Anda di halaman 1dari 32

Leptospirosis

dr. Tri Haryati Paramita

RSUD Kabelota Donggala


2014

Data pasien

Nama
Usia
Jenis kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Status
Agama

No. RM
Tanggal masuk

: Tn. B
: 37 tahun
: laki-laki
: Tanjung Batu
: SMP
: karyawan swasta
: sudah menikah
: Islam
: 010026
: 24 Maret 2014

Keluhan utama: Demam sejak 4 hari SMRS


RPS
4 hari SMRS Pasien demam tinggi mendadak, terusmenerus sepanjang hari, menggigil (+). Nyeri kepala (+)
dirasa berdenyut di seluruh bagian kepala, nyeri otot (+)
di seluruh tubuh. Mual (+), muntah (+) 2x, isi = makanan
nafsu makan/minum. BAK (+) dirasa nyeri, warna
kemerahan (menurut pasien seperti darah) bercampur
dalam kencing. BAB (+) dbn.
HMRS keluhan demam menetap. Setiap makan pasien
merasa mual nafsu makan (-). Pasien lalu berobat ke
IGD

RPD
Riwayat sakit serupa disangkal
Riwayat bepergian ke daerah rawa2 (+) 7-10x
dalam 1 bulan terakhir
RPK
Riwayat sakit serupa dialami keluarga/teman
kerja disangkal

Diagnosis Banding
Observasi febris hari ke-4 ec suspek Leptospirosis
DD:
Dengue hemorrhagic fever
ISK
Malaria
Meningitis
Hepatitis akut

Pemeriksaan Fisik
KU: tampak gelisah, CM, kesan gizi cukup
TB 160 cm BB 50 kg
Vital sign:
Tekanan darah
: 130/90 mmHg, a.brachialis
lengan kiri, posisi berbaring
Nadi
: 112x/menit, a.radialis, teratur
Respirasi
: 36x/menit, tipe pernapasan
abdominothoracal, teratur
Suhu
: 39.5 C, pada axilla dextra

Kepala-Leher
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
konjungtiva suffusion (+/+)
mukosa orofaring hiperemis, lidah kotor (-), lidah
tremor (-)
Rhinorrhea (-), mimisan (-)
JVP tidak meningkat, Limfonodi tidak teraba,
tiroid tidak membesar
Meningismus (-)
Deviasi trakea (-)

Thorax (Paru)
Inspeksi : tipe pernapasan abdomino-thoracal,
pengembangan paru (+) simetris, retraksi (-),
penggunaan otot bantu napas (-), ketinggalan gerak (-)
Palpasi : pengembangan paru (+) kanan=kiri
Perkusi : sonor (+/+)
Auskultasi: vesikuler (+/+), RBK (-/-), RBB (-/-),
wheezing (-/-)

Thorax (Jantung)
Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak, kelainan kulit (-)
Palpasi: Ictus cordis teraba di SIC V di linea midclavicularis
sinistra, 2 jari, reguler, daya angkat cukup, thrill (-).
Perkusi: kardiomegali (-)
Batas jantung kanan: SIC V linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : SIC V linea midclavicularis sinistra
Pinggang jantung : SIC II linea sternalis sinistra
Auskultasi: Suara S1- S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada, darm
contour (-), darm steifung (-)
Auskultasi: Peristaltik (+) normal
Perkusi : Timpani di seluruh abdomen,
hepatomegali (-), splenomegali (-), shifting dullness (-)
Palpasi : dinding abdomen teraba tegang, nyeri
tekan (-), nyeri ketuk ginjal (-/-), dinding abdomen
supel, turgor kulit , hepar/lien tidak teraba, ginjal
tidak teraba, fluid wave (-)

Ekstremitas
Akral hangat
Edema

Rumple Leede (-)


Gastrocnemius pain (+/+)

Resume Pemeriksaan Fisik

Suhu 39,5oC
Meningismus (-)
Conjunctival suffusion bilateral (+)
Gastrocnemius pain +/+
Dinding abdomen teraba tegang

Diagnosis Kerja
Observasi febris hari 2 ec suspek leptospirosis
DD DHF, ISK

Plan

Darah rutin
Urin rutin
Kimia darah: Creatinin/Ureum
Tes fungsi hati: SGOT/SGPT
Widal
HbsAg
DDR

24 Maret 2014
Darah rutin AL
8.8
Lymph%
5.9
Mid%
9.9
Gran%
84.4
Hb
13.0
AE
4.82
Hct
32.8
AT
108
Kimia darah Ureum
48
Creatinine
1.7
GDS
131
Widal
HbsAg
DDR

negatif
negatif
negatif

25 Maret 2014
AL
7.3
Lymph%
7.8
Mid%
4.3
Gran%
87.9
Hb
12.2
AE
4.44
Hct
30.3
AT
80
Ureum
111
Creatinine
2.6
SGOT
55
SGPT
43

Urine rutin

Warna
kuning
Sedimen
negatif
Bilirubin
Epitel
+
Keton
KristalProtein
Leukosit
Nitrit
Silinder
Reduksi
Eritrosit
+++
Urobilinogen 0.9
Bakteri
pH
6
Berat jenis
1.030
Balans urine Urine output: 0,33 cc/jam GFR = 35%

Resume
Anamnesis
Demam (+) dirasa tinggi
mendadak, terus-menerus
sepanjang hari, menggigil
(+)
Nyeri kepala (+) di seluruh
bagian kepala, terasa
berdenyut
Nyeri otot (+) seluruh
tubuh, sulit digerakkan
Mual (+), muntah (+)
2x/hari, isi = cair/makanan
BAK (+) nyeri, darah (+)
bercampur dengan kencing
Riwayat sering bepergian
ke daerah rawa (+) 7-10x
dalam sebulan terakhir

