Anda di halaman 1dari 12

PENGERTIAN DAN MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA

Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita miliki,meskipun
setiap orang memiliki tingkatan / kualitas yang berbeda. Orang yang memiliki keterampilan
berbahasa secara optimal setiap tujuan komunikasinya dapat dengan mudah tercapai. Sedangkan
bagi orang yang memiliki tingkatan keterampilan berbahasa yang sangat lemah,sehingga bukan
tujauannya yang tercapai tetapi malah terjadi kesalah pahaman yang hanya akan membuat
suasana mejadi panas.
KOMUNIKASI 1 ARAH
PENGIRIM PENERIMA
Pengirim aktif milih pesan -> disampaikan dalam bentuk lambang / sandi -> pesan yang
tersampaikan berupa lambang (bunyi / tulisan).
Pesan diterima berupa lambang (bunyi / tulisan) -> lambang / sandi yang di terima mengalami
proses penafsiran -> sehingga keluar makna pesan yang sama dengan makna pesan yag dikirim.
Kedua pihak harus memiliki keterampilan yang sama :
Pengirim : Harus pandai memilih lambang-lambang (bunyi / tulisan) guna penyampaian pesan
sehingga mudah di terima.
Penerima :Harus terampil dalam menafsirkan lambang-lambang (bunyi / tulisan) sehingga di dapati
makna yang paling pas / tepat.
Penyampaian pesan berupa bunyi-bunyi bahasa yang di ucapkan :
Proses Encoding :
- Pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa berupa bunyi-bunyi yang diucapkan (
(bahasa lisan) untuk selanjutnya di sampaikan kepada penerima dan dikenal dengan istilah
BERBICARA.
Proses Decoding :
- Proses pengubahan bentuk-bentuk bahasa berupa bunyi-bunyi lisan kembali menjadi pesan yang
biasa kita kenal dengan istilah MENYIMAK.

Penyampaian pesan berupa tulisan :


Proses Encoding :
- Pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tulisan, kemudian di kirim kepada
penerima yang biasa di kenal dengan MENULIS.
Proses Decoding :
-Proses penafsiran / memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis tsb. Sehingga pesan dapat di terima
secara utuh yang biasa kenal dengan MEMBACA.
Tulisan ini dikirim pada pada 24 April 2008 2:05 pm dan di isikan dibawah Tak Berkategori. Anda
dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or
trackback
ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA
4 Aspek Keterampilan Berbahasa :
Menyimak, Membaca, Berbicara, dan Menulis
Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Reseptif ( menerima ) :
a. Mendengarkan / Menyimak
b. Membaca
Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Produktif ( menghasilkan ) :
a. Berbicara
b. Menulis
#CATATAN :
- Untuk menguasai ke-4 jenis keterampilan berbahasa tsb. Seseorang harus menguasai sejumlah
keterampilan mikro.
A. MENDENGARKAN :
Keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat RESEPTIF.
Jenis situasi dalam mendengarkan :
1. Situasi Mendengarkan secara Interaktif :
Terjadi dalam percakapan tatap muka, di telepon / sejenisnya. Secara bergantian subjek ( 2
orang / lebih ) melakukan aktivitas mendengarkan dan berbicara. Sehingga kita memiliki
kesempatan bertanya guna mendapatkan penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang
telah diucapkannya / meminta lebih pelan dalam berbicara.

2. Situasi mendengarkan secara Non-Interaktif :


Kita tidak dapat meminta penjelasan dari pembicara, tidak bisa meminta pembicara mengulangi
apa yang diucapkan dan kita juga tidak dapat meminta pembicaraan di perlambat.
# Contoh : Mendengarkan Radio Mendengarkan acara-acara seremonial
Nonton TV Mendengarkan Kotbah
Nonton Film
KETERAMPILAN MIKRO DALAM MEMAHAMI APA YANG DI DENGAR :
Mengingat unsur bahasa yang di dengar dengan ingatan jangka pendek (short-term memory)
Berupaya membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa target.
Menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan dan nada,warna suara dan intonasi ; menyadari adanya
reduksi bentuk-bentuk kata.
Membedakan dan memahami arti kata-kata yang didengar.
Mengenal bentuk-bentuk kata khusus
Mengenal makna dari konteks
Mengenal kelas-kelas kata
Menyadari bentk-bentuk dasar sintaksis
Mengenal perangkat-perangkat kohesif
Mendeteksi unsur-unsur kalimat seperti ; subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur
lainnya.
B. BERBICARA :
- Keterampilan berbahasa lisan / berbicara yang bersifat PRODUKTIF.
Jenis situasi dalam berbicara :
a. Situasi berbicara secara INTERAKTIF :
# misal : Percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan
adanya aktivitas pergantian antara berbicara dan mendengarkan.

