Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pesawat Terbang


Pesawat terbang adalah sebuah alat yang dibuat dan dalam penggunaannya
menggunakan media udara. Pengertian pesawat terbang juga dapat diartikan
sebagai benda-benda yang dapat terbang, baik benda tersebut lebih ringan
daripada udara ataupun yang lebih berat daripada udara. Tentang bagaimana
benda-benda tersebut dapat terbang tentunya ada suatu sifat tersendiri dari benda
tersebut, sehingga dapat diterbangkan. Biasanya sifat tersebut dapat timbul
sebagai akibat dari adanya udara, atau dapat diartikan pesawat dapat terbang di
udara karena adanya udara.
Prinsip tentang benda-benda yang dapat bergerak atau gaya-gaya yang timbul
akibat pergerakkan antara suatu benda dengan udara dipelajari di dalam
Aerodinamika. Aero berasal dari bahasa Yunani artinya udara, pesawat terbang,
atau penerbangan bahkan juga Ilmu Keudaraan (Ilmu Penerbangan). Dinamika
berasal dari bahasa Yunani artinya kekuatan atau tenaga, ilmu yang menyelidiki
benda-benda bergerak serta gaya yang menyebabkan gerakan benda tersebut.
Jadi pengertian ilmu penerbangan (aerodinamika) berarti ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang akibat-akibat yang ditimbulkan udara atau gas-gas lain
yang bergerak.

Universitas Sumatera Utara

2.1.1 Sejarah Pesawat Terbang


Awal dari konsep penerbangan pada dasarnya merupakan imitasi dari
burung yang memanfaatkan kepakan sayapnya. Leonardo da Vinci (1452-1519)
telah membuat lusinan lukisan dari mesin-mesin terbang, kebanyakan dari lukisan
tersebut berdasarkan konsep kepakan sayap. Detail dari lukisan tersebut
menggambarkan sayap dan puli terhubung dengan pilot yang menggerakkan
kepakan sayap tersbut. Keseluruhan dari konsep ini telah divonis merupakan suatu
kesalahan karena kemampuan fisiologi yang luar biasa dari burung tidak akan
pernah bisa ditandingi oleh manusia.
Meskipun sejarah merekam berbagai macam percobaan dengan konsep
lebih ringan dari udara , Motngolfier bersaudara dari perancis, secara umum
telah berhasil membangun sebuah balon udara yang pertama. Motngolfier
merupakan pemilik pabrik peleburan kertas yang memiliki ketertarikan terhadap
science . Pada tahun 1782, berawal dari mengamati kebakaran mereka berusaha
untuk menangkap gas yang diproduksi oleh api dan memuatnya kedalam sebuah
karung. Dimulai dengan memuatnya kedalam karung kecil yang terbuat dari
sutera, mereka membakar kertas dan kayu dibagian bawah dari karung yang
terbuka. Dan hasilnya karung tersebut naik ke atap rumah mereka. Mereka
kemudian mencoba membakar kayu dan jerami dan mereka berpikir bahwa
mereka telah menemukan gas dengan sifat-sifat misterius, mereka menyebutnya
gas Montgolfier. Kejadian ini menarik perhatian France Science Academy yang
diketuai oleh fisikawan muda bernama J.A.C. Charles yang kemudian meneliti gas
ini dan menyatakan bahwa gas tersebut merupakan panas udara biasa yang tidak
seefektif gas helium dalam memproduksi gaya angkat. Namun pengembangan

Universitas Sumatera Utara

berikutnya tentang balon udara semakin pesat pada dekade tersebut dengan
mengikuti penerbangan balon udara pertama Montgolfier. Dan orang pertama
yang terbang bersama balon udara adalah seorang ilmuan fisika Jean Francois
Pilatre yang menggabungkan gas Helium yang kemudian berakhir dengan tragedi
meledaknya balon udara tersebut dan menewaskan dirinya, namun perkembangan
balon udara akhirnya bisa menjadi alat transportasi udara yang pertama dan
digunakan untuk transportasi perang masa itu.
Konsep desain pertama yang menggunakan sayap tetap (fixed wing)
untuk mengangkat dan permukaan lain untuk mengontrol serta adanya sistem
propulsi adalah Sir George Cayley (1773-1857) yang kemudian jenis penerbangan
seperti ini disebut glider (pesawat terbang layang) . Kemudian dengan
meneruskan konsep dari Sir George Cayley, Otto Lilienthal mengembangkan
kembali konsep tersebut dengan berdasarkan prinsip prinsip aliran fluida yang ia
pelajari ketika kuliah di jurusan Teknik Mesin di Berlin Technical Academy. Otto
menerbitkan sebuah buku dengan judul Bird Flight as the Basic of Aviation pada
tahun 1889. Buku ini yang kemudian digunakan oleh Wright bersaudara, Orville
dan Willbur Wright yang merupakan orang paling popular di dalam sejarah dunia
penerbangan. Setelah mereka mempelajari konsep Otto Lilienthalm mereka
kemudian membangun glider

dengan berbagai macam percobaan dan

pengembangan untuk memperoleh airfoil yang sesuai. Hingga akhirnya pada


tahun 1902 dibangun pesawat pertama dengan tiga axis control dan menjadi
sejarah pertama penerbangan dengan system control yang bermesin.

