Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

FISIOLOGI MUSKULOSKELETAL

NAMA PEMBIMBING :
dr. Eka M, Sp.OT., SH., MKes., MHKes

DISUSUN OLEH
GWENDRY RAMADHANY
(1102010115)

BAGIAN ILMU BEDAH


RSUD SUBANG
PERIODE AGUSTUS-OKTOBER
2014
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
referat yang berjudul Fisiologi Muskuloskeletal. Tinjauan pustaka ini
disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam kepaniteraan Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI pada bagian Ilmu Bedah RSUD Subang.
Penyusun menyadari bahwa tinjauan pustaka ini jauh dari sempurna, oleh
karena itu penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak demi kesempurnaan tinjauan pustaka ini.
Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada pembimbing atas
segala bimbingan, motivasi, serta ilmu yang diberikan sehingga penyususn
dapat menyelesaiakan tugas pustaka ini. Besar harapan penyusun semoga
tinjauan pustaka ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Subang, Agustus 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tubuh manusia merupakan suatu unit yang kompleks tersusun dari sejumlah sel
yang bergabung memberntuk jaringan, organ sistem organ yang memiliki anatomi dan
fisiologi. Salah satu sistem tersebut adalah sisitem muskuloskletal. Sistem muskulo
skeletal adalah sistem yang berfungsi dalam pergerakan manusia, terdiri dari
muskulo(otot) dan skeletal (tulang).
Sistem muskulo atau otot adalah organ yang merupakan alat gerak aktif manusia
yang bersama tulang-tulang (sistem skeletal) sebagai alat gerak pasif, bekerja bersamasama dalam menopang tubuh, menciptakan gerakan dan sebagai tempat metabolisme zat
yang diperlukan tubuh seperti darah dan metabolisme karbohidrat.

BAB II
FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL

A. Proses Pembentukan Tulang dan Hormon

Komponen yang menjadi pondasi dasar tubuh manusia agar dapat memiliki
kekuatan dan dapat berdiri tegak adalah tulang, maka dari itu kita perlu menjaga tulang
anda agar proses dan pembentukan nya berjalan lancar. Proses penulangan atau proses
pembentukan tulang bisa di sebut Osifikasi.
Tulang yang terbentuk pertama kali adalah tulang rawan (kartilago) yang berasal
dari jaringan masenkin (jaringan embrional). Segera setelah tulang rawan (kartilago)
tersebut berbentuk, di dalam nya akan berongga dan berisi sel-sel pembentuk tulang. Selsel pembentuk tulang menempati jaringan pengikat sekelilingnya dan membentuk sel-sel
tulang pula.setiap satuan-satuan sel-sel tulang ini melingkari suatu pembuluh darah dan
saraf, membentuk saluran yang disebut havers.
Pada setiap kelompok lapisan terdapat sel tulang yang berada pada tempat yang
disebut lakuna. Pada saluran Havers terdapat pembuluh darah yang berhubungan dengan
pembuluh daran dan periosteum, yang bertugas memberikan zat makanan ke bagianbagian tulang. Sekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein yang akan menjadi
matriks tulang. Kelak ke dalam senyawa protein ini terdapat pula zat kapur (kalsium) dan
fosfor, sehingga matriks tulang akan mengeras. Makin keras suatu tulang, makin
berkurang pula zat perekatnya. Bahkan pada tulang pipa yang keras sel-sel tulangnya
telah mati sehingga yang tampak hanyalah lakunanya saja.
Untuk lebih jelasnya berikut proses pembentukan tulang :
1. Tulang rawan pada embrio mengandung banyak osteoblas, terutama pada bagian
tengah epifisis dan bagian tengah diafisis, serta pada jaringan ikat pembungkus tulang
rawan.
4

2. Osteosit terbentuk dari osteoblas, tersusun melingkar membentuk sistem Havers. Di


tengah sistem Havers terdapat saluran Havers yang banyak mengandung pembuluh
darah dan serabut saraf.
3. Osteosit mensekresikan zat protein yang akan menjadi matriks tulang. Setelah
mendapat tambahan senyawa kalsium dan fosfat tulang akan mengeras.
4. Selama terjadi penulangan, bagian epifisis dan diafisis membentuk daerah antara
yang tidak mengalami pengerasan, disebut cakraepifisis. Bagian ini berupa tulang
rawan yang mengandung banyak osteoblas.
5. Bagian cakraepifisis terus mengalami penulangan. Penulangan

bagian ini

menyebabkan tulang memanjang.


