Anda di halaman 1dari 3

Perempuan yang Menyihir

Buku: Sihir Perempuan


Penulis: Intan Paramadhita
Penerbit: Kata Kita
Cetakan Pertama: Mei, 2005
Tebal: 150 halaman
Sejumlah cerpen yang dimuat di beberapa koran memunculkan hasil karya penulis perempuan
muda. Satu per satu dari mereka mulai menerbitkannya menjadi buku. Setahun silam, nama
Linda Chistanty dengan buku kumpulan cerpennya Kuda Terbang Maria Pinto menjadi
momentum terpenting bagi generasi penulis perempuan muda seangkatannya saat didaulat
terbaik di ajang Khatulistiwa Award.
Menyebut beberapa contoh lain, kemunculan nama Djenar Maesa Ayu, Yetti A KA, Dina
Oktaviani, Ucu Agustin, Nukila Akmal adalah yang berupaya menyeruak belantara cerpen sastra
yang gersang dengan karya-karya penulis perempuan muda. Satu lagi di antaranya adalah Intan
Paramadhita yang baru saja melepas buku kumpulan cerpen yang berjudul Sihir Perempuan.
Dari pemilihan judul buku, judul-judul cerpen dan terutama tema yang diangkat oleh penulisnya
adalah kisah seputar dunia gaib, pekat cerita horor dan sejenisnya. Ia mengingatkan kembali
pada posisi dan keberadaan perempuan adi-manusia yang telah masyur dalam tradisi semacam
nenek sihir, kuntilanak, mak lampir, sundel bolong, Nyi Blorong, hingga Ratu Pantai Selatan.
Mengutip komentar promosial di belakang buku; perempuan itu bisa menjadi apa saja: ibu, anak,
karyawati yang baik.... Lalu, mengapa penulisnya justru berkisah tentang sisi lain seorang
perempuan, sebuah dunia di sudut lain, di mana ia mengangkat segala sisi kelam kehidupannya.
Dalam cerpennya bisa terlacak kisah-kisah perempuan pembunuh (cerpen Mak Ipak dan Bungabunga), stigma janda penggoda (cerpen Pemintal Kegelapan), tindakan aborsi (cerpen Jeritan
dalam Botol), dan lain-lain.
Buku setebal 150 halaman ini bukan semata-mata menyodorkan kisah-kisah horor yang
menegangkan dan menghibur. Cerpen yang mempunyai keterbatasan ruang itu digunakan
penulisnya untuk melancarkan permainan halus-nya dalam tema-tema cerita dunia kelam
seorang perempuan. Ia dijadikan medium untuk melihat kembali dunia perempuan dengan
segala aspeknya. Sebagai perempuan, penulisnya merangkum segala persoalan yang dialami
perempuan dari sudut pandang perempuan. Meski tidak semua tokoh utamanya adalah
perempuan, kita akan merasakan kelihaian penulisnya menjungkirbalikkan kisah perempuan
dalam dongeng Cinderella (cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari), Super-woman (cerpen Mobil
Jenazah), karyawati yang baik (cerpen Vampir, dan cerpen Darah), atau menjadi anak
perempuan yang berbakti pada Ayahnya (cerpen Pintu Merah). Cerpen bagi Intan adalah sebuah
tanya yang menanti jawab para pembacanya dalam pertaruhan peta nasib dan kisah seorang
perempuan.
Dongengan adalah yang cukup menonjol dalam buku ini. Ia menjadi semangat untuk
menghadirkan kembali dunia dan persoalan perempuan dalam kisah masa kini. Dalam cerpen
Sang Ratu, misalnya, kisah mistis Ratu Kidul menyembul di antara kisah perjalanan pengusaha
muda bernama Herjuno. Ia yang gemar main serong merasa tenang memiliki istri penurut. Kelak
di satu saat, di mana perusahaannya terjerat kasus pencemaran lingkungan, ia harus
berhadapan dengan seorang perempuan yang dideskripsikan seperti kalajengking. Kendati
kemunculan Ratu Pantai Selatan dalam cerpen ini memang sudah tercium sejak mula cerpen
dituturkan, kita akan kerap ditumbuk ending cerita yang mencengangkan. Begitu pun dengan
cerpen Pemintal Kegelapan, penulisnya menuturkan dongengan perempuan yang setia menanti
kekasihnya dengan memintal kegelapan. Dalam cerpen, dongengan yang dituturkan seorang ibu
pada anaknya itu adalah celupan kisahnya sendiri. Seorang ibu tunggal yang membesarkan

