Anda di halaman 1dari 22

Gneiss

Gneiss adalah typical dari jenis batuan metamorf, batuan ini terbentuk pada
saat batuan sediment atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang
dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi. Hampir dari semua
jejak jejak asli batuan ( termasuk kandungan fosil) dan bentuk bentuk
struktur lapisan ( seperti layering dan ripple marks) menjadi hilang akibat
dari mineral-mineral mengalami proses migrasi dan rekristalisasi. Pada
batuan ini terbentuk goresan goresan yang tersusun dari mineral mineral
seperti hornblende yang tidak terdapat pada batuan batuan sediment.
Pada batuan gneiss, kurang dari 50 persen dari mineral mineral menjadi
mempunyai bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisanlapisan. Kita dapat melihat bahwasannya tidak seperti pada batuan schist
yang mempunyai pensejajaran mineral yang sangat kuat, batuan gneiss tidak
retak atau hancur sepanjang bidang dari pensejajaran mineral tersebut, dan
terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di
dalam batuan tersebut, hal ini tidak seperti kebanyakan bentuk bentuk
perlapisan yang terdapat pada batuan schist. Dengan proses metamorfosa
lebih lanjut batuan gneiss dapat berubah menjadi magmatite dan akhirnya
terkristalisasi
secara
total
menjadi
batuan
granit.
Meskipun batuan ini terubah secara alamiah, gneiss dapat mengekalkan
bukti terjadinya proses geokimia di dalam sejarah pembentukannya,
khususnya pada mineral mineral seperti zircon yang bertolak belakang
dengan proses metamorfosa itu sendiri. Batuan batuan keras yang berumur
tua seperti pada batuan gneiss yang berasal dari bagian barat Greenland,
Isotop atom karbon dari batuan tersebut menunjukkan bahwasannya ada
kehidupan pada masa batuan tersebut terbentuk , yaitu sekitar 4 millyar
tahun yang lalu.
POSTED BY ASMATIGMA AT 6:01 PM 0 COMMENTS
LABELS: BATUAN METAMORF GNEISS

Older Posts
BATUAN : BATUAN METAMORF

atuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses metamorfosa
pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur(T), tekanan (P), atau
Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan. Batuan metamorf diklasifikasikan
menjadi 3 (tiga) kelas atas dasar derajat metamorfosanya, yaitu:

Batuan metamorfosa derajat rendah;


Batuan metamorfosa derjat menengah, dan
Batuan metamorf derajat tinggi.

Penamaan Batuan Metamorf


Penamaan batuan metamorf didasarkan atas tekstur, struktur dan komposisi mineral
yang menyusun batuan tersebut. Adapun tekstur batuan metamorf terdiri dari: Bentuk

butir granoblatik (terdiri dari mineral-mineral granular), lepidoblastik (terdiri dari


mineral-mineral pipih), dan nematoblastik (terdiri dari mineral-mineral orthorombik),
sedangkan teksturnya ada foliasi, dan non foliasi.
Tekstur foliasi (tekstur batuan metamorf yang memperlihatkan adanya orientasi dari
mineralnya). Struktur batuan metamorf dapat terdiri dari struktur schistose (struktur
batuan metamorf yang memperlihatkan perselingan orientasi mineral pipih dan
mineral granular / nematoblastik), gneistose (struktur batuan metamorf yang
memperlihatkan hubungan dari orientasi mineral pipih dan mineral
nematoblastik/granular yang saling berpotongan/tidak menerus), hornfelsic (struktur
batuan metamorf yang hanya tidak memperlihatkan foliasi).
Derajat Metamorfosa
Derajat metamorfosa adalah suatu tingkatan metamorfosa yang didasarkan atas
temperatur (T) atau tekanan (P) atau keduanya T dan P. Tabel dibawah ini adalah
tingkatan batuan metamorf berdasarkan derajat metamorfosa:

Tabel dibawah ini adalah nama-nama batuan metamorf, tekstur batuan, derajat
metamorfosa, serta batuan asal.