6. Di bagian tengah tulang pipa terdapat osteoblas yang merusak tulang sehingga tulang
menjadi berongga kemudian rongga tersebut terisi oleh sumsum tulang.
Sel-sel yang bertanggung jawab atas metabolisme tulang dikenal sebagai osteoblast,
yang mensekresikan tulang baru dan osteoklas yang memecahkan tulang. Struktur tulang
serta suplai kalsium memerlukan kerjasama erat antara kedua jenis sel. Hal ini
bergantung pada jalur sinyal kompleks untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan
diferensiasi yang tepat. Jalur sinyal ini termasuk tindakan beberapa hormon, termasuk
hormon paratiroid (PTH), vitamin D, hormon pertumbuhan, steroid, dan kalsitonin, serta
beberapa sitokin. Dengan cara ini tubuh dapat mempertahankan tingkat kalsium yang
tepat yang diperlukan untuk proses fisiologis.

B. Struktur Otot

Sistem muskular (otot) terdiri dari sejumlah besar otot yang bertanggung jawab
atas gerakan tubuh. Otot-tot volunteer melekat pada tulang, tulang rawan, ligament, kulit
atau otot lain melalui struktur vibrosa yang di sebut tendon dan aponeurosis. Serabutserabut otot volunteer, bersama selubung sarkulema, masing masing tergabung dalam
kumparan oleh endomisium dan di bungkus oleh perimisium.
Kelompok serabut tersebut (fasikulus) di gabungkan oleh selubung yang lebih
padat, yang di sebut epimisium dan gabungan vasikulus ini membentuk otot volunteer
badan individual. Semua otot memiliki suplay darah yang baik dari arteri-arteri di
dekatnya. Arteriol pada perimisium member cabang kapiler yang berjalan dalam
endomisium dan melintasi serabut-serabut. Pembuluh darah dan saraf memasuki otot
bersama-sama di daerah hilum.
Kebanyakan otot mempunyai tendon pada salah satu atau ke dua ujungnya.
Tendon terdiri dari jaringan vibrosa dan biasanya berbentuk seperti tali (cord), meskipun
pada beberapa otot yang pipih tali tersebut di gantikan oleh suatu lembaran vibrosa kuat
yang di sebut aponeurosis. Jaringan vibrosa juga membentuk lapisan pelindung atau
selubung otot, yang di kenal sebagai vasia. Bila satu otot menempel pada otot lain,
serabut-serabut otot ini bisa saling memilih (interlace), perimicium otot yang satu bersatu
dengan perimicium otot yang lain, atau ke duanya bisa menggunakan tendon yang sama.
Jenis hubungan yang ke tiga terdapat pada otot-otot dinding abdomen, di mana serabutserabut aponeurosis saling menyilang, membentuk linea alba yang dapat terlihat sebagai
cekungan dangkal di atas umbilicus.
C. Mekanisme Kontraksi Otot

Otot terbagi kepada 3 yaitu otot lurik (rangka), otot polos dan otot jantung. Otot
adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi
otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh. Otot
lurik terdiri dari sel- sel yang dilindungi oleh membrane yang dirangsang listrik yang
disebut sarkolema. Sel serabut otot terdiri dari myofibril. Unit serat otot yang dapat
berfungsi adalah sarkomer.
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan
yang relatif dari filamenfilamen aktin dan myosin. Selama kontraksi otot, filamenfilamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen
tersebut tidak bertambah banyak.Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan
perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya
garis H. selain itu filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z
dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi terjadi.
Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek
aktin-miosin.

