Anda di halaman 1dari 174

Usulan Teknis :

Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan


Kota Serang

1.1 LATAR BELAKANG BERDIRINYA PERUSAHAAN

Motivasi pendirian perusahaan ini berawal dari keinginan beberapa


Sarjana

di

bidang

disiplin

ilmu

yang

dimiliki

untuk

menjadi

Wiraswastawan yang baik dan berhasil dalam membangun daerah pada


khususnya dan bangsa pada umumnya. Merupakan suatu tantangan
yang memerlukan perjuangan dan keuletan. Motivasi tersebut kami pikir
cukup mendasar bagi langkah awal perusahaan untuk mewujudkan citacita diatas dengan bekerja keras dan berusaha memberikan pelayanan
yang sebaik-baiknya kepada seluruh rekanan.
PT. Sketsa Karya Mandiri didirikan dengan dilandasi tekad dan semangat
Profesionalisme untuk memenuhi tantangan untuk berpartisipasi dalam
pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Berdiri untuk memberikan suatu hasil yang berhubungan dengan semua


hasil jasa konsultansi yang berorientasi pada pencapaian produk yang
optimal dan memuaskan pemberi kerja.

1.1 Umum
Berbekal motivasi yang kuat dan disiplin ilmu yang dimiliki untuk
berpartisipasi dan memberi kontribusi dalam pembangunan di bumi
pertiwi, kami sepakat untuk berkelompok dalam suatu wadah berbentuk
perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultansi sebagai
wahana untuk dapat berperan serta dalam pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan nasional. Kepercayaan dalam arti luas yakni kepercayaan
akan

kemampuan

diri,

kepercayaan

dari

pemberi

tugas

serta

kepercayaan dari rekan-rekan seprofesi, diharapkan akan mematangkan


kami dalam bidang ini.
PT. Sketsa Karya Mandiri memiliki visi Membangun Sistem Perusahaan
yang Berkualitas, Produktif, dan user oriented.
Visi ini diturunkan dalam tiga misi yaitu :
1) Membangun Sistem Perusahaan yang Berkualitas dan Profesional,
2) Mengembangkan Kemampuan Personil yang lebih Efesien, Efektif, dan
Produktif, dan
3) Meningkatkan Kepercayaan luas kepada para rekanan kerja

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

PT. Sketsa Karya Mandiri sebagai suatu komunitas telah berkembang,


beragam kegiatan baik dimensi sosial dan dimensi bisnis dilakukan
dalam bentuk komunitas/studio/sub kon. Gagasan pendirian PT. Sketsa
Karya Mandiri dalam suatu badan usaha oleh keadaan dan peluang yang
memandang perlunya usaha jasa konsultansi dan manajemen yang
tersistematisasi dalam suatu Badan Usaha Formal. Harapan untuk
menjadi besar tidaklah ditentukan pada bayangan yang indah tetapi
semata-mata bertumpu pada pertimbangan rasioanal atas kemampuan
dan semangat yang dimiliki.
PT. Sketsa Karya Mandiri menyadari sepenuhnya akan kemampuan
dalam memberikan pelayanan menuju kesempurnaan, untuk itu kami
tak henti-hentinya berbenah diri dalam rangka meningkatkan kualitas
dan kuantitas demi terwujudnya visi dan misi perusahaan.

2. LINGKUP LAYANAN
Sesuai dengan SIUP yang dimiliki lingkup pelayanan jasa konsultansi
yang ada dibawah naungan PT. Sketsa Karya Mandiri juga bergerak di
bidang jasa telematika, konsultansi, bisnis manajemen, teknologi
informatika, instalasi (air, listrik, gas, Telkom), jasa konsultansi instalasi
computer network.
Layanan bidang jasa konsultansi, meliputi Jasa Konsultansi Non
Konstruksi : Pengembangan Pertanian dan Pedesaan, Transportasi,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Telematika,

Keuangan,

Pendidikan,Kesehatan,

Kependudukan,

Jasa

Survey, Pemetaan wilayah, Jasa Studi, Penelitian, dan Bantuan Teknik,


dan Jasa Konsultansi Manajemen. Serta Jasa Konsultansi

Konstruksi

meliputi bidang Arsitektural, Sipil, dan Tata Lingkungan


3. STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam setiap tahapan
pelaksanaan pekerjaan baik yang diberikan olehistansi swasta maupun
pemerintah

makaPT.

bagan/struktur

Sketsa

organisasi

Karya

perusahaan

Mandiri

membuat

danstruktur

suatu

organisasi

pelaksanaan pekerjaan. Untuk struktur organisasi perusahaanPT. Sketsa


Karya Mandiri dipimpin oleh Direktur yang membawahi beberapa
bagian, seperti dijelaskan pada Gambar berikut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

2.1. Daftar Pengalaman Sejenis 10 Tahun Terakhir

Dengan berbekal pada pengalaman - pengalaman tersebut di atas PT.


Sketsa Karya Mandiri akan lebih percaya diri dalam mengemban tugas
yang dipercayakan oleh Pemberi Tugas dalam menangani pekerjaan
jalan

baik

berupa

studi,

kajian

teknis,

perencanaan

maupun

pengawasan.

Pengalaman perusahaan Konsultan khususnya dalam bidang jalan dalam


kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir dapat dilihat pada lampiran
berikut ini.

(Terlampir)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

TERLAMPIR

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

D.

TANGGAPAN

TERHADAP

KAK/PERSONIL

DAN

FASILITAS

PENDUKUNG DARI PPK

Setelah mempelajari semua dokumen lelang kami menyatakan mampu


dan sanggup unruk mengikuti Pekerjaan Pembuatan DED Jembatan
Kedung Lesung Kec. Taktakan sesuai dengan yang tertera pada
Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang terdapat dalam Dokumen Lelang
secara garis besar sudah cukup jelas. Namun demikian untuk
perbaikan semua pihak, kami akan memberikan beberapa tangapan
terhadap hal-hal sebagai berikut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

D.1.

LATAR BELAKANG PEKERJAAN

Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang adalah Institusi Pemerintah yang


mempunyai wewenang dan tanggungjawab dalam pengembangan
prasarana jalan terutama jalan dan jembatan yang menghubungkan
daerah-daerah terisolasi atau pun akses yang sulit untuk menuju
pusat perekonomian, sehingga distribusi hasil bumi dapat dengan
mudah disalurkan tanpa harus memakan biaya yang sangat mahal,
pertumbuhan

penduduk

dan

perekonomian

akan

berkembang

pesat seiring dengan pertambahan prasarana jalan.

Keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi


Banten pada umumnya dan Pemerintah Kota Serang pada khususnya
selama ini telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Konsekuensi

atas

keberhasilan

tersebut,

salah

satunya

adalah

tuntutan terhadap pelayanan jasa transportasi, khususnya terhadap


kinerja prasarana jalan yang semakin meningkat, baik dari segi
kapsitas dan kualitasnya maupun penambahan jaringan jalan uang sudah
ada dan jaringan jalan baru.

D.2.

TANGGAPAN

TERHADAP

KAK

/PERSONIL

DAN

FASILITAS

PENDUKUNG

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pada saat ini tingkat pelayanan jalan dirasa masih kurang, sehingga
perlu dibangun, pembangunan jalan baru maupun peningkatan jalan
dan

jembatan

perlu

direncanakan

dengan

matang

agar

dapat

menghasilkan suatu perencanaan yang efisien serta ramah lingkungan.


Dinas Pekerjaan Umum Kota Serang adalah Institusi Pemerintah yang
mempunyai wewenang dan tanggungjawab pembinaan prasarana jalan.
Kebutuhan akan prasarana jalan dan jembatan yang baik merupakan
sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat dan merupakan faktor
penunjang lancarnya perekonomian.
Mengingat kondisi prasarana jalan yang ada saat ini banyak kerusakan
baik yang diakibatkan oleh faktor alam, maupun faktor manusia dalam
hal ini kendaraan sehingga perlu diadakan perbaikan dan peningkatan
guna memenuhi kebutuhan lalu lintas yang makin tinggi, di dalam
proses

perencanaan

diperhatikan

sebagai

faktor-faktor

dasar

diantaranya

untuk

pelaksanaan

kenyamanan,

perlu

keamanan,

lingkungan serta faktor lain yang mendukung perencanaan yang matang


dan terencana.
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum Kota
Serang untuk pekerjaan Perencanaan dan Pengawasan Jalan Kota Serang
dengan bantuan jasa Penyedia Jasa Konsultansi, bermaksud membuat
perencanaan teknis untuk beberapa ruas jalan di Propinsi Banten yang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

10

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

kondisinya

sudah

memerlukan

penanganan

segera

dan/atau

pembangunan jalan baru.

D.3. MAKSUD DAN TUJUAN PEKERJAAN


Maksud pekerjaan ini adalah mempersiapkan suatu disain jalan lengkap
pada ruas jalan yang akan segera ditindak lanjuti dengan pelaksanaan
kontruksinya. Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan
suatu Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan lengkap
yang memenuhi semua persyaratan teknis Dinas Pekerjaan Umum ,
efisien,

ramah

lingkungan

serta

dapat

dilaksanakan

dilapangan.

Pembuatan rencana sisitem dari drainase, gorong-gorong, marka jalan


dll sampai dengan penyiapan desain dan dokumen pelelangan untuk
ruas jalan nasional.

Selain itu tujuan dari pekerjaan ini adalah mendapatkan suatu sistem
jaringan jalan dan jembatan yang handal dalam periode tertentu dan
menentukan

strategi

investasi

prasarana

jalan/jembatan

guna

kesinambungan pembangunan regional baik jangka pendek, menengah


maupun panjang.

D.4. SASARAN PEKERJAAN

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

11

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Selaras dengan maksud dan tujuan di atas, maka sasaran pokok dari
pekerjaan ini, adalah untuk mendapatkan suatu produk dokumen
lengkap Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan.
Dokumen dimaksud, terdiri dari dokumen lelang yang dilengkapi
dengan gambar-gambar rencana dan spesifikasi teknis, serta dokumen
laporan akhir yang berupa laporan hasil perencanaan dan laporan hasil
penelitian/penyelidikan/ pengumpulan data di lapangan di sekitar lokasi
jalan yang bersangkutan, serta lokasi-lokasi sumber material yang di
perlukan untuk melaksanakan konstruksinya.

D.5. PENGETAHUAN TENTANG PEKERJAAN


Sebagaimana

disebutkan

pada

point

D.2

diatas,

nama-nama

persimpangan dan ruas jalan yang akan di desain sudah diketahui,


tetapi untuk kepastiannya akan ditentukan pada waktu peninjauan
lapangan bersama dengan konsultan dan petugas dari Dinas Pekerjaan
Umum Kota Serang.
Dari hasil peninjauan lapangan, konsultan akan menjelaskan kondisi
masing-masing kondisi eksisiting lahan bagi pembangunan jembatan
dan bila perlu disertai foto-foto/dokumentasi yang menggambarkan
kendaraan/lokasi persimpangan tersebut.

D.6. LINGKUP PEKERJAAN KONSULTAN

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

12

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

a. Pekerjaan

ini

meliputi

pekerjaan

perencanaan

teknik

persimpangan jalan dan perencanaan teknik jalan pada lokasi


yang menjadi skala prioritas seperti tersebut diatas.
b. Bagian-bagian pekerjaan yang mencakup dalam proyek ini
meliputi :
i. Survey lapangan
1. Survey Pendahuluan.
2. Survei Topographi.
3. Survei Penelitian Kondidi Lahan Eksisting.
4. Survei Hidrologi dan Hidrolika.
5. Survei Penyelidikan Geologi dan Geoteknik.
ii. Pengujian Laboratorium
iii. Perencanaan Teknik persimpangan dan perencanaan teknik
jembatan berupa perencanaan struktur jembatan termasuk
volume dan biaya pekerjaannya serta penggambaran.
iv. Pembuatan Laporan dan Penyiapan Dokumen Tender

Ruang lingkup pekerjaan/pengadaan jasa konsultansi sebagai berikut;


1). Survey Pendahuluan.
2). Survey Hidrologi.
3). Survey Lingkungan.
4). Topografi dan Pemetaan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

13

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

5). Penyelidikan Tanah.


6). Final Detailed Design.

D.7. DETAIL PENDEKATAN MASALAH DAN METODOLOGI


Berdasarkan pengetahuan tentang kondisi proyek dan pemahaman
terhadap tujuan utama pekerjaan yang akan dilakukan, maka Konsultan
akan mengembangkan suatu pendekatan masalah dan metodologi
dalam melaksanakan pekerjaan ini secara sistematis dan tepat waktu
sesuai ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja.

D.7.1. Detail Pendekatan Masalah


Dalam pendekatan masalah pekerjaan Pembuatan DED Jembatan Kedung
Lesung Kec. Taktakan ini ada 2 (dua) pertimbangan pokok yang
melandasinya, yaitu :
1. Pertimbangan Kewilayahan
Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan dampak positif dan
mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan fisik alam, sosial
ekonomi penduduk, kelancaran lalu lintas dan lainnya yang dimulai
dari tahap perencanaan, konstruksi maupun pasca kontruksi.

2. Pertimbangan Teknis

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

14

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Hal ini dilakukan agar dapat memenuhi kriteria standard desain yang
ada, sehingga dapat tercipta keamanan dan kenyamanan lalu lintas
pemakai jembatan.

D.7.2. Metodologi Rencana Teknik


Konsultan akan melaksanakan detail pendekatan masalah terhadap halhal yang utama dalam pengaturan tahapan terhadap sasaran pekerjaan
secara efisien dan efektif, serta menerapkan metodologi perencanaan
yang ditetapkan agar tercapai hasil yang dikehendaki.
Pengalaman Konsultan dalam penanganan pekerjaan yang sejenis akan
sangat bermanfaat dalam pendekatan masalah dan metodologi yang
dihadapi.

Berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang akan menjadi dasar
pertimbangan rencana teknik yang akan dilakukan yaitu :
a. Pengumpulan dan Kajian Data Sekunder
Sebelum

melaksanakan

pengkajian

data,

Konsultan

akan

melaksanakan kunjungan lapangan (survai pendahuluan), sehingga


benar-benar dapat memahami kondisi yang ada.
Dalam survai pendahuluan ini juga dilakukan penentuan titik panjang
bentang jembatan, lokasi titik bor dan sondir, penentuan tipe

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

15

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

bangunan atas, pengambilan data-data curah hujan dari stasiun hujan


terdekat dan penentuan / pengukuran penampang sungai.
Berdasarkan hasil survai pendahuluan dan kajian terhadap data-data
sekunder,

Konsultan

akan

melakukan

survai

lapangan

dan

mengembangkan konsep-konsep rencana teknik yang akan diajukan


kepada Pemberi Tugas. Setelah konsep rencana teknik tersebut
mendapat persetujuan, maka akan dilanjutkan dengan kegiatan
rencana teknik. Disamping itu akan dilakukan pula kegiatan studi
lingkungan untuk menganalisa pengaruh proyek baik pada masa pra
konstruksi, konstruksi maupun pasca konstruksi yang mungkin dapat
menimbulkan dampak bagi kondisi lingkungan disekitar proyek.

b. Konsep Perencanaan
Suatu perencanaan teknis harus memenuhi pokok-pokok persyaratan
yang ditetapkan oleh Kerangka Acuan Kerja dan kondisi lain yang
ditentukan oleh Pemberi Tugas.
Pokok-pokok perencanaan yang harus dipenuhi adalah :
o Teknis : fungsi, keamanan, kenyamanan, keawetan, kemudahan
pelaksanaan dan pemeliharaan.
o Ekonomis : Penggunaan biaya yang efisien dan efektif.
o Estetika : Memberi nuansa yang indah bagi daerah sekitarnya.
o Pemanfaatan komponen lokal yang maksimal.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

16

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Masing-masing pokok perencanaan tersebut diatas dapat diuraikan


sebagai berikut :

Teknis
Suatu perencanaan teknik harus :
Sesuai dengan rencana pengembangan jaringan jalan dan
jembatan secara keseluruhan.
Tidak bertentangan dengan aspek apapun dalam Rencana
Struktur Tata Ruang Propinsi/Kabupaten.
Tidak berbenturan dengan aspek-aspek yang ada dalam
Program Pengembangan Prasarana Kota Terpadu.
Tidak mengganggu rencana daerah yang sudah dituangkan
dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota dan sinkron dengan
transportasi lainnya.

Kriteria teknis untuk perencanaan akan mengacu kepada fungsi jalan


dan jembatan yang ditetapkan, terkait dengan masalah keamanan
pemakai jalan yang diatur dalam persyaratan geometrik dan kekuatan
struktur untuk menerima beban rencana. Pelayanan struktural harus
memenuhi kelayakan untuk penggunaan struktur jembatan sesuai
beban lalu lintas rencana. Pemakaian bahan dipilih sesuai kondisi
lingkungan agar keawetan (usia pakai) tetap terpelihara, sedang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

17

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

pemilihan struktur yang mudah pelaksanaannya dapat menghindari


keterlambatan pelaksanaan ataupun peningkatan biaya konstruksi.

Ekonomis
Perencanaan juga harus mempertimbangkan aspek pendanaan
yang tersedia dan pokok-pokok perencanaan dalam pemilihan
struktur yang paling ekonomis, namun masih memenuhi semua
aspek yang telah ditetapkan.

Estetika
Perhatian khusus perlu diberikan, dalam penampilan struktur,
agar mempunyai nilai estetika yang optimal.

Pemanfaatan Elemen Lokal yang Optimal


Penggunaan

produksi

dalam

negeri

diprioritaskan

dalam

perencanaan elemen-elemen, khususnya struktur jembatan.

D.8. BATASAN PEKERJAAN


D.8.1. Batasan Proyek
Sebagaimana telah dijelaskan dalam rapat penjelasan pekerjaan, bahwa
panjang jalan serta serta type pekerjaan yang akan direncanakan sudah
ditentukan oleh Pemberi Tugas.
Dalam Kerangka Acuan Kerja belum ada penjelasan mengenai batasan
awal dan akhir proyek setiap jembatan. Konsultan akan mengarahkan
peninjauan ke lapangan dan mendiskusikan dengan Pemberi tugas

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

18

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

tentang panjang bentang dan tipe bangunan bawah dan bangunan atas
yang akan dipakai.
Ada beberapa alternatif yang konsultan usulkan untuk melaksanakan
pekerjaan perencanaan ini yaitu :
1. Memperbaiki

geometric

jembatan

baik

alinyemen

horizontal

maupun vertical, terutama untuk jalan yang akan masuk ke


jembatan.
2. Memperbaiki

geometric

persimpangan

jalan

baik

alinyemen

horizontal maupun vertical.


3. Merencanakan ketebalan perkerasan jalan yang diperlukan dengan
perkerasan Asbuton.

D.8.2. Jangka Waktu Pelaksanaan


Sebagaimana

disebutkan

dalam

Kerangka

Acuan

jangka

waktu

pelaksanaan untuk pekerjaan ini adalah 3 (tiga), menurut Konsultan


sudah lebih dari cukup untuk melaksanakan pekerjaan Rencana Teknik
Jalan ini.

D.8.3. Personil Konsultan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

19

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Dengan mengacu masa pelaksanaan selama 3 (tiga) bulan dengan


kebutuhan Tenaga Ahli yang diminta dalam KAK baik jumlah maupun
masa tugasnya sudah lebih dari cukup.
Dengan

demikian

rencana

teknik,

untuk

konsultan

mengoptimalkan
akan

pelaksanaan

menyediakan

tenaga

pekerjaan
ahli

yang

dibutuhkan sesuai dengan KAK.

D.9. ARESIASI DAN INOVASI


Setelah mempelajari dan memahami Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Konsultan menyampaikan usulan bahwa dalam kegiatan perencanaan
system drainase perlu penerapan prinsip-prinsip keselamatan dalam
suatu system Manajemen Keselamatan Jalan yang merupakan strategi
peningkatan keselamatan jalan.
Kecelakaan lalu lintas merupakan kejadian sebagai salah satu dampak
negative dari pertumbuhan lalulintas selain kemacetan, polusi udara dan
kebisingan.
Kecelakaan lalulintas ditengarai disebabkan oleh beberapa factor antara
lain dari aspek-aspek :
a. Prasarana Jalan, jembatan dan Lingkungan
b. Sarana (kendaraan)
c. Manusia (pengguna jalan)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

20

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Kegiatan

perencanaan

melakukan/mencakup

jalan

penelitian

dan
(survai)

jembatan
lokasi

rawan

seharusnya
kecelakaan

lalulintas (black spot) pada ruas jalan dan jembatan yang menjadi
prioritas pekerjaan. Penelitian / survai tersebut mencakup pendataan
kecelakaan lalulintas kemudian disertai dengan identitas permasalahan
di lapangan yang selanjutnya dilakukan diagnosa terhadap factor
penyebab kecelakaan yang dominan.
Upaya tersebut dilakukan bertujuan untuk mengoptimalkan tingkat
pelayanan jembatan utamanya dari aspek keamanan dan keselamatan
pengguna jembatan. Disamping itu mengingat relatif cukup panjang
ruas jembatan yang akan direncanakan, dimana dalam memperkirakan
kebutuhan pemenuhan standar geometrik baik horizontal maupun
vertikal, perlu dilaksanakn secara cermat, Konsultan mengusulkan
Inovasi

dalam

pelaksanaan

pengumpulan

data

lapangan

akan

menggunakan Handheld GPS.


Kemampuan

alat

ini

adalah

bisa

melakukan

Tracking

dengan

melakukan pembacaan posisi Easting (E) dan Northing (N) pada titiktitik yang diinginkan, seperti menandai daerah tikungan yang memiliki
radius kecil ataupun yang memiliki gradien yang tajam atau menandai
bangunanbangunan pelengkap yang membutuhkan perbaikkan dll,
selain akan memudahkan pada waktu penggambaran.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

21

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Kegunaan Handheld GPS, selain untuk tracking, hasil pembacaan


Easting (E) dan Northing (N) nya juga dapat digunakan sebagai referensi
azimuth: titik awal dan akhir pada pengukuran poligon, sehingga
metoda yang menggunakan Pengamatan Matahari untuk mendapatkan
nilai azimuth bisa diganti dengan menggunakan Handheld GPS.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

22

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

5.1. TUGAS DAN LINGKUP JASA KONSULTAN


Tujuan utama dari pekerjaan Jasa Konsultansi ini adalah melakukan
penyusunan rencana teknik yang optimum dari segi teknis dan biaya
serta berwawasan lingkungan dengan produk akhir berupa Rencana
Teknis Jembatan lengkap dengan dokumen pelelangan.

