan


menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam
pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis
maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau
produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
1. portofolio/portfolio,
2. unjuk kerja/performance,
3. penugasan/project,
4. hasil kerja/product
5. tes tertulis/paper and pen.
1.Penilaian melalui portofolio.
a.Merupakan penilaian berkelanjutan dengan dasar berbagai informasi
yang menunjukkan perkembangan siswa pada periode tertentu.
b.Berguna untuk melakukan perbaikan. Dapat berupa karya peserta didik,
karangan, naskah hotbah/renungan, tulisan doa, puisi, naskah drama,
piagam, paper, gambar/tulisan, laporan, desain, komposisi musik.
Kumpulan tersebut merupakan refleksi perkembangan siswa.
2.Penilaian melalui unjuk kerja.
a. Dilakukan dengan mengamati kegiatan atau kinerja siswa dalam melakukan
sesuatu.
b. Merupakan cara yang lebih otentik daripada tes tertulis, karena lebih
mencerminkan kemampuan sebenarnya.
c. Semakin banyak pengamatan dilakukan, semakin dapat dipercaya hasilnya.
d. Penilaian melalui penyajian lisan: ketrampilan berbicara, berpidato,berkhobah,
menyampaikan renungan, berdoa, berdiskusi, memecahkan masalah dalam
kelompok , menari, memainkan alat musik, mengoperasikan komputer,
mengerjakan program tertentu komputer.
3.Penilaian melalui penugasan/project.
a. Penilaian melalui proyek yang dilakukan karena tugas tertentu.
b.Tugas yang dilakukan untuk melakukan investigasi sejak dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan data dan penyajian data.
c.Sering melibatkan pencarian data primer dan sekunder.
Mengevaluasi secara kritis hasil penyelidikan, hasil kerja tertentu, kerjasama
dengan orang lain.
d.Penilaian melalui proyek berguna untuk memahami pengetahuan dan pemahaman
siswa untuk bidang tertentu berkaitan dengan teologi, gereja, mengaplikasikan
pengetahuan dalam penyelidikan tertentu, mengetahui kemampuan siswa dalam
menginformasikan subjek tertentu.
22
4.Penilaian melalui produk.

a.Penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk seni, teknologi,


hasil karya tangan, alat peraga sekolah minggu, dekorasi kristiani, penampilan
tertentu, produk program power point, program flash, ICT.
b.Cara ini tidak hanya melihat hasilnya tapi juga proses pembuatannya, bagaimana
menggunakan peralatan dengan aman, penampilan menarik.
5.Penilaian melalui tes tertulis (paper and pen).
a. Bisa dilakukan untuk waktu terbatas dan kondisi tertentu.
b. Soal dan jawaban diberikan kepada siswa dalam bentuk tulisan.
c. Ada dua bentuk soal tertulis:
(1) memilih jawaban: pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah), menjodohkan,
(2) soal dengan mensuplai jawaban, isian atau melengkapi jawaban singkat atau
pendek, meminta jawaban uraian.

23
BAB III. Analisis Butir-butir Soal.

A. Pengertian
Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan
guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses
pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat
keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308). Tujuan penelaahan adalah untuk
mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal
digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan
tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi
diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah
diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan
informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan
peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.
Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara
kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciriciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172) atau prosedur peningkatan secara
judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham, 1995: 195). Analisis
kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif
mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas
soal dan reliabilitasnya.
Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu
penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing
memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan
keduanya (penggabungan). Kedua cara ini diuraikan secara rinci dalam buku ini.
B.Manfaat Soal yang Telah Ditelaah
Tujuan utama analisis butir soal dalam sebuah tes yang dibuat guru adalah untuk
mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran
(Anastasi dan Urbina, 1997:184). Berdasarkan tujuan ini, maka kegiatan analisis butir
soal memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah: (1) dapat membantu para
pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan, (2) sangat relevan bagi
penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa di
kelas, (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif, (4) secara materi dapat
memperbaiki tes di kelas, (5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas (Anastasi and
Urbina, 1997:172). Di samping itu, manfaat lainnya adalah: (1) menentukan apakah
suatu fungsi butir soal sesuai dengan yang diharapkan, (2) memberi masukan kepada
siswa tentang kemampuan dan sebagai dasar untuk bahan diskusi di kelas, (3)
memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa, (4) memberi masukan pada aspek
tertentu untuk pengembangan kurikulum, (5) merevisi materi yang dinilai atau diukur, (6)
meningkatkan keterampilan penulisan soal (Nitko, 1996: 308-309).

24

Linn dan Gronlund (1995: 315) juga menambahkan tentang pelaksanaan kegiatan
analisis butir soal yang hiasanya didesain untuk menjawab pert anyaan-pertanyaan
berikut ini.
(1) Apakah fungsi soal sudah tepat? (2) Apakah soal ini memiliki tingkat kesukaran yang
tepat? (3) Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan? (4) Apakah pilihan
jawabannya efektif? Lebih lanjut Linn dan Gronlund (1995: 3 16-318) menyatakan bahwa
kegunaan analisis butir soal bukan hanya terbatas untuk peningkatkan butir soal, tetapi ada
beberapa hal, yaitu bahwa data analisis butir soal bermanfaat sebagai dasar: (1) diskusi
kelas efisien tentang hasil tes, (2) untuk kerja remedial, (3) untuk peningkatan secara
umum pembelajaran di kelas, dan (3) untuk peningkatan keterampilan pada konstruksi tes.
Berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal adalah: (1) untuk menentukan
soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi penggunaannya; (2) untuk meningkatkan butir soal
melalui tiga komponen analisis yaitu tingkat kesukaran, daya pembeda, dan pengecoh soal,
serta meningkatkan pembelajaran melalui ambiguitas soal dan keterampilan tertentu yang
menyebabkan peserta didik sulit. Di samping itu, butir soal yang telah dianalisis dapat
memberikan informasi kepada peserta didik dan guru seperti contoh berikut ini.
DATA KEMAMPUAN PESERTA DIDIK

NAMA
SISWA

NOMOR SOAL*
5

10

A
B
C
D
E
JUMLAH

1
I
0
1
1
4

1
1
0
0
1
3

1
1
0
1
1
4

1
1
1
0
0
3

1
1
0
0
0
2

1
0
1
0
0
2

0
1
1
0
0
2

1
0
0
0
0
1

0
0
1
1
0
2

0
0
1
1
0
2

SKOR
KETERANGAN
TOTAL#
7
6
5
4
3

Normal
Normal
Mengantuk dll.
Menebak
Lamban, berat

Keterangan:
1 = soal yang dijawab benar
0 = soal yang dijawab salah

* Soal disusun dari soal yang paling mudah sampai dengan soal yang paling sukar
# Disusun dari skor yang paling tinggi sampai dengan skor paling rendah
Dari data di atas seperti soal nomor 3, 8, dan 4 (hanya dapat dijawab benar oleh 1, 2, dan 2 peserta didik) dapat
memberikan informasi kepada guru atau pengawas tentang materi soal itu yang telah diajarkan kepada peserta
didik. Mereka dapat memperbaiki diri berdasarkan informasi/data di atas. Informasi itu misalnya berupa 10
pertanyaan introspeksi diri atau penilaian diri seperti berikut ini.

PENILAIAN DIRI
NO

ASPEK YANG DITANYAKAN

1.

Apakah guru membuat persiapan mengajar khususnya materi yang


bersangkutan?
Apakah guru menguasai materi yang bersangkutan?
Apakah guru telah mengajarkan secara maksimal materi yang
sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai peserta
didik?

2.
3.

YA

TIDAK

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Apakah perilaku yang diukur pada materi yang ditanyakan dalam


soal itu sudah tepat (harus dikuasai siswa)?
Apakah materi yang ditanyakan merupakan materi urgensi,
kontinyuitas, relevansi, dan keterpakaian dalam kehidupan seharihari tinggi?
Apakah guru memiliki kreativitas dalam memelajarkan materi
yang bersangkutan?
Apakah guru mampu membangkitkan minat dan
kegiatan belajar peserta didik khususnya dalam
membelajarkan materi yang bersangkutan?
Apakah guru telah menyusun kisi-kisi dengan tepat sebelum
menulis soal?
Apakah guru menulis soal berdasarkan indikator
dalam kisi-kisi dan kaidah penulisan soal serta menyusun
pedoman penskoran atau pedoman pengamatannya?
Apakah soal nomor 3, 8, dan 4 valid yaitu memiliki daya beda
tinggi, tidak salah kunci jawaban, pengecohnya
berfungsi, atau memang materinya belum diajarkan?

Keterangan: Secara jujur berilah tanda (V) pada kolom Ya dan Tidak.
C. Analisis Butir Soal Secara Kualitatif.

a. Pengertian
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah
penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan
sebelum soal digunakan/diujikan.
Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah
dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya.
Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan
penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4)
kamus bahasa Indonesia.
b. Teknik Analisis Secara Kualitatif
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif,
diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel.
Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang
sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersamasama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi,
penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar belakang psikologi.
Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan
kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari/
memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta
diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama,
perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama
untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.
26

Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah
berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi,
bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh
beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir-butir soal yang akan
ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para
penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendirisendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada
teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya
yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.
Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang materi yang diujikan,
beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal memiliki keterampilan, seperti
guru yang mengajarkan materi itu, ahli materi, ahli pengembang kurikulum, ahli
penilaian, psikolog, ahli bahasa, ahli kebijakan pendidikan, atau lainnya.
c. Prosedur Analisis Secara Kualitatif
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format penelaahan soal
akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan
soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan
soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, tes
perbuatan dan instrumen non-tes.
Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format penelaahan soal, maka para
penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya. Petunjuknya adalah
seperti berikut ini.
1. Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format!
2. Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan
kriteria!
3. Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan
kriteria, kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan
perbaikannya.

27

1.

Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Uraian


FORMAT PENELAAHAN BUTIR SOAL BENTUK URAIAN
Mata Pelajaran
Kelas/semester
Penelaah

: .................................
: .................................
: .................................

No. Aspek yang ditelaah


A.
1
2
3

B
5
6
7
8

Materi
Soal sesuai dengan indikator
(menuntut tes tertulis untuk
bentuk Uraian)
Batasan pertanyaan dan
jawaban yang diharapkan
sudah sesuai
Materi yang ditanyakan
sesuai dengan kompetensi
(urgensi, relevasi,
kontinyuitas, keterpakaian
sehari-hari tinggi)
Isi materi yang ditanyakan
sesuai dengan jenjang jenis
sekolah atau tingkat kelas
Konstruksi
Menggunakan kata tanya atau
perintah yang menuntut
jawaban uraian
Ada petunjuk yang jelas
tentang cara mengerjakan
soal
Ada pedoman penskorannya
Tabel, gambar, grafik, peta,
atau yang sejenisnya
disajikan dengan jelas dan
terbaca

Nomor Soal

1 2 3 4 5 6 7 8 9

No. Aspek yang ditelaah

Nomor Soal

1 2 3 4 5 6 7 8 9

C. Bahasa/Budaya
9 Rumusan kalimat coal
10 komunikatif
Butir soal menggunakan
11 bahasa Indonesia yang baku
Tidak menggunakan
kata/ungkapan yang
12 menimbulkan penafsiran
ganda atau salah pengertian
13 Tidak menggunakan bahasa
yang berlaku setempat/tabu
Rumusan soal tidak
mengandung
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!

2.

Format Penelaahan Soal Bentuk Pilihan Ganda


FORMAT PENELAAHAN SOAL BENTUK PILIHAN GANDA
Mata Pelajaran
Kelas/semester
Penelaah

: .................................
: .................................
: .................................

No.

Aspek yang ditelaah

A.
1

Materi
Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes
tertulis untuk bentuk pilihan ganda
Materi yang ditanyakan sesuai dengan
kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas,
keterpakaian sehari-hari tinggi)
Pilihan jawaban homogen dan logis
Hanya ada satu kunci jawaban

2.
3.
4.
B.
5.
6.

