Anda di halaman 1dari 16

A.

Latar Belakang
Proses metabolisme mengasilkan senyawa-senyawa yang sangat diperlukan
oleh tumbuhan, baik itu berupa metabolit primer maupun metabolit sekunder.
Metabolit primer digunakan sebagai bahan penyusun struktur organel atau bagianbagian dari sel lainnya. Sedangkan metabolit sekunder digunakan oleh tumbuhan
untuk melindungi tumbuhan dari serangga-serangga, bakteri, jamur, dan jenis
pathogen-patogen lainnya.
Dalam proses metabolisme, terjadi dua rangkaian reaksi yaitu reaksi
anabolisme dan reaksi katabolisme. Kedua rangkaian reaksi metabolisme tersebut
saling berkaitan satu sama lain, energi yang dibebaskan dari rangkaian reaksi
katabolisme digunakan untuk menggerakkan rangkaian reaksi anabolisme.
(Ismed, 2013).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah mekanisme metabolisme lipid pada tumbuhan ?
2. Bagaimanakah proses terbentuknya lipid pada tumbuhan ?

C. Tujuan
1. Mengetahui mekanisme metabolisme lipid pada tumbuhan
2. Mengetahui proses terbentuknya lipid pada tumbuhan

BAB II. PEMBAHASAN

Metabolisme merupakan sekumpulan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di


dalam setiap sel hidup dan berlangsung secara terus-menerus untuk mensintesis
senyawa-senyawa organik dalam tumbuhan. Hasil dari proses metabolisme
disebut metabolit. Proses metabolisme menghasilkan senyawa-senyawa yang
sangat diperlukan oleh tumbuhan, baik itu berupa metabolit primer maupun
metabolit sekunder.
Metabolit primer digunakan sebagai bahan penyusun struktur organel atau
bagian-bagian dari sel lainnya sedangkan metabolit sekunder digunakan oleh
tumbuhan untuk melindungi tumbuhan dari serangga-serangga, bakteri, jamur,
dan jenis patogen-patogen lainnya. Dalam proses metabolisme, terjadi dua
rangkaian reaksi yaitu reaksi anabolisme dan reaksi katabolisme. Kedua rangkaian
reaksi metabolisme tersebut saling berkaitan satu sama lain, energi yang
dibebaskan dari rangkaian reaksi katabolisme digunakan untuk menggerakkan
rangkaian reaksi anabolisme (Ismed,2013). Klasifikasi metabolisme terbagi
menjadi dua, yakni sebagai berikut:
1. Katabolisme
Katabolisme merupakan proses penguraian zat untuk membebaskan energi
kimia yang tersimpan dalam senyawa organik tersebut. Saat molekul terurai
menjadi molekul yang lebih kecil terjadi pelepasan energi sehingga terbentuk
energi panas. Bila pada suatu reaksi dilepaskan energi, reaksinya disebut reaksi
eksergonik. Reaksi semacam itu disebut juga reaksi eksoterm.
Katabolisme merupakan reaksi perombakan senyawa dengan molekul
kompleks untuk membentuk senyawa-senyawa dengan molekul yang lebih
sederhana, serta menghasilkan energi. Proses katabolisme juga disebut sebagai
proses pelepasan energi.
2. Anabolisme
Anabolisme merupakan reaksi kebalikan dari katabolisme. Reaksi
anabolisme membentuk senyawa dengan molekul-molekul sederhana menjadi

