Anda di halaman 1dari 10

PENGAMATAN PREPARAT HISTOPATOLOGI TERHADAP HEWAN UJI IKAN

MAS(Cyprinus Carpio)
Isnan Fazri Pangestu, Faisal Rahman Nuradha, Khusnul Khatimah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor, Sumedang 45363
Email: isnanfazri@gmail.com

ABSTRAK
Kata Kunci:
ABSTRACT
.
Keywords:

Histopatologi adalah cabang biologi yang

PENDAHULUAN
Toksikologi adalah ilmu yang mempela-

mempelajari kondisi dan fungsi jaringan da-

jari aksi berbahaya zat kimia atas sistem bi-

lam hubungannya dengan penyakit. His-

ologi. Peristiwa timbulnya pengaruh berba-

topatologi sangat penting dalam kaitan

haya atau efek negatif toksik atas makhluk

dengan diagnosis penyakit karena salah satu

hidup, melalui beberapa proses. Pertama kali

pertimbangan dalam penegakan diagnosis

makhluk

pemejanan

adalah melalui hasil pengamatan terhadap

dengan racun. Berikutnya, setelah mengala-

jaringan yang diduga terganggu.Analisis

mi absorpsi dari tempat pemejanannya, ra-

kondisi histologi organ/ jaringan dengan

cun atau metabolitnya akan terdistribusi ke

pengamatan terhadap perubahan morfologi,

tempat aksi (sel sasaran atau reseptor) ter-

struktur dan indikasi kerusakan /infeksi/ mu-

tentu yang ada di dalam tubuh makhluk

tasi lainnya akibat pengaruh penyakit, bahan

hidup. Ditempat aksi ini, kemudian terjadi

toksik

interaksi antara racun atau metabolitnya

lainnya (Harper, M. dan S. Jeffrey. 2008).

hidup

mengalami

atau

proses-proses

mutagenisis

dengan komponen penyusun sel sasaran atau

Hiperplasia (atau "hypergenesis") adalah

reseptor.Sebagai akibat sederetan peristiwa

istilah umum yang mengacu pada perkem-

biokimia dan biofisika berikutnya, akhirnya

bangan sel-sel dalam suatu organ atau jarin-

timbul pengaruh berbahaya atau efek toksik

gan (misalnya terus-menerus membagi sel).

dengan wujud dan sifat tertentu.

Hyperplasia merupakan penambahan ukuran

Praktikum analisis hispatologi dilakukan

organ/ jaringan yang terjadi akibat rangsang

untuk dapat mengetahui seberapa besar

tertentu, apabila rangsang hilang dapat nor-

pengaruh bahan toksik terhadap organ ikan.

mal kembali (Anonim, 2009).

Kerusakan yang ditimbulkan oleh bahan

Hiperplasia dapat mengakibatkan pem-

toksik terhadap organ ikan berbeda pada

besaran organ, pembentukan tumor jinak,

tiap-tiap organ dan dengan melakukan prak-

atau mungkin hanya terlihat pada analisis

tikum ini praktikan dapat mengetahui keru-

histologis dengan mikroskop. Hiperplasia

sakan yang terjadi pada organ seperti usus,

berbeda dari hipertrofi dalam bahwa peru-

insang, hati dan ginjal. Selain itu kita juga

bahan adaptif hipertrofi sel adalah pening-

dapat mengetahui tahapan-tahapan kerusa-

katan ukuran sel, sedangkan hiperplasia

kan organ tersebut sebelum polutan tersebut

meliputi peningkatan jumlah sel. Hiperplasia

mematikan organisme (ikan).

dianggap fisiologis (normal) respon terhadap

rangsangan tertentu, dan sel-sel pertum-

ganisme, nekrosis hampir selalu merugikan,

buhan yang hiperplastik tetap tunduk pada

dan dapat berakibat fatal (Anonim, 2011).

