Anda di halaman 1dari 12

Patofisiologi Pneumonia

A. PENGERTIAN
Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak
dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga
akibat penyakit komplikasi. (A. Aziz Alimul : 2006). Sedangkan menurut Elizabeth J.
Corwin, Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi
akut jaringan paru oleh mikroorganisme.
Selain itu, menurut wikipedia.com pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di
mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer
menjadi "inflame" dan terisi oleh cairan.
B. JENIS-JENIS PNEUMONIA
Pneumonia terbagi dalam berbagai jenis berdasarkan dengan penyebab, natomik, dan
berdasarkan asal penyakit ini didapat. Seperti dijelaskan berikut ini :
1. Berdasarkan penyebab :
a. Pneumonia Lipid
b. Pneumonia Kimiawi
c. Pneumonia karena extrinsik allergic alveolitis
d. Pneumonia karena obat
e. Pneumonia karena radiasi
f. Pneumonia dengan penyebab tak jelas (Dasar-dasar ilmu penyakit paru, 2006)
2. Berdasarkan Anatomik :
a. Pneumonia Lobaris
Merupakan pneumonia yang terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru dan
bila kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai pneumonia lobaris
b. Pneumonia Interstisial
Merupakan pneumonia yang dapat terjadi di dalam dinding alveolar.
c. Bronchopneumonia
Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang dapat tersumbat oleh
eksudat mukopuren untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus (A. Aziz Alimul
Hidayat :2006)
3. Berdasarkan asal penyakit :
a. Pneumonia komunitas atau community acquired pneumonia, adalah pneumonia yang
didapat dari masyarakat.
b. Pneumonia nosokomial atau hospitality acquired pneumonia yang berarti penyakit itu
didapat saat pasien berada di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan.
C. ETIOLOGI
Pada masa sekarang terjadi perubahan pola mikroorganisme penyebab ISNBA (Infeksi
Saluran Napas Bawah Akut) akibat adanya perubahan keadaan pasien seperti gangguan
kekebalan dan penyakit kronik, polusi lingkungan, dan penggunaan antibiotik yang tidak
tepat hingga menimbulkan perubahan karakteristik pada kuman. Etiologi pneumonia berbedabeda pada berbagai tipe dari pneumonia, dan hal ini berdampak kepada obat yang akan di
berikan. Mikroorganisme penyebab yang tersering adalah bakteri, yang jenisnya berbeda
antar Negara, antara suatu daerah dengan daerah yang lain pada suatu Negara, maupun
bakteri yang berasal dari lingkungan rumah sakit ataupun dari lingkungan luar. Karena itu
perlu diketahui dengan baik pola kuman di suatu tempat.
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi antara lain :
1. Bakteri

Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-negatif


seperti : Steptococcus pneumoniae (pneumokokus), Streptococcus piogenes, Staphylococcus
aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus influenzae.
2. Virus
Influenzae virus, Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus, chicken-pox (cacar
air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks, Virus sinial pernapasan, hantavirus.
3. Fungsi
Aspergilus, Fikomisetes, Blastomises dermatitidis, histoplasma kapsulatum.
(hhtp:/medicastore.com/med/subkategori_pyk.Php,2007).
Selain disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di sebabkan oleh bahan-bahan lain/non
infeksi :
1. Pneumonia Lipid : Disebabkan karena aspirasi minyak mineral
2. Pneumonia Kimiawi : Inhalasi bahan-bahan organik dan anorganik atau uap kimia seperti
berillium
3. Extrinsik allergic alveolitis : Inhalasi bahan debu yang mengandung alergen seperti spora
aktinomisetes termofilik yang terdapat pada ampas debu di pabrik gula
4. Pneumonia karena obat : Nitofurantoin, busulfan, metotreksat
5. Pneumonia karena radiasi
6. Pneumonia dengan penyebab tak jelas. (Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, 2006)
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
1. virus sinsisial pernafasan
2. adenovirus
3. virus parainfluenza
4. virus influenza
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui :
1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar
2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.
D. FAKTOR RESIKO
Faktor-faktor resiko terkena pneumonia, antara lain: Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia
lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin lakilaki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara,
Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi
vitamin A dan penyakit kronik menahun.
Selain faktor-faktor resiko diatas, faktor-faktor di bawah ini juga mempengaruhi resiko dari
pneumonia :
1. Individu yang mengidap HIV
2. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang
3. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung
4. Karena muntah air akibat tenggelam
5. Bahan yang teraspirasi
E. PATOFISIOLOGI
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di
tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di
tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk
akan dilawan oleh berbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk,
atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut
halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar.