Konstruksi
Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan
tegas
Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban
merupakan pernyataan yang diperlukan saja

Nomor Soal

No.

Aspek yang ditelaah

7.

Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci


jawaban
Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat
negatif ganda
Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari
segi materi
Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya
jelas dan berfungsi
Panjang pilihan jawaban relatif sama
Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan
"semua jawaban di atas salah/benar" dan
sejenisnya
Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu
disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka
atau kronologisnya
Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal
sebelumnya

8
9.
10.
11.
12.
13.
14.
C.
15.
16.
17.
18.

Nomor Soal

Bahasa/Budaya
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah
bahasa Indonesia
Menggunakan bahasa yang komunikatif
Tidak menggunakan bahasa yang berlaku
setempat/tabu
Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok
kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan
pengertian
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!

30

3.Format Penelaahan untuk Instrumen Perbuatan


FORMAT PENELAAHAN SOAL TES PERBUATAN
Mata Pelajaran
Kelas/semester

: .................................
: .................................

Penelaah

: .................................

No. Aspek yang ditelaah

Nomor Soal

...

A. Materi
1. Soal sudah sesuai dengan indikator (menuntut tes
perbuatan: kinerja, hasil karya, atau penugasan)
2. Pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah
3. sesuai
Materi sesuai dengan tuntutan kompetensi (urgensi,
4. relevansi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari
tinggi)
Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis
sekolah taua tingkat kelas
B.
5.
6.
7.
8.

Konstruksi
Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut
jawaban perbuatan/praktik
Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengejakan soal
Ada pedoman penskorannya
Tabel, peta, gambar, grafik, atau sejenisnya disajkian
dengan jelas dan terbaca

C.
9.
10.
11.

Bahasa/Budaya
Rumusan soal komunikatif
Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku
Tidak menggunakan kata /ungkapan yang
menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian
12. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku
13. setempat/tabu
Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkatpan
yang dapat menyinggung perasaan siswa
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang
ditelaah!

4. Format Penelaahan untuk Instrumen Non-Tes


FORMAT PENELAAHAN SOAL NON-TES

Nama Tes
Kelas/semester
Penelaah

: .................................
: .................................
: .................................

No. Aspek yang ditelaah


A.
1.

Materi
Pernyataan/soal sudah sesuai dengan rumusan indikator
dalam kisi-kisi.
2. Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai
dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap:
aspek koginisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan
positif atau negatifnya).

B.
3.

Konstruksi
Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi
20 kata) dan jelas.
4. Kalimatnya bebas dari pernyaatn yang tidak relevan
objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan
pernyataan yang diperlukan saja.
5. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif
ganda.
6. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada
masa lalu.
7. Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau dapat
diinterpretasikan sebagai fakta.
8. Kalimatnya bebas dari pernyataan dapat
diinterpretasikan lebih d Kalimatnya bebas dari
pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan
oleh hampir semua responden.
9. Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara
lengkap.
10. Kalimatnya bebas dari pernyaan yang tidak pasti pasti
seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun,
tidak pernah.
11. Jangan banyak menggunakan kata hanya, sekedar,
semata-mata.
12. Gunakan seperlunya.
C. Bahasa/Budaya
13. Bahsa soa harus komunikatif dan sesuai dengan
jenjang pendidikan siswa atau responden.

Nomor Soal

...

Nomor Soal

No. Aspek yang ditelaah

...

14. Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.


15. Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku
setempat/tabu.
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang
ditelaah!

33
D. Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif.
a. Pengertian
Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal
didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data empirik ini
diperoleh dari soal yang telah diujikan.
b. Analisis Butir Soal
Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara
klasik dan modern.
1.

Klasik
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal
melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu
butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik.
Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, dapat dilaksanakan
sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, murah, sederhana,
familier dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel
kecil (Millman dan Greene, 1993: 358).
Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah
seperti beberapa contoh di bawah ini.
1. Langkah pertama yang dilakukan adalah menabulasi jawaban yang telah
dibuat pada setiap butir soal yang meliputi berapa peserta didik yang: (1)
menjawab benar pada setiap soal, (2) menjawab salah (option pengecoh),
(3) tidak menjawab soal. Berdasarkan tabulasi ini, dapat diketahui

tingkat kesukaran setiap butir soal, daya pembeda soal, alternatif


jawaban yang dipilih peserta didik.
2. Misalnya analisis untuk 32 siswa, maka langkah (1) urutkan skor siswa
dari yang tertinggi sampai yang terendah. (2) Pilih 10 lembar jawaban
pada kelompok atas dan 10 lembar jawaban pada kelompok bawah. (3)
Ambil kelompok tengah (12 lembar jawaban) dan tidak disertakan dalam
analisis.
34
(4) Untuk masing-masing soal, susun jumlah siswa kelompok atas dan
bawah pada setiap pilihan jawaban. (5) Hitung tingkat kesukaran pada
setiap butir soal. (6) Hitung daya pembeda soal. (7) Analisis efektivitas
pengecoh pada setiap soal (Linn dan Gronlund, 1995: 318-319).
Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah
setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir,
dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi
jawaban pada setiap pilihan jawaban.
a. Tingkat Kesukaran (TK)
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal
pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk
indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam
bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00 (Aiken (1994: 66).
Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil
hitungan, berarti semakin mudah soal itu.
Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang
menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa
menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan
untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh
peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat
kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif.
Rumusnya adalah seperti berikut ini (Nitko, 1996: 310).

Tingkat Kesukaran (TK )

Jumah siswa yang menjawab benar butir soal


Jumlah siswa yang mengikuti tes

Fungsi tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes.
Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang
memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan
butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi/sukar, dan untuk
keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat
kesukaran rendah/mudah.
35
Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal bentuk uraian digunakan
rumus berikut ini.
Mean

Jumah skor.siswa peserta tes pada suatu soal


Jumlah peserta didik yang mengikuti tes

Tingkat Kesuli tan

Mean
Skor maksimum yang ditetapkan

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan


tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat
dicontohkan seperti berikut ini.
0,00 - 0,30 soal tergolong sukar
0,31 - 0,70 soal tergolong sedang
0,71 - 1,00 soal tergolong mudah
Tingkat kesukaran butir soal dapat mempengaruhi bentuk distribusi total
skor tes. Untuk tes yang sangat sukar (TK= < 0,25) distribusinya berbentuk
positif skewed, sedangkan tes yang mudah dengan TK= >0,80) distribusinya
berbentuk negatif skewed.
Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi
guru dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran (Nitko, 1996: 310-313).
Kegunaannya bagi guru adalah: (1) sebagai pengenalan konsep terhadap
pembelajaran ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasil
belajar mereka, (2) memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum
atau mencurigai terhadap butir soal yang bias. Adapun kegunaannya bagi
pengujian dan pengajaran adalah: (a) pengenalan konsep yang diperlukan
untuk diajarkan ulang, (b) tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan
pada kurikulum sekolah, (c) memberi masukan kepada siswa, (d) tandatanda kemungkinan adanya butir soal yang bias, (e) merakit tes yang
memiliki ketepatan data soal.

36
Di samping kedua kegunaan di atas, dalam konstruksi tes, tingkat kesukaran
butir soal sangat penting karena tingkat kesukaran butir dapat: (1)
mempengaruhi karakteristik distribusi skor (mempengaruhi bentuk dan
penyebaran skor tes atau jumlah soal dan korelasi antarsoal), (2)
berhubungan dengan reliabilitas. Menurut koefisien alfa clan KR-20,
semakin tinggi korelasi antarsoal, semakin tinggi reliabilitas (Nunnally,
1981: 270-271).
Tingkat kesukaran butir soal juga dapat digunakan untuk mempredikst alat
ukur itu sendiri (soal) dan kemampuan peserta didik dalam memahami
materi yang diajarkan guru. Misalnya satu butir soal termasuk kategori
mudah, maka prediksi terhadap informasi ini adalah seperti berikut.
1) Pengecoh butir soal itu tidak berfungsi.
2) Sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu; artinya bahwa
sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.
Bila suatu butir soal termasuk kategori sukar, maka prediksi terhadap
informasi ini adalah seperti berikut.
1) Butir soal itu "mungkin" salah kunci jawaban.
2) Butir soal itu mempunyai 2 atau lebih jawaban yang benar.
3) Materi yang ditanyakan belum diajarkan atau belum tuntas
pembelajarannya, sehingga kompetensi minimum yang harus dikuasai
siswa belum tercapai.
4) Materi yang diukur tidak cocok ditanyakan dengan menggunakan
bentuk soal yang diberikan (misalnya meringkas cerita atau mengarang
ditanyakan dalam bentuk pilihan ganda).
5) Pernyataan atau kalimat soal terlalu kompleks dan panjang.
Namun, analisis secara klasik ini memang memiliki keterbatasan, yaitu
bahwa tingkat kesukaran sangat sulit untuk mengestimasi secara tepat
karena estimasi tingkat kesukaran dibiaskan oleh sampel (Haladyna, 1994:
145). Jika sampel berkemampuan tinggi, maka soal akan sangat mudah
(TK= >0,90). Jika sampel berkemampuan rendah, maka soal akan sangat
sulit (TK = < 0,40). Oleh karena itu memang merupakan kelebihan analisis
secara IRT, karena 1RT dapat mengestimasi tingkat kesukaran soal tanpa
menentukan siapa peserta tesnya (invariance). Dalam IRT, komposisi
sampel dapat mengestimasi parameter dan tingkat kesukaran soal tanpa bias.

37
b. Daya Pembeda (DP)
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan
antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan
dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang
ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini.
1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya.
Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui
apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.
2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat
mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah
memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. Apabila
suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu,
maka butir soal itu dapat dicurigai "kemungkinannya" seperti berikut
ini.

Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat.

Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang


benar

Kompetensi yang diukur tidak jelas

Pengecoh tidak berfungsi

Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyak


siswa yang menebak

Sebagian besar siswa yang memahami materi yang


ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya
Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam
bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin
mampu soal yang bersangkutan membedakan warga belajar/siswa yang
telah memahami materi dengan warga belajar/peserta didik yang belum
memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai
dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin
kuat/baik soal itu. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak
kelompok bawah (warga belajar/peserta didik yang tidak memahami materi)
menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (warga
belajar/peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru).
Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan
menggunakan rumus berikut ini.
38

DP

BA BB
atau
1
N
2

DP

2(BA BB )
N

DP = daya pembeda soal,


BA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas,
BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah, N=jumlah siswa yang
mengerjakan tes.
Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk uraian adalah dengan
menggunakan rumus berikut ini.
DP

Mean kelompok atas Mean kelompok bawah


Skor maksimum soal

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat


kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi
yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan.
Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini (Crocker dan Algina, 1986: 315).

0,40 - 1,00
0,30 - 0,39
0,20 - 0,29
0,19 - 0,00
c.

soal diterima baik


soal diterima tetapi perlu diperbaiki
soal diperbaiki
soal tidak dipakai/dibuang

Penyebaran (distribusi) jawaban


Penyebaran pilihan jawaban dijadikan dasar dalam penelaahan soal. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia.
Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila
pengecoh:
1) paling tidak dipilih oleh 5 % peserta tes/siswa,
2) lebih banyak dipilih oleh kelompok siswa yang belum paham materi.

d. Reliabilitas Skor Tes


Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui
tingkat ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes. Indeks
reliabilitas berkisar antara 0 - 1.
39
Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi
pula keajegan/ketepatannya.
Tes yang memiliki konsistensi reliabilitas tinggi adalah akurat, reproducibel,

dan generalized terhadap kesempatan testing dan instrumen tes lainnya.