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Pembagian Katagori Dalam Pesawat Udara


Pesawat Udara ini terbagi dalam beberapa katagori yaitu:
a. Pesawat Udara Aerodinamis , yaitu pesawat udara yang lebih berat dari
udara. Pesawat Udara Aerodinamis terdiri dari 2 kelompok yaitu pesawat
bermotor dan tidak bermotor. Yang bermotor terdiri dari bersayap tetap
(fixed wing) dan sayap putar (rotary wing) .
Pesawat udara aerodinamis bermotor bersayap tetap terdiri dari pesawat
terbang, kapal terbang dan amphibians. Yang bersayap putar terdiri dari
helicopter dan gyrocopter. Pesawat udara aerodinamis tidak bermotor
terdiri dari pesawat luncur , pesawat layang dan layang-layang.

(a)

(b)

Gambar 2.1 (a) Fixed wing dan (b) Rotary wing

b. Pesawat Udara Aerostatis , yaitu pesawat udara yang lebih ringan dari
udara. Pesawat udara aerostatis terdiri dari kapal udara dan balon udara.

Gambar 2.2 Balon Udara

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Mekanisme Pesawat untuk Terbang


Ada beberapa macam gaya yang bekerja pada benda-benda yang terbang
di udara. Gaya-gaya aerodinamika ini meliputi gaya angkat (lift), gaya dorong
(thrust), gaya berat (weight), dan gaya hambat udara (drag). Gaya-gaya inilah
yang mempengaruhi profil terbang semua benda-benda di udara, mulai dari
burung-burung yang bisa terbang mulus secara alami sampai pesawat terbang
yang paling besar sekalipun. Jadi gaya-gaya yang sama bekerja juga pada pesawat
model yang ukurannya mini ini.

Gambar 2.3 Gaya-gaya yang bekerja pada pesawat

Gaya hambat udara (drag) merupakan gaya yang disebabkan oleh


molekul-molekul dan partikel-partikel di udara. Gaya ini dialami oleh benda yang
bergerak di udara. Pada benda yang diam gaya hambat udara nol. Ketika benda
mulai bergerak, gaya hambat udara ini mulai muncul yang arahnya berlawanan
dengan arah gerak, bersifat menghambat gerakan (itu sebabnya gaya ini disebut
gaya hambat udara). Semakin cepat benda bergerak semakin besar gaya hambat
udara ini. Agar benda bisa terus bergerak maju saat terbang, diperlukan gaya yang
bisa mengatasi hambatan udara tersebut, yaitu gaya dorong (thrust) yang
dihasilkan oleh mesin. Supaya kita tidak perlu menghasilkan thrust yang terlalu

Universitas Sumatera Utara

besar (sehingga tidak ekonomis) kita harus mencari cara untuk mengurangi drag.
Salah satu caranya adalah dengan menggunakan desain yang streamline
(ramping).
Supaya bisa terbang, kita perlu gaya yang bisa mengatasi gaya berat
akibat tarikan gravitasi bumi. Gaya ke atas (lift) ini harus bisa melawan tarikan
gravitasi bumi sehingga benda bisa terangkat dan mempertahankan posisinya di
angkasa. Di sinilah tantangannya karena harus melawan gravitasi. Maka fisikawan
seperti Isaac Newton, Bernoulli, dan Coanda. Ketiganya bekerja sama menjawab
tantangan ini.

Hukum Newton III


Isaac Newton yang terkenal dengan ketiga persamaan geraknya

menyumbangkan hukum III Newton tentang Aksi-Reaksi. Benjamin Crowell


dalam bukunya Newtonian Physics mengatakan bahwa ketika objek A
memberikan sebuah gaya kepada objek B, maka objek B juga harus memberikan
sebuah gaya kepada objek A. Dua gaya tersebut besarnya sama dan dalam arah
yang berlawanan. Dan dapat dituliskan secara singkat dengan rumus seperti
berikut ini FA

on B

= - FB

on A

. Hukum inilah yang kemudian diterapkan pada

kajian tentang aerodinamika pada airfoil sayap pesawat terbang. Sayap pesawat
merupakan bagian terpenting dalam menghasilkan lift. Aliran udara terjadi diatas
dan dibawah sayap pesawat. Partikel-partikel udara menabrak bagian bawah sayap
pesawat. Partikel-partikel yang menabrak ini lalu dipantulkan ke bawah (ke arah
tanah). Udara yang menghujani tanah ini merupakan gaya aksi. Dan kemudian
tanah yang menerima gaya aksi ini pasti langsung memberikan gaya reaksi yang
besarnya sama dengan gaya aksi tetapi berlawanan arah.