D. Impuls Saraf

Impuls saraf atau rangsang saraf adalah pesan saraf yang dialirkan sepanjang
akson dalam bentuk gelombang listrik. Bila sebuah saraf tidak menghantarkan impuls,
maka serabut saraf tersebut dalam keadaan istirahat. Salah satu sifat neuron yaitu
permukaan luarnya bermuatan positif, sedangkan bagian dalamnya bermuatan negatif.
Bila neuron mendapat rangsangan, maka akan terjadi perubahan muatan pada kedua
permukaannya, yaitu permukaan luar bermuatan negatif sedangkan bagian dalamnya
bermuatan positif, keadaan ini disebut depolarisasi.
Alur impuls saraf adalah:
1. Saraf dalam keadaan istirahat (tidak menghantarkan impuls), serabut saraf dalam
keadaan polarisasi yaitu permukaan membran luar bermuatan positif, sedangkan
membran dalam bermuatan negatif.
2. Saraf dirangsang disuatu tempat tertentu sehingga terjadi depolarisasi, yaitu
permukaan luar bermuatan negatif, sedang permukaan dalam bermuatn positif.
3. Antara daerah yang mengalami depolarisasi dengan daerah yang mengalami
polarisasi timbul aliran listrik. Aliran listrik ini disebut arus lokal. Adanya arus lokal
menyebabkan depolarisasi didaerah sebelahnya, kemudian diikuti arus lokal dan
4. depolarisasi didaerah sebelahnya demikian seterusnya.

E. Sinaps

Pada setiap neuron, terminal aksonnya membengkak membentuk suatu tonjolan


kecil yang disebut tombol sinapsis. Permukaan membran tombol sinapsis ini dinamakan
membran prasinapsis yang menghantarkan impuls dari terminal sinapsis menuju dendrit
atau badan sel berikutnya. Impuls tersebut akan diterima oleh permukaan membran
dendrit

atau

badan sel

yang

dituju.

Membran

yang

demikian

dinamakan

membran pascasinapsis. Di antara kedua membran ini dipisahkan oleh suatu celah yang
disebut celah sinapsis.
Di dalam tombol sinapsis terdapat suatu zat kimia yang dapat menghantarkan
impuls ke neuron berikutnya. Zat yang demikian dinamakan neurotransmiter. Saat
menghantarkan implus, dalam sitoplasma neurotransmiter dibawa oleh banyak kantung
dalam sitoplasma, yang disebut vesikula sinapsis. Ada berbagai macam jenis
neurotransmiter,

contohnya

asetilkolin, dopamine,

noradrenalin,

dan

serotonin.

Asetilkolin berada pada seluruh sistem saraf; sementara noradrenalin berada pada
9

sistem saraf simpatik; sementara dopamine dan serotonin terdapat pada otak. Asetilkolin
dan noradrenalin merupakan salah dua neurotransmiter utama yang terdapat pada
mammalia.
1. Penghantaran Impuls Melalui Sinaps
Rangsang yang merambat disebut impuls.

Impuls diterima oleh reseptor

kemudian akan dihantarkan oleh dendrit menuju badan sel saraf. Saat impuls sampai pada
akson, impuls akan diteruskan ke dendrit neuron lain.
Dalam sel saraf terjadi proses penghantaran impuls secara konduksi. Apabila tidak
adarangsang maka sel saraf disebut dalam keadaan istirahat. Dalam keadaan ini saraf
tidak menghantarkan impuls. Membran luar sel saraf bermuatan positif karena kelebihan
kation atom Na+. Membran dalam sel saraf bermuatan negatif karena banyak ion K+ yang
keluar akson.
Keadaan seperti ini disebut polarisasi. Terjadinya kondisi demikian karena peran
pompa Na K dan sifat membran akson yang lebih permeabel terhadap K+ dan kurang
permeabel terhadap Na+. Na+ dipompa ke luar. K+ dipompa ke dalam karena sifat
membran akson yang permeabel terhadap K, maka K + dapat keluar lagi.
2. Mekanisme Kerja Sinapsis
Apabila impuls sampai pada tombol sinapsis, segera neuron mengirimkan
neurotransmiter. Selanjutnya, neurotransmiter dibawa oleh vesikula sinapsis menuju
membran

