Anda di halaman 1dari 2

Program Studi D4 Teknik Perpipaan

Kompetensi Kelulusan :
Terampil menggambar rancangan perpipaan, teknis fabrikasi, serta sistem kendali
dan kontrol jaringan pipa sesuai standar global di berbagai sektor industri
Kompeten di bidang perencanaan sistem instalasi perpipaan di laut maupun di
darat meliputi pekerjtaan LNG Plant, Petrochemical Plant, Fertilizer Plant,
Geothermal Plant, Gas Plant dan Sistem pendingin.
Mampu melaksanakan Inspeksi teknis, Perawatan.
Mahasiswa mendapatkan Welding Inspector melalui uji kompetensi sertifikasi.

KANDUNGAN PIPA
Untuk menentukan material pipa, terutama untuk industri, faktor yang paling penting
adalah fluida apa yang mengalir didalamnya. Selain itu, kondisi luar dari pipa juga
mempengaruhi. Dan terakhir, tentu saja sisi ekonomi juga menjadi dasar pemilihan
material. lihat Pipe Distributor
Pipa dapat dibagi menjadi 2 bagian besar. Pipa dari logam dan non-logam. Logam terdiri
dari carbon steel, stainless steel, aluminium, nickel dan lainnya. Berikut ini adalah contoh
dalam desain pipa untuk pabrik industri gas alam, minyak, atau pabrik kimia lainnya.
Pertama, proses harus menghitung apa dan berapa banyak macam kandungan yang akan
melewati pipa. Pada dasarnya, semua pipa untuk proses biasanya harus memakai pipa
logam dan dimulai dari material carbon steel yang paling murah.
Akibat aliran fluida, bagian dalam pipa mengalami korosi, dan salah satu cara untuk
menetapkan kecepatan korosi adalah memakai grafik de Waard Milliams nomograph.
Grafik ini membantu untuk menentukan berapa kecepatan korosi (mm/tahun) yang
disebabkan adanya kandungan CO2 dalam fluida.
Problem disebabkan korosi dapat diatasi dengan menambah ketebalan pipa sebesar
kecepatan korosi dikali tahun lamanya pabrik didesain. Tetapi, jika total ketebalan yang
dibutuhkan untuk mengatasi korosi itu terlalu tebal, pipa akan menjadi sangat tebal dan
tidak efektif dalam pembangunannya.
Selain korosi, suhu fluida juga menentukan material pipa. Semakin rendah suhu, logam
akan menjadi mudah mengalami retakan. Ini karena sifat brittle (getas) logam bertambah
pada suhu rendah . Stainless steel merupakan salah satu yang tahan akan suhu rendah.
Karena itu, untuk cryogenic service (fluida dengan suhu operasi dibawah -196 degC)
stainless steel adalah material yang cocok dibandingkan dengan carbon steel.
Stainless steel sering disebut juga corrosion resistance alloy (campuran logam tahan

korosi) dan tentunya lebih mahal dibandingkan carbon steel. Stainless steel bisa dibagi
menjadi beberapa jenis, contohnya austenitic, feritic, martenistic, duplex dan high alloy
stainless steel (campuran tinggi logam stainless steel). Sayangnya, stainless steel tidak
tahan terhadap semua jenis korosi, terutama korosi yang disebabkan oleh klorida, sulfida
serta fluida asam (sour fluid) lainnya.
Untuk sistem pipa yang mengalirkan fluida asam (piping system for sour service)
biasanya di desain berdasarkan standar NACE (National Association of Corrosion
Engineers) MR0175. Mulai tahun 2003, standar NACE MR0175 bersatu dengan ISO
15156 dan yang memiliki syarat desain yang sulit dibandingkan edisi tahun sebelumnya.
Semakin tahan terhadap berbagai korosi, semakin mahal harga material tersebut. Untuk
mengurangi biaya, pengaplikasian cladding atau overlay merupakan salah satu alternatif.
Misalnya menggunakan pipa dari carbon steel dengan dilapisi logam mahal pada bagian
dalamnya saja yang bersentuhan langsung dengan fluida sumber korosi akan bisa
menekan biaya tanpa mengurangi ketahanan terhadap korosi.
Pemilihan material ini bukan hanya untuk pipa, tetapi juga berlaku untuk bejana (vessel),
katup (valve) dan elemen pipa lainnya. Untuk katup, walaupun material dari badan katup
bisa memakai carbon steel, tetapi bagian dimana korosi tidak diperbolehkan untuk
menjaga kemampuan katup untuk menyekat (sering disebut sebagai trim, seperti bagian
valve seat, stem dan lainnya), maka penggunaan stainless steel atau logam tahan korosi
lainnya menjadi keharusan.