Secara rinci faktor yang mempengaruhi reliabilitas skor tes di antaranya:
1) Semakin banyak jumlah butir soal, semakin ajek suatu tes.
2) Semakin lama waktu tes, semakin ajek.
3) Semakin sempit range kesukaran butir soal, semakin besar keajegan.
4) Soal-soal yang saling berhubungan akan mengurangi keajegan.
5) Semakin objektif pemberian skor, semakin besar keajegan.
6) Ketidaktepatan pemberian skor.
7) Menjawab besar soal dengan cara menebak.
8) Semakin homogen materi semakin besar keajegan.
9) Pengalaman peserta ujlan.
10) Salah penafsiran terhadap butir soal.
11) Menjawab soal dengan buru-buru/cepat.
12) Kesiapan mental peserta ujian.
13) Adanya gangguan dalam pelaksanaan tes.
14) Jarak antara tes pertama dengan tes kedua.
15) Mencontek dalam mengerjakan tes.
16) Posisi individu dalam belajar.
17) Kondisi fisik peserta ujian.
Ada 3 cara yang dapat dilakukan menentukan reliabilitas skor tes, yaitu :
1) Keajegan pengukuran ulang: kesesuaian antara hasil pengukuran
pertama dan kedua dari sesuatu alat ukur terhadap kelompok yang
sama.
2) Keajegan pengukuran setara: kesesuaian hasil pengukuran dan 2 atau
lebih alat ukur berdasarkan kompetensi kisi-kisi yang lama.
3) Keajegan belah dua: kesesuaian antara hasil pengukuran belahan
pertama dan belahan kedua dari alat ukur yang sama.
Penggunaan rumus untuk mengetahui koefisien ketiga jenis reliabilitas di
atas dijelaskan secara rinci berikut ini.
40
e. Reliabilitas Instrumen Tes (soal bentuk pilihan ganda)
Untuk mengetahui koefisien reliabilitas tes soal bentuk pilihan ganda
digunakan rumus Kuder Richadson 20 (KR-20) seperti berikut ini.
KR 20

k
1
k 1

Keterangan:

p(1 p)
(SD )2

k
: Jumlah butir soal
(SD)2 : Varian
2. Modern
Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan
menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal. Teori
ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk
menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu scal dengan kemampuan
siswa. Nama lain IRT adalah latent trait theory (LTT), atau characteristics curve
theory (ICC).
Kalibrasi Butir Soal dan Pengukuran Kemampuan Orang.
Kalibrasi butir soal dan pengukuran kemampuan orang merupakan proses
estimasi parameter pada model respon butir. Model persamaan dasar Rasch
adalah model probabilistik yang mencakup hasil dari suatu interaksi butir soalorang. Proses mengestimasi kemampuan orang dinamakan pengukuran,
sedangkan proses mengestimasi parameter tingkat kesukaran butir soal
dinamakan kalibrasi. Jadi kalibrasi soal merupakan proses penyamaan skala soal
yang didasarkan pada tingkat kesukaran butir soal dan tingkat kemampuan
siswa. Adapun ciri suatu skala adalah mempunyai titik awal, biasanya 0, dan
mempunyai satuan ukuran atau unit pengukuran.
Prosedur estimasi dapat dilakukan dengan tangan atau komputer. Ada beberapa
langkah yang dapat dilakukan dalam mengkalibrasi butir dan menguki.r
kemampuan orang dengan tangan (Wright and Linacre, 1992: 32-45) seperti
berikut ini.
a.

b.

41
Menyusun jawaban peserta didik untuk setiap butir soal ke dalam tabel.
Dalam menyusun jawaban peserta didik untuk setiap butir ke dalam tabel
perlu disediakan kolom: (1) siswa, (2) butir soal, (3) skor siswa, dan (4)
skor butir soal. Data berbentuk angka 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk
jawaban salah.
Mengedit data
Berdasarkan model Rasch, butir soal yang dijawab siswa betul semua atau
salah semua dan siswa yang dapat menjawab dengan betul semua atau salah
semua, soal atau siswa yang bersangkutan tidak dianalisis atau dikeluarkan
dari tabel. Pada langkah kedua ini perlu disediakan tambahan kolom: (1)
proporsi skor siswa dan (2) proporsi skor butir soal. Proporsi skor peserta
didik adalah skor siswa : jumlah butir soal; sedangkan proporsi skor soal

adalah skor soal : jumlah siswa.


c.

Menghitung distribusi skor soal


Berdasarkan skor soal yang sudah diedit, maka skor soal diklasifikasikan
menjadi beberapa kelompok berdasarkan skor yang sama. Untuk
memudahkan penghitungan Distribusi skor butir soal, maka perlu disusun
beberapa kolom di dalam tabel, seperti kolom: (1) kelompok skor soal (i)
yaitu kelompok skor yang didasarkan pada skor soal yang sama, kolom ini
berhubungan langsung dengan kolom 2 dan kolom 3; (2) nomor butir soal,
(3) skor soal (Si), (4) frekuensi soal (Fi) yaitu jumlah soal yang memiliki
skorsoal sama; (5) proporsi benar (Pi) yaitu Si : jumlah peserta tes; (6)
proporsi salah (1-Pi), (7) logit (log odds unit)-proporsi salah (Xi) yaitu Ln
[(1 -Pi)/Pi],
(8) hasil kali frekuensi soal dengan logit proporsi salah (FiXi), (9) kuadrat
logit proporsi salah (FiXi)2 , (10) hasil kali frekuensi soal dengan kuadrat
logit proporsi salah(FiXi2), (11) inisial kalibrasi butir soal yaitu di = Xi nilal rata-rata skor soal, dan (12) hasil kali antara frekuensi soal dengan
kuadrat nilai rata-rata skor coal (FIX ?).

d.

Menghitung distribusi skor peserta didik.


Untuk memudahkan di dalam menghitung distribusi skor peserta didik
perlu disusun beberapa kolom yaitu kolom:
42
(1) kemungkinan skor peserta didik (r) yang disusun secara berurutan
dimulai dan skor terendah sampai tertinggi; (2) skor peserta didik, yaitu
berupa toli skor peserta didik; (3) frekuensi peserta didik (nr) yang
memperoleh skor; (4) proporsi benar (Pi-) yaitu skor peserta didik dibagi
jumlah soal, (5) logit proporsi benar (Yr) yaitu Ln [Pr/(1-Pr)]; (6) perkalian
antara frekuensi siswa dengan logit proporsi benar (nrYr); (7) logic
proporsi benar yang dikuadraktan (Yr kuadrat); (8) hasil perkalian antara
frekuensi peserta didik dengan logic proporsi benar yang dikuadratkan
(nrYr kuadrat); (9) inisial pengukuran kemampuan peserta didik (br Yr);
(10) perkalian antara frekuensi peserta didik dengan nilai rata-rata skor
peserta didik (nrYr kuadrat).

e.

Menghitung faktor ekspansi kemampuan peserta didik (x) dan kesukaran


butir soal (Y). Dalam menghitung faktor ekspansi diperlukan variasi
distribusi kelompok skor soal (U) dan variance distribusi kelompok skor
siswa (V). Faktor ekspansi kemampuan peserta didik terhadap keluasan tes

adalah X = [ (I 4-U/2,89)/ (1-UV/8,35)]" 2 Faktor ekspansi kemampuan


peserta didik terhadap penyebaran sampel adalah X =_ [ (1+U/2,89)/ (1UV/8,35)]12
f.

Menghitung tingkat kesukaran dan kesalahan standar butir soal


Dalam menghitung tingkat kesukaran dan kesalahan standar soal perlu
disusun beberapa kolom di dalam tabel, yaitu kolom: (1) kelompok skor
soal (1); (2) nomor soal; (3) inisial kalibrasi soal (d); (4) faktor ekspansi
kesukaran soal terhadap penyebaran sampel (Y); (5) tingkat kesukaran soal
atau Yd; = d;; (6) skor soal (S); (7) kesalahan standar kalibrasi soal yang
dikoreksi [SE(di)] atau SE = [ N/Si (N-Si)]ll2

g.

Menghitung tingkat kemampuan dan kesalahan standar siswa


Dalam menghitung tingkat kemampuan dan kesalahan standar siswa
disusun beberapa kolom, yaitu kolom: (1) kemungkinan skor siswa (r); (2)
initial pengukuran kemampuan siswa (br); (3) faktor ekspansi kemampuan
siswa terhadap keluasan tes (X); (4) tingkat kemampuan siswa (br) atau
(Xbr); (5) kesalahan standar pengukuran kemampuan siswa yang dikoreksi
[SE (br)] yaitu X [ L/r (L-r)]112 ; (6) peserta tes.
43

h.

Menghitung probabilitas atau peluang menjawab benar setiap butir soal


[P(0)}.
Untuk menghitung peluang menjawab benar setiap butir pada model Rasch
atau model satu parameter digunakan rumus berikut ini.
Pi (0) =

e IX - bi)
1 + e D(O - bi)

atau Pi (0) =

1 + e D(E) - bi)

Estimasi data yang lebih teliti dan akurat hasilnya adalah menggunakan
komputer seperti menggunakan program Bigsteps. Dalam program
Bigsteps, estimasi data digunakan metode Appoximation Maximum
Likelihood (PROX) dan Unconditional Maximum Likelihood (UCON).
Untuk menghasilkan hasil yang akurat, estimasi data dengan komputer
dapat melakukan iterasi maksimum untuk metode PROX, misal bisa
sampai 20
kali kemudian dilanjutkan dengan metode UCON sampai dengan 50 kali
tergantung banyaknya data. Perbedaan hasil kalibrasi pada setiap iterasi

semakin lama semakin kecil dan akan berhenti bila prosesnya sudah
terpenuhi (converge) atau lebih kecil dari 0,01.
Kriteria data sesuai dengan model Rasch adalah apabila hasil korelasi point
bhiserial tidak negatif dan outfitnya < 2 baik outfit butir soal maupun outfit
orang. Hal ini menunjukkan bahwa data adalah fit dengan model.
Maksudnya bahwa data soal sesuai dengan model Rasch atau valid yang
memiliki mean= 0 dan SD=1. Metode pengujian fit tergantung pada jumlah
butir soal dalam tes: (a) tes sangat pendek (10 atau beberapa butir), (b) tes
pendek (11-20 butir), atau (c) tes panjang ( >20 butir).

44
E. Analisis Butir Soal Dengan Kalkulator.
a. Pengertian
Analisis butir soal dengan kalkulator maksudnya adalah penelaahan butir soal
secara kuantitatif yang penghitungannya menggunakan bantuan kalkulator.
Kalkulator yang digunakan di dalam menganalisis data adalah kalkulator
scientifics atau kalkulator statistik, misalnya seperti CASIO fx - 3600P. Setiap
kalkulator, khususnya kalkulator statistik, cara pengoperasiannya tergantung
pada versinya masing-masing. Setiap versi memiliki ciri khusus dalam
pengoperasiannya. Oleh karena itu, apabila para guru membeli kalkulator
statistik pada versi terbaru, bacalah buku manualnya. Karena semua petunjuk
pengoperasionalnya ada di dalamnya.
Sebagai pengenalan awal dalam buku ini, kalkulator yang digunakan untuk
memberi penjelasan adalah menggunakan kalkulator "lama" yaitu CASIO fx3600P. Adapun penggunaannya ada 4 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1)
pembersihan data, (2) fungsi SD, (3) fungsi LR, (4) teknik merandom data.
b. Pembersihan Data
Sebelum kalkulator digunakan untuk menganalisis data sebaiknya data yang
berada di dalam kalkulator perlu dibersihkan terlebih dahulu. Maksudnya agar
hasil analisisnya tidak tercemari dengan data-data atau angka yang sudah

digunakan di dalam kalkulator.