Universitas Sumatera Utara

P1

P2

Gambar 2.4 Arah aliran fluida pada airfoil

Efek Coanda dan Hukum Bernoulli


Untuk bagian atas sayap, ada proses lain yang juga menghasilkan aksi.

Dalam hal ini terjadi penerapan hukum Bernoulli dan efek Coanda. Menurut
Coanda, udara yang melewati permukaan lengkung akan mengalir sepanjang
permukaan itu (dikenal sebagai Efek Coanda). Ini dibuktikan ketika kita
meletakkan lilin menyala di depan sebuah botol. Ketika lilin ditiup dari belakang
botol, aneh ternyata lilin didepan botol itu akan mati. Menurut Coanda hal ini
disebabkan karena udara yang kita tiup mengalir mengikuti permukaan lengkung
botol lalu meniup api lilin hingga mati. Seperti inilah udara yang melewati bagian
atas sayap ini mirip udara yang bergerak sepanjang botol. Udara ini akan mengalir
sepanjang permukaan atas sayap hingga mencapai ujung bawah sayap. Di ujung
bawah sayap itu partikel-partikel udara bergerombol dan bertambah terus sampai
akhirnya kelebihan berat dan berjatuhan dimana peristiwa ini disebut downwash.
Siraman udara atau downwash ini juga merupakan komponen gaya aksi. Tanah
yang menerima gaya aksi ini pasti langsung memberikan gaya reaksi

yang

Universitas Sumatera Utara

besarnya sama dengan gaya aksi tetapi berlawanan arah. Karena gaya aksinya
menuju tanah (ke arah bawah), berarti gaya reaksinya ke arah atas. Gaya reaksi ini
memberikan gaya angkat (lift) yang bisa mengangkat pesawat dan mengalahkan
gaya berat akibat tarikan gravitasi bumi. Sumber gaya angkat (lift) yang lain
adalah perbedaan tekanan udara dipermukaan atas dan dipermukaan bawah sayap,
dimana terjadi penerapan Hukum Bernoulli disini. Untuk aliran inkompresibel,
dimana = konstan persamaan yang terjadi adalah :
1 +

1
1
12 = 2 + 22
2
2

Persamaan diatas disebut dengan persamaan Bernoulli, yang mana P1


relatif terhadap V1 dan P2 relatif terhadap V2 pada sepanjang permukaan airfoil.
Sewaktu udara akan mengalir di bagian atas sayap, tekanannya sebesar P1. Ketika
udara melewati bagian bawah sayap, tekanan udara di daerah itu sebesar P2. Dari
gambar 2.4 terlihat korelasi antara kecepatan fluida dan tekanan yang terjadi di
permukaan atas dan permukaan bawah airfoil sayap pesawat. Kecepatan fluida di
permukaan atas airfoil lebih tinggi jika dibandingkan engan kecepatan di
permukaan bawah fluida, hal ini menyebabkan tekanan di permukaan atas airfoil
lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di permukaan bawah airfoil sihingga
menghasilkan gaya angkat ( Lift ) yang digunanakan untuk mengangkat pesawat.
Korelasi ini sesuai dengan Hukum Bernoulli.

2.1.4 Pergerakan Pesawat di Udara


Pada dasarnya pesawat terbang mempunyai 3 sumbu pergerakan (x, y,
dan z axis) seperti penjelasan dibawah ini :

Universitas Sumatera Utara

a.

Roll , yaitu pergerakan pesawat terhadap sumbu horisontal depan


belakang yang mengakibatkan pesawat berguling kiri kanan (badan
pesawat diam, sayap kiri kanan yg turun naik).

b. Yaw , yaitu pergerakan pesawat terhadap sumbu vertikal yg


menyebabkan hidung pesawat berubah arah kiri kanan (pesawat akan
berbelok kiri kanan).
c.

Pitch , yaitu pergerakan pesawat terhadap sumbu horisontal yg tegak


lurus terhadap sumbu roll yg menyebabkan hidung pesawat akan turun
atau naik .

Gambar 2.5 Arah pergerakan pesawat

2.2 Pesawat Model (Aeromodelling)

Aeromodelling adalah suatu kegiatan yang mempergunakan sarana pesawat


terbang miniatur (model) untuk tujuan rekreasi, edukasi, dan olah raga. Kegiatan
olah raga dirgantara yang terkait dengan perencanaan, perancangan, pembuatan
dan penerbangan pesawat model. Sedangkan pesawat model adalah pesawat udara
tak berawak dengan batasan-batasan tertentu yang meliputi batasan ukuran
pesawat, batasan mesin dan batasan bentuk. Pesawat tak berawak untuk keperluan

Universitas Sumatera Utara

pengintaian atau untuk misi ke luar angkasa misalnya oleh militer atau badan luar
angkasa disebut UAV (Unmanned Air Vehicle) dan tidak termasuk kategori
aeromodelling.