F. MANIFESTASI KLINIK/ TANDA DAN GEJALA


Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama
beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai
40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat
berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae), merah muda (untuk staphylococcus
aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk pseudomonas aeruginosa). Pada sebagian
penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.
Tanda dan Gejala berupa :
1. Batuk nonproduktif
2. Ingus (nasal discharge)
3. Suara napas lemah
4. Retraksi intercosta
5. Penggunaan otot bantu nafas
6. Demam
7. Krekels
8. Cyanosis
9. Leukositosis
10. Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar
11. Batuk
12. Sakit kepala
13. Kekakuan dan nyeri otot
14. Sesak nafas
15. Menggigil
16. Berkeringat
17. Lelah.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan :
1. kulit yang lembab
2. mual dan muntah
3. kekakuan sendi.
G. KOMPLIKASI
Komplikasi dari pneumonia adalah sebagai berikut :
1. Empisema
2. Gagal nafas
3. Perikarditis
4. Meningitis
5. Hipotensi
6. Delirium
7. Asidosis metabolik
8. Dehidrasi
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan pneumonia adalah sebagai berikut :
1. Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui pemberian kompres.
2. Latihan bentuk efektif dan fisiotheraphy paru.
3. Pemberian oksigenasi (oksigen 1-2 liter/menit).
4. Mempertahankan kebutuhan cairan (IVFD dektrose 10% : NaCl 0,9%).
5. Pemberian nutrisi, apabila ringan tidak perlu diberikan antibiotik tetapi apabila penyakit
berat dapat dirawat inap, maka perlu pemberian antibiotik berdasarkan usia, keadaan umum,
kemungkinan penyebab, seperti pemberian Ampisilin dan Kloramfenikol.

6. Penatalaksanaan medis dengan cara pemberian pengobatan


I. PENCEGAHAN
Menurut profesor Cissy, kunci pencegahan pneumonia yang penting menurut dia adalah
pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif, imunisasi, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi
anak, karena ASI mengandung nutrien, anti oksidan, hormon dan antibody yang dibutuhkan
anak untuk tubuh, berkembang dan membangun sistem kekebalan tubuh.
Menurut Profesor Sri Rejeki, mencegah kematian anak akibat pneumonia melalui 2 cara
yakni mencegah perkembangan infeksi dan komplikasi pneumonia dengan penyakit lain
seperti campak dan pertusis, lebih lanjut ia menjelaskan kematian akibat pneumonia bisa
dikurangi dengan menerapkan upaya pencegahan sekaligus pengobatan. Selain 2 cara diatas,
beliau juga mengatakan cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi pneumokokus
melalui pemberian vaksin pneumokokus konjugasi (PCV-7) kepada bayi. Pemberian ini pada
bayi usia 4 bulan dari 6 bulan serrta diulang lagi pada usia 12-15 bulan agar melindungi anak
dari infeksi pneumokokus.
Menurut laporan unicef lebih dari 1 juta jiwa anak akan bisa diselamatkan bila intervensi
pencegahan dan penanganan pneumonia diterapkan secara universal. Sekitar 600 ribu nyawa
anak setiap tahunnya juga bisa diselamatkan melalui penanganan antibiotik yang biayanya
sekitar 600 juta dolar AS.
Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pneumonia dapat dicegah
dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Memberikan ASI ekslusif
2. Mencegah perkembangan infeksi
3. Mencegah komplikasi pneumonia dengan penyakit lain
4. Menggunakan penanganan antibiotik
DAFTAR PUSTAKA
1. Andriano G, Arguedas, Stutman HR, Marks MI. Bacterial pneumonias. Dalam : Kendig
EL, Chernick V, penyunting. Kendigs Disorders of the Respiratory Tract in Children. Edisi
ke-5. Philadelphia : WB Saunders, 1990 : 371-80.
2. Lichenstein R, Suggs AH, Campbell J. Pediatric pneumonia. Emerg Med Clin N Am 2003;
21 : 437-51.
3. Glezen WP. Viral pneumonia. Dalam : Kendig EL, Chernick V, penyunting. Kendigs
Disorders of the Respiratory Tract in Children. Edisi ke-5. Philadelphia : WB Saunders,
1990 : 394-402.
4. Sectish TC, Prober CG. Pnemonia. Dalam : Behrman RE, Kleigman RM, Jenson HB,
penyunting. NelsonTextbook of Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia : WB Saunders, 2003 :
1432-5.
5. Stokes DC. Respiratory infections in Immunocompromized Hosts. Dalam : Taussig LM,
Landau LI, penyunting. Pediatric Respiratory Medicine. St. Louis: Mosby Inc, 1999 : 664-81.

