Anda di halaman 1dari 11

III. 5.

Infeksi genital non spesifik


III.5.1 Definisi
Infeksi genital non spesifik (I.G.N.S) atau non spesifik genital infection
(N.S.G.I) adalah infeksi traktus genital yang disebabkan oleh kuman non spesifik.
Pada wanita umumnya menunjukan infeksi pada serviks, meskipun infeksi genital non
spesifik pada wanita dapat menyerang uretra maupun vagina.20
III.5.2 Epidemiologi
Di beberapa negri IGNS merupakan penyakit menular seks yang paling tinggi
dan angka perbandingan dengan uretritis gonore kira-kira 2:1. Banyak ditemukan
pada orang dengan sosial ekonomi lebih tinggi, usia lebih tua, dan aktivitas seksual
yang tinggi. Juga pria lebih banyak dibanding wanita dan golongan heteroseksual
lebih banyak dibanding dengan golongan homoseksual.22
III.5.2 Etiologi
Clamydia trachomatis (30-50 %) dan ureaplasma urealyticum (10-40 %)22
III. 5.3. Infeksi Ureaplasma urealitycum dan Mikoplasma hominis pada Wanita
Ureaplasma urealyticum merupakan 25% penyebab uretritis non spesifik dan
sering bersamaan dengan Chlamidia trachomatis. Dahulu dikenal dengan nama Tstrain mycoplasma. Mycoplasma hominis juga sering terjadi bersama-sama dengan
Ureaplasma urealyticum.20
Mycoplasma hominis sebagai penyabab uretritis non spesifik masih diragukan,
karena kuman ini bersifat komensal yang dapat menjadi patogen dalam kondisikondisi tertentu. Ureaplasma urealyticum merupakan mikroorganisme yang paling
kecil, gram negatif, dan sangat pleomorfik karena tidak mempunyai dindik sel yang
kaku.20

III. 5.2. Infeksi Chlamydia pada Wanita


III.5.2.1 Epidemiologi
Chlamydia trochomatis merupakan penyebab tersering dari infeksi genital
non spesifik.20 Di Amerika dilaporkan lebih dari 3 juta kasus setiap tahunnya. di
mana 70-90 % kasus adalah asimtomatis. Infeksi C trichomatis lebih tinggi
kejadiannya pada seorang dengan sekual aktif, dilaporkan angka kejaadiannya
lebih dari 20%. 23
Infeksi Chlamydia sering ditemukan pada wanita dewasa yang seksual aktif,
dan berhubungan dengan usia muda pertama kali kontak seksual serta lamanya
waktu aktivitas seksual. pada wanita urban, ditemukan 15% infeksi endoserviks
yang disebabkan oleh chlamydia, sedangkan pada wanita hamil dengan sosioekonomi rendah ditemukan sebanyak lebih dari 20% .21
Infeksi C. trachomatis juga didapatkan pada bayi dan anak-anak. Infeksi C.
trachomatis juga didapatkan pada bayi dan anak-anak. Infeksi pada bayi
didapatkan pada masa perinatal. resiko penularan dari ibu dengan infeksi C.
trachomatis pada bayinya saat kelahiran diperkirakan sekitar 50%. Infeksi pada
bayi mungkin terjadi pada beberapa tempat, seperti pada konjungtiva, nasofaring,
rektum dan vagina. Infeksi pada bayi yang paling sering didapatkan adalah
konjugtivitis neonatal, terjadi pada 20-50% bayi yang dilahirkan dengan infeksi C.
trachomatis. Infeksi C. trachomatis pada rektum dan vagina juga didapatkan pada
anak-anak dengan seksual abuse. dengan frekuensi lebih jarang kurang dari 5%.
Infeksi ini sering kali asimtomatis.21