regulasi normal mekanisme kontrol.Hal ini

Sel-sel yang mati karena nekrosis bi-

berlawanan dengan neoplasia (proses kanker

asanya tidak mengirimkan sinyal kimia yang

dan beberapa tumor jinak), di mana sel-sel

sama untuk sistem kekebalan sel-sel yang

yang abnormal secara genetika berkembang

mengalami

biak dalam cara non-fisiologis.

mencegah phagocytes terdekat dari lokasi

Hipoplasia

merupakan

efek

kegaga-

dan

apoptosis.

menyelimuti

Hal

sel-sel

ini

mati,

untuk

yang

lan/pengurangan proses pertumbuhan berupa

mengarah ke terbentuknya sel jaringan yang

penyusutan ukuran (morfologi) organ/ jarin-

mati dan puing-puing pada atau di dekat lo-

gan setelah proses pemaparan gangguan.

kasi kematian sel.Kata berasal dari bahasa

Hypoplasia adalah pengembangan suatu

Yunani Jatropha atrofi yang berarti "tanpa

jaringan atau organ.Meskipun istilah ini tid-

nutrisi." Dalam istilah biologis merupakan

ak selalu digunakan secara tepat, dengan

penurunan signifikan dalam ukuran sel dan

benar mengacu pada suatu yang tidak me-

organ di mana hal ini terjadi, karena

madai atau di bawah jumlah normal sel. Hy-

hilangnya massa sel. Atrofik menunjukkan

poplasia mirip dengan aplasia, tetapi tidak

penurunan fungsi sel tetapi tidak mati.

terlalu

berlawanan

Athropy merupakan suatu keadaaan yang

(pengem-

tidak wajar dimana jumlah dan volume sel

bangan/pertambahan sel).Hipoplasia adalah

berada di bawah normal dan garis luar sel

suatu kondisi bawaan, sementara hiperplasia

menjadi tidak dapat dibedakan bahkan ser-

umumnya mengacu pada pertumbuhan sel

ing kali nucleus menjadi kecil bahkan hilang

yang berlebihan di kemudian hariNekrosis

sama sekali sehingga dapat mengakibatkan

(dari bahasa Yunani , "mati") adalah

kematian sel (Takashima dan Hibiya, 1995).

parah.Secara

dengan

kematian

teknis

hiperplasia

dini

sel

dan

jaringan

Atrofi adalah berkurangnya ukuran suatu

hidup.Nekrosis ini disebabkan oleh faktor

sel atau jaringan.Atrofi dapat menjadi suatu

eksternal, seperti infeksi, racun atau trau-

respons adaptif yang timbul sewaktu terjadi

ma.Hal ini berbeda dengan apoptosis, yang

penurunan beban kerja sel atau jaringan.

merupakan penyebab alami selular ke-

Dengan menurunnya beban kerja, maka

matian.Walaupun apoptosis sering mem-

kebutuhan akan oksigen dan gizi juga berku-

berikan efek yang menguntungkan bagi or-

rang. Hal ini menyebabkan sebagian besar

struktur intrasel, termasuk mitokondria,

penyakit, bahan toksik atau proses-proses

retikulum endoplasma, vesikel intrasel, dan

mutagenisis lainnya.

protein kontraktil, menyusut.

Umumnya, analisis histologis merupa-

Hipertrofi adalah pembesaran atau per-

kan teknik pengamatan sel serta jaringan

tambahan massa total suatu otot. Semua

tubuhikan yang sering digunakan.Analisis

hipertrofi adalah akibat dari peningkatan

ini bertujuan untuk menghasilkan sedi-

jumlah filamen aktin dan miosin dalam se-

aanhistologis yang dapat diwarnai dengan

tiap serat otot, jadi menyebabkan pem-

pewarna

besaran masing-masing serat otot, yang

amatisecara langsung dengan menggunakan

secara sederhana disebut hipertrofi se-

mikroskop cahaya.

khusus

sehingga

dapat

di-

rat.Peristiwa ini biasanya terjadi sebagai re-

Dalam pengamatan ini sendiri dil-

spon terhadap suatu kontraksi otot yang ber-

akukan beberapa tahapan, yang dimulai

langsung pada kekuatan maksimal atau

dengan tahapan pembuatan preparat histolo-

hampir maksimal.