PNEUMONIA
Dr. Suparyanto, M.Kes
PNEUMONIA
PENGERTIAN PNEUMONIA

Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan
terjadi pengisian alveoli oleh eksudat yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan benda
benda asing (Muttaqin, 2008).

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru. Menurut anatomis pneumonia pada anak dibedakan menjadi 3 yaitu
pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia), Pneumonia
interstisialis (Mansjoer, 2000).

PENYEBAB PNEUMONIA
Menurut Muttaqin (2008), Pneumonia terbilang penyakit berbahaya karena cara
penularannya yang sangat mudah. Penyakit pneumonia dapat menular melalui
percikan ludah yang menyebar lewat udara saat bersin batuk, ataupun bicara.

Pneumonia bukanlah penyakit tunggal.

Penyebabnya bisa bermacam macam dan diketahui 30 sumber infeksi, dengan 4


sumber utama yaitu :

1. Pneumonia oleh bakteri


Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Orang orang dengan gangguan pernafasan, sedang terinfeksi virus atau
menurun kekebalan tubuhnya, adalah orang yang paling beresiko. Sebenarnya bakteri
penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcos pneumonia sudah ada
di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun karena sakit, tua,
atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan.
2. Pneumonia oleh virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin
banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus ini kebanyakan menyerang
saluran pernafasan bagian atas terutama pada balita, gangguan ini bisa memicu
pneumonia.
3. Pneumonia Mikoplasma
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda fisiknya bila dibandingkan dengan
pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus
yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal atau
atypical pneumonia.

4. Pneumonia jenis lain


Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pneumonia (PCP) yang diduga
disebabkan oleh jamur.

Sedangkan dari sudut pandang sosial, penyebab pneumonia menurut Depkes RI


(2005) antara lain :

1. Status gizi bayi


2. Imunisasi tidak lengkap
3. Lingkungan
4. Kondisi sosial ekonomi orang tua
PATOFISIOLOGI PNEUMONIA
Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Pecandu alcohol, pasien pasca operasi, orang-orang dengan gangguan penyakit
pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya , adalah yang
paling berisiko. Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada
tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena
penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat
berkembang biak dan merusak organ paru-paru. Kerusakan jaringan paru setelah
kolonisasi suatu mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan
peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksin-toksin yang dikeluarkan
oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat secara langsung merusak sel-sel system
pernapasan bawah. Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun dan peradangan
yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru,
ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paruparu kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru,
infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri
pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia
(Sipahutar, 2007)
KLASIFIKASI PNEUMONIA
Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan secara
sederhana berdasarkan gejala yang ada. Klasifikasi ini bukanlah merupakan diagnose
medis dan hanya bertujuan untuk membantu para petugas kesehatan yang berada di
lapangan untuk menentukan tindakan yang perlu diambil, sehingga anak tidak
terlambat penanganan. Klasifikasi tersebut adalah:
1. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala :
Ada tanda bahaya umum, seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu
memuntahkan semuanya, kejang atau anak letargis/tidak sadar.
Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.