5.2. KONSEP PEMBUATAN DED JEMBATAN KEDUNG LESUNG KEC.


TAKTAKAN
Lingkup jasa konsultan secara garis besar dibagi dalam 5 tahap kegiatan
antara lain :

5.2.1 Tahap Peninjauan Lokasi

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

23

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Untuk pelaksanaan survey ini Konsultan diwajibkan untuk mengamati


kondisi lapangan dan permasalah disain yang mungkin timbul.
Petugas yang ditugaskan diharuskan berkonsultasi dengan Pemimpin
Proyek atau Pembantu Pemimpin Proyek (Project Officer/PO) dan pejabat
dari Dinas Bina Marga setempat untuk mendiskusikan segala hal yang
bersangkutan dengan jembatan-jembatan yang ditangani.
Konsultan diwajibkan mengumpulkan sebanyak mungkin data-data
yang diperlukan untuk penentuan langkah-langkah disain.
Data-data yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Data mengenai kondisi jembatan dan bagian-bagian yang rusak.
b. Data banjir dan erosi.
c. Bahan yang tersedia yang menentukan macam konstruksi yang
paling menguntungkan.
d. Data lain yang diperlukan dan dianggap penting.
e. Usulan lainnya dari Pemberi Tugas
Selama survey ini Konsultan diwajibkan mengecek semua data-data
diatas, di lapangan dan memberi koreksi-koreksi seperlunya serta
mengambil keputusan apa yang harus dilakukan pada segi disain.
Petugas diwajibkan untuk :
a. Mencatat keadaan dan kondisi jembatan lama.
b. Menentukan tipe pondasi yang paling baik untuk lokasi tersebut
sehubungan dengan material dan kondisi tanah.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

24

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

c. Menentukan letak, jumlah dan panjang bentang serta elevasi dan


lokasi jembatan baru (apabila ada relokasi).
d. Mencatat banjir dan erosi yang terjadi serta kondisi sungai dan
pola alirannya.
e. Menetapkan titik referensi
f. Mencatat material yang tersedia.
g. Membuat sketsa situasi jembatan yang baru terhadap jembatan
yang lama.
h. Data lain yang diperlukan.

5.2.2 Tahap Pengukuran Topographi


Pengukuran topographi pada daerah lintasan jalan harus meliputi lebar
daerah

pemilikan

jalan

(DMJ).

Pengukuran

topographi

dilakukan

sepanjang lokasi as jalan dan jembatan baru dengan mengadakan


penambahan pengukuran detail pada tempat yang memerlukannya atau
pemindahan

lokasi

jembatan

sehingga

memungkinkan

didapat

realinemen as jalan jembatan yang sesuai dengan standard yang


dikehendaki.
Jenis pengukuran ini meliputi pekerjaan pekerjaan sebagai berikut :
a. Pengukuran Khusus Jembatan
Pengukuran titik kontrol horizontal dan vertical (kordinat dan
elevasi)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

25

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pengukuran situasi jembatan


Pengukuran penampang memanjang dan melintang
Perhitungan dan penggambaran peta
Pengukuran ditempat realinemen jembatan (kalau ada)
Daerah yang diukur :
200 meter panjang masing masing oprit dari pangkal jembatan
200 meter panjang masing-masing ke arah hilir dan hulu sungai
dari as jembatan
100 meter pada kiri dan kanan as jalan pada daerah sungai
50 meter kiri dan kanan as jalan yang mencakup patok DMJ.
b. Pengukuran Titik Kontrol
Pengukuran titik kontrol disini berupa jaringan poligon
Titik kontrol tersebut diletakan antara 50 sampai dengan 100
meter.
c. Pengukuran Situasi Jembatan
Pengukuran situasi daerah sepanjang jembatan harus mencakup
semua keterangan yang ada di daerah sepanjang jalan dan
jembatan, misalnya :
rumah, pohon, pohon pelindung jalan, pinggir selokan, letak
gorong-gorong serta dimensinya, tiang listrik, tiang telepon,
jembatan, batas sawah, batas kebutn, arah aliran air dan lain
sebagainya.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

26

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Patok Km dan Hm yang ada pada tepi jalan harus diambil dan
dihitung koordinatnya. Ini maksudnya untuk memperbanyak titik
referensi pada penemuan kembali sumbu jalan yang direncanakan.
Pada tempat sumber material jalan yang terdapat disekitar jalur
jalan perlu diberi tanda pada peta.
d. Pengukuran Penampang
Pengukuran

penampang

memanjang

dan

melintang

dilakukan

sepanjang trase jalan/jembatan meliputi daerah pemilikan jalan (DMJ).


Pengukuran Penampang Memanjang
Pengukuran penampang memanjang adalah memanjang sumbu
jembatan jalan yang ada, kecuali pada tempat dimana kemungkinan
diadakan tambahan.
Untuk pengukuran penampang memanjang ini peralatan yang
digunakan sama dengan yang dipakai untuk pengukuran kontrol
vertikal.
Pengukuran Penampang Melintang
Pengukuran penampang melintang diambil setiap jarak 50 meter
pada bagian jalan dan sungai yang lurus, landa dan setiap jarak 25
meter untuk daerahdaerah tikungan dan berbukit.
Lebar pengukuran harus meliputi daerah sejauh 50 meter sebelah
kiri kanan sumbu jalan pada bagian yang lurus dan 25 meter kesisi
luar dan 75 meter ke sisi dalam pada daerah tikungan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

27

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Titik yang perlu diperhatikan adalah tepi perkerasan, dasar dan atas
gorong-gorong, tepi bahu jalan, dasar dan permukaan selokan,
saluran irigasi, lantai kendaraan jembatan dan tebing sungai.
Peralatan

yang

digunakan

untuk

pengukuran

situasi

dapat

dipergunakan untuk pengukuran penampang melintang ini.

e. Patok Patok
Patok beton dengan ukuran 15 x 15 x 60 cm harus ditanam sedemikian
rupa sehingga patok berada diatas tanah adalah kurang lebih 20 cm.
Patok kayu dengan ukuran 5 x 7 60 cm dipergunakan untuk patok
pengukuran poligon dan profil. Pada patok beton harus diberi tanda
Bench Mark dan nomor urut. Untuk memperbanyak titik tinggi yang
tetap, perlu ditempatkan titik tinggi referensi pada pokok pohon atau
tempat lain yang permanen dan mudah diketemukan kembali.
Baik patok poligon maupun profil diberi tanda cat kuning dengan tulisan
merah yang diletakkan disebelah kiri ke arah jalannya pengukuran.
Khusus untuk profil memanjang, titik yang terletak disumbu jalan diberi
paku dengan dilingkari cat kuning sebagai tanda.

f. Perhitungan dan Penggambaran Peta


Titik poligon utama harus dihitung koordinatnya berdasarkan titik
referensi.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

28

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Perhitungan harus berdasarkan Bowdith Methode.


Penggambaran

titik

poligon

harus

berdasarkan

pada

hasil

perhitungan koordinat.
Penggambaran

titik

poligon

tersebut

sam

sekali

tidak

diperkenankan secara grafis.


Gambar ukur berupa gambar situasi harus digambar pada kertas
millimeter dengan skala 1 : 500 dan garis tinggi dengan interval
0,50 meter.
Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur, begitu
pula semua keterangan-keterangan yang penting.
Titik ikat atau titik mati serta titik-titik ikat baru harus
dimasukkan dalam gambar dengan diberi tanda khusus dan
ketinggian titik tersebut harus pula dicantumkan.
Daftar koordinat beserta ketinggian dari titik-titik poligon utama
harus dilampirkan pada penyerahan hasil pekerjaan.

5.2.3 Tahap Penyelidikan Tanah dan Material Jembatan


Kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
a. Mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan
material yang ada, selanjutnya mengadakan penyelidikan tanah dan
material sepanjang proyek jembatan tersebut yang akan dilakukan
berdasarkan

survey

langsung

di

lapangan

maupun

dengan

pemeriksaan di laboratorium.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

29

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

b. Menyelidiki lokasi sumber material yang ada disekitar lokasi proyek


beserta perkiraan jumlahnya (bila mungkin) untuk pekerjaan
struktur jembatan dan bangunan pelengkap lainnya, termasuk
pembuatan

jalan

pendekat

jembatan

yang

kemudian

harus

dibuatkan petanya.
Uraian Pelaksanaan
Jembatan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu mempunyai Bangunan atas,
Bangunan bawah dan Bangunan pelengkap.

Bangunan atas adalah komponen jembatan yang menerima beban


kendaraan di atas perlekatan.
Termasuk katagori Bangunan atas adalah :

Balok, Rangka, Dek yang terdiri atas plat, dsb.

Perletakan.

Bangunan bawah adalah bangunan untuk meneruskan beban ke


tanah dasar. Bangunan bawah dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu
kepala jembatan (abutment) atau pilar (pier) dan pondasi.
Termasuk katagori Bangunan bawah adalah :

Kepala jembatan/pilar

Pondasi untuk kepala jembatan/pilar

Termasuk katagori Bangunan pelengkap adalah :


- Perkuatan lereng dan apron pada dasar sungai.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

30

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

- Jalan pendekat jembatan.


- Guard rails dan pasangan batu pengaman

5.3. Survey Jembatan


Ada pun tahapan perencanaan jembatan, sebagai berikut :

Pekerjaan lapangan, meliputi semua survei yang diperlukan.

Kriteria Perencanaan, meliputi klasifikasi jembatan, karakteristik


lalu-lintas, kondisi lapangan, pertimbangan ekonomi, dll.

Penyiapan Peta Planimetris, yang merupakan peta hasil survei


topografi

yang

diperlukan

sebagai

peta

dasar

perencanaan

geometrik.

Perencanaan Geometrik, meliputi perencanaan glagar, pondasi dan


pilar

Geoteknik dan Material jembatan, menguraikan pengolahan data


geoteknik dan material untuk keperluan konstruksi perkerasan
jalan/glagar, podasi dan tiang/pilar.

Hidrologi sungai, menguraikan analisis material yang terbawa

Perkiraan Biaya, meliputi perhitungan kwantitas, analisis harga


satuan dan dokumen pelelangan.

5.4. PEMBAHASAN
I. Pekerjaan Lapangan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

31

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pekerjaan lapangan ini mencakup keseluruhan kegiatan survei dan


investigasi di lapangan untuk memperoleh data-data akurat yang
diperlukan dalam proses perencanaan jembatan, yaitu : Kegiatan
lapangan yang perlu dilakukan meliputi beberapa item, yaitu :
Data Penunjang
Survei Pendahuluan
Survei AMDAL (bila diperlukan)
Survei Topografi
Survei Hidrologi
Survei Lalu lintas
Survei Geoteknik

Data Penunjang : data penunjang dan data dasar yang tersedia, yang
diperlukan sebagai referensi pada saat pelaksanaan survei.
Kegiatan pengumpulan data penunjang dan analisis atau studi data awal
(desk study) ini sangat diperlukan agar regu survei mendapatkan
gambaran tentang kondisi lokasi dan pencapaian lokasi, serta gambaran
rencana.
Data-data yang perlu di kumpulkan:
1. Peta :
Peta Jaringan Jalan : dari DPU, info.jaringan jalan yang sudah ada
di sekitar loasi rencana jembatan & batas-batas wilayah, skala
peta antara 1:1.000.000 1:1.500.000

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

32

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Peta Topografi : dari Direktorat Geologi dan Jawatan Topografi


A.D. (JANTOP), data yang paling fundamental, karena merupakan
peta dasar sebagai pedoman route survei, skala peta antara
1:250.000 1:25.000
Peta Geologi Regional : dari Direktorat Geologi, info.kondisi
geologi (formasi batuan, proses pembentukan, umur geologi
suatu lapisan, struktur geologi, dll.), skala peta 1:250.000
Photo

Udara

citra

satelit

info.batuan

dasar

dan

kelembabannnya dengan mengamati jenis vegetasi, penyebaran


serta kesuburannya serta memperkirakan lokasi rawan gerakan
tanah dan patahan serta lipatan.
Peta Rupa Bumi : dari BAKOSURTANAL, info.tata guna lahan, skala
peta 1:50.000 (peta topografi/peta dasar).
2. Data dan Informasi
Data Curah Hujan : dari BMG / Dinas Pertanian di daerah-daerah,
bila data tersedia maka dapat menggunakan peta hujan sebagai
pendekatan.
Informasi : sarana transportasi untuk menuju lokasi, biaya hidup
dilokasi survei, & cuaca dan suhu di lokasi, dll.
Data dan peta yang terkumpul, dipilah pilah dan dipelajari agar data
dan peta yang benar-benar diperlukan saja yang digunakan sebagai
dasar.
5.5. Survai Pendahuluan Jembatan (Bridge Reconnaissance Survey) dan
Survai Topografi

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

33

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Survai ini dimaksudkan untuk mengumpulkan secara visual di lapangan


guna mendukung usulan penanganan jembatan baik penggantian
jembatan

maupun

pembangunan

jembatan

baru

berdasarkan

pertimbangan teknis dan ekonomis.


Ruang lingkup survai pendahuluan jembatan meliputi survai untuk
menentukan :
- Perlu tidaknya jembatan diganti atau dibangun,
- Penempatan jembatan baru atau jembatan lama yang akan direlokasi
Data penunjang :

Peta Indeks
Peta Indeks digambar dengan skala yang cukup (biasanya 1:50000),
dan pada peta tersebut diplotkan dengan jelas lokasi jembatan yang
diusulkan atau alternative jembatan yang akan diselidiki, lokasi
jembatan yang mungkin, jalur komunikasi yang ada, topografi umum
dari daerah, dan kota-kota penting.

Peta Topografi
Peta Topografi dengan skala 1:5000 yang disertai penggambaran
perkiraan jalannya arus air (sungai dan anak-anak sungai) dan
perkiraan luas daerah yang mempengaruhi debit anak-anak sungai dan
debit sungai yang akhirnya akan mempengaruhi debit sungai di lokasi
jembatan yang diusulkan, yang kesemuanya ini diplotkan di peta
tersebut. Jarak garis batas daerah pengaruh ini diambil dari ketinggian

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

34

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

garis tinggi kontur terhadap sungai/anak-anak sungai, dengan melihat


keadaan tanah, kondisi curah hujan yang tidak merata. Garis batas ini
dapat dipertimbangkan dalam jarak 100 m, 300 m, 1500m dari tepi
sungai

dan

Daerah

Tangkapan

Hujan

(catchment

area)dapat

dipertimbangkan seluas 3 Km, 15 Km, dan di atas 15 Km sesuai


dengan keperluan.
5.6. Gambar Rencana Lapangan
Gambar Rencana lapangan digambar dengan skala yang cukup yang
menunjukkan detail dari lokasi yang dipilih dan detail dari arus sungai
pada jarak 100 sampai 200 m ke arah hulu dan hilir dari lokasi yang
dipilih.
Rencana tersebut harus menggambarkan detail hal-hal berikut :
1. Nama sungai/jalan dan tanda Km terdekat.
2. Gambaran

garis

besar

keadaan

tepi

sungai

sewaktu

air

rendah/tinggi.
3. Arah mengalirnya arus air
4. Alinemen jembatan lama dan usulan dari pertemuan dengan
alinemen yang diusulkan.
5. Sudut dan arah miringnya lintasan (skew), apabila alinemen yang
diusulkan tidak tegak lurus arah sungai.
6. Nama desa terdekat.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

35

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

7. Lokasi dan reduksi dari patok (Bench Mark) yang kelak akan
dipakai sebagai peil 00.00.
8. Lokasi potongan memanjang dan potongan melintang jalan dan
sungai
9. Lokasi sumur dan boring dengan nomor identifikasinya.
10.

Lokasi seluruh bangunan-bangunan, tumbuh - tumbuhan,

batu, dan rintangan-rintangan yang mungkin berpengaruh pada


alinemen jalan.
5.7. Potongan Melintang
Potongan Melintang sungai pada lokasi jembatan dibuat dengan skala
horizontal 1:1000 dan vertikal 1:100. Potongan melintang tersebut
harus mengandung informasi sebagai berikut :
1. Nama sungai, jalan atau pertemuan.
2. Garis dasar sungai dan tepi sungai sampai level di atas ketinggian
air banjir tertinggi.
3. Gambaran dari keadaan struktur lapisan tanah (subsoil)
4. Muka air terendah, permukaan banjir rata-rata, permukaan banjir
tertinggi.
5. Bila terjadi arus pasang - surut, maka diperlukan informasi
tentang pasang terendah dan pasang tertinggi, serta muka air laut
rata - rata.
5.8.

Potongan Memanjang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

36

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Potongan memanjang menunjukkan lokasi jembatan dengan muka air


terendah, muka air rata-rata dan tertinggi, dan garis dasar sungai
dengan jarak yang cukup, sepanjang garis sumbu jalan. Skala horisontal
dapat dipakai secukupnya, sedangkan skala vertikal tidak boleh kurang
dari 1 : 1000
5.9.

Potongan Melintang Tambahan

Potongan Melintang Tambahan arus pada jarak yang tepat, arah hilir dan
hulu dari lokasi jembatan yang diusulkan. Harus ditunjukkan juga jarak
dari lokasi jembatan, ketinggian banjir dan ketinggian air terendah, dan
bila ada potongan melintang dimana muka air banjir sedikit lebih tinggi
dari tepi sungai.
5.10. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS)
Peta Daerah Aliran Sungai di daerah lokasi usulan jembatan garisnya
digambarkan pada peta topografi, dan bisa dihitung luas daerahnya
dengan cara membandingkannya dengan jumlah bujur sangkar yang
dicakupnya.
5.11. ProfilTanah, bisa ditentukan dengan cara visual.
Data-data Yang Dikumpulkan
Diusahakan untuk mendapatkan data-data berikut :
1. Nama sungai/Jalan/Jalan Kereta Api/lain-lain yang dilintasi oleh
Jembatan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

37

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

2. Lokasi B.M (Bench Mark) terdekat berikut reduksi ketinggian


dilokasi jembatan terhadap B.M (Bench Mark) tersebut.
3. Volume kendaraan sekarang dan prediksi volume kendaraan yang
akan datang (20 tahun) yang menggunakan jembatan tersebut.
4. Data-data hidraulis sungai antara lain
a. Potongan melintang sungai tiap - tiap 5 M', masing-masing 20
m kearah hulu dan 20 m kearah hilir dari lokasi jembatan.
b. Muka air banjir tertinggi (Banjir 20 th)
c. Muka air rata-rata
d. Muka air terendah
e. Benda hanyutan yang dihanyutkan (kayu besar, lahar dingin,
dan lain - lain)
f. Kontur tanah di lokasi jembatan / potongan melintang tanah
sepanjang rencana lokasi jembatan.
g. Catatan

navigasi/lalu-lintas

(jenis

kapal/perahu/kereta

api/bis/truk dalam hal ini yang dimaksudkan guna profil ruang


bebas)
h. Catatan dari pekerjaan air yang besar (dam, bendung, saluran
pengairan dll)
5. Kemungkinan adanya daerah patahan pada lokasi
6. Ketersediaan quarry (kualitas dan kuantitas) seperti batu, tanah,
pasir, kapur, dll.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

38

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

7. Tempat tersedianya semen, baja, kayu yang terdekat.


8. Kemudahan transportasi material.
9. Ketersediaan tenaga kerja terampil dan tidak terampil
10. Fasilitas rumah/bedeng untuk pekerja selama pekerjaan
11. Detail-detail dari jembatan lain yang melompati

sungai /

rintangan yang sama, dalam jarak yang terdekat (kalau ada)


12. Ketersediaan tenaga listrik
13. Ketersediaan fasilitas pelayanan (telepon, sumber tenaga, suplai
air, dll) dan cara mendapatkannya.
5.12. Pemilihan Lokasi
Lokasi jembatan baru yang akan dibangun agar mempertimbangkan
segi-segi teknis, ekonomis, sosial, dampak lingkungan, serta estetika
yang mencakup alinemen jalan dan kecepatan rencana. Disamping itu
perlu diperhatikan masalah yang berkaitan dengan pembebasan tanah
dan bangunan, adanya timbunan atau galian yang terjadi sesuai dengan
kondisi tanah ash (existing ground) yang ada dan masalah - masalah
lainnya, sehingga lokasi jembatan dapat terletak pada tempat yang ideal
dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
1. Arah jembatan sedapat mungkin tegak lurus arah aliran sungai.
2. Pilih arus sungai yang tenang, sedapat mungkin hindari arus sungai
yang deras / mengikis
3. Di daerah alur sungai yang pendek dengan tepi yang kuat.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

39

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

4. Kedua tepi yang ada sedapat mungkin lebih tinggi dari muka air
banjir dan kuat.
5. Lapisan keras (rock) sedapat mungkin tidak terlalu jauh dari dasar
sungai.
6. Jaian pendekat (oprit) dari jembatan sedapat mungkin ekonomis,
antara lain dilakukan dengan cara :
-

Hindari penyempitan profil sungai.

Oprit jembatan harus mempunyai daerah bebas pandang yang


sesuai.

Sedapat

mungkin

lokasi

jangan

berdekatan

dengan

percabangan aliran.
-

Hindari tempat-tempat bersejarah, yang dianggap keramat,


dan tempat-tempat penting lainnya, yang kira-kira nantinya
sulit dalam pembebasan tanahnya.

7. Hindari tikungan tajam dari oprit

5.13. Bentang, Lebar dan Tipe Jembatan


Dalam menetapkan panjang bentang, lebar dan tipe jembatan harus
memperhatikan stabilitas tebing, profil sungai, arah aliran, sifat-sifat
sungai, bahan-bahan yang terbawa akibat arus pengerasan vertikal dan
horizontal, kepadatan dan pembebanan lalu-lintas. Apabila jalan
pendekat jembatan terletak pada daerah rawa, di atas tanah lembek dan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

40

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

tanah hasil pemadatan (compressible) yang akan menimbulkan masalah


stabilitas dan penurunan, maka dapat disarankan penambahan panjang
bentang, perbaikan tanah atau kemungkinan penanggulangan lainnya.
Pada pelebaran jembatan lama, tipe dan jenis jembatan hendaknya
disesuaikan dengan tipe dan jenis jembatan lama dan arah pelebaran
disesuaikan dengan kondisi setempat.

5.14. Hidrologi
Data hidrologi yang perlu dikumpulkan dalam survai pendahuluan
jembatan

adalah

data

yang

dapat

digunakan

langsung

untuk

perencanaan meliputi antara lain :


sifat morfologi sungai, periode banjir, serta banjir terbesar yang pernah
terjadi dalam kurun waktu 50 tahun dan data curah hujan pada pos-pos
pengamatan yang mempengaruhi.

5.15. Penentuan Lokasi dan Jenis Penyelidikan Tanah


Penentuan tanah diperlukan untuk menetapkan jenis dan lokasi
penyelidikan tanah yang diperlukan (sondir, bor, SPT, test pit, stabilitas).
Dalam

menentukan

perkiraan

jenis

pondasi

jembatan,

dapat

dipergunakan cara dengan membandingkannya dengan jenis pondasi


jembatan lama, jenis lapisan tanah dasar serta sifat-sifat tebing.

5.15.1.

DataJembatan Lama

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

41

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Dalam hal jembatan lama akan digunakan sebagai jembatan darurat


selama pembangunan jembatan baru, maka perlu data kekuatan serta
kondisi jembatan lama.

5.16. Material/Quarry
Untuk menghindari harga material yang tinggi diperlukan adanya
data/tempat pengambilan material (quarry) yang dekat dengan lokasi
jembatan yang akan dibangun. Dalam hal ini perlu ditentukan lokasi
pengambilan

material

dengan

perkiraan

mutu

sesuai

dengan

persyaratan. Biasanya peta quarry dapat diperoleh di DPUP setempat.

5.17. Foto Dokumentasi


Dalam survai pendahuluan dibuat foto dokumentasi mengenai keadaan
jembatan lama, keadaan sungai dan keadaan lokasi perkiraan jembatan
baru.
a. Pengambilan foto pada jembatan lama meliputi :
-

Foto jembatan dari arah hulu

Foto jembatan dari arah hilir

Foto jembatan dari arah jalan masuk

Foto jembatan dari arah jalan. keluar

Foto-foto lain yang dianggap diperlukan perhatian khusus


dalam perencanaan

Untuk foto jembatan lama sebaiknya diberikan identitas yang


jelas tertulis dalam Foto.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

42

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

b. Pengambilan foto rencana lokasi jembatan baru/relokasi meliputi


-

Dari hulu kearah hilir.

Dari hilir kearah hulu.