III.5.2.2. Etiologi dan Patogenesis


Telah terbukti bahwa lebih dari 50% daripada kasus uretritis non spesifik
disebabkan oleh kuman chlamydia trachomatis. Kuman ini merupakan parasit
intraobligat, menyerupai bakteri gram negatif. Chlamydia trachomatis penyebab
uretritis non spesifik merupakan Chlamydia Trachomatis tipe serologik D-K.23
Faktor virulensi utama dari Chlamydia thracomatis adalah dia bisa
menginduksi fagositosit dan menghambat fagosom. Dalam perkembangnanya

chlamydia trachomatis mengalami 2 fase. Pada fase I, merupakan fase penularan


yang dikenal dalam bentuk elementary body, yang masuk ke dalam sel tubuh host
melalui endocytosis. Dalam sel tubuh host, terjadi proses pembelahan diri melalui
fusi biner dalam waktu kurang lebih 8 -24 jam setelah masuk sel hospes, dengan
menggunakan ATP yang didapat dari tubuh host, proses ini terjadi dalam bentuk
badan retikulate, dan mencapai level untuk dapat dideteksi dengan pewarnaan
niodine setelah 30-48 jam pascainfeksi. ini merupakan fase non infeksiosa.
Semakin lama badan retikulate dalam sel semakin banyak dan membentuk badan
inklusi yang melekat pada inti sel host, yang mana akan di ubah kembali dalam
bentuk badan elementary yang infeksius dan siap dikeluarkan dari sel.26,27 siklus
yang mengambil alih menjadi fagosom, dimana terjadi peningkatan ukuran. Disini
disadari bahwa transpor molekul selama siklus metabolik melewati membran
fagosom dan ATP masuk ke dalam inklusi dan mengekskresikan ATP. 21
Selama BE bermultiplikasi, disana ada traffic aktif dari lipid apartus golgi ke
dalam inklusi. Pada suatu saat, setelah 48-72 jam sel menjadi ruptur, dan
mengeluarkan BE yang infeksius. Fusi fagosom tidak muncul sampai dengan
kematian sel. Hambatan ini dihubungkan dengan adanya antigen permukaan
chlamydia dan karena antibodi terhadap BE tidak dapat menghambat fusi
fagosom.21
BE bersifat toksik. Jika sel hospes memakan banyak partikel (>100 BE), hal
ini dapat mematikan sel tersebut. Toksin ini dapat mematikan jika terdapat
konsentrasi yang sangat besar dalam intravena, hal ini disebabkan karena rusaknya
endotel vaskuler.21
III.5.2.4 Gambaran Klinik Infeksi pada wanita
Pada wanita, gejala sering tidak khas, asimptomatik, atau sangat ringan. Bila
ada keluhan berupa duh tubuh genital yang kekuningan. Sering ditemukan pada
pemeriksaan wanita yang menjadi pasangan pria dengan uretritis nonspesifik.21
Servisitis
Tempat infeksi Chlamydia trachomatis paling sering adalah di serviks (7580%). Sebagian besar wanita dengan infeksi chlamydia pada serviks adalah
asimptomatis. Lebih dari 30% ditandai dengan mukopurulen cervicitis (MPC). Pada

MPC pada pemeriksaan inspekulo ditandai dengan eksudat yang purulen atau
mukopurulen terlihat pada endoserviks atau pada swab endoserviks (hasil swab test
positif). Discharge mukopurulen didapatkan pada 37%. MPC juga ditandai dengan
serviks yang rapuh dan mudah berdarah (Hyperthropic ectopy).21
Uretritis
Pada wanita dengan uretritis yang disebabkan oleh chlamydia trahomatis
ditemukan disuria (biasanya 7-10 hari), sering kencing, dan piuria, adanya duh
tubuh serviks yang mukopurulen. Selain itu uretritis dapat dicurigai pada mereka
yang mempunyai pasangan seksual baru atau beberapa waktu sebelumnya
berhubungan dengan pria dengan NGU.21
Bartholinitis
Seperti gonokokus, chlamydia thracomatis juga menyebabkan infeksi saluran
kelenjar bartholin.21
Endometritis
Adanya pendarahan abnormal dapat dicurigai adanya endometrisis pada
infeksi chlamydia servisitis.21
Salpingitis
Salpingitis akibat infeksi chlamydia biasanya bersifat asimptomatis,
keberadaanya dicurigai dengan adanya scarring tuba yang progresif, gangguan pada
kehamilan dan infertilitas. Beberapa ahli menyebut salpingitis akibat infeksi
chlamydia adalah silent salpingitis.21
Perihepatitis (Fitz Hugh Curtis syndrome)
Gejala-gejala perihepatitis pada wanita muda usia produktif antara lain: nyeri
kuadran kanan atas, demam, nausea, atau muntah dand apat juga diertai gejala
salpingitis.21
Limfoganuloma Venereum (LGV)
Merupakan penyakit sistemik yang disebabkan Chlamydia thracomatis tipe
serologi L1, L2, dan L3. Dapat terjadi pada pria maupun wanita,

Gejala nya meliputi ulkus atau papul yang tidak nyeri pada genitalia, pada wanita
dengan riwayat seksual melalui anal, ulkus sering disertai dengan proktokolitis, dan
dapat disertai gejala simptomatik seperti limfadenopati inguinal dan nyeri perut dan
pinggang bawah.21

Tabel 5. Perbedaan Klinis Infeksi Genital yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae dan C.

Trachomatis.
Site of infection
Women

N. gonorrhoeae

Resulting clinical syndrome


C. trachomatis

Urethra

Acute urethral syndrome

Acute urethral syndrome

Bartholin's gland

Bartholinitis

Bartholinitis

Cervix

Cervicitis

Cervicitis, cervical metaplasia

Fallopian tube

Salpingitis

Salpingitis

Conjunctiva

Conjunctivitis

Conjucntivitis

Liver capsule

Perihepatitis

Perihepatitis

Systemic

Disseminated gonococcal infection

Reactive arthritis

Dikutip dari : Sexually Transmitted Disease. 4th ed.

III.5.2.5. Diagnosis
Tanda dan gejala yang timbul karena infeksi Chlamydia

pada

wanita

terutama berhubungan dengan adanya servisitis dan uretritis. Infeksi urogenital


didapatkan pada 30 % kasus dengan memberikan gejala:21

Servisitis mukopurulen

Duh tubuh vagina yang purulen

Nyeri perut bawah

post-coital atau internal bleeding

disuria

didapatkan tanda-tanda PID atau nyeri yang kronis pada pelvis

Dapat juga ditemukan gejala yang terdapat pada wanita atau pun pria yaitu:

Duh tubuh dari anorektal

Konjungtivitis

Atralgia

III.5.3.6. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium untuk Chlamydia telah berkembang dengan cepat


dalam beberapa tahun terakhir. Tes diagnostik yang ideal adalah tes yang
memiliki sensitivitas lebih besar dari 90% dan spesifisitas lebih dari 99%.
Amplifikasi asam nukleat (AAN) merupakan tes yang paling mendekati ideal.
Namun penggunaan tes ini sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan sarana
kesehatan yang tersedia. Untuk program skrining, lebih disukai teknik yang
menggunakan spesimen non-invasif.21
a) Kultur Sel
Kultur sel merupakan gold standart test untuk mendeteksi C. Trachomatis
selama beberapa tahun, dengan sensitivitas 40-85% pada spesimen genital
(serviks, uretra). Keuntungannya memiliki spesifitas tinggi, baik untuk
keperluan diagnosis medikolegal. Kerugian penggunaan kultur sel:
o Membutuhkan adanya persyaratan khusus baik dalam teknik
pembiakan maupun transpor spesimen agar kultur sel dapat dibiakkan
dengan baik
o Hanya cocok untuk sampel invasif dalam jumlah kecil, serta
membutuhkan transpor spesimen serta tidak praktis, sulit dilakukan
dan membutuhkan biaya yang tinggi
b) Sediaan apus gram
o Bahan dari duh tubuh genital

o Tidak ditemukan diplokokus gram negatif intra dan extraseluler


o Tidak ditemukan blastospora, pseudohifa dan cluecell
o Jumlah leukosit PMN >30/LPB
c) Sediaan basah
o Bahan dari duh tubuh genital
o Tidak ditemukan Thricomonas vaginalis
d) Tes Deteksi Antigen
Pada umumnya tes deteksi antigen menggunakanlipopolisakarida Chlamidia
(LPS) atau major outer membrane protein (MOMP), sebagai sarana untuk
mendeteksi badan elementer Chlamydia pada spesimen genital. Tes deteksi
antigen yang paling banyak digunakan adalah direct flourescent antibody
assay (DFA) dan tes enzyme immunoassay (EIA)
DFA :
o Memiliki sensitivitas 50-90% tergantung pada keahlian dan jumlah
badan elementer pada spesimen
o Keuntungan: cocok bagi spesimen infasif maupun non-infasif (urin)
o Keruigan: tes ini tidak cocok untuk dilakukan pada spesimen dalam
jumlah banyak, serta menyita waktu
EIA:
o Mempunyai sensitivitas 20-85% tergantung pada jenis tesnya
o Keuntungan: dapat digunakan untuk memeriksa spesimen dalam
jumlah banyak, cepat dan biaya tidak mahal
o Kerugian: mempunyaoi sensitivitas tinggi, hanya jika hasil yang positif
dikonfirmasi dengan tes yang lain, hanya cocok untuk spesimen yang
infasif
Hibridasi Asam Nukleat:

o Mempunyai sensitivitas 70-85%


o Keuntungannya: cepat dan dapat digunakan secara otomatis. Dapat
digunakan sampel dalam jumlah besar. Dapat dilakukan pemeriksaan
terhadap diagnosis infeksi gonokokal secara bersamaan.
o Kerugian:hanya bisa untuk spesimen yang infasif
Amplifikasi Asam Nukleat (AAN)
o Mempunyai sensitivitas 70-95%
o Keuntungan: spesifisitasnya yang tinggi (97-99%), dapat digunakan
untuk memeriksa spesimen dalam jumlah besar. Penggunaannya dapat
pada

spesimen

vulvovaginal),

yang
dapat

invasif
dilakukan

maupun

noninvasif

pemeriksaan

(urin

terhadap

dan

infeksi

gonokokal secara bersamaan


o Kerugian: mahal
Saat ini terdapat metode otomatis untuk mendeteksi DNA atau RNA
C.trachomatis yang diamplifikasi. Dua metode yang paling banyak digunakan
adalah ligase chain reaction (LCR) dan polymerase chain reaction (PCR).21
Pemeriksaan lain adalah dengan teknik serologi. Serologi tidak bermakna
untuk menegakkan diagnosis pada infeksi urogenital akat. Hal ini disebabkan
karena tingginya angka prevalensi dan jarang didapatkannya kenaikan atau
penurunan IgG pada awal infeksi, serta pasien sering berada pada periode tidak
didapatkannya IgM. Sehingga tes serologi tidak banyak memberikan arti. Tes
serologi ini banyak digunakan untuk diagnosa LGV dan pneumonia pada
neonatus.21

Tabel 6. Diagnosis untuk Infeksi C.Trachomatis pada wanita26


Laboratory creteria
Associated
findings
Mucopurulent
cervicitis

Clinical criteria

Presumptive

Diagnostic

Mucopurulent cervical discharge, cervical


ectopy and edema, spontaneous or easily
induced cervical bleeding.

Cervical GS with
greater than 30
PMN/high-power (x
1000) field in non
menstruating women

Positive culture
or nonculture test
(cervix, FVU)

Acute urethral
syndrome

Dysuria-frequency syndrome in young


sexually active women; recent new sexual
partner; often more than 7 days of
symptoms

Pyuria, no bacteriuria

Positive culture
or nonculture test
(cervix or urethra
or FVU)

PID

Lower abdominal pain; adnexal tenderness


on pelvix exam; evidence of MPC often
present

As for MPC; cervical


GS positive for
gonorrhea;
endometritis on
endometrial biopsy

Positive culture
or nonculture test
(cervix, FVU,
endometrium,
tubal)

Perihepatitis

Right upper quadrant pain, nausea,


vomiting, fever; young sexually actie
women; evidence of PID

As for MPC and PID

High-titer IgM or
IgG antibody to
C. Trachomatis

* GS = Gram stain; PMN = polymorphonuclear leukocytes; PID = pelvic inflammatory disease; MPC
= mucopurulent cervicitis.
DIKUTIP DARI : Sexually Transmitted Disease. 4th ed.

III. 5. 3 Terapi
Tujuan pengobatan adalah mencegah penularan pada pasangan seksual.
Terapi pada pasangan seksual juga dilakukan untuk mencegah terjadi reinfeksi.
Terapi pada wanita hamil dilakukan untuk mencegah penularan pada bayi saat
melahirkan.
Azitromisin merupakan obat pilihan untuk saat ini, dengan dosis tunggal 1
gram sekali minum dan dengan dosis 2 gram juga efektif untuk gonore. Tetapi
harganya cukup mahal, maka itu dapat digunakan juga doksisiklin, tetapi perlu
jangka waktu pemakaian yang cukup lama, selama 7 hari dengan dosis 2 x 100mg.
Doksisiklin tidak boleh diberikan pada ibu hamil. Selain itu obat pilihan lain
adalah eritromisin, 4 x 500 mg per hari yang diberikan oral selama 7 hari.21,24

Untuk tatalaksana nonmedikamentosa nya :24

Abstinensia sampai terbukti sembuh secara laboratoris, dan bila tidak


dapat menahan diri dapat menggunakan kondom

Kunjungan ulang pada hari ke 8

Konseling:

menjelaskan

mengenai

IGNS

dan

penyebabnya,

kemungkinan komplikasi jangka panjang, cara penularan, pentingnya


mematuhi pengobatan, serta pentingnya penanganan pasangan seksual
tetapnya.

Konseling mengenai kemungkinan resiko tertular HIV

Bila memungkinkan periksa dan obati pasangannya.

III. 5. 7 Pencegahan
Pencegahan yang efektif membutuhkan berbagai macam pendekatan, antara lain:21
-

Konseling untuk abstinensia, selama terapi

Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten

Mengidentifikasi dan mengobati adanya infeksi asimtomatis pada wanita


muda dengan seksual aktif

Mengobati pasangan seksual dari wanita yang terinfeksi

Mengenali secara tepat gejala klinis dari servitis dan uretritis


Skrining perlu dilakukan untuk menurunkan komplikasi dan mengurangi

infeksi asimtomatis pada infeksi Chlamydia. Skrining dilakukan pada:


-

Wanita seksual aktif usia < 25 tahun, secara rutin

Wanita seksual aktif usia > 25 tahun, dengan beresiko tinggi

Pada wanita hamil di trimester pertama

Semua pasien dengan riwayat sifilis, GO, atau infeksi HIV

20. Daili SF. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S Infeksi genital non


spesifik. In:. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, edisi ke 5 . Jakarta:
Balai penerbit FKUI, 2009: 366-68
21. Murtiastutik D. Infeksi chlamydia. In: Barakbah J, Lumintang H,
Martadiharjo S. Buku ajar infeksi menular seksual. Edisi ke 1.
Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2008: 89100
22.Djajakusumah TS. Daili SF, Makes WIB, Zubier F Infeksi genital
nonspesifik. dalam: Infeksi menular seksual, edisi ke 4. Jakarta:
Balai penerbit FKUI, 2011: 65-76
23.Wolff K et all. Gonorrhea and Other Viral Infection. Dalam:Fitzs
Patrick Dermatology in general medicine. Edisi ke 7. New York:
McGraw-Hill. 2008: 1996-97
24.PERDOSKI: Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin. 2011: 240-241

Tabel 5. Perbedaan Klinis Infeksi Genital yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae


dan C. Trachomatis.
Diambil berdasarkan aslinya dari buku sexually transmitted disease 4th ed
Tabel 6. Diagnosis untuk Infeksi C.Trachomatis pada wanita
Diambil berdasarkan aslinya dari buku sexually transmitted disease 4th ed