gi. Adapun tahapan analisishistologis pada


hewan uji meliputi (Tabroni, 2010):
1. Pengambilan jaringan ikan. Pada sampel

DATA DAN PENDEKATAN


Pada praktikum ini dilakukan pengamatan

uji

preparat

His-

fiksasi tanpa dipotong. Pada ikan yang

topatologi adalah cabang biologi yang

berukuran besardiambil jaringan tertentu

mempelajari kondisi dan fungsi jaringan da-

yang akan diamati dan dimasukkan ke

lam

dalamlarutan fiksasi.

hubungannya

histopatologi.

ikan yang masih kecil dapatlangsung

dengan

penya-

kit.Histopatologi sangat penting dalam kai-

2. Fiksasi. Larva atau ikan berukukan kecil

tan dengan diagnosis penyakit karena salah

difiksasi dengan larutan PFA4% dalam

satu pertimbangan dalam penegakan diagno-

medium Phosphate buffered saline (PBS).

sis adalah melalui hasil pengamatan ter-

Sampeldimasukkan ke dalam botol yang

hadap jaringan yang diduga terganggu.

sudah berisi larutan fiksatif denganper-

Analisis kondisi histologi organ/ jarin-

bandingan antara sampel dengan larutan

gan dengan pengamatan terhadap perubahan

adalah 1:20. Kemudiandisimpan selama

morfologi, struktur dan indikasi kerusa-

24 jam dalam refrigerator. Setelah 24 jam

kan/infeksi/mutasi lainnya akibat pengaruh

kemudiansampel

diambil

dan

dicuci

dengan PBS selama 5 menit sebanyak 3

kaliuntuk menghilangkan sisa-sisa PFA

infiltrasi dilakukan dalam inkubator pa-

sebelum ke tahap selanjutnya. Ikanyang

datemperatur 58-60oC.

berukuran relatif besar difiksasi dengan

6. Penanaman sampel (Embedding). Parafin

larutan Bouins selama 1minggu dalam

dicairkan di dalam incubator pada tem-

suhu kamar. Selanjutnya sampel dicuci

peratur 60oC. Cetakan berukuran 2x2x2

dalam larutanalkohol 70% hingga warna

cm diisi dengan paraffin cair, bagian

kuning hilang, kemudian sampel disim-

bawah cetakan didinginkan di atas balok

pandalam alkohol 70% hingga pem-

essehingga paraffin pada dasar cetakan

rosesan lebih lanjut. Sampel yangberuku-

agak memadat. Sampel diletakkandi atas

ran besar harus melaui prosedur dekalsi-

paraffin yang agak memadat tersebut

fikasi dalam larutan 5%trichloroacetid

sesuai dengan orientasiirisan yang di-

acid selama 24 jam untuk melunakkan

rencanakan, kemudian ditempelkan hold-

strukturtulangnya.

er yang telahdiberi label sesuai dengan

3. Dehidrasi. Sampel yang sudah difiksasi

kode sampel. Cetakan paraffin selanjut-

kemudian dimasukkan berturut-turutke

nyadibiarkan dalam temperatur ruang

dalam larutan sebagai berikut: Alkohol

agar parafinnya memadat.

70%, Alkohol 80%,Alkohol 90%, Alko-

7. Pengirisan (Sectioning) dan peletakan

hol Absolut I, Alkohol Absolut II, mas-

pada gelas obyek. Water bathdisiapkan

ing-masingselama 45 menit, kemudian

dengan suhu 40-50oC dan disiapkan wa-

dilanjutkan ke proses penjernihan.

dah berisi air dingin.Kemudian blok yang

4. Penjernihan (clearing). Sampel dari pros-

sudah didinginkan dipasang di mikrotom

es dehidrasi dimasukkan kedalam larutan

yangsudah diatur pada ketebalan 4-7 m.

alkohol:xylol 1:1 dan 1:3 selama 30 men-

Putaran mikrotom dibuat konstansampai

it. KemudianXylol I dan Xylol II masing-

blok yang berisi sampel jaringan teriris.

masing selama 30 menit.

