Anda di halaman 1dari 12

Perbaikan Moralitas Sebagai Penyelesaian

Masalah Korupsi dan Mafia Peradilan di Indonesia

Setelah 10 tahun reformasi bergulir penegakan law enforcement


di Indonesia belum juga menemukan titik cerah, pemberantasan
korupsi yang didengung-dengungkan pasca reformasi terkesan hanya
retorika dari penguasa. Dari hasil survey nasional tentang korupsi yang
dilakukan oleh Partnership for Governance Reform menempatkan
lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi
masyarakat1. Berdasar hasil-hasil survei yang dilakukan survei
Transparency International (TI), perilaku suap, pemerasan, dan
"dagang perkara" yang melibatkan hakim menduduki peringkat
korupsi tertinggi dalam lembaga peradilan. Kusutnya masalah ini kerap
disebut "mafia peradilan". Bahkan hasil survei Transparency
International (TI) memperkuat dugaan suap berasal dari aparat
pengadilan.2
Sebenarnya, akar pangkal korupsi timbul adalah tidak adanya
political will dari pemerintah untuk membersihkan negara dari korupsi
yang sangat merugikan negara. Pada rezim otoritarian orde baru,
pemerintah tidak pernah menangani secara serius bentuk-bentuk
penyimpangan yang terjadi sehingga para aktor korupsi dapat beraksi
secara leluasa. Selama tidak menggangu kekuasaan, korupsi dibiarkan
berlangsung, hal ini menyebabkan korupsi kian menyebar dan
membudaya.
Mafia peradilan diindikasikan ada pada setiap tahap beracara
baik perdata, pidana, atau niaga, sehingga keadilan dan kepastian
hukum tidak dapat diberikan oleh lembaga peradilan mengakibatkan

1
Survey Nasional Mengenai Korupsi di Indonesia, Jakarta: Partnership for Governance
Reform, 2002
2
Kompas, 21/8/2007

1
turunnya kepercayaan masyarakat pada aparat penegak hukum.
Bagaimana mungkin rakyat percaya pada pengadilan sedangkan para
pelaku korupsi yang merugikan negara sampai triliunan rupiah masih
berkeliaran dengan bebas. Walaupun ditangkap biasanya hanya
sampai pada sanksi administrasi saja lalu dibebaskan dengan alasan
bukti-bukti korupsi tidak lengkap yaitu dengan dikeluarkannya SP3.
sebagai contoh dalam perkara impor beras ilegal dengan tersangka
Gordianus Setio Lelono, direktur PT Hexatama Finindo dibebaskan
dengan dikeluarkannya SP3 oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana
Khusus Kemas Yahya Rahman menambah daftar perkara yang
dihentikan oleh kejaksaan dan Kemas menolak untuk menyebutkan
bukti yang cukup untuk kasus Gordianus.3 Memang, dikeluarkannya
SP3 ada dalam prosedur namun ketika barang bukti tersebut telah
memenuhi syarat adanya tindak pidana korupsi, maka dikeluarkannya
SP3 perlu dipertanyakan kecuali ada transparansi kepada masyarakat
kenapa SP3 tersebut dikeluarkan. Disinilah arti dibutuhkannya
transparansi dari pengadilan.
Persepsi tentang independensi lembaga peradilan yang tertutup
dan tidak boleh adanya intervensi dari pihak luar tampaknya harus
ditinjau ulang. Memang dalam UUD 1945 (sesudah amandemen)
kedudukan lembaga tinggi negara adalah sejajar antara MPR, MK,
Presiden, DPR, DPD, MA, BPK, KY. Akan tetapi, ternyata yang terjadi
adalah independensi lembaga yudikatif digunakan oleh mafia peradilan
sebagai tameng untuk membebaskan para koruptor atau bahkan
memeras para pencari keadilan untuk luput dari perhatian serius.
Sebenarnya independensi yang dimaksud dalam UUD 1945 adalah
bahwa setiap keputusan yang ditetapkan oleh pengadilan tidak boleh
adanya intervensi dari lembaga-lembaga tinggi yang lain tetapi dalam
setiap keputusannya peradilan harus secara transparan sehingga tidak
diragukan akuntabilitasnya.
3
Kompas , Kamis 17 Januari 2008

2
Banyak pihak berpendapat korupsi terjadi karena lemahnya
sistem. Mungkin ini ada benarnya karena walaupun selama ini negara
ini mempunyai begitu banyak formula untuk memberantas tindak
pidana korupsi namun masih dimungkinkan adanya peluang-peluang
untuk melakukan korupsi.
Menurut Alm. Prof. Dr. Baharudin Lopa S.H, penyakit korupsi
dapat diberantas asal kita cepat mengambil langkah konkret, antara
lain sistem yang memudahkan timbulnya peluang untuk korupsi perlu
segera dicabut dan digantikan dengan sistem yang menutup peluang-
peluang untuk korupsi tersebut.4
Saya sependapat dengan pendapat Alm. Prof. Dr. Baharudin
Lopa S.H tersebut, karena walaupun perundang-undangan dibuat
sesempurna mungkin tetapi apabila sistem dalam peradilan buruk dan
menghasilkan aparat penegak hukum yang tidak memiliki moral maka
perundang-undangan hanya dipakai sebagai alat untuk memperkaya
diri sendiri dengan cara melindungi atau bahkan memeras para
koruptor. Seorang filosof bernama Prof. Tavere mengemukakan
pendapatnya yang sangat bijak, beliau berpendapat “Berikanlah aku
hakim yang baik, jaksa yang baik, polisi yang baik. Dengan UU yang
kurang baik sekali pun, hasil yang dicapai pasti akan baik. Ini dapat
diartikan apabila kita memiliki aparat penegak hukum yang bersih
maka keadilan dapat ditegakan walaupun dengan peraturan per-UU-an
yang kurang baik sekali pun. Merosotnya kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah dan penegak hukum timbul karena aparat
pengadilan menodai rasa keadilan itu sendiri dengan memainkan
prosedural agar memihak kepada keinginan suatu pihak tertentu
sehingga melukai hari para pencari keadilan.
Johnson Panjaitan, pengacara dari Perhimpunan Bantuan Hukum
Indonesia (PBHI), Mengatakan bahwa cara ampuh untuk

4
Prof. Dr. Baharudin Lopa SH, Kejahatan korupsi dan Penegakan Hukum, Jakarta:Kompas,
2001

3
membersihkan peradilan dari korupsi adalah dengan mengganti
seluruh aparat peradilan: hakim, jaksa, panitera dan polisi.5 Saya
kurang sependapat terhadap pendapat tersebut, karena perubahan
secara total dengan mengganti seluruh aparat peradilan secara radikal
hanya akan menimbulkan chaos. Dan mafia peradilan sudah
meresistensi sehingga sangat kuat dan mustahil apabila diberantas
dengan cara radikal tersebut.
Masih segar dalam ingatan kita ketika presiden KH Abdulrahman
wahid pada saat kepemimpinannya, tindakannya dikenal sangat
radikal dengan berkali-kali mereshuffle kabinetnya dan membuat
gebrakan dengan membekukan MPR, DPR, dan Partai Golkar. Pada
pukul 01.10 WIB tanggal 23 Juli 2001 Presiden Abdurrahman Wahid
mengeluarkan dekrit pembekuan MPR, DPR, dan Partai Golkar, padahal
konstitusi sama sekali tidak membenarkan Presiden untuk
membekukan DPR apalagi MPR (yang saat itu) adalah lembaga
tertinggi negara yang telah mengangkat dirinya sebagai presiden.6
Dekrit tersebut sangat dikecam berbagai kalangan dan itulah salah
satu sebab yang telah menurunkan Presiden Abdulrahman Wahid dari
jabatan presiden. Kita harus bisa menerima bahwa peralihan dari
otoritarianisme ke demokrasi kita laksanakan melalui evolusi bukan
revolusi. Dalam sebuah peralihan yang evolusioner, kekuatan baru
memang bergabung dengan kekuatan lama untuk sama-sama
berproses. Tindakan Gus Dur untuk melakukan tindakan revolusioner
dengan membubarkan parlemen dan menyingkirkan semua unsur orde
lama sangat tidaklah bijak, menurut saya ada dua hal yang perlu
dipertanyakan apabila tindakan tersebut benar-benar direalisasikan,
pertama, tidak semua hakim agung bermasalah? kedua, apakah hakim
agung tersebut dinyatakan bersalah hanya karena posisi dan

5
Sistem Pengawasan Peradilan, laporan sementara Penelitian Lembaga Pengawas Sistem
Peradilan Pidan Terpadu, Mappi, 2002
6
Sutradara Gintings,”Jalan Terjal Menuju Demokrasi” Jakarta: Institute for Policy and
Community Development Studies (IPCOS), 2006.