Gambar 2.6 Pesawat model

Bila berbicara mengenai masalah aerodinamika, maka dalam pikiran terlintas


mengenai ilmu mekanika fluida, dimana disitu terdapat pembahasan mengenai
dinamika fluida. Pada dasarnya ilmu aerodinamika adalah cabang dari ilmu
mekanika fluida itu sendiri. Dalam ilmu aerodinamika ini ada pembahasan
mengenai airfoil atau aerofoil. Untuk itu, pembahasan mengenai airfoil ini sangat
perlu, adanya pembahasan yang lebih mendalam akan memudahkan mengetahui
karakteristik sebuah airfoil. Sebenarnya aplikasi airfoil ini sangatlah banyak,
sebagai contoh pada sayap pesawat, blade sebuah turbin, impeller pada sentrifugal
pompa dan propeler turbin angin.
Tekanan dan kecepatan adalah besaran dasar dalam konsep ilmu
aerodinamika. Kedua parameter tersebut menjadi landasan konsep serta aplikasi
aerodinamika. Fenomena gerakan fluida yang melewati sebuah benda kerap kali
menimbulkan suatu masalah dalam perancangan pada industri yang bergerak
dalam bidang aerodinamika.

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Klasifikasi Pesawat Model

Pada dasarnya pembagian jenis pesawat model sama dengan pesawat


sebenarnya. Secara umum dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Pesawat model bermotor yang terdiri dari bersayap tetap ( fixed wing ) dan
sayap putar (rotary wing), kedua-duanya ada yang berfungsi sebagai
hobi/sport ( fun flying ) , trainer dan kompetisi/prestasi.
2. Pesawat model yang tidak bermotor terdiri dari jenis hobi/sport (fun) dan
kompetisi/prestasi.
Ada juga pesawat model yang dibuat menyerupai pesawat sebenarnya
baik dalam kategori fun dan kompetisi yang disebut model skala (scale model).
Untuk pesawat model kompetisi/prestasi klasifikasinya memiliki
standard FAI (Federation Aeronatique Internationale) yang berkedudukan di
Paris, Perancis.
Klasifikasi Pesawat Model Menurut FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) :
1. Kelas F1 (Free Flight) :
F1A (Glider A2)
F1H (Glider A1)
Chuck Glider/OHLG (On Hand Launched Glider)
2. Kelas F2 (Control Line) :
F2A (CL Team Race)
F2B (CL Aerobatic)
F2C (CL Speed)
F2D (CL Combat)

Universitas Sumatera Utara

3. Kelas F3 (Radio Control):


F-3 A ( RC Aerobatic )
F-3 C ( RC Helicopter )
F-3 G (RC Glider)
2.2.2 RC Glider
Glider merupakan pesawat model yang paling cocok untuk pemula. Hal
ini dikarenakan pesawat model jenis ini dapat terbang dengan kecepatan yang
rendah (slow flight). Adapun keunggulan-keunggulan pesawat glider adalah
sebagai berikut :

Tenaga penggeraknya menggunakan electric motor, sehingga kita tidak


perlu membeli bahan bakar, serta membeli peralatan-peralatan extra
lainnya.

Penerbangan glider tidak menimbulkan kebisingan ataupun gas buangan,


sehingga dapat diterbangkan pada lapangan yang luas dimana saja.

Pesawatnya biasa terbang dengan cukup lambat, sehingga dapat


memberikan ketenangan pada pilot yang mengendalikannya (relax-flying).

Biasanya harga glider juga lebih murah dibandingkan dengan model


engine.

Waktu terbang dapat cukup lama, bagi yang sudah mahir, penerbangan 30
menit atau lebih adalah hal yang mungkin terjadi karena memanfaatkan
efek termal di udara, dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh jenis rc-flight
yang lain (the flight-time winner).

Universitas Sumatera Utara

2.3 Sayap pada Pesawat Terbang


Berdasarkan letak sayapnya, pesawat di bagi atas beberapa jenis, diantaranya :
1. Pesawat terbang parasol.
Letak sayap berada di atas badan pesawat (fuselage) yang ditopang dengan
2 penyangga. Pesawat jenis ini dapat terbang dengan kecepatan yang
sangat rendah sehingga sangat cocok untuk pilot dalam melakukan uji
penerbangan. Tetapi pesawat jenis ini membutuhkan penyangga yang
menopang sayap pesawat sehingga struktur dari pesawat ini sendri sangat
rentan mengalami kerusakan apabila terjadi kecelakaan.

Gambar 2.7 Pesawat terbang parasol


2. Pesawat terbang bersayap tinggi (high wing aircraft).
Pemasangan sayap langsung di atas fuselage. Jenis pesawat ini biasa
digunakan untuk pesawat dengan letak propeler depan (tractor ). Hal ini
disesuaikan agar aliran fliuda yang mengalir di fuselage akibat dorongan
propeler tidak mengenai sayap. Hal ini bertujuan untuk mengurangi gaya
hambat. Berikut ini adalah gambar pesawat bersayap tinggi.

