Anda di halaman 1dari 38

PARU-PARU

OBSTRUKTF AKUT
KELOMPOK V
KELAS 77

DEFINISI
O Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit

progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran


udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Hal ini
disebabkan oleh paparan partikel berbahaya atau gas,
yang paling sering adalah asap rokok.
O Penyakit obstruktif akut (PPOK) adalah penyakit
obstruktif jalan napas karena bronkitis kronik atau
emfisema (American Throracic Society 1995).
O Emfisema adalah suatu perubahan anatomis paru-paru
yang ditadai dengan melebarnya secara abnormal
saluran udara sebelah distal bronkus terminal, disertai
kerusakan dinding alveolus

Epidemiologi
O Di Amerika Serikat pada tahun 1991 diperkirakan

terdapat 14 juta orang menderita PPOK, meningkat


41,5% dibandingkan tahun 1982, sedangkan
mortalitas menduduki peringkat IV penyebab
terbanyak yaitu 18,6 per 100.000 penduduk pada
tahun 1991 dan angka kematian ini meningkat
32,9% dari tahun 1979 sampai 1991.
O WHO menyebutkan PPOK merupakan penyebab
kematian keempat didunia yaitu akan menyebabkan
kematian pada 2,75 juta orang atau setara dengan
4,8%. Selain itu WHO juga menyebutkan bahwa
sekitar 80 juta orang akan menderita PPOK dan 3
juta meninggal karena PPOK pada tahun 2005
O (Media Litbangkes Vol. 23 No. 2, Juni 2013: 82-88 )

O Pada tahun 2001, 12,1 juta orang dewasa Amerika

Serikat 25 tahun dan manula dilaporkan menderita


COPD.
O PPOK kurang terdiagnosis karena banyak pasien
hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada gejala
pada tahap awal.
O COPD adalah penyebab utama keempat kematian di
Amerika Serikat; pada tahun 2000, 119.000 orang
dewasa meninggal karena penyakit ini.

Etiologi
O Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya PPOK adalah

kebiasaan merokok
polusi udara
Paparan debu, asap dan gas-gas kimiawi akibat kerja
Riwayat infeksi saluran napas
Bersifat genetik yaitu defesiensi -1 antitripsin

Patofisiologi
PPOK ditandai oleh
perubahan patologis di
saluran udara sentral,
saluran udara perifer,
parenkim paru, dan
pembuluh darah paru-paru.
Proses ini adalah akibat
peradangan yang sedang
berlangsung atau mungkin
timbul
dari
lingkungan
(misalnya, oksidan dalam
asap rokok) atau faktor
genetik (misalnya, defisiensi

AAT) (Gambar. 12-1) .

Penyebabnya adalah
Peradangan kronis
paru-paru akibat
paparan partikel yang
berulang dan gas
berbahaya.
Ketidakseimbangan
antara proteinase dan
antiproteinase dalam
paru-paru dan stres
oksidatif juga
dianggap penting
dalam patogenesis
PPOK.

O Peradangan

PPOK berbeda asma, sehingga


penggunaan obat anti-inflamasi dan respon terhadap
obat-obatan tersebut berbeda. Peradangan asma
terutama dimediasi melalui eosinofil dan sel mast.
O Dalam PPOK sel inflamasi primer termasuk neutrofil,
makrofag, dan limfosit CD8+T. Eosinofil dapat
ditingkatkan pada beberapa pasien, khususnya
selama eksaserbasi.
O AKTIVASI Sel-sel inflamasi melepaskan berbagai
mediator, terutama leukotrien B4, interleukin-8, dan
tumor necrosis factor- (TNF-).
O Berbagai proteinase,seperti elastase, cathepsin G,
dan proteinase-3, yang disekresikan oleh neutrofil
diaktifkan. Mediator dan proteinase ini mampu
mempertahankan peradangan dan merusak struktur
paru-paru

O Proteinase dan antiproteinase adalah bagian dari

pelindung normal dan mekanisme perbaikan paruparu.