Sumber : Noor, D., 2008. Pengantar Geologi, Universitas Pakuan, Bogor


BATUAN METAMORF

May 8th, 2009 by Risa Triandari in Geologi, Petrologi | leave a response


Sedikit esai tentang batuan metamorf yang diterjemahkan dan diringkas dari buku
Physical Geology (Twelfth Edition) yang ditulis oleh C. Plummer dan D. Carlson dan
diterbitkan pada tahun 2007. (By the way, saya sangat merekomendasikan buku ini
bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu geologi secara umum. Terutama yang
masih awam akan ilmu geologi karena didukung oleh gambar-gambar yang
memudahkan kita dalam memvisualisasikan penjelasannya dan bahasanya mudah
dicerna.) Semoga dapat bermanfaat ya =)
BATUAN METAMORF
PENDAHULUAN
Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah bentuk. Batuan yang
terkubur sangat dalam mengalami perubahan tekanan dan temperatur. Jika mencapai
suhu tertentu, batuan tersebut akan melebur menjadi magma. Namun, saat belum
mencapai titik peleburan kembali menjadi magma, apa yang terjadi pada batuan
tersebut? Batuan tersebut berubah menjadi batuan metamorf.
Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses metamorfosis. Proses
metamorfosis terjadi hanya di dalam Bumi. Proses tersebut mengubah tekstur asal
batuan, susunan mineral batuan, atau keduanya. Proses ini terjadi dalam solid state,
artinya, batuan tersebut tidak melebur. Bayangkan sebuah roti yang berubah menjadi
roti bakar. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa fluida terutama air
memiliki peranan penting dalam proses metamorfosis.
Batugamping termetamorfosis menjadi marmer.
Butiran halus kalsit pada batugamping terekristalisasi menjadi butiran besar.
Perubahan yang terjadi hanya pada teksturnya.
Serpih termetamorfosis menjadi mika berbutir besar.

Mineral lempung pada serpih tidak stabil pada temperatur tinggi. Perubahan yang
terjadi, selain teksturnya, juga mencakup pembentukan mineral baru.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK BATUAN
METAMORF
1. Komposisi Mineral Batuan Asal
2. Temperatur dan Tekanan Selama Metamorfosis
3. Pengaruh Gaya Tektonik
4. Pengaruh Fluida
KLASIFIKASI BATUAN METAMORF
Batuan metamorf diklasifikasikan berdasakan ada atau tidaknya foliasi. Foliasi adalah
struktur planar pada batuan metamorf yang disebabkan oleh pengaruh tekanan
diferensial saat proses metamorfosis.
Tidak Terfoliasi
Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut komposisi mineralnya.
Marmer terdiri dari butiran kalsit berukuran kasar. Jika batuan asalnya adalah
dolomit, namanya menjadi marmer dolomit.
Kuarsit terdiri dari butiran kuarsa yang terlaskan bersama dan terikat kuat pada
temperatur tinggi.
Hornfels berukuran butir sangat halus. Hornfels mika berasal dari serpih dan hornfels
amphibole berasal dari basalt.
Terfoliasi
Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut tipe foliasinya. Makin jelas foliasinya, makin
tinggi derajat metamorfosisnya (menandakan makin tingginya tekanan/temperatur).
Derajat
Struktur Nama Batuan
Mineral
metamorfosis
Penciri
Makin rendah Slaty
Slate/Batusabak Lempung,
silika
melembar
Slaty
Phyllite
Mika
Schistose
Schistose Schist

Karakter Khas

Butiran sangat halus. Kilap


earthy. Mudah membelah
menjadi lembaran tipis datar.
Butiran halus. Kilap sutra.
Membelah mengikuti
permukaan bergelombang.
Biotit, amfibol Berkomposisi mineral
muskovit
melembar dan memanjang
dengan susunan mendatar.

