Anda di halaman 1dari 38

Urgensi Jihad dalam Islam*

( Upaya Penegakan Kalimat Allah di Muka Bumi )


Oleh Asnan Purba**

“Allah adalah tujuan kami, Rasulullah adalah pemimpin kami,


Al-Qur’an adalah undang-undang kami dan Jihad adalah jalan kami”
( Semboyan Ikhwanul Muslimin ) 1

Mukaddimah
Berbicara tentang jihad yang terbayang digambaran oleh non muslim adalah
pengangkatan senjata/perang sehingga yang teropini gerakan jihad adalah membawa
kepada kekerasan dan kesengsaraan, ironisnya hal ini juga telah merasuki sebagian
kaum muslimin bahwa jihad haruslah di kubur kedalam tanah sedalam-dalamnya.
Dengan alasan demi untuk menjaga citra umat islam dimata internasional dan untuk
mengatakan bahwa islam adalah agama toleransi dan tidak suka kepada peperangan.
Akhirnya materi-materi jihad mulai dihapuskan disekolah-sekolah agama dan tidak ada
sama sekali, melainkan fadhilah-fadhilah amal lebih diperbanyak untuk memperberat
tabungan amal diakhirat. Sehingga berdampak kepada kurangnya kepedulian antar
sesama muslim dalam membantu menyelesaikan konflik umat islam di suatu
wilayah/daerah. Al-Azhar sendiripun juga sering ditekan dalam materi-materi
pendidikan dengan penghapusan materi jihad dalam bangku perkuliahan, di Arab Saudi
para Khatib Haramain dan Nabawi ketika musim haji lebih ditekankan pada perbuatan
menabung amalan sendiri dan jarang sekali menyinggung permasalahan umat , dan
kalaupun ada hanya sebatas dan sekedarnya saja, hal yang sangat ironis sekali.
Padahal kalau kita membuka kembali sejarah perjuangan islam maka jihadlah
satu-satunya alat yang dapat menghancurkan kebatilan dan dengan semangat ruh
jihadlah umat islam mampu menghalau pasukan yang berlipat ganda, lari tunggang
langgang dari medan perang dan dengan jihad pula mampu menumbangkan dinasti
yang zhalim dan kejam. Tetapi yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya kemunduran
umat islam adalah disebabkan karena sudah tidak ada lagi ruh jihad, mereka sudah
semakin cinta akan kehidupan dunia yang merupakan bakteri yang telah mengerogoti
tubuh umat islam, sehingga ketika diserukan jihad ia malah berpaling dan enggan
menyambutnya. Padahal Allah swt memotivasi orang yang berjihad dengan janji
mendapatkan hidayah sesuai dengan firman-Nya dalam surat al Ankabut ayat 69 :”Dan
orang-orang yang berjihad untuk ( mencari keridhaan ) kami, benar-benar akan kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya allah benar-benar
beserta orang yang berbuat baik2
Hal diatas dapat menggambarkan betapa jihad dan hidayah sangat punya
keterkaitan yang erat sehingga ketika anda berjihad maka Allah akan memberikan
hidayah-Nya. Pada kesempatan kali ini Penulis mencoba membahas kembali urgensi
jihad agar lebih mengkristalnya pemahaman kita terhadap jihad dan untuk
mengembalikan kejayaan islam yang telah mulai redup seiring dengan mulai surutnya
ruh jihad didalam setiap diri sanubari muslim.

Definisi dan Bentuk-Bentuk Jihad


Secara umum jihad harus dilihat dari dua aspek yaitu aspek Etimologi dan aspek
Terminologi. Secara Etimologi Jihad berasal dari kata Jahada yang bermakna
kesungguhan, kemampuan, kekuatan, kelapangan dan keteguhan. Yaitu berusaha
mengerahkan segala kemampuan, kekuatan dan kesungguhan demi tercapainya
sebuah tujuan akhir. Sedangkan secara Terminologi adalah memerangi orang-orang
yang tidak dijamin keselamatannya oleh umat islam dari orang-orang kafir dan
musyrik3.
Para Fuqaha mengklasifikasikan jihad dengan empat bentuk yaitu:
1.Jihad al Nafsi ( Jihad terhadap diri sendiri melawan hawa nafsu )
2.Jihad al Syaithan ( Jihad melawan kemunkaran Syaithan )
3.Jihad terhadap penguasa/penegak kezaliman dan kemunkaran
4.Jihad melawan musuh-musuh Allah dari orang-orang kafir, munafik dan orang-orang
yang
membantu mereka4. Disini akan kami uraikan satu persatu :
1.Jihad terhadap diri sendiri melawan hawa nafsu meliputi empat aspek yaitu :
a.Berjihad terhadap diri sendiri dengan mempelajari agama secara benar dan baik
karena
tidak ada kebahagiaan didunia dan diakhirat tanpa pengetahuan agama yang baik
dan
benar.
b. Berjihad dengan mengamalkan ilmu yang didapat dan diperoleh sehingga
terbentuklah
amal saleh yang diamalkan tidak hanya tertulis dibuku-buku saja.
c. Berjihad dengan mengajarkan dan menyampaikan apa-apa yang telah diperoleh
dan
dipelajarinya.
d. Berjihad dengan selalu bersabar atas apa-apa yang menimpanya selama ia
menuntut
ilmu dan mengamalkan serta mengajarkannya kepada orang lain.
Keempat aspek tersebut tereflesikan dalam al Qur’an Surat al Asr yang berbunyi :”Demi
masa (1) Sesungguhnya manusia itu berada didalam kerugian (2) Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling nasehat menasehati dalam
berbuat kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam berlaku sabar (3)5
2. Jihad dalam melawan kemunkaran Syaithan meliputi dua aspek yaitu:
a. Berjihad dengan menolak hal-hal yang meragukan keimanan hati terhadap Allah
swt
yang tentunya harus dibarengi dengan keteguhan iman dan selalu memperbanyak
zikir
terhadap Allah swt
b. Berjihad dengan berusaha meninggalkan segala hal-hal yang cenderung untuk
melawan
ketentuan-ketentuan Allah swt demi untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.
3. Jihad melawan penguasa yang zalim dan munkar ada tiga kategori yaitu:
a. Berjihad dengan menggunakan tangan (baca:kekuatan) apabila tidak
menimbulkan
mudharat yang melebihi maslahat yang dapat diambil ketika melaksanakannya.
Maka
dalam hal ini hendaklah dilakukan Denton segala kekuatan yang ada pada diri
kita dan
jihad dengan mempergunakan kekuatan tersebut ada batasan-batasannya
sebagaimana
termaktub dalam kitab-kitab fiqih.
b. Berjihad dengan menggunakan lisan dan tulisan dan kategori kedua ini tak kalah
pentingnya dimana tulisan dan lisan mampu mengerahkan beribu-ribu massa
untuk menghancurkan kebatilan, kita dapat melihat hanya dengan kalimat
“Allahu
Akbar “yang dilantunkan bertalu-talu akhirnya mampu menghalau kaum
kafir
walaupun jumlah mereka berlipat ganda.
c. Berjihad dengan kalbu/hati adalah kategori yang ketiga dimana ia membenci
dan
menolak segala bentuk kezaliman dan kemunkaran.
4. Berjihad melawan musuh-musuh Allah dari orang kafir, musyrik dan orang-orang
yang
membantu mereka dengan berbagai macam cara juga, tergantung kepada
kemampuan kita.
Para Ulama Salaf melihat setidaknya melihat ada empat cara untuk menghadapi
mereka
yaitu dengan jihad secara lisan dan tulisan, jihad dengan kalbu/hati, jihad dengan
fisik
( mengangkat senjata ) dan jihad dengan harta yaitu menyumbangkan seluruh harta
untuk
kepentingan perjuangan umat islam, bisa juga dimanifestsikan dalam bentuk boikot,
penari kan saham-saham dari perusahaan-perusahaan non muslim dan mendirikan
syarikat
yang berbasiskan islam.

Kapankah Jihad itu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah ?


Jihad dikatakan fardhu kifayah apabila sebagian telah melakukannya dan
sebagian lain telah mengetahuinya dan hal ini terus berkelanjutan dalam menegakkan
jihad tersebut dan apabila tidak ada seorangpun yang melakukannya maka berdosalah
seluruh orang yang ada didaerah tersebut. Sementara jihad dikatakan fardhu a’in
apabila tidak ada lagi yang melakukannya kecuali hanya dirinya sendiri maka posisinya
pada saat itu menjadi fardhu a’in dan juga apabila karena sebab-sebab berikut ini:
a. Ketika ia berada di medan perang maka wajib baginya untuk menghalau musuh,
karena lari
dari medan peperangan merupakan salah satu dosa besar.
b. Apabila suatu wilayah diserang oleh musuh islam maka wajib bagi seluruh yang ada
di
wilayah itu berjihad baik laki-laki ataupun perempuan, hamba ataupun orang yang
merdeka
maka posisi seperti ini adalah fardhu a’in, karena tidak dibolehkan bagi seorang
muslim
untuk menyerah kepada musuhnya selama ia masih mampu untuk mengadakan
perlawanan
terhadap mereka.
c. Apabila seorang Imam/Pemimpin Agama telah mewajibkan bagi suatu kaum untuk
ber-
perang maka jihad tersebut menjadi fardhu a’in. Dan Allah swt mencela keras orang-
orang
yang enggan untuk berjihad di jalan Allah dikarenakan kecintaannya yang berlebihan
kepada dunia6.
Lantas bagaimana ketika jihad diwajibkan tetapi disisi lain orang tua membutuhkan
pengabdian kita ? Untuk menjawab pertanyaan ini ada sebuah hadits yang
menerangkan tentang permasalahan ini yang diriwayatkan Abdullah bin Umar ra
berkata:” Telah datang kepada Nabi muhammad saw seorang pemuda agar diizinkan
untuk ikut berjihad maka Rasulullah saw bertanya:Apakah kedua orang tuamu masih
hidup ? Pemuda itu menjawab “Ya”( orang tua saya masih hidup ) kemudian Rasulullah
saw berkata:Mengabdilah kepada orang tuamu maka itu juga adalah jihad” ( HR Bukhori
Muslim ) Dari hadits diatas telah jelas sekali bahwa mengabdi kepada orang tua lebih
diutamakan karena jihad adalah fardhu kifayah sedangkan mengabdi kepada orang tua
adalah fardhu a’in7.
Dr Jamal Abdu al Satar berpendapat bahwa hadits diatas adalah jihad yang
menyerang ke wilayah kaum kafir (baca: al Fath) hukumnya adalah fardhu kifayah
makanya dikedepankan mengabdi kepada orang tua karena hukumnya adalah fardhu
a’in, tetapi kalau kaum kafir yang menyerang ke wilayah islam maka hukum jihadnya
adalah fardhu a’in dan apabila kedua hal ini salimg bertemu dan posisinya sama-sama
fardhu a’in maka disini yang dikedepankan adalah jihad atas dasar skala prioritas
dengan kaedah : yang artinya adalah: Perbuatan yang lebih besar manfaatnya
( baca:kepentingan umum ) lebih dikedepankan daripada perbuatan yang untuk diri
sendiri dan lebih kecil manfaatnya ( baca:kepentingan pribadi ) karena jihad untuk
menjaga wilayah islam dari serangan musuh untuk kepentingan umat islam secara
keseluruhan maka ia dikedepankan dari mengabdi kepada orang tua yang manfaatnya
untuk diri sendiri.