Cara pembersihannya adalah tekan tombol ON, INV, AC. Apabila masih belum
bersih, tekanlah tombol MR, M+. Apabila masih belum bersih, tekanlah tombol
MODE, . , INV, AC.
c. Fungsi SD
Fungsi SD merupakan perhitungan yang berhubungan dengan standard
deviasi. Sebelum memulai memasukkan data, munculkanlah kata SD pada layar
kalkulator. Caranya adalah dengan menekan tombol MODE, 3. Setelah di layar
kalkulator muncul SD, maka langkah selanjutnya adalah memulai memasukkan
data.Caranya adalah memasukan hanya skor siswa (55,54,51,55,53,tidak perlu
memasukan nomor/nama siswa ) seperti berikut.
45
No.

Siswa

Skor X

Tekan tombol

1.
2.
3.
4.

A
B
C
D
E

55
5
51
55
53

RUN
RUN
RUN
RUN
RUN (Tampak di layar kalkulator 53)

Hasilnya adalah seperti berikut ini.


Menghitung
-

SD sampel
SD populasi
Mean
Jumlah data
Jumlah skor
Jumlah kuadrat skor

Tekan tombol
INV, 3
INV, 2
INV, 1
K OUT, 3
K OUT, 2
K OUT, I

Tampak di layar
kalkulator
1.673320
1.496662
53.6
5.
268
14376

d. Fungsi LR
Fungsi LR merupakan perhitungan yang berhubungan dengan Linier
Regression. Sebelum memulai memasukkan data, munculkanlah kata LR pada
layar kalkulator. Caranya adalah dengan menekan tombol MODE, 2.
Setelah di layar kalkulator muncul LR, maka langkah selanjutnya adalah
memulai memasukkan data. Caranya adalah memasukkan hanya skor siswa
(tidak perlu memasukkan "nomor/nama siswa") seperti berikut.

No. Siswa

Skor X

1.
2.
3.
4.
5.
6.

55
52
54
53
53
54

A
B
C
D
E
F

Tekan
tombol
[(...
[(...
[(...
[(...
[(
[(...
46

Tekan
tombol
75
RUN
60
RUN
66
RUN
80
RUN
85
RUN
70
RUN
(Tampak di layar kalkulator 70.
Skor Y

Hasilnya adalah seperti berikut ini.


Menghitung

Tekan tombol

Tampak di layar kalkulator

INV, 1
INV, 3
INV, 2
INV, 4
INV, 6
INV, 5
INV, 9
INV, 7
INV, 8
K OUT, 6
K OUT, I
K OUT, 2
K OUT, 3
K OUT, 4
K O U T, 5

53.5
1.0488088
0.9574271
72.66666
9.201449
8.399735
0.165793
-5.1515
1.4545
23334
17179
321
6
32106
436

Mean X
SD sampel X
SD populasi X
Mean Y
SD sampel Y
SD populasi Y
Korelasi XY
A Constant in regression
B Regression coefficients
Y
XY
SX1
ZX
Tn
V
Y'

e. Contoh Merandom data


Untuk merandom data, tekan tomhol INV dan tanda titik. Tampak di layar
misalnya angka 0,425. BiIa yang dirandom menggunakan satu digit, maka angka
yang digunakan adalah satu angka setelah koma, yaitu angka 4. Bila dua digit
yang digunakan adalah dua angka setelah koma, yaitu 42. Bila tiga digit angka
yang digunakan adalah tiga angka setelah koma, yaitu 425.
Contoh misalnya merandom kunci jawaban butir soal untuk pilihan ganda.
Kunci A= 1, B=2, C=3, D=4. Angka yang digunakan adalah hanya satu digit.
Jadi berdasarkan hasil random dari kalkulator di atas, maka soal nomor I kunci
jawabannya adalah D (karena angka 4= D). Kemudian ditekan tombol INV dan

tanda titik lagi. Tampak di layar misalnya angka 0,184; maka kunci jawaban soal
nomor 2 adalah A (karena angka 1= A). Ditekan tombol INV dan tanda titik lagi.
Tampak di layar misalnya angka 0, 865. Angka ini tidak kita pergunakan karena
batas angka yang dicari hanya sampai nomor 4, sedangkan yang muncul adalah
nomor 8. Ditekan tombol INV dan tanda titik lagi dan seterusnya sampai selesai
jumlah butir soalnya. Selamat mencoba!
47
f. Contoh Uji Validitas Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda
Karena di dalam program kalkulator tidak tersedia uji validitas butir (korelasi
point biserial) yaitu korelasi antara data nominal dan data kontinyu, maka kita
perlu menghitungnya dengan menggunakan rumus seperti berikut ini.
Xb X s
SD
Keterangan:
rpbis

pq

Xb: adalah rata-rata skor kemampuan peserta didik yang menjawab benar
Xs: adalah rata-rata skor kemampuan peserta didik yang menjawab salah
SD: adalah simpangan baku skor total
p : adalah proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban siswa
q adalah 1-p
Caranya adalah ketiklah jawaban peserta didik/responden dengan menggunakan
angka 1 (jawaban benar) dan 0 (jawaban salah).
F. Analisis Butir Soal Dengan Komputer
a. Pengertian
Analisis butir soal dengan komputer maksudnya adalah penelaahan butir soal
secara kuantitatif yang penghitungannya menggunakan bantuan program
komputer. Analisis data dengan menggunakan program komputer adalah sangat
tepat. Karena tingkat keakuratan hitungan dengan menggunakan program
komputer lebih tinggi bila dibandingkan dengan diolah secara manual atau
menggunakan kalkulator/ tangan. Program komputer yang digunakan untuk
menganalisis data modelnya bermacam-macam tergantung tujuan dan maksud
analisis yang diperlukan.
Program yang sudah dikenal secara umum adalah EXCEL, SPSS (Statitistical
Program for Social Science), atau program khusus seperti ITEMAN (analisis
secara kiasik), RASCAL, ASCAL, BILOG (analisis secara item respon teori atau
IRT), FACETS (analisis model Rasch untuk data kualitati f). Untuk memahami
program-program komputer di atas, bacalah manual programnya secara saksama,
kemudian praktikkan dengan menggunakan program komputer sebagai
latihannya. Berikut ini akan disajikan contoh program analisis data dengan
menggunakan komputer, seperti program ITEMAN, RASCAL, ASCAL,

BIGSTEP, QUEST. Selamat berlatih!


48
b. ITEMAN
ITEMAN merupakan program komputer yang digunakan untuk menganalisis
butir soal secara klasik. Program ini termasuk satu paket program dalam
MicroCATn yang dikembangkan oleh Assessment Systems Corporation mulai
tahun 1982 dan mengalami revisi pada tahun 1984, 1986, 1988, dan 1993; mulai
dari versi 2.00 sampai dengan versi 3.50. Alamatnya adalah Assessment Systems
Corporation, 2233 University Avenue, Suite 400, St Paul, Minesota 55114,
United States of America.
c. EXCEL
Excel merupakan sebuah program pengolalah data yang biasa dinamakan
"spreadsheet". Karena program ini dapat digunakan untuk mengolah data yang
berupa angka ataupun lainnya. Ada dua cara mengolah data dengan Excel, yaitu
(1) melalui program bantu khusus perhitungan statistik dan (2) melalui fungsi
statistik yang terdapat di dalam Excel.
Oleh karena itu tidak semua program Statistik ada di program Excel, seperti
halnya Uji Validitas butir soal baik soal pilihan ganda maupun bentuk uraian, uji
reliabilitas baik bentuk pilihan ganda, uraian maupun reliabilitas non-tes, dalam
hal ini harus disain secara manual. Karena di dalam program ini tidak tersedia
program tersebut.
d.SPSS (Statistical Program for Social Science)
SPSS merupakan sebuah program pengolah data yang sudah sangat dikenal di
dalarn dunia pendidikan. Penggunaannya sangat mudah untuk dipahami para
guru di sekolah. Semua data diketik di dalam format SPSS yang sudah
disediakan. Setelah selesai, kemudian tinggal memilih statistik yang akan
digunakan pada menu STATISTIC/ANALYZE. Misalnya uji validitas butir atau
reliabilitas tes, diklik pada menu ANLYZE kemudian pilih CORELATE, pilih
BIVARIAT, untuk uji reliabilitas pilih RELIABILITY. Di samping itu, program ini dapat
digunakan untuk analisis data kuantitatif secara umum, misalnya untuk uji normalitas,
homogenitas, dan linearitas data.

49
BAB IV. Laporan Evaluasi.

A.pengolahan hasil evaluasi.


Untuk bisa mengadakan pengolahan hasil evaluasi tentu seorang guru
atau pendidik sudah punya pengalaman membeuat berbagai macam alat
evaluasi yaitu Soal-soal atau bentuk-bentuk soal untuk di tes kan. Sesudah
anda membuat soal maka kegiatan selanjutnya adalah melaksanakan evaluasi,
pada saat anda melakukan evaluasi diharapkan anda paham betul untuk bisa
memberi perhatian pada aspek pengawasan. Usahakan dengan baik bahwa
siswa melaksanakan atau mengerjakan tes / soal dalam suasana yang tenang,
bebas dari tekanan, jujur, bebas dari contekan dan jauh dari keramaian. Dan
pastikan anda sebagai pendidik / guru telah menyiapkan alat evaluasi atau soal
tes yang dipakai dalam evaluasi adalah alat tes yang terbaik. Ketika siswa
telah mengerjakan soal dan menyerahkan jawaban mereka kepada anda sebagi
pendidik atau guru, maka kegiatan anda berikutnya adalah mengolah jawaban
siswa menjadi nilai, tentu langkah-langkah mewujutkan hal tersebut harus
memperhatikan tentang membedakan skor dengan nilai, menentukan skor dan
nilai, mengolah nilai dan ambil keputusan untuk menentukan nilai akhir. Mari
kita perhatikan beberapa pengertian tentang pengolahan hasil evaluasi pada
materi di bagian berikut ini.
a.Perbedaan Skor dengan Nilai dan Cara Menskor dan Menilai.
1.Perbedaan Skor dan Nilai.
Apa yang terjadi selama ini , banyak di antara kita para guru / pendidik atau
calon-calon pendidik masih mencampuradukkan antara pengertia skor dan
nilai. Coba perhatikan perbedaan mendasar dari skor dan nilai dibawah ini :
-Skor : adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan
menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab
betul oleh siswa.
-Nilai : adalah anka ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan
skor-skor lain serta telah disesuaikan pengaturannya dengan
suatu standar tertentu.
50
Perhatikan ilustrasi dibawah ini :
Seorang siswa yang memperoleh skor 40 bagi test yang menghendaki skor
maksimum 40 mempunyai arti bahwa siswa tersebut sudah menguasai
100% dan tujuan instruksional khusus yang dirancangkan oleh guru.Akan

tetapi jika skor 40 tersebut diperoleh dan pengerjaan soal test yang
menghendaki skor maksimum 100 maka skor 40 mencerminkan
40%penguasaan tujuan saja.
Dengan demikian angka 40 yang diperoleh seorang siswa setelah ia selesai
mengikuti sebuah test belum berbicara apa-apa sebelum diketahui berapa
skor maksimum yang diharapkan jika siswa tersebut dapat mengerjakannya
dengan sempurna.Angka 40 ini disebut skor mentah.
Atas dasar itulah maka untuk dapat dicatat sebagai suatu prestasi
belajar,guru diwajibkan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh
langsung dari mengerjakaan test ,menjadi skor berstandar 100.
Contoh :
Skor maksimum yang diharapkan 40.
Siswa A memperoleh skor 24.
Ini berarti bahwa sebenarnya S tersebut hanya menguasai :
24 x 100% tujuan instruksional khusus tersebut atau 40
Hanya 60% dari tujuan instruksional khusus tersebut.Maka dalam daftar
nilai,dituliskan A mendapat nilai 60.Jadi perbedaannya :
24 adalah skor
60 adalah nilai
Siswa B memperoleh skor 36.
Ini berarti bahwa B menguasai 36 x 100% dari tujuan atau 90% dari tujuan
pelajaran.
Dalam daftar nilai,B dituliskan mendapat nilai 90.
Sebelum sampai pada pembicaraan pengubahan skor menjadi nilai secara
lebih lanjut, mahasiswa kami ajak untuk memahami skor yang akan diubah
tersebut.Secara rinci,skor dapat dibedakan atas 3 macam,yaitu skor yang
diperoleh (obtained skor),skor sebenarnya (true skor) dan skor kesalahan
(error skor).
51
Skor yang diperoleh adalah sejumlah biji yang dimiliki oleh testee sebagai
hasil mengerjakan test.Kelemahan-kelemahan butir test,situasi yang tidak
mendukung,kecemasan dan lain lain faktor dapat berakibat terhadap skor
yang diperoleh ini.Apabila faktor-faktor yang berpengaruh ini muncul,baik
sebagian-sebagian ataupun menyeluruh,penilai tidak dapat mengira-ngira
seberapa cermat skor yang diperoleh siswa ini mampu mencerinkan
pengetahuan dan ketrampilan siswa yang sesungguhnya.

