Anda di halaman 1dari 4

TEKTONIK PULAU SUMBA

-------------------"telah disimpulkan bahwa P. Sumba, dan Blok Sumba Barat yang mengitarinya,
adalah salah satu penyusun dari sebuah Busur Vulkanik Raya Indonesia yang
aktif sebelum 31 jtl. Di sekitar 16 jt thn lalu , Blok Sumba terdislodge
(terpindahkan dari posisi yang pernah ditempati dalam waktu lama)
dari area yang sekarang ditempati oleh Alor dan Wetar, dan terpindahkan sekitar
450 km ke WSW ke dalam fore arc sebagai akibat dari tumbukan (collision) dari B
usur
Banda dengan Australia. Area Sumba menyediakan lingkungan berkembang menyegarkan
yang tidak biasanya ntuk pembelajran proses - proses yang terkandung di dalam
Tectonic Escape (Burke and Sengor,1986).
Pergerakan Blok SUmba ke dalam forearc terakomodasi oleh :
1. Sistem right-lateral strike slip sepanjang blok - blok bidang batas utara
2. Sistem Left-lateral Strike slip sepanjang blok-blok bidang batas selatan
3. Pergerakan pada permukaan detachment (perpisahan) dasar blok
4. Rifting busur kerak di dalam busur relict yang membentuk rift di atas permuka
aan
detachment sehingga mengalami perluasan menjadi Cekungan Savu
Profil seismik, data gempa dan permodelan gravitasi mengindikasikan bahwa pataha
n dan pergerakan
dari blok-blok kerak bumi berhubungan dengan pembentukan Savu Rift Basin dan
lepasnya (escape) Blok Sumba yang hanya dibatasi pada bagian dangkal litosfer
dengan kedalaman sekitar <60km.
SEjarah geologi dan tektonik dari Sumba konsisten dengan studi regional dari
Region Indonesia. Data geokimia dari batuan Sedimen Turbidit Lasipu di Sumba men
gindikasikan
pernah terjadinya deposisi di dalam lingkungan busur kepulauan Intra ocean
selama waktu akhir Cretaceous ketika SUmba masih dimungkinkan menjadi
bagian dari Busur Vulkanik Raya Indonesia.
Sumba merupakan bagian yang masih tetap tersisa dari sistem busur ancestral
sampai waktu Miocene (~18 juta th lalu) saat terletak dekat posisi yang
sekarang ditempati oleh Alor dan WEtar.
Kedatangan Australian continental margin pada zona subduksi dari busur Banda sel
atan
Timor menyebabkan pecahnya SUmba dari busur relik (purba) pada ~16 juta thlalu
dan bergerak sepanjang 450 km ke arah WSW sepanjang Strike slip fault system
menuju posisi yang sekarang berada dalam forearc.
Vulkanisme terjadi di sepanjang Busur banda yangs ekarang bermula setelah
pisahnya dari Blok Sumba.Kepulauan Sumba telah naik sampai ketinggian vertikal
~4km sebagai akiibat dari gaya compressional yang ada hubungannya dengan subduks
i
Lempeng India. Kemungkinan tidak terduga sebagai hasil dari pembelajaran ini ada
lah
terletak pada tumbukan (kolisi) dari continent australia di area Timor pada 16 j
uta
th lalu yang seidkit banyak lebih awal dibandingkan dari ilmuwa n lain.
Kesimpulan :
Sumba adalah bagian lempeng eurasia yang terpisah karena rifting,
tergeser, lalu ke posisinya sekarang.
Rifting : mid atlantic ridge,pemekaran samudera