Gambar 2.8 Pesawat terbang bersayap tinggi

Universitas Sumatera Utara

3. Pesawat terbang bersayap tengah (mid wing aircraft)


Pemasangan sayap berada ditengah-tengah fuselage. Pesawat jenis ini
adalah jenis pesawat yang paling sering di jumpai. Pesawat ini dapat
terbang dengan kecepatan rendah maupun tinggi.Pesawat jenis ini sangat
cocok untuk tipe pesawat glider. Berikut ini adalah gambar pesawat
bersayap tengah.

Gambar 2.9 Pesawat terbang bersayap tengah

4. Pesawat terbang bersayap bawah (low wing aircraft)


Pemasangan sayap berada dibawah fuselage. Pesawat jenis ini dapat
terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Selain itu pesawat ini sangat
cocok untuk melakukan manuver di udara karena konstruksi sayap yang
sangat kuat, berikut ini adalah gambar pesawat bersayap bawah.

Gambar 2.10 Pesawat terbang bersayap bawah


Pada penelitian ini pesawat model yang digunakan adalah jenis pesawat
terbang model bersayap tengah (mid wing aircraft).

Universitas Sumatera Utara

2.3.1 Airfoil

Airfoil atau aerofoil adalah suatu bentuk geometri yang apabila


ditempatkan di suatu aliran fluida akan memproduksi gaya angkat (lift) lebih besar
dari gaya hambat (drag). Pada airfoil terdapat bagian-bagian seperti berikut :
a) Leading Edge adalah bagian yang paling depan dari sebuah airfoil.
b) Trailing Edge adalah bagian yang paling belakang dari sebuah airfoil.
c) Chamber line adalah garis yang membagi sama besar antara permukaan
atas dan permukaan bawah dari airfoil mean chamber line.
d) Chord line adalah garis lurus yang menghubungkan leading edge dengan
trailing edge.
e) Chord (c) adalah jarak antara leading edge dengan trailling edge.
f) Maksimum chamber adalah jarak maksimum antara mean chamber line
dan chord line. Posisi maksimum chamber diukur dari leading edge dalam
bentuk persentase chord.
g) Maksimum thickness adalah jarak maksimum antara permukaan atas dan
permukaan bawah airfoil yang juga diukur tegak lurus terhadap chord line.

Gambar 2.11 Bagian-bagian airfoil

Universitas Sumatera Utara

Ada beberapa tipe airfoil :


a. Under Chamber
Untuk pesawat yang lebih lambat (slow flyer) , atau yang memiliki
Reynolds Number rendah, lift tinggi pada kecepatan rendah dan hambatan juga
tinggi .

Gambar 2.12 Airfoil under chamber

b. Flat-Bottom
Biasanya untuk trainer awal, memiliki lift coefficient (daya angkat) yang
tinggi, pesawat lambat dan kemampuan manuver terbatas.

Gambar 2.13 Airfoil flat bottom

c. Semi-Simetris
Untuk trainer lanjutan, pesawat lebih cepat, dan pesawat mulai dapat
melakukan basic manuver.

Gambar 2.14 Airfoil semi simetris

Universitas Sumatera Utara

d. Fully Simetris
Airfoil jenis ini biasanya digunakan pada pesawat akrobatik.

Gambar 2.15 Airfoil fully simetris

2.3.2 Sejarah Perkembangan Airfoil


Penelitian serius untuk mengembangkan airfoil mulai dilakukan sejak
akhir abad 19. Meskipun saat itu telah diketahui bahwa plat datar pun dapat
membangkitkan

gaya angkat pada

sudut serang

tertentu,

namun

ada

kecenderungan pemikiran bahwa bentuk airfoil melengkung yang menyerupai


bentuk sayap burung dapat menghasilkan gaya angkat yang lebih efektif.
Paten bentuk airfoil pertama tercatat atas nama Horatio F. Phillips pada
tahun 1884. Phillips adalah seorang kebangsaan Inggris yang yang pertama kali
melakukan pengujian terowongan angin terhadap airfoil secara serius.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Otto Lilienthal memiliki ide yang
sama. Setelah melakukan pengukuran yang teliti terhadap bentuk sayap burung, ia
menguji bentuk airfoil dengan kelengkungan pada mesin pemutar dengan
diameter 7 meter. Lilienthal percaya bahwa kunci sukses untuk melakukan
penerbangan adalah dengan menggunakan airfoil lengkung. Ia juga mengujinya
dengan radius nose yang berbeda-beda.
Tahun 1902 Wright bersaudara melakukan pengujian airfoil mereka di
terowongan angin, untuk mengembangkan bentuk yang efisien yang kemudian
memicu keberhasilan mereka pada penerbangan pertama 17 Desember 1903.

Universitas Sumatera Utara

Airfoil yang digunakan Wright bersaudara sangat mirip dengan desain dari Otto
Lilienthal, yaitu tipis dan melengkung. Hal ini dimungkinkan karena pengetesan
airfoil pada masa awal dilakukan pada bilangan Reynold yang sangat rendah.
Pemikiran salah bahwa airfoil yang efektif harus memiliki bentuk tipis dan
kelengkungan

tinggi

merupakan

alasan

pesawat

udara

yang

pertama

menggunakan sayap ganda.