Terdapat stridor ( suara napas bunyi grok-grok saat inspirasi )

2. Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat, batasan nafas cepat adalah :
Anak usia 2 12 bulan apabila frekuensi napas 50 x/menit atau lebih.
Anak Usia 1 5 tahun apabila frekuensi napas 40 x/menit atau lebih.
3. Batuk bukan Pneumonia, apabila tidak ada tanda tanda atau penyakit sangat berat.
TANDA DAN GEJALA
Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum,
napas cuping hidung, sesak napas, merintih dan sianosis. Anak yang lebih besar
dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut
tertekuk karena nyeri dada. Tanda Pneuomonia berupa retraksi atau penarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
nafas, perkusi pekak, fremitrus melemah. Suara napas melemah, dan ronkhi.
(Mansjoer,2000,hal 467 )

Gejala penyakit pneumonia berupa napas cepat dan sesak napas, karena paru
meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak
50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan
40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada
anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia. Pneumonia berat
ditandai dengan adanya batuk juga disertai kesukaran bernafas, napas sesak atau
penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai
kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat,
dengan gejala pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas
disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum.

Menurut Muttaqin (2008) pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi
selanjutnya akan berkembang menjadi batuk produktif dengan mucus purulen
kekuningan, kehijauan, kecoklatan atau kemerahan, dan sering kali berbau busuk.
Klien biasanya mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil (onset mungkin
tiba tiba dan berbahaya ). Adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak napas,
peningkatan frekuensi pernapasan, lemas dan nyeri kepala.

KOMPLIKASI PNEUMONIA
Pada paru paru penderita pneumonia di penuhi sel radang dan cairan yang
sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman, tetapi karena adanya
dahak yang kental maka akibatnya fungsi paru terganggu sehingga penderita
mengalami kesulitan bernafas karena tidak adanya ruang untuk tempat oksigen.
Kekurangan oksigen membuat sel sel tubuh tidak bisa bekerja karena inilah, selain
penyebaran infeksi keseluruh tubuh, penderita pneumonia juga bisa meninggal
(Muttaqin, 2008).
Menurut Mansjoer (2000) komplikasi pneumonia yaitu :
1. Abses kulit
2. Abses jaringan lunak

3. Otitis media
4. Sinusitis
5. Meningitis purualenta
6. Perikarditis
PEMERIKSAAN PNEUMONIA
1) Pemeriksaan fisik
1.I nspeksi
Perlu diperhatikan adanya takipnea dispne, sianosis sirkumoral, pernapasan cuping
hidung, distensi abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri
dada pada waktu menarik napas. Batasan takipnea pada anak berusia 12 bulan 5
tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding
dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada
kedalam akan tampak jelas.
2. Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin
meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan atau
tachycardia.
3. Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.
4. Auskultasi
Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung /
mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan
stetoskop, akan terdengar suara napas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit,
dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronchial, egotomi, bronkofoni,
kadang terdengar bising gesek pleura (Mansjoer,2000).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboraturium
Leukosit 18.000 40.000 / mm3
Hitung jenis didapatkan geseran ke kiri.

LED meningkat

2. X-foto dada
Terdapat bercak bercak infiltrate yang tersebar (bronco pneumonia) atau yang
meliputi satu/sebagian besar lobus/lobule (Mansjoer,2000).

PENANGANAN PNEUMONIA
Menurut Mansjoer (2000)
pneumonia :

Penanganan

pneumonia

berdasarkan

klasifikasi

1. Pneumonia berat atau pneumonia sangat berat harus dirawat di RS dan diberi
antibiotik.
2. Pneumonia tidak perlu dirawat dirumah sakit
3. Batuk bukan pneumonia tidak perlu dirawat tidak perlu antibiaotik.

Menurut Mansjoer (2000), Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat


atau penyakit sangat berat di puskesmas / balai pengobatan, maka anak perlu dirujuk
segera setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai. Dosis pertama antibiotika
yang dimaksud adalah klorampenikol yan diberikan secara intramuscular dengan
dosis 40 mg/kg BB.

Jika anak diklasifikasikan menderita pneumonia, maka tindakan berikut ini diperlukan
:

1. Pemberian antibiotik yang sesuai selama 5 hari.


2. Beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman.
3. Berikan nasihat kepada orang tua kapan harus segera kembali.
4. Melakukan kunjungan ulang setelah 2 hari.

Sedangkan untuk anak dengan pneumonia yang dirawat di rumah sakit, diperlukan
rencana perawatan yang sesuai dengan masalahanya, yaitu :

1). efektivitas pola napas, rencana perawatan yang diperlukan adalah :


Berikan oksigen yang dilembabkan sesuai takikardi.
Lakukan fisioterapi dada : kerjakan sesuai jadwal.