- Kita dapat meminta klarifikasi, pengulangan / kita dapat meminta lawan bicara memperlambat
tempo bicara.
b. Situasi berbicara secara Semi-Interaktif :
#misal : Situasi berpidato dihadapan umum secara langsung.
#Ket. : Audiens memang tidak dapat melakukan iterupsi terhadap pembicara,namun pembicara
dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka.
Situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat Non-Interaktif :
#misal : berpidato lewat radio / TV

A. Tataran identifikasi, yaitu tahap pengenalan terhadap berbagai jenis


bunyi suatu bahasa,
kata-kata, frase-frase, kalimat dalam hubungan timbal balik
antarstruktur, baik atas pertimbangan waktu, modifikasi, bahkan juga
logika.
B. Tataran identifikasi dan seleksi tanpa retensi, yaitu tataran menyimak
di mana penyimak diharapkan memperoleh kemampuan mengenal
dan memahami sesuatu unit kontinum bunyi/ujaran, tetapi belum
dituntut adanya kemampuan retensi.
C. Tataran identifikasi dengan seleksi terpimpin dan retensi jangka
pendek, yaitu tataran menyimak yang menuntut penyimak mengenal
bunyi-bunyi dan kemampuan memahami, tetapi masih dalam taraf
terpimpin.
D. Tataran identifikasi dengan seleksi retensi jangka panjang, yaitu taraf
menyimak yang menuntut penyimak untuk mampu mengenal bunyibunyi dalam kontinum bunyi yang panjang, mampu memahami
makna pesan secara tepat, dengan kemampuan mengingat dalam
jangka waktu yang relatif lama

KETERAMPILAN MENYIMAK
I. Kemampuan Menyimak Tingkat Dasar
Pada dasarnya pengembangan keterampilan menyimak itu dapat
dibedakan atas empat tataran pokok sebagai berikut (Soedjiatno,
1983:18).
1. Tataran identifikasi, yaitu tahap pengenalan terhadap berbagai jenis
bunyi suatu bahasa,
kata-kata, frase-frase, kalimat dalam hubungan timbal balik
antarstruktur, baik atas pertimbangan waktu, modifikasi, bahkan juga
logika.
2. Tataran identifikasi dan seleksi tanpa retensi, yaitu tataran menyimak

di mana penyimak diharapkan memperoleh kemampuan mengenal dan


memahami sesuatu unit kontinum bunyi/ujaran, tetapi belum dituntut
adanya kemampuan retensi.
3. Tataran identifikasi dengan seleksi terpimpin dan retensi jangka
pendek, yaitu tataran menyimak yang menuntut penyimak mengenal
bunyi-bunyi dan kemampuan memahami, tetapi masih dalam taraf
terpimpin.
4. Tataran identifikasi dengan seleksi retensi jangka panjang, yaitu taraf
menyimak yang menuntut penyimak untuk mampu mengenal bunyibunyi dalam kontinum bunyi yang panjang, mampu memahami makna
pesan secara tepat, dengan kemampuan mengingat dalam jangka waktu
yang relatif lama.
A. Menyimak Bahasa
Menurut Faris (1993:154), proses menyimak terbagi atas 3 tahapan :
1) Menerima masukan auditori
2) Memperhatikan masukan auditori
3) Menafsirkan dan berinteraksi dengan masukan auditori
Keterampilan mengidentifikasi dan menyeleksi rentetan bunyi bahasa
dalam proses menyimak bahasa itu dapat diperinci atas beberapa
kemampuan sebagai berikut.
1) Kemampuan mengidentifikasi dan menyeleksi gejala-gejala fonetik,
baik yang berupa nada, tekanan, persendian, maupun intonasi pada
umumnya.
2) Kemampuan mengenal, membedakan, menerapkan kosakata sesuai
dengan makna dan konteksnya yang tepat.
3) Kemampuan mengenal, membedakan, dan menerapkan struktur tata
bahasa sesuai dengan maknanya yang tepat termasuk juga struktur
frase dan idiom-idiom yang ada.
B. Strategi Menyimak Bahasa
1. Memusatkan perhatian
2. Membuat catatan
a. Catatan bersifat sederhana
b. Catatan menggunakan singkatan-singkatan dan simbol-simbol
c. Catatan harus jelas
C. Menyimak Interogratif
Menyimak interogratif adalah kegiatan menyimak yang bertujuan untuk
memperoleh informasi berupa fakta-fakta yang akurat dengan cara
mengiterogasi narasumber.
II. Kemampuan Menyimak Tingkat Lanjut
Kemampuan menyimak tingkat lanjut ini digolongkan menjadi 3 jenis :
1. Menyimak Kritis, yaitu kegiatan menyimak yang dilakukan dengan
sungguh-sungguh untuk memberikan penilaian secara objektif,
menentukan keaslian, kebenaran, dan kelebihan, serta kekurangankekurangan bahan simakan.

2. Menyimak Kreatif, yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan untuk


mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas pembelajar.
3. Menyimak Eksploratif, yaitu kegiatan menyimak yang dilakukan
dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru.
Tompkins dan Hosskison (1991) menyatakan bahwa ada enam kiat yang
dapat kita gunakan untuk belajar menangkap gagasan inti simakan,
yaitu : membentuk citraan, mengelompokkan, mengajukan pertanyaan,
mengorganisasi, mencatat, dan memusatkan perhatian.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN MENYIMAK

Menurut pendapat Rost (1991:108) bahwa faktor-faktor yang penting dalam


keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir-butir penting bahan
simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan.
Pendapat lain menurut Tarigan (1994:62), komponen/faktor-fantor penting dalam
menyimak adalah sebagai berikut.
1. Membedakan antar bunyi fonemis.
2. Mengingat kembali kata-kata.
3. Mengidentifikasi tata bahasa dari sekelompok kata.
4. Mengidentifikasi bagian-bagian pragmatik, eskpresi, dan seperangkat penggunaan
yang berfungsi sebagai unit sementara mencari arti/makna.
5. Menghubungkan tanda-tanda linguistik ke tanda-tanda para linguistik (intonasi) dan
ke nonlinguistik (situasi yang sesuai dengan objek supaya terbangun makna,
menggunakan pengetahuan awal (yang kita tahu tentang isi dan bentuk dan konteks
yang telah siap dikatakan untuk memperkirakan dan kemudian menjelaskan makna.
6. Mengulang kata-kata penting dan ide-ide penting.

Selanjutnya, menurut pendapat Michael (1991:108) faktor-faktor yang penting dalam


keterampilan menyimak dalam kelas adalah siswa menuliskan butir-butir penting
bahan simakan terutama yang berhubungan dengan bahan simakan. Untuk dapat
mengajarkan menyimak sampai pada pemahaman, guru perlu menyusun bahan
simakan. Penyusunan materi menyimak pun tidak asal mendapatkan materi saja,
tetapi ada beberapa yang harus diperhatikan guru dalam penyusunan materi ini di
antaranya: (1) sasaran kegiatan, (2) sasaran kompetensi siswa, (3) metode
pembelajaran, dan (4) faktor keberhasilan menyimak (Budiman, 2008:2).

Selain itu, masih ada beberapa faktor penting dalam keterampilan menyimak, di
antaranya:
1. Unsur Pembicara
Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematis dan
kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi
2. Unsur Materi
Unsur yang diberikan haruslah aktual, bermanfaat, sistematis dan seimbang. Materi
yang disusun pun sebaiknya memperhatikan tingkat perkembangan siswa. Tema
materi yang dipergunakan sebaiknya bervariatif. Dengan demikian, siswa kita tidak
akan jenuh belajar dan pembelajaran menyimak menjadi menyenangkan.
3. Unsur Penyimak / Siswa
a. Kondisi siswa dalam keadaan baik
b. Siswa harus berkonsentrasi
c. Adanya minat siswa dalam menyimak
d. Penyimak harus berpengalaman luas

4. Unsur Situasi
a. Waktu penyimakan
b. Saran unsur pendukung
c. Suasana lingkungan
Lingkungan yang mempengaruhi tersebut memberikan kenyataan bahwa siswa dapat
menyimak bahan dengan baik atau tidak. Harus dihindari faktor lingkungan yang akan
berpengaruh buruk bagi keberhasilan pengembangan kompetensi menyimak. Faktor
tersebut misalnya minimnya fasilitas (tidak ada laboratorium), suasana menyimak tidak
nyaman (ruangan telalu lebar, kelas di sebelah kita terlalu berisik

IPS
2. Prinsip Ekonomi adalah dasar bertindak dengan pengorbanan tertentu guna memperoleh hasil
sebesar-besarnya ata dasar bertindak dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk
mendapatkan hasil tertentu.

Menerapkan Prinsip Ekonomi


Prinsip Ekonomi berlaku di segala bidang kehidupan manusia. Prinsip ekonomi diterapkan
dalam konsumsi, dunia perdagangan, produksi, dan distribusi.
1. Prinsip Ekonomi dalam Konsumsi.
Setiap orang pada dasarnya adalah konsumen. Dalam hal membelanjakan pendapatannya, ia
akan berusaha untuk membelanjakan sedikit penghasilannya untuk memperoleh baran atau
jasa yang berkualitas tinggi. Itulah sebabnya konsumen yang memegang teguh prinsip
ekonomi akan selalu berusaha untuk:
a. Membuat skala prioritas atas kebutuhan yang dianggap paling penting.
b. Mendidik diri agar hidup hemat dalam menggunakan barang dan fasilitas.
c. Membeli barang dan jasa yang mempunyai kualitas yang baik dan kualitas yang cukup
dengan harga yang rendah.
d. Membelanjakan uangnya dengan tidak melebihi pendapatannya.
e. Berusaha menabung untuk masa depan.
2. Prinsip Ekonomi Pedagang
Setiap pedagang pasti berusaha agar semua barang yang dibelinya laku atau terjual habis dan
dapat memberikan keuntungan yang maksimal. Oleh karena itu, pedangan teguh pada prinsip
ekonomi akan berupaya untuk:
a. Membeli semua barang yang dibutuhkan masyarakat.
b. Membeli barang-barang yang bermutu baik dengan harga yang semurah-murahnya.
c. Menjual barang dagangannya dengan keuntungan yang relatif tinggi tetapi masih dianggap
murah oleh konsumennya, sehingga barang cepat terjual habis.
d. Memberikan layanan yang dapat memuaskan konsumennya.
3. Prinsip Ekonomi dalam Produksi.
Setiap produsen selalu berusaha menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat
dan sesuai dengan selera masyarakat, dalam jumlah yang benyak, dan dengan harga jual
yang dapat memberikan keuntungan yang layak. Produsen yang berpegang teguh pada prinsip
ekonomi akan berupaya untuk:
a. Menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan dan disenangi oleh masyarakat.
b. Memproduksi barang dengan kualitas yang tinggi dan dengan harga yang terjangkau oleh
masyarakat, namun dapat meberikan kuntungan yang maksimal bagi dirinya.
c. meningkatkan kesejahteraan karyawan agar dapat berproduksi tinggi.
d. Menggunakan sumber-sumber yang ada secara efisien untuk mendapatkan keuntungan

yang maksimum.
4. Prinsip Ekonomi dalam Distribusi.
Dalam melakukan kegiatan ekonomi, distributor juga perlu menggunakan prinsip ekonomi.
Dengan berpegang pada prinsip ekonomi, distributor dapat menyalurkan hasil produksi dalam
jumlah dan waktu tertentu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu,
distributor harus menghitung biaya dan waktu yang diperlukan untuk menyalurkan barang
kepada konsumen. Dengan adanya perhitungan itu, distributor dapat menyalurkan barang
dengan biaya dan waktu seefisien mungkin. Distributor yang berpegang teguh pada prinsip
ekonomi akan berupaya untuk:
a. Mengenal produk yang akan disalurkan dan harga jual produk di pasar.
b. Mencari tahu tentang konsumen yang membutuhkan produk itu.
c. Mencari tahu tentang tempat konsumen mendapatkan produk itu (warung, toko, pasar, atau
supermarket).
d. Mencari tahu sarana (transportasi) dan saluran (agen, pedagang di pasar, pemilik toko, dan
pasar)