Setelah itu irisandipindahkan ke dalam

5. Infiltrasi. Sampel yang sudah dijernihkan

baskom yang berisi air dingin, kemudi-

dalam xylol diinfiltrasi secarabertahap

anditempelkan pada gelas obyek yang

dalam campuran xylol : paraffin 3:1 ; 1:1

sudah dilapisi gelatin dan diberi kode

dan 1:3 masing-masingselama 30 menit,

sama dengan blok yang diiris. Selanjut-

dilanjutkan

murni

nya dicelupkan ke dalamair hangat dalam

sebanyak 2x 60 menit. Seluruh rangkaian

water bath agar irisan mengembang.

dengan

paraffin

Kemudianditiriskan

untuk

dilakukan

pewarnaan.

Tahap perbandingan. Membandingkan perbedaan diantara keduanya berdasar-

Untuk metode pewarnaan preparat

kan parameter warna, ukuran, ada tidaknya

sendiri dilakukan langkah-langkah sebagai

neukrosis/tanda,

berikut:

lainnya.

1. Penghilangan parafin (xylen I= 15 menit;


xylen II= 15 menit),
2. Penghilangan

xylen

dan

karakter

khusus

Tahap dokumentasi. Mendokumentasikan masing-masing preparat histologi

disimpan

pada

alkohol 100%, 90%, 80%, 70% masingmasing selama 15 menit,

organ hewan uji (kontrol dan patogen).


Adapun analisa organ ikan yang dilakukan

pada

praktikum

adalah

3. Dicuci dengan aquades selama 15 menit,

menganalisabagian tubuh ikan dan mem-

kemudiandicuci pada air mengalir selama

bandingkan organ yang normal dengan or-

5-10 menit,

gan yangterkena kontaminasi. Perbedaan-

4. Dicuci dan disimpan dalam alkohol asam


selama 5 detik,

perbedaan

antara

organ

(sehat/tidakterkontaminasi)

dan

kontrol
ogan

5. Dicuci dengan aquades selama 5-10

patologi sangat jelas sekali dengan analisa

menit dandicelupkan pada eosin selama

histologi ini. Organ yang terkena pencemar

15 menit,

telah mengalami perubahan-perubahan atau

6. Didehidrasi dengan alkohol 70%, 80%,


90%, 100% selama 30 menit,

kerusakan- kerusakan pada jaringan organ


tersebut dilihat secara kasat matamelalui

7. Disimpan pada xylen selama 10 menit,

mikroskop. Organ Ikan yang digunakan un-

8. Diberi entellan.

tuk analisis histologi padapraktikum ini ada-

Setelah semua rangkaian pembuatan

lah ikan mas (Cyprinus carpio). Organ-ogan

preparat histology hewan uji selesai dil-

yang dianalisa adalah ren (ginjal), gill (in-

akukan, selanjutnya adalah melakukan taha-

sang), intestinum (usus), dan hepar (hati).

pan-tahapan sebagai berikut:


Tahap

pengamatan.

Mengamati

preparat histologi organ insang (gill), ginjal


(kidney), hati (hepar), dan usus (Intestine)
ikan uji yang normal dan yang telah diberi
pemaparan bahan toksik.

HASIL DISKUSI
Histopatologi sangat penting dalam
kaitannya dengan diagnosis penyakit suatu
organism karena salah satu pertimbangan
dalam penegakan diagnosis adalah melalui

hasil pengamatan terhadap jaringan yang


diduga terganggu. Zat racun yang masuk ke

Insang merupakan alat pernapasan

dalam tubuh organisme dapat menyebabkan

bagi ikan. pada umumnya insang ikan mas

kelainan pada fungsi organ. Kelainan tergan-

tersimpan

tung dari seberapa besar toksisitas zat racun

terlindung oleh tutup insang (operkulum).

yang masuk ke dalam tubuh organisme.