Dari jalan masuk kearah jalan keluar (rencana lokasi kepala


jembatan).

Dari jalan keluar kearah jalan masuk (rencana lokasi kepala


jembatan).

Foto perspektif rencana lokasi jembatan .

Foto lainnya yang memerlukan perhatian khusus dalam


perencanaan.

Pada foto tersebut di atas agar dicantumkan tanda-tanda antara


lain, arah aliran sungai, rencana sumbu jembatan, rencana lokasi
kepala jembatan, dan lain-lain.

5.18. Survei Topogafi


Merupakan

pengukuran

yang

bertujuan

memindahkan

kondisi

permukaan bumi dari lokasi yang diukur pada kertas yang berupa peta
planimetri. Peta ini akan digunakan sebagai peta dasar untuk plotting
perencanaan geometrik jembatan.
Hal-hal yang perlu di perhatikan :
1. penempatan lokasi titik silang dan titik-titik perpanjangan garis
lurus
2. penempatan garis sumbuh, yang meliputi penempatan garis-garis
lurus dan lokasi belokan-belokan
3. pengukuran topografi

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

43

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

4. sipat-datar profil dan potongan melintang


5. pembuatan

gambar-gambar

pengukuran

Peta

planimetris,

potongan melintang & profil.

a. Kegiatan Umum
1. Konsultan harus melengkapi teamnya yang akan ditugaskan di
lapangan dengan alat-alat yang menurut keperluannya agar
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan sempurna.
2. Team tersebut harus dipimpin oleh seorang yang terpercaya, yang
ahli pada bidangnya dan bekerja penuh tanggung jawab untuk
mendapatkan hasil yang optimal.
3. Cara melaksanakan pemboran dan pengambilan contoh tanah
hendaknya dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku dengan
ketelitian yang tinggi agar iterprestrasi atau percobaan yang akan
dilakukan nati tidak akan menjumpai kesulitan.
4. Cara

klarifikasi

ASTM/AASHTO.

jenis

tanah

Penamaan

hendaknya
jenis

tanah

dilakukan
hendaknya

menurut
diberi

penjelasan istilah dalam bahasa inggrisnya dengan cara menulis


dalam kurung. Dalam hal ini dimaksudkan untuk keseragaman
penggunaan istilah.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

44

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

5. Pada tiap lobang bor yang dikerjakan harus dilakukan pencatatan


lokasi,

elevasi

permukaan

pemboran,

tanggal

dimulainya

pemboran, tanggal selesai dan alat yang digunakan.

b. Sondir
1. Untuk menyelidiki tanah di lapangan, di jembatan, digunakan alat
sondir.
2. Kapasitas sondir yang digunakan adalah mesin sondir ringan (2
ton)
3. Sondir dilaksanakan dengan mata sondir bikonus.
4. Pembacaan tekanan konus dilaksanakan setiap interval 20 cm
sampai nilai tekanan konus lebih besar dari 150 kg/cm2.
5. Bilamana angka tersebut diatas pada butir (4) tidak tercapai,
penyondiran diberhentikan sampai kedalaman 30 meter.
6. Penyondiran masing-masing 2 titik setiap kepala dan pilar
jembatan.
7. Penggambaran hasil penyondiran dibuat pada kertas standard.

c. Bor Mesin
a. Untuk jembatan dengan bentang lebih besar atau sama dengan 60
meter :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

45

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1. Boring harus dikerjakan dengan alat bor yang digerakan


dengan mesin yang mampu mencapai kedalaman yang
ditentukan. Mata bor harus mempunyai diameter cukup besar
sehingga undistrurb sample yang diinginkan dapat diambil
dengan baik.
Untuk tanah clay, slit atau tanah lainnya yang tidak terlalu
padat, dipakai steel bit sebagai mata bor.
Untuk lapisan yang keras atau cemented harus dipakai core
barrel sehingga dapat juga diambil undisturb samplenya dari
lapisan keras tersebut.

2. Pada setiap interval keadalaman 1,5 meter harus dilakukan


Standard
Penetrometer Test (SPT) dan harus diambil contoh tanahnya
(tidak perlu undisturb), kemudian disimpan pada tempat yang
dapat menjaga kadar air aslinya.
Contoh tanah tersebut diperlukan untuk menyusun Geological
Description lapisan tanah.

3. Pada setiap interval kedalaman yang ditentukan (bila tidak


ditentukan lain

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

46

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

maka rata-rata kedalaman diambil kurang lebih 3 meter), pada


tanah lunak
harus diambil undisturb sample untuk test dilaboratorium guna
mendapatkan
harga index dan structural properties lapisan tanah.
Undisturb sample harus diambil dengan cara sebagai berikut :
Tabung sample yang dibuat dari baja tipis keras dan
berbentuk silinder dengan diameternya rata-rata 7 cm
panjang minimal 70 cm, dimasukkan ke dalam tanah
pada kedalaman dimana undisturb sample akan diambil,
kemudian

ditekan

perlahan-lahan

sehingga

tabung

tersebut penuh terisi tanah.


Tanah tersebut harus tetap berada dalam tabung sample
tersebut sampai saatnya ditest di laboratorium.
Tabung yang berisi contoh tanah tersebut harus segera
ditutup dengan paraffin setelah dikeluarkan dari lubang
bor.

1. Sebagai hasil boring harus dibor log yang paling sedikit


dilengkapi lithologi (geological description) harga SPT, letak
muka kedalaman lapisan tanah yang bersangkutan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

47

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

2. Penanaman dari masing-masing tanah harus dilakukan pada


saat itu juga, sesuai dengan kedalaman maupun sifat tanah
tersebut yang dapat dilihat secara visual.

3. Apabila tanah yang dibor dalam hal ini cenderung untuk


mudah runtuh, maka persiapan untuk (casing) harus segera
dilakukan.

d. Boring dan Sampling


Untuk mendapatkan informasi yang lebih teliti mengenai :
Jenis tanah
Struktur lapisan tanah
Index dan structural properties sub surface, perlu dilaksanakan
pemboran.
1. Boring harus dikerjakan sampai kedalaman maksimal 10 meter
atau setelah di dapat informasi yang cukup mengenai letak
lapisan tanah keras, jenis batuan dan tebalnya atau setelah mata
bor tidak dapat menembus lapisan tanah.
2. Undisturb sample harus diambil dengan cara sebagai berikut :
Tabung sample (yang terbuat dari baja tipis tetapi keras dan
berbentuk silinder dengan diameter minimal 7 cm, panjang 50
cm) dimasukkan kedalam tanah pada kedalaman dimana

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

48

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

undisturb sample akan diambil kemudian ditekan perlahanperlahan sehingga tabung tersebut padat penuh terisi tanah.
Tanah tersebut harus tetap berada di dalam tabung dengan
ujungnya ditutup paraffin sampai saatnya untuk ditest di
laboratorium.
Tabung yang berisi contoh tanah tersebut harus segera
ditutup dengan paraffin setelah dikeluarkan dari lubang bor.
3. Pada hasil boring harus dibuat bor log yang dilengkapi deskripsi
tanah sesuai standard, kedalaman lapisan tanah, letak muka air
tanah dan sebagainya yang diperlukan.
4. Penanaman masing-masing harus dilakukan pada saat itu juga
sesuai dengan kedalaman maupun sifat tanah tersebut yang dapat
dilihat secara visual.
5. Apabila tanah yang di bor cenderung untuk mudah runtuh, maka
pemakaian casing harus dilakukan.
6. Terhadap undisturb sample harus dikerjakan laboratory test untuk
menentukan index dan structural properties tanah.
Besaran Index
Besaran index dimaksudkan untuk menetapkan klasifikasi,
konsistensi dan sensitiviy dan sensitivity tanah.
Data tersebut meliputi :
Spesific gravity

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

49

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Moisture content
Atterberg limits
Grain size analisys

Besaran-besaran structural tanah


Uncofined Compressive Strenght
Maksud dari test ini adalah untuk memperoleh besarnya
kekuatan tanah yang kohesif.
Direct Shear Test
Test ini dikerjakan untuk tanah tanpa kohesif.
Consolidation Test
Dimaksudkan

untuk

mendapatkan

besaran-besaran

yang

dipergunakan untuk memperhitungkan settlement bangunan


bawah jembatan.

E.2.4 Tahap Penyelidikan Hidrologis


Konsultan harus memberikan perhatian khusus dalam pengumpulan dan
pengujian data yang didapat untuk digunakan analisa persoalan
drainase jalan (misalnya : gejala arah dan kecepatan aliran, jenis sifat
erosi

maupun pengendapan,

daerah

pengaruh banjir,

tinggi

air

banjir/air rendah/air normal, dll).

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

50

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1. Daerah aliran (catchment area dari setiap gejalan aliran air harus
dipelajari dengan cermat dari peta topographi/geologis maupun
pemeriksaan langsung ditempat.
2. Untuk analisa hydrologi ditetapkan return period 5 tahun untuk
jalan.
3. Data hujan dari BMG minimal : 10 tahun pengamatan.

E.2.5 Tahap Perencanaan Akhir, Laporan dan Dokumen Tender


Dalam phase Perencanaan Detail dan Laporan Akhir, Konsultan wajib
melaksanakan proses sebagai berikut :
1. Penyusunan

konsep

detail

perencanaan

untuk

selanjutnya

dimintakan persetujuan pemberi tugas.


2. Pembuatan perencanaan akhir dilakukan setelah konsep tersebut
butir 1 (satu) diatas mendapat persetujuan pemberi tugas dengan
mencantumkan koreksi-koreksi dan saran dari pemberi tugas.
3. Semua perencanaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam
standard perencanaan.

B.

KONSEP

PEMBUATAN

DED

JEMBATAN

KEDUNG

LESUNG

KEC.

TAKTAKAN
1. Dalam proses ini konsultan menentukan semua kesimpulan hasil
survey lapangan, antara lain menyangkut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

51

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Penetapan lokasi berdasarkan peta topography dan elevasi hasil


survey pendahuluan pada ruas jalan yang direncanakan dengan
memperhatikan standard perencanaan yang telah ditetapkan.
Untuk realinemen harus dicantumkan titik pada tiap jarak 50
meter sepanjang as baru, tangent point, SC, CS dan beberapa titik
lainnya yang perlu, rencana bangunanbangunan drainase harus
ditetapkan konsultan berdasarkan pertimbangan yang sesuai
dengan keadaan setempat.
Untuk

perhitungan

konstruksi

pondasi

(subbase

maupun

subgrade) harus disesuaikan dengan hasil-hasil penyelidikan


tanah.

2. Konsultan mengasistensikan kepada pemberi tugas untuk detail


perencanaan yang berisi kesimpulan dan saran atas semua bagian
perencanaan untuk setiap ruas jalan, terutama yang menyangkut
hal-hal sebagai berikut :
Denah diatas peta situasi.
Digambar pada skala 1 : 500 berisi antara lain :
Lokasi dan nomor titik kontrol horizontal dan vertical
Lokasi dan nomor potongan melintang
Elemen-elemen lengkung horizontal
Batas daerah penguasaan (ROW) dan penggunaannya

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

52

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Semua batas-batas topographi yang penting (seperti rumah,


jalan lama, jenis-jenis tanaman utama, dll)
Patok-patok pengukuran
Potongan Memanjang :
Digambar dibawah plan tersebut pada butir 1 diatas dengan skala
horizontal 1 : 500 dan skala vertical 1 : 100 yang berisi hal-hal
sebagai berikut :
Tinggi muka tanah asli, muka air normal, muka air banjir
serta elevansi.
Nomor potongan melintang
Jarak partial progressive
Elemen-elemen/data-data lengkung vertical dan horizontal
Elemen-elemen data jalan pendekat.
Potongan Melintang (Cross Section)
Gambar potongan melintang dibuat menurut letak topographi
sesuai dengan keadaan lokasi yang ditentukan diatas kertas
dengan skala horizontal 1 : 100 skala vertical 1 : 50 serta
stationing yang dilakukan pada jarak 25 meter.
Bangunan Jembatan
Untuk tiap jembatan perlu dibuat gambar sebagai berikut :
Denah serta potongan-potongan seperti pada butir a, b, c
diatas.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

53

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Dena potongan memanjang dan melintang jembatan (pada


potongan memanjang harus digambarkan grafik SPT, grafik
sondir,

bor

log

untuk

pondasi

yang

diselidiki

struktur

tanahnya).
Detail detail bangunan konstruksi jembatan.
Keterangan-keterangan mengenai kelas pembebanan dan mutu
bahan yang harus dicantumkan pada tiap gambar jembatan.
Kelengkapan-kelengkapan lainnya berupa :
Title sheet, lengkap dengan lokasi proyek.
Gambar lokasi jembatan, lengkap dengan nama jembatan dan
lokasinya.
Simbol dan singkatan
Jadual pelaksanaan dan perkiraan kuantitas
Tipikal potongan melintang, dll-nya.

3. Perhitungan Volume
Program penggantian, perbaikan/peningkatan jembatan ini akan dibagi
dalam satu atau beberapa paket pelaksanaan sesuai dengan lokasi dan
kemampuan pelaksanaan pembangunan.
Untuk tiap jembatan harus dihitung jumlah pekerjaan untuk tiap bagian
dengan masing-masing kontrak pelaksanaannya dan diringkas dalam
beberapa pekerjaan sebagai berikut:

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

54

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pekerjaan umum
Pekerjaan subgader (bila ada)
Pekerjaan struktur
Pekerjaan drainase (bila ada)
Pekerjaan jalan pendekat (bila ada)
Pekerjaan aspal
Lain-lain

4. Perkiraan Biaya dan Dokumen Tender


Supaya didapat perkiraan biaya yang tetap dan sesuai, maka konsultan
harus menyiapkan analisa harga satuan dari setiap jenis pekerjaan
berdasarkan factor-faktor material, peralatan, social, pajak, overhead,
keuntungan dan pengawasan yang didapat dari keterangan-keterangan
daerah setempat.
Perkiraan yang didapat dari analisa ini dibandingkan dengan proyekproyek sebelumnya atau pekerjaan-pekerjaan sejenis di daerah itu. Bila
terjadi perbedaan maka harus dicari sebabnya dan diadakan penelitian
kembali hingga didapatkannya harga yang sesuai untuk pekerjaan
tersebut.
Perkiraan biaya pembebasan tanah (RWO) harus dibuat berdasarkan
harga satuan yang ditentukan oleh pemerintah untuk setiap jenis
penggunaan tanah.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

55

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

Engineer estimate untuk seluruh butir pembayaran

Jumlah pekerjaan dari setiap cara pelaksanaan yang bersangkutan

Konsep perencanaan ini agar dikonsultasikan kepada pemberi tugas


untuk

mendapatkan

saran-saran

tambahan

yang

perlu

agar

mendapatkan hasil yang sesuai dengan kondisi yang ada.

5. Perencanaan Akhir
1. Setiap revisi/variasi atas detail perencanaan sementara yang
dilakukan pemberi tugas harus dimasukan ke dalam Final Design
melalui penelitian Konsultan.
2. Cetakan perencanaan akhir pada kertas standar Ditjen Bina Marga
harus diserahkan oleh Konsultan kepada pemberi tugas dalam
waktu yang telah ditetapkan.
3. Semua catatan dan perhitungan pada survey lapangan dan semua
kalkir perencanaan proyek ini harus diserahkan kepada pemberi
tugas bersamaan dengan penyerahan perencanaan akhir.
4. Semua gambar hasil perencanaan menggunakan program CAD.

Tahapan-tahapan survai lapangan yang akan dilaksanakan meliputi :


1.1. Survai Pendahuluan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

56

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Survei Pendahuluan bertujuan mengumpulkan data pendukung


sebagai

pertimbangan

untuk

menetapkan

desain

jalan

baik

perkerasan, drainase maupun geometrik jalan dan bangunan


pelengkap jalan serta hal lain yang menunjang pekerjaan ini.
Untuk pelaksanaan survei ini , Tenaga Ahli untuk mengamati kondisi
lapangan,
menentukan

mengumpulkan
langkah

data

desain

dan

sebanyak

mungkin

permasalahan

desain

untuk
yang

mungkin timbul.
Data-data yang diperlukan dan kegunaannya antara lain :

Peta dasar yang berupa Peta Topographi skal 1 : 50.000 atau 1 :


100.000 dan peta-peta pendukung lainnya untuk mengetahui
kondisi terrain dan kemungkinan alinemen.

Mempelajari lokasi trase jalan lama dan atau rencana jalan baru
sesuai dengan target dan aspek perencanaan.

Inventarisasi jalan secara terinci.

Dalam

melaksanakan

survai

pendahuluan

Konsultan

akan

mengumpulkan sebanyak mungkin data-data yang diperlukan untuk


perencanaan, baik yang di lapangan maupun hasil studi terdahulu
yang
ada, hal-hal yang dilakukan meliputi :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

57

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1. Mengumpulkan dan mereview data mengenai alinyemen jalan,


situasinya

serta

informasi

lain

secara

umum

termasuk

didalamnya konfirmasi ruas yang akan ditangani.


2. Mengumpulkan dan mereview data lalu lintas.
3. Mengumpulkan dan mereview data banjir, erosi dan daerah
tergenang pada lokasi.
4. Mengumpulkan dan mereview pemilihan lokasi atau daerahdaerah khusus yang diperkirakan banyak membantu dalam
tahapan selanjutnya.
5. Mengumpulkan dan mereview data mengenai bahan-bahan
material

maupun

peralatan

myang

tersedia

yang

dapat

menentukan jenis konstruksi.


6. Mengumpulkan dan mereview data harga satuan upah, bahan dan
material dan peralatan di lokasi.
7. Mengumpulkan data-data sekunder lainnya yang diperlukan.
8. Membuat foto-foto dokumentasi mengenai kondisi lapangan
yang bersangkutan dan khusus untuk kepentingan pekerjaan
lanskap jalan, perlu direkam situasi lokasi dan sekitarnya dengan
foto panaramik.
9. Memperhatikan usulan lainnya yang baik dari Dinas Pekerjaan
Umum Kota Serang.
10.

Menyusun rencana jadual pelaksanaan pekerjaan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

58

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Survei ini meliputi :


a. Inventori Geometrik Jalan
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan data
umum mengenai kondisi badan jalan/perkerasan yang ada dan
dimensi/geometrik jalan yang bersangkutan.
Pemeriksaan dilakukan dengan metode sederhana, yaiut cukup
mencatat kondisi rata-rata setiap 1,0 km pencataan selama
berkendaraan tidak diperkenankan karena akan mendapatkan
data yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Data yang harus diperoleh dari pemeriksaan ini adalah :


a) Lebar perkerasan, bahu jalan, saluran samping yang ada.
b) Jenis perkerasan lapis permukaan yang ada.
c) Nilai kekasaran jalan (Road Condition Index) yang dapat
diperoleh

dari

hasil

Survei

NAASRA

Roughness

Meter

atausecara visual dengan ketentuan skala sebagai berikut:

R.C.I.

8 10

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

KONDISI

TYPE PERMUKAAN

VISUAL
Sangat
Halus

Rata

dan Hotmix (AC dan HRS) yang


baru dibuat/ ditinggalkan

59

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

dengan

beberapa

lapisan

aspal
Hotmix setelah dipakai

78

Sangat

Baik

dan

Rata

beberapa tahun atau lapisan


tipis

hotmix

di

atas

Penetrasi
Macadam

67

Hotmix

Baik

ada lubang, tetapi


permukaan
jalan tidak rata
Jelek,

kadang-

kadang
45

Ada

lubang,

permukaan
jalan tidak rata

34

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Nacas/

Lasbutag baru

Cukup,sedikit/tidak
56

lama,

Penetrasi
Latasbum

Macadam,
baru,

Lasbutog

baru

Penetrasi Macadam setelah


pemakaian 2 atau 3 tahun,
Jalan

kerikil

yang

tidak

Macadam

lama,

terpelihara

Rusak,

Penetrasi

bergelombang,

Latasbum lama, Jalan kerikil

banyak lubang

yang tidak terpelihara

60

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

d) Kondisi

daerah

samping

jalan

serta

sarana

utilitas/bangunan pelengkap jalan yang ada seperti saluran


samping, goronggorong, kerb, kondisi drainase samping,
jarak

pagar/bangunan

penduduk/tebing

ke

pinggir

perkerasan.
e) Kondisi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai
dengan lokasi yang ditentukan untuk jenis pemeriksaan
lainnya.
f) Data yang diperoleh dicatat dalam formulir terlampir.
g) Membuat

foto

dokumentasi

geometrik

jalan

sekurangkurangnya 1 (satu) buah foto per seratus meter


tergantung pertimbangan kebutuhan atau yang dianggap
penting. Foto ditempel pada formulir yang tersedia dengan
mencantumkan hal-hal yang diperoleh seperti nomor dan
ruas jalan, arah pengambilan foto, tanggal pengambilan
foto dan tinggi petugas yang memegang pada foto.
b. Inventory Jembatan
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan informasi
mengenai kondisi jembatan yang terdapat pada ruas jalan yang
akan ditangani.
Informasi yang diperoleh/dicatat, yaitu sebagai berikut :
1. Nama dan lokasi jembatan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

61

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

2. Dimensi jembatan meliputi bentang, lebar, tinggi bebas, jenis


bangunan atas dan bangunan bawah jembatan.
3. Perkiraan

jenis

perkerasan

bila

diperlukan

pekerjaan

perbaikan atau pemeliharaan.


4. Data yang diperoleh dicatat dalam formulir terlampir.
5. Foto dokumentasi sebanyak 4 (empat) lembar untuk setiap
jembatan yang diambil dari arah memanjang dan melintang
foto dipasang pada formulir terlampir.
6. Sketsa jembatan (denah potongan memanjang/melintang)
Dari hasil survai pendahuluan, dikoordinasikan dengan Project
Officer untuk memperoleh masukan-masukan dan point-point
penting yang perlu dilaksanakan dalam melaksanakan survai
detail. Dalam melaksanakan survai detail perlu pengaturan
waktu agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas yang ada.
1.2. Survai dan Analisa Data
1. Survai Lalu lintas
Survai lalu lintas dilakukan untuk mengetahui volume komposisi
lalu lintas yang akan dilayani oleh jalan tersebut selama masa
pelayanannya

untuk

merencanakan

struktur

perkerasan

dan

geometric jalan.
Survai persimpangan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi
persimpangan/ pertemuan jalan, baik situasi fisik maupun kondisi

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

62

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

lalu lintas., antara alin komposisi, distribusi menurut waktu dan


arah.
Pelaksanaan survai ini harus sesuai dengan pedoman survai lalu
lintas yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum

No.

016/T/BNKT/1990 dan pedoman yang berlaku lainnya serta sesuai


dengan permintaan Pemberi Tugas sebagai berikut :
a. Dalam melakukan survai, teknisi/petugas lapangan membawa
perlengkapan guna perlindungan terhadap cuaca, petunjuk
waktu

dan

datang

tepat

waktu

15

menit

sebelum

pelaksanaan dan atau pergantian periode selanjutnya.


b. Dalam pelaksanaan, pencacahan dilakukan dengan tidak
mengganggu kelancaran lalu lintas yang ada, dan diusahakan
agar bebas pandang terhadap gangguan apapun.
c. Kendaraan yang dicacah antara lain ;
-

Sepeda motor, scooter - Micro truck

Kendaraan bermotor roda 3 - Truck dengan 2 as

Mobil penumpang - Truck dengan 3 as

Micro bus - Mobil gandengan dan trailer

Bus - Kendaraan tak bermotor

Pick Up dan mobil hantaran

d. Kendaraan yang tidak dicacah, diantaranya :


-

Mesin Gilas - Kendaraan Militer (tank)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

63

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Konvoi mobil jenasah dan konvoi kendaraan lainnya.

e. Waktu pelaksanaan
e.1. Pada ruas jalan
Survai dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dan
survai ditetapkan oleh Project Officer. Bila kurang dari
tujuh hari perlu ditetapkan hari-hari pelaksanaan survai
(hari kerja dan hari libur), dimana diperkirakan volume
dan kondisi lalu lintas stabil, sehingga dapat diperkirakan
gambaran volume dan kondisi lalu lintas yang maksimum.
Jika dilakukan dalam satu hari, maka dilakukan dalam
waktu dua puluh empat jam untuk pos-pos gerbang kota
(batas kota),

sedangkan untuk pos-pos dalam kota

dilakukan selama delapan belas jam.