Skor sebenarnya (true skor)seringkali juga disebut dengan istilah skor


universe-skor alam (universe skor) adalah nilai hipotesis yang sangat
tergantung dari perbedaan individu berkenaan dengan pengetahuan yang
dimiliki secara tetap.Sebagai contoh adalah apabila seseorang diminta
untuk mengerjakan sebuah test berulang-ulang,maka rata-rata dari hasil
tersebut menggambarkan resultance dari variasi hasil yang tidak ajek.Inilah
gambaran mengenai skor sebenarnya.Akan tetapi didalam praktek tentu
tidak mungkin bahwa penilai minta kepada testee untuk mengerjakan
sebuah test secara berulang-ulang.Gambaran ini hanya untuk menunjukkan
contoh saja dalam menjelaskan pengertian skor sebenarnya.
Perbedaan antara skor yang diperoleh dengan skor sebenarnya,disebut
dengan istilah kesalahan dalam pengukuran atau kesalahan skor,atau dibalik
skor kesalahan.Hubungan antara ketiga macam skor tersebut adalah sebagai
berikut :
Skor yang
skor
+ skor
diperoleh
sebenarnya
kesalahan
2.Cara Menskor dan Menilai.
Sementara orang berpendapat bahwa bagian yang paling penting dari
pekerjaan pengukuran dengan test adalah penyusunan test.Jika alat testnya
sudah disusun sebaik-baiknya maka anggapannya sudah tercapailah sebagian
besar dari maksudnya.Tentu saja anggapan itu tidak benar sama
sekali.Penyusunan test,baru merupakan satu bagian dari serentetan pengerjaan
mengetest.
Disamping penyusunan dan pelaksanaan test itu sendiri,menskor dan menilai
merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa dari
penilai,ditambah dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu.Nama lain dari
menskor adalah memberi angka.
52
Dalam hal pekerjaan menskor atau menentukan angka,dapat digunakan 3
macam alat bantu yaitu :
1.Pembantu menentukan jawaban yang benar,disebut kunci jawaban.
2.Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah,disebut kunci
skoring.
3.Pembantu menentukan angka,disebut pedoman penilaian.
Keterangan dan penggunaannya dalam bentuk berbagai test atau
menggunakan berbagai macam alat evaluasi yang ada misalnya: mengunakan
Ragam Teknik Penilaian Beserta bentuk instrumen perhatikan Format
dibawah ini :
Tehnik
Bentuk Instrumen

1. Tes Tulis

a.Tes Isian.
b.Tes Uraian
c.Tes Pilihan Ganda.
d.Tes Menjodohkan.
e.Tes BS. Dll.

2.Tes Lesan

Daftar Pertanyaan/Instrumen.

3.Tes Unjuk Kerja

a.Tes Identifikasi
b.Tes Simulasi
c.Uji Petik kerja Produk.
d.Uji Petik Kerja Prosedur.
e.Uji Petik Kerja Prosedur dan produk.

4.Penugasan.

a.Tugas Projek.
b.Tugas Rumah.

5.Observasi

Lembar Observasi.

6.Wawancara

Pedoman Wawancara.

7.Portofolio

Dokumen-dokumen pekerjaan, karya


dan atau prestasi siswa.

8.Penilaian diri.

Lembar penilaian diri.

53
Contoh :
Perhatikan contoh salah satu dari sekian tehnik dan instrumen penilaian untuk
memberi skor dan penilaian.
Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk Pilihan Ganda
atau Multiple choice.
Dengan tes bentuk pilihan ganda,testee diminta melingkari salah satu huruf di
depan pilihan jawaban yang disediakan atau membubuhkan tanda lingkaran
atau tanda silang (X) pada tempat yang sesuai dilembar jawaban.
Untuk cara menjawab yang pertama, kita gunakan kunci jawaban misalnya
sebagai berikut :
1. C
2. A
3. B

6. C
7. A
8. A

4. B
5. A

9. B
10.C

Dalam hal menentukan kunci jawaban untuk bentuk ini langkahnya sama
dengan soal bentuk betul salah, jika kita membuat soal berbentuk betul atau
salah. Hanya untuk soal yang jumlah lebih dari 30 buah,sebaiknya
menggunakan lembar jawaban dan nomor-nomor urutannya dibuat
sedemikian rupa sehingga tidak memakan tempat.
Kunci pemberian skor untuk lembar jawaban misalnya sebagai berikut :
1. a
b
c
d
11.a b
c
d
2. a
b
c
d
12.a b
c
d
3. a
b
c
d
13.a b
c
d
4. a
b
c
d
14.a b
c
d
5. a
b
c
d
15.a b
c
d
6. a
7. X
8. a
9. a
10.a

b
b
X
b
X

c
c
c
c
c

X
d
d
X
d

16.a
17.>(
18.a
19.a
20.X

b
b
X
b
b

c
c
c
>(
c

d
d
d
d
d

54
Dalam menentukan angka untuk test bentuk pilihan ganda, dikenal 2 macam
cara pula yakni tanpa hukuman dan dengan hukuman .Tanpa hukuman apabila
banyaknya angk dihitung dari banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci
jawaban.
Dengan hukuman menggunakan rumus :
W
S=R(n-1)
Dimana :
S
= Score
W
= Wrong
(salah)
N
= Banyaknya pilihan jawaban
(yang pada umumnya di Indonesia 3,4,atau 5)
Contoh :
Banyaknya soal
:10 buah
Banyaknya yang betul
:8 buah

Banyaknya yang salah


Banyaknya pilihan

:2 buah
:3 buah

Maka skornya adalah :


2
8-(3-1)
8-1=7
b.Mengolah Nilai dan Menetapkan Nilai Akhir.
1.Mengolah Nilai.
Ada beberapa Skala Penilaian : skala Lima, skala sembilan,skala Sepuluh
skala Sebelas, skala Seratus, skala Bebas, skala Huruf, skala Z. Dan
dijelaskan beberapa skala dibawah ini :

55
Skala Bebas
Ani seorang pelajar disuatu sekolah .Pada suatu hari berlari-lari
kegirangan setelah menerima kembali kertas ulangan dari bapak guru
matematika.Diamatinya sekali lagi angka yang tertera dikertas itu.Benar,ia
tidak salah lihat!Pada sudut atas kertas itu tertulis angka 10,yaitu angka
yang diperoleh Ani dengan ulangan itu.
Pada waktu ulangan memang Ani ragu-ragu mengerjakannya.Rumus
yang digunakan sedikit ingat sedikit lupa.Dan ketika seluruh rumus hampir
teringat,waktu yang disediakan telah habis.Seberapa selesai soal itu
dikerjakan kertas ulangan harus dikumpulkan.
Setelah tiba diluar kelas,Ani berdiskusi dengan kawankawannya.Ternyata cara mengerjakan dan pendapatannya tidak sama
dengan yang lain.Tetapi mereka juga tidak yakin mana yang betul.Oleh
karena itu ketika kertas ulangan dikembalikan dan ia mendapat 10,ia
kegirangan.Ditunjukkannya kertas itukepada kawan-kawannya.Baru sampai
bertemu dengan 4 kawannya,wajahnya sudah menjadi malu tersipusipu,apa sebab?
Rupanya ia menyadari kebodohannya karena setelah melihat angka
yang diperoleh keempat orang kawannya,ternyata kepunyaan Ani lah yang
paling sedikit.Ada kawannya yang mendapat 15,20,bahkan ada yang

25.Dan kata guru,pekerjaan Tika yang mendapat angka 25 itulah yang


betul.
Dari gambaran ini nampak bahwa dalam pikiran Ani,terpancang suatu
pengertian bahwa angka 10 adalah angka tertinggi yang mungkin
dicapai.Ini memang lazim.Mungkin bukan hanya Ani saja yang berpikiran
demikian.Padahal waktu ulangan matematika ini,guru memberikan angka
paling tinggi 25 kepada mereka yang dapat mengerjakanseluruh soal
dengan betul.Cara pemberian angka seperti ini tidak salah.Hanya
sayangnya,guru tersebut barangkali perlu menerangkan kepada para
siswanya,cara mana yang digunakan untuk memberikan angka atau skor. Ia
baru pindah dari sekolah lain, Ia sudah terbiasa menggunakan skala bebas
yaitu skala yang tidak tetap. Ada kalanya skor tertinggi 20, lain kali 25, kali
lain 50. ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal, jadi angka
tertinggi dari skala yang digunakan tidak selalu sama.

56
Skala 1 10.
Apa sebab Ani dan kawan-kawannya berpikir bahwa angka 10 adalah
angka tertingi untuk nilai. Hal ini disebabkan karena pada umumnya guruguru mempunyai kebiasaan mengunakan skala 1 10 untuk laporan
prestasi belajar siswa dalam rapor. Ada kalanya juga digunakan skala 1 100, sehingga memungkinkan bagi guru untuk memberi penilaian yang
lebih halus. Dalam skala 1- 10 guru jarang memberikan angka pecahan
misal : 5,5 angka 5,5 tersebut kemudian dibulatkan menjadi 6. pada hal
angka dibulatkan menjadi 6. pada hal angka 6,4 pun akan dibulatkan
menjadi 6, dengan demikian maka rentang angka 5,5 samapi dengan 6,4
selisih hampir satu (1) akan keluar di rapor dalam satu wajah yaitu angka 6.
Skala 1 100.
Memang diseyogyakan bahwa angka itu mrupakan bulat, dengan
menggunakan skala 1-10 maka bilangan bulat yang ada masih menujukkan
penilaian yang agak kasar. Ada sebenarnya hasil prestasi yang berada
diantara kedua angka bulat itu. Untuk itulah maka dengan menggunakan
sekala 1 100 dimungkinkan dapat melakukan penilaian yang lebih halus
(akurat) karena terdap[at 100 bilangan bulat. Nilai 5.5 dan 6,4 di dalam
skala 1-10 biasa dibulatrkan menjadsi 6 tetapi dalam skala 1-100 nilai
boleh diakuratkan (halus) dengan dituliskan 55 dan 64.
Skala Huruf.

