Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HASIL INVESTIGASI

KLB KERACUNAN MAKANAN


DI KABUPATEN JENEPONTO

Tamalatea
8 Kasus
41 Kasus

KRONOLOGI AWAL KASUS

KASUS KLB DI KEDUA KECAMATAN TERSEBUT


TERLAMBAT DIKETAHUI OLEH PIHAK DINAS
KESEHATAN KARENA TIDAK DIKONFIRMASI
OLEH PETUGAS KESEHATAN DITINGKAT
PUSKESMAS
DAN RUMAH SAKIT TEMPAT
PASIEN DIRAWAT

PASIEN TIDAK BEROBAT DI PUSKESMAS TAPI


LANGSUNG KE RUMAH SAKIT SEHINGGA
PIHAK
PUSKESMAS
JUGA
TERLAMBAT
MENGKONFIRMASI

LATAR BELAKANG
Salah

satu penyebab utama kematian dan


kesakitan di Indonesia adalah penyakit yang
disebabkan oleh pangan. Pangan merupakan
jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang
diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga
dapat menimbulkan masalah serius jika
mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan
berbahaya maupun racun alami yang terkandung
dalam pangan, yang sebagian diantaranya
menimbulkan KLB keracunan pangan.

Beberapa laporan keracunan pangan yang terjadi


sebelumnya di Kabupaten Jeneponto , sebagian
besar disebabkan karena kesalahan dalam proses
pengolahan sehingga terkontaminasi bakteri (kuman)
dan umumnya diderita oleh anak sekolah dan
Masyarakat Umum

KLB keracunan pangan adalah suatu kejadian


dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita
sakit dengan gejala-gejala yang sama atau hampir
sama
setelah
mengkonsumsi
sesuatu
dan
berdasarkan analisis epidemiologi terbukti makanan
tersebut sumber keracunan.

INVESTIGASI
Pada

tanggal 13 Oktober 2014 Dinas Kesehatan


Kabupaten Jeneponto menerima laporan bahwa
telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan
pangan di Desa Bontosunggu Kecamatan
Tamalatea yang merupakan wilayah Puskesmas
Tamalatea Dengan Jumlah Penderita 8 Orang tanpa
disertai kasus kematian ( CFR = 0 % )
Desa Allu Tarowang Kecamatan Tarowang yang
merupakan wilayah kerja Puskesmas Tarowang.
Jumlah penderita sebanyak 41 orang di tanpa
disertai kasus kematian (CFR = 0 %), dengan gejala
mual, muntah, sakit perut dan pusing. Semua kasus
telah mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit
Lanto Dg Pasewang Jeneponto

Dari hasil
investigasi
diketahui bahwa
kasus di Tamalatea
mengkonsumsi
Makanan di Pesta
berupa daging
ayam,Sayur Kacang
Panjang,acar
sehingga besar
dugaan penyebab
keracunan adalah
makanan ayam yang
kemungkinan sudah
basi

Untuk

Kasus
di
Menkonsumsi

Taroang
Daging
Kambing,Sate,Sayur,
Acar sehingga besar
kemungkinan penyebab
keracunannya adalah
Sate dan bumbunya
yang diperoleh dari
Pesta
sunatan
di
Kabupaten Bulukumba

Berdasarkan
wawancara
petugas
kesehatan
dan
pemeriksaan
fisik
penderita, maka gambaran klinis kasuskasus adalah sebagai berikut : sakit
perut,mual,muntah,sakitkepala,pusing,
dan diare.

Tabel : Distribusi Gejala KLB Keracunan Kabupaten Jeneponto tanggal 8 dan 9


Oktober 2014

Kec. Tarowang

Kec. Tamalatea
NO

Gejala dan
Tanda

Jumlah Kasus

NO

Gejala dan
Tanda

Jumlah Kasus

Mual

100 %

Mual

41

100 %

Muntah

100 %

Muntah

41

100 %

Diare

62 %

Diare

23

56 %

Nyeri Perut/

Nyeri Perut/
sakit perut

32

78 %

Sakit Kepala

24

58 %

Lemah

41

100 %

Pusing

27

65 %

Penuruna

12 %

sakit perut

100 %

75 %

Sakit Kepala

Lemah

100 %

Pusing

50 %

Penurunan

12 %

Kesadaran
9

Badan panas
(demam)

Kesadaran

Badan panas
(demam)

Dengan

membandingkan kedua hasil


wawancara (pengolah makanan dan
petugas kesehatan termasuk pemeriksaan
kepada penderita) dan mengingat masa
paparan dan inkubasi maka diperkirakan
etiologi keracunan berdasarkan wawancara
tersebut adalah kuman bakteri :
Baccilur cereus,Staphylococcus,dan
Vibrio parahaemolyticus.

Baccilur cereus menunjukan gejala nyeri


perut, mual, muntah, dan kadang diare.
Staphylococcus aereus menunjukan gejala
mual, muntah, sakit perut, diare
dan prostration (muntah menyembur).
Vibrio hemolitikus menunjukan gejala
nyeri,perut,mual,muntah,diare,menggigil,sa
kit kepala, dan kadang-kadang badan
panas (demam).

KURVA EPIDEMIK KERACUNAN MAKANAN

Kecamatan Tamalatea

14

12

Kecamatan Tarowang

10
4
8
3

13

6
5

10

4
3

0
0

05.00

05.30

07.00

07.30

0
04.00

0
06.00

06.30

04.30

05.00

05.30

06.00

06.30

07.00

07.30

08.00

Berdasarkan kurva epidemiologi diperoleh Berdasarkan kurva epidemiologi diperoleh


gambaran periode KLB adalah Jam 06.00 gambaran periode KLB adalah Jam 04.00 dan
dan berakhir pada jam 06.30 Wita
berakhir pada jam 06.30 Wita

GAMBARAN EPIDEMIOLOGI
TABEL DISTRIBUSI PENDERITA KERACUNAN MAKANAN BERDASARKAN
GOLONGAN UMUR
Tarowang

Tamalatea
Gol.

Um

NO

Jlh Penduduk
yang Makan

Jumlah
Penderita

Attack Rate
(%)

Gol.

Umur

Jlh Penduduk
yang Makan

Jumlah
Penderita

Attack Rate
(%)

100

100

ur
1
1

< 5 Tahun

59

Tahun

10 14
3

Tahun

> 15 Tahun

Jumlah

100

100

100

< 5 Tahun

59
2

Tahun

10 14 Tahun

100

> 15 Tahun

31

31

110

Jumlah

41

41

100

TABEL
DISTRIBUSI PENDERITA KERACUNAN PANGAN BERDASARKAN

JENIS KELAMIN
WILAYAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

TAMALATEA

3 Orang

5 Orang

TAROANG

18 Orang

23 Orang

DISTRIBUSI PENDERITA KLB KERACUNAN PANGAN


BERDASARKAN JENIS KELAMIN

Tamalatea

Taroang

37%
44%
56%
63%

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
UNTUK PEMERIKSAAN SAMPLE MAKANAN TIDAK
DILAKUKAN
KARENA
KEJADIAN
SUDAH
BERLANGSUNG
SELAMA
2
HARI
BARU
DIKONFIRMASI SEHINGGA SAMPLE MAKANAN TIDAK
ADA LAGI

TAPI UNTUK YANG DI WILAYAH TAROANG SAMPLE


MAKANAN TELAH DIKIRIM KE LABORATORIUM
MELALUI DINAS KESEHATAN BULUKUMBA ( KASUS
DAN TEMPAT KEJADIAN AWAL )

KESIMPULAN
Penyebab Keracunan Pangan di Kab Jeneponto pada
tanggal 8 dan 9
Oktober 2014 adalah karena
mengkonsumsi Makanan di Pesta yang karena proses
pembuatan dan penyimpanan yang kurang baik sehingga
terkontaminasi kuman/bakteri yang diduga adalah
Baccilus cereus dan atau staphylococcus aereus.
Kebiasaan
menggunakan bahan makanan yang
merupakan sisa sehari atau beberapa hari sebelumnya
merupakan faktor yang sangat berperan terhadap
terjadinya KLB keracunan pangan.
Pemberian insektisida pada sayuran dengan alasan awet
menjadi salah satu faktor keracunan pangan

SARAN DAN REKOMENDASI


Menghimbau kepada Masyarakat untuk mengolah
makanan secara higienis
Petugas
Puskesmas diharapkan agar ikut
melakukan pengawasan dan penyuluhan terhadap
pengolahan makanan jajanan oleh masyarakat
Semua pihak yang terkait agar dapat melakukan
pengawasan terhadap masyarakat khususnya
mengenai pengolahan makanan yang baik dan
benar

TERIMA KASIH