Dalam pelaksanaan survai dapat dibagi beberapa periode
waktu, sebagai berikut :
a. Survai 24 jam, untuk Pos Gerbang Kota :
Periode I : Pkl. 06.00 12.00
Periode II : Pkl. 12.00 18.00
Periode III

: Pkl. 18.00 00.00

Periode IV

: Pkl. 00.00 06.00

b. Survai 18 jam , untuk Pos Dalam Kota :


Periode I : Pkl. 06.00 12.00

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

64

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Periode II : Pkl. 12.00 18.00


Periode III

: Pkl. 18.00 00.00

e.2. Pada Persimpangan


Survai

dilakukan

selama

tiga

hari

dan

hari

survai

ditetapkan oleh Project Officer dan diperkirakan volume


dan kondisi lalu lintas stabil, sehingga dapat diperkirakan
gambaran volume dan kondisi lalu lintas maksimum.
Survai tersebut dilakukan pada jam-jam sibuk (pagi, siang
dan sore).
- Pagi

: 06.30 09.30

- Siang

: 12.30 14.30

- Sore

: 16.30 18.30

e.3. Lokasi pos-pos pengamatan lalu lintas


Ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu :

Jalan-jalan masuk dan jalan-jalan luar kota

Jalan-jalan arteri dan kolektor (primer dan sekunder)

Jalan persimpangan yang dianggap penting dalam


kota

e.4. Organisasai Pelaksanaan


Untuk menjaga agas pelaksanaan survai berjalan lancar,
maka diperlukan suatu organisasi lapangan yang terdiri
dari :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

65

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Koordinator

Ketua Kelompok/Pos

Pembantu Umum

Surveyor

e.5. Analisa Lalu Lintas


Penyedia jasa harus melakukan analisis data lalu-lintas
(LHR yang dikonversi kedalam nilai ESA) sampai akhir umur
rencana,

umur

rencana

Pembangunan/Peningkatan

jalan

untuk
selama

pekerjaan
10

tahun,

sedangkan untuk pekerjaan Pemeliharaan Berkala jalan


selama 5 tahun.

2. Pengukuran Topographi
Pekerjaan in adalah suatu kegiatan pengumpulan data permukaan bumi,
perhitungan dan pemetakannya dengan skala tertentu serta disajikan
pada lembaran kertas.
Pengukuran Topographi dilakukan untuk kriteria penanganan A dan B.
Pengukuran topographi untuk perencanaan jalan dibagi atas beberapa
bagian pekerjaan :
a. Pekerjaan

Perintisan

dan

Pengukuran

Merupakan

pekerjaan

perintisan atau membuka sebagian daerah yang akan diukur,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

66

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

sehingga pengukuran dapat berjalan lancer dan tidak terhalang oleh


pohon, semak belukar atau tanaman pada umumnya.
Perintisan diusahakan mengikuti jalur atau koridor yang telah diplot
diatas peta topographi atau yang telah direncanakan topographi,
sebagai trase yang dipilih atau atas petunjuk kepala Satker atau yang
mewakilinya.
b. Pekerjaan

Pengukuran

dilakukan

di

sepanjang

sumbu

(as

jalan)/rencana jalan dan jalan masuk/keluar serta derahdaerah


sekitarnya yang diperlukan dalam pembuatan rencana detail,
meliputi lebar Daerah Milik Jalan (DMJ) ditambah dengan daerah
sebelah kiri dan kanan dari daerah pengawasan jalan, sesuai dengan
kebutuhan untuk perencanaan teknis.

Pekerjaan Pengukuran dibagi menjadi :


1.1. Pengukuran Titik Kontrol Horizontal dan Vertikal
a. Pengukuran Titik Kontrol Horizontal
Pengukuran titik kontrol dilakukan dalam bentuk poligon
tertutup.
Sisi poligon atau jarak titik poligon maksimal 100 m, diukur
dengan pegas ukur atau alat ukur jarak elektronis pada sumbu
jalan yang dimaksud.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

67

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Patok-patok

untuk

titik-titik

poligon

adalah

patok

kayu,sedangkan patok-patok untuk titik ikat adalah patok dari


beton (BM).
Sudut-sudut poligon dikur dengan alat ukur Theodolit dengan
ketelitian dalam second (yang mudah/umum dipakai adalah
theodolit jenis T2 Wildz atau setingkat).
Ketelitian untuk poligonnya adalah sebagai berikut ;
Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 100 (detik)
kali akar jumlah titik poligon.
Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih 50 (detik).
Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal proyek,
dan pada setiap jarak 5 km (kurang lebih 60 titik poligon)
serta pada titik akhir pengukuran. Setiap pengamatan
matahari dilakukan dalam 4 seri rangkap (4biasa dan 4
luar biasa).

b. Pengukuran Titik Kontrol Vertikal


Jenis alat yang dipergunakan untuk pegukuran ketinggian
adalah Water Pass jenis NAK-2 atau yang setingkat (orde II).
Pelaksanaan pengukuran ketinggian dilakukan dengan double
stand yaitu dilakukan 2 (dua) kali berdiri alat (pergi dan
pulang).

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

68

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik dalam arti
pembagian skala jelas terbaca dan sama
Untuk pengukuran ketinggian tidak boleh lebih besar dari 10
akar D mm. Dimana D adalah panjang pengukuran (km) dalam
1 (satu) hari.
Rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik dalam arti
pembagian skala jenis sama.
Setiap kali pengukuran dilakukan pembacaan 3 (tiga) benang
dalam satuan millimeter (mm). Benang Atas (BA), Benang
Tengah (BT) dan Benang Bawah (BB). Kontrol pembacaan : 2 BT
= BA + BB.
Referensi leveling menggunakan referensi koordinat alat GPS

1.2. Pengukuran Situasi


Pengukuran situasi harus dilakukan secara cermat, semua data
lapangan/ bangunan permanen harus diukur misalnya :
bangunan-bangunan gedung, rumah-rumah permanen, pingir
bahu

jalan,

dimensinya,

pinggir

selokan,

tiang-tiang

listrik,

letak

gorong-gorong

tiang-tiang

telepon

serta
serta

bangunan lainnya yang dianggap perlu.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

69

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Patok km dan hm jika ada, serta patok-patok tanda tanda


penting lainnya yang ada di tepi jalan harus diambil dan dihitung
koordinatnya.

Pengukuran situasi dilakukan dengan Sistem Tachimetry.

Ketelitian alat yang dipakai adalah 100/detik (sejenis


dengan Theodolit To).

Pengukran situasi daerah sepanjang rencana jalan harus


mencakup semua keterangan-keterangan yang ada di
daerah sepanang rencana jalan tersebut. Untuk tempattempat jembatan atau perpotongan dengan jalan lain
pengukuran harus diperluas.

Untuk membentuk gambar tikungan yang sesuai dengan


kenyataannya (untuk jalan yang sudah ada), maka pada
daerah tikungan/lengkungnya harus mempunyai paling
sedikit 3 (tiga) titik koordinat sumbu jalan (jaraknya kurang
dari 25 m).

Tempat-tempat yang merupakan sumber material jalan


yang

terdapat

disekitar

jalur

pengukuran,

dilakukan

pengukuran dan dicatat untuk dipetakan dan difoto (lokasi


dan jenis material).
1.3. Pengukuran Penampang Memanjang dan Melintang
a. Pengukuran Penampang Memanjang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

70

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pengukuran penampang memanjang dilakukan sepanjang


sumbu jalan rencana (periksa pengukuran situasi) Pengukuran
penampang memanjang diambil pada sumbu dari lintasan
yang diusulkan. Pengukuran beda tinggi titik-titik stasiun
diambil untuk setiap jarak 50 m. Titik tersebut harus diberi
tanda patok di lapangan. Peralatan yang dipakai untuk
pengukuran penampang sama dengan yang dipakai untuk
pengukuran titik control vertikal.
b. Pengukuran Penampang Melintang

Pengukuran penampang diambil setiap jarak 50 m pada


bagian yang lurus dan landai dan setiap 25 m untuk
daerah-daerah tikungan/miring terjal (pegunungan).

Lebar pengukuran harus meliputi daerah seluas/sejauh 50


m sebelah kanan-kiri sumbu jalan pada bagian yang lurus
dan 25 m ke sisi luar dan 75m ke sisi dalam pada bagian
jalan yang menikung atau sesuai dengan kebutuhan.
Peralatan
penampang

yang

dipergunakan

melintang

sama

untuk
dengan

pengukuran
yang

dipakai

pengukuran situasi.

Khusus untuk perpotongan dengan sungai/jalan dilakukan


secara khusus.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

71

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1.4. Pemasangan Patok-patok

Titik awal dan titik akhir sumbu jalan/jembatan harus diikat


pada titik poligon yang telah dibuat sebelumnya dan diikat
pada masing-masing dua buah patok ikat beton yang
diletakkan di tepi kiri dan kanan daerah penguasaan jalan
sebagai titik-titik ikat/BM penolongnya.

Patok-patok beton (BM) dibuat dengan ukuran 20 x 20 x 75


cm dan harus dipasang pada tempat yang cukup aman dari
kegiatan konstruksi dikemudian hari dengan jarak setiap
interval 1 Kilometer. Pada awal dan akhir ruas jalan, serta
perpotongan rencana jalan dengan sungai, masing-masing
dipasang 2 (dua) buah seberangmenyeberang. Patok beton
tersebut harus ditanam kedalam tanah sepanjang kurang
lebih 65 cm (kelihatan diatas tanah kurang lebih 10 cm).

Patok-patok

kayu

yang

digunakan

untuk

pengukuran

poligon, sifat datar dan detail-detail situas, dan lurus


dengan diameter sekitar 5 cm, panjang 50 cm, bagian
bawahnya

diruncingkan,

sedangkan

bagian

atas

dan

tengahnya diratakan untuk menulis nomor patok. Patok


harus ditanam cukup kuat sedalam lebih kurang 30 cm.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

72

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Baik patok-patok beton (BM) maupun patok-patok kayu


diberi tanda cat kuning, dan diberi nomor urut dengan
tulisan hitam.

Untuk memudahkan pencarian patok kembali, sebaiknya


pada pohon-pohon disekitar patok diberi cat atau pita atau
tanda-tanda patok tertentu yang dapat terlihat dengan
jelas, misalnya (nomor urut patok/2007).

Khusus untuk profil memanjang yang titik-titknya terletak


disumbu jalan diberi paku yang dilingkari cat kuning
sebagai tanda dan nomor urut (bila badan jalannya sudah
beraspal).

Untuk

memperbanyak

titik

tinggi

yang

tetap,

perlu

ditempatkan titik tinggi referensi pada tempat lain yang


permanen dan mudah ditemukan kembali.

Patok beton, patok tanda referensi dan titik tinggi referensi


di

dokumentasi-

kan

dan

dijadikan

acuan

dalam

penggambaran.

1.5. Pengukuran Khusus

Pengukuran sekitar perpotongan dengan sungai, Daerah


sungai diukur :
150 m di kiri-kanan sungai sepanjang jalan,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

73

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

150 m di kiri-kanan dari as jalan/pada daerah sungai,

Pengukuran sekitar perpotongan dengan jalan lainnya,


Daerah persilangan jalan yang diukur 75 meter di kirikanan
jalan dimaksud.

Pengukuran titik kontrol horisontal berupa poligon tertutup


yang terikat sempurna.

Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat waterpass.

Pengukuran penampang memanjang dibuat dengan sumbu


jalan yang bersangkutan.

Pengukuran melintang dibuat untuk setiap 25 meter dengan


profil 75 m ke kiri-kanan jalan.

Pengukuran situasi sama dengan pengukuran jalan utama,


dengan

pengambilan

data

yang

lengkap

terutama

bangunan-bangunan yang permanan.

1.6.

Perhitungan dan Penggambaran

Perhitungan koordinat poligon utama didasarkan pada titiktitik ikat yang digunakan.

Penggambaran titik-titik poligon harus didasarkan pada


hasil perhitungan koordinat yang dihitung berdasarkan
metode kwadrat terkecil. Penggambaran titik-titik polygon
tersebut sama sekali tidak boleh secara grafis.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

74

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur


dihitung berdasarkan ketinggian patok yang dipakai sebagai
titik pengukuran detail, begitu juga dengan keterangan
yang lain (dihitung secara tachymetris).

Titik ikat atau titik mati serta titktitk baru harus


dimasukkan dalam gambar dan diberi tanda khusus.

Koordinat beserta ketinggian titik poligon utama harus


dicantumkan dalam gambar dan dilampiri daftar data
koordinat dan ketinggiannya dilampirkan.

Gambar ukur yang berupa gambar situasi harus digambar


pada kertas millimeter (mm) berdasarakn titik-titk poligon
dengan skala 1:1000 dan garis ketinggian (interval kontur)
dengan interval 1m.

Pekerjaan pengukuran topographi dilakukan sepanjang rencana


sumbu jalan (mengikuti koridor rintisan) dengan mengadakan
pengukuran-pengukuran tambahan pada daerah persilangan
dengan

sungai

dan

jalan

lain,

sehingga

memungkinkan

diperoleh sumbu jalan yang sesuai dengan standar yang


ditentukan. Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang
mudah dikenali dan aman. Awal dan akhir proyek hendaknya
diikatkan pada titik-titik tetap (BM), dan untuk menentukan
titik koordinatnya agar digunakan alat GPS.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

75

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1.3. Survai Kondisi Jalan


Survai kondisi jalan (SKJ/RCS : Road Condition Survey) dilakukan
untuk mengetahui jenis konstruksi, struktur jenis kerusakan yang
terjadi dan seberapa berat kerusakannya dan kondisi lainnya, untuk
mendapatkan data yang diperlukan guna perencanaan lebih lanjut.
Pelaksanaan survai harus sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan
oleh Dinas Pekerjaan Umum

No. 05/T/BNKT/1991 maupun

peraturan-peraturan yang berlaku serta sesuai dengan petunjuk


Pemberi Tugas, sebagai berikut :
a. Survai terhadap kondisi jalan dilakukan dengan berjalan kaki
dan pengamatan dilakukan setiap interval 25m.
b. Survai yang dilakukan terhadap perkerasan jalan mencakup :
kekasaran permukaan, lubang-lubang, tambalan, alur dan
amblas.
c. Dalam formulir survai kondisi jalan dijelaskan tipe kekasaran,
tambalan (jumlah dan luas), alur (panjang dan dalam), lubang
(jumlah dan luas), retak (panjang dan lebar), amblas (jumlah
dan dalam).
d. Survai yang dilakukan terhadap drainase dan pelengkap jalan
meliputi : Saluran samping, bak kontrol, trotoar, bahu jalan dan
median (kerb).
e. Peralatan dan perlengkapan :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

76

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

a) Kendaraan roda empat


b) Pita Ukur
c) Formulir Survey Kondisi Jalan dan Penunjang.
d) Peta Jaringan Jalan yang aka disurvai.
e) Foto
f) Alat gali untuk mengetahui tebal lapisan dalam pelaksanaan
survai pada jalan kerikil.

f. Cara Pelaksanaan :
1. Petugas survai mengamati kondisi jalan dari dalam
kendaraan yang dijalankan perlahan tidak lebih dari 20
km/jam dan mengisi formulir penunjang yang telah
disiapkan dengan interval 1 KM segmen jalan, khusus
untuk

jalan

kerikil

diadakan

penggalian

untuk

mengetahui ketebalan lapisan kerikil dengan interval 1


KM.
2. Setiap formulir mencatat data kondisi jalan sepanjang
1KM segmen jalan dari awal STA sampai akhir STA,
dengan dibedakan jalan aspal dan jalan yang tidak
beraspal.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

77

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

3. Foto dokumentasi dibuat pada awal ruas dan akhir ruas,


pada

setiap

patok

km/tanda

dengan

cat/tanda

sementara lainnya.
4. Ruas jalan yang mempunyai patok KM yang diukur lebih
dari satu kota asal atau mempunyai patok ganda
disebabkan oleh pemasangan patok baru dan atok lama
belum dicabut atau perbedaan kota asal pengukuran
jarak, maka survai dilakukan berdasarkan data titik
referensi.

1.4. Survai Inventarisasi Jalan


Survai Invenarisasi Jalan/SIJ (Road Network Inventory : RNI) ini
dilakukan untuk menginventarisasi atau mencatat keadaan jalan saat
ini dan juga saat lampau sebagai data searah perkembangan jalan.
Data yang dicatat ialah situasi, panjang jalan, lebar perkerasan, lebar
bahu,

trotoar,

median,

drainase,

persimpangan-persimpangan

dengan jalan lain, bangunan-bangunan pelengkap jalan dan tepi


jalan, lapis permukaan, bahu, terain, alinyemen horizontal maupun
vertikal dan tata guna lahan.
Pencatatan tidak didasarkan pada interval melainkan berdasarkan
homogenitas keadaan dasar jalan seperti tipe jalan, jenis lapis
permukaan, terain dll.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

78

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Periode waktu survai adalah 5 Tahun, mengingat kondisi dasar jalan


relatif tidak mudah berubah dalam dimensi maupun jenisnya.
Pengulangan survai dilaksanakan bila ada perubahan panjang ruas
jalan, perubahan titik referensi, tipe jalan, relokasi jalan atau tata
guna lahan.

Formulir yang dipakai adalah :


a. SIJ SAAT INI : Untuk mencatat keadaan dasar saat ini yaitu jenis
dan dimensi.
b. SIJ-DATA SEJARAH : Untuk mencatat keadaan dasar lampau yaitu
dimensi dan jenis lapis permukaan dan pelapisan pemeliharaan
yang dilakukan termasuk tahun pelaksanaannya.

Pelaksanaan survai ini harus sesuai dengan pedoman survai


inventarisasi jalan yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum
No. 017/T/BNKT/1990 dan pedoman yang berlaku lainnya serta
sesuai deengan permintaan Pemberi Tugas.
a. Peralatan dan Perlengkapan
Pita Ukur
Formulir SIJ-SAAT INI dan SIJ-DATA SEJARAH
Hasil Survai Data Titik Referensi
Foto

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

79

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Alat Gali
Kendaraan untuk survai
Tripmeter/odometer
b. Cara Pelaksanaan
1. Petugas Survai mengamati keadaan dasar jalan dari dalam
kendaraan yang dijalankan perlahan (20 km/jam) dan mengisi
lembar formulir yang telah disiapkan, dengan menentukan
keadaan dasar yang mewakili segmen jalan tersebut serta
mencatat dengan teliti. Dalam kondisi khusus dimana tidak
memungkinkan untuk diamati dari dalam kendaraan, maka
pengamatan dilakukan dari luar kendaraan dan dilakukan
pengukuran-pengukuran terhadap jenis lapis permukaan,
bahu, drainase dll.
2. Pencatatan
sepanjang

dilakukan
jalan

secara

berututan

yang disurvai dan

dan

menerus

pencatatan bedakan

berdasarkan formulir yang telah disiapkan.


3. Foto dokumentasi dibuat pada keadaan dasar yang mewakili
dari ruas jalan itu, disesuaikan dengan urutan dalam daftar
pengambla foto.
4. Jalan yang banyak lajur dan ada median pemisah, maka jalan
tersebut mempunyai nama dua nomor ruas yang berbeda, tipe
jalan adalah D (Devided) dan keadaan dasar yang dilaporkan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

80

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

adalah bahu dan lainya dari satu sisi yang sama, sedangkan
Jalan yang banyak lajur an tidak ada pemisah maka jalan
tersebut mempunyai nama satu nomor ruas saja, tipe jalan
adalah UD (Undevided) dan keadaan dasar yang dilaporkan
baik bahu dan elemen lainnya dari kedua sisi jalan tersebut.
5. Bila ruas jalan tersebut mempunyai patok kilometer yang
diukur lebih dari satu kota asal atau mempunyai patok
kilometer ganda baik disebabkan pemasangan patok baru atau
patok lama belum dicabut atau dikarenakan perbedaan kota
asal pengukuran maka survai berdasarkan data titik referensi.
1.5. Survai Data Titik Referensi
Survai Data Referensi/STR (DRPS : Data Reference Point Suvey)
dimasudkan untuk menentukan titik-titik referensi pada satu ruas
jalan yang akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan
survai sehingga dapat ditentukan jarak titik referensi terhadap kota
awal kilometer sehingga dapat ditentukan panjang sebenarnya ruas
jalan tersebut, juga berfungsi sebagai data masukan leger jalan dan
data jalan (data base).
Survai ini dilaksanakan setip 5 tahun atau apabila ada perubahanperubahan panjang ruas jalan atau perubahan titik referensi.
a. Batasan Survai Titik Referensi
Batasan Survai Titik Referensi adalah :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

81

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1. Titik

Referensi

Sebagai

Titik

Tetap

Titik

tetap

yang

ditentukan sepanjang ruas jalan dan dapat digunakan


sebagai referensi dalam pelaksanaan survai jalan, dapat
berupa patok kilometer, patok hektometer, jembatan,
gorong-gorong,

persimpangan

jalan/kereta

api,

serta

bangunan permanen yang mudah dikenal.


2. Titik Bantu Sebagai Titik Sementara
Titik sementara yang dibat sebagai pembantu dalam
penentuan titik-titik referensi, dapat berupa tanda cat atau
tanda lainnya yang sengaja dibuat.
3. Titik Awal Sebagai Permulaan Suatu Ruas Jalan
Titik referensi yang ditentukan sebagai permulaan suatu
ruas jalan.
4. Titik Akhir Sebagai Akhir Suatu Ruas Jalan
Titik referensi yang ditentukan sebagai akhir dari suatu ruas
jalan.
b. Peralatan dan Perlengkan
Peralatan dan perlengkapan yang dipakai adalah :
1. Kendaraan Survei dilengkapi dengan tripmeter/odometer
2. Pita Ukur
3. Formulir Survai
4. Peta Jaringan Jalan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

82

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

5. Cat, Kuas, Patok dan Palu


6. Foto.

c. Kalibrasi Tripmeter/Odometer
1. Persiapan
Peralatan dan Segmen Jalan mempunyai persyaratan :
a. Tripmeter/Odometer pada kondisi 0 (nol).
b. Lurus
c. Kondisi

Permukaan

jalur

lalu

lintas

mewakili

kondisi

permukaan jalan lalu lintas yang disurvai.


d. Mempunyai

(tiga)

patok

kilometer

yang

berurutan

sepanjang 2 kilometer (dicek ketepatan jarakanya), bila tidak


dapat dipenuhi makan setiap 1 kilometer diberi tanda pada
permukaan jalan dengan cat atau patok darurat ditepi jalan
yang mudah dilihat.