anaknya sendiri, menanti hadirnya cinta sejati, dan berakhir dengan kanker rahim yang tengah
meradang.
Legenda dan mitos Cinderella dipelintir dalam cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari. Gadis
cantik yatim-piatu bernama Sindelarat itu akhirnya datang juga dalam pesta pemilihan calon ratu.
Sudut pandang pencerita adalah salah satu kakak tiri Sindelarat yang kelak memotong ibu jari
kakinya agar bisa menggunakan sepatu yang kekecilan. Legenda dongeng yang tadinya berakhir
bahagia dikecoh teror di akhir cerita yang tragis.
Dari segi teknik penceritaan, Intan memiliki kecakapan yang patut digarisbawahi. Penceritaan
dengan dua speaker membingkai kisah vampir pengisap darah yang juga sudah melegenda itu
ke dalam kisah masa sekarang. Saras, sang sekretaris yang cakap mengerjakan segala tugas
itu, bekerja untuk seorang atasannya, Irwan yang kaya, rupawan, dan suka bermain-main
dengan kekuasaan. Desas-desus miring dunia pekerja sekretaris itu oleh penulisnya disublimkan
dengan kalimat-kalimat putus dan serba menggantung. Cukup efektif untuk memberi nuansa
horor dalam sudut penceritaan ganda seperti dalam cerpen Vampir ini.
Keberanian Intan bukan hanya menggali kisah-kisah suram bernuansa horor yang menakutkan.
Penulisnya mampu mengali kedalaman esensi kisah suram perempuan di seputar cerita aborsi.
Cerpen Jeritan dalam Botol bukan bersandar dari sensasi berita yang sangat sensitif ini. Ada
semacam kesangsian pengulas buku, kalaulah saja buku ini tidak terbit, kita tidak akan pernah
menemukan karya yang mengangkat tema seperti ini. Dalam cerpen Jeritan dalam Botol,
penulisnya telah melakukannya dengan jalinan cerita yang sangat halus, dengan teknik yang apik
untuk menyembulkan endapan dari kedalaman cerita. Cerpen ini sekaligus menjadi terobosan
dari segi tematik, yang mungkin masih dianggap haram oleh cerpen koran, misalnya.
Intan tidak hanya melulu menghadirkan tema-tema suram dan seram yang meneror. Ia bisa
membesut kisah tragedi tanpa narasi yang memilukan. Cerpen Sejak Porselen Berpipi Merah itu
Pecah tetap tampil unik tanpa ceceran darah dan teror mencekam. Sepasang suami-istri di masa
senja tanpa anak itu tiba-tiba terusik ketika boneka porselen bernama Yin Yin itu pecah oleh
seekor kucing kesayangan mereka. Nyaris tak ada nuansa kesedihan yang berlarat-larat dalam
cerpen itu, namun nuansa kelam itu merayap dalam kepahitan kisah dari awal sampai di akhir
cerita.
Perempuan dan kisah-kisah horor bukanlah hal yang berjauhan. Bahkan berabad lampau, Mary
Shelley telah cemerlang menorehkan kisah mencekam dalam novel Frankenstein. Mary Shelley
melukiskan manusia-adikarya bernama Frankenstein itu sebagai monster dengan penuh
kengerian, namun kita bisa mengendus aroma feminisme penulisnya di era itu. Sang dokter sang
pencipta monster mewakili dunia maskulin berpijak pada dunia adikarya, dunia penjelajahan,
penemuan yang akan menggemparkan, atau semesta pemikiran dunia lelaki yang penuh ambisi.
Di sisi lain, sang monster adalah wakil dari sisi feminin yang merindukan keluarga (domestikasi),
ingin dimiliki, dan impian pada kehangatan rumah sebagai tempat bertambat. Membaca buku
Sihir Perempuan mengingatkan hal itu. Cerita hantu atau nuansa horor yang menakutkan itu
adalah kendaraan untuk mencapai estetika cerita, namun di pihak lain ada misi yang sangat
halus tersebar bagai serat jaring laba-laba, desir seorang vampir yang berbisik, seperti panggilan
sebuah kamar berpintu merah dengan sumur tanpa dasar, seperti mulut yang terbuka namun tak
terdengar teriakan atau jerat harum wangi bunga-bunga yang disemai di antara gundukan tanah
di mana potongan mayat telah dibenamkan. Misteri yang dilancarkan penulisnya adalah upaya
membuka kunci bahana pemikiran tentang perempuan dari kacamata perempuan.
Dalam komentarnya di sampul belakang buku, Melani Budianta menyisipkan kalimat: Intan
Paramadhita, feminis tanpa jargon. Di manakah letak sari rasa kata yang dimaksudkan tadi?
Dalam cerpen-cerpen Intan Paramadhita, feminisme hadir bukan jadi semacam grand narration
yang akan melilit ceritanya. Wacana perempuan hadir menjelma kisah-kisah perempuan hantu,
vampir, adi-manusia, legenda dunia lelembut, bahkan teror seperti arwah gentayangan, dan

sejumlah hal-hal yang menghantui lainnya. Jika Mary Shelley menyodorkan sosok monster
Frankenstein untuk mencairkan cerita bernuansa feminisme, maka Intan menghadirkan kritik
feminismenya seperti hantu. Ia ada. Meneror setiap saat, tapi tidak bisa diraba, seakan-akan
bisa terlihat tapi tak nampak, tidak bisa tersentuh, tapi keberadaannya tetap bisa dirasakan. Ia
digunjingkan, ditelaah dan dirujuk dalam ratusan judul buku yang beredar di segenap bangsa.
Dunia membincangkan feminisme, tiap orang bereuforia, dan Intan Paramadhita menyihirnya
dalam cerita pendek.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/26/Buku/1840816.htm
Chusnato,Pengelola Situs Sastra Koran, sriti.com, Tinggal di Jakarta)