4
kedudukan yang disandangnya? Tentu jawabannya tidak, sehingga
perlu diadakan upaya yang lebih bijak untuk memberantas korupsi.
Salah satu cara memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap
law enforcement adalah dengan membersihkan Mahkamah Agung dari
praktek korupsi. Untuk itu dibutuhkan seorang hakim agung yang jujur,
berwawasan luas, dekat dengan rasa keadilan, memiliki kedalaman
dalam ilmu hukum serta tidak ada keberpihakan dalam politik. Atau
lebih luasnya dibutuhkan struktur hukum yang benar-benar memiliki
integritas tinggi dalam menerapkan peraturan-peraturan mencakup
keputusan yang mereka keluarkan atau biasa disebut substansi hukum
agar benar-benar memenuhi rasa keadilan masyarakat, Hanya dengan
cara itu segi substansial dari hukum dapat dilaksanakan. Karena
sebenarnya harus diakui selama ini sistem hukum kita hanya berkutat
pada bagaimana menciptakan formal justice daripada substansial
justice dengan kata lain keputusan hakim lebih kearah prosedural dan
tidak mengindahkan rasa keadilan dalam masyarakat.
Putusan pengadilan di Indonesia dinilai jauh dari rasa keadilan
masyarakat, mindset yang saat ini terbentuk adalah lembaga peradilan
di Indonesia sangat jauh dari realitas sosial. Padahal dalam Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-pokok kehakiman, pasal
27 (1) disebutkan,”Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib
menggali,mengikuti,dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup
dalam masyarakat”. Dan karena integritas hakim agung masih jauh
dari rasa keadilan (walaupun masih ada hakim-hakim yang jujur dan
bermoral baik) harus ada regulasi ketat yaitu sebuah regulasi yang
dapat menutup kemungkinan-kemungkinan hakim agung melakukan
tindakan-tindakan yang yang melukai rasa keadilan masyarakat.
Ketika Alm. Prof. Dr. Baharudin Lopa S.H menjabat sebagai
menteri kehakiman, beliau pernah merumuskan dua jenis ketentuan
tentang pembuktian terbalik pada perubahan Undang-Undang No.31
Tahun 1999, yang pertama menyangkut pemberian (gratification)

5
dalam jumlah satu juta rupiah ke atas, harus dilaporkan jika tidak
dianggap suap sampai dibuktikan sebaliknya. Berarti penuntut umum
hanya membuktikan inti delik, yaitu adanya pemberian kepada
pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dan bagian yang lain,
seperti berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan
kewajiban dibebankan kepada terdakwa.7 Asas pembuktian terbalik
dapat dilakukan dengan syarat pembersihan lembaga pengadilan dari
aparat-aparat penegak hukum yang melecehkan hukum dengan
memperkaya diri sendiri secara tidak halal. Sistem pembuktian terbalik
ini hanya akan efektif apabila diterapkan oleh sosok yang “bersih” dan
tidak dilandasi komoditas politik dan benar-benar konsekuen dalam
menerapkannya. Untuk itu sasaran pertama pembuktian terbalik
adalah aparat penegak hukum selanjutnya ditujukan kepada
pemerintah dalam hal ini presiden beserta para pembantunya, ketika
dua unsur ini telah bersih baru ditujukan kepada unsur-unsur yang lain.
Pada waktu itu ketentuan tentang beban pembuktian terbalik
ditolak DPR, andaikata diterima, maka tidak perlu diciptakan ancaman
pidana sedemikian beratnya begi pelaku korupsi, karena sebenarnya
ancaman pidana yang beratpun tidak menjamin jeranya pelaku tindak
pidana korusi tanpa adanya tindakan preventif yang efektif. Kita dapat
bercermin pada RRC yang memberlakukan pidana mati bagi pelaku
tindak pidana korupsi ternyata tidak menghapuskan tindakan korupsi.
Karena walaupun peraturan dibuat sesempurna mungkin tanpa adanya
good will dari para aparat penegak hukumnya maupun dari
masyarakat maka perilaku korupsi akan selalu menjadi budaya.
Tanpa adanya moral yang ditandai adanya kesadaran hukum
rakyat atau biasa disebut budaya hukum dengan memperberat
tindakan represif sekalipun tidak akan menghilangkan budaya korupsi
tersebut. Penegak hukum diancam dengan pidana berat tetapi apabila

7
Prof.Dr. Jur. Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan
Internasional,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2005.