Tujuan dan Manfaat Jihad


Kalau kita teliti lebih lanjut lagi bahwa tujuan jihad yang utama adalah
mengembalikan manusia kepada pokok pangkalnya, fitrahnya yang hanif yaitu yang
mengharuskan mereka tunduk dan patuh kepada Allah swt8. disamping juga untuk
menghilangkan fitnah terhadap kaum muslimin, melindungi wilayah islam dari serbuan
orang-orang kafir dan membunuh mereka-mereka yang melanggar perjanjian .
Sayyid Qutub dalam tafsir Zhilalnya mengatakan:”sesungguhnya motivasi jihad dalam
islam yag sebenarnya harus dicari dari tabi’at islam itu sendiri sesuai dengan
peranannya di muka bumi ini, serta sesuai tujuannya yang mulia sebagaimana telah
ditetapkan oleh Allah swt. Hal ini dipertegas lagi oleh Abu al a’la al Maududi yang
mengatakan:”Sasaran tauhid bukanlah berkisar pada ibadah Allah swt semata-mata
tetapi lebih luas lagi adalah dakwah menuju revolusi sosial9.
Dengan jihad pula manfaatnya dapat kita rasakan dengan tersingkapnya
identiotas kaum munafik , hal ini terbukti dalam sejarah ketika Rasulullah saw
meyerukan jihad perang Uhud seluruh kaum muslimin menyambutnya tetapi dengan
provokasi yang dilancarkan oleh tokoh kaum munafik saat itu, yaitu Abdullah bin Ubay
akhirnya 300 pasukan muslim yang lemah imannya mengundurkan diri berjihad
diperang Uhud, kemudian juga untuk membersihkan orang-orang mukmin dari dosa-
dosa mereka, mendidik mereka kepada kesabaran, keteguhan dan konsisten terhadap
akidahnya dengan menjunjung tinggi semboyan yang arti bunyinya adalah :” kalau
hidup maka hiduplah yang mulia jika tidak maka matilah dalam keadaan syahid”.
Rasulullah saw menggambarkan betapa besar pahala jihad dalam sebuah hadits yang
berbunyi “Tak seorangpun yang masuk surga menyukai untuk kembali kedunia lagi
sekalipun tidak memiliki sesuatu kekayaan apapun di dunia kecuali orang yang mati
syahid ia menghendaki kembali kedunia lagi agar mati syahid sampai sepuluh kali
karena ia telah menyaksikan betapa besar balasan penghormatan kepadanya yaitu
pahala berjihad.
( HR Bukhori Muslim )

Realitas Jihad dan Terorisme


Pada tahun 1995 ketika saya menjadi mahasiswa di universitas McGill Montreal
Kanada saya mempunyai tetangga wanita yang kebetulan satu gedung apartemen
dengan saya umurnya sekitar 50-an tahun orangnya sangat ramah dan santun kami
sering berdiskusi dan saling menukar informasi. Suatu hari ia bertanya tentang agama
yang saya anut maka saya menjawab bahwa saya adalah seorang muslim ia langsung
terperanjat dan bertanya kepada saya seakan tak percaya maka saya jawab
sebagaimana jawaban saya semula dia langsung pergi dan meniggalkan saya sambil
berlari menuju apartemennya. Semenjak itu saya tidak pernah lagi bertemu dan
berbicara dengannya.
Kemudian saya mencari tahu apa sebabnya dengan seorang pendeta yang
kebetulan teman akrab saya ia menjelaskan “bahwa para wanita disini sangat takut
sekali dengan seorang muslim yang menurut pengetahuan mereka mempunyai
pemahaman untuk membunuh siapa saj orang kafir yang mereka temukan dan itu
merupakan jihad dan
merupakan jalan pintas untuk mendapatkan surga10. Ini contoh kasus saja masih
banyak lagi kasus-kasus yang lain yang memberikan pandangan stereotif terhadap
jihad islam .
Kita dapat melihat betapa palestina yang berjuang mati-matian untuk
mempertahankan negaranya dari penjajah israel dianggap pengacau dan teroris
sedangkan mereka yang jelas-jelas menjajah dan melanggar batas-batas kemanusiaan
adalah pembela kebenaran dan orang-orang yang terzalimi. Para mujahidin afganistan
yang membela kedaulatan negaranya dinaggap ekstrimis dan teroris dan orang-orang
yang membantunya dimasukkan kedalam daftar catatan hitam dan dianggap telah
membantu gerakan terorisme.

* Makalah ini diPresentasikan dalam acara Kajian Dwi Mingguan Kelompok Kajian As
Safiir Himpunan Mahasiswa Medan pada hari Sabtu tanggal 7 September 2002
bertempat di Sekretariat HMM Gate II Tenth District Nasr City Cairo Egypt
** Pemakalah adalah Mahasiswa Fakultas Syarian Islamiyah Tingkat Akhir Universitas al
Azhar
Kairo-Mesir
1 Semboyan ini dipergunakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk membakar /memotivasi
semangat ruh jihad dalam setiap dada mereka untuk membentuk Daulah Islamiyah
yang bersumber kepada al Qur’an dan Sunnah. Lihat: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Rukn
al Jihad Fi Fiqhi al Islah wa al Tajdid Inda al Imam Hasan al Banna, Dar al Tawzi’ wa al
Nasyr al Islamiyah, Kairo, cet.I, 1415H-1995M, hal.212
2 Disini menerangkan bahwa kaitan Jihad sangat erat sekali dengan Hidayah. Sehingga
siapa saja yang benar-benar ikhlas dalam berjihad menegakkan kalimat Allah akan
bertambah Hidayahnya yang membawanya kepada kebaikan dan kebenaran. Lihat: al
Majlis al A’la li Syu’un al Islamiyyah , Tafsir al Muntakhob Surat al Ankabut Ayat 69,
Muassasat al Ahram, Kairo,cet.XIX, 1421H-2000M, hal.601
3 Lihat: Dr Ibrahim Anis, et.al, al Mu’jam al Wasith Bab Jim Pasal Jahada dan al Jihad,
Majma’ al Lughah al Arabiyyah, Kairo, cet.II, 1392H-1972M, hal.163
4 Dr Ali Abdul Halim Mahmud, Rukn al Jihad Fio Fiqhi al Islah wa la Tajdid Inda al Imam
Hasan al Banna, Dar al Tawzi’ wa al Nasyr al Islamiyyah, Kairo, cet. I, 1415H-1995M,
hal.36
5 al Majlis al A’la li al Syu’un al Islamiyah, Tafsir al Muntakhob Surat al Asr , Muassasat
al Ahram, Kairo, cet.XIX, 1421H-2000M, hal.926
6 Syaikh Hasan Ayyub, Fiqh al Jihad Fi al Islam, Dar al Salam, Kairo, cet. I,1422H-
2002M,hal.82
7 Syaikh al Imam Muhammad Ismail al Amir al Yamani al San’an, Subulus Salam (Syarh
Bulughul Maram ) Bab Jihad Jilid IV, Maktabah al Iman bi al Mansurah, Mesir, hal.75
8 Dr Ali bin Nafayyi al Alyani, Tujuan dan Sasaran Jihad (terj.), Gema Insani Press,
Jakarta,cet.I,1413H-1992M,hal.24
9 Ibid. hal.37
10 Hamudah Abdel Ati, al Jihad ( Holy War ) in Islam, The Islamic Culture Administration
al Azhar University , al Azhar Press, Kairo-Mesir

Muqaddimah

Pembicaraan tentang bulan Ramadhan tidak lepas dari pembicaraan tentang jihad. Karena tidak
sedikit jihad yang dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya dalam memerangi kekufuran
dan kemusyrikan terjadi pada bulan Ramadhan. Dan setelah beliau, para ulama salaf juga
mengikuti jejak tersebut, bahkan hingga hari ini gelora jihad di bulan Ramadhan belum padam,
dan tidak akan padam hingga hari kiamat kelak.
Di antara peristiwa besar (amaliyah jihad) yang pernah terjadi pada bulan Ramadhan adalah
sebagai berikut:

1. Perang Badar yang terjadi pada tangal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Perang Badar
dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih oleh umat Islam
di awal pertumbuhannya di Madinah.
2. Fathu Makkah yang terjadi pada tahun ke-8 Hijrah. Jihad ini merupakan kemenangan
untuk menghancurkan tuhan-tuhan berhala dan menancapkan panji kebenaran.
3. Pada Ramadhan tahun ke-9 Hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima
utusan dari Tsaqif untuk membaiat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
4. Pada Ramadhan tahun ke-15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang
Majusi di Persia ditumbangkan.
5. Pada Ramadhan tahun ke-53 Hijrah, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa.
6. Pada bulan Ramadhan tahun ke-91 Hijrah, umat Islam memasuki selatan Andalusia
(Spanyol sekarang).
7. Pada Ramadhan tahun ke-92 Hijrah, umat Islam keluar dari Afrika dan membuka
Andalus dengan komandan Thariq bin Ziyad.
8. Pada bulan Ramadhan tahun ke-132 Hijrah, Dinasti Umawiyah ditumbangkan dan
berdirilah Daulah Abbasiyah.
9. Pada bulan Ramadhan tahun ke-254 Hijrah, Mesir memisahkan diri dari Daulah
Abbasiyah dengan pimpinan Ahmad bin Thaulun.
10. Pada Ramadhan tahun ke-361 Hijrah, dimulainya pembangunan Masjid Al-Azhar yang
kelak menjadi Universitas Al-Azhar di Kairo.
11. Pada bulan Ramadhan tahun ke-584 H, Sholahuddin Al-Ayyubi mulai menyerang tentara
Salib di Siria dan berhasil mengusir mereka.
12. Pada Ramadhan ke-658 H., Umat Islam berhasil menghancurkan tentara Tartar di perang
“Ain Jalut”
13. Pada Ramadhan tahun ke-675 H., Raja Bebes dan tentaranya berhasil mengusir tentara
Salib secara total.
14. Pada bulan Ramadhan tahun ke-1393 Hijrah, tentara Mesir berhasil merebut terusan Suez
dan mengusir tentara penjajah Israel dari Sinai.