Insang ikan mas terdiri dari lengkung insang

dalam

rongga

insang

yang

Dari praktikum pengamatan preparat

yang tersusun atas tulang rawan berwarna

histopatologi yang telah dilakukan maka di-

putih, rigi-rigi insang yang berfungsi untuk

peroleh data hasil pengamatan sebagai beri-

menyaring air pernapasan yang melalui

kut:

insang, dan filamen atau lembaran insang.

Kondisi Histologi Organ yang Terpapar

Filamen insang tersusun atas jaringan lunak,

Logam Berat

berbentuk sisir dan berwarna merah muda

A. Organ Insang (Gill)

karena

Tabel 1. Pengamatan Preparat Analisis

kapiler darah dan merupakan cabang dari

Histopatologi Organ Insang

arteri insang. Di tempat inilah pertukaran

Parameter

Kontrol

Patologis

mempunyai

banyak

pembuluh

gas CO2 dan O2 berlangsung (Muhamad


Alfiansyah, 2013).
Dari gambar di atas, nampak jelas

Warna

Cokelat

Merah

Ukuran

Lebih Kecil

Lebih Besar

perbedaan antara organ insang ikan mas

Tidak ada

yang patologis atau terkontaminasi oleh ba-

Tanda Hitam Tidak ada


(Nekrosis)

han pencemar dengan organ insang yang nor

Karakter

Renggang

Khusus

Rapat
(Mengembang)

mal. Dari gambar terlihat bahwa insang


normal/ kontrol (A) berwarna agak kecokelatan sedangkan insang patologi (B)
berwarna merah gelap dengan ukuran yang
lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa
adanya pengaruh yang signifikan yang
ditimbulkan oleh logam berat terhadap or-

(A)

(B)

Gambar 1. (A) Insang Normal dan (B)


Insang Patologis

gan insang pada ikan mas.


Terjadinya penambahan/ pembengkakan ukuran insang dari ukuran normal

menunjukkan bahwa akibat adanya pemaparan logam berat terhadap insang ikan, menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan

pada lamela primer dan lamela sekunder


ikan mas. Kerusakan ini dapat disebut

dengan hiperplasia. Hiperplasia gill lamela


dalah pertambahan ukuran (hiperplasia)
lamela insang akibat peningkatan jumlah sel.
Apabila terjadi kerusakan pada lamela insang pada suatu ikan, peredaran darah ikan

(A)

(B)

Gambar 4. (A) Hati Normal dan (B) Hati


Patologis
Keterangan: a (Hyperplasia)

tentunya akan terganggu serta dapat memicu

Dari gambar di atas menunjukkan

terjadinya pembekuan darah. Kerusakan ini

bahwa adanya perbedaan warna antara organ

akan menyebabkan gangguan sirkulasi yang

hati yang masih dalam keadaan normal

dapat menyebabkan kekurangan suplai oksi-

dengan organ hati yang telah terkontaminasi

gen untuk ikan dalam kurun waktu yang

oleh pathogen. Dari gambar, terlihat pula

lama.

adanya pembengkakan ukuran sel akibat


adanya penambahan jumlah sel dalam jarin-

B.

Organ Hati (Hepar)

gan. Penyakit ini biasa dikenal dengan

Tabel 2. Pengamatan Preparat Analisis


Histopatologi Organ Hati

sebutan Hyperplasia.
Dari kedua gambar di atas juga tam-

Parameter

Kontrol

Patologis

Warna

Ungu Tua

Merah

pak adanya tanda hitam (nekrosis) baik pada


organ hati normal maupun pada organ hati

Keunguan
Ukuran

Lebih Kecil

Tanda Hitam Ada

Lebih Besar
Ada

Khusus

gan hati yang dianggap normal kemungkinan secara tidak sengaja telah terkontaminasi oleh pathogen sebelum dilakukannya