Selain angka penilaian bisa menggunakan huruf A, B, C, D dan E ( ada juga


yang menggunakan sampai G tetapi biasanya hanay sampai E ). Sebenarnya
sebutan skala diatas ini ada yang mempersoalkan, yaitu jarak antara huruf
A dan B tidak dapat digambarkan sama dengan jarak antara B dan C atau
antara C dan D.
Dalam menggunakan angka dapat dibuktikan dengan garis bilangan bahwa
jarak antara 1 dan 2 sama dengan jarak 2 dan 3, demikian pula jarak antara
3 dan 4 serta antara 4 dan 5.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

57
Akan tetapi justru alasan inilah lalu timbul pikiran untuk
menggunakan huruf sebagai alat penilaian. Untuk menggambarkan
kelemahan dalam mengunakan angka adalah bahwa dengan angka dapat
ditafsirkan sebagi nilai perbandingan. Misal : siswa A yang memperoleh
angka 8 dalam sejarah tidak berarti memiliki kecakapan sbanyak dua kali
lipat dari kecakapan siswa B yang memperoleh angka 4 dalam rapor.
Demikian pula siswa A tesebut tidaklah mempunyai 8/9 kali kecakapan C
yang mendapat nilai 9.Jadi sebenarnya menggunakaan angka hanya
merupakan simbol yang menunjukan urutan tingkatan. Siswa A yang
memperoleh angka 8 memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa B yang memperoleh angka 4, tetapi kecakapannya itu lebih
rendah jika dibandingkan dengan kecakapan C .Jadi dalam tingkatan
prestasi sejarah urutannya adalah C, A ,lalu B.
Huruf terdapat dalam urutan abjad. Penggunaan huruf dalam penilaian
akan terasa lebih tepat digunakan karena tidak ditafsirkan sebagai arti
perbandingan. Huruf tidak menunjukan kuantitas, tetapi dapat digunakan
sebagai simbol untuk menggambarkan kualitas. Oleh karena itu dalam
mengambil jumlah atau rata-rata ,akan dijumpai kesulitan. Pada hal dalam
mengisi rapor, kita tidak dapat terlepas dari pekerjaan mengambil rata-rata.
Sebagai contoh, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel pertandingan nilai 3 kali ulangan

Bagi Suryo dan Sandra, rata-rata dari ketiga nilai ulangan ke-1,ke-2,dan ke3 dengan mudah dapat ditentukan, yaitu A untuk Suryo dan C untuk Sandra.
Akan tetapi bagi siswa lain mudahkah diambil rata-ratanya? dapatkah nilai
tono diambil rata-ratanya menjadi B? Bagaimanakah menentukan nilai ratarata dari nilai kepunyaan Sartini, Aryani,dan Nunung?
58
Ada satu cara yang digunakan untuk mengambil rata-rata dari huruf, yaitu
dengan mentransfer nilai huruf tersebut menjadi nilai angka dahulu.Yang
sering digunakan, satu nilai huruf itu mewakili satu rentangan nilai angka.
Sebagai contoh adalah nilai huruf yang terdapat pada Tabel konversi skor.
Nilai angka dan huruf yang kami contohkan dalam buku Petunjuk Kegiatan
Akademik IKIP Yogyakarta sebagai berikut :
Angka 100 angka 1 -100 sekali
66
56
40
30

- 79
- 65 kip
- 55 ng
- 39 gagal

Dengan mengembalikan dahulu nilai huruf itu ke nilai angka,maka dengan


mudah dapat dicari rata-ratanya.
(perhatiakan beberapa rumusan dalam Skala pada lampiran buku modul ini)
2.Menetapkan Nilai Akhir.
Perhatikan ke empat nama siswa dibawah ini, kemudian menurut anda
siapakah diantara nama siswa dibawah ini yang menduduki rangking teratas
dan anda bisa menentukan sebuah putusan untuk memberikan nilai akhir
dari siswa-siswa atau peserta didik anda.
1.Thomas
2.Lukas
3.Siska

7 8 8 8 8
9 9 9 6 6
7 7 7 9 9

4.Isabel

8 7 9 6 6

Menetapkan nilai akhir merupakan sebuah penghargaan yang diberikan


kepada peserta didik kita, baik itu memuaskan atau tifdak memuaskan.
Bagi seorang siswa nilai merupakan sesuatu yang sangat penting, karena
nilai merupakan cermin hasil belajar, namun juga bukan hanya siswa saja
yang memerlukan nilai tetapi juga pada kalayak luas, coba perhatikan
kembali akan macam-macam fungsi penilaian diantaranya :
59
1.Fungsi Instruksional.
2.Fungsi Informatif.
3.Fungsi Bimbingan.
4.Fungsi administrasi. Dll.
B.Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Pada bagian ini kita akan melihat tentang pengertian dan fungsi kriteria
ketuntasan minimal (KKM)
a. Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal
Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi
adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu
dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk
menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM).
KKM harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai.
Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan
minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan
tidak lulus pembelajaran. Acuan kriteria tidak diubah secara serta merta
karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering
digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh
hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva
normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0
sesuai proporsi kurva. Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk
melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan
layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi
yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal.
Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan
berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau

beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama.


Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi
pertimbangan utama penetapan KKM.

60
Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian
kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus).
Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan
secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat
memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian
ditingkatkan secara bertahap
Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta
didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya.
Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses
dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria ketuntasan
minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai
acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik.
b. Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal
Fungsi kriteria ketuntasan minimal:
1.sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai
kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar dapat
diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan. Pendidik
harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar
dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan pengayaan;
2.sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian
mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar (KD) dan indikator ditetapkan KKM
yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan
dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai
melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus
mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan;
3.dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi
program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi

keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan


pencapaian KKM sebagai tolok ukur.
61
Oleh karena itu hasil pencapaian KD berdasarkan KKM yang ditetapkan
perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta KD-KD tiap mata
pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara perbaikan dalam proses
pembelajaran maupun pemenuhan sarana-prasarana belajar di sekolah;
4.merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan
antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM
merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta
didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan upaya
pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan
penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif
mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah
didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi
dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran.
Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan
pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran
dan penilaian di sekolah;
5.merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata
pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk
melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM
merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam
menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM
yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok
ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.
c.Mekanisme penetapan KKM
1.Prinsip Penetapan KKM
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan beberapa
ketentuan sebagai berikut:
a.Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat
dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif.

62
Metode kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh
pendidik dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman
pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode
kuantitatif dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan
penetapan kriteria yang ditentukan;
b.Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis
ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan
kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai
ketuntasan kompetensi dasar dan standar kompetensi
c.Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar (KD) merupakan ratarata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta
didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu
apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang
telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut;
d.Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan
rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut;
e.Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua
KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran,
dan dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB/Rapor) peserta didik;
f.Indikator merupakan acuan/rujukan bagi pendidik untuk membuat soal-soal
ulangan, baik Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS)
maupun Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal ulangan ataupun tugas-tugas
harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian indikator yang
diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan
seluruh hasil ulangan, karena semuanya memiliki hasil yang setara;
g.Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan adanya perbedaan
nilai ketuntasan minimal.

63
2. Langkah-Langkah Penetapan KKM

Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran.
Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut:
a. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan
mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan
intake peserta didik dengan skema sebagai berikut:
KKM
KKM
Indikator
Indikator

KKM
KKM
KD
KD

KKM
KKM
MP
MP

KKM
KKM
SK
SK

Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata
pelajaran;
b. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran
disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan
penilaian;
c. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan;
d. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada
orang tua/wali peserta didik.
3. Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penentuan kriteria ketuntasan minimal
adalah:
a. Tingkat kompleksitas, kesulitan/kerumitan setiap indikator, kompetensi
dasar, dan standar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.

64
Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi, apabila
dalam pencapaiannya didukung oleh sekurang-kurangnya satu dari sejumlah
kondisi sebagai berikut:

1. guru yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan


pada peserta didik;
2. guru yang kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang
bervariasi;
3. guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang yang
diajarkan;
4. peserta didik dengan kemampuan penalaran tinggi;
5. peserta didik yang cakap/terampil menerapkan konsep;
6. peserta didik yang cermat, kreatif dan inovatif dalam penyelesaian
tugas/pekerjaan;
7. waktu yang cukup lama untuk memahami materi tersebut karena
memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang tinggi, sehingga dalam
proses pembelajarannya memerlukan pengulangan/latihan;
8. tingkat kemampuan penalaran dan kecermatan yang tinggi agar peserta
didik dapat mencapai ketuntasan belajar.
Contoh 1.
SK 2.
: Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam
perhitungan kimia (stoikiometri)
KD 2.2 : Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukumhukum dasar kimia melalui percobaan serta menerapkan konsep
mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia
Indikator : Menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaksi
Indikator ini memiliki kompleksitas yang tinggi, karena untuk menentukan
pereaksi pembatas diperlukan beberapa tahap pemahaman/penalaran peserta
didik dalam perhitungan kimia.
Contoh 2.
SK 1.
: Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan
kimia
65
KD 1.1. : Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifatsifat unsur, massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur
dalam tabel periodik serta menyadari keteraturannya, melalui
pemahaman konfigurasi elektron
Indikator : Menentukan konfigurasi elektron berdasarkan tabel periodik atau
nomor atom unsur.

Indikator ini memiliki kompleksitas yang rendah karena tidak memerlukan


tahapan berpikir/penalaran yang tinggi.
2. Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan
pembelajaran pada masing-masing sekolah.
a. Sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan tuntutan
kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan,
laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran;
b. Ketersediaan tenaga, manajemen sekolah, dan kepedulian stakeholders
sekolah.
Contoh:
SK 3.
: Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktorfaktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari dan industri
KD 3.3 : Menjelaskan keseimbangan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pergeseran arah keseimbangan dengan
melakukan percobaan
Indikator : Menyimpulkan pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan,
dan volume pada pergeseran keseimbangan melalui percobaan.
Daya dukung untuk Indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai sarana
prasarana yang cukup untuk melakukan percobaan, dan guru mampu
menyajikan pembelajaran dengan baik. Tetapi daya dukungnya rendah apabila
sekolah tidak mempunyai sarana untuk melakukan percobaan atau guru tidak
mampu menyajikan pembelajaran dengan baik.

66
3. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata peserta didik di sekolah yang
bersangkutan
Penetapan intake di kelas X dapat didasarkan pada hasil seleksi pada saat
penerimaan peserta didik baru, Nilai Ujian Nasional/Sekolah, rapor SMP, tes
seleksi masuk atau psikotes; sedangkan penetapan intake di kelas XI dan XII
berdasarkan kemampuan peserta didik di kelas sebelumnya.
Contoh penetapan KKM
Untuk memudahkan analisis setiap indikator, perlu dibuat skala penilaian
yang disepakati oleh guru mata pelajaran. Contoh:

Aspek yang dianalisis

Kriteria dan Skala Penilaian


Tinggi
< 65
Tinggi
80-100
Tinggi
80-100

Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa

Sedang
65-79
Sedang
65-79
Sedang
65-79

Rendah
80-100
Rendah
<65
Rendah
<65

Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan.


Aspek yang dianalisis

Kriteria penskoran
Tinggi
1
Tinggi
3
Tinggi
3

Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa

Sedang
2
Sedang
2
Sedang
2

Rendah
3
Rendah
1
Rendah
1

Jika indikator memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan
intake peserta didik sedang, maka nilai KKM-nya adalah:
1 + 3 + 2

x 100 = 66,7
9
Nilai KKM merupakan angka bulat, maka nilai KKM-nya adalah 67.
67
Contoh:

PENENTUAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL PER KD DAN


INDIKATOR
Mata Pelajaran
Kelas/semester
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar/Indikator

: IPA
: : Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit,
serta reaksi oksidasi-reduksi
Kriteria Pencapaian Ketuntasan
Belajar Siswa (KD/Indikator)

Kriteria
Ketuntasan
Minimal

Komplek
Sitas
3.1. Mengidentifikasi sifat larutan non-elektrolit
dan elektrolit berdasarkan data hasil
percobaan
a. Menyimpulkan gejala-gejala hantaran
arus listrik dalam berbagai larutan
berdasarkan hasil pengamatan.
b. Mengelompokkan larutan kedalam
larutan elektrolit dan non elektrolit
berdasarkan sifat hantaran listriknya.
c. Menjelaskan penyebab kemampuan
larutan elektrolit menghantarkan arus
listrik.
d. Menjelaskan bahwa larutan elektrolit
dapat berupa senyawa ion dan senyawa
kovalen polar

Daya
dukung

Intake

Penge
t

Prak
tik

72

72

Rendah
(80)

Tinggi
(80)

Sedang
(70)

76,6

Sedang
(70)

Tinggi
(80)

Sedang
(70)

73,3

Tinggi
(65)

Tinggi
(80)

Rendah
(65)

70

Tinggi
(65)

Tinggi
(80)