O Ketidakseimbangan
aktivitas
proteinaseantiproteinase pada PPOK adalah baik dari hasil
peningkatan produksi atau aktivitas proteinase yang
merusak atau inaktivasi atau berkurangnya produksi
antiproteinase pelindung.
O AAT (sebuah antiproteinase) menghambat tripsin,
elastase, dan beberapa enzim proteolitik lainnya.
O Defisiensi AAT tidak menghalangi aktivitas proteinase
yang mempromosikan penghancuran dinding alveolar
dan parenkim paru yang menyebabkan emfisema.

O Penanda stres oksidatif (misalnya, hidrogen peroksida,

nitrat oksida, dan isoprostan F2-III) telah ditemukan di


cairan epitel, nafas, dan urin dari perokok dan pasien
penderita PPOK.
O Peningkatan stres oksidatif berperan terhadap PPOK
dalam berbagai cara. Oksidan (misalnya, spesies oksigen
reaktif, superoksida, dan oksida nitrat) dapat bereaksi dan
merusak berbagai molekul yang menyebabkan disfungsi
sel dan kerusakan matriks ekstraseluler paru-paru.
O Stres
oksidatif mempromosikan peradangan dan
berkontribusi terhadap ketidakseimbangan proteinaseantiproteinase
dengan
mengurangi
aktivitas
antiproteinase.
O Selain itu, oksidan menyempitkan otot polos saluran
napas, memberikan kontribusi untuk penyempitan saluran
napas reversibel.

Klasifikasi

Manisfestasi Klinik
1.

2.

Gejala dari PPOK adalah seperti susah bernafas, batuk


kronis dan terbentuknya sputum kronis, episode yang
buruk atau eksaserbasi sering muncul. Salah satu gejala
yang paling umum dari PPOK adalah sesak napas
(dyspnea).
Orang dengan PPOK biasanya pertama sadar
mengalami dyspnea pada saat melakukan olahraga
berat ketika tuntutan pada paru-paru yang terbesar.
Selama bertahun-tahun, dyspnea cenderung untuk
bertambah parah secara bertahap sehingga dapat terjadi
pada aktivitas yang lebih ringan, aktivitas sehari-hari
seperti pekerjaan rumah tangga. Pada tahap lanjutan
dari PPOK, dyspnea dapat menjadi begitu buruk yang
terjadi selama istirahat dan selalu muncul

Lanjutan...
O Orang dengan PPOK kadang-kadang mengalami gagal pernafasan.

Ketika ini terjadi, sianosis, perubahan warna kebiruan pada bibir

yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam darah, bisa


terjadi.
O Kelebihan karbon dioksida dalam darah dapat menyebabkan sakit

kepala, mengantuk atau kedutan (asterixis).


O Salah satu komplikasi dari PPOK parah adalah cor pulmonale,

kejang pada jantung karena pekerjaan tambahan yang diperlukan


oleh jantung untuk memompa darah melalui paru-paru yang terkena
dampak.

Penatalaksanaan Nonfarmakologi
O Berhenti merokok

Berhenti merokok adalah salah satu hal yang diketahui

memperlambat laju penurunan fungsi paru pada pasien dengan


PPOK. Berhenti merokok juga dapat mengurangi batuk dan
produksi dahak dan penurunan reaktivitas saluran napas.
REHABILITASI PARU-PARU

Ini harus dipertimbangkan untuk pasien dengan PPOK yang


memiliki dyspnea atau gejala pernapasan lainnya, kapasitas
latihan berkurang, keterbatasan aktivitas karena penyakit mereka,
atau

mengalami

rehabilitasi

paru

penurunan
komprehensif

konseling gizi, dan pendidikan.

kesehatan.
termasuk

Sebuah

program

latihan

olahraga,

O Terapi Oksigen Jangka Panjang

Pemberian oksigen jangka panjang (lebih dari 15 jam per hari)


untuk

pasien

dengan

gagal

napas

kronik

telah

terbukti

mengurangi angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup.