Bentuk airfoil tipis dan kelengkungan tinggi kemudian semakin
ditinggalkan dan menyusut jumlahnya secara bertahap dalam kurun waktu satu
dekade berikutnya.
Airfoil dengan cakupan luas kemudian dikembangkan, yang umumnya
secara trial and error. Beberapa bentuk yang cukup sukses adalah Clark Y dan
Gottingen 398 yang digunakan sebagai basis bentuk airfoil yang diuji oleh NACA
pada awal tahun 1920-an.

2.3.3 Airfoil NACA ( National Advisory Committee for Aeronautics )


NACA airfoil adalah bentuk airfoil sayap pesawat udara yang
dikembangkan oleh National Advisory Committee for Aeronautics (NACA).
Sampai sekitar Perang Dunia II, airfoil yang banyak digunakan adalah hasil riset
Gottingen. Selama periode ini banyak pengujuan arifoil dilakukan diberbagai
negara, namun hasil riset NACA lah yang paling terkemuka. Pengujian yang
dilakukan NACA lebih sistematik dengan membagi pengaruh efek kelengkungan
dan distribusi ketebalan atau thickness serta pengujiannya dilakukan pada
bilangan Reynold yang lebih tinggi dibanding yang lain.

Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Konstruksi Geometri Airfoil NACA


Airfoil yang saat ini umum digunakan sangat dipengaruhi oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh NACA ini. Dan berikut ini adalah klasifikasi jenisjenis airfoil NACA :
NACA Seri 4 Digit
Sekitar tahun 1932, NACA melakukan pengujian beberapa bentuk
airfoil yang dikenal dengan NACA seri 4 digit. Distribusi kelengkungan
dan ketebalan NACA seri empat ini diberikan berdasarkan suatu
persamaan. Distribusi ini tidak dipilih berdasarkan teori, tetapi
diformulasikan berdasarkan pendekatan bentuk sayap yang efektif yang
digunakan saat itu, seperti yang dikenal adalah airfoil Clark Y.
Pada airfoil NACA seri empat, digit pertama menyatakan persen
maksimum chamber terhadap chord. Digit kedua menyatakan persepuluh
posisi maksimum chamber pada chord dari leading edge. Sedangkan dua
digit terakhir menyatakan persen ketebalan airfoil terhadap chord.
Contoh : airfoil NACA 2412 memiliki maksimum chamber 0.02 terletak
pada 0.4c dari leading edge dan memiliki ketebalan maksimum 12%
chord atau 0.12c.
NACA Seri 5 Digit
Pengembangan airfoil NACA 5 digit dilakukan sekitar tahun 1935
dengan menggunakan distribusi ketebalan yang sama dengan seri empat
digit. Garis kelengkungan rata-rata (mean chamber line) seri ini berbeda
dibanding seri empat digit. Perubahan ini dilakukan dalam rangka

Universitas Sumatera Utara

menggeser maksimum chamber kedepan sehingga dapat meningkatkan


CL maksimum. Jika dibandingkan ketebalan (thickness) dan chamber,
seri ini memiliki nilai CL maksimum 0.1 hingga 0.2 lebih tinggi
dibanding seri empat digit. Sistem penomoran seri lima digit ini berbeda
dengan seri empat digit. Pada seri ini, digit pertama dikalikan 3/2
kemudian dibagi sepuluh memberikan nilai desain koefisien lift.
Setengah dari dua digit berikutnya merupakan persen posisi maksimum
chamber terhadap chord. Dua digit terakhir merupakan persen
ketebalan/thickness terhadap chord. Contohnya, airfoil 23012 memiliki
CL desain 0.3, posisi maksimum chamber pada 15% chord dari leading
edge dan ketebalan atau thickness sebesar 12% chord.
NACA Seri-1 (Seri 16)
Airfoil NACA seri 1 yang dikembangkan sekitar tahun 1939
merupakan seri pertama yang dikembangkan berdasarkan perhitungan
teoritis. Airfoil seri 1 yang paling umum digunakan memiliki lokasi
tekanan minimum di 0.6 chord, dan kemudian dikenal sebagai airfoil
seri-16. Chamber line airfoil ini didesain untuk menghasilkan perbedaan
tekanan sepanjang chord yang seragam.
Penamaan airfoil seri 1 ini menggunakan lima angka. Misalnya
NACA 16-212. Digit pertama menunjukkan seri 1. Digit kedua
menunjukkan persepuluh posisi tekanan minimum terhadap chord.
Angka dibelakang tanda hubung : angka pertama merupakan persepuluh
desain CL dan dua angka terakhir menunjukkan persen maksimum
thickness terhadap chord. Jadi NACA 16-212 artinya airfoil seri 1 dengan