6
rakyatnya mentoleransi korupsi yaitu dengan menyediakan uang
dalam jumlah tertentu ketika membutuhkan pelayanan dan setiap
berperkara kemudian mencari siapa penyidik,siapa hakimnya, dll untuk
mengadakan lobby maka lingkaran korupsi tidak akan terputus.
Semoga opini tentang beban pembuktian terbalik dapat diangkat
kembali sehingga selama semua pelanggar dapat diajukan ke
pengadilan maka kerugian negara dapat dikembalikan.
Korupsi pengadilan intinya adalah suap-menyuap. Pada tahun
2006 tindakan suap mengarah kepada Ketua Mahkamah Agung Bagir
Manan, Disebutkan oleh para tersangka yang ditangkap Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu lima pegawai MA dan seorang
pengacara, bahwa uang 500.000 dollar AS yang disita rencananya
akan diberikan kepada Ketua MA. Tudingan tentang masalah tersebut
disampaikan di depan umum dan aparat hukum, yang punya akibat
balik hukum yang tidak ringan bila tudingan itu omong kosong. Fakta
berikut, Bagir Manan mengakui pernah bertemu Harini Wijoso,
pengacara Probosutedjo dalam persidangan kasasi kasus korupsi dana
reboisasi di Kalimantan Selatan senilai Rp 100,9 miliar.8

Ditangkapnya Urip Tri Gunawan yang dikenal sebagai Ketua Tim


Jaksa Pemeriksa Kasus BLBI oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
terjadi pada hari Minggu, 2 maret 2008. Urip tertangkap tangan, ketika
menerima uang suap senilai 6600.000 dolar AS (sekitar Rp 6,1 miliar)
yang diduga terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)9,
penangkapan ini juga sangat ironis karena mencerminkan budaya
korupsi di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Dan situasi seperti
ini berimplikasi pada semakin menurunnya kepercayaan masyarakat
kepada institusi Kejaksaan Agung yang dikenal sebagai garda depan
dalam pemberantasan korupsi.

Memang untuk memberantas korupsi yang telah membudaya


8
Teten Masduki, Koordinator ICW, Kompas, 13 Oktober 2006.
9
Kompas, 3 maret 2008

7
bukanlah perkara yang mudah, apalagi ketika petinggi hukumnya
terutama petinggi hukum di “benteng terakhir keadilan” masih ada
yang berkualifikasi the dirty broom. Banyak praktek korupsi di MA yang
terbongkar namun tidak ada Hakim Agung yang dipidana walaupun
beberapa diantaranya sangat jelas sekali melakukan korupsi. Di
kejaksaan Agung pun tidak jauh berbeda, kasus Urip Tri Gunawan
diatas membuktikan semakin jelasnya wajah sebenarnya petinggi
hukum di Indonesia.
Dari hasil temuan penelitian yang dilakukan ICW dilapangan,
korupsi peradilan terjadi di seluruh lembaga peradilan. Mulai dari PN
hingga MA. Korupsi juga melibatkan hampir seluruh pelaku di
peradilan: hakim, jaksa, polisi, pengacara dan panitera. Selain itu,
pihak luar pengadilan seperti calo perkara turut menjadi bagian dari
praktek korupsi. petinggi hukum di Indonesia. ICW juga diperoleh
sejumlah modus korupsi di pengadilan, mulai dari pelepasan
tersangka, penggelapan perkara, negoisasi putusan, penentuan
majelis hakim favourable, tawar-menawar putusan, percaloan perkara,
pemeriksaan perkara atau mengulur waktu penetapan perkara,
menunda eksekusi, pemalsuan vonis, dan masih banyak lagi modus
lainnya. Di sini terlihat bahwa suap terhadap hakim atau pegawai
pengadilan biasanya bermula dari pihak yang berperkara, termasuk
pengacara atau karena pemerasan10.
Dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, korupsi harus
dianggap sebagai tindak pidana luar biasa sehingga dibutuhkan
penanganan yang luar biasa. Menurut saya harus dibentuk semacam
pengadilan ad hoc seperti dalam pengadilan ad hoc pada HAM yang
bertanggungjawab langsung kepada presiden yang beranggotakan
tokoh-tokoh masyarakat, LSM pemerhati masalah korupsi dan para
10
Wasingatu Zakiyah, Danang Wiyoko, Iva Kusuma, Ragil Yoga Edi, “Menyingkap
Tabir Mafia Peradilan” Jakarta : Indonesian Corruption Watch, 2002

