Anda di halaman 1dari 19

Teori hasil belajar Menurut Para Ahli Document

Transcript

1. Teori Hasil Belajar Hasil Belajar Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di manamana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari
maupun tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Menurut Gagne (dalam
Sumarno, 2011) hasil belajar merupakan kemampuan internal (kapabilitas) yang
meliputi pengetahuan, ketermpilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi
sesorang dan memungkinkan seseorang melakukan sesuatu. Pendapat hampir sama
dikemukakan oleh Jenkins dan Unwin (Uno, 2011: 17) yang mengatakan bahwa hasil
belajar adalah pernyataan yang menunjukkan tentang apa yang mungkin dikerjakan
siswa sebagai hasil dari kegiatan belajarnya. Jadi hasil belajar merupakan
pengalamanpengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam bentuk kemampuankemampuan tertentu. Pendapat lain tentang hasil belajar dikemukakan oleh Briggs
(dalam Taruh, 2003: 17) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah seluruh
kecakapan dan hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang
dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil belajar. Hal ini
senada dengan Rasyid (2008: 9) yang berpendapat bahwa jika di tinjau dari segi
proses pengukurannya, kemampuan seseorang dapat dinyatakan dengan angka.
Dengan demikian, hasil belajar siswa dapat diperoleh guru dengan terlebih dahulu
memberikan seperangkat tes kepada siswa untuk menjawabnya. Hasil tes belajar
siswa tersebut akan memberikan gambaran informasi tentang kemampuan dan
penguasaan kompetensi siswa pada suatu materi pelajaran yang kemudian dikonversi
dalam bentuk angka-angka. Dick dan Reiser (dalam Sumarno, 2011) mengemukakan
bahwa hasil belajar merupakan kemampuan-kemmpuan yang dimiliki siswa sebagai
hasil kegiatan pembelajaran, yang terdiri atas empat jenis, yaitu: (1) pengetahun, (2)
keterampilan intelektual, (3) ketermpilan motor, dan (4) sikap. Sedangkan pendapat
yang lain dikemukakan oleh Bloom dan Kratwohl (dalam Usman, 1994: 29) bahwa
hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang secara umum dapat
dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Bloom (dalam Usman, 1994: 29) membagi ranah kognitif menjadi enam bagian, yaitu
(1) Pengetahuan, yang mengacu pada kemampuan mengenal atau mengingat materi
yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sulit, (2)
pemahaman, yang mengacu pada kemampuan memahami makna materi, (3)
penerapan, yang mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi
yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan atau
prinsip, (4) analisis, yang mengacu pada kemampuan menguraikan materi ke dalam
komponen-komponennya, (5) sintesis, yang mengacu pada kemampuan memadukan
konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola
2. struktur atau bentuk baru, dan (6) evaluasi, yang mengacu pada kemampuan
memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Selain
ranah kognitif tersebut di atas, evaluasi juga dilakukan pada ranah afektif. Menurut
Davies (dalam Dimyati, 2009: 205), ranah afektif berhubungan dengan perhatian,
sikap, penghargaan, nilai-nilai, perasaan, dan emosi. Sumiati (2007: 215) menjelaskan
bahwa tingkatan afektif ada lima, dari sederhana ke yang kompleks. Kelima tingkatan
tersebut yaitu (1) kemauan menerima, (2) kemauan menanggapi, (3) berkeyakinan, (4)
penerapan karya, dan (5) ketekunan dan ketelitian. Hasil belajar yang berikutnya
adalah dalam ranah psikomotor. Menurut Davies (dalam Dimyati, 2009: 207), ranah