Gneissic

Gneiss

Variasi mineral yang luas.


Feldspar,
Mineral gelap dan terang
kuarsa,
terpisah dan membentuk
amfibol, biotit perlapisan atau lenses.
Perlapisan mungkin berlipat.
Lapisan gelap: biotit,
hornblende; lapisan terang:
felspar, kuarsa

JENIS-JENIS METAMORFISME
Metamorfisme Kontak/Termal
Metamorfisme ini faktor dominannya ialah temperatur tinggi. Tekanan confining
(tekanan yang pengaruhnya sama besar ke semua permukaan benda) juga
berpengaruh, namun tidak signifikan. Kebanyakan terjadi < 10 km di bawah
permukaan Bumi. Metemorfisme kontak terjadi pada batuan intrusi jika ada magma
yang mengintrusi batuan tersebut. Prosesnya menghasilkan efek yang dikenal dengan
sebutan baking effect. Zona kontak ini (disebut aureole) tidak terlalu luas, hanya
sekitar 1 100 meter. Karena tekanan diferensial (tekanan yang pengaruhnya tidak
sama besar ke semua permukaan benda) juga tidak terlalu signifikan, batuan
metamorf yang terbentuk biasanya tidak terfoliasi.
Metamorfisme Regional/Dinamotermal
Metamorfisme ini terjadi pada kedalaman yang signifikan yakni > 5 km. Batuan jenis
ini merupakan yang paling banyak tersingkap di permukaan. Biasanya pada dasar
pegunungan yang bagian atasnya tererosi. Batuan dari proses ini kebanyakan
terfoliasi, menandakan tingginya tingkat tekanan diferensial (akibat gaya tekonik).
Temperatur saat terjadi proses ini bervariasi, tergantung oleh kedalaman dan
kehadiran badan magma. Kehadiran mineral indeks dapat menentukan tingkat tekanan
dan temperatur proses rekristalisasi. Contohnya: schisthijau dan batuschist yang
mengandung mineral klorit, aktinolit, dan plagioklas kaya sodium, terbentuk pada P &
T lebih rendah; sedangkan amphibolit yang mengandung hornblende, plagioklas
feldspar, dan terkadang garnet, terbentuk pada P & T lebih tinggi.

Batuan Beku
Batuan beku atau igneous rock adalah batuan yang
terbentuk dari proses pembekuan magma di bawah
permukaan bumi atau hasil pembekuan lava di permukaan
bumi. Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen
(1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma
didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar
terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara
1.5002.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta
terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma
tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat
volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-

lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan nonvolatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang
lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat
perjalanan ke permukaan bumi, maka mineral-mineral akan
terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa
penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral
silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri yang
dikenal dengan Bowens Reaction Series.
Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali
mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat
fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam
membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan
lepas dari:
1. Tekstur
Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang
erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan
antara mineral-mineral dengan massa gelas yang
membentuk massa dasar dari batuan.
Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal
yang penting, yaitu:
o Kristalinitas
Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan
beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas
dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa
banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk
kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan
pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya
berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika
pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan
halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan
cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.
Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat
kristalisasi, yaitu:
Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya
tersusun oleh kristal.
Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik,
yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat
permukaan.
Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari
massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.
Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun
dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk
sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies
yang lebih kecil dari tubuh batuan.
o Granularitas

Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada


batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur
ukuran butir, yaitu:
Fanerik/fanerokristalin
Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan
satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa.
Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:
Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1
mm.
Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1
5 mm.
Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5
30 mm.
Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir
lebih dari 30 mm.
o Afanitik
Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan
dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop.
Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal,
gelas atau keduanya. Dalam analisa mikroskopis dapat
dibedakan:
Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku
bisa diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran
butiran sekitar 0,1 0,01 mm.
Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku
terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan
mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 0,002
mm.
Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh
gelas.
o Bentuk Kristal
Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan,
jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari
pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:
Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli
dari bidang kristal.
Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah
tidak terlihat lagi.
Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang
kristal asli.
Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk
kristal, yaitu:
Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya
sama panjang.
Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang
dari satu dimensi
yang lain.

Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih


panjang dari dua dimensi yang lain.
Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.
o Hubungan Antar Kristal
Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan
sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan
yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi
dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
Equigranular, yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya
yang membentuk batuan berukuran sama besar.
Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular
dibagi menjadi tiga, yaitu:
Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar
mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang
euhedral.
Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar
mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang
subhedral.
Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar
mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang
anhedral.
Inequigranular, yaitu apabila ukuran butir kristalnya
sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang
besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar
atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.
2. Struktur
Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang
meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan
batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat
dilihat dilapangan saja, misalnya:
o Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari
batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti
bantal.
o Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya
kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah
aliran.
Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh
batuan (hand speciment sample), yaitu:
o Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran,
jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan
tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam
dalam tubuh batuan beku.
o Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang
disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan
magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang
teratur.
o Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler

tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang


tidak teratur.
o Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas
telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral
silikat atau karbonat.
o Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya
fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan
yang mengintrusi.
Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif),
sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku
dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan
pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang),
dan sheeting joint (kekar berlembar).
3. Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku,
cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan
kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan
beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
o Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang,
terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid
dan muskovit.
o Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap,
terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.
Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara
terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan
demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda
meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar
klasifikasinya.
Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut
Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:
Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di
permukaan.
Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat
permukaan.
Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam
bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut
plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.
Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes,
1962), yaitu:
Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari
66%. Contohnya adalah riolit.
Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara
52% - 66%. Contohnya adalah dasit.
Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% 52%. Contohnya adalah andesit.
Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang
dari 45%. Contohnya adalah basalt.

Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943),


yaitu:
Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30%
mineral mafik.
Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral
mafik.
Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60%
mineral mafik.
Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan
beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:
Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna
kurang dari 10%.
Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10%
sampai 40%.
Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40%
sampai 70%.
Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari
70%.
3.2 Sifat-sifat fisik mineral
Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan
sifat-sifat
fisik mineral antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya.
Sifat-sifat
fisik mineral tersebut meliputi: warna, kilap (luster), kekerasan
(hardness), cerat
(streak), belahan (cleavage), pecahan (fracture), struktur/bentuk
kristal, berat
jenis, sifat dalam (tenacity), dan kemagnetan.

Warna adalah kesan mineral jika terkena cahaya. Warna mineral


dap20
at dibedakan menjadi dua, yaitu idiokromatik, bila warna mineral
selalu
tetap, umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus
cahaya

(opak), seperti galena, magnetit, pirit; dan alokromatik, bila warna


mineral
tidak tetap, tergantung dari material pengotornya. Umumnya
terdapat pada
mineral-mineral yang tembus cahaya, seperti kuarsa, kalsit.
Kilap adalah kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan
padanya. Kilap dibedakan menjadi dua, yaitu kilap logam dan kilap
bukanlogam.
Kilap logam memberikan kesan seperti logam bila terkena cahaya.
Kilap ini biasanya dijumpai pada mineral-mineral yang mengandung
logam
atau mineral bijih, seperti emas, galena, pirit, kalkopirit. Kilap
bukan-logam
tidak memberikan kesan seperti logam jika terkena cahaya. Kilap
jenis ini dapat
dibedakan menjadi:

_ Kilap kaca (vitreous luster)


memberikan kesan seperti kaca bila terkena cahaya, misalnya:
kalsit,
kuarsa, halit.

