Anda di halaman 1dari 5

Pengendalian Waktu

28. Waktu Penyelesaian Pekerjaan


28.1. Kecuali Kontrak diputuskan lebih awal, penyedia berkewajiban untuk
memulai pelaksanaan pekerjaan pada Tanggal Mulai Kerja, dan melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan program mutu, serta menyelesaikan pekerjaan
selambat-lambatnya pada Tanggal Penyelesaian yang ditetapkan dalam SPMK.
28.2. Jika pekerjaan tidak selesai pada Tanggal Penyelesaian bukan akibat
Keadaan Kahar atau Peristiwa Kompensasi atau karena kesalahan atau kelalaian
penyedia maka penyedia dikenakan denda.

B.6 Penghentian dan Pemutusan Kontrak


41. Penghentian dan PemutusanKontrak
41.3. Pemutusan kontrak dapat dilakukan oleh pihak penyedia atau pihak PPK.
41.4. Menngesampingkan Pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata,pemutusan Kontrak melalui pemberitahuan tertulis dapat dilakukan
apabila:
a. penyedia lalai/cidera janji dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak
memperbaiki kelalaiannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan;
b. penyedia tanpa persetujuan Pengawas Pekerjaan, tidak memulai pelaksanaan
pekerjaan;
c. penyedia menghentikan pekerjaan selama 28 (dua puluh delapan) hari dan
penghentian ini tidak tercantum dalam program mutu serta tanpa
persetujuan Pengawas Pekerjaan;
d. penyedia berada dalam keadaan pailit;
e. penyedia selama Masa Kontrak gagal memperbaiki Cacat Mutu dalam jangka
waktu yang ditetapkan oleh PPK;
f. penyedia tidak mempertahankan keberlakuan Jaminan Pelaksanaan;

g. denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat kesalahan penyedia


sudah melampaui 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak dan PPK menilai
bahwa Penyedia tidak akan sanggup menyelesaikan sisa pekerjaan;
41.5. Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan karena kesalahan penyedia :
a. Jaminan Pelaksanaan dicairkan;
b. sisa Uang Muka harus dilunasi oleh penyedia atau Jaminan Uang Muka
dicairkan;
c. penyedia membayar denda; dan
d. penyedia dimasukkan dalam Daftar Hitam.

42. Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan dan Kontrak Kritis


42.1. Apabila penyedia terlambat melaksanakan pekerjaan sesuai jadual, maka
PPK harus memberikan peringatan secara tertulis atau dikenakan ketentuan
tentang kontrak kritis.
42.2. Kontrak dinyatakan kritis apabila :
a. Dalam periode I (rencana fisik pelaksanaan 0% 70% dari kontrak), realisasi
fisik pelaksanaan terlambat lebih besar 10% dari rencana;
b. Dalam periode II (rencana fisik pelaksanaan 70% - 100% dari kontrak), realisasi
fisik pelaksanaan terlambat lebih besar 5% dari rencana.
c. Rencana fisik pelaksanaan 70% - 100% dari kontrak, realisasi fisik pelaksanaan
terlambat kurang dari 5% dari rencana dan akan melampaui tahun anggaran
berjalan.
42.3. Penanganan kontrak kritis.
a. Dalam hal keterlambatan pada 42.1 dan penanganan kontrak pada 42.2
penanganan kontrak kritis dilakukan dengan Rapat pembuktian (show cause
meeting/SCM)
1) Pada saat kontrak dinyatakan kritis direksi pekerjaan menerbitkan surat
peringatan kepada penyedia dan selanjutnya menyelenggarakan SCM.
2) Dalam SCM direksi pekerjaan, direksi teknis dan penyedia membahas dan
menyepakati besaran kemajuan fisik yang harus dicapai oleh penyedia

dalam periode waktu tertentu (uji coba pertama) yang dituangkan dalam
berita acara SCM tingkat Tahap I
3) Apabila penyedia gagal pada uji coba pertama, maka harus
diselenggarakan SCM Tahap II yang membahas dan menyepakati besaran
kemajuan fisik yang harus dicapai oleh penyedia dalam periode waktu
tertentu (uji coba kedua) yang dituangkan dalam berita acara SCM Tahap I.
4) Apabila penyedia gagal pada uji coba kedua, maka harus diselenggarakan
SCM Tahap III yang membahas dan menyepakati besaran kemajuan fisik
yang harus dicapai oleh penyedia dalam periode waktu tertentu (uji coba
ketiga) yang dituangkan dalam berita acara SCM. Tahap III
5) Pada setiap uji coba yang gagal, PPK harus menerbitkan surat peringatan
kepada penyedia atas keterlambatan realisasi fisik pelaksanaan pekerjaan.
b. Dalam hal keterlambatan pada 42.2 a atau 42.2 b, setelah dilakukan
penanganan kontrak kritis sesuai 42.3 a, PPK dapat langsung memutuskan
kontrak secara sepihak dengan mengesampingkan Pasal 1266 Kitab UndangUndang Hukum Perdata.