(Nekrosis)
Karakter

patologis. Hal ini diduga terjadi karena or-

Renggang

Rapat

pengamatan preparat mengingat bahwa ne-

(Hyperplasia)

crosis dapat terjadi karena denaturasi protein


plasma, dan pemecahan organel sel. Selain
itu, dapat juga disebabkan karena terinfeksi
bakterial sehingga menyebabkan terakumu-

lasinya sel darah putih. Walaupun keduanya

setelah terkontaminasi oleh pathogen men-

sama-sama memiliki necrosis namun tetap

galami penyusutan ukuran sel yang biasa

saja adanya perbedaan yakni necrosis pada

dikenal dengan istilah Atrofi. Akibat adanya

organ hati normal memiliki warna yang

penyusutan ukuran sel dalam organ usus ter-

lebih pucat dibandingkan dengan necrosis

sebut menyebabkan struktur dari sel dalam

pada hati patologis yang cenderung lebih

jaringan menjadi semakin rapat.

pekat.

Selain itu, untuk organ normal sendiri


tidak terdapat nekrosis, sedangkan pada

C. Organ Usus (Intestinum)

organ usus patologis terdapat nekrosis yang

Tabel 3. Pengamatan Preparat Analisis


Histopatologi Organ Usus (Intestinum)

menunjukkan bahwa terjadi kerusakan sel


dalam organ/ jaringan yang ditandai dengan

Parameter

Kontrol

Patologis

Warna

Cokelat

Merah

Ukuran

Lebih Besar

Lebih Kecil

D.

Ada

Tabel 4. Pengamatan Preparat Analisis

adanya rongga pada sel akibat serangan patogen.

Tanda Hitam Tidak Ada


(Nekrosis)

Organ Ginjal (Ren)

Histopatologi Organ Ginjal (Ren)

Karakter

Renggang

Rapat

Parameter

Kontrol

Patologis

Warna

Cokelat

Merah Keunguan

Ukuran

Lebih Kecil

Lebih Besar

Khusus

Tanda Hitam Tidak Ada

Ada

(Nekrosis)
Karakter

(A)

(B)

Renggang

Rapat

Khusus

Gambar 3. (A) Usus Normal dan (B) Usus


Patologis
Dari gambar di atas tampak adanya
perbedaan warna di antara keduanya. Usus
normal berwarna cokelat terang sedangkan
usus patologis berwarna merah pucat. Dari
segi ukuran terlihat bahwa organ usus

(A)

(B)

Gambar 4. (A) Ginjal Normal dan (B) Ginjal


Patologis
Sama dengan organ yang lainnya, gin-

Anonim,
2009.Hiperplasiahttp://patologiikrimah.b
logspot.com/

jal pun merupakan salah satu organ yang

Anonim,
2012
Hipoplasiahttp://www.scribd.com/doc/734569
74

sangat rentan dari pengaruh serangan patogen. Dapat dilihat dari gambar di atas bahwa
terjadi

perubahan

karakteristik

maupun

struktur antara ginjal normal dengan ginjal


patologis. Pada ginjal normal masih tampak
berwarna merah agak terang sedangkan pada
ginjal patologis telah menunjukka warna
merah keunguan. Dari segi ukuran juga terjadi perubahan ukuran menjadi lebih besar
dari ukuran normal yang diduga adalah kelainan hyperplasia yang terjadi karena adanya peningkatan jumlah sel dalam jaringan
sehingga menyebabkan penyumbatan antar
permukaan glomerulus dan struktur sel menjadi lebih rapat dari keadaan normal. Selain
itu, juga terjadi kerusakan sel pada organ
ginjal setelah terpapar oleh logam berat yang
ditandai dengan adanya necrosis pada organ
ginjal patologis.

DAFTAR PUSTAKA
Tabroni. 2010. Pengamatan Preparat Histologi. Universitas Padjajaran. Jatinangor:
Harper, M. dan S. Jeffrey. 2008. Morphologic Effects of The Stress Response in
Fish. Experimental Pathology Laboratories Inc. in Sterling, Virginia.

Anonim,
2011
fikamuskesehatan.com/arti/atrofi

Atro-

Anonim,
2012
Hipertrofihttps://putramahadewa.wordpress.com/t