********************************************************************************
*******************
JURNAL PAK WALUYO
=================
Pulau SUmba, yang terletak di sebelah barat Timor, merupakan subject kon
troversi.
Berdasarkan geologi dari pulau dan abrupt distorsion (penyimpangan curam) dari
sabuk yang
menunjukkan anomali gravitasi yang negatif sepanjang busur
Banda-Sunda.
Audley-Charles (1975), telah menginterpretasikan bahwa Pulau
Sumba, Timor, dan Tanimbar merupakan bagian dari batas kontinenatal (continental
margin ) Australia. Ini menanadakan bahwa subduksi sepanjang
Busur BAnda-Sunda telah berlangsug sampai utara pulau-pulau ini. Untuk menjelask
an
keadaaan saat ini pulau Sumba, yang telah berotasi dan bergeser nenjauh
ke utara dari Pulau Timor (Ingat bahwa seharusnya Pulau SUmba terletak dekat den
gan continent,
karena merupakan marginal island dari continent Australia).
dia menyarankan akan adanya keberadaaan zona fracture(retakan) di sebelah timur
Sumba.
yang dinamakan SUmba fracture yang memmisahkan lempeng India Ocean dengan lempen
g Australia.
Meskipun demikian perbedaan geologi yang cukup mencolok antara Pulau SUmba dan T
imor
tidak dapat dijelaskan dengan 'ZOna Fracture' ini.
Model Tripel Junction untuk subduksi disekitar Pulau Sumba (dan Timor)
akan mneginterpretasikan pulau dengan cara berbeda. Telah disebutkan bahwa tripl
e junction
ini bisa berasal dari interaksi antara 2 subduksi, dimana salah satu
subduksi bergabung atau memotong bagian tengah subduksi lainnya.
2 kemungkinan proses tektonik yang dikembangkan dalam teori triple junction ini.
1. Batas barat dari subduksi yang sekarang terletak d sebelah utara Pulau Timor
memotong subduksi busur Banda yang berkelanjutan dengan subduksi sampai selat
an Timor.
Disini Pulau Sumba, Flores, alor, dan Wetar berhubungan dengan subduksi
sampai ke utara Timor.
Garis perpotongan mungkin terjadi jika subduksi di sebelah utara semakin
lebar sampai barat daya.
kemudian berakhir pada subduksi di seblah selatan, atau melalui trending
Northwest (Barat Laut) pada batas baratseperti yang ditunnjukkan pada ga
mbar 6.4.a.
Jika pertemuan berlangsung melewati sistem patahan yang disebutkan , mak
a
Pulau Sumba mungkin telah terletak di LAut Jawa pada masalalu. Oleh kare
na itu,
model ini mendukung interpretasi yang diungkpakan leh Hamilton (1979).
2. Kedua, Ujung barat dari zona subduksi yang saat ini terletak sampai selatan T
imor berbatasan
dengan subduksi busur Sunda, yang berlanjut dengan Subduksi di sebelah u
tara Timor
(Gambar 6.4.b). Hal ini berarti bahwa beberapa waktu di masa lampau, Pul
au Sumba, Timor
dan Tanimbar berhubungan dengan subduksi sampai selatan Timor. Subduksi