2. Prosedur Pelaksanaan
a. Kalibrasi dilakukan pada saat lalu lintas tidak padat.
b. Sumbu roda depan diatur tepat pada garis patok awal
kilometer (garis yang ditarik dari patok yang bersangkutan,
tegak

lurus

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

terhadap

sumbu

jalan)

dan

angka

83

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

tripmeter/odometer menunjuk pada kedudukan angka 0


(nol).
c. Kendaraan dijalankan menurut :
1) Lima kali bila menggunakan tripmeter
2) Sepuluh kali bila menggunakan odometer.
d. Kendaraan

yang

dijalankan

tidak

boleh

mengalami

pembelokan, karena dapat mempengaruhi ketepatan jarak


yang ditunjukkan oleh alat ukur tersebut.
e. Angka tripmeter/odometer dicatat pada formulir kalibrasi
yang telah disiapkan, pada setiap saat kendaraan akan
berangkat dari patok awal hingga patok akhir dan pada saat
berangkat dan berhenti letak sumbu roda depan tepat pada
garis patok kilometer.
f. Faktor kalibrasi alat tripmeter/odometer menggunakan
angka antara 0,9 s.d. 1,05.

d. Cara Pelaksanaan
1. Penentuan Titik Awal dan Akhir
a. Menentukan titik awal dan titik akhir pada ruas jala yang
akan disurvai, dengan berkonsultasi kepada Pembina Jalan
Propinsi setempat atau dapat ditentukan bersama-sama
Pemberi Kerja di lapangan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

84

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

b. Survai data titik referensi tidak terputus dengan adanya


batas kota.
c. Pada awal titik awal yang ditentukan ditandai dengan tanda
TL (titik awal) yang menuliskan angka kilometer jarak
terhadap kota awal (kilometer nol), pada permukaan jalan
dengan cat.
d. Pembacaan tripmeter/odometer pada kekduduka 0 (nol, bila
tidak dapat dilakukan maka angka tripmeter/odometer
dicatat

secara

penentuan

jarak

lengkap
dari

untuk

diperhitungkan

pembacaam

angka

dalam

tripmeter/

odometer pada titik referensi berikutnya.


e. Survai dilakukan dari patok kilometer kecil ke patok
kilometer besar sampai survai selesai dilaksanakan pada
titik akhir (TR).

2. Ruas Jalan Mempunyai Patok Kilometer Yang Diukur Lebih Dari


Satu Kota Asal Survai dilakukan sebagai berikut :

(C) = Batas pergantian patok

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

85

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Contoh :
Ruas Jalan Kota A dan B dengan titik awal A Km 44 dengan titk
akhir B Km 32, dimana ada perubahan patok pengukur kota
asal titik C (A Km 47 yang identik dengan B Km 35).

Survai dilakukan dengan menganggap A C adalah ruas baru


dengan nomor ruas X1 dan C B sebgai nomor ruas baru
dengan nomor ruas X2 :
a. Survai untuk X1 dilakukan sesuai prosedur yang biasa
dengan mengisi formulir DTR sebagaimana mestinya, yaitu
titik simpul awal adalah A Km 44 dan titik simpul akhir
adalah C (A Km 47) serta isian kota asal adalah A.
Selanjutnya titik referensi dicatat adalah A Km 44 dan
seterusnya sampai A Km 47.
b. Survai untuk X2 dilakukan dengan prosedur sama namun
formulir isian berbeda, disini titik awal C ( BKm 35) dan
titik akhir B Km 32, formulir disesuaikan kota asalnya yaitu
B (bukan A), titik-titikreferensi yang dicatat B Km 35 s.d. B
Km 32 , selanjutnya formulir isian ditulis kembali dengan
urutan titik referensi kecil ke titik referensi besar.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

86

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

3. Ruas Jalan Mempunyai Patok Kilometer Ganda. Disurvai dilakukan


dengan minta petunjuk pembina jalan setempat patok kilometer
mana yang akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan survai.
4. Pemanfaatan Pita Ukur
Apabila tripmeter/odometer tidak dapat menunjukkan angka jara
sampai dengan satuan puluhan meter, maka jarak selisih angka
yang ditunjukkan diukur dengan pita ukur.
5. Tanda Sementara
Pada ruas jalan dengan permukaan tanah dimana sult dibuat
tanda cat, maka dilakuka dengan pembuatan tanda sementara,
isian formulir disesuaikan
6. Pengukuran Jarak
Pengukuran jarak pada beberapa bangunan sebagai itik referensi
:
a. Gedung/Tugu Batas Administrasi
Roda pertama menyentuh awal bangunan terdekat
dengan sumbu jalan.
b. Rel Kereta
Roda pertama yang menyentuh rel kereta api.
c. Jembatan
Roda pertama yang menyentuh batas jembatan.
d. Persimpangan Jalan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

87

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Roda pertama yang menyentuh sumbu (as) jalan simpang.


7. Jarak Kilometer
Jarak kilometer yang dicantumkan pada formulir adalah jarak
kilometer

berdasarkan

tripmeter/odometer,

tidak

angka

yang

diper-hitungkan

ditujukkan
faktor

oleh

kalibrasi,

faktor kalibrasi digunakan saat memasukkan data.


8. Titik Referensi
a. Jembatan/Gorong-gorong (nama/nomor, tipe/jenis, identias
lainnya).
b. Bangunan-bangunan(nama/nomor, jumlah lantiai, sisi jalan
(kiri/kanan)).
c. Persimpangan Jalan (nama simpang, jenis simpangan, kota
tujuan simpang yang dikenal).
9. Ruas Jalan Yang Mempunyai Cabang
Ruas jalan yang mempunyai cabang namun pangkal dan
ujungnya masih berada pada ruas jalan induknya (yang disurvai)
survai dilakukan secara terpisah dengan memberikan nomor ruas
jalan sementara cabang jalan tersebut dengan memgganti nomor
digit dibelakangnya.

1.6. Survai Lendutan Perkerasan Lentur Dengan Benkelman Beam

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

88

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pengujian ini dapat digunakan untuk mengukur lendutan dan


lendutan balik dari lapisan perkerasan jalan, hasil pengujian dapat
digunakan dalam perencanaan pelapisan (overlay) perkerasan jalan
dan sebagai quality control.
Persyarata-persyaratan dalam melakaukan survey antara alian :

Truck yang dipakai harus dibebani sehingga mencapai beban


gandar belakang sebesar 8,2 ton dengan tekanan angin ban
sebesar 80 psi atau 5,5 kg/cm2.

Pengukuran beban gandar belakang harus dilakukan dengan


menggunakan jembatan timbang atau dengan alat yang telah
terbukti dapat dipakai untuk pengukuran beban gandar, dan
hasil pengukuran beban gandar ahrus dicatat dengan jelas pada
formulir pemeriksaan Benkelman Beam Terlampir.

Alat Benkelman Beam yang dipakai harus mempunya ukuran


yang standar, misalnya perbandingan batang 1 : 2.

Alat pembacaan (dial Gauge) lendutan harus dalam kondisi yang


baik dan skala ketelitian pembacaan jarum petunjuk harus
dicatat (ketelitian 0,01 mm).

Pemeriksaan balik dilakukan dengan interval pemeriksaan setiap


100 meter sepanjang ruas jalan beraspal yang telah ditetapkan.

Selama pemeriksaan, konsultan harus mencatat hal-hal khusus


yang dijumpai seperti kondisi drainase, nama daerah yang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

89

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

dilalui,

cuaca,

waktu,

peninggian

permukaan

jalan

dan

sebagainya.

Semua data hasil pemeriksaan yang diperoleh dicatat dalam


formulir pemeriksaan Benkelman Beam.

Tata cara pelaksanaan survai ini mengikuti buku petunjuk yang


telah dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum No. 01/MN/B/1983,
SK SNI M-01-1990-F dan SNI 03-2416-1991.

Ketentuan-ketentuan lain yang harus dilakukan adalah :


a. Pemeriksanaan

dilakukan

dengan

interval

100

zigzag

sepanjang ruas jalan beraspal yang telah ditetapkan.


b. Lokasi awal dan akhis pemeriksaan harus dicatat dengan jelas
(patok km, STA).
c. Cara Pelaksanaan
1. Peralatan
a. Truk dengan spesifikasi sebagai berikut :
1. Berat kosong ( 5 + 0,1) Ton.
2. Jumlah as 2 buah, dengan rosa belakang ganda.
3. Beban masing-masing roda belakang ban ganda (4,08 +
0,045) Ton atau (9.000 + 100) lbs.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

90

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

4. Ban dalam kondisi baik dan dari jenis kembang halus


(zigzag) dengan ukuran : 25,4 x 50,8 cm atau 10 x 20
inch 12 ply.
5. Tekanan angin ban (5,5 + 0,07) kg/cm2 atau (80+1) psi.
6. Jarak sisi kedua bidang kontak ban dengan permukaan
jala antara 10 15 cm atau 4 6 inch.
b. Alat timbang muatan praktis yang dapat dibawabawa
(portable weight bridge), kapasitas 10 Ton.
c. Alat Benkelman Beam terdiri dari dua batang, mempunyai
panjang total pad umumnya (366 +0,16)cm, yang terbadi
menjadi dua bangian dengan perbandingan 1 : 2 oleh
sumbu O, dengan perlengkapan sebagai berikut :
1. Arloji pengukur (dial gauge), berskala mm dengan
ketelitian 0,01 mm.
2. Alat penggertas (buzzer)
3. Alat pendatar (water pass)
d. Pengukur tekanan yang dapat mengukur tekanan angin
ban minimum 5 kg/cm2 atau 80 psi.
e. Termometer (5oC 70oC) dengan pembagaian skala 1oC
atau (40oF 140oF)
f. Rolmeter 30 m atau 3 m (100 ft dan 10 f).
g. Formulir-formulir lapangan dan handboard.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

91

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

h. Minyak

arloji

pengukur

dan

alkohol

murni

untuk

membersihkan batang arloji pengukur.


i. Perlengkapan keamanan bagi petugas penguji :
1. Tanda batas kecepatan lalu-lintas pada saat melewati
tempat pengujian ditempatkan + 50 m didepan dan
belakang truk.
2. Tanda penunjuk lalu-lintas yang dapat dilewati.
3. Tanda

lamu

peringatan

terutama

bila

pengujian

dilakukan pada malam hari.


4. Bendera merah kuning yang selalu dipasang pada truk
selama pengujian.
5. Tanda pengenal pada kain yang dipasang pada truk di
bagian depang dan bagian belakang.
6. Tanda pengamanan lalu-lintas yang dipegang oleh
petugas (tanda STOP/JALAN).
7. Pakaian khusus petugas yang warnanya dapat dengan
mudah dilihat oleh pengendara lalulintas.

2. Persiapan Alat Sebelum Pengujian


a. Truk dimuati hingga beban masing-masing roda belakang
ban ganda (4,08 + 0,045) Ton atau (9.000 + 100) lbs.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

92

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

b. Ban belakang diperiksa dan tekanan pada ban dibuat(5,5 +


0,07) kg/cm2 atau (80 + 1) psi, dan ukur setiap 4 jam
sekali.
c. Periksa arloji pengukur, bila perlu batang arloji dibersihkan
dengan minyak arloji/alkohol murni guna memperkecil
gesekan,

untuk

mengurangi

terjadinya

karat,

hindari

pemakian air sebagai pembersih.


d. Pasang arloji pengukur pada tangkai sedemikian rupa
sehingga batang arloji pengukur arahnya vertikal pada
tangkai Benkelman Beam.
e. Bila tidak atau belum dilakukan pengujian dan truk berhenti
lebih dari 40 jam, selama masih dimuati beban, maka
sebaiknya beban truk ditahan dengan balok-balok kayu
untuk menghindari rusaknya pertruk.

3. Cara Menyetel Alat Benkelman Beam.


Di dalam penggunaan alat Benkelman Beam untuk mengukur
lendutan perkerasan jalan, diperlukan ketelitian, oleh arena itu
perlu diadakan penyetelan terlebih dahulu sebelum dipakai.
Benkelman Beam yang masih berada di dalam batas-batas
toleransi

bias

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

langsung

digunakan,

jika

menunjukkan

93

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

kelainan-kelainan di luar batas toleransi perlu diadakan


perbaikan.
a. Alat Penyetel Benkelman Beam
1. Pelat landasan (L) untuk ladasan pelat penyetel dan
tiang arloji pengukur.
2. Pelat penyetel (T) yang dapat turun naik pada salah
satu sisi (S)
3. Engsel (E) untuk menghubungkan pelat L dan T.
4. Sekrup Pengatur (SP1) untuk menggerakkan pelat
landasan (L) dalam kedudukan yang stabil.
5. Sekrup Pengatur (SP2) untuk menggerakkan pelat
penyetel (T) turun naik pada bagian sisi (S), yang
dihubungkan oleh engsel (E).
6. Tiang (TA), untuk kedudukan arloji pengukur alat
penyetel.
7. Arloji pengukur alat penyetel (AP1)
b. Cara Mengukur Ketelitian
1. Pasang batang pegukur Benkelman Beam sehingga
menjadi sambungan kaku.
2. Dengan batang pengukur dalm keadaan terkunci,
tempatkan Benkelman Beam pada bidang yang datar
kokoh dan rata.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

94

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

3. Atur kaki (K) sehingga Benkelma Beam datar.


4. Tempatkan alat penyetel dalm bidang yang sama dan
atur sehingga alat penyetel berada di bawah tumit
batang (TB) dari batang pengukur, kemudian atur
landasan hingga datar dan mantap.
5. Lepaskan pengunci (P) atau batang pengukur dan
turunkan ujung batang perlahan-lahan hingga tumit
batang terletak pada pelat penyetel (T).
6. Atur arloji pengukur (AP2) Benkelman Beam pada
dudukannya hingga batang ujung arloji pengukur
bersinggungan

dengan

bagian

belakang

batang

pengukur, lalu dikunci dengan erat.


7. Atur arloji pengukur (AP1) Benkelman Beam pada
dudukannya hingga batang ujung arloji pengukur
bersinggungan dengan bagian batang pengukur (TB),
lalu dikunci dengan erat.
8. Atur kedudukan batang arloji pengukur Benkelman
Beam dan Batang arloji alat penyetel, sehingga batang
arloji bisa bergerak + 5 mm.
9. Atur kedua jarum arloji pengukur pada angka 0 (nol).
10. Hidupkan alat penggetar (B), kemudian turunkan pelat
penyetel dengan memutar sekrup pengatur (SP2),

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

95

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

sehingga jarum arloji pengukur alat tera menujukkan


penurunan batang arloji pengukur 0,25 mm catat
pembacaan kedua arloji pengukur pada formulir yang
tersedia.
11. Lakukan pada No. 10 berturut-turut pada setiap
penurunan batang arloji pengukur 0,25 mm sampai
mencapai penurunan 2,50 mm, catat pembacaan arloji
pada setiap penurunan.
12. Dalam kedudukan terakhir No. 11, naikkan pelat
penyetel berturut-turut pada setiap kenaikkan batang
arloji pengukur 0,25 mm sampai mencapai kenaikkan
2,50 mm (kembali ke semula).
13. Hasil pembacaan arloji Benkelman Beam dikalikan
dengan faktor pembanding batang Benkelman Beam
(perbandingan jarak antara tumit batang sampai sumbu
O terhadap jarak sumbuu O sampai ujung belakang
batang pengukur), faktor pembanding 2 : 1.

c. Batas Toleransi
Jika selisih sama atau lebih kecil 0,5 mm, maka alat masih
dianggap baik,selebihnya perlu diperbaiki.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

96

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

4. Cara Mengukur Lendutan Balik

Tentukan titik pengujian dengan :


Tanpa Median, tipe jalan : 1 jalur, 2 jalur, 3 jalur, 4 dan
6 jalur.
Dengan Median, tipe jalan : 2 x 1 jalur dan 2 x 3 jalur,
masing masing jarak dianggap seperti jalan yang
berdiri sendiri, letak pengujian seperti tipe jalan : 1
jalur, 2 dan 3 jalur untuk masing-masing arah.

Tentukan titik pada permukaan jalan yang akan diperiksa


dan diberi tanda (+) dengan kapur tulis.

Pusatkan salah satu ban ganda pada titik yang telah


ditentukan tersebut. Apabila yang diperiksa adalah sebelah
kiri jalur maka yang dipusatkan adalah ban ganda kiri.
Apabila yang aka diperiksa kiri dan kanan pada suatu jalur
maka dipusatkan pada titik-titik yang telah ditetapkan
tersebut ban ganda kiri dan ganda kanan.

Tumit batang (beam toe) Benkelman Beam diselipkan di


tengah-tengah ban ganda tersebut, sehingga tepat di
bawah

pusat

muatan

sumbu

gandar,

dan

batang

Benkelman Beam sejajar dengan arah truck. Benkelman


Beam masih dalam keadaan terkunci.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

97

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Atur ketiga kaki sehingga Benelman Beam dalam keadaan


mendatar (waterpass).

Lepaskan

kunci

Benkelman

Beam,

sehingga

batang

Benkelman Beam dapat digerakkan naik turun, atur batang


arloji hingga bersinggung dengan bagian atas dari batang
belakang.

Hidupkan penggetar (buzzer) untuk memeriksa kestabilan


jarum arloji pengukuran.

Setalah jarum arloji stabil, atur jarum pada angka nol,


sehingga kecepatan perubahan jarum lebih kecil atau sama
dengan 0.01 mm/menit atau setelah 3 menit. Catat
pembacaan ini sebagai pembacaan awal.

Jalankan truck perlahan-lahan maju ke depan dengan


kecepatan maksimum 5 km/jam sejauh 6 meter. Setelah
truck berhenti, arloji pengukur dibaca setipa menit, sampai
kecepatan perubahan jarum lebih kecil atau sama dengan
0.01 mm/menit atau setelah 3 menit. Catat pembacaan ini
sebagai pembacaan akhir.

Catat suku permukaan jalan (tp) dan suhu udara (tu) tiap
titik pemeriksaan suhu tengah (tt) dan suhu bawah (tb) bila
perlu dicatat setiap 2 jam.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

98

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Tekanan ban diperiksa bila perlu 4 jam sekali, dibuat selalu


(5,5 + 0,07) kg/cm2 atau (80 + 1) psi.

Periksa dan catat tebal lapisan aspal.

Hindari

penempatan

tumit

batang

dan

kaki-kani

Benkelman Beam pada tempat yang diperkirakan terjadi


pelelahan aspal (bleeding).

5. Cara Mengukur Lendutan Balik Titik Belok

Tentukan titik pengujian jalan tanpa median atau dengan


median.

Tentukan titik pada permukaan jalan yang akan diperiksa


dan diberi tanda (+) dengan kapur tulis.

Pusatkan salah satu ban ganda pada titik yang telah


ditentukan tersebut. Apabila yang diperiksa adalah sebelah
kiri jalur maka yang dipusatkan adalah ban ganda kiri.
Apabila yang aka diperiksa kiri dan kanan pada suatu jalur
maka dipusatkan pada titik-titik yang telah ditetapkan
tersebut ban ganda kiri dan ganda kanan.

Tumit batang (beam toe) Benkelman Beam diselipkan di


tengah-tengah ban ganda tersebut, sehingga tepat di
bawah

pusat

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

muatan

sumbu

gandar,

dan

batang

99

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Benkelman Beam sejajar dengan arah truck. Benkelman


Beam masih dalam keadaan terkunci.

Atur ketiga kaki sehingga Benelman Beam dalam keadaan


mendatar (waterpass).

Lepaskan

kunci

Benkelman

Beam,

sehingga

batang

Benkelman Beam dapat digerakkan naik-turun, atur batang


arloji hingga bersinggung dengan bagian atas dari batang
belakang.

Hidupkan penggetar (buzzer) untuk memeriksa kestabilan


jarum arloji pengukuran.

Setalah jarum arloji stabil, atur jarum pada angka nol,


sehingga kecepatan perubahan jarum lebih kecil atau sama
dengan 0.01 mm / menit atau setelah 3 menit.

Jalankan truck perlahan-lahan maju ke depan dengan


kecepatan maksimum 5 km/jam sejauh 0,30 meter untuk
penetrasi, butas dan laburan atau sejauh 0,40 meter untuk
aspal beton. Setelah truck berhenti, arloji pengukur dibaca
setipa menit, sampai kecepatan perubahan jarum lebih
kecil atau sama dengan 0.01 mm/menit atau setelah 3
menit. Catat pembacaan ini sebagai pembacaan akhir.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

100

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Catat suku permukaan jalan (tp) dan suhu udara (tu) tiap
titik pemeriksaan suhu tengah (tt) dan suhu bawah (tb) bila
perlu dicatat setiap 2 jam.

Tekanan ban diperiksa bila perlu 4 jam sekali, dibuat selalu


(5,5 + 0,07) kg/cm2 atau (80 + 1) psi.

Periksa dan catat tebal lapisan aspal.

Hindari

penempatan

tumit

batang

dan

kaki-kani

Benkelman Beam pada tempat yang diperkirakan terjadi


pelelahan aspal (bleeding).

6. Cara Mengukur Lendutan Maksimum dan Cekung Lendutan.

Menentukan titik pengujian, pengujian dilakukan pada


titik-titik lendutan balik yang memerlukan data tambahan,
atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Tentukan titik pada permukaan jala yang akan diuji dan


diberi tanda ( + ) dengan kapur tulis.

Tempatkan truk arah ke muka sejauh 6 m dari titik yang


akan diuji.

Letakkan tumit batang (beam toe) Benkelman Beam pada


titik yang akan diuji kemudian :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

101

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Periksa kedudukan batang sehingga sejajar as jalan


dan

kaki

batang

terletak

pada

landasan

yang

stabil/mantap.
Atur jarum arloji pengukur pada angka 0 (nol).

Beri tanda pada permukaan jalan mulai dari titik kontak


batang, dengan jarak-jarak 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm,
50 cm, 70 cm, 100 cm, 150 cm, 200 cm dan 600 cm arah
ke muka.

Truk dijalankan mundur perlahan-lahan sehingga tumit


batang terselip diantara salah satu ban ganda belakang
dan truk berhenti pada saat pusat muatan ban ganda
belakang berada di atas titik konak belakang, kemudian
dilakukan pembacaan arloji pengukur.

Pembacaan arloji pengukur dilakukan setiap menit, sampai


kecepatan perubahan jarum lebih kecil atau sama dengan
0,01 mm/menit atau setelah 3 meni, catat pembacaan ini
sebagai pembacaan lendutan maksimum.

Kemudian jalankan truk maju perlahan-lahan sejauh 10 cm


dari titik kontak batang, pembacaan dilakukan lagi setiap
menit samapi kecepatan perubahan jarum lebih kecil atau
sama dengan 0,01 mm/menit atau setelah 3 menit.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

102

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Truk dijalankan kembali maju perlahan-lahan pada jarak


20 cm, 30 cm, 40 cm, 50 cm, 70 cm, 100 cm, 150 cm, 200
cm dan 600 cm, dari titik kontak batang dan pembacaan
dilakukan

pada

tiap-tiap

jarak

tersebut

ini

sebagai

pembacaan cekung lendutan.

Catat dan gambar penampang perkerasan, serta data-data


lain yang diperlukan.

Pada waktutruk berjalan mundur dan ban ganda + di


depan titik belakang sudah berada kontak batang, dan
diperkirakan batang tidak akan tepat masuk di antara ban
ganda yang bersangkutan maka truk harus maju lagi untuk
menempatkan arah.