8
pakar yang memiliki kemampuan dalam bidang hukum yaitu para
akademisi, para pensiunan hakim atau jaksa yang dianggap kredibel
dan punya komitmen dan tidak memiliki track record yang buruk,
tujuan dari pembentukan pengadilan ad hoc ini adalah melakukan
eksaminasi terhadap keputusan hakim dalam hal ini diasumsikan
karena banyak putusan-putusan hakim yang menyimpang baik secara
materiil maupun formil. Oleh karena itulah eksaminasi atau pengujian
perlu dilakukan.
Political will pemerintah dengan mendirikan lembaga Komisi
Yudisial (KY) yang bertugas melakukan pengawasan terhadap hakim
serta keputusannya sudah cukup baik meskipun belum memuaskan.
Keputusan komisi yudisial dalam melakukan fungsi pengawasan saat
hakim menangani perkara tidak untuk ditindak lanjuti bahkan banyak
hakim yang menganggap komisi yudisial telah melakukan pencemaran
nama baik terhadap pengadilan.
Kontroversi yang belakangan muncul apakah dibenarkan ketika
KY melakukan intervensi terhadap suatu putusan hakim? Jawabannya
tidak, karena kekuasaan kehakiman ( yudicatif power ), yang dilakukan
oleh sebuah Mahkamah Agung (MA) dan lain-lain badan kehakiman
sesuai pasal 24 (1) yang berdasarkan penjelasan pasal 24 UUD 1945 ;
kekuasaan kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas
dari pengaruh kekuasaan pemerintah11. Saya sepakat dengan
pendapat saudara Subagyo yang ditulis dalam kolom
www.hukumonlie.com yang menyatakan bahwa hakim dapat memutus
suatu perkara dengan menggunakan keyakinan hukum harus
disakralkan dan tidak bisa disentuh oleh satu sistem pengawasan di
luar kekuasaan kehakiman mengingat fungsi pembentukan
yurisprudensi hanya ada di tangan MA. Namun, dalam kondisi anomali

11
Mayjend TNI (Purn) Suwarno Adiwijoyo, “Amandemen UUD 1945 “ Jakarta : PT
Intermasa, Pusat Kajian Reformasi (PAKAR), 2000

9
seperti yang terjadi saat ini, di mana putusan-putusan perkara belum
dipublikasikan secara luas, tentu ada perkecualian.12
Kinerja KY harus dengan kerjasama MA karena bagaimanapun
pemberantasan korupsi di intern MA harus dengan inisiatif dari MA itu
sendiri, dan perlu ditekankan bahwa KY bukanlah pengadilan
tandingan tetapi bertujuan untuk memberantas kuorupsi di MA, karena
semakin politis tekanan yang diberikan KY, maka akan semakin
defensif lembaga MA. Akibat paling parah, kita akan dihadapkan pada
pilihan antara MA dan KY yang sebenarnya tidak perlu. Bagaimanapun
juga, mustahil peradilan yang jujur dapat diwujudkan tanpa inisiatif
dan peran serta MA.
Pasangan SBY-JK sebelum menjadi presiden memiliki komitmen
akan memberantas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta
dibenahi sistem politik hukum (struktur, substansi, kultur) untuk
mengembalikan hukum kearah moralitasnya jika beliau telah menjabat
sebagai presiden. Begitu juga setelah beliau menjabat, banyak
pernyataan keras beliau untuk tetap konsisten dalam upaya
memberantas korupsi di indonesia. Hal itu menunjukan adanya
political will dari pemerintahannya untuk memberantas KKN (Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme). Akan tertapi itu semua tidak ada artinya
apabila petinggi hukum di Kejaksaan Agung tidak merespon secara
tepat. Karena sangatlah mustahil membersihkan lantai kotor dengan
sapu kotor.
Walaupun banyak yang berpendapat bahwa law enforcement di
Indonesia dapat dikatakan tidak berpengharapan namun saya optimis
bahwa masih ada setitik cahaya untuk keluar dari situasi ini, dengan
niat baik dari aparat hukum untuk menerapkan aturan yang berlaku
agar memenuhi rasa keadilan masyarakat serta adanya budaya hukum
yaitu didukung oleh moral yang baik dari masyarakat untuk tidak

12
Subagyo,www.hukumonline.com

10
mentolerir segala bentuk-bentuk penyimpangan, kita bisa keluar dari
situasi “abnormal” ini.

11
12