Anda di halaman 1dari 18

BAB II

PEMBAHASAN

A.

Masa 1951 - 1959


Pada masa ini, pemerintahan indonesia menerapkan sistem politik yang

disebut demokrasi liberal, yang disebut juga sebagai sistem politik yang sangat
demokratis. Namun seiring berjalannya waktu, sistem ini menyebabkan
kehancuran

politik

dan

perekonomian

nasional.

Konflik

politik

yang

berkepanjangan tidak memberikan kesempatan pemerintahan yang berkuasa untuk


memikirkan masalah sosial ekonomi serta menyusun suatu program pembangunan
dan melaksanakannya.
1.

Pembangunan Ekonomi
Selama periode 1950-an struktur ekonomi indonesia masih dalam

peninggalan zaman kolonial Belanda. Sektor modern, seperti pertambangan,


distribusi, transportasi, bank, dan pertanian komersial yang memiliki konstribusi
terhadap pendapatan nasional didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing yang
berorientasi pada ekspor. Keadaan perekonomian nasional semakin buruk setelah
dilakukannya nasionalisasi terhadap perusahaan asing di tanah air, termasuk
perushaan milik Belanda (Tulus T.H. Tambunan, 2001:19).
Keterpurukan perekonomian Indonesia disebabkan oleh keterbatasan akan
faktor-faktor produksi, seperti keterbatasan kemampuan wirausaha atau kapasitas
manajemen, tenaga kerja berpendidikan, teknologi dan kemampuan pemerintah
menyusun rencana dan strategi pembangunan yang baik. Hal ini disebabkan sikap
pemerintah yang lebih memprioritaskan stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi, keterbatasan faktor produksi diatas dan kekacauan politik nasional
menyebabkan pembangunan ekonomi indonesia setelah perang revolusi yang
tidak terlaksana dengan baik.

2.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Pada pemilu tahun 1955 dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi harapan

dan keinginan masyarakat, bahkan mengakibatkan ketidakstabilan pada politik,

social ,ekonomi, dan hankam. Hal ini disebabkan oleh konstituante yang
seharusnya membuat UUD negara RI ternyata membahas kembali dasar negara,
maka presiden sebagai badan yang harus bertanggung jawab mengeluarkan dekrit
atau pernyataan pada tanggal 5 Juli 1959, yang isinya :
a) Membubarkan Konstituante
b) Menetapkan kembali UUDS 1945 dan tidak berlakunya kembali UUDS
1950
c) Dibentuknya MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

Berdasarkan Dekrit Presiden tersebut maka UUD 1945 berlaku kembali di


negara Republik Indonesia hingga sat ini. Dekrit adalah suatu putusan dari orang
tertinggi(kepala negara atau orang lain) yang merupakan penjelmaan kehendak
yang sifatnya sepihak. Dekrit dilakukan bila negara dalam keadaan darurat,
keselamatan bangsa dan negara terancam oleh bahaya. Landasan mukum dekrit
adalah Hukum Daruratyang dibedakan atas dua macam yaitu :
1) Hukum Tatanegara Darurat Subyektif
Hukum Tatanegara Darurat Subjektif yaitu suatu keadaan hukum yang
memberi wewenang kepada orang tertinggi untuk mengambil tindakantindakan hukum.
2) Hukum Tatanegara Darurat Objektif
Hukum Tatanegara Darurat Objektif yaitu suatu keadaan hukum yang
memberikan wewenang kepada organ tertinggi negara untuk mengambil
tindakan-tindakan hukum, tetapi berlandaskan konstitusi yang berlaku.

B.

Masa 1960 1965 (Orde Lama)


Ketidakberhasilan pemilu 1955 membuat ketidakstabilan dalam bidang

politik, ekonomi, sosial, dan hankam. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal
sebagai berikut :
1) Makin berkuasanya modal-modal raksasa terhadap perekonomian
Indonesia.

2) Akibat silih bergantinya kabinet, maka pemerintahan tidak mampu


menyalurkan dinamika masyarakat ke arah pembangunan, terutama
pembangunan bidang ekonomi.
3) Sistem liberal berdasarkan UUDS 1950 mengakibatkan kabinet sering
berganti sehingga pemerintahan tidak stabil.
4) Pemilu 1955 DPR tidak mencerminkan perimbangan kekuasaan politik
yang sebenarnya hidup dalam masyarakat, karena banyak golongangolongan di daerah belum terwakili oleh DPR.
5) Konstituante yang bertugas membentuk UUD baru ternyata gagal.