Namun tidak sedikit dari umat Islam yang belum memahami masalah ini, terlebih lagi bagi
mereka yang hanya ‘beribadah’ pada bulan Ramadhan saja, selesai bulan Ramadhan selesai
pulalah amaliyah ibadah yang mereka lakukan.

DAKWAH DAN JIHAD JALAN PERJUANGAN THAIFAH MANSHURAH

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman pergi berperang semuanya. Mengapa tidak pergi
dari tiap-tiap golongan di antara mereka, sekelompok orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (berdakwah) apabila
mereka kembali kepadanya, supaya mereka berhati-hati.” (At Taubah 122)

Demikianlah bunyi firman Allah, surat At-Taubah ayat 122. Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan
bahwa kewajiban berjihad adalah suatu hal yang maklum bagi umat ini. Pada saat yang sama, Ia juga
memperingatkan agar umat ini tetap menyediakan sebagian putra-putranya untuk memperdalam ilmu
agama.
Semua itu bertujuan demi menjaga agar pasukan Islam tetap berada di atas manhaj ilahiah, agar
jihad yang dilakukan tetap fi sabilillah dan supaya buah manfaat jihad yang dilakukan dapat dinikmati
secara sempurna oleh umat ini

Syaikh Abu Qotadah Al Filisthini – semoga Allah membebaskan beliau dari penjara thoghut Inggris-
menjelaskan, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala membagi orang-orang beriman menjadi dua golongan :
Mujahid dan Mujtahid, dan tidak ada lagi yang lebih baik dari mereka.Karena itu, seorang Mujahid
seharusnya adalah juga Mujtahid demikian juga seorang Mujtahid mestilah Mujahid. Karena kata
“Jihad” dan “Ijtihad” menurut pengertian bahasa, berasal dari kata ‫جهد‬ َ ‫ ال‬yang berarti ( ‫ )التعب و المشّقة‬atau
kepayahan dan kesulitan atau dari kata ‫جهد‬ُ ‫ ال‬yang berarti (‫ )الوسع و الطاقة‬atau daya kemampuan dan
kekuatan.

[1]

Lebih tegas lagi Asy Syahid –Insya Allah- Sayyid Quthb menjelaskan, “Islam hanya dapat
dipahami secara benar dalam kancah perjuangan dan jihad. Terlebih lagi pada saat jihad sudah
menjadi fardhu ‘ain, maka Dien ini tidak bisa dipahami hanya berdasarkan penjelasan dari seorang
ahli ilmu syari’ah (faqih) yang hanya duduk di belakang meja dikelilingi kitab dan makalah tanpa
merasakan langsung kecamuk jihad fi sabilillah…. “

[2]

Jelaslah bagi kita bahwa jihad tidak bisa dipisahkan dengan ijtihad, ataupun sebaliknya.
Sedang kita pun tahu, dakwah di era modern seperti sekarang ini mutlak memerlukan kemampuan
seorang da’i untuk berijtihad menghadapi berbagai fenomena perkembangan sains, teknologi,
peradaban dan pemikiran manusia yang amat sangat pesat.

Mengharapkan metode dakwah yang jauh dari kecamuk pertarungan antara


al-haq dan bathil, adalah sebuah kemustahilan.. Apalagi jika kita memahami sifat
perseteruan antara al-haq dan al-bathil sebagaimana Firman Allah, “Sebenarnya
Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu
menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap” (Al-Anbiya’:
18)

Syaikh Abu Qotadah juga menuturkan bahwa Al Haq (kebenaran) harus ditampakkan dan
dibenturkan dengan kebatilan. Karena seperti itulah sifat aslinya, dan ia tidak mungkin berubah dari
sifat itu karena Allah telah menciptakan unsur kekuatan itu dalam dirinya”. [3]
Membenturkan sesuatu jelas membutuhkan kekuatan, apalagi
membenturkan Al-Haq untuk melenyapkan kebathilan. Tentu tidak hanya
dibutuhkan kekuatan semata. Lebih dari itu, dibutuhkan kesabaran, konsistensi,
tsabat (keteguhan), strategi dan pengorganisasian yang rapi dan berbagai
perangkat lainnya.

Hikmah dan Nasehat dalam dakwah

Dalam menafsirkan ayat 125 surah An Nahl yang artinya, “Serulah (manusia)
kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik…”, Sayyid Quthb
menjelaskan “Inilah manhaj dan pedoman dalam berdakwah, selama itu masih
berkisar dalam lingkup dakwah yang bersifat lisan, maka yang digunakan adalah
hujjah (argumen yang kuat) dan nasehat yang baik.

Akan tetapi jika terjadi penentangan bahkan permusuhan terhadap para da’i
dan penyeru syari’ah Allah, maka kondisinya menjadi berubah. Penentangan dan
permusuhan adalah tindakan fisik yang harus dihadapi dengan tindakan yang
setara sebagai bentuk penghormatan dan pembelaan terhadap al haq serta untuk
menjaga agar jangan sampai kebathilan mengalahkan al-haq.

Karena Islam adalah Dien yang lurus dan menjunjung tinggi keadilan dan Islam mewajibkan
pemeluknya untuk membelanya dari segala bentuk tindakan yang melampaui batas. Sebagaimana
firman Allah :[4] “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama
dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu”.

[5]

Dari sini dapat kita pahami bahwa hikmah dan nasihat yang baik hanyalah salah satu metode
dan tahapan dalam berdakwah. Namun pada akhirnya tetap saja musuh-musuh Allah akan
menggunakan segala cara untuk memadamkan cahaya Islam. Inilah salah satu arti penting jihad yaitu
sebagai penjaga keberlangsungan dakwah.

Dakwah Thaifah Manshurah

Imam Nasa’i meriwayatkan dari Salamah bin Nufail Al Kindy radhiyallahu 'anhu dengan sanad shahih,
beliau berkata: “Saat aku duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba
seseorang berteriak “Orang-orang telah menambatkan kuda dan peralatan perang mereka, seraya
berseru “Sekarang tidak ada lagi jihad, perang telah usai!” serta merta Rasulullah menolehkan
wajahnya dan berseru “Mereka bohong!”. Saat ini juga jihad dimulai, dan senantiasa akan ada
sebagian dari umatku yang berperang menegakkan al-haq, lalu Allah menjadikan hati orang-orang
bersimpati pada mereka sehingga Allah jadikan rizki mereka melalui perantaraan orang-orang itu
hingga hari kiamat tiba dan hingga janji Allah terwujud (kemenangan Islam atas kaum kafir)”.

Ini hanyalah salah satu dari puluhan hadits tentang Thaifah Manshuroh yang karena saking
banyaknya riwayat sehingga Syaikh Salman Audah dalam buku Silsilatul Ghuroba’ menyatakan bahwa
hadits tentang Thoifah Manshuroh telah mencapai derajat Mutawatir.

Dari sekian banyak hadits tersebut, tidak ada satupun hadits yang tidak menyebut jihad
sebagai salah satu sifat dan ciri utama Thaifah Manshuroh. Bahkan dalam hadits di atas diterangkan
bahwa rizki untuk mereka pun diperoleh karena mereka berjihad.

Allah mencukupi kebutuhan mereka, menghapus gundah gulana dan kecemasan mereka,
serta berbagai macam problematika kehidupan karena kecintaan mereka kepada jihad fi sabilillah.
Sehingga jihad adalah ruh dan jasad mereka, jihad adalah jiwa dan nyawa mereka. Karena
sesungguhnya tanpa adanya ruh jihad dalam diri seseorang, sejatinya ia telah mati sebelum
nyawanya dicabut oleh Sang Khaliq.

Adalah mustahil jika kita ingin dimasukkan dalam Thoifah Manshuroh, tetapi kemudian
memilih metode dan manhaj dakwah yang tidak “nyerempet-nyerempet” dengan jihad, hanya karena
kita takut disebut teroris.

Dakwah dan jihad adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Memisahkan dakwah dari
jihad sama dengan memisahkan jasad dari ruhnya. Dakwah akan mati dan jihad pun akan musnah.
Tidak berlebihan rasanya jika kemudian Abu Qotadah menyimpulkan bahwa Thoifah Manshuroh adalah
Thaifah Ilmu dan Jihad…Thaifah Jihad dan Ijtihad.

Jihad Adalah kemuliaan Dan Kelembutan


Posted by Ust. Abu Jibriel in Dakwah dan Jihad, Tulisan on 05 21st, 2009 | 6
responses

“Jihad Bukan Terorisme (kekerasan) dan Mujahidin adalah orang yang paling mulia bukan
Teroris (pengganas)”

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, kita memuji-Nya, Dzikir-Do’a hanya kepada-
Nya, Subhanallah Walhamdulillah Allahuakbar. Sholawat serta salam senantiasa tertuju kepada
Komandan dan Panglima Mujahid, pembawa risalah Ilahi, Muhammad Shollalahu ‘Alaihi
Wasallam, serta para Sahabat, keluarga dan para Shalihin Mujahidin penerus risalah Rasulullah
Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. Waba’du.

Sebagian umat Islam memandang kalimat Jihad dan Qital seperti pandangan orangq-orang kafir.
Mereka berkata bahwa jihad dan perang adalah kekerasan dan kekejaman. Sedangkan Islam
adalah Rahmatan lil Aalamien. Pandangan ini wajib diluruskan, karena pandangan seperti ini
merupakan virus yang akan membunuh ajaran Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah
Nabi Saw.
Ketahuilah:

1.) Bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Aalamin, yang berarti Islam akan menjadi rahmat bagi
seluruh alam semesta jika seluruh ajarannya yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul
diimani, difahami dan dilaksanakan syari’ahnya mengikuti petunjuk Nabi Saw. Dan jihad fie
sabilillah adalah bagian terpenting dari ajaran Islam setelah iman.