_ Kilap intan (adamantine luster)


memberikan kesan cemerlang seperti intan, contohnya intan

_ Kilap sutera (silky luster)


memberikan kesan seperti sutera, umumnya terdapat pada mineral
yang

mempunyai struktur serat, seperti asbes, aktinolit, gipsum

_ Kilap damar (resinous luster)


memberikan kesan seperti damar, contohnya: sfalerit dan resin

_ Kilap mutiara (pearly luster)


memberikan kesan seperti mutiara atau seperti bagian dalam dari
kulit
kerang, misalnya talk, dolomit, muskovit, dan tremolit.

_ Kilap lemak (greasy luster)


menyerupai lemak atau sabun, contonya talk, serpentin

_ Kilap tanah
kenampakannya buram seperti tanah, misalnya: kaolin, limonit,
bentonit.

Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan.


Secara relatif
sifat fisik ini ditentukan dengan menggunakan skala Mohs, yang
dimulai dari
skala 1 yang paling lunak hingga skala 10 untuk mineral yang
paling keras.
Skala Mohs tersebut meliputi (1) talk, (2) gipsum, (3) kalsit, (4)
fluorit, (5) apatit,

(6) feldspar, (7) kuarsa, (8) topaz, (9) korundum, dan (10) intan.

Cerat adalah warna mineral dalam bentuk bubuk. Cerat dapat sama
atau
berbeda dengan warna mineral. Umumnya warna cerat tetap.
Belahan
adalah kenampakan mineral berdasarkan kemampuannya
membelah melalui
bidang-bidang belahan yang rata dan licin (Gambar 3.1). Bidang
belahan
umumnya sejajar dengan bidang tertentu dari mineral tersebut.

Pecahan adalah kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang


yang
tidak rata dan tidak teratur. Pecahan dapat dibedakan menjadi: (a)
pecahan
konkoidal, bila memperlihatkan gelombang yang melengkung di
permukaan
(Gambar 3.2); (b) pecahan berserat/fibrus, bila menunjukkan
kenampakan
seperti serat, contohnya asbes, augit; (c) pecahan tidak rata, bila
memperlihatkan
permukaan yang tidak teratur dan kasar, misalnya pada garnet;
(d) pecahan rata, bila permukaannya rata dan cukup halus,
contohnya: mineral
lempung; (e) pecahan runcing, bila permukaannya tidak teratur,
kasar,
dan ujungnya runcing-runcing, contohnya mineral kelompok logam
murni;
(f) tanah, bila kenampakannya seperti tanah, contohnya mineral

lempung.

Bentuk mineral dapat dikatakan kristalin, bila mineral tersebut


mempunyai
bidang kristal yang jelas dan disebut amorf, bila tidak mempunyai
batasbatas
kristal yang jelas. Mineral-mineral di alam jarang dijumpai dalam
bentuk
kristalin atau amorf yang ideal, karena kondisi pertumbuhannya
yang biasanya
terganggu oleh proses-proses yang lain. Srtruktur mineral dapat
dibagi
menjadi beberapa, yaitu:

_ Granular atau butiran: terdiri atas butiran-butiran mineral yang


mempunyai
dimensi sama, isometrik.

_ Struktur kolom, biasanya terdiri dari prisma yang panjang dan


bentuknya
ramping. Bila prisma tersebut memanjang dan halus, dikatakan
mempunyai struktur fibrus atau berserat.

GAMBAR 3.1: Belahan tiga arah pada gipsum yang dihasilkan dari
fragmen semirombohedral
(Hibbard, 2002)

GAMBAR 3.2: Pecahan konkoidal pada beril (Hibbard, 2002

_ Struktur lembaran atau lamelar, mempunyai kenampakan seperti


lembaran.
Struktur ini dibedakan menjadi: tabular, konsentris, dan foliasi.

_ Struktur imitasi, bila mineral menyerupai bentuk benda lain,


seperti
asikular, filiformis, membilah, dll.

Sifat dalam merupakan reaksi mineral terhadap gaya yang


mengenainya,
seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan,
pemukulan
atau penghancuran. Sifat dalam dapat dibagi menjadi: rapuh
(brittle), dapat
diiris (sectile), dapat dipintal (ductile), dapat ditempa (malleable),
kenyal/lentur
(elastic), dan fleksibel (flexible).