O Pembedahan

Bullectomy,

operasi

pengurangan

volume

paru-paru,

dan

transplantasi paru-paru adalah pilihan pembedahan untuk PPOK

sangat parah. Prosedur ini dapat mengakibatkan peningkatan


spirometri, volume paru-paru, kapasitas latihan, dyspnea, kualitas
kesehatan yang berhubungan dengan hidup, dan mungkin
bertahan hidup. Seleksi pasien sangat penting karena tidak
semua pasien memerlukannya.hanya yang sesuai dengan
standar ATS/ERS PPOK yang dapat memilih terapi ini.

Terapi farmakologi
O bronkodilator
O Bronchodilators

adalah pengobatan utama untuk


gejala PPOK. Bronchodilator mengurangi gejala dan
meningkatkan toleransi latihan
dan kualitas
hidup.Bronchodilatordapat
digunakan
sesuai
kebutuhan pada gejala atau untuk mencegah atau
mengurangi gejala. Obat bronkodilator yang biasa
digunakan dalam PPOK meliputi 2-agonis,
antikolinergik, dan teofilin. Pilihan tergantung pada
ketersediaan, respon individu, dan preferensi. Rute
inhalasi lebih diutamakan, tetapi harus diperhatikan
teknik inhaler yang tepat.

O Kortikosteroid

Pada pasien dengan geala PPOK berat (FEV1


kurang dari 50 % diprediksikan) dan frekuensi
eksaserbasi pengobatan reguler dengan inhalasi
kortikosteroid menurunkan sejumlah eksaserbasi
per tahun dan memperbaiki status kesehatan;
bagaimanapun kortikosteroid tidak memperlambat
penurunan jangka panjang fungsi paru-paru.
Kombinasi penggunaan inhaler dikombinasikan
ketika menggunakan 2-agonist dengan aksi
diperpanjang dengan inhalasi kortikoseroid [e.g.
Advair (fluticasone/salmaterol)]

O Imunisasi

Penyakit serius dan kematian pada pasien


PPOK dapat dikurangi sekitar 50% dengan
vaksinasi influensa tahunan. Semua pasien
PPOK seharusnya juga menerima vaksinasi
dengan vaksin pneumococcal polisakarida,
meskipun
data
penggunaannya
cukup
mendukung pada pasien PPOK adalah kurang.
Pasien diatas 65 tahun harus direvaksinasi jika
lebih dari 5 tahun vaksinasi awwal dan mereka
kurang dari 65 tahun pada waktu itu.

O Terapi tambahan Alpha1-Antitrypsin

The American Thoracic Society and the


European Respiratory telah mempublikasikan
strandar diagnosis dan manajemen individu
dengan
defesiensi
AAT.
Mereka
merekomendasikan terapi tambahan intravena
untuk individu dengan defisiensi AAT dan
kerusakan aliran udara sedang. Pada pasien ini
terapi tambahan menunjukkan pengurangan
kematian dan lambatnya penurunan FEV
meskipun besarnya keacakan terkontrol tidak
dilakukan.
Terapi
tambahan
ini
tidak
direkomendasikan untuk individu dengan
defisiensi AAT yang tidak menunjukkan penyakit
paru-paru.

Terapi farmakologi lainnya


O Modifikasi leukotrien (e.g. Zafirlukast dan montelukast) tidak

cukup dievaluasi pada pasien PPOK dan tidak direkmendasikan


untuk penggunaan rutin. Studi singkat menunjukkan perbaikan
fungsi paru-paru dyspnea dan kualitas hidup ketika modifikasi
leukotrien ditambahkan pada terapi inhalsi bronkodilator.
O Nedocromil stabilizer sel mast tidak cukup diuji pada pasien
PPOK dan tidak termasuk rekomendasi utama.
O N-acetilcystein mempunyai aktivitas antioksidan dan mukolitik,
yang diperbolehkan dalam pengobatan PPOK tetapi penguian
klinis menghasilkan komplikasi.
O Prophylactic, penggunaan antibiotik berkelanjutan tidak berefek
pada frekuensi eksaserbasi; antibiotik seharusnya hanya
digunakan untuk pengobatan infeksi eksaserbasi. Antitusiv
dikontraindikasikan karena batuk merupakan perlindungan yg
penting. Opioid mungkin efektif untuk dyspnea pada penyakit
parah tetapi mempunyai efek samping yg serius; opiod
digunakan untuk megatur gejala pada pasien.

Stadium

Rekomendasi Terapi

0 : Resiko

Menghindari faktor risiko , terutama berhenti merokok ; vaksinasi


influenza

I : Ringan

ADD
Inhalasi bronkodilator aksi singkat saat diperlukan (mis, ipratropium,
albuterol, atau kombinasi inhaler

II : Sedang

Rehabilitasi paru
Inhalasi LABD secara terjadwal (mis, tiotropium, salmeterol, atau
formoterol)
Respon yang tidak memadai untuk LABD?
Ya
Gunakan kelas alternatif atau kombinasi inhalasi LABD
Respon yang tidak memadai untuk LABD?
Ya
Tambahkan teofilin oral

III: Berat

Inhalasi kortikosteroid jika eksaserbasi berulang

IV : sangat
Berat

Oksigen jangka panjang jika gagal pernapasan kronis


Pertimbangkan pembedahan

Terapi Farmakologi Eksaserbasi


PPOK
O Eksaserbasi

adalah memburuknya gejala pasien yang


berkelanjutan dari keadaan stabilnya diluar variasi normal
harian. Gejala umum dilaporkan adalah memburuknya
dyspnea, peningkatan produksi sputum, dan perubahan
warna sputum. Penyebab paling umum dari eksaserbasi
adalah infeksi pernapasan dan polusi udara, tapi
penyebabnya tidak bisa diidentifikasi dalam sekitar sepertiga
dari exacerbasi parah.
O Pengobatan tergantung pada gejala dan tingkat keparahan
eksaserbasi. exaserbasi dapat diobati di rumah dengan
peningkatan terapi bronkodilator dengan atau tanpa
kortikosteroid oral.
O Antibiotik diindikasikan hanya jika ada tanda-tanda klinis
infeksi saluran napas (misalnya, meningkat volume dan
perubahan warna sputum dan / atau demam). Sedang untuk
eksaserbasi parah memerlukan manajemen di UGD RS.
Management harus terdiri dari Terapi oksigen terkendali,
bronkodilator, kortikosteroid oral atau intravena, antibiotik jika
diindikasikan, dan pertimbangan ventilasi mekanis (noninvasif atau invasif).

Memulai atau meningkatkan terapi


bronkodilator
Meninjau kembali dalam beberapa jam

Resolusi atau perbaikan


tanda dan gejala

Lanjutkan manajemen
Mundur jika
memungkinkan

Tidak ada resolusi atau


perbaikan
Tambahkan kortikosteroid oral
Tinjau kembali dalam beberapa
jam
Tanda/gejala memburuk

Tinjau manajemen
jangka panjang

Rujuk ke rumah sakit

Bronkodilator
O Albuterol adalah bronkodilator yang lebih disukai untuk

pengobatan eksaserbasi akut karena onset yang cepat.


O Ipratropium

dapat ditambahkan untuk memungkinkan


dosis yang lebih rendah dari albuterol, sehingga
mengurangi efek samping tergantung dosis seperti
takikardia dan tremor.

O Penghantaran obat bisa melalui meteran-dosis inhaler

(MDI) dan spacer atau nebulizer. Rute nebulizer lebih


disukai pasien dengan dyspnea berat dan / atau batuk
yang akan membatasi penghantaran obat melalui MDI
dengan spacer.
O Jika respon tidak memadai, teofilin dapat dipertimbangkan;

Namun, bukti
kurang.

klinis

yang mendukung penggunaannya

Kortikosteroid Oral
O Kortikosteroid sistemik mempersingkat waktu pemulihan, membantu

O
O
O

untuk mengembalikan fungsi paru-paru lebih cepat, dan dapat


mengurangi risiko kambuh lebih awal.
Disarankan penggunaan kortikosteroid dipertimbangkan di samping
bronkodilator pada pasien di rumah sakit dan pada pasien rawat
jalan dengan awal FEV1 kurang dari 50% predicted.
Para ahli lainnya merekomendasikan kortikosteroid untuk semua
pasien mengalami exacerbasi PPOK.
Prednison oral 30 sampai 40 mg / hari selama 10 sampai 14 hari
dianjurkan.
Pengobatan jangka panjang tidak menghasilkan keberhasilan yang
lebih besar dan meningkatkan risiko efek samping. Jika
kortikosteroid inhalasi merupakan bagian dari rejimen pengobatan
kebiasaan pasien, kortikosteroid harus dilanjutkan selama terapi
sistemik.

Antibiotic
O Antibiotik harus digunakan pada pasien

dengan eksaserbasi PPOK yang memiliki


salah satu dari karakteristik berikut:
1. Paling sedikit dua dari tiga gejala utama:
peningkatan dyspnea, volume sputum, atau
sputum purulence (keadaan penuh nanah);
atau
2. eksaserbasi parah membutuhkan ventilasi
mekanis.
O Pengobatan antibiotik untuk sebagian besar
pasien harus dipertahankan selama 3 sampai
10 hari, sampai pasien telah mengalami
demam selama 3 hari berturut-turut.

Terapi Oksigen
O Tujuan

terapi
oksigen
adalah
untuk
mempertahankan PaO2 di atas 60 mm Hg (8 kPa)
aur SaO2 di atas 90% untuk mencegah hipoksia
jaringan dan mempertahankan oksigenasi seluler.
O Peningkatan PaO2
memberi sedikit manfaat
tambahan dan dapat meningkatkan risiko retensi
CO2,
yang
dapat
menyebabkan
asidosis
pernapasan.
O Gas darah arteri harus diperoleh setelah 1 hingga 2
jam untuk meninaju hiperkapnia.
O Dalam perkembangan PPOK, perhatian harus
diberikan sejak pemberian oksigen ke pasien
dengan hiperkapnia kronis dapat menyebabkan
depresi pernapasan dan kegagalan pernapasan.

Ventilasi Mekanik
O Ventilasi

mekanis

dapat

diberikan

sebagai

berikut:
1. invasif
(konvensional) ventilasi mekanis
melalui tabung endotrakea;
2. ventilasi mekanik non-invasif menggunakan
baik alat tekanan negatif (misalnya, besi parutidak direkomendasikan) atau alat tekanan
positif
O Ventilasi Non-invasif tekanan positif (NPPV) lebih
disukai bila memungkinkan.
O NPPV meningkatkan tanda-tanda dan gejala,
mengurangi masa tinggal di rumah sakit, dan
yang paling penting mengurangi angka kematian
pasien

Patient Care and Monitoring


Menilai gejala pasien dan riwayat pajanan terhadap
faktor risiko.
2. Memperoleh pengukuran spirometri untuk menilai
pembatasan aliran udara dan membantu dalam
klasifikasi dan pengobatan berdasarkan keparahan.
Mengukur gas darah arteri jika FEV1 kurang dari
40% diprediksi atau jika pasien memiliki tanda-tanda
klinis yang menunjukkan gagal napas atau gagal
jantung kanan
3. Mendapatkan riayat resep menyeluruh, non-resep,
dan penggunaan suplemen makanan. Menilai teknik
inhaler dan kepatuhan terhadap rejimen pengobatan.
Bertanya pada pasien tentang efektivitas
pengobatan pada gejala terkontrol dan efek
samping.
4. Bertanya pada pengguna tembakau saat ini tentang
kuantitas harian, upaya penghentian, dan kesiapan
untuk berhenti merokok.
1.

5.

6.
7.

8.

Merancang rencana terapi termasuk modifikasi


gaya hidup (misalnya, berhenti merokok) dan
terapi obat yang optimal. Pertimbangan perlu
untuk rehabilitasi paru, terapi oksigen, dan / atau
operasi.
Memberikan pendidikan pasien tentang keadaan
penyakit dan rencana terapi.
Tentukan masa tindak lanjut berdasarkan status
pasien dan kebutuhan (biasanya 3 sampai 6
bulan)
Tindak lanjut kunjungan harus mencakup :
O Penilaian penggunaan tembakau dan / atau
upaya penghentian
O Pengukuran perubahan gejala. Dapatkan
spirometri jika ada peningkatan substansial
dalam gejala atau komplikasi
O Ulasan terapi obat (dosis, kepatuhan, inhaler
teknik inhaler, efektivitas, efek samping, dan
interaksi obat )
O Evaluasi frekuensi eksaserbasi, keparahan,
dan kemungkinan penyebabnya.

Lanjutan..
9. Lakukan spirometri setidaknya setiap
tahun untuk menilai penyakit kemajuan.
10. Memberikan vaksinasi influenza
tahunan.
11. Menilai teknik inhaler pada setiap
kunjungan.
Mengharuskan
pasien
menunjukkan penggunaan yang tepat
dari
masing-masing
perangkat
menggunakan plasebo inhaler atau
inhaler pribadi. Penggunaan tepat alat ini
adalah penting untuk keberhasilan
terapi.

Studi kasus
Tn.R, 68 th, datang ke IGD dengan keluhan pusing,
sesak nafas dan batuk
Riwayat Penyakit Sekarang: 1 bulan terakhir tiap pagi
batuk-batuk sampai dahak keluar semua. Sesak
nafas bila menaiki tangga. 2 hari terakhir, pasien
mengeluh demam, batuk, pilek, pusing, dan sesak
nafas.Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan
spirometri dan foto thorax, diagnosa yang ditegakkan
klinisi/Dokter adalah PPOK st III
Terapi yang diberikan:
Oksigen, Setelah stabil, terapi yang diberikan adalah
: Codein 10 mg po 3x1 dan Seretide MDI tiap 6
jam. Tanda-tanda vital saat pasien MRS: Suhu
38.5C, TD 140/90 mmHg, Nadi 100x/mnt,RR
25x/mnt

Subjektif
O Tn.R, 68 th
O keluhan pusing, sesak nafas dan batuk
O Riwayat

Penyakit Sekarang: 1 bulan


terakhir tiap pagi batuk-batuk sampai
dahak keluar semua. Sesak nafas bila
menaiki tangga. 2 hari terakhir, pasien
mengeluh demam, batuk, pilek, pusing,
dan sesak nafas

Objektif
O Tanda-tanda vital saat pasien MRS : Suhu

38.5C,
O TD 140/90 mmHg,
O Nadi 100x/mnt,
O RR 25x/mnt

Assessment
O Indikasi yang tidak di terapi: Keluhan

demam pasien dengan suhu tubuh 38,50C


O Dosis berlebih pada penggunaan Seretide
(Fluticason dan Salmeterol) MDI tiap 12
jam. (DIH 2006)
O Pemilihan obat tidak tepat: Penggunaan
kodein tidak memberikan keuntungan
secara signifikan pada pasien PPOK.
(Bourdet, S.V., dan William, D.M., 2005)

Plan
O Di

berikan terapi Antipiretik misalnya


Paracetamol 500mg 3 kali sehari 1 tablet
digunakan jika perlu
O Dosis Seretide MDI tiap 12 jam. (DIH,
2006)
O Tidak di berikan kodein pada Tn.R

Sekian
dan
Terimakasih