Anda di halaman 1dari 6

JUST IN TIME

Pendekatan Just In Time dikembangkan oleh Mr. Taiichi Ohno (mantan wakil
presiden Toyota Motor Company di Jepang) bersama rekannya di pertengahan 1970.
Pengembangan Just In Time di Jepang adalah untuk menghindari atau mengeliminasi
pemborosan, menghindari produk-produk rusak atau cacat dengan menghasilkan produk yang
bermutu tinggi, mengeliminasi pengerjaan ulang dan penumpukan persediaan.
Keberhasilan Just In Time pada Toyota Motor Company menarik perhatian
perusahaan lain di Jepang. Toyota telah memperoleh pengakuan dunia industri tentang
keberhasilannya mengurangi inventory sampai pada tingkat minimum (orientasi zero
inventory). Sejak saat penerapan sistem Just In Time terbukti manfaatnya semakin bertambah
banyak perusahaan-perusahaan di Jepang yang ikut menerapkan sistem Just In Time. Konsep
Just In Time ini kemudian meluas di luar Jepang yaitu Ford, Chrysler, General Motor,
Hawlett Packard merupakan contoh perusahaan-perusahaan besar yang telah menerapkan
sistem Just In Time. Tempat makan siap saji seperti McDonalds telah belajar sistem
manufaktur Just In Time seperti Toyota, dengan menerapkan sistem Just In Time baru yang
disebut dengan Made For You. Dimana tujuan dari sistem Just In Time tersebut adalah
melayani setiap konsumen dengan makanan yang sesegar mungkin dalam waktu 90 detik.
Sampai saat ini, sistem Just In Time terus berkembang dan diterapkan bukan saja pada
perusahaan-perusahaan manufaktur, tetapi juga dikembangkan oleh perusahaan kecil
(Ristono, 2010).
Tujuan dari Just In Time (JIT) adalah menghilangkan pemborosan melalui perbaikan
terus-menerus. Melalui Just In Time, segala sesuatu material, mesin dan peralatan, sumber
daya manusia, modal, informasi, manajerial, proses dan lainnya yang tidak memberikan nilai
tambah pada produk disebut sebagai pemborosan. Nilai tambah produk, merupakan kunci
dalam Just In Time. Nilai tambah produk diperoleh dari aktivitas aktual yang dilakukan pada
produk, tidak melalui pemindahan, penyimpanan, penghitungan dan penyortiran (Ristono,
2010).
Menurut Indrajid dan Pranoto (2003), tujuan dari adanya manajemen menggunakan
dan mengembangkan konsep manajemen Just In Time dalam perusahaan dapat dirangkum
atas beberapa aspek. Adapun tujuan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan fleksibilitas produk yang tinggi produksi, bersifat sistem tarik (pull system)
memerlukan fleksibilitas tinggi untuk menanggapi tuntutan konsumen yang terus
berkembang. Produksi dengan cara sistem tarik (pendekatan baru) merupakan produksi
yang dilakukan untuk menganggapi permintaan, sedangkan produksi dengan sistem dorong
(pendekatan lama) merupakan produksi yang ditetapkan produsen kepada konsumen.

2. Meningkatkan efisiensi proses produksi


Peningkatan efisiensi dapat dilakukan terutama melalui pengurangan persediaan barang
sehingga mengakibatkan pengurangan biaya persediaan, atau dengan kata lain meningkatkan
perputaran modal. Biaya persediaan ini sangat tinggi, berkisar antara 20 persen40 persen
dari harga barang pertahun. Efisiensi didapat juga dengan cara mendesain pabrik sedemikian
rupa sehingga proses produksi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.

3. Meningkatkan daya kompetisi


Meningkatnya efisiensi dalam proses produksi dengan sendirinya akan meningkatkan daya
saing perusahaan. Hal ini dianggap salah satu tujuan yang paling penting, yaitu suatu tujuan
strategis, karena peningkatan efisiensi berarti penurunan biaya dan ini memungkinkan
perusahaan untuk tetap bertahan dalam persaingan pasar.