Universitas Sumatera Utara

lokasi tekanan minimum di 0.6 chord dari leading edge, dengan desain
CL 0.2 dan thickness maksimum 0.12.
NACA Seri 6
Airfoil NACA seri 6 didesain untuk mendapatkan kombinasi drag,
kompresibilitas, dan performa CL maksimum yang sesuai keinginan.
Beberapa persayaratan ini saling kontradiktif satu dan lainnya, sehingga
tujuan utama desain airfoil ini adalah mendapatkan drag sekecil
mungkin.
Geometri seri 6 ini diturunkan dengan menggunakan metode
teoritik yang telah dikembangkan dengan menggunkan matematika lanjut
guna mendapatkan bentuk geometri yang dapat menghasilkan distribusi
tekanan sesuai keinginan. Tujuan pendekatan desain ini adalah
memperoleh

kombinasi

thickness

dan

chamber

yang

dapat

memaksimalkan daerah alirah laminer. Dengan demikian maka drag


pada daerah CL rendah dapat dikurangi.
Aturan penamaan seri 6 ini cukup membingungkan dibanding seri
lain, diantaranya karena adanya banyak perbedaan variasi yang ada.
Contoh yang umum digunakan misalnya NACA 641-212, a = 0.6. Angka
6 di digit pertama menunjukkan seri 6 dan menyataan famili ini didesain
untuk aliran laminer yang lebih besar dibanding seri 4 digit maupun 5
digit. Angka 4 menunjukkan lokasi tekanan minimum dalam persepuluh
terhadap chord ( 0.4 c ). Subskrip 1 mengindikasikan bahwa range drag
minimum dicapai pada 0.1 diatas dan dibawah CL design yaitu 2 dilihat
angka 2 setelah tanda hubung. Dua angka terakhir merupakan persen

Universitas Sumatera Utara

thickness terhadap chord, yaitu 12% atau 0.12. Sedangkan a= 0,6


mengindikasikan persen chord airfoil dimana distribusi tekanannya
seragam, dalam contoh ini adalah 60 % chord.
NACA Seri 7
Seri 7 merupakan usaha lebih lanjut untuk memaksimalkan daerah
aliran laminer diatas suatu airfoil dengan perbedaan lokasi tekanan
minimum dipermukaan atas dan bawah. Contohnya adalah NACA
747A315. Angka 7 menunjukkan seri. Angka 4 menunjukkan lokasi
tekanan minimum di permukaan atas dalam persepuluh (yaitu 0.4c) dan
angka 7 pada digit ketiga menunjukkan lokasi tekanan minimum di
permukaan bawah airfoil dalam persepuluh (0.7c). A, sebuah huruf pada
digit keempat, menunjukkan suatu format distribusi ketebalan dan mean
line yang standardisasinya dari NACA seri awal. Angka 3 pada digit
kelima menunjukkan CL desain dalam persepuluh (yaitu 0.3) dan dua
angka terakhir menunjukkan persen ketebalan maksimum terhadap
chord, yairu 15% atau 0.15.
NACA Seri 8
Airfiol NACA seri 8 didesain untuk penerbangan dengan
kecepatan supercritical. Seperti halnya seri sebelumnya, seri ini didesain
dengan tujuan memaksimalkan daerah aliran laminer di permukaan atas
permukaan bawah secara independen. Sistem penamaannya sama dengan
seri 7, hanya saja digit pertamanya adalah 8 yang menunjukkan serinya.
Contohnya adalah NACA 835A216 adalah airfoil NACA seri 8 dengan

Universitas Sumatera Utara

lokasi tekanan minimum di permukaan atas ada pada 0.3c, lokasi tekanan
minimum di permukaan bawah ada pada 0.5c, memiliki CL desain 2 dan
ketebalan atau thickness maksimum 0.16c.

2.3.5 Sudut Serang (Angle of Attack)


Sudut serang adalah sudut yang dibentuk oleh tali busur sebuah airfoil
dan arah aliran udara yang melewatinya (relative wind). Biasanya diberi tanda
(alpha). Untuk airfoil simetris, besar lift yang dihasilkan akan nol bila sudut
serang nol, sedang pada airfoil tidak simetris sekalipun sudut serang nol tetapi
gaya angkat telah timbul. Gaya angkat menjadi nol bila airfoil tidak simetis
membentuk sudut negatif terhadap aliran udara. Sudut serang dimana gaya angkat
sebesar nol ini disebut zero angle lift.

Gambar 2.16 Angle of attack sebuah airfoil

2.4 Metode Elemen Hingga


Metode Elemen Hingga adalah salah satu dari metode numerik yang
memanfaatkan operasi matrix untuk menyelesaikan masalah-masalah fisik.
Metode ini dibangun sebagai metode numerik untuk analisa tegangan, tapi
sekarang pemakaiannya telah meluas sebagai metode yang umum untuk banyak
permasalahan engineering kompleks dan ilmu-ilmu fisika. Mengandung banyak

Universitas Sumatera Utara

perhitungan, pertumbuhannya

berhubungan dekat

dengan

pengembangan

teknologi komputer.
Metode Elemen Hingga digunakan dengan membagi suatu benda menjadi
beberapa bagian dan bagian-bagian tersebut disebut dengan mesh. Beberapa mesh
yang terbentuk dari suatu benda dan terdiri dari beberapa titik (node). Nilai dan
jumlah titik (node) ditentukan oleh jumlah mesh.
Node 1