3.3 Sistematika mineral


Sistematika atau klasifikasi mineral yang biasa digunakan adalah
klasifikasi
dari Dana, yang mendasarkan pada kemiripan komposisi kimia dan
struktur
kristalnya. Dana membagi mineral menjadi delapan golongan (Klein
& Hurlbut,
1993), yaitu:

1. Unsur murni (native element), yang dicirikan oleh hanya memiliki


satu
unsur kimia, sifat dalam umumnya mudah ditempa dan/atau dapat
dipintal,
seperti emas, perak, tembaga, arsenik, bismuth, belerang, intan,
dan grafit.

2. Mineral sulfida atau sulfosalt, merupakan kombinasi antara


logam atau
semi-logam dengan belerang (S), misalnya galena (PbS), pirit
(FeS2),
proustit (Ag3AsS3), dll

3. Oksida dan hidroksida, merupakan kombinasi antara oksigen


atau
hidroksil/air dengan satu atau lebih macam logam, misalnya
magnetit
(Fe3O4), goethit (FeOOH).

4. Haloid, dicirikan oleh adanya dominasi dari ion halogenida yang


elektronegatif,
seperti Cl, Br, F, dan I. Contoh mineralnya: halit (NaCl), silvit
(KCl), dan fluorit (CaF2).

5. Nitrat, karbonat dan borat, merupakan kombinasi antara


logam/semilogam
dengan anion komplek, CO3 atau nitrat, NO3 atau borat

(BO3). Contohnya: kalsit (CaCO3), niter (NaNO3), dan borak


(Na2B4O5(OH)4 . 8H2O).
6. Sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat, dicirikan oleh kombinasi
logam
dengan anion sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat. Contohnya:
barit
(BaSO4), wolframit ((Fe,Mn)Wo4)

7. Fosfat, arsenat, dan vanadat, contohnya apatit (CaF(PO4)3),


vanadinit
(Pb5Cl(PO4)3)

8. Silikat, merupakan mineral yang jumlah meliputi 25% dari


keseluruhan
mineral yang dikenal atau 40% dari mineral yang umum dijumpai.
Kelompok mineral ini mengandung ikatan antara Si dan O.
Contohnya:
kuarsa (SiO2), zeolit-Na (Na6[(AlO2)6(SiO2)30] . 24H2O).

GAMBAR 3.3: Beberapa kebiasaan mineral dan asal mulanya (Klein


& Hurlbut, 1993)

Paleontologi

Fosil
Fosil, dari bahasa Latin fossa yang berarti "galian", adalah sisa-sisa
atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral.
Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera
tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam
fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar,
fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur ter La Brea di Kalifornia.
Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata
masih ada disebut fosil hidup. Ilmu yang mempelajari fosil adalah
paleontologi.
Secara singkat definisi dari fosil harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Sisa-sisa organisme.
2. Terawetkan secara alamiah.
3. Pada umumnya padat/kompak/keras.
4. Berumur lebih dari 11.000 tahun.
Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau
tumbuhan yang terakumulasi dalam sedimen atau endapanendapan baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh,
sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat
terjadinya pemfodilan yaitu antara lain:
Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
1. Mengalami pengawetan
2. Terbebas dari bakteri pembusuk
3. Terjadi secara alamiah
4. Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
5. Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

Istilah "fosil hidup" adalah istilah yang digunakan suatu spesies


hidup yang menyerupai sebuah spesies yang hanya diketahui dari
fosil. Beberapa fosil hidup antara lain ikan coelacanth dan pohon
ginkgo. Fosil hidup juga dapat mengacu kepada sebuah spesies
hidup yang tidak memiliki spesies dekat lainnya atau sebuah
kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki spesies dekat
lainnya. Contoh dari kriteria terakhir ini adalah nautilus.