senyawa dengan molekul yang lebih kompleks. Proses anabolisme ini


membutuhkan energi, yang biasanya diperoleh dari energi yang dihasilkan pada
proses katabolisme.
Pada kloroplas terjadi transformasi energi, yaitu dari energi cahaya sebagai
energi kinetik berubah menjadi energi kimia sebagai energi potensial, berupa
ikatan senyawa organik pada glukosa. Dengan bantuan enzim-enzim, proses
tersebut berlangsung cepat dan efisien. Bila dalam suatu reaksi memerlukan
energi dalam bentuk panas reaksinya disebut reaksi endergonik. Reaksi semacam
itu disebut reaksi endoterm.
Kedua rangkaian reaksi tersebut berlangsung secara sistematis dan teratur.
Proses kedua rangkaian reaksi metabolisme tersebut dapat dipercepat dengan
adanya suatu katalisator berupa enzim.
2.1 Metabolisme Pada Tumbuhan
Pada tumbuhan ada dua metabolisme yaitu metabolisme primer dan
sekunder. Proses metabolisme primer menghasilkan senyawa-senyawa yang
digunakan dalam proses biosintesis sehari-hari, yaitu karbohidrat, protein, lemak
dan asam nukleat. Sebaliknya proses metabolisme sekunder menghasilkan
senyawa dengan aktivitas biologis tertentu seperti alkaloid, terpenoid, flavonoid,
tannin dan steroid, sedangkan metabolit sekunder tidak memiliki fungsi khusus
dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Senyawa-senyawa tersebut lebih
dibutuhkan untuk eksistensi kelangsungan hidup tanaman itu di alam.
Fungsi utama metabolit sekunder adalah melindungi tanaman dari
serangan mikroba, contohnya tanaman akan membentuk fitoaleksin, senyawa
khusus yang disintesis di sekitar sel yang terinfeksi, mempertahankan diri dari
gangguan predator, untuk melawan gangguan herbivora yaitu dengan membentuk
senyawa toksik yang menyebabkannya menjadi beracun, perlindungan terhadap
lingkungan, misalnya antosianin diproduksi untuk melindungi tanaman dari
terpaan sinar UV, memenangkan persaingan dengan cara menghasilkan senyawa
yang bersifat alelopati, beracun terhadap tanaman lain di sekitarnya, sebagai agen
atraktan, menarik kehadiran serangga dan herbivora lain untuk membantu

penyebaran biji. Senyawa tersebut berupa pigmen yang membuat organ


reproduksi berwarna cerah (Hanani E, 2010).
2.1.1

Lipid
Lipid adalah golongan senyawa organik yang sangat heterogen yang

menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipid merupakan golongan senyawa


organik kedua yang menjadi sumber makanan, merupakan kira-kira 40% dari
makanan yang dimakan setiap hari. Lipida mempunyai sifat umum sebagai
berikut:
1. Tidak larut dalam air
2. Larut dalam pelarut organik seperti benzena, eter, aseton, kloroform, dan
karbontetraklorida.
3. Mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, kadang-kadang
juga mengandung nitrogen dan fosfor bila dihidrolisis akan menghasilkan
asam lemak.
Lipid disusun oleh sejumlah senyawa lemak yang tidak larut dalam air
tetapi larut dalam pelarut organik seperti eter, aseton, kloroform dan benzena.
Senyawa yang termasuk ke dalam lipid adalah monogliserida, digliserida,
fosfatida, serebrosida, sterol, terpen, asam lemak dll (Poedjiadi 1994; Zamora,
2005). Senyawa lipid dapat dibagi dalam 3 golongan besar yaitu :
1. Lipida Sederhana
Minyak dan lemak termasuk dalam golongan lipida sederhana. Minyak
dan lemak yang telah dipisahkan dari jaringan asalnya mengandung sejumlah
kecil komponen selain trigliserida, yaitu: lipida kompleks (lesitin, sephalin,
fosfatida lainnya, glikolipida), sterol yang berada dalam keadaan bebas atau
terikat dengan asam lemak, asam lemak bebas, lilin, pigmen yang larut dalam
lemak, dan hidrokarbon. Komponen tersebut mempengaruhi warna dan flavor
produk. Lemak dan minyak terdiri dari trigliserida campuran, yang
merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Minyak nabati
terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan
sayur-sayuran.

Secara kimia yang diartikan sebagai lemak adalah trigliserida dari gliserol
dan asam lemak. Berdasarkan bentuk strukturnya trigliserida dapat dipandang
sebagai hasil kondensasi ester dari satu molekul gliseril dengan tiga molekul
asam lemak, sehingga senyawa ini sering juga disebut sebagai triasilgliserol.
Jika ketiga asam lemak penyusun lemak itu sama disebut trigliserida paling
sederhana. Tetapi jika ketiga asam lemak tersebut tidak sama disebut dengan
trigliserida campuran. Pada umumnya trigliserida alam mengandung lebih
dari satu jenis asam lemak. Trigliserida jika dihidrolisis akan menghasilkan 3
molekul asam lemak rantai panjang dan 1 molekul gliserol.
2. Lipida Majemuk
Lipida majemuk jika dihidrolisis akan menghasilkan gliserol , asam lemak
dan zat lain. Secara umum lipida kompleks dikelompokkan menjadi dua,
yaitu fosfolipida dan glikolipida. Fosfolipida adalah suatu lipida yang jika
dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak, gliserol, asam fosfat serta
senyawa nitrogen. Contoh senyawa yang termasuk dalam golongan ini adalah
lesitin dan sephalin.
3. Sterol
Sterol sering ditemukan bersama-sama dengan lemak. Sterol dapat
dipisahkan dari lemak setelah penyabunan. Oleh karena sterol tidak
tersabunkan maka senyawa ini terdapat dalam residu. Lebih dari 30 jenis
sterol telah dijumpai di alam, terdapat pada jaringan binatang dan tumbuhan,
ragi, jamur, tetapi jarang ditemukan dalam bakteri. Persenyawaan sterol yang
terdapat dalam minyak terdiri dari kolesterol dan fitostrerol. Senyawa
kolesterol umumnya terdapat dalam lemak hewani, sedangkan fitosterol
terdapat dalam minyak nabati.