Rendah
(65)

70

Nilai KKM KD merupakan angka bulat, maka nilai KKM 72,47 dibulatkan
menjadi 72.
68
Mata Pelajaran
Kelas/semester
Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar/Indikator

: IPA
: : Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit.
Kriteria Pencapaian Ketuntasan
Belajar Siswa (KD/Indikator)
Komplek
sitas

Daya
dukung

Intake

Kriteria
Ketuntasan
Minimal
Prak
PPK
tik

3.1. Mengidentifikasi sifat larutan non-elektrolit


dan elektrolit berdasarkan data hasil
percobaan
a. Menyimpulkan gejala-gejala hantaran
arus listrik dalam berbagai larutan
berdasarkan hasil pengamatan.
b. Mengelompokkan larutan kedalam
larutan elektrolit dan non elektrolit
berdasarkan sifat hantaran listriknya.
c. Menjelaskan penyebab kemampuan
larutan elektrolit menghantarkan arus
listrik.
d. Menjelaskan bahwa larutan elektrolit
dapat berupa senyawa ion dan senyawa
kovalen polar

75
Rendah
(3)

Tinggi
(3)

Sedang
(2)

88,9

Sedang
(2)

Tinggi
(3)

Sedang
(2)

77,8

Tinggi
(1)

Tinggi
(3)

Rendah
(2)

66,7

Tinggi
(1)

Tinggi
(3)

Rendah
(2)

66,7

75

Catatan: hasil rata-rata dari indikator merupakan nilai KKM untuk KD

Analisis Kriteria Ketuntasan Minimal


Pencapaian kriteria ketuntasan minimal perlu dianalisis untuk dapat
ditindaklanjuti sesuai dengan hasil yang diperoleh. Tindak lanjut diperlukan
untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan
pembelajaran maupun penilaian. Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan
pertimbangan penetapan KKM pada semester atau tahun pembelajaran
berikutnya.

69
Analisis pencapaian kriteria ketuntasan minimal bertujuan untuk mengetahui
tingkat ketercapaian KKM yang telah ditetapkan. Setelah selesai
melaksanakan penilaian setiap KD harus dilakukan analisis pencapaian KKM.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil
pencapaian peserta didik kelas X, XI, atau XII terhadap KKM yang telah
ditetapkan pada setiap mata pelajaran. Melalui analisis ini akan diperoleh data
antara lain:
1. KD yang dapat dicapai oleh 75% - 100% dari jumlah peserta didik pada kelas
X, XI, atau XII;

2. KD yang dapat dicapai oleh 50% - 74% dari jumlah peserta didik pada kelas
X, XI, atau XII;
3. KD yang dapat dicapai oleh 49% dari jumlah siswa peserta didik kelas X,
XI, atau XII.
Manfaat hasil analisis adalah sebagai dasar untuk meningkatkan kriteria
ketuntasan minimal pada semester atau tahun pembelajaran berikutnya.
Analisis pencapaian kriteria ketuntasan minimal dilakukan berdasarkan hasil
pengolahan data perolehan nilai setiap peserta didik per mata pelajaran.

70
Contoh
FORMAT
ANALISIS PENCAPAIAN KETUNTASAN BELAJAR PESERTA DIDIK PER KD

Nama Sekolah
Mata pelajaran
Kelas/semester

:
:
:

Nama Siswa
No
KKM
1
2

Pencapaian Ketuntasan Belajar Peserta Didik/KD


SK 1
SK 2
SK 3
KD
KD
KD
1.1
1.2
dst
2.1
2.2
dst
3.1
3.2

dst

..

..

..

..

..

..

..

..

..

3
4
5
dst
Rata-rata

jml siswa Frekwensi

Ketuntasan belajar (dalam %)


49
50-74
75-100
KKM sekolah

71
REKAPITULASI PENCAPAIAN KETUNTASAN BELAJAR MINIMAL SEKOLAH

Nama sekolah
Mata pelajaran
Kelas
Kondisi bulan
No SK
SK1

SK 2
dst

:
:
:
:

KKM
Sekolah
KD.1.1
70.00
No
KD

pencapaian
75.00

KD 1.2

75.00

80.00

KD 2.1

75.00

70.00

KD 2.2

70.00

70.00

KD 2.3

65.00

67.00

Tingkat KKM sekolah


maks rerata min

Tingkat KKM pencapaian


maks rerata
Min

75

72,5

70

80

77,5

75

75

70

65

70

69

67

C.Laporan Hasil belajar.(LHB).


Penyusunan laporan hasil belajar (LHB) peserta didik pada satuan
pendidikan tingkat SMP.
a. Pengertian Rapor.
Rapor merupakan dokumen yang menjadi penghubung komunikasi baik
antara sekolah dengan orang tua peserta didik maupun dengan pihak-pihak
lain yang ingin mengetahui tentang hasil belajar peserta didik pada kurun
waktu tertentu
b. Komponen Rapor.
Komponen Rapor minimal berisi :
Petunjuk pengisian rapor
Identitas peserta didik
Kotak tabel nilai mata pelajaran
Kotak tabel nilai pengembangan diri
Kotak tabel perilaku
Kotak tabel ketidakhadiran
Lembar keterangan mutasi peserta didik
72
c. Tabel Nilai Mata Pelajaran.

d. Penjelasan Tabel Nilai Mata Pelajaran.


1. Nilai pada rapor untuk setiap mata pelajaran terdiri dari aspek-aspek
penilaian yang mengacu pada aspek yang tertuang dalam ruang lingkup
dan atau standar kompetensi. Aspek penilaian sesuai dengan standar Isi
dikembangan daerah/satuan pendidikan.
penjelasan penjabaran aspek mata pelajaran tertuang pada petujuk pengolahan rapor

2. Target Pencapaian Kompetensi (TPK) merupakan target ketuntasan


minimal untuk setiap aspek penilaian mata pelajaran, yang telah
ditentukan dalam KTSP masing-masing sekolah.
3. Nilai merupakan rerata nilai masing-masing aspek penilaian setiap mata
pelajaran. Kolom angka pada nilai diisi dengan angka dalam skala 10-100.
penjelasan tentang pengolahan nilai rapor tertuang pada petunjuk pengolahan rapor

4. Catatan Guru merupakan deskripsi pencapaian kompetensi peserta didik.


contoh deskripsi catatan guru tertuang dalam petunjuk pengelolaan rapor

e. Tabel nilai pengembangan diri

Penjelasan :
Jenis pengembangan diri diisi sesuai dengan pilihan kegiatan yang
dipilih oleh peserta didik.
Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif.
Keterangan merupakan uraian kemampuan, prestasi, dan predikat
yang telah dicapai oleh peserta didik.

74
f. Tabel ketidak hadiran.

g. Mekanisme kenaikan kelas.


1. Kenaikan kelas dilaksanakan satuan pendidikan pada setiap akhir tahun.
2. Peserta didik dinyatakan naik kelas, apabila yang bersangkutan telah
mencapai kriteria ketuntasan minimal
3. Peserta didik dinyatakan harus mengulang di kelas yang sama bila,
a.Memperoleh nilai kurang dari kategori baik pada kelompok mata
pelajaran agama dan akhlak mulia
b.Jika peserta didik tidak menuntaskan standar kompetensi dan
kompetensi dasar lebih dari empat mata pelajaran sampai pada
batas akhir tahun pelajaran, dan

c.Jika karena alasan yang kuat, misal karena gangguan kesehatan


fisik, emosi atau mental sehingga tidak mungkin berhasil dibantu
mencapai kompetensi yang ditargetkan.
penjelasan cara penghitungan ketuntasan mata pelajaran sampai akhir tahun pelajaran
tertuang pada petunjuk pengolahan rapor

4. Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai peserta didik untuk semua
indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang ketuntasan
belajar minimumnya sudah dicapai, minimal sama dengan yang dicapai
pada tahun sebelumnya.

75
h. Diversifikasi Rapor KTSP.
Rapot KTSP ini sebagai model. Dinas pendidikan dan atau satuan pendidikan
dapat mengembangan rapor sesuai dengan kebutuhan KTSP yang
dikembangkan berdasarkan petunjuk pengelolaan rapor
Contoh daftar nilai dengan pembobotan.

76
Daftar Pustaka :
a.Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, BPK Gunung Mulia,Jakarta.
b.W.James Popham, Evaluasi Pengajaran, Kanesius, Yogyakata.
c.Ign. Masidjo, Penilaian Pencapaian Hasil Belajar, Kanesius,
Yogyakarta,1995.
d.Purwanto,Ngalim m, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,
Remaja Karya, Bandung,1986.

e.Nurkancana,Wayan, Evaluasi Pendidikan, Usaha nasional, Surabaya,1986.


f.Silverius,Suke, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Grasindo, Jakarta
1990.
g.Suharsimi, Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara,
Jakarta 1993.
h.Samtando,M.S.Evaluasi Hasil Belajar, Departemen Agama RI. 1997.
i.B.Samuel Sidjabat,Strategi Pendidikan Kristen, Andi, Yogyakarta,1994.
j.Udin S Winataputra.Belajar dan Pembelajaran. Departemen Agama
RI.1997.
k.Silvirius, Suke. Evaluasi Hasil dan Umpan balik, Jakarta :Grasindo, 1990.
l.Sukardi, E dan Maramis, WF (Peny).Penilai Keberhasilan Belajar Dalam
Pendidikan kesehatan, Surabaya :Airlangga Universitas Press,1986.
m.Janse Beladina Non-Serrano, Bingkai Materi PAK SD-SMA Bina Media
Informasi, Bandung ,2005.
n.Dien Sumiyatiningsih, Mengajar Kreatif dan Menarik, Andi,
Yogyakarta,1994.
o.Departemen Pendidikan Nasional, Kumpulan Materi-materi Work Shop
Nasional, Jakarta ,2008.
i

Lampiran-lampiran:
A. Kontrak Perkuliahan.
KONTRAK PERKULIAHAN
Mata Kuliah
Kode
Bobot
Semester
Pengajar
Program Pendidikan
Jumlah Jam Tatap Muka

: Evaluasi PAK
:
: 2 SKS.
::
: Pendidikan Agama Kristen.
: 16 Kali Pertemuan.

Jam Kuliah
Tempat Kuliah

: Pukul 14.00 15.40. WIB.


: Kampus STT Diakonos Banyumas,.
Di PURWOKERTO.

1.Manfaat Mata Kuliah.