prasinapsis. Kedatangan

impuls

tersebut

membuat

permeabilitas

membran prasinapsis terhadap ion Ca2+ meningkat (terjadi depolarisasi). Sehingga, ion
Ca2+ masuk dan merangsang vesikula sinapsis untuk menyatu dengan membran
prasinapsis. Bersama kejadian tersebut, neurotransmiter dilepaskan ke dalam celah
sinapsis melalui eksositosis. Dari celah sinapsis, neurotransmiter ini berdifusi
menuju membran pascasinapsis.
Setelah impuls dikirim, membran pascasinapsis akan mengeluarkan enzim untuk
menghidrolisis neurotransmiter. Enzim tersebut misalnya senzim asetilkolineterase yang
menghidrolisis asetilkolin menjadi kolin dan asam etanoat. Oleh vesikula sinapsis, hasil
hidrolisis (kolin dan asam etanoat) akan disimpan sehingga sewaktu-waktu bisa
digunakan kembali.
10

F. Neurotransmitter
Neurotransmitter merupakan zat kimia yang disintesa oleh sel syaraf, disimpan dalam vesikel
sekretorik dan dilepaskan ketika ion kalsium membanjiri vesikel. Efek neurotransmitter thd
sel syaraf post sinaps bisa eksitasi atau inhibisi. contoh transmitter diantaranya adalah Asetil
kolin, GABA (Gamma-aminobutyric acid), Glutamat, aspartat, Glycin, Dopamin, Histamin,
NE, Seratonin, Somatostatin, Endoprin, Enkephalin, Subtansi P.

G. Refleks

Refleks merupakan cara tubuh kita untuk menjaga dan melindungi diri dengan
cepat dan aman. Gerak ini terjadi pada bagian tubuh yang terlibat, sehingga bagian
tubuh tersebut bergerak secara otomatis. Perhatikan Gambar 1. Refleks sentakan
lutut misalnya,

merupakan

respons

sederhana.

Satu ketukan

pada

lutut

akan

menyebabkan tarikan pada tendon yang berkaitan dengan otot paha (otot kuadrisep).
Akibatnya, kaki bagian bawah ikut tertarik. Reseptor regangan yang merupakan
reseptor sensorik menerima tarikan itu. Kemudian, reseptor sensorik mengirimkan
informasi ke sinapsis dengan neuron motorik pada sumsum tulang belakang. Selanjutnya,
neuron motorik mengirimkan impuls / sinyal menuju otot kuadrisep untuk berkontraksi.
Kontraksi ini menyebabkan kaki bagian bawah tersentak ke arah depan.
11

Gambar 1. Gerak refleks pada lutut saat dipukul


Sentakan lutut hanya melibatkan dua neuron, yakni neuron sensorik dan neuron
motorik. Namun, neuron sensorik pada kuadrisep berkomunikasi pula dengan interneuron
pada

sumsum

tulang belakang.

Interneuron

ini

menghambat

neuron

motorik

yang mengirimkan sinyal ke otot fleksor (otot kaki yang berbeda), sehingga otot tersebut
tidak berkontraksi. Secara sederhana, mekanisme penghantaran sinyal/impuls pada gerak
refleks dapat kalian lihat pada skema berikut.
Berdasarkan tempat konektornya, refleks dibedakan menjadi dua yaitu refleks spinalis
dan refleks kranialis.
a. Refleks tulang belakang (refleks spinalis) yaitu jika konektor terdapat di sumsum
tulang belakang. Contoh: gerakan menarik tangan saat menyentuh benda panas atau
kaki terkena duri.
b. Refleks otak (refleks kranialis) yaitu jika konektornya terdapat di otak. Contoh:
gerakan mata terpejam karena kilat.

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem muskuloskeletal berasal dari kata muskulo (otot) adalah organ yang
merupakan alat gerak aktif manusia yang bersama tulang-tulang (sistem skeletal) sebagai
alat gerak pasif, bekerja bersama-sama dalam menopang tubuh, menciptakan gerakan dan
sebagai tempat metabolisme zat yang diperlukan tubuh seperti darah dan metabolisme
karbohidrat.

13

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth, J. 2009. Patologi Buku Saku. Jakarta: EGC


Ganong, William F. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta: EGC
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC

14