Anda di halaman 1dari 7

Tuntunan Islam dalam Menyikapi Informasi

Diposkan oleh Admin BeDa pada Jumat, 22 Februari 2013 |


10.00 WIB

Khutbah Jumat: Tuntunan Islam dalam Menyikapi Informasi - Kini kita berada di Jum'at
kedua bulan Rabi'ul Akhir 1434 H. Tepatnya tanggal 11 Rabi'ul Akhir 1434 H. Pada dua pekan
belakangan ini ada "insiden" pemberitaan dari sebuah televisi nasional yang dipermasalahkan
oleh sumber berita dan pihak yang diberitakan. Yang pertama sudah dilaporan oleh KAMMI ke
KPI, sedangkan yang kedua telah diprotes oleh Instrat. Berkenaan dengan berita dan informasi
semacam itu, bersamadakwah mengingatkan kembali umat Islam melalui khutbah Jum'at ini
mengenai masalah tabayun. Karenanya, khutbah Jum'at edisi 11 Rabi'u Akhir 1434 H yang
bertepatan dengan 22 Februari 2013 ini, bertemakan "Tuntunan Islam dalam Menyikapi
Informasi".
***
KHUTBAH PERTAMA

.
.

Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan taqwa kepada Allah. Taqwa dalam arti
menjalankan perintah-perintah Allah, sekuat tenaga. Dan meninggalkan larangan Allah, secara
keseluruhannya.
Termasuk dalam poin pertama, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak
begitu saja menerima dan membenarkan informasi yang datang kepadanya, khususnya jika
informasi itu datang dari seseorang atau lembaga yang dalam bahasa Al-Qur'an disebut sebagai
"fasiq".
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka
periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al
Hujurat
:
6)
Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan: "Allah Subhanahu wa Ta'ala
memerintahkan (orang-orang yang beriman) untuk memeriksa berita yang datang dari orang
fasik dengan teliti, dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dalam menerimanya dan jangan
menerimanya begitu saja, yang akibatnya akan membalikkan kenyataan. Orang yang menerima
begitu saja berita darinya, berarti sama dengan mengikuti jejaknya. Sedangkan Allah Subhanahu
wa ta'ala telah melarang kaum mukmin mengikuti jalan orang-orang yang rusak.
Berangkat dari pengertian inilah ada sejumlah ulama yang melarang kita menerima berita
(riwayat) dari orang yang tidak dikenal, karena barangkali dia adalah orang-orang yang fasik.
Tetapi sebagian ulama lainnya mau menerimanya dengan alasan bahwa kita hanya diperintahkan
untuk meneliti kebenaran berita orang fasik, sedangkan orang yang tidak dikenal (majhul) masih

belum

terbukti

kefasikannya

karena

dia

tidak

diketahui

keadaannya."

Sedangkan Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an menjelaskan, "Allah memfokuskan
orang fasik sebab dia dicurigai sebagai sumber kebohongan dan agar keraguan tidak menyebar di
kalangan kaum muslimin karena berita yang disebarkan oleh setiap individunya, lalu ia menodai
informasi. Pada prinsipnya, hendaklah setiap individu kaum muslimin menjadi sumber berita
yang terpercaya dan hendaknya berita itu benar serta dapat dapat dijadikan pegangan. Adapun
orang fasik, maka dia menjadi sumber keraguan sehingga hal ini menjadi ketetapan."
Menurut para mufassir, asbabun nuzul ayat di atas berkenaan dengan Al walid bin Uqbah yang
diutus oleh Rasulullah untuk mengumpulkan zakat dari Bani Al Musthaliq. Al-Walid
menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan
berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Al Mushtaliq
tersebut. Dilapori akan adanya pemberontakan itu, Rasulullah murka. Tetapi beliau tidak
langsung mengambil tindakan terhadap Bani Al Musthaliq, melainkan beliau mengutus Khalid
untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini yang mengingatkan bahaya
berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik. Berita palsu itu hampir saja mengakibatkan
permusuhan
antar
sesama
umat
Islam
saat
itu.
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Jika di zaman Rasulullah saja bisa terjadi hal seperti itu, bagaimana dengan zaman sekarang? Di
zaman Rasulullah kejujuran sangat dominan mewarnai, masih ada pemberitaan palsu, apalagi di
zaman sekarang yang banyak kedustaan bertebaran. Berita dan informasi yang tidak benar bisa
berasal dari mana saja, baik individu maupun lembaga. Bahkan, media raksasa yang mengklaim
sebagai
lembaga
profesional
sekalipun.
Di bulan Februari ini saja, sebuah televisi nasional diketahui menyiarkan pemberitaan yang telah
diplintir sehingga orang yang mendengar dan menyaksikannya menjadi tersesatkan. Pada 14
Februari lalu, dalam sebuah acara bertajuk "Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia," televisi itu
menggiring opini masyarakat ke arah kesimpulan bahwa ormas yang menentang penjajahan
Zionis atas Palestina sebagai organisasi yang intoleran dan anti semit. Maka organisasi Islam
yang merasa dicatut namanya itupun melaporkan televisi tersebut ke Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI). Satu berita digugat belum selesai, muncul berita lain yang juga disinyalir sengaja diplintir.
Televisi yang sama kemudian diprotes oleh lembaga yang datanya diplintir tersebut.
Sebelumnya, pada September 2012 lalu, televisi itu pula yang membuat pemberitaan, mengarah
pada kesimpulan bahwa Rohis di sekolah-sekolah menengah adalah tempat rekrutmen teroris.
Setelah
diprotes
oleh
orams-ormas
Islam,
akhirnya
ia
minta
maaf.
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Di era informasi seperti saat ini, tidak sedikit umat Islam yang terpancing dengan dengan
informasi yang ada, tanpa melakukan tabayun. Padahal tabayun itulah yang dituntunkan Islam
melalui Surat Al Hujurat ayat 6 tersebut, jika ada berita atau informasi dari orang-orang yang
fasik. Jika Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan

Lihatlah

apa

yang

dibicarakan,

jangan

melihat

siapa

yang

bicara

Sesungguhnya kalimat itu berlaku dalam hal nasehat, yang sudah pasti benar. Maka kebenaran,
dari manapun ia datang, ia perlu untuk diambil. Apakah dari seorang anak kecil, orangtua,
miskin ataupun kaya. Maqalah itu bukan untuk urusan berita dari orang yang tidak dikenal
kejujurannya.
Maka di dalam ilmu hadits, suatu hadits diterima jika para perawinya terpercaya. Sebaliknya,
jika perawinya pendusta atau fasik, maka hadits itu bisa gugur hingga derajat maudhu' (palsu).
Demikian pula dari sebuah informasi atau berita yang belum jelas kebenarannya. As-Sadi
membagikan
sumber
(media)
berita
kepada
tiga
klasifikasi:
Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima.
Kedua,
berita
dari
seorang
pendusta
yang
harus
ditolak.
Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan
kebenarannya.
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Dengan demikian seorang muslim tidak boleh asal telan berita atau informasi, terlebih langsung
menyebarluaskannya. Di zaman Rasulullah pernah terjadi, sahabat yang akhirnya menyesal dan
bertaubat, karena ia pernah terlibat dalam upaya menyebarkan kabar dusta (haditsul ifki). Saat
itu, Aisyah radhiyallahu 'anha diisukan berselingkuh dengan sahabat Sofwan, setelah Aisyah
tertinggal rombongan perang akibat mencari kalungnya yang hilang. Fitnah itu dihembuskan
dengan cepat oleh gegembong munafik Abdullah bin Ubay, dan ternyata, ada beberapa muslim
yang
termakan
fitnah
itu
lalu
turut
menyebarkannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai peristiwa ini:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi
kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan
siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong
itu
baginya
azab
yang
besar
(QS.
An-Nur
:
11)
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Di zaman yang dipenuhi dengan jejaring sosial ini, kadang kita dapati sebagian muslim begitu

saja menyebarkan, berbagi/sharing semua informasi yang diterimanya, tanpa peduli apakah
informasi
itu
benar
atau
salah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta jika ia mengatakan segala yang ia dengar (HR.
Muslim)
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Demikianlah secara singkat tuntunan Islam dalam menyikapi informasi, khususnya informasi
baru. Jika informasi itu datang dari mukmin yang jujur, maka ia diterima. Namun jika informasi
itu datang dari orang/lembaga fasik, ia tidak boleh langsung diterima begitu saja, melainkan
perlu tabayun. Mengecek kebenaran informasi tersebut. Tabayun, juga menjadikan kita tidak
begitu saja langsung menyebarkan informasi/berita yang belum jelas kebenarannya. Semoga
Allah menjadikan kita sebagai orang yang jujur, dan mencatat kita bersama-sama orang-orang
shiddiqin.

KHUTBAH KEDUA

.
.

.
.

.
.

.
.
.