Untuk mendapatkan data-data yang baik, disarankan


selalu bekerja pada cuaca yang dingin (suhu permukaan
jalan

lebih

rendah

atau

sama

dengan

40oC)

guna

menghindari pengaruh suhu terhadap struktur alat dan


struktur jalan.
Lendutan

balik

atau

CBR

rencana,

ditentukan

dengan

menggunakan program komputer yang tersedia, yaitu untuk :


Lendutan balik (D) ditentukan berdasarkan formula :
D = x + 1.0 s
Dimana :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

103

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

D = lendutan balik rencana pada section tertentu


x = lendutan balik rata-rata pada section tertentu
s = standar deviasi pada section tertentu

Nilai CBR rencana ditentukan dengan formulir :


CBR (disain) = CBR (rata-rata) 1 Standar Deviasi

Penentuan unique section, yaitu suatu seksi jalan yang


mempunyai

karakteristik

kurang

lebih

seragam

dalam

beberapa variabel desain seperti :


Lebar perkerasan yang ada
Lendutan balik rencana atau nilai CBR rencana
Nilai kekasaran permukaan (IRI)
Nilai beban lalu-lintas (ADT-ESA)
Perubahan camber/kemiringan melintang

Mempelajari kemungkinan pemakaian tipe bahan perkerasan


yang sesuai untuk suatu daerah tertentu.
Tipe perkerasan yang diijinkan untuk digunakan dalam
pekerjaan ini adalah type perkerasan yang sekarang dipakai
Dinas Pekerjaan Umum .

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

104

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

1.7. Pemeriksaan/Tes Dynamic Cone Penetrometer (DCP) dan CBR


DCP adalah alat untuk mengukur daya dukung tanah dasar jalan
dengan cara mengukur berapa dalam (cm) ujung konus masuk ke
dalam tanah dasar tersebut setelah mendapat tumbukan palu geser
pada landasan batang utamanya, makin lunak tanah tersebut.
CBR adalah perbandingan nilai beban yangterjadi terhadap beban
standar dalam satuan % (persen) untuk menggambarkan besarnya
daya dukung suatu lapisan tanah atau batuan tertentu.
AWCAS (All Weather Compacted Aggregate Surface) adalah jalan
aggregate padat ahan cuaca (japat) yang merupakan jalan yang tidak
kedap air atau tidak dilapisi oleh perkerasan aspal.
Tujuan pemeriksaan/tes ini untuk mengetahui daya dukung tanah
dan dalam nilai CBR (California Bearing Ratio) dengan satuan %
(persen), data CBR diguakan dalam proses perencanaan jalan yaitu
sebagai masukan penentuan perencanaan jalan yaitu masukan tebal
perkerasan jalan baru atau menentukan tebal lapisan ulang (overlay)
dari jalan yang ada.
Pemeriksaan/Tes DCP harus mengikuti buku petunjuk yang telah
dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum .
Ketentuan-ketntuan yang harus dilakukan adalah :
a. Pemeriksaan dilakukan dengan interval 200 m.
b. Lokasi pemeriksaan harus dicatat dengan jelas.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

105

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

c. Peralatan dan perlengkapan :


Sebuah palu geser deengan berat jatuh 10 kg, dan tinggi
jatuh 46 cm. Palu geser akan bergerak jatuh sepanjang
batang baja 16 mm untuk memukul suatu landaasan
(anvil).
Sebuah batang utama (primer) baja kera dengan 16 mm,
panjang minimum 0,7 m yang disambungkan dengan konus
yang terbuat dari baja keras sudut 60o dan bergaris tengah
terbesar 2.0 cm. Pada batang baja tersebut telah dibuatkan
skala dalam mm untuk mebaca setiap masuknya konus ke
dalam tanah.
Sebuah batang kedua (sekunder) baja keras dengan 16
mm, panjang minimul 42 cm, sebagai batang geser palu.
Perlengkapan yang dibutuhkan adalah alat-alat pendukung seperti
cangkul, sekop kecil, belencong dan linggis untuk membuat lubang
di As Jalan. Diperluka juga perlengkapan kendaraan roda empat
unuk mengangkut surveyor, peralatan dan perlengkapan yang
dilengkapi dengan odometer untuk mengukur jarak interval lokasi
percobaan yang biasanya 1 KM interval atau pada lokasi yang
dianggap perlu.
Lokasi tes DCP :
1. Medan datar adalah 1 tes perkilometer.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

106

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

2. Medan berombak dan berbukit


a. Puncak (dataran tinggi)
Minimum 1 tes untuk tiap puncak, atau 1 tes perkilometer untuk
dataran tinggi yang lebih panjang (menerus).
b. Lembah-lembah (sawah)
Minimum 1 tes per lembah atau 1 tes perkilometer untuk
dataran rendah yang lebih panjang (menerus).
3. Medan Bergunung
a. Cembung : 1 tes untuk setiap puncak cembung.
b. Cekung : 1 tes untuk setiap dasar lembah atau cekungan.
c. Menyeluruh : minimum 1 tes perkilometer.
d. Prosedur pelaksanaan :
Pilihlah titik pengujian di bagian tepi jalan yang diperlebar.
Cata stasiun, nomor ruas, nama ruas.
Galilah lubang sedalam perkerasan yang ada hingga
permukaan tanah dasar, ukuran lubang bergaris tengah +
20.00 cm.
Periksalah jenis bahan dan kondisi masing-masing lapisan
perkerasan dan ketebalannya (ketepatan + 1 cm), catatlah
keterangan ini pada formulir terlampir.
Pasanglah

peralatan

DCP

dan

pastikan

agas

semua

sambungan sudah dalam keadaan kencang.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

107

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pasanglah alat DCP dalam posisi vertikal sedemikian rupa


sehingga konus terletak di dasar lubang yang digali,
dimana bagian kerucut yang paling tebal terletak sama
tingginya dengan permukaan dasar lubang. Ini merupakan
posisi dimulainya pengujian/tes.
Letakkan batang pengukur khusus atau pipa bangunan
(terkunci)

di

atas

tanah

keras

lubang

dan

ambilah

pencatatan 0. Catatlah pencatatan (dalam cm dengan satu


titik desimal) pada formulir terlampir.
Mulai melakukan pemukulan pertama dengan palu geser
dan dicatat hasil penurunannya dalam cm, kemudian
diteruskan pemukulan kedua dan seterusnya termasuk
pencatatannya.
Penurunan batang utama maksimum adalah 90 100 cm
atau jumlah pukulan total adalah 40 kali, tergantung keras
lembeknya tanah dasar tersebut mana yangtercapai dahulu
baru kemudian berhenti.

1.8. Survai Hidrologi dan Hidraulika


Tujuan survei hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam
pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan
karakter/prilaku aliran air pada bangunan air yang ada sekitar jalan,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

108

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana,


perencanaan drainase dan bangunan pengaman yang diperlukan.
Teknis penelitian dilakukan dengan bantuan data statistik yang ada
didaerah setempat serta mengindentifikasi curah hujan yang paling
berpengaruh

terhadap

daerah

tangkapan

sehingga

akan

mendapatkan data yang paling optimal.


Proses

analisa

perhitungan

mengacu

pada

Standar

Nasional

Indonesia (SNI) No: 03-3424-1994 atau Pedoman yang ditertibkan


oleh Dinas Pekerjaan Umum .
Lingkup pekerjaan survai hidrologi meliputi :
Mengambil data curah hujan dan banjir tahunan dari sumbersumber yang bersangkutan (data dalam 10 tahun) pada daerah
tangkapan (cathment area) dan pada daeraha lainnya yang
berkaitan serta berpengaruh terhadap lokasi pekerjaan, data
terebut diperoleh dari BMG/atau instasi terkait dari lokasi
pekerjaan.
Mengumpulkan data bangunan pelengkap yang ada seperti
gorong-gorong, jembatan, selokan yang meliputi : lokasi,
dimensi, kondisi, tinggi muka air banjir.
Menganalisis data curah hujan dan menentukan curah hujan
rencana, debit dan tinggi muka air banjir rencana dengan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

109

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

periode ulang 10 tahunan untuk jalan arteri, dan 7 tahunan


untuk jalan kolektor.
Menganalisa pola aliran pada daerah rencana trase jalan untuk
mendapatkan trase jalan yang paling aman dilihat dari pengaruh
pola aliran tersebut.
Menghitung dimensi dan jenis bengunan pengaman/pelengkap
jalan yang diperlukan.
Menentukan

rencana

elevasi

aman

untuk

jalan

termasuk

pengaruhnya akibat adanya bangunan air.


Merencanakan bangunan pengaman/pelengkap jalan terhadap
gerusan samping atau horisontal dan vertikal.
Memprediksi kemungkinan terjadinya curah hujan yang paling
besar yang selanjutnya dapat memperkirakan besarnya intensitas
curah hujan dan banjir rencana dengan metode-metode yang
ada.
Dari data lapangan dan hasil perhitungan tersebut di atas,
selanjutnya menentukan jenis dan dimensi bangunan drainase
yang diperlukan seperti saluran samping dan dimensinya, jenis
dan

dimensi

gorong-gorong

serta

jenis

jembatan

yang

diperlukan.

1.9. Survei Penyelidikan tanah (Geologi dan Geoteknik)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

110

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Tujuan penyelidikan geologi dan geoteknik dalam pekerjaan ini,


adalah untuk melakukan pemetaan penyebaran tanah/batuan dasar
termasuk kisaran tebal tanah pelapukan, memberikan informasi
mengenai stabilitas tanah, menentukan jenis dan karakteristik tanah
untuk keperluan bahan jalan dan struktur, pada mengidentifikasi
lokasi sumber bahan termasuk perkiraan kuantitasnya.
Sangat disarankan untuk menggunakan Geoguide bilamana terdapat
suatu kondisi tanah dasar yang lunak (soft soil).
a. Penyelidikan Geologi.
Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail dengan
peta dasar topographi skala 1: 250.000 s.d. skala 1:100.000.
Pencatatan kondisi geoteknik disepanjang rencana trase jalan
untuk setiap jarak 500 1000 meter dan pada lokasi jembatan
dilakukan menggunakan lembar isian seperti terlihat pada daftar
lampiran.
1) Penyelidikan lapangan.
Meliputi pemeriksaan sifat tanah (konsistensi, jenis tanah,
warna, perkiraan prosentase butiran kasar/halus) sesuai
dengan Metose USCS.
2) Pemetaan
Jenis batuan yang ada disepanjang trase jalan dipetakan,
batas-batasnya ditetapkan dengan jelas sesuai dengan data

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

111

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

pengukuran, untuk selanjutnya diplot dalam gambar rencana


dalam skala 1:2000 ukuran A3. Pemetaan mencakup jenis
struktur geologi yang ada antara lain : sesar/patahan, kekar,
pelapisan batuan dan perlipatan.
Lapukan batuan dianalisis berdasarkan pemeriksaan sifat
fisik/termasuk didalamnya pengamatan tentang :
Gerakan tanah
Tebal pelapukan tebal tanah
Kondisi drainase alami, pola aliran air permukaan dan
tinggi muka air tanah
Tata guna lahan
Kedalaman rawa (apabila rencana trase jalan tersebut
harus melewati daerah rawa)
b. Penyelidikan Geoteknik.
Kegiatan penyelidikan geoteknik meliputi :
1. pengambilan contoh tanah dari sumuran uji.
Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji 25 40 kg untuk
setiap contoh tanah. Setiap contoh tanah harus diberi identitas
yang jelas (nomor sumur uji, lokasi, kedalaman). Pengambila
sumuran uji dilakukan pada setiap jenis satuan tanah yang
berbeda atau maksimum 5 km bila jenis tanah sama, dengan
kedalaman 1 2 m. Setiap sumuran uji yang digali dan contoh

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

112

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

tanah yang diambil harus difoto. Dalam foto harus terlihat


jelas identitas nomor sumur uji, dan lokasi. Ukuran test pit
panjang 1,5m (Utara Selatan) lebar 1,0m, log sumuran uji
digambarkan dalam 4 bidang, dengan diskripsi yang lengkap
dan 1 kolom untuk unit satuan batuan.
2. Pengambilan contoh tanah tak terganggu.
Pengambilan contoh tanah tak terganggu dilakukan dengan
cara bor tangan menggunakan contoh tanah (split tube untuk
tanah keras atau piston tube untuk tanah lunak). Setiap
contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor bor
tangan, lokasi, kedalaman). Pemboran tangan dilakukan pada
setiap

lokasi

yang

diperkirakan

akan

timbun

(untuk

perhitungan penurunan) dengan ketinggian timbunan lebih


dari 4 meter dan pada setiap lokasi yang diperkirakan akan
digali (untuk perhitungan stabilitas lereng) dengan kedalaman
galian lebih dari 6 meter; dengan interval sekurang-kurangnya
100 meter dan/atau setiap perubahan jenis tanah dengan
kedalaman sekurang-kurangnya 4 meter.
Setiap pemboran tangan dan contoh tanah yang diambil harus
difoto. Dalam foto harus terlihat jelas identitas nomor bor
tangan dan lokasi.mSemua contoh tanah harus diamankan
baik

selama

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

pemyimpanan

di

lapangan

maupun

dalam

113

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

pengangkutan ke laboratorium. Pemboran tangan dilakukan


dengan mengacu pada ASTM D 4719.
Penyelidikan tanah di lapangan harus disertai foto-foto
dokumentasi dan membuat laporan hasil survai tersebut
termasuk hasil laboratorium dan rekomendasinya.

c. Lokasi Quarry.
Penentuan lokasi quarry baik untuk perkerasan jalan, struktur
pelengkap bangunan jalan, maupun untuk bahan timbunan
(borrow pit) diutamakan yang ada disekitar lokasi pekerjaan. Bila
tidak dijumpai, maka harus menginformasikan lokasi quarry lain
yang dapat dimanfaatkan.
Penjelasan mengenai quarry meliputi jenis dan karakteristik
bahan, perkiraan kuantitas, jarak ke lokasi pekerjaan, serta
kesulitankesulitan

yang

mungkin

timbul

dalam

proses

penambangannya, dilengkapi dengan foto-foto dan dibuatkan


petanya.
d. Pekerjaan Laboratorium.
Pekerjaan laboratorium dilaksanakan sesuai ketentuan yang
tercantum pada Tabel berikut :
NO.

PENGUJIAN

ACUAN

Kadar air

ASTM D 2216-92

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

KETERANGAN

114

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Batas susut

ASTM D 427-93

Fresh Condition

Batas plastik

SNI 03-1966-1990

Oven Dried 100 OC

Batas cair

SNI 30-1967-1990

Analisa
saringan

SNI 03-3423-1994

Berat jenis

ASTM D 854-92

Berat isi

SNI 1742-1989

Pemadatan

CBR Lab.

SNI 03-1744-1989

10

Direct Shear

SNI 03-2813-1992

11

Triaxial

ASTM D 2664-86

Gunakan

Wet

method

Fresh sample dengan


penjenuhan

Kegiatan penyelidikan lapagan meliputi :


a. Pemetaan Geologi Teknik
b. Pemetaan tanah dasar antara lain :
Gerakan tanah
Tebal tanah dasar
Kondisi air tanahdan permukaan air
c. Test Pit
Test pit dilakukan untuk mengetahui susunan atau komposisi
dan ketebalan lapis perkerasan jalan yang ada, baik yang
sudah beraspal maupun belum. Test pit dilakukan pada setiap
jenis satuan tanah yang berbeda, dengan kedalaman 1-2
meter, bila sepanjang daerah penyeledikan hanay dijumpai

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

115

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

satu atau beberapa jenis satuan batuan, maka penggalian


sumur uji masing-masing berjarak tidak lebih dari 1 km. Pada
kasus tertentu (jangan segera dilaksanakan) perlu dilakukan
sumur uji tambahan.
Pada setiap test pit dilakukan pengamatan/deskripsi struktur
dan jenis tanah, di foto dan diambil samplenya serta dilakukan
sebagai berikut :
Indek properties
Atterberg limits
Compaction Standard
CBR
d. Untuk sudut lereng pada daerah-daerah dengan galian cukup
tinggi diperlukan desain terhadap keruntuhan dengan factor
keamanan f>1.5 dengan berbagai variasi perbandingan sudut
lereng.
e. Pengisian lembar isian kondisi geoteknik disekitarnya, setiap
jarak 500 1.000 meter.
1.10. Survai Material
Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan informasi tentang
lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi proyek tersebut,
menyangkut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

116

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Jenis, komposisi,kondisi beserta perkiraan jumlah dan lainlainnya, yang dapat digunakan sebagai bahan konstruksi yag
proposional untuk pekerjaan struktur jalan yang dimaksud.
Menentukan jjarak angkut material ke base camp.
Mengumpulkan harga-harga bahan mentah di lokasi.
Pembuatan peta lokasi material dam dimasukkan kedalam
gambar rencana.
1.11. Perencanaan Teknis dan Penggambaran
1. Perencanaan Geometrik
Standar perencanaan geometrik jalan yang digunakan dalam
pekerjaan ini adalah Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar
Kota No. 038/T/BM/1997.

a. Perencanaan Alinyemen Horizontal


Menetapkan

kembali

alinyemen

horizontal

yang

mungkin

menyimpang dari perencanaan dengan memperhatikan :


Lokasi (STA) dan nomor-nomor titik kontrol horizontal.
Pertimbangan ekonomi.
Data-data

lengkung

horizontal

(curva

data)

yang

direncanakan.
Lokasi dari bangunan pelengkap dan rencana jembatan.
Alinyemen horizontal pada jalan harus diatur sedemikian

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

117

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

rupa tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan teknik dasar


semata tetapi juga untuk menyediakan tempat yang cukup
bagi lalu lintas dari para pemakai jalan.
Pertimbangan

yang

tepat

hendaknya

diberikan

dalam

merencanakan jalan, antara lain :


1. Disesuaikan dengan keadaan topografi dan geografi
daerah sekitarnya.
2. Kemantapan alinyemen.
3. Koordinasi antara alinyemen horizontal dan vertikal.
4. Perspektif yang dapat disetujui.
5. Keamanan

dan

kenyamanan

bagi

pengemudi,

penumpang dan pejalan kaki.


6. Keterbatasan-keterbatasan

pada

pelaksanaan

pembangunannya.
7. Keterbatasan

anggaran

pembangunan

dan

pemeliharaan.
Tahapan

pembangunan

harus

mempertimbangkan

peningkatan perkerasan, perbaikan alinyemen, vertikal dan


horizontal
mendatang,

yang

mungkin

hendaknya

diperlukan

dapat

pada

dilaksanakan

masa
dengan

penambahan biaya yang seminimum mungkin.


1. Jari -jari Tikungan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

118

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

a. Jari-jari Minimum Dengan Superelevasi Maksimum.


Jari-jari minimum pada jalan seperti dalam tabel di
bawah ini :
Kecepatan
Rencana

Jari-jari Minimum (m)


Jalan Tipe I

Jalan Tipe II

100

380

460

80

230

280

60

120

150

50

80

100

40

60

30

30

20

15

(Km/Jam)

b. Jari-jari Tikungan Yang Disarankan


Penggunaan jari-jari pada tabel di atas dibatasi pada
perencanaan
keterbatasan

alinyemen
yang

ekstrim,

yang

mempunyai

jari-jari

jari-jari

minimum. Jari-jari tikungan minimum disesuaikan


dengan harga-harga yang tercantum dalam :
Kecepatan Rencana

Jari jari Minimum Yang

(Km/Jam)

Disarankan

100

700

80

400

60

200

50

150

40

100

30

65

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

119

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

20

30

c. Jari-jari Minimum Untuk Jalan Dengan Kemiringan


Normal
Pada daerah yang dianggap sudah mantap dimana
kurang

tepat

superelevasinya

yang

disebabkan

kondisi geografi dan topografi, hal ini disebabkan


karena

perlunya

memberikan

kemudahan-

kemudahan jalan masuk pada kegiatan-kegiatan


sepanjang jalan dan menyediakan sistem drasinase
yang mantap.
Jari-jari minimum disesuaikan dengan harga-harga
yang tercantum dalam :
Kecepatan Rencana

Jari jari Minimum Yang

(Km/Jam)

Disarankan

60

220

50

150

40

100

30

55

20

25

2. Jari-jari

Minimum

Untuk

Bagian

Jalan

Dengan

Kemiringan Normal.
Kecepatan Rencana
(Km/Jam)
100

Jari jari Minimum Pada


Kemiringan Normal
(m)
I = 2,00 %
5.000

80

3.500

60

2.000

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

120

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

Jari jari Minimum Pada


Kemiringan Normal
(m)

50

1.300

40

800

30

500

20

200

3. Panjang Tikungan Minimum


-

Panjang as sebuah jalur jalan pada tikungan sebaiknya


dua kali panjang bagian transisi/peralihan untuk sudut
= 7 o.

Untuk sudut = 7o, panjang as jalur jalan minimum


dinyatakan dengan tabel dibawah ini kolom 2 dan
disesuaikan dengan kecepatan rencanannya.
Dalam hal adanya kendala-kendala yang tidak dihindari,
seperti keadaan topografi atau terbatasnya ruang kerja,
maka panjang as minimum dapat dikurangi sampai
suatu harga dinyatakan dengan tabel dibawah ini kolom
3, disesuaikan dengan kecepatan rencananya.
Kecepatan
Rencana
(Km/Jam)
100

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Panjang Tikungan Minimum (m)


Standar
1.200/a

Keadaan
Terpaksa
170

121

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

80

1.000/a

140

60

700/a

100

50

600/a

80

40

500/a

70

30

350/a

50

20

280/a

40

Catatan :
a = sudut perpotongan (derajat), dimanavjika = 2o ,
untuk perhitungan pada kolomvkedua diambil a = 2.

4. Superelevasi
a. Superelevasi Maksimum
Jalan-jalan tikungan yang ramai dilalui, bahu-bahu
jalan yang tepinya dan garis batas tepi jalan, dimana
jari-jari lengkungnya lebih kecil daripada yang
dinyatakan pada tabel di diatas, sebaiknya diberi
superlevasi.
Jalan tipe I Superelevasi 10%.
Jalan tipe II Superelevasi 6%.

b. Pengecualian Untuk Jalan-jalan Perkotaan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

122

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Jalan-jalan tipe II di daerah perkotaan yang sudah


mapan, bisa tidak diberikan superelevasi dalam hal
kemiringan

normal

memang

diberikan

untuk

memberikan kemudahan dan hubungannya dengan


jalan-jalan lain

c. Superelevasi Pada Tikungan


1. Harga

Superelevasi

sebaiknya

seperti

yang

dinyatakan pada tabel dibawah ini, sesuai dengan


kecepatan rencana dan jari-jari tikungannya.
2. Untuk

jalan-jalan

Tipe

II

superelevasi

tidak

diterapkan.
3. Untuk jalan-jalan dengan kecepatan rencana 30
km/jam atau 20 km/jam, harga superlevasi dapat
ditetapkan berdasarkan karakteristik kendaraan
yang melewatinya dan kondisi geografi di daerah
tersebut.

d. Superelevasi Pada Tikungan Di Daerah Yang Mantap


-

Untuk daerah yang sudah mantap, pemakaian


superelevasi tidak diperlukan pada keperluan
untuk persimpangan dengan jalan-jalan lain,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

123

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

perawatan saluran dan jalan masuk ke tanah


yang berbatasan.
-

Untuk tikungan dengan jari-jari lebih besar


daripada

jari-jari

yang

sesuai

dengan

superelevasi 2 % atau1,5 % dalam tabel dibawah


ini, perencanaan dengan kemiringan normal tidak
diperlukan superelevasi.
-

Penerapan

harga-harga

pengecualian

dalam

merencana jalan-jalan konsistensi perencanaan


alinyemen sebaiknya ditekankan pada keamanan.
-

Pengecualian

Superelevasi

di

dalam

daerah

mantap adalah sebagai berikut :


(Kemiringan standar = 2,0 %)

5. Bagian Peralihan
Bagian Peralihan prinsipnya harus disediakan antara
bagian lurus dan curva lingkaran.
Panjang minimum bagian peralihan seperti dinyatakan
dalam tabel dibawah ini, sesuai dengan kecepatan
rencana jalan tersebut :
Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Panjang Minimal
Bagian Peralihan
(m)

124

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

Panjang Minimal
Bagian Peralihan
(m)

100

85

80

70

60

50

50

40

40

35

30

25

20

20

Superelevasi dan pelebaran pada jalan yang sering


dilewati sebaiknya dialirkan dalam bagian peralihan,
apabila

panjang

yang

diperlukan

untuk

aliran

superelevasi atau pelebaran lebih besar daripada


harga-harga tersebut pada tabel diatas dianggap
sebagai bagian minimum.
Bagian peralihan dapat diabaikan (jari-jari minimum
tikungan yang tidak memerlukan bagian peralihan)
dalam hal jari-jari lengkungan tidak kurang daripada
harga-harga pada tabel berikut ini :
Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

Panjang Minimal
Bagian Peralihan
(m)

100

1.500

80

1.000

60

600

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

125

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

50

400

40

250

30

150

20

60

Namun untuk keamanan estetika,

pada tikungan

dengan jari-jari sampai dua kali jari-jari minimum


yang tertera pada tabel di atas diberikan pada bagian
peralihan.
6. Pelebaran pada Tikungan
a. Standar Pelebaran
Jalur lalu lintas sebaiknya dilebarkan pada bagian
tikungannya sesuai dengan tipe jalan, kelas dan jarijari tikungannya. Harga-harga pelebaran sebaiknya
seperti pada tabel di bawah ini. Tetai untuk jalan tipe
II dapat dipakai harga-harga yang lebih kecil.
b. Penerapan Pada Jalan-jalan Berjalur Banyak
Pelebaran sebaiknya diberikan tiap jalur. Untuk jalan
dengan median yang berlajur 6 atau lebih, pelebaran
4 jalur mungkin sudah cukup tergantung kondisi lalu
lintasnya.
c. Mengurangi Pelebaran Jalur
Untuk

jalan-jalan

disebabkan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

oleh

tipe

II,

keadaan

bila

pelebaran

topografi

sulit

maupun

126

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

kondisikondisi

khusus,

maka

lebar

jalur

pada

tikungan dapat disamakan dengan lebar jalur pada


bagian tangent tikungan atau selebar yang tertera
pada tabel pengecualian superelevasi di dalam
daerah mantap, ditambah 2,50 m.
d. Pelebaran Pada Tikungan Tajam
Besar pelebaran ditentukan dengan jari-jari tikungan
as setiap jalur, pada tikungan yang lebih tajam
dimana jari-jari as jalan sering dilewati lebih kecil
daripada 35 ,00 m.
e. Aliran Pada Pelebaran
Aliran

pelebaran

adalah

panjang

jalan

yang

dibutuhkan untuk menyempurnakan perubahan lebar


jalur dari bagian tangen sampai pada bagian dengan
pelebaran penuh pada tikungan dan sebaliknya.

7. Aliran Superelevasi
Aliran superelevasi adalah panjang jalan yang diperlukan
untuk menyempurnakan perubahan pada kemiringan
melintang dari bagian dengan kemiringan nomal hingga
ke

bagian

dengan

superelevasi

maksimum

atau

sebaliknya.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

127

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Aliran

superelevasi

bagianbagian

sebaiknya

peralihan.

Dalam

diberikan
hal

pada

tangen section

dihubungkan dengan seubah circular section tanpa


bagian peralihan, sebaiknya diberikan setengahnya ke
tangen section dan setengahnya lagi diberikan ke
circular section.
Panjang Minimum Aliran Superelevasi :
1. Aliran superelevasi pada perkerasan dengan 2 jalur
sebaiknya

ditentukan

sedemikia

rupa

sehingga

kemiringan relatif permukaan maksimum antaa tepi


dan as lebih kecil daripada harga-harga yang tertera
pada tabel dibawah ini.
2. Dalam hal aliran superelevasi yang diperoleh dengan
cara yang telah dijelaskan sebelumnya ternyata lebih
kecil daripada harga-harga pada panjang minimum
bagian

peralihan,

maka

dipakai

sebagai

aliran

superelevasi minimum.
3. Panjang Aliran Superelevasi untuk pekerasan yang
lebih lebar daripada 2 jalr sebaiknya sebagai berikut
:

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

128

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Perkerasan 3 jalur, 1,2 kali panjang aliran


superelevasi pada jalan dengan 2 jalur yang
sesuai.

Perkerasan 4 jalur dengan median, 1,5 kali


panjang aliran superelevasi pada jalan dengan 2
jalur yang sesuai.

Pekerasan dengan 6 jalur tanpa median, 2,0 kali


panjang aliran superelevasi pada jalan dengan 2
jalur yang sesuai.

Tabel

kemiringan

permukaan

relatif

maksimum

antara tepi dan as jalan dengan perkerasan 2 jalur :


Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

Kemiringan Relatif

100

1/225

80

1/200

60

1/175

50

1/150

40

1/125

30

1/100

20

1/75

8. Kemiringan Melintang
a. Kemiringan Melintang Pada Bagian Tangen
Jalur lalu lintas, bahu jalan, jalur batas, trotoar dan
jalur sepeda pada bagian tangen dari suatu jalan
harus diberi kemiringan melintang, sesuai dengan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

129

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

klasifikasi perencanaan jalan dan jenis permukaannya


:
1. Untuk jalan tipe I 2 jalur 2 arah, kemiringan
melintang perkerasan sebaiknya 1,5 %.
2. Untuk

jalan

tipe

selain

tersebut

di

atas,

kemiringan melintang perkerasan 2,0 %.


3. Untuk jalan tipe II, perkerasan beton semen atau
jenis

aspal

beton

sebaiknya

mempunyai

kemiringan melintang 2,00 %.


4. Untuk

jalan

jenis

II,

selain

tersebut

diatas,

perkerasan diberikan kemiringan melintang 3


5%.
5. Bahu jalan yang lunak di sisi perkerasan tanpa
trotoar sebaiknya diberikan kemiringan melintang
lebih besar daripada kemiringan perkerasannya
sampai

%,

tergantung

jenis

permukaan,

intensitas hujan dan kemungkinan penggunaan


bahu jalan.
6. Trotoar dan jalan jalur sepeda harus diberi
kemiringan melintang 2 4 %.
b. Kemiringan Melintang Pada Bagian Tikungan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

130

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Kemiringan melntang normal jalan yang ditetapkan


diatas dapat digunakan pada bagian tikungan dengan
kondisi seperti yang tersebut pada jari-jari minimum
untuk jalan dengan kemiringan normal di atas.

b. Perencanaan Alinyemen Vertikal


Draft alinyemen vertikal (penampang memanjang) dapat
dimulai

setelah

konsep

alinyemen

horizontal

disetujui

Project Officer dan digambar dibagian bawah dari gambar


alinyemen horizontal.
Penetapan alinyemen vertikal didasarkan pada :
o Tinggi muka tanah asli.
o Ketentuan kemiringan maksimum diagram super elevasi.
o Data-data pendukung vertikal.
o Elevasi

bangunan-bangunan

pelerngkap,

bangunan-

bangunan drainase dan bangunan di sekitar rencana


jalan.
o Elevasi jembatan.
o Pertimbangan ekonomi.
o Ketentuan panjang kritis landai maksimum.

1. Landai Maksimum

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

131

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Landai maksimum yang dijinkan pada kondisi normal


tercantum pada table berikut :
Kecepatan Rencana

Landai Maksimum

(Km/Jam)
100

80

60

50

40

30

20

2. Panjang Landai Kritis


Kelandaian yang lebih besar darikemiringan maksimum
yang disebutkan pada landai maksimum diatas dapat
digunakan,

apabila

panjang

kelandaian

lebih

kecil

daripada panjang kritis yang ditetapkan pada table


berikut ini :
Kecepatan
Rencana
(Km/Jam)
100

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Kelandaian

Landai

(%)

Maksimum

700

500

132

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

80

60

50

40

400

600

500

400

500

400

300

500

400

300

400

300

10

200

Catatan :
Apabila disediakan jalur tanjakan panjang kelandaian
dapat melebihi panjang kelandaian kitis diatas.

3. Jalur Pendakian
a. Persyaratan
Pada bagian tanjakan dengan landai 5 % atau lebih (3%
atau

lebih

untuk

jalan

yang

kecepatan

rencana

100km/jam atau lebih), jalur pendakian untuk kendaraan


berat hendaknya disediakan, tergantung pada panjang
landai dan krakteristik lalu lntas.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

133

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

b. Lebar Jalur Pendakian


Lebar jalur pendakian/tanjakan ummnya 3,00 m.

4. Lengkung Vertikal
a. Persyaratan
Pada setiap kelandaian dapat diberikan lengkung vertical
serta

hendaknya

merupakan

lengkung

parabola

sederhana.
b. Standar Minimum Jari-jari Lengkung Vertikal
Standar

minimum

jari-jari

lengkung

vertikal

pada

lengkung cembung dan lengkung cengkung ditetapkan


pada tabel 4.c. kolom 3.
c. Jari-jari Rencana Lengkung Vertikal
Untuk

kenyamanan

dan

keamanan

pengemudi,

pemakaian standar jari-jari minimum.


d. Standar Panjang Minimum Lengkung Vertikal
Standar

panjang

minimum

lengkung

berhubungan

dengan perbedaan aljabar landai dan ditentukan oleh


kebutuhan visual dan kecepatan rencana.
Apabila

perbedaan

aljabar

kecil,

maka

panjang

lengkungan vertikal akan tampak melengkung.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

134

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Tabel

dibawah

ini

menggambarkan

batas-batas

berdasarkan pada panjang pergerakkan selama 3 detik.


Kecepatan Rencana
(Km/Jam)

Landai Maksimum

100

85

80

70

60

50

50

40

40

35

30

25

20

20

c. Persimpangan Sebidang
Tujuan

utama

mengurangi

dari

perencanaan

kemungkinan

persimpangan

tabrakan

antar

adalah

kendaraan

bermotor, pejalan kaki, sepeda dan fasilitas-fasilitas lain


yang memberikan kemudahan, kenyamanan dan ketenangan
terhadap pemakai jalan yang melalui persimpangan dimana
perencanaannya

harus

mengikuti

lintasan

aslinya

dan

karakteristik pemakai jalan.Persimpangan harus direncakan


sedemikian

rupa

sehingga

dapat

menampung

volume

perencanaan tiap jam (VJP) pada jalan tersebut, bila volume

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

135

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

lalu lintasnya kecil maka tahap pertama perencanaan dasar


perencanaan volume lalu lintas 5 10 tahun.

1. Kontrol/Pengendalian Lalu Lintas Pada Persimpangan


-

Untuk persimpangan satu bidang ada 4 jenis control


lalu lintas yang dapat digunakan :
1. Jenis tanpa pengaturan lalu lintas
2. Jenis pengaturan dengan rambu peringatan (Yield)
3. Jenis pengaturan berhenti (Stop)
4. Jenis Pengaturan dengan lampu lalu lintas (Traffic
light)

Pada jalan dengan kecepatan rencana = 60 Km/Jam


atau lebih, maka kontrol berhenti dan atau rambu
peringatan tidak dapat digunakan.

2. Kecepatan Rencana
Kecepatan

rencana

prinsipnya

sama

menjelang

dengan

persimpangan,

kecepatan

rencana

pada
bagian

jalan/kakinya, bila perlu kecepatan rencana dari lalu lintas


menerus dapat dikurangi sampai 20 Km/Jam sehubungan
dengan adanya jalur-jalur pembantu dan atau median
median
3. Alinyemen dan Konfigurasi

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

136

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Persimpangan harus direncanakan dengan baik agar


pertemuan jalan dari persimpangan mendekati sudut
atau sama dengan 90 derajat, sudut pertemuan antara
60 sampai 90 masih diijinkan.

Jalan yang menyebar pada suatu persimpangan dari 2


jalan

mempunyai

kaki,

pada

prinsipnya,

pada

persimpangan sebidang, banyaknya kaki


-

persimpangan tidak boleh lebih dari 5.

Pertemuan (stagger junction) atau pertemuan (break


junction) harus dihindarkan, dalam tidak bisa dihindari,
interval jarak kaki yang dibutuhkan harus lebih dari
40m, untuk stagger junction sudut pertemuan yang
dibutuhkan kurang dari 30 derajat.

Jarak lalu lintas utama sedapat mungkin dilayani


dengan jalur yang lurus atau hampir lurus.

4. Jarak Antara Persimpangan


Jarak antara 2 persimpangan harus diusahakan sejauh
mungkin, jarak minimum harus ditentukan sehingga lebih
panjang dari hal di bawah ini :
a. Panjang bagian menyusup
b. Antrian pada lampu lalu lintas
c. Jalur belok kanan atau jalur perlambatan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

137

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

d. Batas konsentrasi pengemudi


5. Alinyemen Dekat Persimpangan
a. Jarak Pada Pada Persimpangan
b. Jari-jari Minimum

6. Alinyemen Vertikal Di Sekitar Persimpangan


a. Landai Maksimum
Untuk keamanan dan kenyamanan lalu lintas, kelandaian
di sekitar persimpangan diusahakan serendah mungkin,
landai maksimum diusahakan tidak lebih dari 2 %.
b. Panjang Minimum Bagian Dengan Kelandaian Rendah
(Low Grade Section)
Panjang

pada

persimpangan

kelandaian
sebaiknya

rendah

ditentukan

di

oleh

sekitar
perkiraan

panjang antrian yang terjadi selama satu (cycle) periode


berhenti.

7. Potongan Melintang Dekat Persimpangan


a. Lebar Jalur
-

Dalam hal jalur tambahan (auxiliary lanes) diperlukan


pada persimpangan lebar jalur lalu lintas menerus

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

138

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

dapat dikurangi sampai angka yang tercantum pada


kolom 2 tabel b.
-

Lebar standar dari jalur tambahan 3,00 m, atau


dengan memperhatikan karakteristik lalu lintas dan
tersedianya ruang.

b. Jumlah Jalur dan Lokasi


-

Banyak jalur keluar dari persimpangan sebaiknya


sama dengan jumlah jalur lalu lintas menerus yang
masuk persimpangan.

Bagian

keluar

hendaknya

dari

jalur

ditempatkan

lalu

pada

lintas
satu

menerus

garis

lurus

dengan jalur masuk dari jalur lalu lintas menerus


tidak boleh bergeser pada persimpangan.

8. Jalur Belok Kanan


a. Kriteria Penentuan Jalur belok kanan
Semua persimpangan sebidang harus dilengkapi dengan
jalur belok kanan, kecuali :
-

Larangan belok kanan pada persimpangan.

Jalan tipe II, Kelas III atau kelas IV dengan kapasitas


yang dapat menampung volume lalu lintas puncak.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

139

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Jalan 2 jalur dengan kecepatan rencana 40 km/jam


atau kurang, dimana volume rencana per jam
kendaraan

kuang

dari

200

kend/jam

dan

perbandingan kendaraan belok kanan kurang dari 20


% dari kendaraan rencana tiap jam (DHV).
b. Panjang Jalur Belok Kanan
-

Panjang jalur belok kanan dapat ditentukan dengan


menjumlah panjang taper dan panjang jalur antrian
(storage section).

Panjang Taper adalah nilai terbesar antara panjang


yang diperlukan pada pergeseran dari lalu lintas
menerus sampai jalur belok kanan (lc) dan panjang
yang diperlukan untuk memperlambat kendaraan
(ld).
lt = max (lc,ld)
Dimana :
lt = Panjang taper (m)
lc = Panjang yang diperlukan untuk pergeseran jalur
(m)
ld = Panjang yang diperlukan untuk memperlambat
kendaraan (m)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

140

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Panjang yang diperlukan untuk pergeseran jalur


dihitung dengan rumus :
lc = (v x dw) / 6
Dimana :
lc = Panjang yang diperlukan untuk pergeseran jalur
(m)
v = Kecepatan Rencana (Km/Jam)
dw = Latheral Shift/Lebar jalur belok kanan (m)

Panjang jalur antrian pada persimpangan tanpa


lampu lalu lintas dihitung dengan rumus didasarkan
pada

jumlah

kendaraan

yang

akan

masuk

persimpangan setiap 2 menit pada jam sibuk.


ls = 2 x M x S
Dimana :
Ls = Panjang storage section (m)
M =

Rata-rata

kendaraan

yang

belok

kanan

(kend/menit)
S

= Head distance rata-rata (m)

catatan :
Rata-rata dibandingkan terhadap jumlah bus dan
truck terhadap total kendaraan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

141

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Untuk bus dan truk S = 12 m


Untuk kendaraan lainnya S = 6 m
Untuk bus/truk tidak ada S

= 7m

Persimpangan yang ada lampu lalu linasnya, panjang


storage

section

1,50

dikalikan

rata-rata

kendaraan yang antri per cycle, yang diproyeksikan


pada volume jam rata-rata perencanaan.
ls = 1,5 x N x S
Dimana :
ls = Panjang storage section (m)
N

Banyaknya

kendaraan

yang

belok

kanan

(kend/menit)
S = Head distance rata-rata (m)

catatan :
Rata-rata dibandingkan terhadap jumlah bus dan
truck terhadap total kendaraan.

9. Jalur Belok Kiri


Jalur belok kiri atau kanan dapat dikondisikan pada kondisi
:

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

142

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

a. Sudut kemiringan pada persimpangan adalah 60 derajat


atau kurang dan jumlah lalu lintas yang belok ke kiri
cukup banyak.
b. Lalu lintas belok kiri jumlahnya relatif besar pada
persimpangan.
c. Kecepatan kendaraan belok kiri tinggi.
d. Jumlah kendaraan belok kiri besar dan jumlah pejalan
kaki pada sisi luar jalur belok kiri jugabesar.
Panjang jalur belok kiri dapat ditentukan dengan cara
yang sama pada penentuan jalur belok kanan.
10. Kanalisasi
Faktor-faktor

yang

dipertimbangkan

dalam

merencanakan kanalisasi adalah luas lahan yang ada,


jenis

traffic

control,

kendaraan

rencana,

kecepatan

rencanan dan volume lalu lintas.

a. Jari- jari Kanal


Kendaraan yang belok kanan akan berhenti sesaat pada
saat masuk persimpangan, kemudian mulai bergerak
dengan kecepatan rendah (perlahan-lahan), atau belok
kiri dengan kecepatan sangat rendah tanpa berhenti.
Mempertimbangkan gerakan ini, jari-jari kanal belok

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

143

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

kanan adalah 15 30 m, karena sudut persimpangan


mendekati 90 derajat, sedangkan jari-jari belok kiri
ditentukan oleh lahan yang tersedia dan lebar trotoar.
Radius perputaran minimum pada kendaraan rencana
sebagai berikut :
-

Mobil Penumpang 6 m

Truk 12 m

Semi Trailer 12 m

b. Lebar Kanal
Lebar kanal disesuaikan dengan jai-jari lengkung dan
kendaraan rencana. Dalam hal kanal dipisahkan dari
jalur lalu lintas utama dengan pulau, maka diperlukan
daerah bebas selebar 50 cm disisi kiri dan kanan kanal
tersebut. Daerah bebas digunakan untuk bahu jalan,
saluran samping dan untuk letak (set back) pulau lalu
lintas.

c. Kontrol Lalu lintas Dengan Pulau


-

Pulau-pulau lalu lintas terbagi dalam 3 kelompok


yaitu : pulau-pulau kanal (channelizing islands),
pulau

pemisah

(divisionalislands)

dan

pulau

pengaman (refuge islands).

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

144

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pulau kanal untuk mengatur dan memperlancar


arus lalu lintas, pulau pemisah untuk memisahkan
arus lalu lintas yang berlawanan atau searah dan
pulau pengaman untuk pejalan kaki.
-

Pulau-pulau tersebut sebaiknya ditinggikan dan


dibatasi dengan kerb, bentuk kerb merupakan
gabungan garis lurus dan garis lengkung, tinggi
standar kerb antara 12 15 cm.

Untuk

jalan

(median)

tanpa

pemisah,

sebaiknya

digunakan

pulau

pemisah

pada

bagian

menjelang persimpangan khususnya untuk:


1. Kecepatan rencana jalan bersimpangan 60
km/jam atau lebih.
2. Jumlah penyeberang jalan besar dan jarak
penyeberang juga besar.
-

Panjang Nose sebaiknya ditandai dengan marka


jalan.
Panjang

minimum

marka

ditentukan

dengan

rumus-rumus, berdasarkan fungsi dari pulau :


a. Untuk Ambang (Verging)
la = (V x R) / 3
b. Untuk pergeseran jalur lalu lintas menerus

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

145

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

lb = ( 2 x V x R ) / 3
Dimana : la, lb =
Panjang Marka (m)
V = Kecepatan Rencana (Km/Jam)
R = Jari-jari Ujung Nose Pulau (m)
c. Lintasan Belok Pada Persimpangan
Dalam Merencanakan persimpangan sebaiknya
kendaraan rencana yang dianggap akan masuk
pada lintasan belok didasarkan pada jenis
pengaturan lalu lintas dan kelas jalan.
d. Potongan Sudut
Pemotongan sudut harus disediakan, setiap
sudut persimpangan guna menjamin keamanan
kelancaran kendaraan, pejalan kaki, sepeda dan
lain-lain.

11. Pertemuan Tidak Sebidang (Grade Separation)


Dalam merencanakan pertemuan tidak sebidang, kelas
dan

fungsi

jalan,

topografi,

tataguna

lahan

dan

pengaruhnya harus dipertimbangkan.


-

Ketentuan Pertemuan tidak sebidang


1. Jalan tipe I dan II yang akses langsungnya dibatasi
(partial access control), setiap persilangan atau

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

146

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

pertemuan pada jalan tersebut pada umumnya


tidak sebidang.
2. Pertemuan atau persilangan jalan tipe II yang
berjalur

atau

lebih

pada

umumnya

tidak

sebidang, tetapi dalam keadaan yang tidak dapat


dihindari seperti misalnya keadaan topografi dan
kondisikondisi

lainnya,

persilangan/

pertemuannya dibuat sebidang.


3. Pertemuan atau persilangan pada jalan tipe II pada
umumnya dibuat tidak sebidang untuk memenuhi
kebutuhan lalu lintas utamanya.
-

Tahapan Pelaksanaan (Stage Construction)


Pada setiap persilangan/pertemuan jalan tipe II yang
direncanakan dibuat tidak sebidang, jika pada tahap
awalnya volume lalu lintas yang ada masih dapat
ditampung

dengan

pertemuan

sebidang,

maka

pertemuan tidak sebidang dapat dilaksanakan secara


bertahap.
-

Perencanaan

Geometri

Pada

Pertemeuan

Tidak

Sebidang
1. Petunjuk perencanaan geometri pada bagian lurus
(tangent

section)

dapat

diterapkan

pada

perencanaan pertemuan tidak sebidang.


2. Pada pintu masuk/keluar setiap pertemuan tidak
sebidang (the entrance/exit of grade separation)
hendaknya disediakan pelebaran (run off widening)

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

147

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

untuk menjamin keamanan dan kelancaran arus lalu


lintas.
d. Potongan Melintang
Perencanaan Potongan Melintang disesuaikan dengan
Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1986 tentang Jalan.
Dalam merencanakan potongan melintang, hal-hal yang
harus diperhatikan antara lain :
-

Rencana pengaturan lalu lintas, jalur hijau tanaman


dan bangunan pelengkap lainnya yang diperlukan.