tersebut terpisahkan dari busur Sunda-Banda dan terletak pada lingkungan


landas Australia.
Jadi, model ini mendukung interpretasi yang diungkapkan oleh Audley-Char
les (1975).
Mungkin akan sulit dalam memilih model mana yang benar, karena
sebagai sbeuah fakta, bukan sebagai model yang benar. Walaupun begitu, dalam pan
dangan
dari bebeapa features dari bukti seperti anomali gravitasi,
geologi Pulau Sumba, dan diskontinutas dari barisan vulkanik utara Timor,
model pertama lebih mungkin dibandingkan dnegan model kedua.
********************************************************************************
********************
IAGI
Sumba, pulau di sebelah selatan Flores, atau termasuk pulau paling selatan di
wilayah Indonesia, secara geologi unik. Pulau Sumba adalah sebuah
mikrokontinen. Hamilton (1979) termasuk yang pertama mengatakan bahwa Sumba
adalah sebuah mikrokontinen. Chamalaun et al (1981) kemudian yang pertama
membuktikannya secara gayaberat. Anomali gayaberat Bouguer di Sumba berkisar
dari +160 sampai +200 mGal dan ketika dimodelkan menghasilkan kerak kontinen
setebal 24 km. Pulau Sumba berukuran 220 km x 60 km. Sampai seberapa besar
dimensi fragmen benua ini sebenarnya? Data terakhir dari Wensink (1994)
menunjukkan bahwa dimensi total fragmen benua ini adalah 400 km x 200 km.
Posisi tektonik Sumba unik, ia suka disebut exotic body sebab terjadi di antara
kondisi geologi yang didominasi jalur volkanik Nusa Tenggara dan jalur melange
Timor. Di antara dua jalur inilah terdapat fragmen benua Sumba. Posisi Sumba
juga persis terletak di sebelah utara sambungan (junction) antara kerak
samudera Hindia di sebelah barat dan kerak benua Australia di sebelah timur.
Sumba memisahkan dua cekungan mukabusur/ forearc basin, yaitu Cekungan Lombok
sedalam 4000 meter dan Cekungan Sawu sedalam 3000 meter.
Yang menjadikan Sumba sebuah enigma, teka-teki, adalah asal Sumba dan bagaimana
cara reposisinya. Semua mikrokontinen tentu punya asal dan cara reposisinya ke
tempatnya terakhir. Bagaimana asal dan cara reposisi Sumba? Ternyata, inilah
yang telah menyebabkan perdebatan puluhan tahun tentang Sumba. Saya
mengumpulkan pendapat2 tentang asalnya, dan bisa digolongkan menjadi empat
pendapat: (1) asal Sundaland bagian timur- tenggara, (2) asal NW Australia, (3)
asal Pulau Timor, (4) asal mikrokontinen Tethys. Perdebatan utama terjadi di
antara dua penganut asal Sundaland vs asal NW shelf Australian.
Perdebatan terjadi puluhan tahun karena setiap peneliti hanya mengajukan satu
mekanisme, yang kemudian segera didebat oleh peneliti lain yang menemukan
pendapat lain menggunakan mekanisme lain. Untuk itulah, maka saya dan seorang
teman melakukan kompilasi semua mekanisme yang pernah digunakan dan melakukan
sintesis baru tentang asal dan reposisi Sumba ini. Publikasi lengkap tentang
ini ada di Peoceedings IPA 2011 (Satyan & Purwaningsih, 2011 - Sumba Area:
Detached Sundaland Terrane & Petroleum Implications). Kami menggunakan lima
mekanisme: kesamaan stratigrafi antara Sumba dengan wilayah2 yang diperkirakan
merupakan asalnya, kesamaan geokronologi dan geokimia volkanik Sumba dengan
wilayah asalnya, paleomagnetisme, isotope geology, dan foram besar Eosen.
Dari kajian yang cukup banyak, kami menyimpulkan sebagai berikut. (1) urutan
stratigrafi Sumba pada Paleogen sama dengan urutan stratigrafi Sulawesi Selatan
(Burollet & Salle, 1981; Simandjuntak, 1993). (2) extruded magma Sumba yang
berumur Late Cretaceous-Paleogen mirip secara petrokimia dan geokronologi
dengan arc volcanism di tepi Sundaland (Abdullah, 1994, 2010). (3) data

paleomagnetik Sumba dari Late Cretaceous sampai Paleogen menunjukkan posisi


Sumba pada Late Cretaceous ada di 18.3 N, pada Paleosen ada di 7.4 N dan pada
Miosen Awal di posisinya sekarang di 9.9 S (Wensink, 1994). (4) data isotop
Pb-Nd batuan Sumba menunjukkan karakteristik yang sama dengan data isotop
batuan di Sulawesi (Vroon et al, 1996). (5) Sumba mengandung foram besar yang
khas foram besar Eosen yang hidup di wilayah tropis, yaitu Assilina,
Pellatispira, dan Biplanispira; dan tak pernah ditemukan foram besar wilayah
subtropis yang khas Australia yaitu Lacazinella (Lunt,
2003).
Dengan menggunakan lima mekanisme di atas, kami menyimpulkan bahwa Sumba
berasal dari Sulawesi Selatan, bukan dari Timor, bukan dari NW Australia.
Bagaimana mekanisme reposisinya adalah melalui escape tectonism yang terjadi di
beberapa tempat di tepi timur Sundaland pada Paleogen. Strike-slip besar di
wilayah ini bisa dipikirkan sebagai pengantar reposisi Sumba, yaitu
Paternoster-Walanae-Sumba Fracture. Reposisi ke tempat terakhir sudah terjadi
sebelum jalur volkanik di utaranya (Sumbawa-Flores) terbentuk.
Apakah ada implikasi eksplorasi hidrokarbon atas pemikiran tektonik ini? Tentu
saja ada, yaitu Sumba harus dieksplorasi menggunakan playtype rifted Sundaland
margin, seperti terbukti di Paleogen Jawa Timur dan potensial di Selat Makassar
serta Teluk Bone. Sumba tidak bisa dieksplorasi menggunakan play type
mikrokontinen2 lain di Indonesia Timur seperti Buton atau Banggai, sebab Sumba
bukan Australoid dan tak mengalami collision. Sumba adalah mikrokontinen
Sundawesi dan hanya merupakan uncollided continental sliver.
https://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg37021.html