Mahasiswa Memiliki pemahaman yang lengkap mengenai Evaluasi PAK dengan
segala komponen dan unsur yang terkandung didalamnya, serta implikasinya dapat
menerapkannya dalam tugas-tugas pangilannya ditengah-tengah masyarakat, jemaat
dan dalam tugas pelayanannya dalam dunia pendidikan sebagi alat bagi Tuhan, dalam
menjalankan tugas-tugasnya.
2.Deskripsi Mata Kuliah.
Mata Kuliah ini membekali mahasiswa untuk memahami serta mengerti Evaluasi
PAK sebagai suatu sarana untuk melihat kemajuan dan perkembangan akan tugastugasnya terutama dalam rangka melihat kemajuan dan perkembangan, bahkan
terjadinya kemunduran-kemunduran umat/peserta didik dalam rangka menghantar
mereka untuk mengenal Allah Tuhannyua secara Pribadi. Oleh karena itu melalui
matakuliah Evaluasi ini Mahasiswa diajak untuk melakukan tindakan evaluasi yang
dapat dimulai dari melihat sisi pengertian evaluasi, jenis-jenis dan prosedur
penyusunan alat evaluasi, analisis butir soal sampai dengan laporan evaluasi.
ii
Dalam hal ini pengembangan dan pemberdayaan Evaluasi perlu dilakukan oleh para
Mahasisiwa atau calon-calon pendidik maupun pada siapa saja yang berkecipung
dalam Dunia pendidikan.
3.Tujuan Mata Kuliah.
Membimbing dan melengkapi mahasiswa dengan pengetahuan dan pengertian
tentang Evaluasi PAK untuk membekali mahasiswa agar dapat melaksanakan
tindakan-tindakan evaluasi didalam dunia pendidikan dan dalam tugas-tugas
pelayanannya.
4.Garis Besar Materi Kuliah.
a.pengertian Evaluasi.
b.jenis-jenis Evaluasi.

c.prosedur penyusunan alat evaluasi.


d.analisis butis soal.
e.laporan evaluasi.
5.Sitem Penilaian.
a.Presensi
15 %
b.Rangkuman Bacaan.
15%
atau Menyusun Makalah.
c.Tugas Presentasi
10%
d.UTS dan UAS
60%
------------------------------------------Jumlah
100%

iii
Catatan :
Laporan /rangkuman bacaan Buku :
a.memilih dari 1 judul buku yang ada dibawah ini.
b.memilih 3 Bab. Dalam 1 judul buku yang dikehendakinya.
c.ketik 1.5 spasi ,kertas A4. minimal 3 halam.
Judul Buku :
a.Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, BPK Gunung Mulia,Jakarta.
b.W.James Popham, Evaluasi Pengajaran, Kanesius, Yogyakata.
c.Ign. Masidjo, Penilaian Pencapaian Hasil Belajar, Kanesius,
Yogyakarta,1995.
d.Purwanto,Ngalim m, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,
Remaja Karya, Bandung,1986.
e.Nurkancana,Wayan, Evaluasi Pendidikan, Usaha nasional, Surabaya,1986.

f.Silverius,Suke, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Grasindo, Jakarta


1990.
g.Suharsimi, Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara,
Jakarta 1993.
Membuat Makalah :
a.tentang pengertian Evaluasi yang meliputi Ciri-ciri,rumusan, sifatsifat,manfaat, fungsi, prinsisp serta syarat-syarat evaluasi.
b.tentang jenis-jenis dan prosedur alat evaluasi yang meliputi dasar fungsi
evaluasi, dasar cara penilaian, dasar isi dan tujuan serta pembuatan tes baku
maupun tes guru.
c.tentang analisis butir-butir soal yang meliputi ,analisis butir soal kualitatif
beserta teknik-tekniknya, kemudian analisis butir soal kuantitatif beserta
teknik-teniknya.
d.tentang laporan evaluasi, meliputi pengolahan hasil evaluasi, kriteria
ketuntasan minimal (KKM), laporan Hasil Belajar (LHB).

iv
B. Soal-soal Latihan.
1. Menurut anda bagaimanakah rumusana pengertian evaluasi itu.
2. Dimanakah letak kesamaan dan perbedaan antara evaluasi dengan penilaian.
3. Bagaimana anda melihat ciri-ciri evaluasi jelaskan.
4. W.Gulo pernah mengutif pendapat B.S.Bloom tentang evaluasi, lalu bagaimana
W.Gulo berpendapat tentang evaluasi itu .
5.Berdasarkan Ciri-ciri evaluasi, bagaimana seorang guru menentukan
keputusannya tentang pemberian nilai terhadap siswanya.
6. Sebutkan salah satu rumusan evaluasi menurut Roetiyah.
7. Sebutkan salah satu rumusan evaluasi menurut Slameto.
8. R.Subagijo menjelaskan ada tiga sifat evaluasi, apa saja itu dan jelaskan.
9. Mengapa seorang guru harus mengadakan evaluasi terhadap siswanya.
10.Menurut Suharini Arikunto, evaluasi mempunyai makna dan fungsi bagi
semua unsur pendidikan(satuan pendidikan ) sebutkan dan jelaskan.
11.Jelaskan untuk apa manfaat penilaian.
12.Ada 5 fungsi Evaluasi apa saja sebutkan dan jelaskan.
13.Ada 8 prinsip evaluasi, sebutkan dan jelaskan.

14.Ada 8 Syarat-syarat evaluasi, sebutkn dan jelaskan.


15.Mengapa pengertian evaluasi dalam konteks PAK harus berbeda, jelaskan.
16.Sebagai guru kita sering disebut sebagai Designer of instruction, Manager of
instruction, Evaluator of student learning, jelaskan.
17.Bruce Jayce dan Marsha Weil, menjelaskan tentang 4 permodelan guru,
sebutkan dan jelaskan.
18.Dalam Desaian Instruksional Pengajaran, peran pengajar dalam pendidikan
teologi harus memiliki sikap.
19.Syarat-syarat dalam Desaian Instruksional pengajar harus memiliki dasar.
20.Spesifikasi tujuan belajar dalam dalam Desaian Instruksional pengajaran,
kompetensi yang harus dicapai antara lain.
21.Sebagai Guru bagaimana cara anda melihat model yang tepat, untuk
pengajaran PAK.
22.Tekanan pada pengajaran iman dibutuhkan model yang berbeda-beda, lalu
bagaimana pendapat thomas Groome dan Richard Osmen tentang hal tersebut.
23.Dalam evaluasi pengajaran dibedakan antara pengertian evaluasi dan
penilaian, jelaskan.
24.Apa manfaat dari penilaian pengajaran.
25.Apa fungsi dari penilaian.
v
26.Sebutkan dengan cara apa saja penilaian dapat dilakukan.
27.Bagaimanakah langkah-langkah penilaian melalui Unjuk Kerja.
28.Bagaimanakah langkah-langkah penilaian melalui Penugasan/ Project.
29.Bagaimanakah langkah-langkah penilaian melalui Peper and Pen.
30.Bagaimanakah langkah-langkah penilaian melalui portofolio.
31.Berdasarkan fungsinya evaluasi dapat dibedakan menjadi 4 sebutkan dan
jelaskan.
32.Berdasarkan cara penilaiannya ada berapa jelaskan.
33.Berdasarkan isi dan tujuan ada berapa jelaskan.
34.Berdasarkan pembuatannya ada berapa jelaskan.
35.Bagaimana anda menjelaskan konstruksi tes essay, tes lesan, tes obyektif.
36.Jelaskan kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk analisis butir soal.
37.Sebutkan apa saja manfaat dari penelaahan soal.
38.Apa manfaat dari penilaian diri jelaskan.
39.Jelaskan pengertian analisis butir soal secara Kualitatif.
40.Jelaskan teknik Analisis secara Kualitatif.
41.Apa tujuan diadakannya tes daognotis.
42.Tes psikologi meliputi tes apa saja.
43.Apa yang dimaksud tes buatan guru dengan tes baku jelaskan.
44.Dimana letak kelebihan dan kelemahan dari tes essay.
45.Sedangkan kelebihan dan kelemahan tes objektif adalah.

46.Coba anda jelaskan bagaimana prosedur tes lesan dilaksanakan.


47.lalu apa kelemahan dan kebaikan dari tes lesan tersebut.
48.apa saja manfaat dari soal yang telah di telaah.
49.Buatlah format Data kemampuan peserta didik.
50.Buatlah format penilaian diri.
51.Buatlah sedikitnya lima pertanyaan dalam aspek penilaian diri.
52.Jelaskan pengertian analisis butir soal secara Kualitatif.
53.Apa yang anda ketahui tentang teknik Analisis secara Kualitatif.
54.Bagaimana anda menjelaskan prosedur analisis secara secara kualitatif.
55.Buatlah format penelaahan butir soal bentuk uraian.
56.

C. Rumusan Skala.

D. Format Rapor SD, SMP, SMA / SMK.

E. Glosarium.
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP): badan independen yang bertugas
mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.
Evaluasi pendidikan: kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan
terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
Indikator: karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respons, yang harus dapat
dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik, untuk menunjukkan bahwa peserta didik telah
memiliki kompetensi dasar tertentu.
Judgement: pertimbangan untuk memutuskan sesuatu.
Keandalan (reliabilitas): kemampuan tes memberikan hasil yang ajeg/konsisten.

Kegiatan mandiri tidak terstruktur: kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi


pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar
kompetensi dan waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
Kemampuan afektif: kemampuan yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat
penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek.
Kemampuan kognitif: kemampuan berpikir/bernalar; kemampuan yang berkaitan dengan
pemerolehan pengetahuan dan penalaran.
Kemampuan psikomotor: kemampuan melakukan kegiatan yang melibatkan anggota
badan/ gerak fisik.
Kesahihan (validitas): kemampuan alat ukur yang memenuhi fungsinya sebagai alat ukur,
yaitu mampu mengukur apa yang harus diukur.
Kompetensi: kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai
yang diwujudkan melalui kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kompetensi Dasar: Kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik dalam
penguasaan konsep/materi yang dibelajarkan.
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): batas ketuntasan setiap mata pelajaran yang
ditetapkan oleh sekolah melalui analisis indikator dengan memperhatikan karakteristik
peserta didik, karakteristik setiap indikator, dan kondisi satuan pendidikan.
Kuesioner: sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang diberikan kepada peserta didik untuk
dijawab atau diminta pendapatnya.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): kurikulum operasional yang disusun oleh
dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
Non-tes: penilaian menggunakan pertanyaan atau pernyataan yang tidak menuntut jawaban
benar atau salah.
Pengukuran (measurement): proses penetapan ukuran terhadap suatu gejala menurut aturan
tertentu.
Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi: pengukuran berdasarkan pada klasifikasi
observasi unjuk kerja atau kemampuan peserta didik dengan menggunakan suatu standar, melalui
tes dan non-tes, yang dapat bersifat kualitatif atau kuantitatif.
Penilaian (assessment): proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik.

Penilaian antarteman: teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
mengemukakan pendapatnya mengenai kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai
hal.
Penilaian beracuan kriteria: penilaian yang membandingkan hasil belajar yang dicapai
peserta didik dengan kriteria atau standar yang ditetapkan.
Penilaian diri: teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk menilai dirinya
sendiri mengenai berbagai hal.
Penilaian inventori: teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk
mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap sesuatu objek psikologis.
Penilaian observasi: penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik
selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.
Penilaian produk: penilaian yang dilakukan terhadap proses (persiapan dan pembuatan)
serta hasil karya peserta didik.
Penilaian projek: penilaian yang dilakukan dengan memberikan tugas kepada peserta didik
untuk melakukan suatu projek yang melibatkan pengumpulan, pengorganisasian, analisis
data, dan pelaporan hasil kerjanya dalam kurun waktu tertentu.
Penugasan: pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perseorangan maupun
kelompok.
Penugasan terstruktur: kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi pembelajaran
oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi, dan
waktu penyelesaiannya ditentukan oleh pendidik.
Portofolio: kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang tertentu yang
diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan kreativitas peserta
didik
Soal pilihan ganda: soal yang menyediakan sejumlah pilihan jawaban dengan hanya ada
satu pilihan jawaban yang benar.
Standar Isi: ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria
tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan

silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
Standar Kompetensi: kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah
menyelesaikan mata pelajaran tertentu
Standar Kompetensi Lulusan: kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan
Standar Nasional Pendidikan (SNP): kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh
wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tatap muka: pertemuan formal antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran di
kelas.
Tes: penilaian menggunakan seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau
salah.
Tes lisan: tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta
didik dengan pendidik, pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan.
Tes praktik (kinerja): tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/
menampilkan/mendemonstrasikan keterampilannya.
Tes tertulis: tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan
dan/atau isian.
Ujian: kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik
sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.
Ujian nasional: kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa
mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
Ujian sekolah: kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan
oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan
salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.

Ulangan: proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik
secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan
hasil belajar peserta didik.
Ulangan akhir semester: kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur
pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester, yang cakupannya meliputi seluruh
indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
Ulangan harian: kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD) atau lebih.

Ulangan kenaikan kelas: kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap
untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan
pendidikan yang menggunakan sistem paket, dan cakupannya meliputi seluruh indikator yang
merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
Ulangan tengah semester: kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur
pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 9 minggu kegiatan
pembelajaran, yang cakupannya meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh
KD pada periode tersebut.