H. Kontrak Kritis
Penanganan kontrak kritis dilakukan melalui tahap pemberian surat peringatan,
rapat pembuktian dan uji coba kepada Penyedia dengan prosedur sebagai
berikut:
a). Apabila kontrak telah memasuki kondisi kritis yaitu realisasi fisik pelaksanaan
terlambat 10% terhadap rencana saat itu (pada periode 5% 70%) atau
terlambat 5% terhadap rencana saat itu (pada periode 70% 100%), maka
selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari sejak diketahuinya kondisi
kritis, PPK memberikan Surat Peringatan Pertama kepada Penyedia dan
melaporkan secara tertulis kepada Kepala Satuan Kerja selaku atasan
langsung.
b). Selambat-lambatnya sejak 7 (tujuh) hari sejak diterimanya laporan dari PPK,
Kepala Satuan Kerja harus mengadakan Rapat Pembuktian Tingkat I untuk
membahas program percepatan yang disusun oleh Penyedia dan selanjutnya
Penyedia melakukan Uji Coba Tingkat I dalam waktu yang disepakati paling
lama 30 (tiga puluh) hari.

c). PPK melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Uji Coba Tingkat I dan
apabila Penyedia gagal, maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
setelah masa uji coba berakhir, PPK segera memberikan Surat Peringatan
Kedua kepada Penyedia dan melaporkan hasil tersebut kepada Kepala Satuan
Kerja.
d). Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah menerima laporan dari PPK, Kepala
Satuan Kerja mengusulkan kepada Kepala Balai Pelaksanaan Jalan
Nasional/Atasan Langsung Kepala Satuan Kerja untuk mengadakan Rapat
Pembuktian Tingkat II.
e). Selambat-lambatnya sejak 7 (tujuh) hari sejak diterimanya usulan dari Kepala
Satuan Kerja, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung
Satuan Kerja mengadakan Rapat Pembuktian Tingkat II untuk membahas
program percepatan yang disusun oleh Penyedia dan selanjutnya Penyedia
melakukan Uji Coba Tingkat II dalam waktu yang disepakati paling lama 30
(tiga puluh) hari.
f). PPK melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Uji Coba Tingkat II dan
apabila Penyedia gagal, maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
setelah masa uji coba berakhir, PPK segera memberikan Surat Peringatan
Ketiga kepada Penyedia dan melaporkan kepada Kepala Satuan Kerja dan
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung Kepala Satuan
Kerja.
g). Selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah menerima laporan dari PPK, Kepala
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional/Atasan Langsung Kepala Satuan Kerja
melaporkan kepada Direktur Jenderal Bina Marga melalui Pembantu Atasan
Kepala Satuan Kerja.
h). Selambat-lambatnya sejak 7 (tujuh) hari sejak menerima usulan dari Kepala
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional/ Atasan Langsung Satuan Kerja, Pembantu
Atasan Kepala Satuan Kerja atas nama Direktur Jenderal Bina Marga
mengadakan Rapat Pembuktia Tingkat III untuk membahas program
percepatan yang disusun oleh Penyedia dan selanjutnya Penyedia melakukan
Uji Coba Tingkat III dalam waktu yang disepakati paling lama 30 (tiga puluh)
hari.
i). PPK melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Uji Coba Tingkat III dan
apabila Penyedia gagal, maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
setelah masa uji coba berakhir, PPK dengan diketahui Kepala Satuan Kerja
segera melaporkan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga melalui Pembantu
Atasan Kepala Satuan Kerja dengan tembusana Kepala Balai Pelaksanaan Jalan

Nasional/ Atasan Langsung Kepala Satuan Kerja dan sekaligus meminta


pertimbangan untuk penyelesaian kontrak kritis.
j). Pembantu Atasan Kepala Satuan Kerja bertindak atas nama Direktur Jenderal
Bina Marga memberikan pertimbangan penyelesaian kontrak kritis dalam
waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak menerima laporan dari
PPK tentang hasil Uji Coba Tingkat III.
k). Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak menerima pertimbangan dari
Pembantu Atasan Satuan Kerja atas nama Direktur Jenderal Bina Marga, PPK
harus memberikan keputusan kepada Penyedia. PPK dapat melakukan
Pemutusan Kontrak secara sepihak dengan mengesampingkan Pasal 1266 dan
1267 Kitab Undang Undang Hukum Perdata.