Dari Abu Hurairah Ra. berkata, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah
apakah amalan yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Orang itu bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad dijalan Allah…” (HR.
Bukhari dan Musim)

Oleh karena itu JIHAD bukanlah TERORISME/KEKERASAN dan MUJAHID bukan


TERORIS/PENGGANAS. Akan tetapi Jihad adalah amalan mulia yang memasukkan pelakunya
kedalam Jannah, sedang Mujahid adalah sebaik-baik golongan manusia. Jika manusia beriman
dan memeluk Islam dan melaksanakan ajaran Islam dengan baik dan benar mengikuti petunjuk
Rasul Saw., maka pasti akan mendapat rahmat Allah Swt. Sebaliknya jika mereka kafir dan
menghalangi ajaran Islam bahkan mereka memerangi Islam dan ummat Islam dengan berbagai
jenis persenjataan barulah Islam menyatakan perang kepada mereka sebagai balasan terhadap
tindakan kafir dan kejahatan mereka. Islam mengajarkan kasih sayang dan kelemah-lembutan
serta kedamaian kepada siapa saja yang tidak memusuhi Islam dan ummatnya. Tetapi jika
mereka memusuhi, maka Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memerangi
dan membunuh mereka dimana saja mereka berada. Perhatikan Firman Allah (QS. Al Baqarah
2: 190-193 ; 216; QS. At Taubah 9:5,14-15; 28-29; 41,73,123).

Itulah diantara ayat Al Qur’an yang memerintahkan membunuh dan memerangi kafir yang
memerang Islam. Orang-orang beriman yang enggan memerangi orang kafir ditanya oleh Allah
Swt, mengapa mereka enggan dan malas memerang kafir itu ? Perhatikan firman Allah (QS. An
Nisa 4:74-76; QS. At Taubah 9:38-39).

Dan berikut ini adalah beberapa ayat Allah yang menerangkan kemuliaan jihad dan
Mujahid:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam
jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal
yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar, dan (ada lagi) karunia yang
lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya),
dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As Shaf, 61:10-13)

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai
‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk
satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,
(yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’, 4:95-96)

2.) Orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah dengan Syurga.
Allah telah memuliakan mereka karena kesediaan mereka berkorban harta maupun jiwa untuk
menegakkan agama Allah. Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al
Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang
besar.” (QS. At Taubah, 9:111)

3.) Dzikrullah yang ikhlas dan khusyu’ akan membuahkan Jihad fie sabillaillah yang
mendatangkan kejayaan dan kesuksesan. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya (seperti: berzikir kepada Allah, shalat, tilawah Al Qur’an, taubat,
istigfar, do’a, dll) dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(QS. Al Ma’idah, 5:35)

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang
memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha
Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab, 33:41-43)

4.) Dzikir dan Jihad harta dan jiwa, disebutkan berdampingan dalam Al Qur’an. Al Qur’an tidak
memisahk antara amalan zikrullah dengan jihad fiesabilillah sebagaimana banyak kaum
Muslimin yang meletakkan zikir disatu tempat sedang jihad ditempat yang lain, lalu mengatakan
amalan yang paling utama ialah berzikir kepada Allah. Dan yang berjihad berkata amalan
jihadlah yang paling baik. Perhatikan ayat berikut.

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh
hatilah kamu dan berzikirlah kepada Allah (sebutlah nama Allah) sebanyak-banyaknya agar
kamu beruntung, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-
bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal, 8:45-46)

5.) Berinfaq untuk jihad djalan Allah adalah infak yang paling tinggi nilainya disisi Allah Swt.
seperti firman-Nya QS Al Baqarah 2:261 dan 245. Tetapi sebagian besar kaum Muslimin dia
enggan dan takut untuk jihad dan membantu para mujahidin yang berjihad. Mereka lebih senang
berinfaq kepada fakir miskin, anak yatim membangun masjid, pon-pes dan lain-lain.
Renungkanlah firman Allah berikut:
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak
dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena
memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka
tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al Baqarah,
2:273)

6.) Bahwa sikap Rasulullah dan para sahabat beliau terhadap orang-orang kafir adalah tegas dan
keras, kapada mereka yang menentang Islam (dalam hal aqidah dan syari’ah). Tapi sebagian
besar kaum Muslimin tidak bersefakat dengan hal tersebut karena beralasan bahwa Islam bukan
agama kekerasn Perhatikanlah ayat berikut:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’
dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-
orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang
besar.” (QS. Al Fath, 48:29)

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan
orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-
Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Ma’idah, 5:54)

Sikap keras yang dimaksud dalam ayat-ayat diatas ialah sikap dalam Tauhid dan Syari’ah, bukan
berarti bersikap keras kepada semua orang kafir, akan tetapi kepada mereka yang menentang dan
memerangi Islam serta ummatnya. Islam mengharamkan bersifat keras kepada kafir yang tidak
memerangi sebaliknya wajib bersifat baik dan adil. (QS. Al Mumtahanah, 60:8-9)

KONSEP JIHAD MENURUT ISLAM


Judul

Bahasa

Hak
Cipta

Rating

Extern
al Link

YouTub
e Link

Simpan

Merupakan kehormatan bagi saya diberi kesempatan untuk mengemukakan secara


singkat tentang konsep Jihad dan pertaliannya dengan konsep kedamaian menurut
Islam. Selama ini disepakati kalau Islam itu merupakan agama yang paling sering
disalah-artikan di dunia. Saya pun sependapat dengan pernyataan tersebut.
Sungguh merupakan suatu hal yang menyedihkan bahwa manusia di dunia tidak
bisa memahami falsafah ajaran Islam berkaitan dengan kedamaian. Salah satu
bidang yangpaling sering menimbulkan kesalahan pengertian adalah konsep
tentang Jihad. Konsep Jihad ini sudah sedemikian dipelintir dan diputarbalikkan
sehingga menimbulkan konotasi negatif tentang Islam. Sungguh menyedihkan
orang jadinya tidak bisa mengenali kecantikan Islam karena hal itu. Dalam pikiran
saya, sesungguhnya Islam itu seperti batu intan yang cantik, sebuah intan
kedamaian. Dari sudut mana pun kita memandangnya tetap saja akan
menggambarkan kedamaian semata. Namun memang terdapat demikian banyak
distorsi dalam ajaran hakiki Islam. Karena itu ingin saya berbagi pandangan dengan
anda sekalian tentang konsep kedamaian dalam Islam sebelum saya menjelaskan
arti sebenarnya dari kataJihad

Islam dan Kedamaian

Apa yang menjadikan Islam sebagai agama kedamaian? Nama Islam itu sendiri
sudah suatu hal yang amat unik. Itulah pertama kalinya dalam seluruh sejarah
agama di dunia bahwa ada agama yang secara harfiah bermakna kedamaian. Kata
Islam memiliki dua konotasi, pertama adalah tunduk dan penyerahan diri
sepenuhnya kepada kehendak dan perintah Allah dan kedua, artinya adalah damai.
Lagi pula, Islam adalah agama yang ditegakkan oleh Allah s.w.t sendiri. Allah s.w.t
mempunyai berbagai fitrat dan salah satunya adalah As-Salam yang berarti
pembawa kedamaian. Orang yang beriman kepada Islam disebut Muslim. Definisi
dari seorang Muslim adalah "seseorang yang sepenuhnya damai dengan dirinya
sendiri dan yang mengembangkan kedamaian dalam masyarakat". sebuah definisi
yang cantik tentang arti kata Muslim diberikan oleh pendiri Islam yaitu Nabi
Muhammad s.a.w yang menyatakan:
"Seorang Muslim adalah seseorang yang dari tangan mau pun lidahnya semua
orang menikmati keamanan dan keselamatan". (Bukhari)

Dalam pengertian hakikinya, hanya orang yang tidak mengakibatkan mudharat bagi
orang lain yang bisa secara jujur dan benar dikatakan sebagai Muslim. Ada
beberapa hal lain yang juga perlu menjadi perhatian. Salam yang diucapkan umat
Muslim adalah "Assalamualaikum" yang artinya "salam selamat atas diri anda"
Salam ini disampaikan baik kepada sesama Muslim mau pun kepada orang-orang
non-Muslim. Tempat asal mula Islam adalah Mekah yang disebut "Baladul Aminâ"
yang artinya adalah "kota damai". Kitab suci Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Suci
s.a.w oleh seorang malaikat yang dikenal sebagai "Ruhul Aminâ" atau malaikat
kedamaian. Terakhir, sebutan yang dikenakan kepada wujud Rasulullah s.a.w oleh
lawan-lawan beliau saat sebelum pernyataan diri beliau sebagai nabi adalah "Al-
Aminâ" yang artinya adalah orang yangpaling bisa dipercaya dan paling damai di
bumi.

Tak ada paksaan dalam agama

Perlu diperhatikan pula bahwa Islam sejak awal sudah menyatakan dan pernyataan
ini berlaku untuk segala zaman serta ditujukan kepada segenap manusia. Al-Quran
jelas menyatakan:

"Tidak ada paksaan dalam agama" (S.2 Al-Baqarah:257)

Selanjutnya ayat itu menjelaskan alasan dari pernyataan itu, yaitu:

"Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan" (S.2 Al-Baqarah:257)

Bila anda sudah memiliki nalar dan logika disamping anda telah memiliki ajaran
Islam yang cantik dan persuasif, maka anda tidak akan memerlukan sarana
kekerasan atau pun pemaksaan. Islam tidak mengizinkan penggunaan kekerasan
untuk menarik orang ke dalam agama. Kitab suci Al-Quran menyatakan:

"Dan katakanlah'Ini adalah kebenaran dari Tuhan-mu, maka barangsiapa


menghendaki maka berimanlah dan barangsiapa menghendaki maka ingkarlah".
(S.18 Al-Kahf:30)

Islam menegakkan dan menjamin kebebasan memilih, baik dalam cara beribadah,
cara pengembangan mau pun pelaksanaan agama. Barangsiapa memilih untuk
beriman maka ia akan mendapat ganjaran, sedangkan mereka yang tidak mau
beriman juga tidak akan dipaksa untuk itu.

Keluar dari Islam (Murtad)


Ada beberapa kelompok Muslim yang beranggapan bahwa seseorang yang telah
masuk Islam dan kemudian menyesal serta keluar lagi, maka hukuman untuk itu
adalah mati dibunuh. Sejalan dengan ajaran Islam, tidak ada hukuman duniawi
yang harus dikenakan kepada orang yang kemudian keluar lagi dari Islam.
Hukuman untuk itu hanya semata-mata ditetapkan Allah s.w.t sendiri dan bukan
oleh manusia. Kebebasan untuk masuk dan keluar dari agama Islam merupakan
batu ujian dari pernyataan "Tidak ada paksaan dalam agama" Tidak mungkin
kemerdekaan itu bersifat satu arah saja, bebas masuk Islam tetapi tidak bebas
meninggalkannya.

show full text

/4
Komentar dan Ulasan ^atas

Login untuk memberikan komentar

setetes racun dalam sebelanga susu takkan terasa...


setitik duri dalam hati takkan terlihat..

sungguh,,,mata pena mereka lebih berbahaya drpada mata


pedang dan nuklir..
some people dispise god,in the name of god
some people rob a country,in the name of country
some people destroy a religion,in the name of religion..
so.in the name of who ever or wht ever,send ur curses
or by my name,antagonize them,whit compassions!

infantri313 Apr 05, 2009 19:38 balas spam

setetes racun dalam sebelanga susu takkan terasa...


setitik duri dalam hati takkan terlihat..

sungguh,,,mata pena mereka lebih berbahaya drpada mata


pedang dan nuklir..
some people dispise god,in the name of god
some people rob a country,in the name of country
some people destroy a religion,in the name of religion..
so.in the name of who ever or wht ever,send ur curses
or by my name,antagonize them,whit compassions!

MENIMBANG LOGIKA AWAM

Mereka (orang munafiq) berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-
benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal
kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-
orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al Munafiqun:8)
Tak biasa, orang munafik turut serta dalam perang Bani Musthaliq. Kebetulan dua sahabat
terlibat pertikaian saat itu. Adalah Jahjah bin Sa’id al Ghifari bertengkar dengan Sinan bin Wabr
al Jahni di dekat telaga al-Muraisi. Dalam pertengkaran yang mengarah saling membunuh itu,
Sinan berteriak, “Wahai kaum Anshar”, Jahjah juga berteriak, “Wahai kaum Muhajirin”.

Mendengar kejadian itu, tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul berang dan berkata di
depan kaum munafik, “Mereka (muhajirin) telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di
negeri sendiri. Demi Allah, antara kita dengan orang-orang Quraisy ini tak ubahnya seperti
ungkapan orang, “Gemukkan anjingmu, niscaya menerkammu. Demi Allah, jika kita telah
sampai Madinah, orang-orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina (muhajirin)”.
Zaid bin Arqam yang mendengarkan ucapan itu melapor kepada Rasulullah saw, dan Allah
membenarkannya melalui ayat diatas.

***

“Demi Allah, jika kita telah sampai Madinah, orang-orang yang mulia pasti akan mengusir kaum
yang hina (muhajirin)”, demikian ujaran Abdullah bin Ubay. Perkataan berbisa yang
menyakitkan, muncul dari musuh dalam selimut yang tidak seperti biasa bersikap hipokrit,
melainkan telah mengancam hendak mengusir Rasulullah beserta sahabatnya dari Madinah.

Umar bin Khattab yang mendengar berita itu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku
memenggal leher orang munafik ini”. Sebuah permintaan izin yang berangkat dari kesimpulan
atas layaknya hukuman mati bagi si Munafik. Tidak hanya Umar ra yang berkesimpulan
demikian, para sahabat, sekembalinya mereka ke Madinah menunggu tindakan keras yang akan
dilakukan Rasulullah terhadap kaum munafik. Mereka percaya Rasulullah saw bakal membunuh
Abdullah bin Ubay. Desas-desus begitu santer, hingga Abdullah bin Abdullah bin Ubay, anak
Abdullah bin Ubay, datang menemui Rasulullah dan berkata, “Saya mendengar engkau ingin
membunuh ayahku. Jika benar, maka perintahkanlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya
kepadamu…”.

Namun, baik permohan Umar ra. maupun permohonan Abdullah bin Abdullah bin Ubay ra.
sama-sama ditolak oleh Rasulullah saw. Kepada Umar bin Khottob beliau menjawab: “Wahai
Umar, bagaimana nanti jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-
sahabatnya ?”. Kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay Rasulullah berujar: “…Bahkan kita
akan bertindak lemah lembut dan berkata baik kepadanya, selama dia masih tinggal bersama
kita”.

***

Kenapa Rasulullah tidak mengizinkan pembunuhan Abdullah bin Ubay? sebuah hukuman yang
pantas bagi si munafik? hukuman yang Rasulullah saw mampu untuk melakukannya?

“Wahai Umar, bagaimana nanti jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh
sahabat-sahabatnya?” demikian alasan Rasulullah. Sebuah ungkapan yang berangkat dari
kematangan berpikir dan bertindak. Saat itu, beliau dihadapkan realitas logika awam yang tidak
bisa membenarkan jika kaum munafiq dibunuh. Beliau khawatir hal itu justru menjadi iklan
buruk atas citra Rasulullah, dan tentu, citra Islam juga. Dalam hal ini tampak Rasulullah
memperhatikan perspektif umum untuk sebuah parameter, dan bukan perspektif seorang Sahabat
semacam Umar bin Khattab ra, atau kelompok sahabat masa itu.

***

Dakwah dan jihad memerlukan simpati dan dukungan luas. Jika tidak, bersiap-siaplah memiliki
banyak musuh. Simpati atau antipati masyarakat tergantung perspektif yang dimilikinya. Itulah
sebabnya, kenapa Barat repot-repot membikin opini untuk menciptakan common enemy? Tak
lain, untuk meraih simpati dan dukungan yang seluas-luasnya. Sebagai strategi perjuangan,
menggalang opini adalah lumrah belaka, bahkan ia bersifat aksiomatik dan kauniyah. Tidak
selayaknya dakwah islamiyah memasuki perlawanan terbuka dengan seluruh front “penentang
Islam” dalam satu waktu, melainkan harus ada skala prioritas dan pembatasan wilayah konflik.
Termasuk potensi “penentang Islam” di sini, adalah perspektif (faham) masyarakat yang keliru,
yang jika salah “menanganinya” bisa menjadi penentang yang sebenarnya, atau bisa digalang
musuh untuk menentang.

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, “Jangan kalian sembarang berbicara didepan orang bodoh,
saya takut mereka mendustakan Allah dan Rasulnya lantaran omongan kalian”. Disinilah letak
kematangan pikiran dan tindakan. Kebodohan masyarakat adalah sebuah realitas. Yang alim,
dituntut arif, dan bukan sikap egois agar masyarakat harus memahami dirinya. Penggalan sirah
diatas memberikan pelajaran berharga, untuk sebuah sikap menimbang logika awam, yang dalam
satu perspektif kadang logika dimaksud bisa dinilai absurd karena kebodohannya, namun
demikian, dalam konteks tertentu ia justru menjadi parameter sebuah tindakan, dalam hal ini
Rasulullah khawatir tindakan membunuh kaum munafik menjadi citra negatif baginya, sebuah
tindakan yang -jika dilakukan- dalam logika kebanyakan sahabat sah-sah saja dan termasuk
jihad. Wallahu a’lam. (Bambang Sukirno)

3 Votes

Tulisan ini dikirim pada pada Rabu, November 4th, 2009 8:27 am dan di isikan dibawah Islam, Jihad, Perang
Pemikiran, Sejarah, sirah nabawi. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r
Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.

11 Tanggapan ke “MENIMBANG LOGIKA AWAM”

1. Sammy Berkata:
November 4, 2009 pukul 9:20 am | Balas

kalau dulu Umar RA dan para sahabat lain mengancam bunuh… memang sembodo.
Mereka benar2 sanggup merealisasikannya. Kini, banyak aktivis yang omdo (omong
doang).. “Bunuh Ahmadiyah.. Perangi musuh-musuh Islam..” Begitu mudah mengumbar
kata “bunuh” dan “perang” tanpa memahami dengan benar definisi kedua istilah tersebut.
Apalagi mampu melaksanakannya….
2. maskadof Berkata:
November 5, 2009 pukul 6:32 am | Balas

Pak Bambang coba antum baca kitabnya Syekh Abu Qotadah Al-Filasthiniy yang
berjudul “Masaa-il fi an-Nifaaq”. Ada korelasinya ngga dengan tulisan di atas.

Antara Jihad dan Jahat


Berikut ini adalah tulisan rekan Joko Lelono yang begitu cepat memberikan
pencerahan dalam Blog I-I tentang makna Jihad yang sesungguhnya tidak dapat
direduksi hanya ke dalam jihad secara militer.

Terima kasih dan semoga dapat menjadi amalan baik rekan Joko yang dapat kita
sebarkan luaskan kepada umat Islam di sekeliling kita.

Silahkan membaca.....

Ketika Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera telah dieksekusi mati beberapa waktu
lalu. Pro dan kontra mengiringi peluru yang menembus dada para aktor “Bom Bali”
itu. Sebagian menganggapnya sebagai pencoreng citra Islam dan sebagian
menyebutnya sebagai pahlawan Islam.. Di antara dua kelompok ini, tidak sedikit
yang kebingungan mengambil sikap karena karena kerumitan seputar makna jihad
dan mujahid. Terlalu banyak kata jihad yang diobral dan terlalu gampang orang
digelari mujahid.

Terma jihad dan derivatnya digunakan sebanyak 35 kali dalam al-Qur’an. Jihad
secara leksikal bermakna usaha dan memberdayakan serta mengerahkan kekuatan
dan kemampuannya untuk mewujudkan satu tujuan; akan tetapi, karena
derivasinya berasal dari mufa’alah, biasanya digunakan dalam hal-hal yang di
dalamnya terdapat semacam korporasi, kerja sama, persyarikatan dan pertemanan.

Karena itu, dalam terma jihad biasanya pihak lainnya juga digunakan. Dan kedua
belah pihak masing-masing berdiri pada barisannya dan berupaya untuk
mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin sehingga dapat menaklukan
salah satu pihak yang ada.

Tetapi, tentu saja, harus diperhatikan bahwa jihad tidak hanya berbentuk militer
dan setiap jenis perlawanan dan pertempuran. Selain bercorak militer jihad juga
bernuansa ekonomi atau budaya atau politik semuanya termasuk di dalam makna
jihad ini.

Demikian juga harus diketahui bahwa terma jihad tidak selamanya bermakna
positif. Terkadang terma jihad digunakan dalam makna negatif. Contohnya ayat 8
surah Ankabut (29). Dalam ayat ini, Allah Swt setelah memerintahkan manusia
untuk berbuat baik kepada orang tua mereka, berfirman: “…Dan jika keduanya
memaksamu (jâhadâ-ka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya.
Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu Aku wartakan kepadamu apa yang telah
engkau kerjakan.”

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Allah Swt berfirman “’ala an tusyrika bi”
(untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku) sebagai ganti firman “litusyrika bi” (untuk
mempersekutukan-Ku): “Dan jika keduanya memaksamu untuk menjadikanmu
sekutu dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka
janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan
baik…” (QS. Luqman [31]:15).

Pada ayat 15 Surah Luqman di atas, jelaslah kata jihad berkonotasi negatif. Karena
di sana ada unsur memaksa si anak menjadi musyrik oleh usaha ibu bapaknya.
Sebaliknya, pada ayat yang lain, terma jihad dan mujahadah yang digunakan
memiliki makna positif yakni, usaha keras manusia untuk mewujudkan tujuan-
tujuan sehat dan diridai oleh Allah Swt.

Usaha dan upaya positif semacam ini terkadang hanya memanfaatkan media-media
finansial dan ekonomi, yang disebut sebagai jihad finansial; misalnya, menyumbang
orang-orang sakit, membangun rumah sakit, sekolah bagi anak terlantar dan panti
asuhan anak yatim.

Terkadang yang dimaksud dengan jihad adalah menentang nafs ammarah yang
disebut sebagai “jihad melawan nafsu” atau “jihad akbar”. Sebagian besar ayat-
ayat al-Quran memuat terma jihad dengan makna demikian. Di sini kita akan
menyinggung ayat yang berkenaan dengan masalah ini.

Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa berjihad (jâhadah), maka sesungguhnya


jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah mahakaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. al-Ankabut [29]:6). Dan pada ayat
lain Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad (jâhadû) untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-
Ankabut [29]:69).

Bagaimanapun contoh jelas dan makna yang paling gamblang dari terma jihad
adalah berperang di jalan Allah Swt dimana orang yang berjihad menempatkan diri
mereka untuk mencapai syahid. Jihad semacam ini juga akan memiliki korelasi
dengan jihad melawan hawa nafsu.
Pejuang sejati adalah orang yang mengorbankan diri dan ego serta
kepentingannya, bukan malah mengorbankan nyawa orang lain dan masyarakat
umum. Pejuang yang layak dianggap syahid adalah orang yang tidak menganggap
remeh nayawa dan peluang hidup banyak orang.

Boleh jadi, dalam situasi perang melawan musuh, merakit dan meledakkan bom
menjadi keharusan, tapi mengubah arena sipil menjadi medan pertempuran dengan
musuh “yang bisa siapa saja” bukanlah tindakan yang harmonis dengan nilai dan
filosofi jihad. Yang begini, bukan jihad, tapi jahat.

(Semoga dapat menjadi pencerahan, sebagaimana harapan bung Seno :


"...Sayangnya bahkan sampai sekarang belum banyak upaya dakwah yang
memisahkan secara ideologis makna Jihad dengan kepengecutan bom bunuh diri").

Labels: Jahat, Jihad, makna jihad dalam Islam, perbedaan tafsir jihad

# posted by senopati wirang : 7:02 AM

Comments:

siang om momod

tanggapan mengenai NOORDIN M TOP

saya mengira taktik yang dilancarkan noordin ini sama halnya osama kalu bener
anggapan Amerika tentang dunia islam adalah radikal dan para kaum radikal
khususnya bernafaskan islam dan menganggap Bomber man adalah jihad walahhhh

Amerika keliatan takut sekali akan hal ini

seharusnya menurut saya Amerika yang sudah bankrut secara materi seharusnya
tidak bersifat gegabah menghadapi kaum radikal yang cenderung represif saya rasa
kekeliruan taktik dan strategi menghadapi Asia bangkitnya ASIA sekarang ini
merupakan keberhasilan dari kaum sipit dan didukung oleh kekuatan timur tengah
sebenarnya jihad disini enggak usah dipandang secara agama tetapi secara politik
dan tindakan represif SBY membuat marah besar dan Indonesia yang cenderung
memilih demokrasi sebagai kekuatan politik tampaknya tidak di baca oleh SBY dan
kalo dihubungkan dengan kekuatan indonesia saya kira SBY di jadikan umpan oleh
pihak barat lihat saja kemelut dan gejolak akan berkembang lagi
ketidakmampuan pemimpin kita menyikapi hal ini sangat disayangkan keliatannya
kita akan mengalami krisis lagi dilihat dari peta kekuatan ekonomi ini dibuktikan
dengan ketidak tarikan investasi asing menanamkan saham di indonesia

Dan kalu semua sumber daya alam ini dijual ke asing walahhhhhh
semoga pemimpin sadar akan hal ini

lalu apa yang bisa kita perbuat mengenai hal ini kalo intelijen dikerahkan se
indonesia percuma aja permasalahan disini lebih kepada ekonomi saja liat
kebijakan SBY saja saya kira Amerika juga sedang menunggu

maaf bila pandangan kurang masuk di nalar

# posted by Brahmamuraiko : 10:31 AM

kata guru ngaji saya nih bang, kaum teroris ini beraliran khawarij, mereka adalah
orang2 yang banyak beribadah dan memiliki semangat yang berlebihan dalam
menuntut ilmu agama tapi hatinya kosong dari iman, mereka tidak segan
membunuh siapa saja yang yang mereka anggap berdosa(termasuk dosa kecil)
bahkan dulu Khalifah Ali bin abi thalib terbunuh di tangan kelompok ini hanya
karena beliau berdamai dengan Muawiyah.

# posted by Anonymous : 2:14 AM

jihad yang diusung oleh para pahlawan kesiangan itu hanya jokes yang garing dari
orang2 yang hopeless memperjuangkan nasibnya sendiri.

sebuah interview dengan sang teroris yang saya dapat dari pertemuan dengan
nurdin ini membuktikan betapa mereka adalah guyon ngawur

# posted by ryzard : 4:31 AM

dampak dari budaya populer, kemiskinan, dan kehidupan tanpa makna untuk
mengambil jalan pintas yang sesuai dengan mimpinya. ideologi tidak mungkin
hidup tanpa pengikut dan pemimpin tapi sebaik-baik ideologi adalah idelogi yang
mampu memberikan nafas dan darah keadilan bagi semua manusia.kilaf, terburu-
buru dan senang mengeluh adalah tabiat dasar manusia manapun. Terima kasih
atas kebesaran hati senopati wirang yang telah mengungkapkan kejujurannya atas
kondisi yang telah terjadi.
# posted by gununghyang : 5:06 AM

teroris itu ada dan diadakan.


kenapa saya bilang teroris itu diadakan.....
banyak yang mengutarakan dengan teori konspirasi dan related.
bagi saya pribadi tarikan garis lurusnya pada timing logika teroris itu ada. bom
bunuh diri dan mati syahid itu ada pada masa lalu sebelum adanya perang salib.
jauh dari masa itu yg namanya jihad itu ada pada hampir semua agama.

pertanyaan selanjutnya adalah..kenapa pada dekade ini nama teroris begitu


familiar ditelinga kita?
kl kita runtut lagi...mulai dari ide dulu lah. (coba baca buku ttg sejarah tuhan,
samuel huntington dan project perkembangan dunia ketiga dan other west)
disitu secara implisit mengutarakan bahwa gobalisasi dan partner relationship other
nation, people adalah keharusan.
tatanan dan pranata tingkah laku human harus terkontrol dan terdefinisikan adalah
syarat mutlak.
dari sini muncullah satu kesepakatan bersama: bahwa harus terejawantahkan
dengan jelas dan gamblang tentang NILAI-NILAI UNIVERSAL. nilai ini akan
cenderung mereduksi bahkan menghilangkan bagian dr tatanan sosial yang tidak
mendukung globalsasi.

trus apa hubungannya dengan teroris?


yah teroris ini sebagai shock therapy. dalam teori konspirasi kita mengenal bahwa
buatlah boneka yang cantik dengan menciptakan boneka jelek.

dan akhrinya bisa kita liat...skrg ini waktunya deradikalisasi. momentum da


terbentuk dan berhasil...tinggal melanjutkan apa yg ada...

peace dan respect to make peace world. we can start in my mind and your mind...

kl diliat dr segi ekonomi...bisa juga tp itu bersifat turunan dan parsial.

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Mon Apr 09 2001 - 11:27:26 EDT

Date: Sun, 8 Apr 2001 20:34:47 -0700 (PDT)


From: lonnol lota <sainoi_1999@yahoo.com>
Subject: JIHAD DALAM PERSPEKTIF KEPENTINGAN
To: apakabar@saltmine.radix.net
JIHAD DALAM PERSPEKTIF KEPENTINGAN

Kata jihad sebenarnya bukan istilah asing lagi dalam


kosakata bahasa Indonesia. Kata yang berasal dari
bahasa Arab ini, kini telah menjadi kosakata
Indonesia. Kata ini terutama dipergunakan oleh
kalangan muslim untuk melawan musuh-musuhnya atau
orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak mereka
sukai berbungkuskan kegiatan itu dilakukan atas nama
Tuhan. Jihad dijalan Tuhan.

Kelompok-kelompok dalam masyarakat Indonesia ada yang


menamakan dirinya laskar jihad, laskar berani mati.
Dalam pandangan pengikutnya berani mati di jalan
Tuhan, namun dalam pandangan orang lain, berani mati
untuk sebuah kekonyolan.

Jihad Dalam Ayat Al Qur'an

Seruan Jihad dalam Al Qur'an tertulis dalam beberapa


ayat diantaranya,

At-Taubah 73

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir


dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam.
Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya."

(Tuhan koq menganjurkan seperti ini? berarti Tuhan


yang menganjurkan seperti ini bukan Tuhan Yang Maha,
Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih, Yang Maha
Mengetahui, Maha Pencipta, Yang Maha Esa).

Al-Furqan 52

"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan


berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an dengan
jihad yang besar."

At-Taubah 123

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang


kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka
menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah
bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."
Al-Baqarah 193

"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah


lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah
belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu),
maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap
orang-orang yang zalim."

Al-Anfal 39

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan


supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika
mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya
Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan."

Jihad yang dimaksud adalah untuk melawan orang-orang


kafir dan orang-orang munafik agar tidak ada lagi
fitnah dan supaya beragama itu semata-mata hanya
untuk Allah.

Kita tidak tahu, apakah ayat At-Taubah 73, "Hai Nabi,


berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-
orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap
mereka", benar-benar seruan Tuhan. Semangat seruan di
atas, benar-benar bertentangan dengan Tuhan yang
selalu kita puja-pujikan sebagai Yang Maha Penyayang,
Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui, Maha Pencipta,
Yang Maha Esa. Kenapa? Disatu sisi,
Tuhan seperti mendendam, membenci hasil kreasinya
(ciptaannya sendiri) di sisi lain, Tuhan menyayangi
hasil kreasinya (ciptaannya sendiri). Bukankah dalam
hal ini adanya orang-orang yang dikatakan kafir
munafik di muka bumi ini juga adalah hasil kreasi,
ciptaan Tuhan itu sendiri!. Kalau hasil kreasi,
ciptaan Tuhan itu sendiri, mengapa Tuhan harus
membencinya! mendendamnya! Kan tidak logis, apalagi
sampai harus mempergunakan tangan, hasil kreasi,
ciptaan Tuhan yang lain untuk membasminya pula.

Dalam konteks ini, anjuran dalam ayat-ayat At-Taubah


di atas, jangan-jangan telah dimasuki oleh opini si
penulis pertama ayat At-Taubah tersebut di tanah Arab
sana. Opini sipenulis ini dikeluarkannya berdasarkan
situasi dan kondisi pada jamannya dalam kaitan
kepentingan apakah itu dirinya, atau kelompoknya,
fungsinya selain sebagai alat untuk melegitimasi
keberadaan kepentingan atau kelompoknya, juga alat
yang ampuh untuk menggalang massa, menakut-nakuti
masyarakat yang tidak sepaham atau seide dengan si
penulis ayat At-Taubah tersebut pada jamannya dulu
(jaman kegelapan), mengingat pada masa ini, tidak ada
aturan yang baku untuk mengendalikan masyarakat,
menggalang masyarakat. Maka isi ayat-ayat di atas
adalah alat yang ampuh untuk mengumpulkan dan
menggerakkan massa untuk melawan orang-orang yang
tidak seide dengan si penulis ayat di atas, dengan
mengatasnamakan (menjual) nama Tuhan.

Tuhan! tidak perlu tangan-tangan manusia lain untuk


menghancurkan manusia lain bila manusia lain itu
tidak dikehendakinya. Tuhan tidak pernah membenci,
mendendam terhadap hasil kreasi atau hasil ciptaan
Tuhan seperti manusia. Demo yang dilakukan oleh
sekelompok mahasiswa atau pemuda Islam Indonesia
dengan isu anti PKI, anti Israel, anti miras, anti
judi, anti pelacuran, anti kaum kafir, sebenarnya
telah mengkerdilkan Tuhan itu sendiri dihadapan
kreasi atau ciptaan-NYA sendiri. Mereka (sekelompok
mahasiswa atau pemuda Islam Indonesia) tidak pernah
memahami bahwa adanya PKI, Israel, miras, judi,
pelacuran, kaum kafir di muka bumi ini, juga adalah
bagian hasil ciptaan Tuhan itu sendiri.

Mengapa Tuhan itu harus takut kepada PKI, takut


kepada Israel, takut kepada miras, judi, pelacuran,
kaum kafir. Toh itu semua adalah hasil kreasi,
ciptaan-NYA sendiri. Kalau Tuhan tidak berkenan
dengan hasil kreasi atau ciptaannya di atas, DIA
cukup memencet tombol untuk memusnahkannya dengan
sekejap saja.

Maka seruan Jihad dalam ayat-ayat Al Qur'an, bukan


berdasarkan semangat ke-Maha-an Tuhan seperti Maha
Penyayang, Maha Pengasih, Maha Mengetahui, Maha
Pencipta, Yang Maha Esa. Seruan jihad dalam ayat-
ayat di atas, justru bertentangan dengan ke-Maha-an
Tuhan.

Dalam kaitan ini, jihad untuk kepentingan manusia,


untuk melawan orang-orang yang mencari-cari kesalahan
orang lain, orang yang berhati culas, seperti yang
dilakukan pendukung Gus Dur saat ini bisa diterima
dengan logis dan rasional, tetapi bila jihad tersebut
dikatakan untuk Tuhan seperti yang dilakukan oleh
laskar jihad di Maluku, jelas tidak dapat diterima,
itu tidak logis. Itu adalah pemanipulasian semangat
untuk kepentingan sang Laskar Jihad sendiri, dengan
membawa-bawa atau menjual-jual nama Tuhan. Bila Tuhan
tidak berkenan dengan hasil kreasi atau ciptaannya
yang ada di muka bumi ini, DIA cukup memencet tombol
untuk memusnahkannya maka dengan sekejap saja semua
yang tidak disukainya tersebut musnah. Namun itu
tidak dilakukannya. Kenapa! karena semua isi dunia
ini direstuinya bekeradaannya. Tuhan itu bukan
pembenci, bukan pendendam bagi hasil kreasi atau
hasil ciptaan-NYA sendiri seperti manusia. Yang
pembenci, atau pendendam itu adalah manusia itu
sendiri. Manusia seperti inilah yang perlu dijihadti.

Logika
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Filosofi

Cabang[ Tampilkan ]

Epistemologi
Estetika
Etika
Filosofi politik
Logika
Metafisika

Zaman[ Tampilkan ]

Kuno
Pertengahan
Modern
Kontemporer
Tradisi[ Tampilkan ]

Analitik
Kontinental
Timur
Islam
Marxisme
Platonisme
Skolastisisme
Filsuf[ Tampilkan ]

Estetikawan
Epistemologian
Etikawan
Metafisikawan
Logikawan
Filsuf politik dan sosial
Sastra[ Tampilkan ]

Estetika
Epistemologi
Etika
Logika
Metafisika
Politik filsafat
Daftar[ Tampilkan ]

Garis besar
Topik
Teori
Glosari
Filsuf
Daftar filsuf Indonesia
Portal l • b • s
Le Penseur, atau "Sang Pemikir", oleh Auguste Rodin, 1902.

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran
yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang
filsafat.

Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika
(ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].

Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada
kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang
dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Logika sebagai ilmu pengetahuan


• 2 Logika sebagai cabang filsafat
• 3 Dasar-dasar Logika
• 4 Sejarah Logika
o 4.1 Masa Yunani Kuno
[2]
o 4.2 Abad pertengahan dan logika modern
• 5 Logika sebagai matematika murni
• 6 Kegunaan logika
• 7 Macam-macam logika
o 7.1 Logika alamiah
o 7.2 Logika ilmiah
• 8 Referensi

• 9 Pranala luar

[sunting] Logika sebagai ilmu pengetahuan

Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir
(khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang
ditinjau dari segi ketepatannya.

[sunting] Logika sebagai cabang filsafat

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan
pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba
membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.

Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang
berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga
bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup
mencari kebenaran

[sunting] Dasar-dasar Logika

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas)
sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika
menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau
bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik
modern adalah contoh-contoh dari logika formal.

Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif—kadang
disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen
deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan
konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid,
bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika
kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Contoh argumen deduktif:

1. Setiap mamalia punya sebuah jantung


2. Semua kuda adalah mamalia
3. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari


serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif:

1. Kuda Sumba punya sebuah jantung


2. Kuda Australia punya sebuah jantung
3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
5. ...
6. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan
deduktif.
Deduktif Induktif

Jika premis benar,


Jika semua premis benar
kesimpulan mungkin
maka kesimpulan pasti
benar, tapi tak pasti
benar
benar.

Semua informasi atau


Kesimpulan memuat
fakta pada kesimpulan
informasi yang tak
sudah ada, sekurangnya
ada, bahkan secara
secara implisit, dalam
implisit, dalam premis.
premis.

[sunting] Sejarah Logika

[sunting] Masa Yunani Kuno

Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan
segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk
memecahkan rahasia alam semesta.

Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam
semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.

Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica.
Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta
dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.

Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:

• Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)


• Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
• Air jugalah uap
• Air jugalah es

Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.

Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan.
Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran
dalam bidang ini.

Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti
berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara
khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya.
Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:

1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian


2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
4. Analytica Priora tentang Silogisme.
5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.

Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum,
melanjutkan pengembangn logika.

Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor
Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus
Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan
metode geometri.

Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku
Aristoteles.

Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan


menambahkan komentar- komentarnya.

Johanes Damascenus (674 - 749) menerbitkan Fons Scienteae.

[sunting] Abad pertengahan dan logika modern [2]

Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh
Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.

Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.

Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:

• Petrus Hispanus (1210 - 1278)


• Roger Bacon (1214-1292)
• Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang
dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
• William Ocham (1295 - 1349)

Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes
(1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay
Concerning Human Understanding

Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam
bukunya Novum Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam
bukunya System of Logic

Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:

• Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan


Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan
pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
• George Boole (1815-1864)
• John Venn (1834-1923)
• Gottlob Frege (1848 - 1925)

Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar
di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia
memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum
mengenai tanda (general theory of signs)

Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia
Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914)
dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).

Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-
1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.

[sunting] Logika sebagai matematika murni

Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang
tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang
menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika
tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus
Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.

Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica
tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand
Arthur William Russel (1872 - 1970).

[sunting] Kegunaan logika

1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara


rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam
dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan
asas-asas sistematis
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan
berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis
sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri
seseorang.

[sunting] Macam-macam logika

[sunting] Logika alamiah

Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum
dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif.
Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.

[sunting] Logika ilmiah

Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.

Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap
pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat,
lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan
kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

[sunting] Referensi

1. ^ Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Oleh Jan Hendrik Rapar.


Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
2. ^ Logika Selayang Pandang. Oleh Alex Lanur OFM. Penerbit Kanisius 1983.
ISBN 979-413-124-5
3. A. PENDAHULUAN
4. Manusia merupakan salah satu species dengan mahluk Tuhan sebagai genusnya serta akal
pikiran sebagai differensial yang membedakan manusia dengan mahluk Tuhan lainnya.
Hampir sebagian besar manusia menganggap akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan
sebagai sebuah kelebihan baginya, namun jika kita mau menelaah lebih jeli dan teliti
maka akal pikiran mempunyai sudut pandang yang lain, yaitu akal pikiran kita adalah
sebuah kerugian.
Akal pikiran yang manusia miliki sebenarnya adalah sumber utama permasalahan yang
timbul dalam kehidupan manusia itu sendiri, dari mulai manusia itu terlahir, hingga akhir
hayatnya. Kita dapat mengambil contoh dari kasus kelahiran, binatang akan dengan
mudah melahirkan di sarangnya atau tempat yang memungkinkan baginya untuk dapat
melahirkan, berbeda dengan manusia yang dengan alasan mempunyai akal pikiran yang
lebih baik dari binatang, maka ia harus memikirkan keselamatan sang bayi dan ibunya
maka manusia lebih memilih untuk melahirkan di tempat yang memerlukan biaya serta
memerlukan bantuan dari manusia lainnya, tentu saja masalah untuk melahirkan menjadi,
bukan hanya, dimana manusia mendapatkan tempat untuk melahirkan, tetapi bertambah
dengan masalah bagaimana ia mendapatkan biaya untuk melahirkan.
Permasalahan yang timbul dalam kehidupan binatang dan manusia pada hakekatnya
sama, yakni survive atau bertahan hidup, namun pada kehidupan binatang hal tersebut
terbatas hanya pada mencari makan dan tempat untuk tinggal. Sedangkan pada kehidupan
manusia, bertahan hidup bertahan hidup adalah summum genus atau genus tertinggi dari
banyak genus-genus yang menjadi species di bawahnya. Dalam kegiatan mencari makan,
manusia akan memperoleh permasalahan-permasalahan baru, seperti mencari uang yaitu
dengan cara mendapatkan pekerjaan, lalu timbul permasalahan kualifikasi pendidikan
demi mendapatkan pekerjaan dan seterusnya. Demikian pula halnya dengan kegiatan
manusia untuk mencari tempat tinggal.
Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kehidupan manusia dalam upaya
bertahan hidup tidak akan pernah berhenti, seolah tidak ada infimae species atau species
dalam tingkatan terbawah dari permasalahn hidup. Jika kita mau menelaahnya, maka hal
tersebut di atas terjadi karena manusia terlalu menagung-agungkan akal pikirannya.
5. B. KEPUSTAKAAN
6. Menurut Drs.H. Mundiri, Logika, dalam bahasa Latin berasal dari kata ‘Logos’ yang
berarti perkataan atau sabda. Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-
hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang
salah.
Menurut Alex Lanur OFM, Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan befikir lurus
( tepat ). Logika merupakan ilmu pengetahuan adalah asas yang menentukan pemikiran
lurus, tepat dan sehat, agar dapat berfikir lurus, tepat dan teratur logika juga merupakan
suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek inilah
sebabnya mengapa logika di sebut filsafah yang praktis.
Menurut Anthon F.Susanto, Logika adalah filsafat yang mempelajari metode-metode,
asas-asas, dan aturan-aturan yang harus dipenuhi untuk dapat berfikir secara lurus, benar
dan jernih.
Menurut Partap Sing Mehra,MA. dan DRS. Jazir Burhan, Logika adalah ilnu yang
mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.
Menurut Arif Sidaharta, Logika adalah menunjuk cara berfikir atau cara hidup atau sikap
hidup tertentu, yaitu yang masuk akal, wajar, berargumen, beralasan, dan memiliki rasio
atau hubungan.
Menurut W. Poespoprodjo dan T. Gilarso, Logika adalah meneliti asas-asas hukum-
hukum yang mengatur pemikiran manusia agar mencapai kebenaran.
Menurut Jan Hendrik Rapar, Logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang
diutarakan lewat kata dan dinyatakan lewat bahasa.
Menurut penulis, Logika merupakan kegiatan akal pikiriran manusia dalam memikirkan
hakekat suatu hal dalam upayanya untuk mencari kebenaran dan menghindari kekeliruan
dalam menjalani kehidupannya.
7. C. PEMBAHASAN
8. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi akal pikiran guna menjalani
kehidupannya dengan baik, sehingga membawa kebaikan pula bagi kehidupan mahluk
Tuhan yang lain. Disadari atau tidak, dalam kesehariannya manusia selalu memakai akal
pikiran tersebut. Misalnya saja, ketika seseorang terbangun di pagi hari maka orang
tersebut akan mulai memikirkan langkah-langkah yang akan ditempuhnya dalam
kegiatannya di hari itu, mungkin saja memulai harinya dengan mandi terlebih dahulu
ataupun dengan sarapan terlebih dahulu, tergantung pada pemikiran orang tersebut.
Manusia memang tidak dapat dilepaskan pada kegiatan berpikir, hal itu sudah menjadi
suatu hal yang tidak dapat dielakkan lagi, kecuali seseorang itu mengalami gangguan
kejiwaan.
Pengetahuan manusia bermula dari pengalaman-pengalaman kongkret, pengalaman
sensitive rasional: fakta, objek-objek, kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang
dilihat/dialami. Tetapi akal kita tidak puasnya dengan mengetahui fakta saja, akal kita
ingin mengerti mengapa sesuatu itu demikian adanya. Maka kita bertanya terus dan
mencari bagaimana hal-hal yang kita ketahui itu berhubungan satu sama lain, hubungan
apa yang terdapat antara gejala-gejala yang kita alami, bagaimana kejadian yang satu
mempengaruhi, menyebabkan atau ditentukan oleh kejadian yang lain. Mengerti
sungguh-sungguh berarti mengerti bagaimana dan mengapa sesuatu itu demikian.
William P. Tolley menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang gemar bertanya
melalui ungkapan “our questions are endless”.
What is a man? What is nature? What is justice? What is duty? What is happiness? What
is god? Alone among the animals, man is concerned about his origin and end, about his
purpose and goals, about the meaning of life and the nature of reality. He alone
distinguishes between beauty and ugliness, good and evil, the better and the worse. He
may be a member of animals kingdom, but he is also a citizen of the world of ideals and
values.
Kegiatan akal pikiran dapat kita telaah sendiri, diantaranya dengan mempelajari tentang
logika. Lalu timbullah pertanyaan “apa manfaat dari mempelajari logika tersebut bagi
kehidupan manusia?”.
Logika itu sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, banyak manfaat yang dapat
kita ambil daripadanya. Menurut Jan Hendrik Rapar, paling tidak ada empat kegunaan
logika:
• Untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
• Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.
• Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan
mandiri.
• Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan dan kesesatan
Dari pendapat Jan Hendrik Rapar di atas yang perlu di garis bawahi adalah bahwa dengan
mempelajari logika maka kita akan dapat berpikir secara lurus sehingga pikiran kita tetap
pada jalur pikiran yang tepat dan tidak menyimpang sehingga pikiran kita akan tertuju
pada satu arah, yakni kebenaran.
Logika dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, logika dapat membantu manusia
berfikir lurus, efisien, tepat dan teratur dan untuk mendaptkan kebenaran dan
menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berfikir dan bertindak, manusia
mendasarkan diri atas prinsip ini. Logika menyampaikan kepada berfikir benar, lepas dari
berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang karena itu ia mendidik manusia
bersifat objektif tegas dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala suasana dan
tempat.
Pada hakekatnya, pemikiran manusia bertujuan untuk dapat menemukan kebenaran, yaitu
kebenaran yang sesuai dengan realita yang terjadi dalam kehidupan manusia. Tetapi pada
kenyataannya pemikiran manusia tidak semuanya berakhir pada kebenaran, tidak sedikit
dari pemikiran tersebut yang berakhir pada kekeliruan dan menyebabkan kesesatan. Oleh
karenanya logika sangat diperlukan dalam kegiatan berpikir tersebut.
Bentuk-bentuk atau pola-pola kegiatan berfikir manusia dan struktur kombinasi
pernyataan secara formal bentuk dan pola berfikir itu menunjukan adanya aturan-aturan
tertentu.logika adalah bagian filsafat yang mempelajari metode-metode, azaz-azaz dan
aturan-aturan yang harus dipenuhi untuk dapat berfikir secara lurus benar dan jernih
sehingga menjadi suatu kepentingan sekaligus tujuan untuk mempelajari logika
diantaranya
1. Membedakan cara berfikir yang tepat dari yang tidak tepat.
2. Memberika metode dan teknik untuk menguji ketepatan cara berfikir.
3. Merumuskan secara eksplisit asas-asas berfikir yang sehat dan jernih.
Bahasa adalah sebagai media utama untuk memberikan suatu pernytaan kepada orang
lain sehingga ke duanya sangat terikat.
Aristoteles menyatakan bahwasanya logika adalah benar-benar alat bagi seluruh ilmu
pengetahuan, oleh karenanya jika seseorang telah mempelajari logika maka orang
tersebut telah memiliki dasar untuk mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Sebaliknya,
jika seseorang mempelajari berbagai ilmu pengetahuan tanpa mendasarinya dengan
logika, maka orang tersebut hanya akan sekedar mengetahui ilmu tersebut tapi tidak
pernah benar-benar memahaminya.
9. D. KESIMPULAN DAN SARAN
10. Kesimpulan
Berdasarkan uraian materi di atas, penulis menarik beberapa kesimpulan, yaitu:
Pertama, manusia diciptakan dengan akal pikiran yang secara disadari atau tidak terus
digunakan oleh manusia dalam setiap tindakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, manusia merupakan mahluk yang terus bertanya, dan terus mencari tahu tentang
segala hal yang dia alami, dia amati dan dia rasakan di dalam kehidupannya.
Ketiga, hakekat dari kegiatan akal berpikir manusia adalah mencari sebuah kebenaran
yang hakiki.
Keempat, secara garis besar manfaat dari pembelajaran logika adalah untuk dapat
berpikir secara lurus dan metodis sehingga pikiran manusia tidak salah arah dan berada
pada jalur yang benar, yaitu jalur yang menuju kebenaran. Dengan demikian manusia
akan terhindar dari segala bentuk kekeliruan dan juga kesesatan yang dapat menimbulkan
hal yang buruk dalam kehidupan manusia.
Kelima, logika merupakan dasar bagi segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini,
dengan demikian mempelajari logika akan menjadi dasar bagi pembelajaran ilmu
pengetahuan lainnya, dan akan mempermudah seseorang dalam memahami pengetahuan
tersebut.
11. Saran
Dengan berdasarkan kepada materi yang telah disimpulkan di atas, penulis memberi
beberapa saran kepada pembacanya, yaitu:
1. Sebagai manusia sudah yang diberikan akal pikiran sebagai kelebihan, sudah
sepatutnya kita menggunakan akal pikiran tersebut dengan baik, agar kita menyadari
setiap tindakan yang kita ambil dalam kehidupan ini.
2. Pelajarilah logika dengan baik dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Karena
dengan mempelajari logika, kebenaran akan lebih mudah didapatkan
3. dalam mempelajari ilmu pengetahuan, hendaklah diberikan dasar pengetahuannya
dengan logika, agar lebih mudah dalam pemahaman pengetahuan tersebut.
12. E. DAFTAR PUSTAKA
13. Susanto F. Anthon, Logika, Bandung, 2008.
Adang., SH.,M.HUM., Penalaran Akal Budi Tingkat III, Bandung, 2008.
Mundiri, H. Drs, Logika, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003.
Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Logika, Kanisius, Yogyakarta, 1994.
Sidharta B. Arief, Pengantar Logika, PT Refika Aditama, Bandung, 2008.
Anshari, H. Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Bandung, 1987
W. Poespoprodjo, T. Gilarso, Logika Ilmu Menalar, Remadja Karya,
Bandung, 1987
Tolley, William Pearson, Preface to Philosophy A Textbook
Mehra, Partap Sing, M.A dan Burhan, Drs, Jazir, Pengantar Logika Tradisional,
Binacipta, Bandung, 1964.