2.2 Proses Pembentukan Minyak Pada Tumbuhan


Kandungan minyak, baik pada tanaman, disintesis dari jalur biokimia yang
sama yakni biosintesis asam lemak. Biosintesis asam lemak ini tidak jauh berbeda
antara satu tanaman dengan tanaman lainnya, kecuali untuk jalur-jalur alternatif
pembentukan asam lemak pada kondisi tertentu. Pembentukan minyak pada
tanaman selalu ditandai dengan adanya akumulasi senyawa triasilgliserol (TAG)

pada bagian-bagian tanaman, seperti biji dan buah. Berawal dari senyawa TAG
inilah, berbagai bentuk lemak yang akan dirubah menjadi minyak disintesis.
Bentuk lemak yang dihasilkan masing-masing tanaman akan berbeda-beda
tergantung pada strukturnya yang didasarkan pada panjang rantai dan jumlah
ikatan tak jenuhnya.
Senyawa TAG umumnya ditemukan sebagai cadangan lemak atau minyak
dan tergolong sebagai lipid non-polar (netral), yang membedakannya dari lipid
membran polar. TAG tersusun atas tiga rantai asam lemak yang teresterifikasi
melalui gugus hidroksil pada tulang punggung gliserolnya. Biosintesis TAG pada
tanaman berlangsung di tiga tempat, yakni plastida, mitokondria, dan sistem
endomembran. Meski

substratnya

dapat

diganti, namun

masing-masing

kompartemen di sel tanaman ini memiliki jalur sintesis TAG yang independen.
Salah satu jalur biokimia yang dikenal dan terkait dengan biosintesis TAG pada
tanaman adalah jalur Kennedy. Jalur siklus Kennedy ini terdiri atas sejumlah
tahapan asilasi serta penambahan gliserol-3-fosfat pada masing-masing gugus
hidroksil dari senyawa gliserol tersebut (Kennedy, 1961 cit Yu et al., 2011).
Tubuh lipid merupakan struktur lapisan tunggal yang diselubungi oleh membran
dan protein yang melekat pada organel dengan diameter sekitar 0.2-2.5 m.
Tubuh lipid ini umumnya terletak di sitoplasma pada hampir semua sel tanaman
(Murphy, 2001 cit Yu et al., 2011). Tubuh lipid pada tanaman tidak hanya
berperan sebagai penyimpan cadangan lemak seluler, namun juga menyediakan
energi simpan yang efektif selama proses perkecambahan benih. Plastoglobula
adalah tubuh lipid yang ditemukan di dalam plastida yang mengandung TAG,
senyawa metabolit dari golongan isoprenoid, dan protein (Brehelin et al., 2007 cit
Yu et al., 2011).
Senyawa triasilgliserol yang disimpan di dalam biji dan buah tanaman
disintesis dari hasil fotosintat berupa molekul gula yang selanjutnya dikonversi
menjadi sejumlah prekursor yang dibutuhkan dalam biosintesis asam lemak.
Glikolisis, yang merupakan bagian dari jalur biosintesis karbohidrat, memainkan
peranan penting dalam proses konversi ini (Gambar 1). Senyawa piruvat yang
dihasilkan dari proses glikolisis akan dikonversi menjadi asetil ko-A oleh

kompleks enzim piruvat dehidrogenase yang terdapat di plastida (Durrett et al.,


2008).

Gambar 1. Skema proses Metabolisme pada tumbuhan. (Ophardt,2003)

Asetil ko-A yang dihasilkan dari piruvat selanjutnya diaktifkan menjadi


malonil ko-A yang dikatalis oleh kompleks enzim asetil ko-A karboksilase (ACC)
di plastida (Nikolau et al., 2003). Malonil ko-A yang dihasilkan oleh ACC
menyusun donor karbon untuk masing-masing siklus lintasan biosintesis asam
lemak (Gambar 2). Sebelum memasuki proses biosintesisnya, gugus malonil
ditransfer dari ko-A ke kofaktor protein yang disebut acyl carrier protein (ACP),
yang merupakan substrat utama komplek enzim yang mensintesis asam lemak.
Proses transfer ini dikatalis oleh enzim malonil ko-A:ACP S-maloniltransferase
(MAT).
Asam lemak dihasilkan melalui kompleks multisubunit yang dapat dengan
mudah dipisahkan yang tersusun atas enzim monofungsional yang dikenal dengan
enzim fatty acid sinthase (FAS). FAS menggunakan asetil ko-A sebagai unit awal
dan malonil-ACP sebagai elongator. Malonil thioester selanjutnya memasuki
rangkaian reaksi kondensasi dengan asetil ko-A dan akseptor asil-ACP. Reaksi
kondensasi awal dikatalis oleh enzim 3-ketoasil-ACP sintase tipe III (KAS III)

dan menghasilkan 4:0-ACP. Kondensasi selanjutnya dikatalis oleh KAS I


(isoform KAS B) yang dapat menghasilkan 16:0-ACP dan KAS II (KAS A) yang
akhirnya memperpanjang rantai 16:0-ACP menjadi 18:0-ACP (Pidkowich et al.,
2007).

Gambar 2. Skema lintasan biosintesis lipid pada tanaman.

Reaksi tambahan dibutuhkan setelah masing-masing tahapan kondensasi


untuk memperoleh asam lemak jenuh dengan dua karbon yang lebih panjang
dibandingkan saat siklus awal yang dikatalis oleh sejumlah enzim seperti 3ketoasil-ACP-reduktase (KAR), hidroksiasil-ACP-dehidratase, dan enoil-ACPreduktase (ENR) (Mou et al., 2000 cit Baud dan Lepiniec, 2010). Selama proses
sintesisnya, gugus asil dihidrolisis oleh asil-ACP-thioesterase (Fat A dan Fat B)

yang melepaskan asam lemak bebas. Tipe FatA melepaskan oleat dari ACP,
sedangkan thioesterase FatB aktif dengan asil-ACP jenuh dan tidak jenuh (Mayer
dan Shanklin, 2007). Asam lemak selanjutnya diaktifkan menjadi ester ko-A di
bagian membran luar dari kloroplas oleh rantai panjang asil-koA-sintetase
(LACS) sebelum dibawa ke retikulum endoplasma (Baud dan Lepiniec, 2010).
Kompleks FAS umumnya menghasilkan 18:0-ACP. Hanya saja, struktur
stearat (18:0) ini jarang sekali dibawa dari plastida sehingga struktur ini jarang
terakumulasi di dalam buah atau biji. Struktur asam lemak yang dibawa dari
plastida ke RE sebagian besar berbentuk palmitat (16:0). Struktur 16:0-ACP inilah
yang dilepaskan oleh mesin FAS sebelum dikonversi menjadi 18:0-ACP.
Malonil-koA di sitosol digunakan untuk sintesis VLCFA (very-long-chain
fatty acids), yakni asam lemak dengan 20 atau lebih atom karbon. VLCFA
terdapat di sel tanaman dalam jumlah yang sangat banyak terutama pada
permukaan daun dalam bentuk lapisan lilin dan pada komponen kutilkula dimana
senyawa ini berperan dalam proses pertahanan terhadap xenobiotik (Yu et al.,
2011). VLCFA adalah prekursor VLC-PUFA yang sangat penting bagi kesehatan
dan gizi manusia (Das, 2006 cit Yu et al., 2011) yang hanya dapat dihasilkan oleh
tanaman tingkat tinggi.
Setelah dipisahkan dari ACP, asam lemak bebas dibawa dari plastida dan
dikonversi menjadi asil ko-A. Asam lemak yang baru ini dapat diolah menjadi
TAG pada biji dan buah yang sedang berkembang melalui beberapa cara, salah
satunya melalui jalur Kennedy. Melalui jalur ini, dua rantai asil diesterifikasi dari
asil ko-A menjadi gliserol-3-fosfat untuk membentuk asam fosfatidik (PA), yang
selanjutnya beberapa senyawa fosfat tersebut akan dibuang sehingga terbentuk
diasilgliserol (DAG). Dengan menggunakan asil ko-A sebagai donor asil, enzim
diasilgliserol asiltransferase (DAGT) akan mengkonversi DAG menjadi TAG
(Durrett et al., 2008).
Sebagai alternatif dari jalur Kennedy, asam lemak baru juga dapat
bergabung pertama kali dengan lipid membran pada kantung plastida dan atau
pada retikulum endoplasma. DAG dan fosfatidilkolin (PC) dapat saling bertukar
tempat melalui aktivitas enzim kolinfosfotransferase, yang menggambarkan jalur
khusus bagi laju asam lemak ke dalam dan ke luar PC. Beberapa hasil penelitian

memperlihatkan adanya bukti yang menyatakan bahwa fungsi PC sebagai


senyawa intermediat sangat penting dalam mendorong pembentukan TAG,
terutama yang berasal dari tipe PUFA (polyunsaturated fatty acid). Menurut
laporan Ohlrogge dan Jaworski (1997) dalam Durrett et al. (2008), diketahui
bahwa adanya tambahan proses desaturasi oleat (18:1) yang berlangsung ketika
oleat ini diesterifikasi menjadi PC. Hasil studi lainnya juga menunjukkan bahwa
asam lemak yang baru dihasilkan dapat langsung diolah menjadi PC melalui
mekanisme editing asil, dibandingkan melalui senyawa intermediat PA dan DAG
(Bates et al., 2007).
Rantai asil dari PC dapat diolah menjadi TAG melalui beberapa cara,
yaitu:
(a) konversi balik ke DAG dan
(b) melalui proses konversi DAG ke TAG dengan menggunakan PC yang
dikatalis oleh enzim fosfolipid diasilgliserol asiltransferase (PDAT)
(Dahlqvist et al., 2000).
Palmitat (16:0) dan stearat (18:0) adalah produk utama dari aktivitas enzim
sintase asam lemak di plastida. Namun, asam lemak utama yang dibutuhkan oleh
tanaman berupa senyawa C18, seperti oleat (18:19), linoleat (18:29, 12) dan
linolenat (18:39, 12, 15). Ketiga jenis asam lemak ini berperan sebagai
penyusun. Selain ketiga asam lemak ini, terdapat berbagai asam lemak jenis lain
yang memiliki rantai karbon yang lebih panjang, jumlah ikatan ganda tak jenuh
yang lebih banyak, dan jumlah gugus hidroksil yang lebih banyak. Variasi asam
lemak ini akan berkontribusi dalam munculnya mekanisme modifikasi cadangan
lemak lain dalam sel tanaman (Aitzetmullera et al., 2003 cit Yu et al., 2011).
Modifikasi asam lemak selama biosintesis lemak pada tanaman merupakan suatu
proses krusial dalam membentuk cadangan asam lemak yang dibutuhkan oleh
tubuh tanaman itu sendiri.
2.3 Jalur Sintesis TAG
Ketika TAG telah terbentuk di dalam RE, tepatnya di dalam sub-domain
khusus organel (Shockey et al., 2006 cit Baud dan Lepiniec, 2010), TAG
selanjutnya dibawa dan diakumulasikan ke struktur sub-seluler yang dikenal
sebagai tubuh lipid (lipid body) atau tubuh minyak (oil body). Tubuh minyak

merupakan organel berbentuk lonjong, dengan diameter antara 0.2-2.5 m


(tergantung pada spesies tanamannya), yang tersusun atas sebuah matriks TAG
yang dikelilingi oleh sebuah lapisan tunggal fosfolipid. Pada lapisan ini, terdapat
rantai alifatik yang berorientasi ke TAG yang berada di lumen dan gugus fosfat
yang berada di sitosol (Yatsu dan Jacks, 1972 cit Baud dan Lepiniec, 2010).
Tubuh minyak ini tumbuh dari domain mikro di dalam RE (Gambar. 3) (Baud dan
Lepiniec, 2010).

Gambar. 3 Jalur Sintesis TAG (Ramli et al., 2002)

2.4 Kandungan Lipid Pada Biji


Penyimpanan asam lemak berbentuk minyak dan lemak dalam jumlah yang
relatip besar dapat ditemukan sebagai bahan cadangan penting dalam buah dan
bijibijian (Estiti, 1995). Cadangan ini tersimpan dalam endosperm atau perisperm
dalam bentuk lipid dengan kandungan yang beragam. Persentase kandungan lipid
beberapa biji-bijian pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Kandungan Lipid Pada Biji-bijian.
Spesies

Jaringan Cadangan Utama

Kandungan Lipid

Jagung

Endosperma

5%

Gandum

Endosperma

2%

Kapri

Koletidon

2%

Kacang Tanah

Koletidon

40-50%

Kedelai

Koletidon

17%

Jarak

Endosperma

64%

Bunga matahari

Koletidon

45-50%

Sumber : Salisbury dan Ross, 1995


Kandungan Lipid pada Biji-bijian yang paling tinggi di peroleh dari biji
tumbuhan jarak dengan kandungan lipid 64%, sedangkan kandungan lipid yang
terendah di peroleh dari gandum dan kapri dengan kandungan lipid 2%.
Adapun fungsi lipid pada tumbuhan yaitu sebagai komponen struktural
membran, dengan jenis lemak yang terlibat gliserolipid, sphigolipid dan sterol.
Sebagai senyawa penyimpan (storage compounds) dengan jenis senyawa
trigliserida dan lilin. Untuk senyawa aktif dalam reaksi transfer elektron dengan
adanya pigmen klorofil, ubuquinon dan plastoquinon. Sebagai fotofroteksi dengan
adanya jenis lemak karotenoid. Jenis lemak tokoferol berfungsi untuk
perlindungan terhadap kerusakan dari radikal bebas. Untuk jenis kutin suberin dan
lilin yang merupakan asam lemak berantai panjang itu memiliki fungsi sebagai
penyaringan dan perlindungan air pada permukaan tanaman. Adapun fungsifungsi lain dari metabolisme lipid yaitu:
1. Modifikasi protein ,penambahan dan penyambungan membran dengan
jenis asam lemak utama 14 : 0 dan 16 : 0.
2. Asilasi ,Prenilasi, Glikolisasi, Signaling Internal External dan Senyawa
pertahanan dengan jenis-jenis lemak yang terlibat seperti phosphatidy
linosytol, delicol, asam asisad, giberelin, minyak atsiri, komponen resin
dan terpen.

2.5 Biosintesis Asam Lemak.


Asam lemak dibentuk oleh kondensasi berganda unit asetat dari asetil CoA.
Sebagian besar reaksi sintetis asam lemak terjadi hanya di kloroplas daun serta di

proplastid biji dan akar. Asam lemak yang disintesis di kedua organel ini terutama
adalah asam palmitat dan asam oleat. Asetil CoA yang digunakan untuk
membentuk lemak di kloroplas sering dihasilkan oleh piruvat dehidrogenase
dengan menggunakan piruvat yang dibentuk pada glikolisis di sitosol. Sumber
lain asetil CoA pada kloroplas beberapa tumbuhan adalah asetat bebas dari
mikotondria. Asetat ini diserap oleh plastid dan diubah menjadi asetil CoA, untuk
digunakan membentuk asam lemak dan lipid lainnya. (Salisbury dan Ross, 1995)
Rangkuman reaksi sintetis asam lemak dengan contoh asam palmitat dapat
diberikan sebagai berikut.
8 asetil CoA+7ATP3+14 NADPH+14 H+

palmitil CoA + 7 CoA + 7

ADP2- + 7 H2PO4- + 14 NADP+ + 7 H2O


Pada reaksi sintesa asam lemak, enzim CoA dan protein pembawa asil (ACP)
mempunyai peranan penting. Enzim-enzim ini berperan membentuk rantai asam
lemak dengan menggabungkan secara bertahap satu gugus asetil turunan dari
asetat dalam bentuk asetil CoA dengan sebanyak n gugus malonil turunan dari
malonat dalam bentuk malonil CoA, seperti ditunjukkan pada reaksi berikut.
(Weete, 1980).
Acetil CoA + n Malonil CoA + 2n ADPH + 2n H+

CH3(CH2-CH2)n

CO CoA + n CO2 + n CoASH + 2n NADP+ + (n-1) H2O


Sintesa asam lemak berlangsung bertahap dengan siklus reaksi perpanjangan
rantai asam lemak hingga membentuk rantai komplit C16 dan C18. Biosintesis
pada tanaman terjadi di dalam plastida, selama biosintesis asam lemak
serangkaian gugus reaksi berulang menggabungkan asetil CoA menjadi gugus asil
16 atau 18 atom karbon. Sintesis dan metabolisme lipid berlangsug di berbagai
organel dan dalam beberapa kasus melibatkan pergerakan lipid dari satu seluler ke
kompartemen yang lain.

BAB III KESIMPULAN

Asam lemak dalam bentuk lemak dan minyak sebagai senyawa trigliserida
umumnya terdapat pada biji-bijian. Lemak dan minyak yang tergolong lipid
terdapat sebagai tumpukan bahan cadangan dan sumber energi. Asam lemak atau
minyak diproduksi pada daun. Namun minyak dan lemak pada biji-bijian
diproduksi dengan biosintesis karena lemak dan minyak yang tidak larut dalam
air.
Pada biji-bijian, lemak diproduksi dari asetil CoA dalam proplastid. Energi
yang diperlukan untuk sintesis asam lemak yaitu elektron NADPH tersedia dari
lintasan respirasi pentosa fosfat, dan ATP dari glikolisis piruvat. Sintesis asam
lemak dari malonil ACP yang ditransfer dari malonil CoA hasil sintesis dari asetil
CoA, berlangsung melalui pengulangan siklus pembentukan rantai asam lemak
hingga memiliki jumlah atom karbon yang lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Bates, p. D., j. B. Ohlrogge, and m. Pollard. 2007. Incorporation of newly


synthesized fatty acids into cytosolic glycerolipids in pea leaves
occurs via acyl editing. Journal of biological chemistry vol. 282 no.
43: pp 31206-31216.
Baud, s. And l. Lepiniec. 2010. Review: physiological and developmental
regulation of seed oil production. Progress in lipid research.
Doi:10.1016/j.plipres.2010.01.001.
Dahlqvist, a., u. Stahl, m. Lenman, a. Banas, m. Lee, l. Sandager, and h.
Ronne, and s. Stymne. 2000. Phospholipid diacylglycerol
acyltransferase: an enzyme that catalyzes the acyl-coa-independent
formation of triacylglycerol in yeast and plants. Proceeding of
national academy of sciences vol. 97 no. 12: pp 6487-6492.
Durrett, t. P. C. Benning, and j. Ohlrogge. 2008. Plant triacylglycerols as
feedstocks for the production of biofuels. The plant journal vol. 54:
pp 593607.
Estiti, B.H. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Penerbit ITB Bandung, hal.
247-255. Ebook.

Mayer, k. M. And j. Shanklin. 2007. Identification of amino acid residues


involved in substrate specificit y of plant acyl-acp thioesterases
using a bioinformatics-guided approach. Bmc plant biology 7:1.
Nikolau, b. J., j. B. Ohlrogge, and e. S. Wurtele. 2003. Plant biotincontaining carboxylases. Archives of biochemistry and biophysics
vol. 414: pp 211222.

Ophardt, c. E. 2003. Overview of metabolism. Virtual chem book


ofelmhurstcollege.Http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook/590
0verviewmet.html. Diakses tanggal 24 Agustus 2014.

Pidkowich, m. S., h. T. Nguyen, i. Heilmann, t. Ischebeck, and j. Shanklin.


2007. Modulating seed -ketoacyl-acyl carrier protein synthase ii
level converts the composition of a temperate seed oil to that of a
palm-like tropical oil. Proceeding of national academy of sciences
vol. 104 no. 11: pp 4742-4747.

Ramli, U. S., D. S. Baker, P. A. Quant, and J. L. Harwood. Control


analysis of lipid biosynthesis in tissue cultures from oil crops
shows that flux control is shared between fatty acid synthesis and
lipid assembly. Biochemical Journal 364: pp 393401.

Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2.


Terjemahan dari Plant Physiology oleh D.R Lukman dan
Sumaryono, Penerbit ITB Bandung, hal. 133-139. Ebook.

Weete, J.D. 1980. Lipid Biochemistry. Prenum Press New York, pp. 1129.

Yu, w. L., w. Ansari, n. G. Schoepp, m. J. Hannon, s. P. Mayfield, and m.


D. burkart. 2011. Modifications of the metabolic pathways of lipid
and triacylglycerol production in microalgae. Microbial cell
factories vol. 10 no. 91.