Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM PROPERTI MATERIAL

PEMERIKSAAN KOTORAN ORGANIK DALAM AGREGAT HALUS

KELOMPOK P6 :
Retno Ajeng Paramitha Dhevy

1306391900

Rengga Pradana Putra

1306391926

Galih Raka Sakti

1306391996

Choirunnisa Muthiah

1306448672

Afif Dandy Adhityo

1306448691

Tanggal Praktikum

: 12 Oktober 2014

Asisten Praktikum

: Andrew Alexander

Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

PEMERIKSAAN KOTORAN ORGANIK DALAM AGREGAT HALUS

A. TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan adanya bahan organik dalam pasir
alam yang akan digunakan sebagai bahan campuran mortar atau beton.
Kotoran organik adalah bahan-bahan organik yang terdapat di dalam pasir dan
menimbulkan efek merugikan terhadap mutu mortar beton.

B. DASAR TEORI
Kandungan bahan organik yang berlebihan pada unsur bahan beton dapat
mempengaruhi kualitas beton. Kadar organik adalah bahan-bahan yang terdapat di
dalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton.
Bahan organik berasal dari pohon-pohon dan dedaunan yang telah tercampur dalam
pasir dan bisaanya sudah membusuk. Standar untuk SNI adalah "Tidak ada
kandungan Bahan Organik".

Dalam PBI 1971 ditetapkan bahwa agregat halus yang akan dipakai untuk bahan
bangunan tidak boleh mengandung terlalu banyak zat organic, yang dapat
dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams Hander. Agregat halus yang baik
adalah agregat halus yang tidak mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak
yang dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder, dengan syarat
warna tingkat 1 dan 2. Standar warna yang digunakan no. 3, jika warna lebih muda
dari warna standar, yaitu no. 1 dan no. 2, maka dapat disimpulkan pasir
mengandung sedikit zat organic dan dapat digunakan sebagai bahan bangunan.
Sedangkan, jika warnanya lebih tua dari standar warna, yaitu no. 4 dan seterusnya,
maka agregat tersebut banyak mengandung bahan organik dan tidak layak
digunakan sebagai bahan campuran beton atau mortar. Kandungan kadar organik
tinggi dapat mengurangi kekuatan semen terutama berbahaya untuk kekuatan
beton. Dalam mortar bahan organik akan mengurangi kekuatan ikatan dan akan
terlihat sebagai noda coklat atau kuning di acian dan cat.

C. PERALATAN
1. Tabung Erlenmeyer
2. Standar warna (Organic Plate)
3. Larutan NaOH (terdiri dari 7.5 gr NaOH dan 250 ml air)

Gambar no 2. Organic Plate


D. BAHAN
Agregat halus sebanyak 250 gram (kira-kira 1/3 dari isi tabung)

E. PROSEDUR

1. Praktikan mencampur NaOH 3% sebanyak 7.5 gram, dengan air sebanyak 250
ml

2. Praktikan memasukkan agregat halus sebanyak 250 gram ke dalam tabung


elenmeyer

3. Praktikan memasukkan larutan NaOH 3% kedalam tabung elenmeyer

4. Praktikan mengocok campuran tadi secara perlahan-lahan

5. Praktikan mendiamkan campuran tadi selama 24 jam

6. Setelah 24 jam, praktikan membandingkannya denga organic Plate

F. ANALISIS
1. Analisis Percobaan
Percobaan pemeriksaan kotoran organik pada agregat halus ini bertujuan untuk
menentukan adanya bahan organik dalam agregat halus yang akan digunakan
sebagai bahan campuran mortar atau beton. Pertama-tama, praktikan menimbang
NaOH seberat 7.5 gram, kemudian praktikan juga mengambil air sebanyak 250
ml. Lalu praktikan menuangkan NaOH seberat 7.5 gram tersebut ke dalam gelas
yang sudah berisi air dan mengaduknya dengan menggunakan batang plastik.
Setelah itu, praktikan menimbang agregat halus sebanyak 250 gram. Sesudah
ditimbang, agregat halus tersebut dipindahkan ke dalam tabung erlenmeyer.
Kemudian, praktikan menuangkan larutan NaOH 3% yang telah dibuat ke dalam
erlenmeyer yang telah terdapat agregat halus di dalamnya. Larutan NaOH 3%
harus dituang pelan-pelan agar larutan NaOH 3% tertuang dan mengenai agregat
halus yang ada di dalam tabung Erlenmeyer secara merata. Setelah agregat halus
dan larutan NaOH 3% dimasukkan seluruhnya ke dalam tabung erlenmeyer,
praktikan mengocoknya secara perlahan-lahan. Setelah itu, campuran ini harus
didiamkan selama 24 jam, sebelum dicek perubahan warnanya. Setelah
didiamkan lebih dari 24 jam, praktikan membandingkan warna cairan yang ada
dengan standar warna atau organic plate no 3.

2. Analisis Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil perbandingan, bahwa
warna cairan hasil dari percobaan sesuai dengan indikator no 4 pada organic
plate, yang artinya lebih gelap dari indikator pembandingnya yaitu warna no. 3.
Hal ini menunjukkan bahwa agregat halus yang diuji mengandung bahan
organik yang jumlahnya banyak untuk dipakai sebagai bahan campuran pembuat
beton. Karena menurut PBI 1971, agregat halus yang digunakan dalam beton
tidak boleh mengandung terlalu banyak mengandung bahan organik, karena
kandungan bahan organik yang berlebihan pada unsur bahan campuran beton
dapat mempengaruhi kualitas beton. Tapi menurut percobaan warna dari
Abrams-Harder, apabila warnanya lebih besar dari no. 3, maka agregat halus
tersebut tidak bisa digunakan untuk campuran beton. Kandungan kadar organik
tinggi dapat mengurangi kekuatan semen terutama berbahaya untuk kekuatan
beton. Dalam mortar, bahan organik akan mengurangi kekuatan ikatan dan akan
terlihat sebagai noda coklat atau kuning di acian dan cat.

3. Analisis Kesalahan
a. Kesalahan Praktikan
1. Air yang digunakan bisa saja tidak tepat 250 ml, karena pada saat
pengambilan mata praktikan tidak sejajar dengan gelas ukur.
2. Pada saat memasukkan Agregat halus ke tabung erlenmeyer, ada
kemungkinan agregat halus ada yang jatuh atau tertiup angin. Sehingga,
agregat halus yang masuk ke dalam tabung tidak tepat 250 gram.
3. Pada saat mencampurkan NaoH 3% ke dalam air, bisa saja karena
praktikan mengaduknya kurang rata, maka larutannya tidak tercampur
semua, dan masih tertinggal di gelas ukur.

G. KESIMPULAN
1. Indikator warna hasil dari percobaan ini berada pada warna no 4.
2. Agregat halus yang diuji pada percobaan ini tidak layak untuk dijadikan bahan
campuran beton, karena indikator warna pengujiannya lebih besar dari 3.

3. Jumlah bahan organik yang terlalu tinggi pada suatu agregat halus, akan
mengurangi kualitas dari suatu mortar atau beton.

H. REFERENSI
American Society for Testing and Materials. Standards Test Method for Organic
Impurities in
Fine Aggregates for Concrete, No. ASTM C 40-04. Annual Book of AST, Standards,
Vol 04.02.
Badan Standarisasi Nasional. Meode pengujian kotoran organik dalam pasir untuk
campuran mortar atau beton, SNI 03-2816-1992