3. Sedangkan kelemahan koperasi menurut saya bukan pada koperasi itu sendiri tetapi pada teknis
pelaksanaan dari koperasi itu sendiri, seperti :
Keterbatasan modal. Seperti yang kita ketahui kalau koperasi pada umumnya didirikan oleh
masyarakat ekonomi lemah sehingga modal dari simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela
yang terkumpul terbatas jumlahnya. Kelemahan ini dapat diatasi dengan a.meningkatkan jumlah
anggota, b. Meningkatkan kesadaran dan tingkat kedisiplinan anggota memenuhi kewajibannya dalam
membiayai koperasi c. Mengelola usaha dengan baik sehingga mampu memberikan keuntungan yang
optimal bagi pemupukan modal, d. Mencari modal penyertaan dan atau modal dari luar baik dari
individu, pemerintah atau perbankan
Kemampuan manajemen perkoperasian yang buruk. Pengelolaan koperasi yang buruk tidak akan
memberikan keuntungan bagi anggotanya tetapi mengakibahal ini dapat diatasi dengan
mengikutsertakan pengurus dalam pendidikan dan pelatihan koperasi atau manajemen yang dilakukan
dinas koperasi atau pihak swasta, selain itu dapat pula dengan menunjuk pengelola yang profesional di
bidangnya.
Konflik kepentingan. Konflik kepentingan sering terjadi antara pemilik organisasi dengan kepentingan
mereka yang mengontrol atau mengelola organisasi, padahal seharusnya kepentingan pemiliklah
(anggota) yang harus mendominasi usaha koperasi. Hal ini dapat diminimalisir dengan dilakukannya
pengawasan baik internal (badan pengawas yg dipilih oleh anggota) ataupun pihak eksternal.

Kokoperasian, merupakan istilah bagi koperasi yang dimanfaatkan oleh sekolompok orang atau pihak
tertentu untuk memenuhi kebutuhannya dengan memanfaatkan kelonggaran aturan pendirian dan
pengelolaan koperasi. Contohnya koperasi yang hanya didirikan dan diorganisir untuk mendapat
bantuan dari luar, koperasi yang didirikan untuk memenuhi hasrat/dukungan politik (terjadi pada
zaman orla dan orba), ataupun koperasi yang tidak memperdulikan prinsip koperasi. Kokoperasian ini
lah yang sering melunturkan kepercayaan masyarakat awan tentang koperasi.

4. Proses pembentukan Kelompok


Pada dasarnya, pembentukan kelompok dapat diawali dengan adanya persepsi, perasaan atau
motivasi, dan tujuan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam proses selanjutnya
didasarkan adanya hal-hal berikut:
1.

Persepsi: Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat
dari pencapaian akademis. Misalnya terdapat satu atau lebih punya kemampuan intelektual,
atau yang lain memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik. Dengan demikian diharapkan
anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.

2.

Motivasi: Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk
berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang ada
pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal secara sehat. Dengan demikian
dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu pengetahuan agar bisa memotivasi diri unuk
maju.

3.

Tujuan: Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan untuk dapat menyelesaikan tugastugas kelompok atau individu.

4.

Organisasi: Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan


kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efesien dan
efektif.

5.

Independensi: Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini
merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama
kegiatan. Namun demikian kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati
kelompok.

6.

Interaksi: Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan
interaksi akan ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas
kebutuhan akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN


1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan
berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk
yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam.
Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya bebas dari
realitas alam.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah
perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang,
sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3. Ukuran Komunitas, Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas
perkotaan.
4. Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan
dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya
berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan
psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat
perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya
penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan
juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6. Diferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya
derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
7. Pelapisan Sosial, Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk
piramida terbalik yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas
menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan
kota:

pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya


dibandingkan dengandi desa.

pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak
terlalu besar dan sebaliknya.

masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.

ketentuan kasta dan contoh perilaku.

Mobilitas Sosial.
Mobilitas berkaitan dgn perpindahan yg disebabkan oleh pendidikan kota yg heterogen,
terkonsentrasi
nya kelembagaan-kelembagaan.

banyak penduduk yg pindah kamar atau rumah

waktu yg tersedia bagi penduduk kota untuk bepergian per satuan

bepergian setiap hari di dalam atau di luar

waktu luang di kota lbih sedikit dibandingkan di daerah perdesaan Interaksi Sosial.

masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya

dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif

Pengawasan Sosial
Di kota pengawasan lebih bersifat formal, pribadi dan peraturan lbh menyangkut masalah
pelanggaran
Pola Kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah perdesaan cenderung banyak ditentukan oleh
kualitas pribadi
dari individu dibandingkan dengan kota
Standar Kehidupan
Di kota tersedia dan ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, di desa
tidak demikian
Kesetiakawanan Sosial
Kesetiakawanan sosial pada masyarakat perdesaan dan perkotaan banyak ditentukan oleh
masingmasing faktor yang berbeda
Nilai dan Sistem Nilai
Nilai dan system nilai di desa dengan di kota berbeda dan dapat diamati dalam kebiasaan,
cara dan
norma yang berlaku