Penetapan rencana konstruksi perkerasan dan badan


jalan.

Penetapan rencana drainase.

Komposisi Potongan melintang terdiri dari :


1. Jalur lalu-lintas (Traveled Way).
a. Komposisi Jalur Lalu Lintas
-

Jalur lalu lintas pada jala tipe I dan II keculai tipe II


kelas IV terdiri dari jalur-jalur : jalur belok,
tanjakan,

percepatan/ perlambatan,

dan jalur

parkir, sedangkan pada jala tipe II kelas IV


merupaka bagian jalur kendaraan dimana arus lalu
lintas kedua arah diperkenankan.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

148

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Selain

jalur-jalur

memiliki

tersebut,

bagian

jala

yang

badan

jala

diperkeras

juga
untuk

memenuhi keperluan :
1) Persimpangan jalan.
2) Bukaan median.
3) Taper untuk jalur tanjakan, jalur belok, dan
jalur percepatan/perlambatan.
4) Taper

pada

bagian

dimana

jumlah

jalur

berubah.
5) Perhentian bus dan perhentian darurat.
b. Jumlah Jalur
-

Jumlah jalur jalan dimana volume lalu lintas


rencana (DTV) yang lebih kecil dari nilai standar
perencanaan lalu lintas harian sebaiknya 2 jalur,
kecuali jumlah jalur belok dan jalur percepatan/
perlambatan.

Jumlah

jalur

pada

jalan-jalan

lainnya

tidak

termasuk dalam paragraph di atas sebaiknya 4


jalur atau lebih, jumlah jalur haarus ditentukan
oleh
untuk

perbandingan
perencanaan

antara
(DVT)

volume
dengan

kendaraan
Standar

Perencanaan LHR per jalur.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

149

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Jumlah jalur jalan pada umumnya berjumlah


genap, namun jumlah jalur ganjil dapat dilakukan
bila dibutuhkan tambahan jalur tanjakan untuk
kendaraan berat, atau dalam hal ini kapasitas
kemampuan jalan dianggap sama dengan jumlah
jalur tanpa jalur tambahan.

c. Potongan Melintang Trotoar


-

Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi kiri


bahu jalan atau sisi kiri jalur lalu lintas (bila
tersedia jalur parkir), namun bila ada jalur hijau
terletak di sebelah kiri bahu jalan maka trotoar
dibuat bersebelahan dengan jalur hijau.

Perlengkapa jalan harus terletak pada sisi dalam


trotoar.

Bila trotoar bersebelahan dengan tanah milik


perorangan maka pohon ditanam disisi dalam
trotoar, namun bila memiliki ruang cukup pohon
dapat ditanam disisi luar.

Selokan terbuka harus terletak di bagian luar


trotoar,

sedangkan

selokan

tertutup

dapat

dianggap sebagai trotoar bila tertutup dengan slab


beton.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

150

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Trotoar harus ditinggikan setinggi kerb.

PERENCANAAN DRAINASE
Dalam perencanaan drainase harus mengacu pada standar Perencanaan
Drainase Permukaan Jalan SNI No. 03-3424-1994 dan mengakomodasi
faktor keselamatan, pengendalian hanyutan/polusi peralatan dan lainlain.
Karena saluran drainase memegang peranan yang sangat penting dalam
hal mengumpulkan dan menyalurkan air permukaan dari daerah milik
jalan, sehingga perencanaannya harus mempunyai kapasitas yang cukup
(dengan periode ulang banjir 10 tahunan untuk jalan Nasional, 7
tahunan untuk jalan Kolektor).
Lokasi dan bentuk saluran drainase harus direncakan agar dapat
mencegah bahaya terhadap lalu lintas, tahan erosi, bersih terhadap
hanyutan/penumpukan

material

yang

akan

mengurangi

kapasitas

drainase. Perencanaan drainase meliputi :


1) Mempelajari pola aliran sesuai dengan kondisi terrain dan rencana
jalan
2) Mempelajari daerah tangkapan air yang ada pada drainase
3) Menampung dan mengalirkan air permukaan pada daerah manfaat
jalan
4) Merencanakan alinyemen saluran

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

151

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

5) Merencanakan saluran pada daerah kaki lereng timbunan untuk


menyalurkan air permukaan pada daerah sekitar menuju daerah
buangan
6) Merencanakan saluran di atas lereng bukit yang berfungsi untuk
mencegah rembesan air dari atas
7) Merencanakan saluran yang berfungsi untuk terjunan atau pematah
arus pada daerah curam.
KESELAMTAN LALU-LINTAS
Dalam

perencanaan

harus

dipertimbangkan

aspek

keselamatan

pengguna jalan, baik selama pelaksanaan pekerjaan maupun pasca


konstruksi. Perencanaan harus menjamin bahwa semua elemen yang
direncanakan memenuhi persyaratan desain yang ditetapkan dan sesuai
dengan kondisi lingkungan setempat.
STABILITAS BADAN JALAN
Perhitungan stabilas lereng dilakukan guna memberikan informasi
tentang berapa tinggi maksimum dan kemiringan lereng desain galian
yang aman dari keruntuhan.
Perhitungan stabilitas lereng diperoleh dari beberapa parameter tentang
sifat

fisik

tanah

setempat

yang

diperoleh

dari

contoh

tabung

(undisturbed sample) beberapa dari test triaxial atau direct Shear.


Parameter yang dihasilkan dari percobaan ini, yaitu C = kohesi tanah,
= sudut getar tanah dan Yw = berat isi tanah.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

152

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Perhitungan

angka

keamanan

lereng

(sudut

lereng

dan

tinggi

maksimum yang aman) dilakukan dengan menggunakan rumus dan


Grafik Taylor. Salah satu contoh rumus yang dapat digunakan adalah :
C
FK =
Na x yw x H
Dimana :
Na

= Angka Stabilitas Taylor

= Kohesi tanah (Ton/m2)

= Tinggi lapisan tanah (m)

yw

= Berat isi tanah basah (Ton/m3)

Fk

= Faktor keamanan (FK > 1,251 lereng aman)

Angka Stabilitas (Na) di dapat dengan memplot nilai sudut geser dalam
tanah () dengan sudut lereng desain () kedalam grafik Taylor
(terlampir).

Faktor lereng (F) digunakan asumsi :


FK > 1,251 lereng aman
FK = 1,251 lereng dalam keseimbangan
FK < 1,251 lereng tidak aman
Kondisi stabilitas badan jalan diidentifikasi dari gejala struktur geologi
yang ada, jenis dan karakteristik batuan dan kondisi lereng.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

153

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Pengkajian stabilitas badan jalan harus mencakup 3 (tiga) hal, yaitu :


a. Gerakan tanah atau longsoran yang sudah ada dilapangan
b. Perkiraan longsoran yang mungkin terjadi (hasil analisis) akibat
jenis, arah dan struktur lapisan batuan, dan
c. Longsoran yang dapat terjadi akibat pembangunan jalan.
d. Untuk ketiga hal diatas harus diidentifikasi jenis gerakan, faktor
penyebabnya, dan usaha-usaha penanggulangannya.

PERENCANAAN PERKERASAN
Pemilihan tipe material perkerasan didasarkan pada pertimbangan dari
segi ekonomi, kondisi setempat, tingkat kebutuhan, kemampuan
pelaksanaan dan syarat teknis lainnya.
-

Perhitugan tebal perkerasan lentur dilakukan dengan Metode


Analisa Komponen Bina Marga.

Perhitungan tebal perkerasan dengan cara AASHTO 1986, AASHTO


1993, Road Note 31 sebagai desain pembanding dengan umur
rencana 10 dan 20 tahun dan Metode Analisa Komponen SNI 19321989F.

RDS Versi 5.01


Selain

penentuan

tebal

perkerasan

perlu

dilengkapi

dengan

bangunan pelengkap antara lain : jembatan baru/pelebaran,


tembok penahan tanah, Box Culvert dan lain-lain.
a. Analisa Lalu Lintas

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

154

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Penyedia jasa harus melakukan analisis data lalu-lintas (LHR yang


dikonversi kedalam nilai ESA) sampai akhir umur rencana, umur
rencana untuk pekerjaan
Pembangunan/Peningkatan jalan selama 10 tahun, sedangkan untuk
pekerjaan Pemeliharaan Berkala jalan selama 5 tahun.
b. Analisa Lendutan Bali dan/atau CBR
Lendutan balik atau CBR rencana, ditentukan dengan menggunakan
program komputer yang tersedia, yaitu untuk :
Lendutan balik (D) ditentukan berdasarkan formula :
D = x + 1.0 s
Dimana :
D = lendutan balik rencana pada section tertentu
x = lendutan balik rata-rata pada section tertentu
s = standar deviasi pada section tertentu
Nilai CBR rencana ditentukan dengan formulir :
CBR (disain) = CBR (rata-rata) 1 Standar Deviasi

Penentuan unique section, yaitu suatu seksi jalan yang mempunyai


karakteristik kurang lebih seragam dalam beberapa variabel desain
seperti :
Lebar perkerasan yang ada
Lendutan balik rencana atau nilai CBR rencana
Nilai kekasaran permukaan (IRI)
Nilai beban lalu-lintas (ADT-ESA)
Perubahan camber/kemiringan melintang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

155

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Mempelajari kemungkinan pemakaian tipe bahan perkerasan yang


sesuai untuk suatu daerah tertentu.
Tipe perkerasan yang diijinkan untuk digunakan dalam pekerjaan ini
adalah type perkerasan yang sekarang dipakai Dinas Pekerjaan
Umum .

PERENCANAAN BANGUNAN PELENGKAP DAN PENGAMAN JALAN


Salah

satu

rujukan

yang

dipakai

untuk

perencanaan

bangunan

pelengkap dan pengaman jalan dalam pekerjaan ini adalah :


a. Pedoman Pemasangan Rambu dan Marka Jalan Perkotaan Undang
undang Lalu-lintas No. 14 Tahun 1992
b. Standar Box Culvert
c. Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan

1.12. Penggambaran Final Design


Penggambaran Alinyemen Vertikal dan Horizontal disesuaikan dengan
jenis pekerjaan/kriteria penanganan sebagai berikut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

156

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

KETERANGAN :
A

= Perencanaan Pembangunan Jalan Baru.

= Perencanaan Peningkatan Jalan dengan pelebaran jalan > 3.00 m


(1 lajur) atau perbaikan geometric.

= Perencanaan Peningkatan Jalan.

Gambar Rencana dibuat jelas dan lengkap dengan memperhatikan halhal sebagai berikut :
Rencana diplot diatas situasi (Lay Out) dengan letak jalan lama dan
baru pada daerahcukup lebar sehingga jelas kedudukan jalan
tersebut, skala 1:50.000
Gambar center line jalan skala 1: 5000 dolengkapi dengan detail
jalur poligon serta koordinat dari semua patok pengukuran (BM).
Gambar situasi dibuat dengan perbandingan yang proposional,
dengan menampilkan informasi umum disekitar jalan tersebut.
Potongan penampang memanjang,skala 1 : 1.000 untuk horizontal
dan 1 : 100 untuk vertikal.
Potongan penampang melintang, skala 1 : 100 untuk horizontal
sedangkan 1 : 50 untuk vertikal denagan stationing setiap interval
25 m di tikungan dan 50 m di bagian lurus.
Detail persimpangan (Intersection), skala 1 : 500.
Ukuran huruf dengan tinggi minimum 4 mm dan harus jelas.
Susunan Gambar Rencana sebagai berikut :
Sampul luar (cover) dan sampul dalam.
Daftar Isi
Lembar judul yang memuat layout dengan skala 1 : 50.000.
Peta Lokasi Pekerjaan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

157

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Peta Quarry
Lembar singkatan dan simbol.
Lembar daftar volume pekerjaan.
Typical Cross Section.
Gambar-gambar detail persimpangan (Intersection).
Gambar rencana trase jalan/alinyemen horizontal dan alinyemen
vertikal.
Gambar detail potongan melintang (cross section)
Gambar-gambar struktur jembatan.

1.12.1. Perhitungan Volume dan Perkiraan Biaya.


Perhitungan

Volume

Panduan Anlisa

dan

Perkiraan

Harga Satuan No.

Biaya

mengacu

pada

028/T/BM/1995 yang

diterbitkan oleh Ditjen. Bina Marga.


Perhitungan Volume
Setiap ruas jalan yang direncanakan dihitung volume
pekerjaan untuk tiap bagian sesuai dengan masingmasing

kontrak

pelaksanaannya

dan

dikelompokkan

dalam beberapa pekerjaan utama.


Perkiraan Biaya
Analisa harga satuan menggunakan Metode Bina Marga
berdasarkan faktor-faktor :
-

material

peralatan

upah

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

158

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

sosial

pajak

over head

keuntungan yang berlaku di daerah setempat.

Perkiraan

biaya

dibandingkan

yang

dengan

diperoleh

dari

proyek-proyek

analisa

ini

sebelumnya

di

daerah sekitar lokasi.

PELAPORAN
Kegiatan ini bertujuan untuk melengkapi data perencanaan serta
sebagai bahan pelaksanaan, setiap tenaga ahli diwajibkan untuk
membuat laporan secara detail dan lengkap.
Jenis laporan berikut ini harus diserahkan kepada pengguna jasa,
masing-masing 1 (satu) buku asli dan 4 (empat) buku copy, dibuat
dalam bahasa Indonesia dengan ukuran kertas A4, kecuali gambargambar rencana menggunakan kertas A3.

Jenis-jenis laporan antara lain :


1. Laporan Akhir
laporan

ini

berisi

rangkuman

semua

kegiatan

yang

telah

dilaksanakan, pengolahan data, perhitungan perencanaan beserta


rumus-rumus dan asumsi yang digunakan dalam pekerjaan ini.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

159

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Laporan harus dibuat dan diserahkan sebelum Penyedia Jasa


mengakhiri tugasnya termasuk CD yang berisi seluruh laporan
tersebut.

2. Laporan Final Engineering


Laporan ini dibuat masing-masing ruas jalan, yang berisi antara lain
:
a. Laporan Perencanaan Perkerasan Jalan, laporan ini terdiri dari :
-

daftar isi

peta lokasi proyek

data lapangan hasil survey perkerasan jalan, dan data lalulintas

uraian yang berisi

analisa semua data untuk keperluan

perencanaan dan perhitungan tebal perkerasan jalan.

b. Laporan Pengukuran Hidrologi dan Drainase, Laporan ini terdiri


dari :
Daftar isi
Data proyek
Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi
proyek terhadap kota besar terdekat, pos pencatat curah hujan
Analisis/perhitungan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

160

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Penentuan dimensi dan jenis bangunan air/pelengkap jalan


Daftar lokasi bangunan air/pelengkap jalan yang direncanakan.

c. Laporan Pengukuran Topographi


Laporan topographi mencakup sekurang-kurangnya pembahasan
mengenai
hal-hal berikut yang terdiri dari :
Daftar isi
Data proyek
Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi
proyek terhadap kota besar terdekat
Kegiatan perintisan untuk pengukuran
Kegiatan pengukuran titik kontrol horisontal
Kegiatan pengukuran titik kontrol vertikal
Kegiatan pengukuran situasi
Kgiatan pengukuran penampang melintang
Kegiatan pengukuran khusus (bila ada)
Perhitungan dan penggambaran
Peralatan ukur yang digunakan berikut nilai koreksinya
Dokumentasi foto (ukuran 3R) mengenai kegiatan pengukuran
topographi termasuk kegiatan pencetakan dan pemasangan BM,

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

161

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

dan semua obyek yang dianggap penting untuk keperluan


perencanaan jalan.
Deskripsi BM (sebagai lampiran)
Data ukur hasil ploting dan foto harus diserahkan dalam bentuk
CD.

d. Laporan Penyelidikan Tanah dan Material


Laporan

penyelidikan

Geoteknik

harus

tanah

mencakup

termasuk

laporan

geologi

sekurang-kurangnya

dan

pembahasan

mengenai hal-hal berikut yang terdiri dari :


Daftar isi
Data proyek
Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi
proyek terhadap kota besar terdekat
Kondisi morfologi sepanjang lokasi
Kondisi badan jalan yang ada sepanjang trase jalan
Batuan penyusun (stratigrafi) sepanjang trase jalan. Untuk peta
penyebaran batuan disiapkan dalam kertas HVS ukuran A3 dan
diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi
notasi
Hasil akhir pemeriksan laboratorium dijadikan acuan untuk
perbaikan hasil diskripsi secara visual
Penyebaran jenis tanah sepanjang trase jalan. Untuk peta
penyebaran tanah disiapkan dalam kertas kalkir ukuran A3 dan
diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi
notasi.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

162

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Analisa perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng


Analisis longsoran sepanjang trase jalan
Sumber bahan konstruksi jalan (jenisnya dan perkiraan volume
cadangan)
Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar/patahan dsb)
beserta lokasinya
Rekomendasi.

e. Laporan Perhitungan Kuantitas dan Biaya


Laporan ini berisi perkiraan kuantitas dan biaya yang dihitung
untuk tiap item
pekerjaan

yang

kemudian

digabungkan

sebagai

kesimpulan

perkiraan biaya.
Laporan ini terdiri dari :
Daftar isi
Peta lokasi proyek
Daftar dimensi perkerasan dan bangunan pelengkap jalan
Perhitungan perkiraan kuantitas dibuat per kilometer
Analisa satuan harga untuk setiap item pekerjaan yang ada
Perkiraan biaya dibuat untuk setiap paket pekerjaan/setiap ruas
jalan.
f. Laporan Bench Mark.

3. Dokumen Tender

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

163

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Dokumen Lelang dibuat untuk masing-masing ruas jalan / jembatan


dan isinya berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Kimpraswil
No. 257/KPTS/M/2004 tanggal 29 April 2004, tentang Standar dan
Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi.

Dokumen tender ini dibuat untuk masing-masing ruas. Dokumen


Tender perlu disiapkan Konsultan antara lain :
BUKU 1 : BAB I Instruksi Kepada Peserta Lelang
BAB II Data Lelang
BAB

III

Bentuk

Surat

Penawaran,

Lampiran,

Surat

Penunjukkan, Surat Perjanjian


BAB IV Syarat-syarat Umum Kontrak
BAB V Syarat-syarat Khusus Kontrak
BAB VIII Daftar Kuantitas
BAB IX Bentuk-bentuk Jaminan
BUKU 2 : BAB VI Spesifikasi Teknis
BUKU 3 : BAB VII Gambar -gambar

4. Foto-Foto Dokumentasi
Penyedia Jasa menyerahkan foto-foto dokumentasi lengkap dengan
keterangannya dalam bentuk buku/album yang sudah dijilid rapi
dan CD.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

164

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

Secara umum bagian-bagian situasi yang perlu diambil fotonya,


antara lain sebagai berikut :
Kondisi jalan dan jembatan pada saat survey pendahuluan
Daerah-daerah kritis (longsor, potensi longsor, banjir dan
sebagainya
Pelaksanaan Survey topographi dan setiap BM yang terpasang
Lokasi lahan yang perlu dibebaskan (bila ada)
Loksi quarry/sumber material.

5. Rencana Mutu Kontrak (RMK)


Tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari kalender setelah dimulainya
pelaksanaan

jasa

konsultansi

harus

menyerahkan

(lima)

rangkap/buku laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK) ditandatangani


oleh Direktur Perusahaan Jasa Konsultan. Laporan Rencana Mutu
Kontrak (RMK) isinya melaporkan :
a. Informasi tentang pengguna dan penyedia jasa :
Identitas Proyek
Lingkup Pekerjaan
Jangka Waktu Pelaksanaan
Denah Lokasi Pekerjaan
Informasi Pemilik Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa
b. Organisasi Kerja Pengguna dan Penyedia Jasa

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

165

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

c. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab masing masing personil


konsultan
d. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
e. Instruksi Kerja (Format)
Format Format Survey
Format Laporan Mingguan
Format Laporan Bulanan
f. Bagan Alir kegiatan pelaksanaan pekerjaan
g. Daftar Bahan dan Peralatan
h. Penggunaan Uang Muka (Down Payment )
i. Jadual Kegiatan

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

166

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

6.1.

Umum
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan adalah bagian dari tahapan
yang tersusun secara rapi dan tepat, karena jika ada
masalah yang tidak tertangani dalam masa pelaksanaan
harus menjadi prioritas yang lebih dahulu di jadwalkan
sedari awal.
Untuk

Jadwal

Pelaksanaan

Kegiatan

kami

sampaikan

sebagai berikut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

167

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

168

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

NO.

KEGIATAN

A.
1
2
3
4
5

Tahap awal dan persiapan


Persiapan Tenaga Ahli
Pemahaman KAK
Penyusunan desain dan metodologi penyusunan DED Jembatan
Penyusunan instrument penelitian tentang Jembatan
Penentuan lokasi pengamatan lokasi dan lahan eksisting

B.

Tahap Survey & Pengumpulan Data


Survey Pendahuluan
Pengumpulan Data Sekunder
Review terhadap studi yang ada
Identifikasi peraturan, standar, kebijakan pemerintah tentang Jembatan
Wawancara
FGD (Forum Group Discusion)
Tahap Kompilasi Dan Analisis Data
Analisis data topografi dan hidrologi
Analisis data geoteknik
Analisis kondisi sosial-kemasyarakatan
Tahap Formulasi Action Plan dalam bentuk Rekomendasi
Tahap Penyusunan Laporan
Laporan Pendahuluan
Laporan Antara
Laporan Draft Akhir
Laporan Akhir
Laporan Teknis (Keluaran)
Laporan Perencanaan
Laporan Perkiraan kwantitas dan biaya
Laporan Survey Inventarisasi Jembatan
Laporan Hidrologi
Laporan Topografi
Laporan Environmental
Pembuatan RMK
Pembuatan Dokumen Pelelangan

1
2
3
4
5
6
C.
1
2
3
D.
E.
1
2
3
4
F.
1
2
3
4
5
6
G.
H.

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

Bulan ke-1
2
3

169

Bulan ke-2
6
7

Bulan ke-3
10
11

12

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

G.1. Komposisi Tim Dan Penugasan


Dalam bagian ini seluruh tim yang ada dalam pelaksanaan kegiatan
mempunyai wewenang dan tanggungjawab terhadap segala bentuk
hasil dan resume dalam menentukan keseluruhan produk kerja yang
dihasilkan dan diuraikan dalam tabel sebagai berikut :

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

170

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

G.2. Jadwal Penugasan Tenaga Ahli


NO.

POSISI PENUGASAN

Tenaga Ahli
Team Leader
Ahli Teknik Struktur
Ahli Jembatan
Ahli Hidrologi
Sub Jumlah A
B.
Tenaga Pendukung
1 Sekretaris
2 Surveyor
3 Juru Gambar
Sub Jumlah B
A.
1
2
3
4

NAMA PERSONIL

Ir. Yudi Karyana, MT


Aminudin, ST
Yuli Mardiana., ST
Ir. Tatang Surya Permana

3
3
3
3
12

Tobe name
Tobe name
Tobe name

3
3
3
9

JUMLAH TOTAL A + B

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

WAKTU
PENUGASAN

Bulan ke-1
1
2
3
4

21

171

Bulan ke-2
1
2
3
4

Bulan ke-3
1
2
3

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

TERLAMPIR

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

172

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

TERLAMPIR

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

173

Usulan Teknis :
Pembuatan DED Jembatan Kedung Lesung Kec. Taktakan
Kota Serang

PT. SKETSA KARYA MANDIRI

174