4. Meningkatkan mutu barang


Kemitraan pembeli-penjual yang dibina dan berlangsung dalam jangka panjang selalu
berusaha untuk melakukan perbaikan secara terus menerus dalam hal mutu dan biaya barang.
Mutu tinggi dari suku cadang atau komponen yang dipasok oleh pemasok pada gilirannya
akan meningkatkan mutu barang yang diproduksi oleh perusahaan. Kemitraan penjual
pembeli memungkinkan melakukan pengendalian mutu suku cadang atau komponen dengan
lebih murah dan lebih handal.

5. Mengurangi pemborosan
Pengurangan pemborosan terutama dalam bentuk barang yang terbuang, karena pada
hakekatnya pemborosan adalah biaya.
Menurut jenisnya, pemborosan dapat dibedakan dari cara pemborosan itu terjadi, yaitu:

Karena produksi berlebih (memproduksi barang dengan jumlah yang terlalu banyak).

Karena waktu tunggu (waktu tunggu yang tidak produktif dalam proses produksi
perusahaan).

Karena transport (gerakan yang tidak perlu dalam proses produksi).

Karena proses (operasi atau proses yang tidak perlu).

Karena persediaan (penimbunan bahan baku, bahan setengah jadi, bahan jadi, atau bahan
lain yang berlebih).

Karena gerakan (pengerjaan kembali atau hasil dari kegiatan-kegiatan yang tidak perlu).

Prinsip - prinsip JIT :


o The maker is responsible for quality ; Tanggung jawab kualitas terletak pada pembuat
produk,bukan bagian pengawasan kualitas ( quality control ).
o Quality is built-in ; Filosofinya pekerja berwenang memberhentikan dan mengkoreksi
proses produksi bilamana muncul masalah kualitas,respon yang cepat ( quick response )
dan produk tanpa cacat ( zero defects ).
o Compliance is required ; Pemenuhan terhadap standar kualitas sesuai kebutuhan
pelanggan,merupakan keharusan.

Keuntungan dan kerugian JIT


A. Keuntungan :

Biaya suku cadang ~ rendahnya biaya suku cadang dan rendahnya biaya persedian
barang.

Kualitas ~ adanya deteksi dan koreksi yang cepat atas kualitas barang yang tidak
memadai,serta kualitas yang tinggi atas suku barang yang dibeli.

Desain ~ respon yang cepat untuk rekayasa produk sesuai perubahan permintaan.

Efisiensi administrasi~ lebih sedikit pemasok,lebih sedikit pekerjaan untuk ekspedisi


dan pesanan yang dikeluarkan.

Produktivitas~ mengurangi kerja ulang,inspeksi dan kelambatan pengiriman barang.

Kebutuhan modal~

mengurangi persediaan atas suku cadang,dan barang akan

mengurangi biaya modal yang terkait.

B. Kerugian :

Kekeliruan dalam meramalkan permintaan dan ketidakmampuan pemasok untuk


bergerak cepat mengikuti perubahan permintaan.

JIT memerlukan persyaratan software dan hardware komunikasi yang beragam,masalah


akan muncul bilamana prasarana komunikasi baik internal maupun eksternal perusahaan
tidak berjalan baik.

Keuntungan pembelian dalam jumlah besar dengan harga rendah,mungkin dapat


melebihi keuntungan hasil negosiasi dalam kontrak JIT.

Pada saat kontrak berakhir,tidak ada jaminan bahwa kontrak akan diperpanjang.sehingga
tidak ada jaminan kontinuitas usaha bagi pemasok.

Dalam perusahaan, JIT memerlukan keterlibatan penuh semua karyawan dari semua
fungsi dengan menghilangkan hambatan / sekat antar fungsi.Diperluan biaya yang tinggi
untuk pelatihan karyawan.

Kemungkinan ketergantungan pemasok pada satu pembeli kepada pemasok,sehingga


membahayakan kontinuitas usaha pemasok ( buyer's market ).

Daftar Pustaka:
http://sulistyowati37.blogspot.com/
http://gressellahutasoit.blogspot.com/2012/11/just-in-time.html

TI-3209
Sistem Produksi
Yohanes Ivan J. 1512009

Departemen Teknik Industri


INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA
2013/2014