Berdasarkan beberapa hal diatas, presiden berupaya menyelamatkan negara


dengan mengeluarkan dekrit presiden pada tanggal 5 Juli 1959, yang berisi
sebagai berikut :
1) Membubarkan konstituante
2) Menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidakberlaku lagi UUD
1950
3) Dibentuknya MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Berdasrkan pemikiran agar peristiwa dimasa lampau tidak terulang lagi,


maka pada waktu itu presiden Soekarno sebagai kepala eksekutif menrapkan
demokrasi terpimpin. Demokrasi Terpimpin adalah suatu paham demokrasi yang
tidak berdasarkan atas paham liberalisme, sosialisme-nasional, fasisme, dan
komunisme. Akan tetapi, suatu paham demokrasi yang didasarkan pada keinginan
luhur bangsa Indonesia, seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945
menuju pada masayarakat adil dan makmur yang penuh dengan kebahagiaan
material dan spiritual sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.
Dengan berlakunya demokrasi terpimpin (dalam arti yang sebenarnya) justru
bertentangan dengan Pancasila, yang berlaku adalah keinginan dan ambisi politik
pemimpin sendiri. Berikut kebijakan yang menyimpang dari UUD 1945 dalam
bidang politik :
1) Pembubarann DPR hasil pemilu 1955 melalui Penetapan Presiden No. 4
Tahun 1960 dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat Gotong

Royong (DPR-GR) yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh


presiden.
2) Pembentukan MPRS yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh
presiden.
3) Pembentukan DPA dan MA dengsn penetapan presiden dan anggotanya
diangkat dan diberhentikan oleh presiden.
4) Lembaga-lembaga negara, seperti yang disebutkan diatas dipimpin oleh
presiden.
5) Mengangkat presiden seumur hidup melalui ketetapan MPRS No.
II/MPRS/1963 dan Tap MPR No. III/MPRS/1963.
6) Melalui ketetapan MPRS No. I/MPRS/1963 manifesto politik dari
presiden dijadikan GBHN.
7) Hak budget DPR tidak berjalan, karena pemerintah tidak mengajukan
RUU APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR sebelum berlakunya
tahun anggaran yang bersangkutan. Karena DPR tidak menyetujui
rancangan APBN yang diajukan presiden, maka DPR dibubarkan tahun
1960.
8) Menteri-menteri diperbolehkan menjabat sebagai ketua MPRS, DPRGR, DPA, dan MA yang seharusnya menjadi lembaga perwakilan rakyat
yang tunduk kepada kebijakan presiden.

Kedaan politik yang tidak stabil ini, keadaan ini dimanfaatkan oleh kalangan
komunis dengan menanamkan ideologi belum selesai. Ideologi pada saat itu
dirancang oleh PKI dengan ideologi Manipol Usdek serta konsep Nasakom. PKI
berusaha untuk mencapakan kekuasaannya dengan membangun komunis
internasional dengan RRC. Hal ini terbukti dengan dibukanya hubungan poros
Jakarta-Peking. Sebagai puncak peristiwanya adalah pemberontakan PKI pada
tanggal 30 September 1965 untuk merebut kekuasaan yang sah negara RI,
pemberontakan ini disertai dengan pembunuhan para Jendral yang tidak berdosa.
Pemberontakan PKI tersebut berupaya untukmenggabti secara paksa ideology dan
dasar filsafat negara Pancasila dengan ideologi komunis Marxis. Atas dasar

tersebut maka pada tanggal 1Oktober 1965 diperingati bangsa Indonesia sebagai
Hari Kesaktian Pancasila.

1.

Pembangunan Ekonomi
Sistem perekonomian setelah demokrasi terpimpin dicanangkan dekat

dengan haluan sosialis/komunis. Pada masa itu prinsip-prinsip individualisme,


persaingan bebas, dan perusahaan swasta/pribadi sangat ditentang oleh pemerintah
dan masyarakat pada umumnya karena prinsip tersebut sering dikaitkan dengan
pemikiran kapitalisme. Keadaan ini membuat Indonesia sulit mendapatkan dana
dari negara-negara barat, baik dalam bentuk pinjaman atau penanaman modal
asing (PMA), sedang untuk membiayai rekontruksi ekonomi dan pembangunan
Indonesia sangat membutuhkan biaya yang besar.
Setelah peristiwa G-30-S / PKI, terjadi suatu perubahan politik yang drastis
yang terus mengubah sistem ekonomi dari pemikiran-pemikiran sosialis ke semikapitalis. Sebenarnya perekonomian Indonesia berdasarkan UUD 1945 dengan
prinsip-prinsip kebersamaan atau koperasi berdasarkan Pancasila. Akan tatapi,
dalam praktiknya pengaruh kekuasaan cenderung kepada sosialis/komunis,
khususnya pada masa orde lama.

C.