Node 2
Mesh 1

Node 3
Mesh 2

Node 4
Mesh 3

Gambar 2.17 Pembagian Mesh pada benda


n=m+1
dimana :
n

= jumlah node

= jumlah mesh
Dengan demikian, pada persamaan diatas didapat bahwa jumlah titik

(node) pada pembagian elemen sama dengan jumlah mesh ditambah satu. Prinsip
prinsip dasar inilah yang kemudian banyak dipakai sebagai basis dari program
komputer untuk simulasisimulasi, baik simulasi tegangan, aliran dan lainnya.
Maka dari itu Metode elemen hingga tidak dapat dipisahkan dari program
program komputer yang berbasis Computional Fluid Dinamic (CFD).

Universitas Sumatera Utara

2.5 Computional Fluid Dinamic (CFD)


Perkembangan teknologi yang serba terkomputerisasi, telah memberi banyak
kemudahan salah satunya dalam hal mendapatkan informasi dari analisa yang
mempunyai tingkat kerumitan yang tinggi bila dilakukan secara manual.
Computational Fluid Dynamics (CFD) merupakan ilmu pengetahuan dengan
bantuan komputer yang menghasilkan prediksi kuantitatif fenomena aliran fluida
yang berdasarkan pada hukum konservasi ( konservasi masa, momentum, dan
energi ) yang mengatur pergerakan fluida. CFD menggabungkan berbagai ilmu
dasar teknologi diantaranya matematika, ilmu komputer, teknik dan fisika. Semua
ilmu disiplin tersebut digunakan untuk pemodelan atau simulasi aliran fluida.
Prediksi ini biasanya terjadi pada kondisi yang ditentukan oleh geometri aliran,
properties fluida, serta batas dan kondisi awal dari aliran fluida. Prediksi
umumnya memberikan nilai dari variabel aliran, diantaranya kecepatan, tekanan,
atau temperatur pada lokasi tertentu.
Prinsip CFD adalah metode penghitungan yang mengkhususkan pada fluida,
di mana sebuah kontrol dimensi, luas serta
komputasi komputer maka dapat dilakukan

volume dengan memanfaatkan


perhitungan pada tiap-tiap

elemennya.
Hal yang paling mendasar mengapa konsep CFD banyak sekali digunakan
dalam dunia industri adalah dengan CFD dapat dilakukan analisa terhadap suatu
sistem dengan mengurangi biaya eksperimen dan tentunya waktu yang panjang
dalam melakukan eksperimen tersebut atau dalam proses design engineering tahap
yang harus dilakukan menjadi lebih pendek. Hal lain yang mendasari pemakaian

Universitas Sumatera Utara

konsep CFD adalah pemahaman lebih dalam mengenai karakteristik aliran fluida
dengan melihat hasil berupa grafik, vektor, kontur bahkan animasi.
2.5.1 Software software pada Computional Fluid Dinamic
Computional Fluid Dinamic memiliki banyak softwaresoftware bantu
untuk menyelesaikan permasalahanpermasalahan dalam dinamika fluida,
diantaranya Solidwork, Exceed, GAMBIT dan program-program CAD/CAE,
seperti; AutoCad, CATIA, NASTRAN, ProEngineering, dan lain-lain.
Pada analisis ini digunakan software Solidwork. Solidwork dipilih karena
memiliki keunggulankeunggulan dibandingkan dengan softwaresoftware lain,
diantaranya :
Graphic User Interface / tampilan dan fitur - fiturnya lebih menarik, juga
penanganannya lebih mudah.
Relatif lebih ringan ketika dijalankan di komputer, dalam artian tidak
memerlukan memori komputer yang terlalu besar.
Lebih banyak model yang dapat dibuat di Solidwork.
2.5.2 Tahapan kerja pada CFD
Sebelum analisa dalam CFD dilaksanakan, terlebih dahulu dibuat desain
awal benda yang akan disimulasikan. Disini benda yang akan disimulasikan
adalah airfoil NACA 2412 yang digunakan pada sayap pesawat model tipe glider
dan akan disimulasikan dengan software solidwork agar lebih mudah dan cepat
dalam pembuatannya. Selain itu, perangkat lunak ini juga disertai dengan fasilitas
pendukung untuk menganalisa dan mensimulasikan gerakan, diantaranya :

Universitas Sumatera Utara

Cosmoswork

digunakan

untuk

menganalisa

kecepatan,

tekanan,

tegangan, frekuensi, tekanan, suhu dan sebagainya.


Cosmosmotion digunakan untuk membuat gerakan dari benda, membuat
simulasi serta menganimasikannya. Selain itu, Cosmosmotion juga dapat
menganalisa beban untuk kasus analisa struktur.
Cosmosflowork digunakan untuk menganalisa aliran fluida baik dalam
maupun luar, tekanan, kecepatan dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara