Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABSES COLLI


DI RUANG BOUGENVIL RSUD DR. MOH. SOEWANDHIE
SURABAYA

Oleh :
NUR ALISA
NIM : 143.0062

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2014

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABSES COLLI
DI RUANG BOUGENVIL RSUD DR. MOH. SOEWANDHIE
SURABAYA

Oleh :
NUR ALISA
NIM : 143.0062

Mengetahui
Penguji pendidikan

Surabaya, 20 Oktober 2014


Penguji Lahan

KONSEP DASAR PENYAKIT ABSES COLLI

A.

Pengertian
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang
telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya
proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda
asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Proses ini
merupakan

reaksi

perlindungan

oleh

jaringan

untuk

mencegah

penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah


infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2004).
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari
infeksi yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu
campuran dari jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah
mati yang dicairkan oleh enzim autolitik (Morison, 2003 dalam Nurarif &
Kusuma, 2013)
Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik mata, yang
kemudian pecah; rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis,
meninggalkan jaringan parut yang kecil (Harrison, 2005)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses colli adalah
suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya
benda asing (misalnya luka peluru maupun jarum suntik) dan mengandung
nanah yang merupakan campuran dari jaringan nekrotik, bakteri, dan sel
darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik yang
timbul di dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam, akibat perjalanan
berbagai sumber infeksi seperti gigi, mulut, tenggorokan, sinus paranasal
dan telinga leher.

B.

Anatomi dan Fisiologi leher

Leher terbagi atas dua bagian utama yang berbentuk segitiga, yaitu
anterior dan posterior, oleh otot sternomastoid yang berjalan menyerong
dari prosesus mastoid tulang pelipis ke sebelah depan klavikula dan dapat
diraba disepanjang tulang itu. Klavikula terletak pada dasar leher dan
memisahkan dari thorax.
Segitiga

posterior

leher

disebelah

depan

dibatasi

oleh

otot

sternomastoid dan dibelakang oleh tepi anterior otot trapezius. Bagian ini
berisi sebagian dari plexus saraf servikal dan plexus brakhialis. Serangkaian
kelenjar limfe yang terletak posterior dai sternomastoid dan urat-urat saraf
dan pembuluh darah. Diatas segitiga ini terletak iga pertama dan diatas iga
ini berjalan arteri subklavia. Di tempat inilah penekanan arteri subklavia
dengan jari dapat dilakukan.
Segitiga anterior dari batang leher terbagai dalam beberapa segitiga
lagi yaitu segitiga karotis karena memuat arteri karotis beserta cabangnya
yaitu karotis interna dan externa dan juga vena jugularis internada dan
beberapa vena, arteri dan saraf lainnya terdapat disini.

Segitiga digastrik terletak dibawah rahang. Disini terdapat beberapa


bagian dari kelenjar submandibuler dan kelenjar parotis, cabang saraf
fasialis dan arteri fasialis dan struktur lainnya yang terletak lebih dalam
termasuk beberapa pembuluh karotis. Batang leher dari depan. Manubrium
sterni merupakan patokan penting, sebab dibelakangnya terletak sebagian
dari arkus aorta dan vena-vena innominata.
Trachea dimulai langsung dibawah tulang rawan krikoid dan berjalan
masuk ke rongga torax dan berakhir untuk bercabang menjadi bronchus
kanan dan kiri pada setinggi sudut sterna (sudul louis).

C.

Jenis jenis Abses


1.

Abses Ginjal
Abses ginjal yaitu peradangan ginjal akibat infeksi. Ditandai
dengan pembentukan sejumlah bercak kecil bernanah atau abses yang
lebih besar yang disebabkan oleh infeksi yang menjalar ke jaringan
ginjal melalui aliran darah.

2.

Abses Perimandibular
Bila abses menyebar sampai di bawah otot-otot pengunyahan,
maka akan timbul bengkak-bengkak yang keras, di mana nanah akan
sukar menembus otot untuk keluar, sehingga untuk mengeluarkan
nanah tersebut harus dibantu dengan operasi pembukaan abses.

3.

Abses Rahang gigi


Radang kronis, yang terbungkus dengan terbentuknya nanah
pada ujung akar gigi atau geraham. Menyebar ke bawah selaput tulang
(sub-periostal) atau di bawah selaput lendir mulut (submucosal) atau
ke bawah kulit (sub-cutaneus). Nanah bisa keluar dari saluran pada
permukaan gusi atau kulit mulut (fistel). Perawatannya bisa dilakukan
dengan mencabut gigi yang menjadi sumber penyakitnya atau
perawatan akar dari gigi tersebut.

4.

Abses Sumsum Rahang


Bila nanah menyebar ke rongga-rongga tulang, maka sumsum
tulang akan terkena radang (osteomyelitis). Bagian-bagian dari tulang

tersebut dapat mati dan kontradiksi dengan tubuh. Dalam hal ini nanah
akan keluar dari beberapa tempat (multiple fitsel).
5.

Abses dingin (cold abcess)


Pada abses ini, karena sedikitnya radang, maka abses ini
merupakan abses menahun yang terbentuk secara perlahan-lahan.
Biasanya terjadi pada penderita tuberkulosis tulang, persendian atau
kelenjar limfa akibat perkijuan yang luas.

6.

Abses hati
Abses ini akibat komplikasi disentri amuba (Latin: Entamoeba
histolytica), yang sesungguhnya bukan abses, karena rongga ini tidak
berisi nanah, melainkan jaringan nekrotik yang disebabkan oleh
amuba. Jenis abses ini dapat dikenali dengan ditemukannya amuba
pada dinding abses dengan pemeriksaan histopatologis dari jaringan.

7.

Abses (Lat. abscessus)


Rongga abnormal yang berada di bagian tubuh, ketidaknormalan
di bagian tubuh, disebabkan karena pengumpulan nanah di tempat
rongga itu akibat proses radang yang kemudian membentuk nanah.
Dinding rongga abses biasanya terdiri atas sel yang telah cedera, tetapi
masih hidup. Isi abses yang berupa nanah tersebut terdiri atas sel darah
putih dan jaringan yang nekrotik dan mencair. Abses biasanya
disebabkan oleh kuman patogen misalnya: bisul.

D.

Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses
melalui beberapa cara:
1.

Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan
jarum yang tidak steril

2.

Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain

3.

Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan
tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya
abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :


1.

Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi

2.

Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang

3.

Terdapat gangguan sistem kekebalan

Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus

E.

Manifestasi Klinis
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru,
mulut, rektum, dan otot. Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau
tepat dibawah kulit terutama jika timbul diwajah.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada
lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa
berupa:
1.

Nyeri

2.

Nyeri tekan

3.

Teraba hangat

4.

Pembengakakan

5.

Kemerahan

6.

Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak

sebagai benjolan. Adapun lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan
tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan
lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di dalam tubuh,
sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Paling
sering, abses akan menimbulkan Nyeri tekan dengan massa yang berwarna
merah, hangat pada permukaan abses , dan lembut.
1.

Abses yang progresif, akan timbul "titik" pada kepala abses sehingga
Anda dapat melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan
terbuka (pecah).

2.

Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi


dapat menyebar ke jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.

Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin


mengalami demam dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih
menyebarkan infeksi keseluruh tubuh.

F.

Patofisiologi
Jika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi
suatu infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang
berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang
merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak kedalam
rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati, sel
darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga
tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan
terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi
dinding pembatas. Abses dalam hal ini merupakan mekanisme tubuh
mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam
tubuh, maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah
permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses. (Utama, 2001).

G.

Pathways

Bakteri Gram Positif


(Staphylococcus aureus Streptococcus mutans)

Mengeluarkan enzim hyaluronidase dan enzim koagulase

merusak jembatan antar sel

transpor nutrisi antar sel terganggu

Jaringan rusak/ mati/ nekrosis

Media bakteri yang baik

Jaringan terinfeksi
Peradangan
Sel darah putih mati

Invasi kuman
Kuman melepas
endotoksin sistem imun
menurun

Demam
Jaringan menjadi abses
& berisi PUS

Pembedahan

MK : Gangguan
Thermoregulator
(Pre Operasi)

Pecah

Reaksi Peradangan
(Rubor, Kalor, Tumor, Dolor, Fungsiolaesea)

MK : Nyeri
(Pre Operasi)

MK : Resiko Penyebaran
Infeksi
(Pre dan Post Operasi)

Sumber : Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, 2001

Luka Insisi
MK : Nyeri
(Post Operasi)

H.

Komplikasi
Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke jaringan
sekitar atau jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang
ekstensif (gangren). Pada sebagian besar bagian tubuh, abses jarang dapat
sembuh

dengan

sendirinya,

sehingga

tindakan

medis

secepatnya

diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses. Suatu abses


dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Meskipun jarang, apabila abses
tersebut mendesak struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang
dapat menekan trakea. (Siregar, 2004).

I.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan laboratorium : Peningkatan jumlah sel darah putih.

2.

Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dilakukan pemeriksaan


rontgen, USG, CT Scan, atau MRI.

J.

Penatalaksanaan Medis
Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan
antibiotik. Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan
intervensi bedah dan debridement.
Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi
penyebabnya, terutama apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda
asing tersebut harus diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing,
biasanya hanya perlu dipotong dan diambil absesnya, bersamaan dengan
pemberian obat analgetik dan antibiotik.
Drainase abses dengan menggunakan pembedahan diindikasikan
apabila abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi
tahap nanah yang lebih lunak. Drain dibuat dengan tujuan mengeluarkan
cairan abses yang senantiasa diproduksi bakteri.
Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang
kritis, tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan
terakhir

yang perlu dilakukan.

Memberikan kompres

hangat

dan

meninggikan posisi anggota gerak dapat dilakukan untuk membantu


penanganan abses kulit.
Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus, antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin
sering digunakan. Dengan adanya kemunculan Staphylococcus aureus
resisten Methicillin (MRSA) yang didapat melalui komunitas, antibiotik
biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk menangani MRSA yang didapat
melalui komunitas, digunakan antibiotik lain: clindamycin, trimethoprimsulfamethoxazole, dan doxycycline.
Adapun hal yang perlu diperhatikan bahwa penanganan hanya dengan
menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan
tindakan yang efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering tidak
mampu masuk ke dalam abses, selain itu antibiotik tersebut seringkali tidak
dapat bekerja dalam pH yang rendah.

K.

Pencegahan
Menjaga kebersihan kulit dengan sabun cair yang mengandung zat
anti-bakteri merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya infeksi atau
mencegah penularan.

L.

Asuhan Keperawatan
1.

Pengkajian
a.

Identitas
Abses bisa menyerang siapa saja dan dari golongan usia
berapa saja, namun yang paling sering diserang adalah bayi dan
anak-anak.

b.

Riwayat Kesehatan
1)

Keluhan utama
Nyeri, panas, bengkak, dan kemerahan pada area abses.

2)

Riwayat kesehatan sekarang


a)

Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah


dikenali, sedangkan abses dalam seringkali sulit
ditemukan.

b)

Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak


steril atau terkena peluru, dll.

c)

Riwayat infeksi (suhu tinggi) sebelumnya yang secara


cepat menunjukkan rasa sakit diikuti adanya eksudat
tetapi tidak bisa dikeluarkan.

3)

Riwayat kesehatan keluarga


Riwayat penyakit menular dan kronis, seperti TBC dan
diabetes mellitus.

2.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :

3.

a.

Luka terbuka atau tertutup

b.

Organ / jaringan terinfeksi

c.

Massa eksudat dengan bermata

d.

Peradangan dan berwarna pink hingga kemerahan

e.

Abses superficial dengan ukuran bervariasi

f.

Rasa sakit dan bila dipalpasi akan terasa fluktuaktif.

Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik


a.

Hasil pemeriksaan leukosit menunjukan peningkatan jumlah sel


darah putih.

b.

Untuk

menentukan

ukuran

dan

lokasi

abses

dilakukan

pemeriksaan rontgen, USG, CT, Scan, atau MRI.


4.

Diagnosa Keperawatan
Tahap selanjutnya yang harus dilakukan setelah memperoleh data
melalui pengkajian adalah merumuskan diagnosa. Pengertian dari
diagnosa keperawatan itu sendiri adalah sebuah pernyataan singkat
dalam pertimbangan perawat menggambarkan respon klien pada
masalah kesehatan aktual dan resiko. Menurut Herdman (2007),
diagnosa keperawatan untuk abses adalah :

a.

b.

Pre operasi
1)

Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi

2)

Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

Post Operasi
1)

Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan

2)

Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka


terbuka

3)

Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma


jaringan.

5.

Perencanaan Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan dengan menetapkan tujuan,
kriteria hasil, dan menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan :
a.

Pre operasi
1)

Nyeri berhubungan dengan reaksi peradangan.


Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan


diharapkan gangguan rasa nyaman nyeri
teratasi.

Kriteria Hasil

: Klien mengungkapkan secara verbal


rasa nyeri berkurang, klien dapat rileks,
klien mampu

mendemonstrasikan

keterampilan
sesuai

relaksasi

dengan

dan

aktivitas

kemampuannya,

TTV

dalam batas normal; TD : 120 / 80


mmHg, Nadi : 80 x / menit, pernapasan :
20 x / menit.
Intervensi
1) Observasi TTV
2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi
nyeri.

Rasional
1) Sebagai data awal untuk melihat
keadaan umum klien
2) Sebagai

data

dasar

mengetahui

seberapa hebat nyeri yang dirasakan


klien

sehingga

mempermudah

intervensi selanjutnya

3) Observasi reaksi non verbal dari 3) Reaksi non verba menandakan nyeri
ketidaknyamanan.
4) Dorong

yang dirasakan klien hebat

menggunakan

teknik 4) Untuk mengurangi ras nyeri yang

manajemen relaksasi.

dirasakan

klien

dengan

non

farmakologis
5) Kolaborasikan obat analgetik sesuai 5) Mempercepat
indikasi.

penyembuhan

terhadap nyeri

2)

Gangguan

thermoregulator

berhubungan

dengan

proses peradangan
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan


diharapkan Hipertermi dapat teratasi.

Kriteria hasil

: Suhu tubuh dalam batas normal (36 0C


37 0C).

Intervensi

Rasional

1) Observasi TTV, terutama suhu 1) Untuk data awal dan memudahkan


tubuh klien.
2) Anjurkan

intervensi
klien

untuk

banyak 2) Untuk mencegah dehidrasi akibat

minum, minimal 8 gelas / hari.


3) Lakukan kompres hangat.

penguapan tubuh dari demam


3) Membantu vasodilatasi pembuluh
darah

sehingga

mempercepat

hilangnya demam
4) Kolaborasi

dalam

pemberian 4) Mempercepat penurunan demam

antipiretik.

b.

Post Operasi
1)

Nyeri

berhubungan

dengan

luka

insisi

akibat

pembedahan.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan


diharapkan gangguan rasa nyaman nyeri
teratasi.

Kriteria Hasil

: Klien mengungkapkan secara verbal


rasa nyeri berkurang, klien dapat rileks,
klien mampu

mendemonstrasikan

keterampilan
sesuai

relaksasi

dengan

dan

aktivitas

kemampuannya,

TTV

dalam batas normal; TD : 120 / 80


mmHg, Nadi : 80 x / menit, pernapasan :
20 x / menit.
Intervensi

Rasional

1) Observasi TTV

1) Sebagai data awal untuk melihat


keadaan umum klien

2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi 2) Sebagai data dasar mengetahui


nyeri.

seberapa hebat nyeri yang dirasakan


klien

sehingga

mempermudah

intervensi selanjutnya
3) Observasi reaksi non verbal dari 3) Reaksi
ketidaknyamanan.
4) Dorong

menggunakan

non

verba

menandakan

nyeri yang dirasakan klien hebat


teknik 4) Untuk mengurangi ras nyeri yang

manajemen relaksasi.

dirasakan

klien

dengan

non

farmakologis
5) Kolaborasikan obat analgetik sesuai 5) Mempercepat
indikasi.

6.

penyembuhan

terhadap nyeri

Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditujukan untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan dari pelaksanaan yaitu mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan
dan memfasilitasi koping.
Pelaksanaan Keperawatan untuk abses adalah Drainase abses
dengan menggunakan pembedahan diindikasikan apabila abses telah
berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah

yang lebih lunak, Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus

aureus,

antibiotik

antistafilokokus

seperti

flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan, kompres hangat bisa


membantu mempercepat penyembuhan serta mengurangi peradangan
dan pembengkakan.

7.

Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,
rencana

tindakan,

dan

pelaksanaan

sudah

berhasil.

Evaluasi

Keperawatan pada klien dengan abses adalah :


a.

Klien melaporkan rasa nyeri berkurang

b.

Rasa nyaman klien terpenuhi

c.

Daerah abses tidak terdapat pus

d.

Tidak ditemukan adanya tanda tanda infeksi ( pembengkakan,


demam,kemerahan )

e.

Tidak terjadi komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall & Moyet, Buku Saku; Diagnosis Keperawatan, 13th
Edition, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2013

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt
J. Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13.
jakarta : EGC. 2005.

Nanda International, Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi, Penerbit


Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2012

Nurarif, Amin Huda & Hardi Kusuma, Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA; NIC-NOC, Mediaction
Publishing, Jakarta, 2013

Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.
Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah


Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa
Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2007.

STANDART PROSEDUR OPERASIONAL


PROSEDUR INSISI DAN DRAINASE ABSES

1.

Pengertian

: Insisi adalah luka yang dibuat pada pembedahan.

2.

Tujuan

: mengeluarkan isi abses

3.

Prinsip

: steril

4.

Prosedur

1) Siapkan perlengkapan sebagai berikut:


-

Apron

Sarung tangan

Masker wajah dengan pelindung

Povidone iodine atau chlorhexidine

Kasa steril

Lidocain 1% atau Lidocain + epinefrin atau Bupivacaine

Spuit 5-10 ml

Jarum

Pisau scalpel (nomor 11 atau 15) dengan gagangnya

Klem bengkok

Normal saline dengan bengkok steril

Spuit besar tanpa jarum

Gunting

Plester

2) Persiapan
-

Minta persetujuan tindakan dokter kepada pasien atau keluarga


dekatnya

Pastikan identitas pasien, tempat pembedahan

Cuci tangan dengan sabun antibakteri dan air

Pakai sarung tangan dan pelindung muka

Letakkan semua perlengkapan pada tempat yang mudah diraih,


diatas meja tindakan

Posisikan pasien sehingga daerah drainase terpapar penuh dan


dapat dicapai secara mudah dan kondisinya nyaman untuk pasien

Pastikan cahaya yang memadai agar abses mudah dilihat

Bersihkan daerah abses dengan chlorhexidine atau povidon iodine,


dengan gerakan melingkar, mulai pada puncak abses

Tutupi daerah disekitar abses untuk mencegah kontaminasi alat

Anestesi atas abses dengan memasukkan jarum dibawah dan


sejajar dengan permukaan kulit.

Suntikkan obat anestesi ke dalam jaringan intra dermal

Teruskan infiltrasi sampai anda sudah mencapai seluruh puncak


dari abses yang cukup besar untuk menganestesi daerah insisi

3) Prosedur Insisi dan drainase abses


-

Pegang skalpel dengan jempol dan jari telunjuk untuk membuat


jalan masuk ke abses

Buat insisi secara langsung diatas pusat abses kulit

Insisi harus dilakukan sepanjang aksis panjang dari kumpulan


cairan

Kendalikan skalpel secara berhati-hati selama insisi untuk


mencegah tusukan melalui dinding belakang

Perluas insisi untuk membuat lubang yang cukup lebar untuk


drainase yang memadai dan mencegah pembentuk abses yang
berulang

Tekan isi abses

Masukkan klem bengkok sampai anda merasakan tahanan dari


jaringan sehat, kemudian buka klem untuk menghancurkan bagian
dalam dari rongga abses

Teruskan penghancuran lokulasi dalam gerakan memutar sampai


seluruh rongga abses sudah dieksplorasi

Bersihkan luka dengan normal saline, gunakan spuit tanpa jarum

Teruskan irigasi sampai cairan yang keluar dari abses jernih

Upayakan agar dinding abses tetap terpisah dan memungkinkan


drainase dari debris yang terinfeksi

4) Perawatan lanjutan
-

Untuk abses sederhana tidak perlu antibiotika.

Untuk selulitis yang luas dibawah abses gunakan antibiotika

Tutup luka abses dengan kasa steril

Keluarkan semua benda-benda dari abses dalam beberapa hari

Jadualkan kontrol

2atau 3 hari sesudah

prosedur untuk

mengeluarkan bahan-bahan dari luka


-

Minta kepada pasien untuk kembali sebelum jadual bila ada tandatanda perburukan, meliputi kemerahan, pembengkakan, atau
adanya gejala sistemik seperti demam