Anda di halaman 1dari 5

SIFAT SIKLUS PENDAPATAN

Siklus pendapatan suatu perusahaan berisi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pertukaran
barang atau jasa antara perusahaan tersebut dengan pelanggannya. Perusahaan memberikan
barang atau jasa kepada pelanggan, dan memperoleh pendapatan sebagai imbalan atas pemberian
tersebut. Pendapatan tersebut dapat berupa sejumlah uang yang diterima bersamaan dengan saat
pemberian barang atau jasa, maupun piutang dagang yang baru akan dilunasi selang beberapa
waktu kemudian.
TUJUAN AUDIT
Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi
signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus pendapatan. Tujuan audit ditentukan
berdasar atas kelima kategori asersi laporan keuangan yang dinyatakan oleh manajemen, yaitu:
Asersi Keberadaan atau Keterjadian
Pada audit siklus pendapatan, tujuan keberadaan atau keterjadian menekankan pada apakah
seluruh saldo penjualan, piutang dagang, dan kas benar-benar ada pada tanggal neraca. Asersi ini
juga menekankan pada apakah seluruh transaksi yang tercatat benar-benar terjadi.
Asersi Kelengkapan
Asersi ini menekankan apakah seluruh transaksi dan saldo yang semestinya tercantum dalam
laporan keuangan, sudah benar-benar dicatat dan disajikan.
Asersi Hak dan Kewajiban
Berkaitan dengan asersi ini, auditor berusaha memastikan apakah perusahaan mempunyai hak
kepemilikan yang sah atas saldo kas dan piutang dagang. Piutang dagang menggambarkan klaim
legal perusahaan terhadap pelanggan untuk pembayaran.
Asersi Penilaian dan Pengalokasian
Berkaitan dengan asersi penilaian, auditor akan berusaha memperoleh bukti mengenai apakah
saldo penjualan, piutang dagang dank as telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah
yang tepat. Auditor akan memastikan apakah saldo tersebut diperoleh melalui penilaian sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.
Asersi Pelaporan dan Pengungkapan
Selain memperoleh bukti mengenai keempat asersi tersebut, auditor perlu menghimpun bukti
apakah transaksi dan saldo yang tercatat telah tepat dikasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan
dalam neraca.

MATERIALITAS
Pendapatan merupakan ukuran volume aktivitas sebenarnya bagi setiap perusahaan. Pendapatan
biasanya melibatkan volume transaksi yang tinggi, dan total pendapatan merupakan hal yang
sangat penting pada laporan keuangan yang seringkali digunakan sebagai ukuran materialitas
secara keseluruhan untuk penugasan ini. Pengetahuan tentang bisnis dan industri klien
merupakan hal yang penting dalam mempertimbangkan signifikansi transaksi penyesuaian
penjualan, diskon penjualan, serta retur penjualan dan pengurangan harga yang sangat bervariasi
dari satu industri dengan industri lainnya.
RISIKO BAWAAN
Risiko bawaan siklus pendapatan pada banyak perusahaan adalah tinggi. Ada berbagai factor
yang menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus pendapatan ini, antara lain:
Volume transaksi yang tinggi
Penentuan waktu pengakuan pendapatan berkaitan dengan standar akuntansi yag ambigu,
dilakukannya estimasi, dan kompleksitas perhitungan
Piutang dagang mungkin salah diklasifikasikan dalam piutang lancer dan piutang tidak lancer
karena ada kesulitan dalam meperkirakan waktu pelunasan
Sifat kas (paling likuid dan sangat diminati)
Adanya potensi terjadi manipulasi dalam transaksi penyesuaian penjualan untuk menutupi
korupsi

STRATEGI AUDIT
Tingginya risiko bawaan siklus ini menyebabkan banyak perusahaan memprioritaskan atau
memperluas struktur pengendalian intern siklus pendapatan untuk mencegah dan mendeteksi
salah saji. Risiko pengendalian asersi keberadaan dan keterjadian, kelengkapan, penilaian dan
pengalokasian yang berkaitan dengan transaksi dan rekening siklus pendapatan dapat dikurangi
secara signifikan. Strategi audit yang sering dipakai adalah Pendekatan Tingkat Risiko
Pengendalian yang ditetapkan Lebih Rendah (Low Assesed Of Control Risk).
Dalam strategi pendekatan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan lebih rendah, auditor
lebih banyak mengandalkan pengujian pengendalian. Logika pemikiran yang mendasari
penggunaan startegi ini adalah apabila auditor yakin bahwa struktur pengendalian intern klien
sangat baik dan dapat mencegah dan mendeteksi salah saji, maka auditor perlu menguji

kelayakannya tersebut. Auditor akan menguji apakah struktur pengendalian intern tersebut
memang layak diyakini efektivitasnya. Dengan demikian, auditor akan melaksanakan pengujian
pengendalian.

PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN


Sruktur pengendalian intern terdiri dari 5 (lima) komponen, yaitu :
(1)

Lingkungan Pengendalian

Merupakan dasar dari komponen pengendalian yang lain yang secara umum dapat memberikan
acuan disiplin. Meliputi : Integritas, Nilai Etika, Kompetensi personil perusahaan, Falsafah
Manajemen dan gaya operasional, cara manajemen di dalam mendelegasikan tugas dan tanggung
jawab, mengatur dan mengembangkan personil, serta, arahan yang diberikan oleh dewan direksi.
Kunci lingkungan pengendalian adalah:
Integritas dan Etika
Komitmen terhadap Kompetensi
Struktur Organisasi
Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
Praktik dan Kebijakan Sumber Daya Manusia yang Baik
(2)

Penilaian Resiko

Identifikasi dan analisa atas resiko yang relevan terhadap pencapaian tujuan yaitu mengenai
penentuan bagaimana resiko dinilai untuk kemudian dikelola. Komponen ini hendaknya
mengidentifikasi resiko baik internal maupun eksternal untuk kemudian dinilai. Sebelum
melakukan penilain resiko, tujuan atau target hendaknya ditentukan terlebih dahulu dan dikaitkan
sesuai dengan level-levelnya.
Langkah-langkah dalam penaksiran risiko adalah sebagai berikut:
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi risiko
Menaksir risiko yang berpengaruh cukup signifikan
Menentukan tindakan yang dilakukan untuk me-manage risiko

(3)

Aktivitas Pengendalian

Kebijakan dan prosedur yang dapat membantu mengarahkan manajemen hendaknya


dilaksanakan. Aktivitas pengendalian hendaknya dilaksanakan dengan menembus semua level
dan semua fungsi yang ada di perusahaan.
Aktivitas pengendalian meliputi:
Pemisahan fungsi/tugas/wewenang yang cukup
Otorisasi traksaksi dan aktivitas lainnya yang sesuai
Pendokumentasiaan dan pencatatan yang cukup
Pengendalian secara fisik terhadap aset dan catatan
Evaluasi secara independen atas kinerja
Pengendalian terhadap pemrosesan informasi
Pembatasan akses terhadap sumberdaya dan catatan
(4)

Informasi dan Komunikasi

Menampung kebutuhan perusahaan di dalam mengidentifikasi, mengambil, mengkomukasikan


informasi-informasi kepada pihak yang tepat agar mereka mampu melaksanakan tanggung jawab
mereka. Di dalam perusahaan (organisasi), Sistem informasi merupakan kunci dari komponen
pengendalian ini. Informasi internal maupun kejadian eksternal, aktifitas, dan kondisi maupun
prasyarat hendaknya dikomunikasikan agar manajemen memperoleh informasi mengenai
keputusan-keputusan bisnis yang harus diambil, dan untuk tujuan pelaporan eksternal.
(5) Pengawasan
Pengendalian intern seharusnya diawasi oleh manajemen dan personil di dalam perusahaan. Ini
merupakan kerangka kerja yang diasosiasikan dengan fungsi internal audit di dalam perusahaan
(organisasi), juga dipandang sebagai pengawasan seperti aktifitas umum manajemen dan
aktivitas supervise. Adalah penting bahwa defisiensi pengendalian intern hendaknya dilaporkan
ke atas. Dan pemborosan yang serius seharusnya dilaporkan kepada manajemen puncak dan
dewan direksi, hal ini meliputi :

Mengevaluasi temuan-temuan, reviu, rekomendasi audit secara tepat.

Menentukan tindakan yang tepat untuk menanggapi temuan dan rekomendasi dari audit dan
reviu.
Menyelesaikan dalam waktu yang telah ditentukan tindakan yang digunakan untuk
menindaklanjuti rekomendasi yang menjadi perhatian manajemen.
Kelima komponen ini terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat memberikan kinerja
sistem yang terintegrasi yang dapat merespon perubahan kondisi secara dinamis. Sistem
Pengendalian Internal terjalin dengan aktifitas opersional perusahaan, dana akan lebih efektif
apabila pengendalian dibangun ke dalam infrastruktur perusahaan, untuk kemudian menjadi
bagian yang paling esensial dari perusahaan (organisasi).