Masa 1966 1998 (Orde Baru)


Dengan berakhirnya pemerintahan Soekarno dalam orde lama, dimulailah

pemerintahan baru yang dikenal dengan orde baru. Orde Baru, yaitu suatu tatanan
masyrakat dan pemerintahan yang menutut dilaksanakannya Pancasila dan UUD
1945 secara murni dan konsekuen. Munculnya orde baru diawali dengan aksi-aksi
dari seluruh masyarakat antara lain : Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia
(KAPPI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi guru
Indonesia (KAGI), dan lainnya. Aksi tersebut menuntut dengar tiga tuntutan atau
yang dikenal dengan Tritura, adapun isi tritura tersebut sebagai berikut :
1. Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya
2. Pembersihan kabinet dari unsur G 30 S PKI
3. Penurunan harga

Karena orde lama tidak mampu menguasai pimpinan negara, maka Panglima
tertinggi memberikan kekuasaan penuh kepada Panglima Angkatan Darat Letnan
Jendral Soeharto dalam bentuk suatu surat yang dikenal dengan surat perintah 11
Maret 1966 (Super Semar). Tugas pemegang super semar yaitu untuk
memulihkan keamanan dengan jalan menindak pengacau keamanan yang
dilakukan oleh PKI. Orde Baru berangsur-angsur melaksanakan programnya
dalam upaya merealisasikan pembangunan nasional sebagai perwujudan
pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Pada tahun 1983, pemerintah mengajukan satu paket yang terdiri atas
undang-undang politik tentang :
1) Susunan dan kedudukan anggota MPR/DPR,
2) Pemilihan umum,
3) Kepartaian dan Golkar,
4) Organisasi masyarakat, dan
5) Referendum.

Kelima paket itu disetujui oleh DPR dengan tujuan menjaga terpeliharanya
kekuasaan dan kelanjutan pembangunan sebagai ideologi. Perubahan kondisi yang
mengglobal mempengaruhi sikap masyarakat dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat. Hal ini menimbulkan sifat individualistik sehingga terbentuk
masyarakat marginal dan konglomerasi yang terpusat pada kelompok tertentu
yang berdasarkan ekonomi kapitalis dengan dalih kebebasan.
Pada kenyataannya orde baru menyimpag dari perjuangan semula, yaitu
sebgai berikut :
1) Orde baru, secra eksplisit tidak mengakui 1 Juni sebagai hari lahirnya
Pancasila.
2) Butir-butir P-4 mendidik secra halus ketaatan individu kepada kekuasaan
dan tidak ada butir yang mencantumkan kewajiban negara terhadap
rakyat.
3) Pengamalan Pancasila dengan membentuk citra pembangunan sebgai
ideologi, sehingga rekayasa mendukung bapak pembangunan melalui
kebulatan tekad rakyat.

1.

Asas Tunggal Pancasila


Pada tahun 1982, presiden mengemukakan gagasan penerapan asas tunggal

Pancasila atas partai-partai politik. Tujuannya untuk menyeragamkan asas partaipartai politik dengan maksud agar mengurangi seminimal mungkin potensi
konflik ideologi yang terkandung dalam partai-partai politik. Dengan adanya
penyeragam asas tunggal pancasila ini, pencantuman asas lain yang sesuai dengan
aspirasi, ciri khas, dan karakteristik partai politik tidak diperkenankan lagi.
Gagasan presiden ini terpenuhi dengan merubah UU No. 3 /1975 dengan UU
No. 3 /1985. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa pengertian asas meliputi juga
pengertian dasar, landasan, dan pedoman pokok yang harus tercantum dalam
anggaran dasar partai politik. Menurut Dliar Noer, asas tunggal Pancasila berarti
mengingkari kebinekaan masyarakat yang memang berkembang menrut
keyakinan masing-masing. Bahkan asas tunggal Pancasila cenderung kerah partai
tunggal, meskipun secara formal ada tiga partai, tetapi secara terselubung
sebenarnya hanya ada satu partai.

2.

Pembangunan Ekonomi
Pembangunan masa orde bar dilakukan secara bertahap, khususnya bidang

ekonomi, pembangunan jangka panjang (25/30 tahun), dan jangka menengah 5


tahun (Repelita). Repelita pertama dimulai 1 April 1969 dengan menitik beratkan
pembangunan disektor pertanian dan industri-industri terkait. Dampak dari
pembangunan tersebut pada tahun 1966 1978 pertumbuhan ekonomi Indonesia
adalah 6%. Meningkatnya kintribusi hasil sektor industri manufaktur terhadap
pertumbuhan ekonomi selama orde baru mencerminkan adanya suatu proses
industrialisasi atau transformasi ekonomi di Indonesia, dari negara agraris ke
semi-industri.
Apabila dibandingkan dengan orde lama, cukup banyak perbedaan
fundamental, yaitu ekonomi tertutup yang berorientasi sosialis ke ekonomi
terbuka berorientasi kapitalis. Beberapa prakondisi yang menonjol dari
perekonomian masa orde baru sebagai berikut :
a. Stabilitas ekonomi dan olitik
b. Sumber daya manusia yang lebih baik

c. Sistem politik dan ekonomi terbuka dengan orientasi barat


d. Kondisi ekonomi dan politik dunia yang lebih baik
e. Kemauan yang kuat

3.

Kelemahan Pembangunan Orde Baru


Persoalan mendasar pemerintahan orde baru adalah campur aduk institusi

negara dan swasta. Jabatan publik, perusahaan, dan yayasan dicampuraduk satu
sama lain, sehingga pemegang kekuasaan dan oranng-orang yang menjadi
pemburu ekonomi menjadi pemenang dan mengambil segala kesempatan dan
potensi keuntungan ekonomi dan sosial secara tidak adil, seperti subordinasi Bank
Indonesia (oleh KKN), proteksi Chandra Asri, Kepres Mobnas, institusi Bulog
dan sebagainya memberi dampak masalah keadilan publik. Akses publik yang
lebih luas terhadap sumber-sumber ekonomi menjadi tertutup, sehingga proses
pemerataan pendapatan dikorbankan.
Peran presiden pada masa orde baru adalah peran ganda sebgai institusi
negara yang menjadi regulator, tetapi tercampur oleh pengaruh kepentingan
swasta. Persoalan keadilan dan keterbukaan sistem menjadi korban distorsi dari
kelembagaan presiden. Pemerintah berjalan lebih mengacu kepada karakter
individu. Institusi kontrol yang lemah dan dilemahkan oleh institusi kepresidenan
yang kuat, semakin memperburuk pembangunan dari rasa keadilan masyarakat.
Dengan demikian jelas bahwa ada paradoks kemajuan di Indonesia terjadi
karena sistem yang distorsif tersebut. Pada satu sisi kemajuan ekonomi yang
dilihat secara agregat, memberi bukti adanya pembangunan yang profresif.
Namun, disisi lain kita melihat kenyataan akan rapuhnya basis ekonomi rakyat
yang mengalami stagnasi berkepanjangan selama tiga dekade terakhir.

4.

Pembangunan dan Utang Luar Negeri


Selama pemerintahan orde baru menganggap bahwa utang itu merupakan

bagian dari proses pembangunan ekonomi yang sukses dengan pertumbuhan


ekonomi yang cukup tinggi. Perkembangan utang luar negeri dari tahun ke tahun
cenderung meningkat, sehingga pembayaran pokok dan bunga utang sudah begitu
beesar. Pada tahun 1980 1999 mencapai 129 miliar dolar AS, ini berarti bahwa

10

aliran modal ke luar negeri selama periode ini sudah mencapai angka lebih dari
seribu triliun (Didik J. Rachbini, 2001:17-22).
Kebijakan politik pemerintah yang otoriter dan tertutup, peran kritik, dan
partisipasi masyarakat lemah sehingga kebijakan pemerintah dinggap benar, peran
teknokrat ekonomi mempunyai kekuasaan besar untuk menentukan hitam
putihnya kebijakan ekonomi pada masa itu. Tidak adanya iklim politik yang
transparan dan terbuka, maka birokrasi bersama pemerintah berperilaku
memaksimalkan keuntungan politisnya. Hasilnya ekonomi yang penuh distorsi,
monopoli dan perburuan rente yang meluas. Beban perekonomian nasional
semakin berat ketika swasta melakukan transaksi utang luar negeri secara
berlebihan, sehingga menggiring perekonomian nasional menuju jurang krisis.

D.

Masa 1999 Sekarang (Reformasi)

1.

Gerakan Reformasi
Awal keberhasilan gerakan Reformasi tersebut ditandai dengan mundurnya

Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, yang kemudian disusul dengan
dilantiknya Wakil Presiden Prof. Dr. B.J. Habibie menggantikan kedudukan
Presiden.

Kemudian

diikuti

dengan

pembentukkan

Kabinet

Reformasi

Pembangunan. Pemerintahan Habibie inilah yang merupakan pemerintahan


transisi yang akan mengantarkan rakyat Indonesia untuk melakukan reformasi
secara menyeluruh, terutama pengubahan 5 paket UU, Politik tahun 1985,
kemudian diikuti dengan reformasi ekonomu yang menyangkut perlindungan
hukum sehingga perlu diwujudkan UU Anti Monopoli, UU Persaingan Sehat, UU
Kepailitan, UU Usaha Kecil, UU Bank Sentral, UU Perlindungan Konsumen, UU
Perlindungan Buruh dan lain sebagainya (Nopirirn, 1998 : 1). Dengan demikian
reformasi harus diikuti juga dengan reformasi hukum bersama aparat penegaknya
serta reformasi pada berbagai instansi pemerintahan.
Yang lebih mendasar lagi reformasi dilakukan pada kelembagaan tinggi dan
tertinggi negara yaitu pada susunan DPR dan MPR, yang dengan sendirinya harus
dilakukan melalui Pemilu secepatnya dan diawali dengan pengubahan :
a. UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD (UU No.
16/1969 jis. UU No. 5/1975 dan UU No. 2/1985).

11

b. UU tentang Partai Politik dan Golongan Karya (UU No. 3/1975, jo. UU
No. 3/1985).
c. UU tentang Pemilihan Umum (UU No. 16/1969 jis UU No.4/1975, UU
No. 2/1980, dan UU No. 1/1985).
d. Reformasi terhadap UU Politik tersebut di atas harus benar-benar dapat
mewujudkan iklim politik yang demokratis sesuai dengan kehendak
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 bahwa kedaulatan adalah ditangan rakyat dan
dilakukan

sepenuhnya

oleh

Majelis

Permusyawaratan

Rakyat

(Mardjono, 1998 : 57).

2.

Gerakan Reformasi dan Ideologi Pancasila


Makna Reformasi secara etimologis berasal dari kata reformation

dengan akar kata reform yang secara semantic bermakna make or become
better by removing or putting right what is bad or wrong (Oxford Advanced
Leaners Divtionary of Current English, 1980. dalam Wibisono, 1998:1). Secara
harfiah reformasi memiliki makna: suatu gerakan untuk memformat ulang, menata
ulang atau menata kembali hal-hal yang menyimpang untuk dikembalikan pada
format atau bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan
rakyat (Riswanda, 1998). Oleh karena itu suatu gerakan reformasi memiliki
kondisi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Suatu gerakan reformasi dilakukan karena adanya suatu penyimpanganpenyimpangan.

Masa

pemerintahan

Orde

banyak

terjadi

suatu

penyimpangan misalnya asas kekeluargaan menjadi nepotisme, kolusi


dan korupsi yang tidak sesuai dengan makna dan semangat Pembukaan
UUD 1945 serta batang tubuh UUD 1945.
b. Suatu gerakan reformasi dilakukan harus dengan suatu cita-cita yang
jelas (landasan ideologis) tertentu, dalam hal ini Pancasila sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia, dalam hal ini Pancasila sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia. Jadi reformasi pada prinsipprinsipnya suatu gerakan untuk mengembalikan kepada dasar nilai-nilai
sebagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Tanpa landasan
ideologis yang jelas maka gerakan reformasi akan mengarah kepada

12

anarkisme, disentegrasi bangsa dan akhirnya jatuh pada suatu


kehancuran bangsa dan negara Indonesia, sebagaimana yang telah terjadi
di Uni Soviet dan Yugoslavia.
c. Suatu gerakan reformasi dilakukan dengan berdasarkan pada suatu
kerangka struktural tertentu (dalam hal ini UUD) sebagai kerangka
acuan reformas. Reformasi pada prinsipnya gerakan untuk mengadakan
suatu perubahan untuk mengembalikan pada suatu tatanan struktural
yang ada karena adanya suatu penyimpangan. Maka reformasi akan
mengembalikan pada dasar serta sistem negara demokrasi, bahwa
kedaulatan adalah di tanga rakyat sebagaimana terkandung dalam pasal 1
ayat (2). Reformasi harus mengembalikan dan melakukan perubahan ke
arah sistem negara hukum dalam arti yang sebenarnya sebagaimana
terkandung dalam penjelasan UUD 1945, yaitu harus adanya
perlindungan hak-hak asasi manusia, peradilan yang bebas dari
penguasa, serta legalitas dalam arti hukum. Oleh karena itu reformasi itu
sendiri harus berdasarkan pada kerangka hukum yang jelas. Selain itu
reformasi harus diarahkan pada suatu perubahan ke arah transparansi
dalam setiap kebijaksanaan dalam penyelenggaraan negara karena hal ini
sebagai manifestasi bahwa rakyatlah sebagai asal mula kekuasaan negara
dan untuk rakyatlah segala aske kegiatan negara.
d. Refomasi dilakukan kearah suatu perubahan ke arah kondisi serta
keadaan yang lebih baik. Perubahan yang dilakukan dengan reformasi
harus mengarah pada suatu kondisi kehidupan rakyat yang lebih baik
dalam segala aspek antara lain bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,
serta kehidupan keagamaan. Dengan lain perkataan reformasi harus
dilakukan ke arah peningkatan harkat dan martabat rakyat Indonesia
sebagai manusia.
e. Reformasi dilakukan dengan suatu dasar moral dan etik sebagai manusia
yang Berketuhanan Yang Maha Esa, serta terjaminnya persatuan dan
kesatuan bangsa.

13

3.

Pancasila sebagai Dasar Cita-Cita Reformasi


Gerakan reformasi harus tetap diletakkan dalam kerangka perspektif

Pancasila sebagai landasan cita-cita dan ideologi (Hamengkubuwono X, 1998 : 8)


sebab tanpa adanya suatu dasar nilai yang jelas maka suatu reformasi akan
mengarah pada suatu disintegrasi, anarkisme, brutalisme, serta pada akhirnya
menuju pada kehancuran bangsa dan negara Indonesia. Maka reformasi dalam
perspektif Pancasila pada hakikatnya harus berdasarkan pada nilai-nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Adapun secara rinci sebagai berikut:
a) Reformasi yang Berketuhanan yang Maha Esa, yang berarti bahwa suatu
gerakan ke arah perubahan harus mengarah pada suatu kondisi yang
lebih baik bagi kehidupan manusia sebagai Makhluk Tuhan. Karena
hakikatnya manusia adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa
adalah sebagai makhluk yang sempurna yang berakal budi sehingga
senantiasa bersifat dinamis, sehingga selalu melakukan suatu perubahan
ke arah suatu kehidupan kemanusiaan yang lebih baik. Maka reformasi
harus berlandasan keagamaan. Oleh karena itu reformasi yang dijiwai
nilai-nilai religius tidak membenarkan pengrusakan, penganiayaan,
merugikan orang lain serta bentuk-bentuk kekerasan lainnya.
b) Reformasi yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berarti
bahwa reformasi harus dilakukan dengan dasar-dasar nilai-nilai martabat
manusia yang beradab. Oleh karena itu reformasi harus dilandasi oleh
moral

kemanusiaan

yang

luhur,

yang

menghargai

nilai-nilai

kemanusiaan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bahkan


reformasi menargetkan ke arah penataan kembali suatu kehidupan
negara yang menhargai harkat dan martabat manusia, yang secara
kongkrit menghargai hak-hak asasi manusia. Reformasi menentang
segala praktek eksploitasi, penindasan oleh manusia terhadap manusia
lain, oleh golongan satu terhadap golongan lain bahkan oleh penguasa
terhadap rakyatnya. Untuk bangsa yang majemuk seperti bangsa

14

Indonesia maka semangat reformasi yang berdasar pada kemanusiaan


menentang praktek-praktej yang mengarah pada diskriminasi dan
dominasi sosial, bik alasan perbedaan suku, ras, asal-usul maupun
agama.

Reformasi

yang

dijiwai

nilai-nilai

kemanusiaan

tidak

membenarkan perilaku yang biadab membakar, menganiaya, menjarah,


memperkosa, dan bentuk-bentuk kebrutalan lainnya yang mengarah pada
praktek anarkisme. Sekaligus reformasi yang berkemanusiaan harus
membrantas sampai tuntas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang telah
sedemikian mengakar pada kehidupan kenegaraan pemerintahan Orba
(lihat Hamengkubuwono X, 1998 : 8).
c) Semangat reformasi harus berdasarkan pada nilai persatuan, sehingga
reformasi harus menjamin tetap tegaknya negara dan bangsa Indonesia.
Reformasi harus menghindarkan diri dari praktek-praktek yang
mengarah pada disintegrasi bangsa, upaya sparatisme baik atas dasar
kedaerahan, suku maupun agama. Reformasi memiliki makna menata
kembali kehidupan bangsa dalam bernegara, sehingga reformasi justru
harus mengarah pada lebih kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Demikian juga reformasi harus senantiasa dijiwai asas kebersamaan
sebagai suatu bangsa Indonesia.
d) Semangat dan jiwa reformasi harus berakar pada asas kerakyatan sebab
justru permasalah dasar gerakan reformasi adalah pada prinsip
kerakyatan. Penatan kembali secara menyeluruh dalam segala aspek
pelaksanaan pemerintahan negara harus meletakkan kerakyatan sebagai
paradigmanya. Rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan negara dan
sekaligus sebagai tujuan kekuasaan negara, dalam pengertian inilah
maka reformasi harus mengembalikan pada tatanan pemerintahan negara
yang benar-benar bersifat demokratis, artinya rakyatlah sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara. Maka semangat reformasi
menentang segala bentuk penyimpangan demokratis seperti kediktatoran
baik bersifat langsung maupun tidak langsung,, feodalisme maupun
totaliterianisme. Asas kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
menghendaki terwujudnya masyarakat demokratis. Kecenderungan

15

munculnya diktator mayoritas melalui aksi massa, harus diarahkan pada


asas kebersamaan hidup rakyat agar tidak mengarah pada anarkisme.
Oleh karena itu penataan kembali mekanisme demokrasi seperti
pemilihan anggota DPR, MPR, pelaksanaan Pemilu beserta perangkat
perundang-undangannya pada hakikatnya untuk mengembalikan tatanan
negara pada asas demokrasi yang bersumber pada kerakyatan
sebagaimana terkandung dalam sila keempat Pancasila.
e) Visi dasar reformasi harus jelas, yaitu demi terwujudnya Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Gerakan reformasi yang melakukan
perubahan dan penataan kembali dalam berbagai bidang kehidupan
negara harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu terwujudnya tujuan
bersama sebagai negara hukum yaitu Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia. Oleh karena itu hendaklah disadari bahwa gerakan
reformasi yang melakukan perubahan dan penataan kembali, pada
hakikatnya bukan hanya bertujuan demi perubahan itu sendiri, namun
perubahan dan penataan demi kehidupan bersama yang berkeadilan.
Perlindungan terhadap hak asai, peradilan yang benar-benar terbebas
dari kekuasaan, serta legalitas dalam arti hukum harus benar-benar dapat
terwujudkan. Sehingga rakyat benar-benar menikmati hak serta
kewajibannya berdasarkan prinsip-prinsip keadilan sosial. Oleh karena
itu reformasi hukum baik yang menyangkut materi hukum terutama
aparat pelaksana dan penegak hukum adalah merupakan target reformasi
yang mendesak untuk terciptanya suatu keadilan dalam kehidupan
rakyat.
Seperti juga Orde Baru yang muncul dari koreksi terhadap Orde Lama, kini
Orde Reformasi, jika boleh dikatakan demikian, merupakan orde yang juga
berupaya mengoreksi penyelewengan yang dilakukan oleh Orde Baru. Hak-hak
rakyat mulai dikembangkan dalam tataran elit maupun dalam tataran rakyat
bawah. Rakyat bebas untuk berserikat dan berkumpul dengan mendirikan partai
politik, LSM, dan lain-lain. Penegakan hukum sudah mulai lebih baik daripada
masa Orba. Namun, sangat disayangkan para elit politik yang mengendalikan

16

pemerintahan dan kebijakan kurang konsisten dalam penegakan hukum. Dalam


bidang sosial budaya, disatu sisi kebebasan berbicara, bersikap, dan bertindak
amat memacu kreativitas masyarakat. Namun, di sisi lain justru menimbulkan
semangat primordialisme. Benturan antar suku, antar umat beragama, antar
kelompok, dan antar daerah terjadi dimana-mana. Kriminalitas meningkat dan
pengerahan masa menjadi cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang
berpotensi tindakan kekerasan.
Kondisi nyata saat ini yang dihadapi adalah munculnya ego kedaerahan dan
primordialisme sempit, munculnya indikasi tersebut sebagai salah satu gambaran
menurunnya pemahaman tentang Pancasila sebagai suatu ideologi, dasar filsafati
negara, azas, paham negara. Padahal seperti diketahui Pancasila sebagai sistem
yang terdiri dari lima sila (sikap/ prinsip/pandangan hidup) dan merupakan suatu
keutuhan yang saling menjiwai dan dijiwai itu digali dari kepribadian bangsa
Indonesia yang majemuk bermacam etnis/suku bangsa, agama dan budaya yang
bersumpah menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa persatuan, sesuai
dengan sesanti Bhineka Tunggal Ika.
Menurunnya rasa persatuan dan kesatuan diantara sesama warga bangsa saat
ini adalah yang ditandai dengan adanya konflik dibeberapa daerah, baik konflik
horizontal maupun konflik vertikal, seperti halnya yang masih terjadi di
Papua,Maluku. Berbagai konflik yang terjadi dan telah banyak menelan korban
jiwa antar sesama warga bangsa dalam kehidupan masyarakat, seolah-olah
wawasan kebangsaan yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila yang lebih
mengutamakan kerukunan telah hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Orde Reformasi yang baru berjalan beberapa tahun telah memiliki empat
Presiden. Pergantian presiden sebelum waktunya karena berbagai masalah. Pada
era Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarno Putri, Pancasila secara
formal tetap dianggap sebagai dasar dan ideologi negara, tapi hanya sebatas pada
retorika pernyataan politik. Ditambah lagi arus globalisasi dan arus demokratisasi
sedemikian kerasnya, sehingga aktivis-aktivis prodemokrasi tidak tertarik
merespons ajakan dari siapapun yang berusaha mengutamakan pentingnya
Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.

17

4.

Hukum
Konsep awal program pembangunan nasional di bidang hukum meliputi

sebagi berikut :
a. Penataan

sistem

dan

kelembagaan

hukum

dengan

program

pembangunannya adalah :
1) Program perencanaan dan pembangunan sistem hukum nasional,
2) Program pembentukan dan penyusunan hukum,
3) Program pembinaan kelembagaan hukum.
b. Penegakan hukum, dengan programnya :
1) Penegakan dan pelayanan hukum,
2) Pembinaan peradilan.
c. Peningkatan kualitas aparat penegak, sarana dan prasarana hukum
dengan programmnya :
1) Peningkatan kualitas aparatur hukum
2) Sarana dan prasarana hukum.

5.

Pembangunan Ekonomi
Dalam pembangunan ekonomi program pembangunannya adalah sebagai

berikut :
a. Sistem ekonomi kerakyatan, yang meliputi pengembangan sistem
ekonomi

kerakyatan,

pegentasan

kemiskinan

dan

peningkatan

pemerataan serta memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi.


b. Mempercepat proses pemulihan ekonomi, melalui program pengelolaan
kebijaksanaan ekonomi maikro dan makro, peningkatan efektivitas
pengelolaan keuangan negara, peningkatan efektivitas pengelolaan utang
luar negeri, penuntasan restrukturisasi perbankan dan lembaga keuangan,
pengembangan ketenagakerjaan dan lain-lain.

Perekonomian era reformasi adalah untuk mendesain ulang struktur ekonomi


yang berbasis konglomerat menuju ekonomi karakyatan. Pada periode Habibie,
telah dibuatnya perangkat undang-undang yang disiapkan dengan tergesa-gesa
dan belum tentu dapat dliaksankan oleh pemerintahan selanjutnya, jadi

18

implementasi kebijakannya tidak sempat dilaksanakan. Perekonomian negara


sudah menunjukkan adanya perbaikan dibanding dengan saat kejatuhan Presiden
Soeharto.
Pada periode Abdurrahman Wahid ketidakstabilan politik dan sosial belum
surut, menambah kesan bagi investor asing bahwa Indonesia adalah negara yang
berisiko tinggi bagi investor. Akibatnya, kondisi ekonomi nasional cenderung
lebih buruk dari pemerintahan Habibie.
Sedangkan pada periode Megawati terdapat beberapa permasalah yang harus
segera dituntaskan sebagai berikut :
a. Bidang politik dan keamanan
Adanya suatu ancaman disintegrasi dari bebrapa daerah konflik seperti
Aceh, Papua, Poso, Maluku, dan lainnya, hubungan luar negeri yang
belum optimal dan profesional, masalah otonomi daerah yang belum
diimplementasikan secara utuh, dan masalah mempersiapkan pemilu
yang berkualitas.
b. Bidang hukum dan HAM
Masalah pemberantasan KKN belum maksimal, penegakan dan
kepastian hukum yang lemah, penyelesaian kasus-kasus HAM yang
terkesan lambat dan diskriminatif, dan masalah birokrasi yang masih
merugikan dan beban negara.
c. Bidang ekonomi dan keuangan
Masalah pengangguran yang melonjak, ekspor menurun, investasi belum
pulih, meningkatnya penduduk miskin, merosotnya kredibilitas aparatuur
negara, pangan yang rentan kritis, penyelundupan dan pencurian sumber
daya alam, dan utang domestik pemerintah yang membebani APBN, dan
penerimaan pajak yang belum optimal.
d. Bidang Sosial Budaya
Masalah kesahatan dan pendidikan, serta kerukunan antar umat
beragama yang masih mengganggu.

19

6.

Politik
Dalam pembangunan nasional bidang politik

adalah meliputi sebagai

berikut :
a. Politik dalam negeri, programnya adalah pengembangan konstitusi,
struktur politik, pemilu, kepemimpinan nasional, partisipasi politik,
kesadaran berbangsa, pendidikan dan buadaya politik, kemandirian Tni
dan lain-lain.
b. Politik luar negeri, programnya dalah penguatan politik luar negeri dan
diplomasi, peningkatan kerjasama luar negeri, perluasan perjanjian
ekstradisi dengan negara tetangga, dan lain-lain.
c. Penyelenggaraan

negara,

programnya

adalah

mewujudkan

penyelenggaraan negara yang baik dan profesional.


d. Otonomi

daerah,

programnya

adalah

pemantapan

perimbangan

keuangan pusat dan daerah, penguatan kemampuan sumber daya


manusia,

penataan

pengawasan.

kelembagaan

daerah,

dan

pembinaan

serta