Pemeriksaan fisik
Suhu 39,5oC
Meningismus (-)
Conjunctival suffusion
bilateral (+)
Gastrocnemius pain +/+
Dinding abdomen teraba
tegang

Pemeriksaan penunjang
AL N, granulosit
AT
Ureum , creatinin
SGOT , SGPT
Urine rutin: eritrosit +++

Diagnosis
Observasi febris hari ke-4 ec
Leptospirosis dengan Weils disease DD
Dengue Hemorrhagic Fever

Tatalaksana

IVFD RL 40 tpm macro


Kateter urine balance cairan per 6 jam
Inj. Ranitidine 1 ampul/12 jam IV
Inj. Ondansetron 1 ampul/12 jam IV
Sucralfate syrup C.I q6h
Drip Tamoliv 500mg/6 jam IV
Inj. Amoxicilin IV 1 gram/6 jam
Eritromisin caps 500 mg q6h
Asam folat 1 x 1 mg

LEPTOSPIROSIS
= penyakit zoonosis
yang endemis di negara
berkembang beriklim
tropis atau subtropis
Gejala menyerupai
sejumlah infeksi seperti
influenza, meningitis,
hepatitis, demam
berdarah dengue

Leptospira

Diekskresikan via urine host


Bertahan s/d 2 minggu di tanah
yg terkontaminasi urine host
Pada kondisi banjir, bertahan s/d
3 minggu

Vektor leptospirosis:
Hewan pengerat

Occupational vulnerability: 75%


kasus leptospirosis = petani

Port of entry:
Abrasi/luka di kulit
Konjungtiva
Konsumsi makanan
terkontaminasi
Leptospira interrogans
Diekskresikan
via
urine vektor
menetap di perairan

Recreational vulnerability :
mengenai rentang populasi lebih
luas

Fase I: septikemia

Fase II: immune

Icteric leptospirosis (Weilss disease)

Gejala: demam mendadak,


adanya leptospiruria dan
menggigil, nyeri kepala,
berhubungan dengan
myalgia,
Demam
tinggi
disertai
ikterik
ruam
kulit,mendadak
mual,
munculnya
antibodi IgM
conjunctival
dalam
serum insufisiensi
muntah,
Ada bukti
terjadinya disfungsi
hepar,
suffusion
Demam danfailure
gejala awal
ginjal, perdarahan, dan
multi-organ
Demam dapat mencapai 40oC
sebelumnya dapat muncul
Perdarahan
dapat= ciri
tampak sebagai
kembali petekie,
Conjunctival
suffusion
utama
(muncul
hari ke-3-4) konjungtiva,
Dapat terjadi
purpura,
perdarahan
dankomplikasi
(jarang): optic neuritis,
Myalgia
melibatkan
otot
perdarahan
gastrointestinal
uveitis, perdarahan pulmoner
betis, perut, leher

LEPTOSPIRA

Adhesi ke thick
ascending loop of Henle

Replikasi dalam hepar

Sitokin inflamasi

Disfungsi hepar

Acute tubular necrosis

Defisiensi faktor koagulasi

Insufisiensi ginjal

Perdarahan

Trombositopenia

presumtif leptospirosis

Skor bagian A + B 26
Skor bagian A + B + C 25

possible leptospirosis

skor A + B + C = 20 25

Treatment
Mild Leptospirosis
Antipiretik: Paracetamol
Terapi cairan & nutrisi
Antibiotik (pilihan)
Doxycycline 2 x 100 mg
Amoxicillin 4 x 500 mg
Ampicillin 4 x 500 mg
Penanganan komplikasi

Moderate-Severe Leptospirosis
Antipiretik: Paracetamol
Terapi cairan & nutrisi
Antibiotik (pilihan)
Penicillin G 1.5 juta unit /6 jam IV
Ampicillin 1 gram /6 jam IV
Amoxicillin 1 gram /6 jam IV
Eritromisin 500 mg/6 jam IV
Penanganan gagal ginjal
Penanganan infeksi sekunder
Terapi suportif

Pada pasien
Presumptive
leptospirosis

Possible
leptospirosis

Skor bagian
A + B 26
Skor bagian
A+B+C
25

skor A + B +
C = 20 25

Total skor pasien

A + B = 27

Presumtive leptospirosis

RUSAK

Observasi febris hari ke-4 ec


Leptospirosis dengan Weils disease
Moderate-Severe Leptospirosis

Pada pasien

Antipiretik: Paracetamol

Drip Tamoliv 500 mg/6 jam IV

Terapi cairan & nutrisi

IVFD RL 40 tpm macro

Antibiotik (pilihan)
Penicillin G 1.5 juta unit /6 jam IV
Ampicillin 1 gram /6 jam IV
Amoxicillin 1 gram /6 jam IV
Eritromisin 500 mg/6 jam IV

Penanganan gagal ginjal

Asam folat 1 x 1 mg

Amoxicillin 1 gram/6 jam IV


Eritromisin 500 mg/6 jam PO

Penanganan infeksi sekunder


Terapi suportif

Inj. Ranitidine 1 ampul/12 jam IV


Inj. Ondansetron 1 ampul/12 jam IV
Sucralfate syrup C.I q6h

TERIMA KASIH

Referensi
1.
2.
3.
4.
5.

Dutta, TK, Christopher, M. Leptospirosis An Overview. JAPI. 2005: 53:


545-551
Leptospirosis Task Force. 2010. Leptospirosis CPG 2010.
Shivakumar. 2010. Leptospirosis.
Shivakumar. 2008. Diagnosis & Management of Leptospirosis: Problems
in Practice.
WHO. 2003. Human Leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance
and control.