Observasi tanda vital

Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis.

Periksa dan catat hasil x-ray dada dan jumlah sel darah putih sesuai indikasi.

Lakukan suction bila perlu.

Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam perawatan, misalnya,
pemberian obat serta pengenalan tanda dan gejala inefektivitas pola napas.

Ciptakan lingkungan yang nyaman.

2). Devisit volume cairan, intervensi yang diperlukan adalah :


1. Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan.

2. Catat secara akurat intake dan output.


3. Kaji dan catat tanda vital serta gejala kekurangan cairan.
4. Periksa dan catat BJ urine tiap 4 jam atau sesuai advis.
5. Lakukan perawatan mulut sesuai dengan kebutuhan.
6. Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam monitoring intake dan
output serta dalam mengenali tanda dan gejala kekurangan volume cairan.
7. Ciptakan situasi yang nyaman.
PENCEGAHAN PNEUMONIA
Menurut Theresia (2009), Pencegahan Pneumonia dapat dilakukan dengan cara hidup
bersih dan sehat dan memberikan nutrisi yang baik pada balita. Disamping itu, perlu
diberikan vaksin pneumokokus pada bayi dan anak sedini mungkin.

Menurut Raymondnelson dan bambang (2009), Pencegahan pneumonia dapat


dilakukan dengan cara :

1. Memberikan vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD.
2. Memberikan imunisasi pada anak sesuai waktunya.
3. Menjaga keseimbangan nutrisi anak.
4. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara cukup istirahat dan juga banyak
olahraga.
5. Mengusahakan agar ruangan tempat tinggal mempunyai udara yang bersih dan
ventilasi yang cukup.
PENGOBATAN PNEUMONIA
Menurut Mansjoer (2000), pengobatan pneumonia dapat dilakukan dengan cara
pemberian antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :
1. Untuk kasus pneumonia community base :
Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
Klorampenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
2. Untuk pneumoni hospital base :
Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
Amikasin 10 15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
DAFTAR PUSTAKA

1. Aziz . 2003. Metode Penelitian Keperawatan dan Analisa Data. Jakarta : Salemba
Medika.
2. Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Salemba
Medika.
3. Anwar. 2002. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Pustaka Media.
4. Bengjay, 2009, Pengertian PHBS http://www.elisa.ugm.com di akses tanggal 31 Mei
2010 jam 20.00 wib
5. Choirunisa. 2009. Panduan Terpenting Merawat Bayi dan Balita. Yogyakarta : Moncer
Publisher
6. Depkes, 2008, Cakupan PHBS http://www.Depkes.co.id di akses tanggal 30 Mei 2010
jam 19.50 wib
7. Dinkes Jatim, 2008, Cakupan PHBS http://www.Dinkesjatim.co.id di akses tanggal 30
Mei 2010 jam 19.25 wib
8. Effendy N, 2001, Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC
9. Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : media aesculapius.
10. Markum, dkk. 2005. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI.
11. Muttaqin, 2008, Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan System Pernapasan,
Jakarta : Salemba Medika.
12. Mochfoedz, Irchan. 2005. Alat Ukur Penelitian Bidang Kesehatan Keperawatan dan
Kebidanan. Yogyakarta : Kayon.
13. Notoatmodjo, 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
14. Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
15. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka
Cipta.
16. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
17. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung :
Alfabeta.
18. Raymondnelson.2009.Waspadapneumonia.http://pencegahan.pneumonia.com/
read/2009.htm. di akses tanggal 5 juni 2010 jam 18.33 wib
19. Sipahutar.2007.KonsepPneumonia.http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id. di akses tanggal 23 juli 2010 jam 20.15 wib
20. Supartini Y.2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC
21. Soetjiningsih. 2001. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC

22. Theresia. 2009. Jangan Anggap Enteng Pneumonia. http://kesehatan.kompas.


com/read/2009/09/12/13191250/Jangan.Anggap.Enteng.Pneumonia.di akses tanggal 4
juni 2010 jam 19.15 wib
23. Wikipedia. 2009. Ciri Khas Perkembangan Balita. Http://id.wikipedia.org/wiki/ Balita
diakses tanggal 4 juni 2010 jam 19.00 wib