psikomotor berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau


kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan. Sejalan dengan
pendapat tersebut, Sudjana (1987: 54) menjelaskan bahwa hasil belajar dalam ranah
psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan-keterampilan (skill), dan kemampuan
bertindak individu. Harrow (dalam Dimyati, 2009: 208) mengemukakan taksonomi
ranah psikomotor sekaligus menjelaskan bahwa penentuan kriteria untuk mengukur
keterampilan siswa harus dilakukan dalam jangka waktu 30 menit. Taksonomi ranah
psikomotor Harrow disusun secara hierarkis dalam lima tingkatan, yaitu: (1) meniru,
artinya siswa dapat meniru atau mengikuti suatu perilaku yang dilihatnya, (2)
manipulasi, artinya siswa dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan visual sebagaimana
pada tingkat meniru, (3) ketetapan gerak, artinya siswa diharapkan dapat melakukan
sesuatu perilaku tanpa menggunakan contoh visual ataupun petunjuk tertulis, (4)
artikulasi, artinya siswa diharapkan dapat menunjukkan serangkaian gerakan dengan
akurat, urutan yang benar, dan kecepatan yang tepat, dan (5) naturalisasi, artinya
siswa diharapkan melakukan gerakan tertentu secara spontan atau otomatis. Daftar
Pustaka Dimyati, Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta
Sumarno, Alim. 2011. Pengertian Hasil Belajar, (On Line) (http://elearning.
unesa.ac.id/tag/teori-hasil-belajar-gagne-dan-driscoll-dalam-buku-apa di akses
19/07/2013 Pukul 14:39 Wita.) Rasyid, Harun dan Mansyur. 2008. Penilaian Hasil
Belajar. Bandung: CV. Wacana Prima. Taruh, Enos.2003. Konsep Diri dan Motivasi
Berprestasi dalam Kaitannya dengan Hasil Belajar Fisika. Jurnal Penelitian dan
Pendidikan (hlm.15-29) Gorontalo: IKIP Negeri Gorontalo. Uno, Hamzah B. 2009.
Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
3. Usman, Moh. Uzer. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya Definisi hasil belajar Ada beberapa definisi hasil belajar yang dikemukakan
oleh para ahli. Berikut definisi belajar tersebut: 1. Hasil belajar merupakan perubahan
perilaku peserta didik yang diperoleh setelah mengikuti pembelajaran selama kurun
waktu tertentu yang relatif menetap. Hal ini sesuai pendapat 2. Definisi hasil belajar
menurut Hamalik (2002: 155): Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan
pengetahuan sikap dan keterampilan. Perubahan dapat diartikan terjadinya
peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya,
misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap tidak sopan menjadi sopan dan
sebagainya. 3. Definisi hasil belajar menurut Dimyati (2002: 3): Hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi
guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar. Dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Salah satu upaya
mengukur hasil belajar siswa dilihat dari hasil belajar siswa itu sendiri. Bukti dari
usaha yang dilakukan dalam kegiatan belajar dan proses belajar adalah hasil belajar
yang biasa diukur melalui tes. 4. Definisi hasil belajar menurut Hamalik (2002: 146) :
Hasil belajar (achievement) itu sendiri dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan
murid dalam mempelajari materi pelajaran di pondok pesantren atau sekolah, yang
dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi
pelajaran tertentu. Sumber: ______, 2013, Defenisi Hasil Belajar, (On Line)
(http://ahlidefinisi.blogspot.com/2011/02/definisi-hasil-belajar.html, di akses Tanggal
7/19/2013 pukul 14:39 wita)

.1 Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Sebagaimana tokoh-tokoh lainnya dalam psikologi pembelajaran, Gagne berpendapat


bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar
pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan indiviu seseorang meliputi
lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan
itulah yang akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan
menentukan akan menjadi apa ia nantinya.
Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu
bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan
mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan
sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap
meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus,
dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne
juga mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis belajar,
fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam pembelajaran.
A. Sistematika Delapan TipeBelajar
Menurut Robert M. Gagne, ada 8 tipe belajar, yaitu:
1. Tipe belajar tanda (Signal learning)
Belajar dengan cara ini dapat dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh Pavlov.
Semua jawaban/respons menurut kepada tanda/sinyal.
2. Tipe belajar rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)
Tipe ini hampir serupa dengan tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons juga karena
adanya dorongan yang datang dari dalam serta adanya penguatan sehingga seseorang mau
melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

3. Tipe belajar berangkai (Chaining Learning)

Pada tahap ini terjadi serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah bahwa
suatu respons pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya akan menimbulkan
respons baru.
4. Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)
Tipe ini berhubungan dengan penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu memberikan
reaksi verbal pada stimulus/perangsang.
5. Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)
Hasil dari tipe belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar objek-objek
yang terdapat dalm lingkungan fisik.
6. Tipe belajar konsep (Concept Learning)
Belajar pada tipe ini terutama dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau pengertian
tentang suatu yang mendasar.
7. Tipe belajar kaidah (RuleLearning)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep.
8. Tipe belajar pemecahan masalah (Problem solving)
Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu
permasalahan.
B. Sistematika Lima Jenis Belajar
Sistematika ini tidak jauh berbeda dengan sistematika delapan tipe belajar, dimana isinya
merupakan bentuk penyederhanaan dari sistematika delapan tipe belajar. Uraian tentang
sistematika lima jenis belajar ini memperhatikan pada hasil belajar yang diperoleh siswa.
Hasil belajar ini merupakan kemampuan internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang
dan memungkinkan orang tersebut melakukan sesuatu yang dapat memberikan ptrestasi
tertentu.
Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh, namun tidak
menunjukkan setiap hasil belajar atau kemampuan internal satu-persatu. Akan tetapi

memgelompokkan hasil-hasil belajar yang memiliki ciri-ciri sama dalam satu kategori dan
berbeda sifatnya dari kategori lain. Maka dapat dikatakan, bahwa sistematika Gagne meliputi
lima kategori hasil belajar. Kelima kategori hasil belajar tersebut adalah informasi verbal,
kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
1. Informasi verbal (Verbal information)
Merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk
bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan tersebut diperoleh dari sumber yang juga
menggunakan bahasa, lisan maupun tertulis. Informasi verbal meliputi cap verbal dan
data/fakta. Cap verbal yaitu kata yang dimiliki seseorang untuk menunjuk pada obyekobyek yang dihadapi, misalnya kursi. Data/fakta adalah kenyataan yang diketahui, misalnya
Ibukota negara Indonesia adalah Jakarta.
2. Kemahiran intelektual (Intellectual skill)
Yang dimaksud adalah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya
sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol
(huruf, angka, kata, dan gambar). Kategori kemahiran intelektual terbagi lagi atas empat
subkemampuan, yaitu:
a. Diskriminasi jamak, yaitu kemampuan seseorang dalam mendeskripsikan benda yang
dilihatnya.
b. Konsep, ialah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri sama.
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret
adalah pengertian yang menunjuk pada obyek-obyek dalam lingkungan fisik. Konsep yang
didefinisiskan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk
pada realitas dalam lingkungan hidup fisik.
c. Kaidah, yaitu kemampuan seseorang untuk menggabungkan dua konsep atau lebih sehingga
dapat memahami pengertiannya.
d.

Prinsip. Dalam prinsip telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga
terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks. Berdasarkan prinsip
tersebut, seseorang mampu memecahkan suatu permasalahan, dan kemudian menerapkan
prinsip tersebut pada permasalahan yang sejenis.
3. Pengaturan kegiatan kognitif (Cognitive strategy)

Merupakan suatu cara seseorang untuk menangani aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri,
sehingga ia menggunakan cara yang sama apabila menemukan kesulitan yang sama.

4. Keterampilan motorik (Motor skill)


Adalah kemampuan seseorang dalam melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam
urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan
secara terpadu.
5. Sikap (Attitude)
Merupakan kemampuan seseorang yang sangat berperan sekali dalam mengambil tindakan,
apakah baik atau buruk bagi dirinya sendiri.

C. Fase-Fase Belajar
Fase-fase belajar ini berlaku bagi semua tipe belajar. Menurut Gagne, ada 4 buah fase
dalam proses belajar, yaitu:
1. Fase penerimaan (apprehending phase)
Pada fase ini, rangsang diterima oleh seseorang yang belajar. Ini ada beberapa langkah.
Pertama timbulnya perhatian, kemudian penerimaan, dan terakhir adalah pencatatan (dicatat
dalam jiwa tentang apa yang sudah diterimanya).
2. Fase penguasaan (Acquisition phase)
Pada tahap ini akan dapat dilihat apakah seseorang telah belajar atau belum. Orang yang telah
belajar akan dapat dibuktikannya dengan memperlihatkan adanya perubahan pada
kemampuan atau sikapnya.
3. Fase pengendapan (Storage phase)
Sesuatu yang telah dimiliki akan disimpan agar tidak cepat hilang sehingga dapat digunakan
bila diperlukan. Fase ini berhubungan dengan ingatan dan kenangan.
4. Fase pengungkapan kembali (Retrieval phase)
Apa yang telah dipelajari, dimiliki, dan disimpan (dsalam ingatan) dengan maksud untuk
digunakan (memecahkan masalah) bila diperlukan. Jika kita akan menggunakan apa yang
disimpan, maka kita harus mengeluarkannya dari tempat penyimpanan tersebut, dan inilah
yang disebut dengan pengungkapan kembali. Fase ini meliputi penyadaran akan apa yang

telah dipelajari dan dimiliki, serta mengungkapkannya dengan kata-kata (verbal) apa yang
telah dimiliki tidak berubah-ubah.
Menurut Gagne, fase pertama dan kedua merupakan stimulus, dimana terjadinya proses
belajar,sedangkan pada fase ketiga dan keempat merupakan hasil belajar.

D. Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran


1. Mengontrol perhatian siswa.
2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai hasil belajar yang diharapkan guru.
3. Merangsang dan mengingatkan kembali kemampuan-kemampuan siswa.
4. Penyajian stimuli yang tak bisa dipisah-pisahkan dari tugas belajar.
5. Memberikan bimbingan belajar.
6. Memberikan umpan balik.
7. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memeriksa hasil belajar yang telah
dicapainya.
8. Memberikan kesempatan untuk berlangsungnya transfer of learning.
9. Memberikan kesempatan untuk melakukahn praktek dan penggunaan kemampuan
yang baru diberikan.

E. Aplikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran


Karakteristik materi matematika yang berjenjang (hirarkis) memerlukan cara belajar
yang berjenjang pula. Untuk memahami suatu konsep dan/atau rumus matematika yang lebih
tinggi, diperlukan pemahaman yang memadai terhadap konsep dan/atau rumus yang ada di
bawahnya.

Taksonomi Bloom
Taksonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi
dan nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan.
Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang
melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.
Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi
Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang
banyak disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa

untuk mengutarakan hapalan mereka. Konferensi tersebut merupakan lanjutan dari konferensi yang
dilakukan pada tahun 1948. Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam
kemampuan berpikir (thinking behaviors). Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai
agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya. Akhirnya pada tahun
1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan
berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom.
Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan skills mulai dari
tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang
rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan ini oleh Bloom dibagi
menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Taksonomi Bloom mengalami dua kali perubahan perubahan yaitu Taksonomi yang dikemukakan
oleh Bloom sendiri dan Taksonomi yang telah direvisi oleh Andreson dan KartWohl. Untuk pembahasan
masing-masing dijelaskan sebagai berikut,

A. Ranah Kognitif
Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.
Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai
jenjang yang tertinggi yang meliputi 6 tingkatan antara lain :

a. Pengetahuan (Knowledge) C1
Pada level atau tingkatan terendah ini dimaksudkan sebagai kemampuan mengingat kembali
materi yang telah dipelajari, misalnya: (a) pengetahuan tentang istilah; (b) pengetahuan tentang
fakta khusus; (c) pengetahuan tentang konvensi; (d) pengetahuan tentang kecendrungan dan
urutan; (e) pengetahuan tentangklasifikasi dan kategori; (f) pengetahuan tentang kriteria; dan (g)
pengetahuan tentang metodologi. Contoh: menyatakan kebijakan.

b. Pemahaman (Comprehension) C2
Pada level atau tingkatan kedua ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan memahami materi
tertentu, dapat dalam bentuk: (a) translasi (mengubah dari satu bentuk ke bentuk lain); (b)
interpretasi (menjelaskan atau merangkum materi);(c) ekstrapolasi (memperpanjang/memperluas
arti/memaknai data). Contoh : Menuliskan kembali atau merangkum materi pelajaran

c. Penerapan (Application) C3
Pada level atau tingkatan ketiga ini, aplikasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menerapkan
informasi dalam situasi nyata atau kemampuan menggunakan konsep dalam praktek atau situasi yang
baru. Contoh: Menggunakan pedoman/ aturan dalam menghitung gaji pegawai.

d.

Analisa (Analysis) C4
Analisis adalah kategori atau tingkatan ke-4 dalam taksonomi Bloom tentang ranah (domain)
kognitif. Analisis merupakan kemampuan menguraikan suatu materi menjadi bagian-bagiannya.
Kemampuan menganalisis dapat berupa: (a) analisis elemen (mengidentifikasi bagian-bagian
materi); (b) analisis hubungan (mengidentifikasi hubungan); (c) analisis pengorganisasian prinsip
(mengidentifikasi pengorganisasian/organisasi). Contoh: Menganalisa penyebab meningkatnya Harga
pokok penjualan dalam laporan keuangan dengan memisahkan komponen- komponennya.

e.

Sintesis (Synthesis) C5
Level kelima adalah sintesis yang dimaknai sebagai kemampuan untuk memproduksi. Tingkatan
kognitif kelima ini dapat berupa: (a) memproduksi komunikasi yang unik; (b) memproduksi rencana
atau kegiatan yang utuh; dan (c) menghasilkan/memproduksi seperangkat hubungan abstrak.
Contoh: Menyusun kurikulum dengan mengintegrasikan pendapat dan materi dari beberapa sumber.

f.

Evaluasi (Evaluation) C6
Level ke-6 dari taksonomi Bloom pada ranah kognitif adalah evaluasi. Kemampuan melakukan
evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai manfaat suatu benda/hal untuk tujuan tertentu
berdasarkan kriteria yang jelas. Paling tidak ada dua bentuk tingkat (level) evaluasi menurut Bloom,
yaitu: (a) penilaian atau evaluasi berdasarkan bukti internal; dan (2) evaluasi berdasarkan bukti
eksternal. Contoh: Membandingkan hasil ujian siswa dengan kunci jawaban.

B. Ranah Afektif
Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai,
penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Lima kategori ranah ini diurutkan mulai dari perilaku
yang sederhana hingga yang paling kompleks :

a.

Penerimaan (Receiving) A1
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi
yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. Dan

kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Contoh: mendengar
pendapat orang lain, mengingat nama seseorang.

b.

Responsive (Responding) A2
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi
peserta dan tertarik. Kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk
segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi dalam diskusi kelas

c.

Nilai yang dianut (Value) A3


Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian
tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan
tersebut dapat diklasifikasikan menjadi sikap dan opresiasi. Serta Kemampuan menunjukkan nilai
yang dianut untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan
nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Contoh: Mengusulkan kegiatan Corporate Social
Responsibility sesuai dengan nilai yang berlaku dan komitmen perusahaan.

d.

Organisasi (Organization) A4
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten
dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup
tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. Dan Kemampuan membentuk system nilai dan
budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai. Contoh: Menyepakati dan mentaati
etika profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.

e.

Karakterisasi (characterization) A5
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur
sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori
ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa. Dan Kemampuan
mengendalikan perilaku berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal,
interpersonal dan social. Contoh: Menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja sendiri, kooperatif dalam
aktivitas kelompok

C.

Ranah Psikomotorik
Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan
fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dapat diukur sudut

kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik
mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit.

a.

Peniruan P1
Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang
diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam
bentuk global dan tidak sempurna.

b.

Manipulasi P2
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan
pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan
sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

c.

Ketetapan P3
Memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Responrespon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

d.

Artikulasi P4
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan
mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.

e.

Pengalamiahan P5
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik
maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan
tertinggi dalam domain psikomotorik.

Revisi Taksonomi Bloom

Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi

aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan
tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya
dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:

1. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.
2. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level masih sama yaitu dari
urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahanperubahan
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada level 1, knowledge diubah menjadi remembering (mengingat).


Pada level 2, comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami).
Pada level 3, application diubah menjadi applying (menerapkan).
Pada level 4, analysis menjadi analyzing (menganalisis).
Pada level 5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar,

yaitu creating (mencipta).


Pada level 6, Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai).

Jadi, Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level:
remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan), analyzing (menganalisis,
mengurai), evaluating (menilai) dan creating (mencipta). Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam
merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6.
Sama dengan sebelum revisi, tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking
Skills, sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skill. Jadi, dalam menginterpretasikan
piramida di atas, secara logika adalah sebagai berikut:
- Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu
- Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu
- Sebelum kita menganalisa maka kita harus menerapkannya dulu
- Sebelum kita mengevaluasi maka kita harus menganalisa dulu
- Sebelum kita berkreasi atau menciptakan sesuatu, maka kita harus mengingat, memahami,
mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi.

Beberapa kritik dilemparkan kepada penggambaran piramida ini. Ada yang beranggapan bahwa
semua kegiatan tidak selalu harus melewati tahap yang berurutan. Proses pembelajaran dapat dimulai
dari tahap mana saja tergantung kreasi tiap orang. Namun demikian, memang diakui bahwa pentahapan
itu sebenarnya cocok untuk proses pembelajaran yang terintegrasi.
Hingga saat ini ranah afektif dan psikomotorik belum mendapat perhatian. Skill menekankan
aspek psikomotorik yang membutuhkan koordinasi jasmani sehingga lebih tepat dipraktekkan bukan
dipelajari. Attitude juga merupakan faktor yang sulit diubah selama proses pembelajaran karena
attitude terbentuk sejak lahir. Mungkin itulah alasan mengapa revisi baru dilakukan pada ranah kognitif
yang difokuskan pada knowledge.

KONSEP PERMASALAHAN DALAM BELAJAR

Diposkan oleh Ruby Audies di 02.12 1 komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 28 November 2013


Resume Teori Humanistik

Teori Belajar Humanistik

A. Prinsip dasar
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun
terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsipprinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan.
Teori belajar humanistik lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal
dari pada belajar seperti apa adanya yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun
dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia (mencapai aktualisasi diri dan
sebagainya) dapat tercapai.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada
dalam diri mereka.

Menurut pendapat kami, Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran
yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu
mengembangkan potensi dirinya.

B. Karakteristik Teori Humanistik


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

C.

Mementingkan manusia sebagai pribadi


Mementingkan kebulatan pribadi
Mementingkan peranan kognitif dan afektif
Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self concept
Mementingkan persepsual subjektif yang dimiliki tiap individu
Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
Mengutamakan insight (pengetahuan/pemahaman) (Suprayogi, 2005).

Prinsip Teori Humanistik


Manusia memiliki kemampuan alami untuk belajar
Belajar menjadi signifikan apabila apa yang dipelajari memiliki relevansi dengan keperluan mereka
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
Tugas belajar dapat lebih diterima dan diasimilasikan apabila ancaman dari luar itu semakin kecil
Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara
Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya
Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar

D. Implementasi Teori Humanistik


1.Guru Sebagai Fasilitator
a. Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai
cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang
sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
b. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau
pengalaman kelas
c. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas
dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
d. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan
yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang
bermakna tadi.

e. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah
dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
f. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan
oleh kelompok.
g. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang
bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang
sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
h. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai
seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan
pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
i. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan
tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh
saja digunakan atau ditolak oleh siswa
j. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang
dalam dan kuat selama belajar
k. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan
menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Merespon perasaan siswa


Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
Menghargai siswa
Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan
segera dari siswa)
7. Tersenyum pada siswa.

Aplikasi Teori Belajar Humanistik


Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang
mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah
menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai
makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan
mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman
belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya
secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang
umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan
positif.

3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif
sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai
secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko
perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini
adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan
mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

E. Tokoh Tokoh Teori Belajar Humanistik


Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs,
Abraham Maslow dan Carl Rogers
1. Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan meaning (makna atau arti)
adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru
tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi
siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah
keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa
mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Yang
terpenting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan
kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan
lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri
makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit
hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :

(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang


(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan yang bersifat hirarkis.
Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus
diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan
motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3. Carl Rogers
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
1. Kognitif (kebermaknaan)
2. Experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas
experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa
sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru
memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar
tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran
berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai
bagian yang bermakna bagi siswa.
4.

Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang
penting diantaranya ialah :
1. Manusia mempunyai belajar alami
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi
dengan maksud tertentu
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil
5. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara.
6. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya
7. Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
9. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar

F. Kelebihan dan kelemahan Teori Belajar Humanistik

Kelebihan Teori Belajar Humanistik


1. Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
2. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam
belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
3. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan
mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Kekurangan Teori Belajar Humanistik
1. Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
2. Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar